Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Eksplorasi, Karakterisasi, dan Evaluasi Beberapa Klon Bawang Putih Lokal
ABSTRAK. Bawang putih lokal saat ini sangat sulit dijumpai di pasaran setelah membanjirnya bawang putih impor ke Indonesia. Hal ini tentunya diperlukan upaya perbaikan produktivitas dan kualitas bawang putih lokal sekaligus sebagai konservasi. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi mengenai karakter morfologi beberapa klon bawang putih lokal dan mendapatkan klon-klon bawang putih lokal hasil evaluasi yang potensial dan prospektif yang dapat bersaing dengan bawang putih impor. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Banaran, Batu pada ketinggian 900 m dpl. mulai bulan Juli sampai Oktober 2005. Eksplorasi dilakukan di beberapa daerah sentra produksi bawang putih. Karakterisasi dan evaluasi dilakukan berdasarkan descriptor lists dari IPGRI yang meliputi morfologi tanaman, produksi, dan kualitas umbi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok terdiri dari 10 klon diulang 3 kali. Hasil eksplorasi diperoleh 3 klon bawang putih baru, yaitu Teki, Ciwidey, dan Lumbu Kayu. Daya tumbuh 10 klon bawang putih yang ditanam di KP Banaran, Batu umumnya tinggi yaitu sekitar 95%. Dilihat dari umur panen, klon dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu umur panen pendek (90-110 hari setelah tanam) meliputi NTT, Teki, Sanggah, dan Lumbu Kuning, umur panen sedang (111-131 hari setelah tanam) meliputi Saigon, Lumbu Hijau, Krisik, Tawangmangu, dan Ciwidey, dan umur panen dalam (di atas 131 hari), yaitu Tiongkok. Tinggi batang semu bervariasi antara 9-26 cm. Klon Ciwidey dan Tiongkok terlihat paling pendek dibandingkan dengan klon lainnya. Diameter batang semu klon Tawangmangu terlihat paling besar dibandingkan klon lainnya meskipun tidak berbeda nyata dengan klon Teki. Terhadap jumlah daun, klon Ciwidey paling sedikit (9 helai) dibandingkan klon lainnya (11-15 helai). Hasil dan komponen hasil terlihat bahwa klon Tawangmangu dan Krisik memiliki bobot umbi yang paling tinggi, yaitu masing-masing 66,67 g dan 58,33 g/tanaman dibandingkan 8 klon lainnya. Sedangkan klon Sanggah dan NTT memiliki bobot umbi terendah, yaitu hanya 23,67 g dan 24,33 g/tanaman. Adapun produksi total tertinggi dicapai oleh klon Tawangmangu dan Lumbu Hijau masing-masing mencapai 33,21 t/ha dan 29,49 t/ha.ABSTRACT. Hardiyanto, N.F. Devy, and A. Supriyanto. 2007. Exploration, Characterization, and Evaluation of Several Local Garlic Clones. Currently local garlics were rarely found in the market due to the flooding of imported garlic to Indonesia. Therefore, some efforts are needed to improve the productivity and quality as well as the conservation of local garlic clones. The aim of this research was to obtain some information on morphological characteristics of local garlic clones and the potential and prospective of local garlic clones which can compete with imported garlic. This research was conducted in Banaran Experimental Garden, Batu (900 m asl) from July to October 2005. Exploration was carried out in several centers of local garlic production. Characterization and evaluation were based on descriptor lists published by IPGRI such as morphology, yields, and quality. Randomized block design was used in this research consisted of 10 clones with 3 replications. Three new garlic clones were collected through exploration, those were Teki, Ciwidey, and Lumbu Kayu. Growth percentage of 10 local garlic clones grown in Banaran Experimental Garden, Batu was relatively high, it was 95%. Based on harvesting time, clones were classified into 3 groups, those were short period (90-110 days after planting) i.e: NTT, Teki, Sanggah, and Lumbu Kuning; medium period (111-131 days after planting) i.e.: Saigon, Lumbu Hijau, Krisik, Tawangmangu, and Ciwidey; and long period (more than 131 days after planting) i.e. Tiongkok. Plant height was varied between 9-26 cm. Plant height of Ciwidey and Tiongkok were relatively shorter than others, whereas diameter of Tawangmangu and Teki were relatively bigger than others. Total leaf number of Ciwidey (9 leaves) was lower than others (11-15 leaves). Based on yields and yield components, bulb weight of Tawangmangu and Krisik were higher than others, i.e. 66.67 g and 58.33 g/plant respectively, whereas Sanggah and NTT were lower than others, i.e. 23.67 g and 24. 33 g/plant. The high yield were performed by Tawangmangu and Lumbu Hijau, it reached 33.21 t/ha and 29.49 t/ha, respectively
