Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Pengaruh Aplikasi Lecanicillium lecanii Terhadap Ambang Kendali Trips Pada Tanaman Kentang (Effect of Application of Lecanicillium lecanii on Control Threshold of Thrips in Potato)
Cendawan entomopatogen Lecanicillium lecanii merupakan musuh alami potensial bagi trips. Pemanfaatannya dalam budidaya kentang diharapkan mampu meningkatkan nilai ambang kendali Thrips palmi dalam rangka mendukung pelestarian lingkungan. Penelitian bertujuan mengevaluasi ambang kendali trips dengan menambahkan penggunaan L. lecanii sebagai agens pengendalian hayati. Penelitian dilakukan di Desa Marga Mekar (1.200 m dpl.), Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dari bulan Mei hingga Agustus 2016. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan dan tiap perlakuan diulang empat kali. Macam perlakuan yang diuji adalah: (A) ambang kendali satu nimfa trips/daun + L. lecanii, (B) ambang kendali enam nimfa trips/daun + L. lecanii, (C) ambang kendali 11 nimfa trips/daun + L. lecanii, (D) ambang kendali 16 nimfa trips /daun + L. lecanii, (E) penyemprotan insektisida 2x/minggu, dan (F) kontrol, tanpa penyemprotan insektisida dan tanpa L. lecanii. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyemprotan L. lecanii (1x/minggu) mampu meningkatkan ambang kendali trips dari 10 nimfa /daun menjadi 16 nimfa/daun, mampu menekan penggunaan insektisida sebesar 56,25–100%, dan mampu menekan kehilangan hasil panen ubi kentang sebesar 34,98–45,74%. Lecanicillium lecanii sebagai pengendali trips lebih tepat digunakan pada musim kemarau, dan pada saat serangan penyakit rendah, untuk menghindari penggunaan fungisida sistemik yang dapat mematikan cendawan entomopatogen tersebut.KeywordsAmbang kendali; Cendawan entomopatogen; Penyemprotan insektisida; Solanum tuberosum L.; Thrips palmi KarnyAbstractLecanicillium lecanii is one of entomopathogenic fungus that effective against thrips. The use of the fungus in potato cultivation may increase control threshold of thrips in order to hold environment sustainability. The experiment was aimed to evaluate the control threshold of thrips with add L. lecanii as an biological control agent. The experiment had been conducted in Marga Mekar Village (1,200 m asl.), Pangalengan Sub District, Bandung District, West Java Province. The experiment was arranged in randomized block design with six treatments and each treatment was replicated four times. The treatments tested were (A) control threshold one nymph/leaf + L. lecanii, (B) control threshold six nymphs/leaf + L. lecanii, (C) control threshold 11 nymphs/leaf + L. lecanii, (D) control threshold 16 nymphs/leaf + L. lecanii, (E) insecticide spraying 2x/week, and (F) check, without insecticide and without L. lecanii. Result showed that L. lecanii spraying (1x / week) was able to increase the control threshold of thrips of 10 nymphs/leaf to 16 nymphs/leaf, was able to suppress the use of insecticides by 56.25% to 100%, and was able to suppress the yield loss of potato by 34.98% to 45.74%. Lecanicillum lecanii as a biological control agent of thrips more appropriately used in the dry season, when the disease intensity is low, in order to avoid sistemic fungicide application that able kill the entomopathogenic fungus
Multiplikasi Tunas dan Induksi Perakaran Pada Perbanyakan Rhododendron radians J.J.Sm (Ericaceae) Secara In Vitro [Shoot Multiplication and Root Induction on In Vitro Propagation of Rhododendron radians J.J.Sm (Ericaceae)]
