Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Pengaruh Ekstrak Bahan Nabati dalam Menginduksi Ketahanan Tanaman Cabai terhadap Vektor dan Penyakit Kuning Keriting

    Get PDF
    Penyakit kuning keriting pada tanaman cabai yang disebabk an oleh virus Gemini merupakan penyakit yang epidemik di berbagai daerah. Percobaan untuk menginduksi ketahanan tanaman cabai terhadap virus dan vektor penyakit kuning keriting dengan mengg unakan ekstrak nabati telah dilakukan di Rumah Kasa Virologi dan Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang selama 6 bulan (Agustus 2003 – Februari 2004). Kegiatan dilakukan 2 tahap di rumah kasa dan di lapangan. Penelitian di rumah kasa mengg unakan rancangan petak terpisah, petak utama terdiri atas 11 perlakuan induksi dengan bahan nabati, yaitu eceng gondok, rumput laut, tembakau, nimba, bunga pagoda, lamtoro, bunga pukul empat, bayam duri, dan kecubung, benzotiadiazol (sebagai pembanding positif), dan kontrol tanpa perlakuan. Anak petak adalah waktu dilakukan infeksi (challenged) dengan virus Gemini pada 24 jam, 5, dan 10 hari setelah induksi dengan ekstrak nabati (perlakuan petak utama). Percobaan kedua di lapangan menggggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan induksi 11 macam ekstrak nabati seperti kegiatan di rumah kaca, dan tanaman cabai yang sudah diinduksi langsung ditanam di lapangan. Hasil penelitian menunjukk an bahwa (1) perlakuan ekstrak nabati umumnya dapat menaikk an tingg i tanaman, menurunkan preferensi serangg a Bemisia terhadap tanaman cabai, memperpanjang masa inkubasi gejala, menekan perkembangan penyakit, dan menaikk an hasil panen, (2) ekstrak nabati yang paling baik untuk menginduksi ketahanan tanaman cabai terhadap virus Gemini adalah berturut-turut bunga pukul empat (Mirabilis jalapa), bayam duri (Amaranthus spinosus), lamtoro (Leucaena glauca), dan bunga pagoda (Clerodendrum japonicum), masing-masing >50%, (3) masa retensi ketahanan sistemik pada tanaman cabai berbeda-beda, yang paling baik adalah 24 jam setelah induksi ekstrak. Makin lama jeda waktu antara induksi dengan terjadinya infeksi (challenging) virus makin rendah daya hambat induser terhadap serangan virus Gemini, dan (4) kecuali bunga pagoda, ekstrak tumbuhan lain meningk atkan hasil panen buah cabai antara 15-37 % di atas kontrol.ABSTRACT. Duriat, A.S. 2008. The Influence of Plant Extract for Inducing Resistance of Chili Pepper Plant Against Pathogen and Vector of Yellow Leafcurl Disease. Yellow leafcurl disease of pepper caused by Gemini virus was epidemic in various areas. An experiment to induce plant resistance on this disease using botanical extract was done in Lembang for 6 months (August 2003-February 2004). The trials were arranged in a split plot design for screenhouse experiment and in a randomized block design for field experiment. The main plot in screenhouse were 11 treatments of extract plant resistence inducer (Eichornia crassipes, Euchema alvarezii, Nicotiana tabacum, Azadirachta indica, Clerodendrum japonicum, Leucaena glauca, Mirabilis jalapa, Amaranthus spinosus, Datura stramoium, plant activator benzothiadiazole, and control). While the subplot consisted of 3 levels of challenging time of Gemini virus, namely: 24 hour, 5 days, and 10 days after inducing time. Field trial was done to determine the influence of extract inducing plant resistance to the yield of pepper pod. The results indicated that (1) extract inducing treatments increased plant height, influenced preference of vector, delayed incubation time of virus symptoms, suppressed virus symptoms, and increased yield of pepper pods, (2) the best botanical extract to suppress virus symptoms were M. jalapa, A. spinosus, L. glauca, and C. japonicum (> 50%), respectively, (3) the best influence of induced systemic resistance was shown at 24 hours after inducing, more time of virus infection would be lower the disease suppression, and (4) except C. japonicum, all botanical extracts increased pod pepper yield between 15-37 % above control