Peningkatan Infektivitas Jamur Entomopatogen, Beauveria bassiana (Balsamo) Vuill. pada Berbagai Bahan Carrier untuk Mengendalikan Hama Penggerek Bonggol Pisang, Cosmopolites sordidus Germar di Lapangan
ABSTRAK. Penelitian ini dilaksanakan di kebun petani pisang di daerah Baso, Kabupaten Agam dari bulan Oktober 2002 sampai Februari 2003. Penelitian bertujuan mengetahui peningkatan infektivitas jamur entomopatogen, Beauveria bassiana menggunakan bahan carrier dan model bahan perangkap yang baik untuk mengendalikan hama penggerek bonggol pisang, Cosmopolites sordidus Germar. Untuk mengetahui peningkatan infektivitas jamur B. bassiana, penelitian ditata dalam rancangan acak lengkap dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari 6 bahan carrier sebagai perlakuan, yaitu tepung jagung, tepung beras, tepung maizena, talk, minyak sayur, air, dan kontrol (konidia kering). Jamur B. bassiana yang telah dicampur dengan bahan carrier sebanyak 100 g atau 100 ml disebarkan pada potongan bonggol bagian atas kemudian ditutup dengan batang semu pisang. � � Sedangkan untuk mengetahui model alat perangkap yang baik digunakan 3 macam bahan perangkap yaitu (1) bonggol pisang + batang semu, (2) bonggol pisang, dan (3) batang semu dengan 6 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung beras merupakan carrier yang paling baik dalam pemanfaatan B. bassiana dan menyebabkan mortalitas hama penggerek bonggol paling tinggi dibandingkan carrier minyak sayur dan air yang menyebabkan mortalitas paling rendah atau sama dengan B. bassiana tanpa bahan carrier. Mortalitas hama penggerek bonggol C. sordidus yang paling tinggi, yakni 95% diperoleh jika menggunakan B.bassiana dengan tepung beras sebagai carrier pada perangkap bonggol dan ditutupi batang semu pisang. Sedangkan B. bassiana dengan menggunakan minyak atau air dan tanpa substrat carrier hanya dapat menyebabkan mortalitas hama penggerek bonggol paling rendah, yaitu berturut-turut 72, 75, dan 70%. Mortalitas hama penggerek bonggol pisang yang disebabkan oleh jamur B. bassiana yang dicampur dengan carrier tepung beras, paling tinggi diperoleh menggunakan alat perangkap bonggol pisang dengan batang semu. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa berbagai carrier berbentuk tepung dapat meningkatkan infektivitas jamur entomopatogen, B. bassiana dalam mengendalikan hama penggerek bonggol pisang, C. sordidus di lapangan.ABSTRACT. Hasyim, A. 2007. Enhancing Infectious Capacity of Entomopathogen Fungi, Beauveria bassiana (Balsamo) Vuill. Using Various Carrier Materials in Controlling Banana Corm Borer, Cosmopolites sordidus Germar under Field Condition. This experiment was conducted at Baso banana farmer field, Agam District from October 2002 to February 2003. The objectives of these studies were to know the infectious capacity of entomopathogen fungi, Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin using various carrier materials and to know the best trapping model in controlling banana corm borer Cosmopolites sordidus Germar. A randomized complete design with 7 treatments and 4 replications were used in this study. The treatments consisted of 6 carriers, i.e. corn powder, talc, rice powder, maizena powder, vegetable oil, water, and control (dry conidia). Amount of 100 g or 100 ml mixture of B. bassiana were distributed by hand or sprayed with water on cut surface of the banana corm then covered by sliced banana pseudostem. Futhermore, 3 types of trapping model i.e (1) banana corm + pseudostem, (2) banana corm, and (3) pseudostem were used with 6 replications to find out the best trapping design. The results showed that rice powder was the best carrier for delivery of B. bassiana and caused highest mortality of banana corm borer. On the other hand, vegetable oil, water, and without carrier material caused the lowest mortality of banana corm borer. The highest mortality of adult banana weevil borer, C. sordidus reached 95% when weevil exposure using rice powder carrier on corm and pseudostem. While the B. bassiana exposure using liquid carrier such as vegetable oil, water carrier, and without carrier material on corm and pseudostem caused the lowest mortality of C. sordidus of 72, 75, and 70% respectively. The highest mortality of banana corm borer caused by B. bassiana was found in the treatment with rice powder as a carrier material and pseudostem trapping design. The results demonstrated that powder as a carrier could enhance the infectious capacity of entomopathogenic fungus B. bassiana against banana weevil borer, C. sordidus under field conditio