Rhododendron radians merupakan tanaman hias yang hanya ditemukan di Sulawesi Tengah dan Utara. Perbanyakan secara massal diperlukan untuk komersialisasi tanaman tersebut. Penelitian bertujuan mendapatkan teknik mikropropagasi secara in vitro yang tepat untuk R. radians melalui percobaan pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) pada media kultur. Penelitian terdiri atas dua tahap percobaan. Percobaan 1 perlakuan kombinasi ZPT untuk proliferasi tunas disusun menggunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor, yaitu media (delapan kombinasi media) dengan menggunakan dua konsentrasi IAA (0,1 mg/l dan 1,0 mg/l) dan empat konsentrasi 2iP (0, 6, 7, dan 8 mg/l). Percobaan 2 adalah perlakuan IBA untuk pertumbuhan tunas dan pengakaran menggunakan lima variasi media (M1 = media WPM (kontrol), M2 = media WPM + 0,25 mg/l IBA, M3 = media WPM + 0,5 mg/l IBA, M4 = media WPM + 1 mg/l IBA, M5 = media WPM + 5 mg/l IBA). Hasil penelitian menunjukan bahwa media WPM dengan penambahan 1,0 mg/l IAA dan 7,0 mg/l 2iP merupakan media terbaik untuk induksi tunas pada R. radians, dengan jumlah tunas rata-rata 15,80 + 3,45 cm dan tinggi tunas rata-rata 2,36 + 0,25 cm, sedangkan media terbaik untuk induksi akar adalah media M4 (WPM + 1,0 mg/l IBA), dengan persentase eksplan berakar 63,33% dan panjang akar rata-rata 4,7 mm. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai acuan awal untuk melakukan perbanyakan secara massal R. radians dan diharapkan penelitian lebih lanjut dapat dilakukan sampai dengan tahap aklimatisasi.KeywordsAuksin; Media; Mikropropagasi; Rhododendron radiansAbstractRhododendron radians is an ornamental plant that found only in Sulawesi (Central and North). Commercialization of this species requires mass propagated plant materials. This study aimed to determine the proper technique for R. radians micropropagation in vitro. This study used two stages of treatment i.e (1) treatment of IAA on shoot proliferation R. radians arranged in completely randomized design with one factor (eight medium combination), the concentration of plant growth regulators IAA which consisted of two levels: 0.1 mg/l, and 1 mg/l and concentration of growth regulators 2iP consisting of four levels (0,6, 7, and 8 mg / l); (2) IBA treatment on shoot growth and rooting using five variations of the medium (M1 = WPM (control), M2 = WPM + 0.25 mg/l IBA, M3 = WPM + 0.5 mg/l IBA, M4 = WPM + 1 mg/l IBA; M5 = WPM + 5 mg/l IBA). The results showed that the WPM added with 1 mg/l IAA and 7 mg/l 2iP was the best medium for shoot induction initiated from seed culture, with the average number of shoots 15. 80 ± 3.45 cm and an average shoot height of 2.36 ± 0.25 cm. While the best medium for root induction was M4 (WPM + 1 mg / l IBA), with a percentage of 63.33% rooted explants and the average root length of 4.7 mm. The results of this study can be used as a starting point to conduct mass propagation R. radians
Potensi Pemanfaatan Formulasi Pupuk Organik Sumber Daya Lokal untuk Budidaya Kubis (Potential Use Formulation of Fertilizer Local Natural Resources for Cabbage Plantation)
Pemupukan organik banyak memberikan kontribusi pada perlindungan lingkungan dan masa depan kehidupan manusia serta menjamin keberlanjutan bagi agroekosistem dan kehidupan petani sebagai pelaku pertanian. Sumber daya lokal dipergunakan sedemikian rupa sehingga unsur hara sintetis, biomassa, dan energi dapat ditekan serendah mungkin serta mampu mencegah pencemaran lingkungan. Penelitian bertujuan mendapatkan formulasi pupuk organik sumber daya lokal untuk budidaya sayuran kubis. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Berastagi dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl. dan jenis tanah Andisol. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Agustus sampai November 2015. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) terdiri atas enam perlakuan dengan lima ulangan. Perlakuan yang diuji adalah: (A) POC kirinyuh, (B) kotoran kelinci plus (Kotciplus), (C) POC orok-orok, (D) POC kirinyuh + urin kelinci (1 : 1 v/v), (E) POC orok-orok + urin kelinci (1 : 1 v/v), dan (F) kontrol (pupuk kimia sintetis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik Kotciplus dapat memacu pertumbuhan dan hasil kubis lebih baik daripada pupuk kimia sintetis. Penggunaan pupuk organik Kotciplus dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman kubis sebesar 4,42%, lebar daun sebesar 4,78%, diameter krop sebesar 3,26%, bobot krop per tanaman sebesar 7,13%, dan produksi per plot sebesar 2,43% dibanding penggunaan pupuk kimia sintetis. Penggunaan pupuk organik dapat menekan serangan penyakit akar gada sebesar 19,06 – 57,01%, namun meningkatkan serangan hama 12,12 – 27,5% dari kontrol. Implikasi yang diperoleh adalah pupuk organik Kotciplus sangat cocok untuk budidaya kubis.KeywordsBrassica oleracea var. capitata L.; Pupuk organikAbstractOrganic fertilization contributes to the protection of the environment and the future of human life. Organic farming also guarantees the sustainability of the agro-ecosystems and the lives of farmers as agricultural factors. Local resources are used in a way that synthetic nutrients, biomass, and energy can be reduced as low as possible and be able to prevent environmental pollution. The aim of the research is to extract local resources of organic fertilizer for the cultivation of vegetable cabbage. The study was conducted in Berastagi Experimental Garden with less altitude of 1,340 m above sea level and type of soil Andisol. The research was conducted from August to November 2015. The design used was a randomized block design, consist of six treatments with five replications. The treatments tested were: (A) LOF (liquid organic fertilizer) kirinyuh, (B) manure rabbit plus (Kotciplus), (C). LOF sunn hemp, (D) LOF kirinyuh + rabbit urine (1: 1 v/v), (E) LOF sunn hemp + rabbit urine (1: 1 v/v) and (F) control (synthetic chemical fertilizers). The results obtained are : Natural Kotciplus fertilizer can stimulate the growth and yield of cabbage were better than synthetic chemical fertilizers. The use of natural Kotciplus fertilizer can increase the high growth 4.42% cabbage, leaf diameter 4.78%, crop diameter 3.26%, the weight of the crop per plant 7.13% and the production per plot 2, 43% compared to the use of chemical synthetic fertilizers. The use of natural fertilizers can suppress the attack of the clubroot disease by 19.06 % to 57.01%, but increased pest attacks 12.12 - 27.5% of controls. The implication is that natural Kotciplus fertilizer is very suitable for cabbage cultivation
Perubahan Atribut Mutu dan Umur Simpan Beberapa Jenis Cabai Pada Berbagai Kemasan dan Suhu Penyimpanan (The Quality Atribute Change and Shelf Life of Several Types of Chili on Various Packaging and Storage Temperature)
Kemunduran mutu cabai segar setelah dipanen dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pengemasan dan penyimpanan suhu dingin merupakan bagian dari upaya untuk menekan kemunduran mutu. Tujuan penelitian untuk mengetahui laju rata-rata perubahan atribut mutu dan umur simpan beberapa jenis cabai pada berbagai kemasan dan suhu penyimpanan. Rancangan yang digunakan, yaitu rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga faktor perlakuan dan tiga ulangan. Faktor pertama, yaitu tiga jenis cabai : (a1) cabai merah besar, (a2) cabai merah keriting, dan (a3) cabai rawit. Faktor kedua, dua suhu penyimpanan (b1) suhu kamar (20±3oC dan (b2) suhu dingin (10±1oC). Faktor ketiga, tiga jenis kemasan, yaitu (c1) baki styrofoam tanpa bungkus, (c2) baki styrofoam dibungkus plastik stretch film, dan (c3) baki styrofoam dibungkus plastik PE 0,03 mm berperforasi. Peubah yang diamati meliputi susut