    Efektivitas Aplikasi Kombinasi Steinernema carpocapsae dan Biopestisida Bacillus thuringiensis terhadap Mortalitas Crocidolomia pavonana F. pada Tanaman Kubis di Rumah Kaca

    Get PDF
    ABSTRAK. Percobaan dilaksanakan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang dari bulan Oktober sampai Desember 2006. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi Steinernema carpocapsae dan Bacillus thuringiensis terhadap mortalitas larva Crocidolomia pavonana pada tanaman kubis di rumah kaca. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu S. carpocapsae dengan 4 taraf yaitu 0, 400, 800, dan 1.600 JI/tanaman sedangkan faktor kedua yaitu konsentrasi B. thuringiensis dengan 3 taraf yaitu 0, 0,1, dan 0,2 g/100 ml. Hasil percobaan menunjukkan bahwa S. carpocapsae dan B. thuringiensis lebih baik apabila digunakan dengan cara dicampurkan daripada digunakan secara tunggal dalam mengendalikan larva C. pavonana, karena dapat menyebabkan mortalitas lebih tinggi daripada secara tunggal. Kombinasi 400 JI/tanaman S. carpocapsae dengan 0,1 g/100 ml B.thuringiensis menyebabkan mortalitas larva 53,33%, kombinasi 800 JI/tanaman S. carpocapsae dengan 0,1 g/100 ml B. thuringiensis menyebabkan mortalitas 66,67%, dan kombinasi 1.600 JI/tanaman dengan 0,1 g/100 ml B. thuringiensis menyebabkan mortalitas 90%. Sedangkan mortalitas tertinggi adalah pada perlakuan kombinasi 1.600 JI/tanaman S. carpocapsae dengan 0,2 g/100 ml B. thuringiensis menyebabkan mortalitas 100% pada pengamatan 96 jam setelah aplikasi.ABSTRACT. Uhan, T.S. and I. Sulastrini. 2008. Effectivity of Mixture of Steinernema carpocapsae and Bacillus thuringiensis Application on the Mortality of Crocidolomia pavonana F. on Cabbage in the Greenhouse. A greenhouse experiment was conducted at the Indonesian Vegetable Research Institute at Lembang from October to December 2006. The aim of this study was to observe the effffect of difffferent concentrations of S. carpocapsae and B. thuringiensis mixture which is effffective against C. pavonana larvae. The experiment was arranged in a factorial randomized block design with 2 factors and 3 replications. The first factor was the population density of S. carpocapsae, with 4 levels: 0, 400, 800, and 1,600 JI/plant, while the second factor was the concentration of B. thuringiensis, with 3 levels: 0, 0.1, and 0.2 g/100 ml. The results showed that S. carpocapsae and B. thuringiensis were much better than that of control C. pavonana if they were applied in mixture rather than applied in single treatment. Combination of 400 JI/plant S. carpocapsae with 0.1 g/100ml B. thuringiensis caused 53.33% mortality of C. pavonana larvae; 800 JI/plant S. carpocapsae with 0.1 g/100 ml caused 66.67% mortality of C. pavonana; and 1,600 JI/plant S. carpocapsae with 0.1 g/100 ml caused 90% mortality of C. pavonana. The highest mortalitity (100%) was showen by the treatment of 1.600 JI/plant of S. carpocapsae mixed with 0.2 g/100 ml B. thuringiensis at 96 hours after application