Respons Pembentukan Tunas Aksiler dan Adventif pada Kultur Anthurium secara In Vitro
ABSTRAK. Perbanyakan bahan tanaman merupakan salah satu masalah penting dalam budidaya anthurium untuk tujuan komersial. Secara konvensional, tanaman ini diperbanyak melalui biji dan anakan, tetapi teknik ini memerlukan waktu dan proses yang lama hingga 3 tahun. Penelitian bertujuan mengetahui respons pembentukan tunas aksiler dan adventif pada kultur anthurium secara in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Juli 2004 hingga Februari 2005. Variasi eksplan, seperti ruas batang kesatu dan kedua digunakan untuk induksi pembentukan tunas aksiler, sementara akar, hipokotil, dan daun muda digunakan untuk induksi tunas adventif. Eksplan-eksplan tersebut dipanen dari beberapa kultivar dan aksesi anthurium. Medium M2, M4, dan modifikasi medium M4 menggunakan 150 ml/l air kelapa, 2,5 mg/l 2,4-D, 2 g/l asam pantotenat, dan 50 ppm cefotaxim diuji dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan kultur jaringan anthurium dipengaruhi oleh kultivar, jenis, dan kondisi eksplan, dan media tumbuhnya. Tiap eksplan dan kultivar/aksesi memiliki kompatibilitas yang berbeda dengan medium tumbuhnya. Induksi tunas adventif merupakan teknik perbanyakan yang lebih potensial dan sesuai dikembangkan pada anthurium dibandingkan induksi tunas aksiler. M4 merupakan medium dasar yang potensial dan sesuai untuk dikembangkan pada perbanyakan anthurium secara in vitro. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam mengembangkan dan mengaplikasikan teknik kultur jaringan pada perbanyakan anthurium.ABSTRACT. Winarto, B. 2007. Response of Axillary and Adventitious Shoot Formation of In Vitro Anthurium Culture. Planting material propagation is one of important problems in anthurium cultivation for commercial purposes. Conventionally, the plant is generally propagated by seed and shoot, however those technique were time consuming. The objective of this experiment was to know response of axillary and adventitious shoot formation of in vitro anthurium culture. The experiment was conducted at Tissue Culture Laboratory, Indonesian Ornamental Crops Research Institute from July 2004 to February 2005. Variation of explant such as first and second node was used for induction of axillary shoot formation, while young root, hypocotyl, and leaf were used for stimulating adventitious shoot regeneration. The explants harvested from several cultivars and accessions of anthurium. Media of M2, M4, and modified-M4 using150 ml/l coconut water, 2.5 mg/l 2,4-D, 2 g/l pantothenic acid, and 50 ppm cefotaxim were used in this experiment. Results of the study indicated that the success of anthurium tissue culture was affected by cultivars, explant type and condition, and growth medium. Each explant and cultivar had its compatibility to different growth media. Adventitious shoot formation was potential and suitable technique to be developed than axillary shoot proliferation. M4 was the appropriate and suitable basic medium that could be developed for in vitro propagation of anthurium. Results of this research could be expected as one of important consideration points in developing and applying tissue culture technique on anthurium propagation
Efektivitas Fungisida untuk Pengendalian Penyakit Berdasarkan Curah Hujan pada Mawar