bobot, kadar air, kekerasan, kesegaran, vitamin C, dan umur simpan. Secara umum untuk semua jenis cabai dan jenis pengemas, penyimpanan di suhu dingin dapat menekan laju rata-rata perubahan atribut mutu sekaligus memperpanjang umur simpan sekitar 2,5–3 kali lipat dibandingkan suhu kamar. Pengemasan dengan styrofoam yang dibungkus plastik stretch film (c2) memberikan efek positif terhadap penekanan laju rata-rata perubahan atribut mutu dan umur simpan semua jenis cabai pada penyimpanan di suhu dingin, yaitu masing-masing 25 hari untuk cabai merah besar, 24 hari untuk cabai merah keriting, dan 18 hari untuk cabai rawit. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah bahwa penyimpanan di suhu dingin dengan menggunakan pengemasan styrofoam dibungkus plastik stretch film dapat menekan laju rata-rata kemunduran mutu semua jenis cabai.KeywordsCabai; Mutu; Umur simpan; Suhu; KemasanAbstractThe deterioration in the quality of fresh chili after harvesting is influenced by environmental factors. Low temperature packaging and storage are part of effective efforts to reduce quality deterioration. The objective of this research was to obtain the rate of quality attribute change and shelf life of several kinds of chili on various packaging and storage temperature. The experiment was conducted using randomized block in a factorial design with three factors and three replications. The first factor was three type of chili: (a1) red hot chili, (a2) curly chili, and (a3) cayenne pepper. The second factor was two types of storage temperature: (b1) room there temperature (20±3°C) and (b2) cold temperature (10±1oC). The third factor was three types of packaging: (c1) styrofoam trays without wrapping, (c2) styrofoam trays with stretch film , and (c3) styrofoam trays with perforated PE plastic 0.03 mm. The variables observed included weight loss, moisture content, hardness, vitamin C, freshness, and shelf life. Generally, for all kinds of chili and types of packaging, storage in cold temperatures can slow the rate of change of the quality attributes while extending shelf life of about 2.5–3 times higher than room temperature. Packing with styrofoam stretch filmed in plastic stretch film (c2) has a positive effect on suppression rate of quality attributes change and shelf life of all kinds of chili on storage at cold temperatures, respectively 25 days for red hot chili, 24 days for curly chili, and 18 days for cayenne pepper. This research implied that storage at low temperatures using styrofoam packaging stretch filmed in plastic stretch film can reduce the rate of decline in the quality of all types of chili
Keragaan Morfo-Fisiologi Phaseolus spp. yang Ditanam Pada Ketinggian Tempat yang Berbeda (Morpho-Physiological Performance Phaseolus spp. on Different Altitudes)
Permintaan masyarakat di Indonesia terhadap tanaman legumes meningkat setiap tahunnya, namun produksi legumes di Indonesia belum dapat mencukupi kebutuhan konsumen. Pertumbuhan tanaman legume dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti ketinggian tempat, suhu, intensitas cahaya matahari, dan kelembapan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dan mengevaluasi keragaan morfo-fisiologi Phaseolus spp. yang ditanam pada dua ketinggian tempat yang berbeda. Empat jenis legumes yang digunakan adalah Jackson Wonder Bean (JWB - Phaseolus lunatus), Christmas Bean (CHB - P. lunatus), Cranberry Bean (CRB - P. vulgaris), dan White Kidney Bean (WKB - P. vulgaris). Empat macam kacang tersebut ditanam pada ketinggian tempat 1.100 m dpl. (lokasi I) dan pada ketinggian 250 m dpl. (lokasi II). Peubah fisiologi dipengaruhi oleh lokasi penelitian, sedangkan peubah morfologi dipengaruhi oleh interaksi antara ketinggian tempat