    Pengaruh Penambahan Auksin dan Sitokinin terhadap Pertumbuhan Tunas Bawang Putih

    Get PDF
    ABSTRAK. � � � � o� o� K� � � � �� � � � Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh dari penambahan auksin dan sitokinin terhadap pertumbuhan tunas bawang putih kultivar Lumbu Kuning. Perlakuan yang diuji adalah media dasar B5 yang dikombinasikan dengan picloram (0, 0,1, dan 0,2 mg/l), BAP(0, 1, dan 2 mg/l), dan 2-ip (0, 1, dan 2 mg/l). Ada 18 komposisi media perlakuan. Sebagai eksplan digunakan jaringan meristematik bawang putih. Pengamatan dilakukan secara visual terhadap pertumbuhan eksplan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplan dapat tumbuh dan berkembang di semua komposisi media. KoKontaminasi hanya terjadi pada beberapa kultur. Pertumbuhan eksplan yang normal ditunjukkan oleh pertumbuhan daun yang baik, lurus, dan mengarah ke atas. Tidak didapatkan perbedaan nyata pengaruh penambahan hormon picloram, 2-ip, dan BAP terhadap pertumbuhan plantlet. Namun secara umum kombinasi antara picloram dan 2-ip dapat mempercepat pertumbuhan tunas.ABSTRACT. Karjadi, A.K. and Buchory A. 2007. The Effect of Auxin and Cytokinin Concentration on Shoot Induction of Garlic. The experiment was conducted at tissue culture laboratory of Indonesian Vegetable Research Institute. The objectives of the experiment were to find out the influence of picloram and cytokinin (BAP, 2-ip) concentration on shoo t induction of garlic cv. Lumbu Kuning. The experiment consisted of 18 media compositions, those were basal medium of B5 combined with picloram (0, 0.1, and 0.2 mg/l), BAP (0, 1, and 2 mg/l), and 2–ip (0, 1, and 2 mg/l) and the explants were from meristematic tissue/shoo t tip. Results of experiment showed that explants could be proliferated in all medium composition. There were no significant differences on medium with hormone picloram, 2–ip, or BAP. However combination of hormone picloram and 2–ip in the medium could accelerate shoo t growth of garlic

    Teknik Perbanyakan Masal Predator Menochilus sexmaculatus Pengendali Serangga Bemisia tabaci Vektor Virus Kuning pada Tanaman Cabai

    Get PDF
    ABSTRAK. Bemisia tabaci Genn. merupakan hama penting pada tanaman cabai merah. Peran penting lainnya adalah sebagai serangga vektor penular virus gemini yang menyebabkan penyakit kuning pada komoditas tersebut. Penelitian mengenai teknik perbanyakan masal predator Menochilus sexmaculatus pengendali serangga B. tabaci vektor virus kuning pada tanaman cabai telah dilaksanakan di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang sejak bulan April sampai dengan November 2006. Penelitian ini terdiri dari 2 tahap, yaitu (1) perbanyakan M. sexmaculatus, menggunakan rancangan acak kelompok faktorial, dengan 4 tanaman inang dan 2 serangga mangsa, dan (2) uji daya mangsa pada B. tabaci dan Myzus persicae, menggunakan rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara tanaman dan mangsa yang digunakan. Tanaman caisin dan mangsa M. persicae merupakan perlakuan yang terbaik untuk perbanyakan predator M. sexmaculatus dan dapat menghasilkan telur sebanyak 893,33 butir, diikuti oleh kombinasi antara tongkol jagung dan M. persicae serta caisin dan B. tabaci, seekor betina M. sexmaculatus mampu menghasilkan telur sebanyak 140-975 butir selama 8-11 hari atau 12-89 ekor/hari. Puncak peneluran terjadi pada hari ke-5 sampai hari ke-7, mortalitas larva M. sexmaculatus berkisar antara 28,66-45,47%, perbandingan antara jantan:betina 1:1, selama 24 jam M. sexmaculatus mampu memangsa B. tabaci sebanyak 51,50 ekor dan pada M. persicae sebanyak 168,50 ekor; daur hidup predator M. sexmaculatus berkisar antara 56 hingga 78 hari dengan rincian telur 4-5 hari, larva 20-25 hari, pupa 4-6 hari dan imago 28-42 hari. Stadia imago terutama betina lebih banyak memangsa B. tabaci dibandingkan dengan jantan ataupun stadia larva. Predator betina paling cepat menemukan mangsa dibandingkan dengan jantan ataupun larva. Predator M. sexmaculatus betina hanya memerlukan waktu 20,33 detik pada jumlah mangsa 120 ekor. Penggunaan M. sexmaculatus untuk pengendalian B. tabaci secara hayati sangat potensial untuk menekan penggunaan insektisida sintetis.ABSTRACT. Muharam, A. and W. Setiawati. 2007. The Mass Propagation Technique of Menochilus sexmaculatus, the Predator of Bemisia tabaci, the Chilli-Yellow-Viruses Transmitting Vector. Bemisia tabaci is apparently known as one of the major pests on chilli pepper. Another important role of the pest is the capability of transmitting gemini virus on chilli pepper causing yellow diseases. A study on mass propagation of M. sexmaculatus, the predator of B. tabaci, was carried out in Screenhouses of Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, from April to November 2006. Consecutive steps of the study were (1) propagation of the predator using a factorial randomized block design, with 4 host plants and 2 preys, and (2) the test of the capability of M. sexmaculatus as the predator of B. tabaci and Myzus persicae, utilyzing a randomized block design with 6 treatments and 4 replications. The results indicated that a correlation was occurred between host plants and preys. The combination of Brassica sinensis as a host plant with M. persicae as a prey resulted in the best treatment for propagation of the predator with eggs production of 893.33, followed by the combinations of Zea mays with M. persicae, and B. sinensis with B. tabaci. One female of M. sexmaculatus was able to produce 140 to 975 eggs within 8 to 11 days, or 12 to 89 eggs per day. The peak of egg production was occurred from the 5th to 7th day. Mortality of M. sexmaculatus larvae was between 28.66 and 45.47%. The best ratio of female and male of the predator was 1 : 1. Within 24 hours the predator was able to attack B. tabaci and M. persicae up to 51.50 and 168.50 larvae, respectively. Life cycle of the predator was between 56 and 78 days: egg 4-5 days, larvae 20-25 days, pupa 4-6 days, and imago for 28-42 days. Female predators attacked B. tabaci much more than male and larvae. Female predators found preys faster than male ones and larvae, 20.33 seconds for 120 preys. The application of M. sexmaculatus for biological control of B. tabaci will obviously decrease the use of synthetic insecticides