ABSTRAK. Percobaan untuk mengetahui efektivitas penyemprotan fungisida terhadap penyakit penting pada tanaman mawar telah dilakukan di Kebun Percobaan Segunung pada bulan September 2002 dan Januari 2003 menggunakan rancangan petak terpisah. Petak utama berupa 2 kultivar mawar, yaitu cv. Holland dan cv. Cherry Brandy, sedang anak petak ialah penyemprotan fungisida dengan interval 2 kali per minggu, 1 kali per minggu, dan penyemprotan apabila terjadi hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada musim kemarau (September 2002) di samping terdapat serangan penyakit bercak hitam (Marssonina rosae) dijumpai pula serangan penyakit embun tepung (Oidium sp.) dengan tingkat serangan yang tinggi. Kultivar Holland dan Cherry Brandy rentan terhadap bercak hitam dan embun tepung. Penyemprotan fungisida setelah terjadi hujan efektif terhadap penyakit bercak hitam dan embun tepung pada musim kemarau. Pada musim hujan (Januari 2003), penyemprotan fungisida setelah terjadi hujan tidak efektif terhadap penyakit bercak hitam. Efektivitas perlakuan fungisida tidak saja ditentukan oleh curah hujan, tapi juga oleh jumlah hari hujan.ABSTRACT. Suhardi. 2007. The Efficacy of Fungicide for Diseases Control, Based on Rain Fall on 2 Rose Cultivars. A trial to find out the efficacy of fungicide application after rain to control the diseases on roses was carried out at Experimental Station Segunung on September 2002 and January 2003 using a split plot design. The main factor was rose cultivar (cv. Holland and Cherry Brandy) and the subplot was fungicide application (twice a week, once a week, and after rain). The results indicated that on dry period (September 2002) both black spot and powdery mildew occurred on cv. Holland and Cherry Brandy. Both cultivars were susceptible to black spot and powdery mildew. Fungicide application after the rain occurred was effective to suppress black spot and powdery mildew only on dry periode. On rainy period (January 2003) fungicide applications after the rain occurred was not effective to suppress black spot. The efficacy of fungicide application was not only determined by rain precipitation but also on number of rainy days as well
Pengaruh Umur Buah dan Faktor Iklim terhadap Serangan Penggerek Buah Jeruk Citripestis sagitiferella Mr. (Lepidoptera:Pyralidae)
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh umur buah dan faktor iklim terhadap serangan hama penggerek buah jeruk Citripestis sagitiferella. Penelitian ini dilakukan di Batu, Malang mulai bulan Agustus 2001 sampai dengan Juli 2002. Penelitian untuk mendapatkan data serangan penggerek buah jeruk pada berbagai umur buah dan iklim dilakukan dengan metode survei, sedangkan untuk mengetahui komposisi senyawa atsiri pada berbagai umur buah dilakukan dengan jalan ektraksi kulit buah dengan distilasi uap. Minyak hasil ekstraksi tersebut dianalisis komposisinya dengan metode kromatografi gas di Laboratorium Analisis Kimia dan Fisika Pusat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat serangan C. sagitiferella di lapang dipengaruhi oleh perubahan konsentrasi dari komponen senyawa atsiri dari umur buah yang berbeda dan jumlah hari hujan. Komponen utama minyak atsiri jeruk, yaitu limonen secara sendiri tidak mempunyai pengaruh yang nyata terhadap preferensi ngengat C. sagitiferella, tetapi bersama komponen yang lain berpengaruh meningkatkan preferensi dan jumlah hari hujan yang tinggi meningkatkan tingkat serangan ngengat. Hasil penelitian ini bermanfaat untuk monitoring hama penggerek C. sagitiferella sehingga saat pengendalian yang tepat dapat ditentukan.ABSTRACT. Muryati. 2007. The Effect of Fruit Maturity and Climatic Factors on Damage Intensity of Citrus Fruit by Fruit borer Citripestis sagitiferella (Lepidoptera:Pyralidae).The objective of this research was to understand the effect of fruit maturity and climatic factors on damage intensity of citrus fruit by fruit borer C. sagitiferella. The experiment was conducted at Batu, Malang from August 2001 to July 2002. The experiment to observe the fruit damage by citrus fruit borer on several fruit maturity and climatic conditions were conducted by survey method, while the composition of volatile compounds was done by extraction of fruit peel through steam distilation. Characterization of volatile compounds composition were analized by gas chromatography at Laboratorium of Physic and Chemistry Analysis, Gadjah Mada University, Yogyakarta. The results showed that damage intensity of fruit caused by C. sagitiferella was influenced by concentration of the component of volatile compounds on the different fruit maturity and the number of the rainy days. Limonen as the dominant component on citrus volatile compounds did not affect the preference of C. sagitiferella moth, but along with other components increased the preference. The high number of rainy days increased fruit damages by the moth. The results of this research was usefull for minitoring programe of C. sagitiferella so that the right time of controlling the pest can exactly be decided