    Identifikasi Potensi dan Kendala Produksi Paprika di Rumah Plastik

    Get PDF
    ABSTRAK. Survai eksplorasi dilaksanakan pada bulan Agustus-Oktober 2003 di daerah sentra produksi paprika Lembang, Bandung, Jawa Barat, untuk mendapatkan gambaran teknologi produksi sayuran di rumah plastik, khususnya paprika, serta mengidentifikasi potensi, peluang, dan masalah budidaya yang ada. Petani responden berjumlah 17 orang dan dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paprika adalah jenis sayuran utama yang diusahakan di rumah plastik, kemudian diikuti oleh tomat, tomat ceri, serta mentimun. Pada umumnya, petani responden mengencerkan nutrisi sebanyak 4–14 l nutrisi per 1.000 l air dan mengaplikasikannya dengan dosis 750–2.000 ml/tanaman/hari, sebanyak 3-5 kali/hari. Organisme pengganggu tanaman yang paling merugikan adalah hama thrips, dan berturut-turut diikuti oleh penyakit layu fusarium, dan embun tepung. Perkiraan biaya produksi per tanaman paprika berkisar antara Rp.7.000-Rp.10.000/tanaman. Pengeluaran terbesar dalam biaya produksi adalah untuk nutrisi, dan secara berturut-turut diikuti oleh tenaga kerja, pestisida, benih, dan media. Gerai yang banyak digunakan untuk memasarkan produk adalah pedagang pengumpul, perusahaan swasta, dan koperasi. Kisaran harga maksimal biasanya terjadi antara bulan Januari sampai Mei, sedangkan kisaran harga minimal seringkali terjadi antara bulan Juni sampai Agustus. Indikator efisiensi pengusahaan beberapa jenis sayuran di rumah plastik menunjukkan bahwa rasio penerimaan biaya untuk paprika, tomat, tomat ceri, dan mentimun menunjukkan besaran yang bernilai positif (menguntungkan). Kendala utama sistem produksi sayuran di rumah plastik berdasarkan peringkat kepentingannya adalah insiden hama penyakit, kualitas konstruksi rumah plastik, ketersediaan modal, ketersediaan tenaga kerja, ketersediaan nutrisi, ketersediaan pestisida, ketersediaan air/pengairan, ketersediaan media dan sarananya, fluktuasi harga, dan ketersediaan informasi teknis. Potensi pengembangan yang tercermin dari potensi pasar domestik dan ekspor masih menunjukkan prospek baik. Hal yang perlu dicermati berkaitan dengan kemungkinan pengembangan lebih lanjut adalah ketergantungan yang tinggi terhadap beberapa input produksi utama, antara lain benih, dan plastik UV.ABSTRACT. Adiyoga, W., N. Gunadi, T. K. Moekasan, and Subhan. 2007. Identification of Potential and Constraint of Sweet Pepper Cultivation in Plastichouse. An exploratory survey was carried out in August to October 2003 in sweet pepper production center, Lembang, Bandung, West Java, to obtain general situation of vegetable production technology, especially sweet pepper, in plastichouse, and to identify potentials and constraints of existing cultural practices. There were 17 interviewed farmers that were selected purposively. The results showed that sweet pepper is the most important vegetable cultivated in plastichouse, followed by tomato, cherry tomato, and cucumber. Farmers usually mix 4–14 l of nutrient with 1000 l of water, apply with the dosage of 750–2000 ml/plant/day, as many as 3-5 times/day. The most important pest is thrips, followed by some diseases, such as fusarium wilt, and downy mildew. Estimated production cost per plant is between Rp. 7.000 to Rp. 10.000. The biggest expense is for nutrients, followed by labor, pesticide, seed, and media, subsequently. Outlets mostly used by respondents are assembly markets/traders, private companies, and cooperatives. Maximum price of sweet pepper usually occurs between January and May, while the minimum price frequently occurs between June and August. Efficiency indicators indicate that the R/C’s for tomato, sweet pepper, cherry tomato, and cucumber are positive (profitable). Main constraints of vegetable production in plastichouse based on their rank of importance, as perceived by farmers are pest and disease incidence, quality of plastichouse construction, capital availability, labor availability, nutrient availability, pesticide availability, water/irrigation availability, media availability, price fluctuation, and technical information availability. Potentials for further development as reflected by domestic and export market opportunities, are still promising. However, further development should be pursued cautiously, since there is a high dependence on main inputs that are still imported, such as seeds and UV-plastic