Identifikasi Tungau Fitofag dan Predator Jeruk Mandarin pada Berbagai Fase Tumbuh
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis tungau fitofag dan predator serta distribusinya pada setiap fase tumbuh yang berbeda dari jeruk Mandarin. Menggunakan metode purposive sampling survey penelitian dilaksanakan di KP. Aripan, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok, Sumatera Barat mulai bulan September 2003 sampai Juli 2004. Dari hasil penelitian didapatkan 6 spesies tungau fitofag yaitu Brevipalpus californicus (Banks), B. obovatus Donnadieu, B. phoenicis (Geijskes), Tenuipalpus sp., Eotetranychus sp., dan Panonychus citri McGregor dan 15 spesies tungau predator yang meliputi famili Ascidae, Phytoseiidae, Cunaxidae, dan Cheyletidae. Namun demikian jenis predator Lasioseius pitimini dan Asca longiseta merupakan yang paling banyak jumlahnya. Distribusi tungau cenderung pada daun setengah tua dengan urutan sebagai berikut: perkembangan buah fase-II (Pbf-II) merupakan fase tumbuh tanaman jeruk yang paling disukai oleh tungau fitofag, diikuti oleh Pbf I, dorman, tunas, pembungaan, dan Pbf-III merupakan fase yang paling tidak disukai. Distribusi tungau predator pada beberapa fase tumbuh tersebut mengikuti distribusi populasi tungau fitofag dengan korelasi yang bersifat positif. Hasil penelitian ini bermanfaat untuk menentukan saat yang tepat tindakan pengendalian tungau fitofag harus dilakukan, serta informasi tentang jenis predator tungau yang berpotensi untuk digunakan sebagai pengendali hayati pada pertanaman jeruk.ABSTRACT. Affandi. 2007. Identification of Phytophagous and Predatory Mites on Mandarin Citrus at Different Growth Stages. The study specifically pursued the following objectives (1) to conduct a survey of phytophagous and predatory, (2) to determine the distribution and abundance of these mites in different growth stages at arboreal plant parts. A purposive sampling survey method was conducted at 6 growth stages of Mandarin citrus orchard at Aripan Research Station of the Indonesian Tropical Fruits Research Institute, Solok, West Sumatera on September 2003 to July 2004. The results showed that there were 6 species of phytophagous mites collected from the canopy of citrus during the survey, namely Brevipalpus californicus (Banks), B. obovatus Donnadieu, B. phoenicis (Geijskes), Tenuipalpus sp., Eotetranychus sp., and Panonychus citri McGregor. On the other hand, 15 species of predatory mites were also found and mostly dominated by family Ascidae, Phytoseiidae, Cunaxidae, and Cheyletidae. However, predatory mites Lasioseius pitimini and Asca longiseta were the most frequent and abundance. Observation on the population development of phytophagous mites at various growth stages of citrus indicated that fruit development phase II (Fdp II) was the most preferred, followed by Fdp I, dormant, flush, flowering, and Fdp III was the least preferred. Positive correlation was also shown between the population development of the phytophagous and predatory mites at each growth stage. Results of this research was useful to determine exact time for controlling phytophagous mites. Furthermore, the availability information of potential predatory mites on citrus orchard can be used as biological control
Distribusi Spesies Lalat Buah di Sumatera Barat dan Riau
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi dan diversitas spesies lalat buah di Sumatera Barat dan Pulau Kundur Kabupaten Karimun, Riau. Penelitian dilakukan dengan metode survei mulai bulan Juni 2003 – Desember 2004. Lalat buah ditangkap menggunakan perangkap yang terbuat dari botol bekas air mineral yang di dalamnya digantungkan kapas yang telah dibasahi dengan metil eugenol dan cue lure. Lalat buah hasil tangkapan dibawa ke Laboratorium Proteksi Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok untuk diidentifikasi menggunakan kunci identifikasi elektronik Cabikey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari semua lokasi penelitian diperoleh 45 spesies lalat buah (2 spesies belum teridentifikasi). Tiga spesies lalat buah ditemukan di semua lokasi penelitian, yaitu B. albistrigata, B. carambolae, dan B. papayae. Keragaman spesies lalat buah paling tinggi ditemukan di Kabupaten Solok, Sumatera Barat dan Pulau Kundur, berturut-turut ditemukan 30 spesies dan 25 spesies lalat buah. Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai informasi terutama bagi karantina sebagai dasar untuk memperketat aturan mengenai keluar masuknya buah-buahan dari dan ke suatu daerah sehingga spesies-spesies yang ada di daerah tertentu terutama daerah yang mempunyai diversitas spesies tinggi tidak masuk ke daerah lain.ABSTRACT. Muryati, A. Hasyim, and W.J. de Kogel. 2007. Distribution of Fruit Fly Species at West Sumatera and Riau. The objective of the research was to understand the distribution and diversity of the fruit flies species at West Sumatera and Kundur Island. The research was done by survey method on June 2003 to December 2004. Fruit flies were trapped by using methyl eugenol and cue lure attractant that were hung inside of traps made from used bottle of mineral water. The fruit flies that were caught brought to the Plant Protection Laboratory of Indonesian Tropical Fruit Research Institute for identification purpose by using electronic identification key Cabikey. Forty five fruit fly species spread on the whole research location (2 species were not yet identified). Three species of fruit fly found in the whole research locations, i.e. B. albistrigata, B. carambolae, and B. papayae. Solok Regency and Kundur Island had the most species diversity than other locations, which were found 30 and 25 species fruit flies, respectively. This information useful for quarantine regulation to prevent the spreading of fruit fly species to other areas
Pengendalian Hama dan Penyakit Penting Cabai dengan Pestisida Biorasional
ABSTRAK. Akibat samping penggunaan pestisida sintetik yang berlebih pada budidaya cabai telah dideteksi di berbagai tempat. Dalam upaya mengurangi kuantum aplikasi pestisida sintetik dapat dengan jalan menggantinya dengan pestisida lain, yang disebut dengan pestisida biorasional. Percobaan lapang telah dilaksanakan di kebun petani di Rancaekek (elevasi 650 m dpl), Bandung, Jawa Barat, dari Juli 2001 sampai dengan Februari 2002. Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok 4 ulangan dan 4 perlakuan dengan perlakuan-perlakuan sebagai berikut. Pestisida biorasional 866 (campuran ekstrak kasar A. indica 8 bagian + A. nardus 6 bagian + A. galanga 6 bagian), TdNt 102 (campuran T. diversifolia 10 bagian + N. tabacum 2 bagian), TdMa 106 (campuran T. diversifolia 10 bagian + M. azedarach 6 bagian), tigonal 1066 (campuran ekstrak kasar T. diversifolia 10 bagian + A. nardus 6 bagian + A. galanga 6 bagian). Keempat formula tersebut diaplikasikan dengan interval 4 hari dan 7 hari. Insektisida sintetik pirethroid 2.5 EC 0,2% dan fungisida sintetik propineb 70 WP 0,2% diaplikasikan dengan interval 7 hari. Selama percobaan berlangsung, hama dan penyakit yang paling prevalen adalah C. capsici, C. gloeosporioides, T. palmi, dan A. gossypii. Hasil penelitian memberi indikasi bahwa semua biorasional yang digunakan ternyata sama efektifnya dengan pestisida sintetik dalam mengendalikan hama dan penyakit cabai, dengan tingkat efikasi yang bervariasi. Perlakuan yang paling efektif untuk mengendalikan C. capsici adalah biorasional yang mengandung A. indica sebagai komponennya, sedangkan biorasional dengan komponen T. diversifolia ternyata lebih efektif dalam mengendalikan C. gloeosporioides dan T. palmi. Dipihak lain, biorasional yang mengandung komponen M. azedarach dan N. tabacum ternyata efikasinya dalam mengendalikan T. palmi dan A. gossypii sama dengan insektisida sintetik pirethroid 2,5 EC 0,2%. Hasil penelitian ini mencatat bahwa pestisida biorasional yang digunakan dalam penelitian ini dapat digunakan untuk menggantikan peran pestisida sintetik dalam mengendalikan hama dan penyakit penting pada cabai.ABSTRACT. Suryaningsih, E. and A.W.W. Hadisoeganda. 