    Status Resistensi Spodoptera exigua Hubn. pada Tanaman Bawang Merah Asal Kabupaten Cirebon, Brebes, dan Tegal terhadap Insektisida yang Umum Digunakan Petani di Daerah Tersebut

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian terdiri atas survai dan penelitian laboratorium. Tujuan survai adalah untuk mengetahui perilaku petani dalam menggunakan insektisida untuk mengendalikan ulat bawang dan penelitian di laboratorium bertujuan mengetahui status resistensi ulat bawang terhadap insektisida yang umum digunakan oleh petani. Survai dilakukan terhadap 60 orang petani di Kecamatan Gebang dan Losari (Kabupaten Cirebon), Kecamatan Wanasari dan Larangan (Kabupaten Brebes), dan Kecamatan Dukuhturi dan Margadana (Kabupaten Tegal) pada bulan Juni sampai dengan Juli 2005. Penelitian di laboratorium dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Desember 2005. Pengujian menggunakan metode pencelupan potongan daun bawang terhadap larva S. exigua instar ke-2 dan atau ke-3 asal Kecamatan Gebang dan Losari (Kabupaten Cirebon), Kecamatan Wanasari dan Larangan (Kabupaten Brebes), Kecamatan Dukuhturi dan Margadana (Kabupaten Tegal). Penghitungan nilai LC50 tiap jenis insektisida yang diuji dilakukan menggunakan program komputer analisis Probit. Hasil survai menunjukkan bahwa insektisida yang umum digunakan petani untuk mengendalikan ulat bawang adalah spinosad, klorpirifos, triazofos, metomil, betasiflutrin, siromazin, karbosulfan, tiodikarb, dan abamektin. Petani umumnya mencampur 2-5 jenis insektisida dan melakukan penyemprotan 2-3 kali per minggu. Konsentrasi formulasi insektisida yang digunakan pada umumnya di bawah konsentrasi formulasi anjuran, tetapi volume semprot yang digunakan sesuai dengan yang direkomendasikan. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan terdapat perbedaan kerentanan S. exigua, bergantung pada asal (strain) ulat bawang yang diuji. Ulat bawang asal Kecamatan Gebang dan Losari (Kabupaten Cirebon) terindikasi resisten terhadap insektisida spinosad, klorpirifos, triazofos, betasiflutrin, siromazin, karbosulfan, tiodikab, dan abamektin. Ulat bawang asal Kecamatan Wanasari dan Larangan (Kabupaten Brebes) terindikasi resisten terhadap insektisida klorpirifos dan betasiflutrin, sedangkan ulat bawang asal Kecamatan Wanasari terindikasi resisten terhadap insektisida siromazin, karbosulfan, dan abamektin. Ulat bawang asal Kecamatan Dukuhturi dan Margadana (Kabupaten Tegal) terindikasi resisten terhadap insektisida karbosulfan dan tiodikarb, sedangkan ulat bawang asal Kecamatan Dukuhturi terindikasi resisten pula terhadap insektisida spinosad, klorpirifos, dan siromazin.ABSTRACT. Moekasan, T.K. and R. S. Basuki. 2007. Resistance Status of Spodoptera exigua Hubn. on Shallot from Cirebon, Brebes, and Tegal District to Several Insecticide Commonly Used by Farmers. The research consisted of survey and laboratory study. The aim of the survey was to identify farmers behaviour on using insecticide on shallot. While the laboratory study was aimed to find out the resistance status of pest toward pesticides commonly used by farmers. The survey conducted from June until July 2005, at Gebang and Losari Subdistricts (Cirebon District), Wanasari and Larangan Subdistricts (Brebes District), Dukuhturi and Margadana Subdistricts (Tegal District). Number of respondents was 60 farmers. The purpose of the laboratory study was to determine the resistance status of S. exigua larvae to several insecticides commonly used by farmers at those locations. The laboratory study conducted from July until December 2005. The leaf-dip bioassay used on second and third instar of S. exigua larvae from Gebang and Losari Subdistricts (Cirebon District), Wanasari and Larangan Subdistricts (Brebes District), and Dukuhturi and Margadana Subdistricts (Tegal District). The data was analyzed using Probit analyze programme. Results of the survey showed that farmers used spinosad, chlorpyriphos, triazophos, methomyl, betasifluthrin, cyromazin, carbosulfan, tiodicarb, and abamectin to control S. exigua Hubn. Usually farmers mix 2-5 insecticides and spray 2-3 times per week. Concentration of formulation used were under the recommendation, but the spraying volume based on the recommendation. Results of laboratory study showed that S. exigua larvae taken from Gebang and Losari Subdistricts (Cirebon Districts) were resistant to spinosad, chlorpyriphos, triazophos, betasifluthrin, cyromazin, carbosulfan, tiodicarb, and abamectin. Beet armyworm larvae taken from Wanasari and Larangan Subdistricts (Brebes Districts) were resistant to chlorpyriphos and betasifluthrin, and larvae from Wanasari were also resistant to cyromazine, carbosulfan and abamectin. The larvae taken from Dukuhturi and Margadana Subdistrict (Tegal District) were resistant to carbosulfan and tiodicarb, and the larvae from Dukuhturi Subdistrict (Tegal District) were also resistant to spinosad, chlorpyriphos, and cyromazine

    Pembibitan Manggis Secara Cepat Melalui Teknik Penyungkupan Akar Ganda dan Pemberian Cendawan Mikoriza Arbuskula

    Get PDF
    ABSTRAK. Telah dilakukan penelitian penyediaan bibit manggis secara cepat melalui manipulasi CO2, teknik akar ganda, dan penggunaan cendawan mikoriza arbuskula (CMA) di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok mulai Januari sampai Desember 2003. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak-petak terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama adalah manipulasi CO2 , yaitu penempatan semai manggis di dalam dan di luar sungkup plastik beralaskan jerami dalam rumah kasa. Subplot adalah sistem perakaran, yaitu semai manggis berakar tunggal dan semai manggis berakar ganda, sedangkan sub-subplotnya adalah mikoriza, yaitu semai manggis yang diberi dan tanpa CMA. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, bobot kering akar, dan bobot kering total tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penempatan bibit manggis di dalam sungkup plastik beralaskan jerami dapat tumbuh lebih cepat daripada semai manggis di luar sungkup plastik. Sistem perakaran belum menunjukkan pengaruhnya terhadap pertumbuhan bibit manggis, walaupun bibit manggis berakar tunggal masih cenderung tumbuh lebih baik daripada bibit berakar ganda. Pemberiaan CMA belum menunjukkan pengaruh walaupun sudah memperlihatkan kecenderungan bahwa bibit manggis yang diinokulasi CMA memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan bibit manggis tanpa CMA.ABSTRACT. Jawal, M. Anwarudin Syah, T. Purnama, D. Fatria, and F. Usman. 2007. Acceleration of Mangosteen Seedling Growth through CO2 Manipulation, Double Root System, and Arbuscular Mychorriza Fungi (AMF) Application. The research was conducted in the Screenhouse of Indonesian Tropical Fruit Research Institute from January to December 2003 using a split-split plot design with 3 replications. The main plot was CO2 manipulation (mangosteen seedlings were placed in the screenhouse with: 1) plastic cover and rice stalk as a base, and 2) without plastic cover. The subplot was rooting system (mangosteen seedling with 1 rooting system and 2 rooting system), and sub-subplot was arbuscular mycorrhizae fungi (mangosteen seedling with and without AMF application). The parameters observed were plant height, leaf number, leaf area, stem diameter, dry weight of root, and dry weight of plant. The results of the experiment indicated that mangosteen seedling put in a plastic cover growth faster compared to uncovered seedling. The rooting system, 1 and 2 rooting system, did not show any significant different in stimulating mangosteen seedling growth, whereas application of AMF could stimulate mangosteen seedling growth