2007. Control Measure for Important Pests and Diseases of Hot Pepper by Applying Biorational Pesticide. The side effects of the overuse of synthetic pesticides on pepper cultivation have been detected in various locations. The use of other pesticide, such as biorational pesticide could reduce the quantity of synthetic pesticide application. A field experiment was conducted at farmers’s field in Rancaekek (elevation 650 m), Bandung, West Java, from July 2001 to February 2002. A randomized block design with 4 replications was employed in this experiment.The treatments were biorational pesticide agonal 866 (crude extract mixture of A. indica 8 parts + A. nardus 6 parts + A. galanga 6 parts), TdNt 102 (mixture of T. diversifolia 10 parts + N. tabacum 2 parts), TdMa 106 (mixture of T. diversifolia 10 parts + M. azedarach 6 parts), tigonal 1066 (crude extract mixture of T. diversifolia 10 parts + A. nardus 6 parts + A. galanga 6 parts). The treatments were applied at 4 and 7 days interval. Synthetic insecticide pirethroid 2.5 EC 0.2% and propineb 70 WP 0.2%, both applied at 7 days interval. During the experiment, the most prevalent pests and deseases were C. capsici, C. gloeosporioides, T. palmi, and A. gossypii, respectively. The results of the experiment indicated that all of the biorational applied were as effective as synthetic pesticides in controlling pests and diseases of pepper with varying degree of efficacy. The most effective in controlling C. capsici were biorationals which contain A. indica component, while biorationals with T. diversifolia as a component seem to be much more effective in controlling C. gloeosporioides as well as T. palmi, respectively. On the other hand, biorationals with M. azedarach and N. tabacum component were found to be as effective as synthetic insecticide pirethroid 2.5 EC 0.2% in controlling T. palmi and A. gossypii. The results of the experiment showed that biorational pesticides can be used to replace synthetic pesticide in controlling important pests and diseases on pepper
Karakter Fisiologis dan Peranan Antibiosis Bakteri Perakaran Graminae terhadap Fusarium dan Pemacu Pertumbuhan Tanaman Pisang
ABSTRAK. Perakaran tanaman famili Graminae memiliki kerapatan populasi bakteri yang tinggi dan berpotensi digunakan sebagai agensia pengendalian hayati. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakter fisiologis bakteri rizosfer dan endofit perakaran tanaman famili Graminae serta peranannya sebagai bakteri antibiosis terhadap Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) secara in vitro dan pemacu pertumbuhan tanaman. Tanaman indikator yang digunakan dalam uji kemampuan bakteri dalam memacu pertumbuhan tanaman adalah mentimun. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikologi dan Rumah Kaca Institut Pertanian Bogor, berlangsung dari bulan Juni sampai November 2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perakaran rumput gajah memiliki kerapatan populasi bakteri rizosfer yang paling tinggi yaitu 8,12 log cfu/g bobot basah akar, sedangkan populasi bakteri endofit yang tertinggi ditemukan pada perakaran sorgum yaitu 4,02 log cfu/g bobot basah akar. Empat puluh dua isolat dari 182 isolat diuji karakter fisiologisnya menggunakan medium spesifik. Semua isolat yang diuji, masing-masing sebesar 60,41, 52,08, 4,16, 18,75, 52,09, dan 18,75%, memiliki kemampuan aktivitas selulolitik, proteolitik, kitinolitik, produksi HCN, mela-rutkan fosfat, dan fluoresensi. Berdasarkan hasil uji secara in vitro menggunakan rancangan acak lengkap, diketahui bahwa 21,45% dari isolat bakteri yang diuji, memiliki kemampuan antibiosis terhadap Foc, dan lebih sepertiganya (7,70%) berasal dari bakteri endofit perakaran padi. Persentase daya hambat bakteri pada media TSA lebih tinggi dibandingkan pada media PDA dan PDA+TSA. Dari hasil uji secara in vivo pada tanaman mentimun menggunakan rancangan acak kelompok, diketahui bahwa 22,92% dari 52 isolat bakteri yang diuji, dapat meningkatkan secara nyata pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa bakteri yang berasal dari rizosfer dan endofit perakaran Graminae mempunyai kemampuan menghambat perkembangan F. oxysporum f.sp. cubense secara in vitro dan meningkatkan pertumbuhan tanaman.ABSTRACT. Eliza, A. Munif, I Djatnika, and Widodo. 