    Teknik Enfleurasi dalam Proses Pembuatan Minyak Mawar

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Hias Jakarta dari bulan Juni 1998 sampai bulan Mei 1999. Penelitian bertujuan memperoleh jenis dan komposisi lemak hewan yang tepat untuk proses enfleurasi minyak mawar. Teknik enfleurasi dalam proses pembuatan minyak mawar dicoba dengan bahan dasar bunga mawar merah tabur asal Bandungan, Jawa Tengah. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan 3 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah (a) campuran lemak sapi + lemak ayam (1:1; 1:2; 1:3, 2:1, dan 3:1), (b) campuran lemak kambing dan lemak ayam (1:1, 1:2, 1:3, 2:1, dan 3:1), dan (c) campuran lemak sapi + kambing + ayam (2:1:0,5 dan 2:1:1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik adalah campuran lemak hewan dengan perbandingan lemak sapi:lemak kambing:lemak ayam sebesar 2:1:1, yang mempunyai tingkat kekerasan 13,2 mm/5 detik/50 g pemberat, dan bertekstur halus. Rendemen absolut yang dihasilkan mencapai 0,076-0,174% dengan indeks bias 1,46-1,53 dan komponen utama penyusun absolut mawar adalah fenil etil alkohol (11,76-22,34%), sitronelol (2,71-6,05%), dan geraniol (3,37-4,99%). Teknik enfleurasi dapat digunakan dalam produksi minyak mawar bermutu.ABSTRACT. Yulianingsih, D. Amiarsi, and Sabari S. 2007. The Enfleuration Tehnique for Producing Rose Oil. The research was conducted at Indonesian Ornamental Plant Research Institute Laboratory in Jakarta from June 1998 to May 1999. The aim of the experiment was to find out the appropriate composition and kinds of animal fat for enfleuration process for producing rose oil. The enfleuration technique was used to produce volatile oil from red rose flowers from Bandungan, Central Java. Experiment was arranged in a factorial completely randomized design with 3 replications. The treatments were (a) mixture of animal fat of cow + chicken with ratio (1:1, 1:2, 1:3, 2:1, and 3:1), (b) mixture of animal fat of goat + chicken (1:1, 1:2, 1:3, 2:1, and 3:1), and (c) mixture of animal fat of cow + goat + chicken (2:1:0,5 and 2:1:1). The results of the experiment indicated that the best treatment was absorbent mixture of animal fat of cow, goat, and chicken with ratio of 2:1:1 with consistency of 13.2 mm/5 sec/50 g ballast, soft enough, and smooth texture. The rendement of absolute was about 0.076-0.174%, with refraction index 1.46-1.53, and the main components were phenyl ethyl alcohol (11.76-22.34%), citronellol (2.71-6.05%), and geraniol (3.37-4.99%). This enfleuration technique can be used to produce rose absolute with high quality

    Penampilan Fenotipik Beberapa Hibrida F1 Pepaya

    Get PDF
    Penelitian dilakukan di desa Banjarsari (±5 m dpl), Probolinggo, Jawa Timur, mulai bulan Nopember 2000 sampai September 2001 menggunakan rancangan acak kelompok lengkap. Perlakuan terdiri dari 10 hasil persilangan dan 3 ulangan. Peubah yang diamati adalah saat muncul bunga pertama, letak bunga pertama, letak buah jadi yang pertama, umur panen buah pertama, panjang tangkai buah, panjang buah, diameter buah, tebal buah, jumlah biji, berat buah, jumlah buah, hasil, padatan terlarut total, kadar air, dan kadar vitamin A. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua karakter berbeda nyata di antara hibrida F1 kecuali saat muncul bunga pertama, letak bunga pertama, kadar air buah, dan vitamin A. Hibrida F1 dari persilangan 99-015 x 99-020, 99-015 x 99-017, dan 99-020 x 99-017 mempunyai karakter unggul yang paling banyak (7 karakter). Hibrida F1 yang mempunyai letak buah jadi yang pertama yang rendah ditampilkan oleh persilangan 99-015 x 99-020, 99-015 x 99-017, dan 99-020 x 99-017. Hibrida F1 yang mempunyai umur panen buah pertama yang paling cepat ditampilkan oleh persilangan 99-015 x 99-017. Hampir semua hibrida F1 mempunyai hasil yang tinggi kecuali dari persilangan 99-015 x 99-010, 99-014 x 99-010, dan 99-010 x 99-017. Hibrida F1 dari persilangan 99-015 x 99-017 mempunyai keunggulan letak buah jadi yang rendah, umur panen buah pertama yang cepat, hasil tinggi, dan padatan terlarut total yang tinggi. Hasil ini dapat digunakan untuk memilih hibrida F1 dalam rangka peningkatan produktivitas dan kualitas pepaya.ABSTRACT. Indriyani, N.L.P. 2007. Phenotypic Performance of some F1 Hybrids of Papaya. The aim of the research was to obtain the best phenotypic performance of papaya hybrids. The experiment was conducted at Banjarsari (± 5 m asl), Probolinggo, East Java, from November 2000 to September 2001, using a randomized complete block design. The treatment consisted of 10 populations of artificial cross pollination and 3 replications. Parameters observed were time of first flower emergence, first flower position, first fruit position, harvest time of first fruit, length of fruit stalk, fruit length, fruit diameter, flesh thickness, seed number, fruit weight, fruit number, yield, total soluble solid, moisture, and vitamin A. The results showed that almost all of characters observed among the hybrids were significantly different with exception for emergence of first flower, position of first fruit, moisture, and the vitamin A. Among 10 hybrids, 3 F1 hybrids were found to have highest superior character (7 characters). The lowest of first fruit position was presented by F1 hybrid from crossing of 99-015 x 99-020, 99-015 x 99-017, and 99-020 x 99-017. The earliest of harvest time of first fruit was presented by F1 from 99-015 x 99-017. Almost all of F1 hybrids were found to have high yield except for F1 hybrid of 99-015 x 99-010, 99-014 x 99-010, and 99-010 x 99-017. The lowest of first fruit position, the earliest of harvest time of first fruit, high yield, and high total soluble solid was presented by F1 hybrid of 99-015 x 99-017. This results can be used to select F1 hybrid in supporting the productivity and quality of papaya

    Keragaman Genetik Pamelo Indonesia berdasarkan Primer Random Amplified Polymorphic DNA

    Get PDF
    ABSTRAK. Analisis keragaman genetik diperlukan untuk mengetahui hubungan kekerabatan 18 varietas jeruk pamelo Indonesia. Penelitian bertujuan mengetahui keragaman genetik beberapa varietas pamelo berdasarkan primer RAPD. Daun dari tunas muda berumur 20-25 hari diekstrak untuk mendapatkan bulk DNA. Setiap sampel DNA dari setiap varietas diamplifikasi menggunakan 15 primer RAPD dan diseparasi menurut metode elektroforesis. Hasil visualisasi fragmen pita DNA dihitung berdasarkan ada dan tidaknya pita DNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2 primer RAPD, yaitu OPN14 dan OPN16 membedakan varietas pamelo yang dianalisis. Tiga kelompok besar pamelo telah terkelompok dan menunjukkan kekerabatan yang dekat serta memperlihatkan kesamaan yang tinggi menurut daerah asal dan karakter buah.ABSTRACT. Agisimanto, D. and A. Supriyanto. 2007. Genetic Diversity of Pummelo Based on Primer Random Amplified Polymorphic DNA. Genetic variablitiy is needed to understand relationship among 18 pummelo varieties in Indonesia. The objective of the research was to characterize genetic diversity of some pummelo varieties in Indonesia based on RAPD primer. Leaves from young flush, 20-25 days, were extracted and amplified by 15 RAPD primers. Bands of DNA were scored based on their presence and absence. Two primers of OPN 14 and OPN 16 were selected to visualize band pattern of pummelo varieties. At least, 3 groups of pummelos were clustered that showed closely relationship and highly similarity by place of origin and fruit characteristics

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