2007. Physiological Characters and Antibiosis Activity of Gramineous Crops Rhizobacteria, Againts Fusarium and Banana Growth Promoting. Roots of Gramineous colonized by various populated bacteria are potential as biological control agents to various soil-borne plant pathogens. This research was conducted to study some physiological characteristics, antibiosis activity to Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc), and plant growth promoting effect of gramineous crops roots bacteria to bananas. Cucumber was used as an indicator plant to detect plant growth activity. The experiment was conducted at Mycology Laboratory and Glasshouse Bogor Agriculture Institute from June until November 2003. Highest level population density of rhizobacteria (8.12 log cfu/g fresh root) was showed by giant grass roots, while endophytic bacteria were indicated by sorghum roots (4.02 log cfu/g fresh root). Forty two isolates of 182 isolates was physiologically characterized using specific medium. Among of tested bacteria, 60.41, 52.08, 4.16, 18.75, 52.09, and 18.75%, showed the capability in cellulolitic, proteolitic, HCN production, phosphate solubilization, and fluorescent activities, respectively. Using dual culture test of a randomized complete design, 21.45% of 182 isolates showed antibiosis activity against Foc, and more than one third (7.7%) of those were endophytic bacteria from rice roots. Inhibition ability of bacteria on TSA medium was higher than on PDA or PDA + TSA. Based on bioassay test in greenhouse used randomized block design, 22.92 % of 52 isolates have growth promoting activity on tested plant. Bacteria from rhizosphere and endophytic of Gramineous roots have ability to inhibit of F. oxysporum f. sp. cubense and increasing plant growth
Pengelompokan Aksesi Pisang Menggunakan Karakter Morfologi IPGRI
ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan di Kebun Raya Purwodadi Pasuruan dan Kebun Percobaan Sumani dan Aripan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok, pada bulan Desember 2000 sampai Juni 2001. Tujuan penelitian mengetahui jarak genetik dan hubungan kekerabatan aksesi pisang. Bahan penelitian adalah 26 aksesi pisang. Kegiatan identifikasi dilakukan terhadap 35 karakter yang terdiri dari 28 karakter kualitatif dan 7 karakter kuantitatif berdasar descriptor for banana IPGRI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi pisang kepok Putih dan kepok Kuning mempunyai jarak genetik terkecil 0,0588 dengan kemiripan karakter morfologi paling banyak, yaitu 94,1176%. Sedangkan jarak genetik terbesar terdapat pada klaster aksesi pisang Monyet dengan semua pisang lainnya, yaitu sebesar 0,17 dengan kemiripan sifat morfologi paling sedikit, 83,1169%. Pisang Monyet dapat digunakan sebagai salah satu tetua untuk memperoleh variasi genetik yang lebih besar. Pisang kepok Putih dan kepok Kuning hampir mirip sehingga untuk efisiensi koleksi plasma nutfah tanaman pisang dapat dipilih salah satu.ABSTRACT. Sukartini. 2007. IPGRI Morphology Characters for Clustering of Musa spp. Accessions. The research was conducted at Purwodadi Botanical Garden Pasuruan, Sumani and Aripan Field Station of Indonesian Tropical Fruits Research Institute on December 2000-June 2001. The research objective was to know the genetic distance and relationship among the 26 banana accessions. The research material covered 26 banana accessions. Identification activity was done toward 35 characters constitute of 28 qualitative and 7 quantitative characters based on descriptor for banana IPGRI. The results showed that kepok Putih and kepok Kuning banana accession have the lowest genetic distance i.e. 0.0588 with the most maximum similar morphology characters of 94.1176%. Meanwhile, the highest genetic distance i.e. 0.17, was showed by banana Monyet cluster againt other banana accession with the minimum similarity morphological characters 83.1169%. Banana Monyet is better to be used as parental to obtain higher genetic variation. Banana kepok Putih and kepok Kuning could be chosen either one for efficiency on germplasm maintenance