dan jenis kacang. Perbedaan kondisi lingkungan memengaruhi habitus JWB (P. vulgaris). CHB (P. lunatus) menghasilkan jumlah polong tertinggi pada ketinggian tempat 1.100 m dpl., yaitu 25,7 polong diikuti dengan BB 100 biji, yaitu 158,3 g. Implikasi penelitian ini adalah pembudidayaan tanaman legumes atau kacang minor pada dua lokasi yang berbeda berdasarkan ketinggian tempat untuk mendapatkan kondisi lingkungan yang sesuai agar pertumbuhan dan produksinya optimal.KeywordsPhaseolus lunatus; Phaseolus vulgaris; Bintil akar; Konduktansi stomata; Laju fotosintesisAbstractThe demand of legumes in Indonesia is increasing every year. The growth performance of legumes is influenced by environmental factors such as altitude land, temperature, light intensity, and air humidity. The aims of this study were to analyze and evaluate the morpho-physiological performance of legumes (Phaseolus spp.) grown in two different altitudes. Four genotypes of bean used in this study were Jackson Wonder Bean (JWB - P. lunatus), Christmas Bean (CHB - P. lunatus), Cranberry Bean (CRB - P. vulgaris), and White Kidney Bean (WKB - P. vulgaris). The four species of beans were grown at 1,100 m asl. (location I) and 250 m asl. (location II). The physiological parameters were influenced by location, meanwhile the morphological parameter was affected by the interaction between the altitude and type of beans. The differences on environmental condition in both field affected the habits of WKB (P. vulgaris). The CHB (P. lunatus) bean produced the highest number of pods at altitude of 1,100 m asl followed by wet weight of 100 seeds is 25.7 and 158.3. The implication of this research is the cultivation of beans minor at two different locations based on the altitude to get the appropriate environmental conditions to be optimal growth and production
Respon dan Seleksi Tanaman Kentang Terhadap Kekeringan (Response and Selection of Potato Plants to Drought)
Kekeringan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kentang. Persilangan dengan tujuan toleran kekeringan telah dilakukan dan dilanjutkan dengan seleksi terbatas. Tujuan penelitian untuk mempelajari respon tanaman kentang terhadap kekeringan dan melakukan seleksi klon-klon hasil persilangan untuk sifat toleran kekeringan. Materi yang digunakan adalah 78 nomor hasil seleksi progeni kekeringan tahun 2015. Penelitian dilakukan dengan membandingkan antara tanaman pada kondisi kekeringan dan pengairan normal di dalam Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, pada tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cekaman kekeringan berpengaruh terhadap karakter pertumbuhan dan hasil. Pada kondisi kekeringan, vigor tanaman menurun dan menunjukkan gejala layu, menguning, serta daun menggulung ke atas. Kekeringan juga menyebabkan penurunan pada diameter batang (41,4%), jumlah batang (6,63%), tinggi tanaman (22,43%), diameter kanopi (18,76%), luas daun (53,7%), jumlah ubi pertanaman (17,54%), berat ubi pertanaman (70,35%), panjang ubi (44,45%) serta diameter ubi (42,85%). Respon tanaman terhadap kekeringan yang lain ditunjukkan oleh peningkatan kadar prolin daun dan klorofil. Seleksi berdasarkan perubahan karakter morfologi, pertumbuhan vegetatif serta produksi ubi, diperoleh 26 genotipe yang berpotensi memiliki sifat toleran terhadap kekeringan. Genotipe terseleksi tersebut memiliki kisaran jumlah ubi per tanaman 1,67 – 12,25, berat ubi per tanaman 26,45 – 80,775 g, panjang ubi 2,05 – 3,4 cm serta diameter ubi 1,43 – 3,06 cm. Hasil dari seleksi kekeringan ini akan dilanjutkan ke seleksi di lapangan untuk mendapatkan klon unggul kentang toleran terhadap kekeringan. Ketersediaan klon kentang toleran kekeringan dapat menjawab ancaman menurunnya produksi kentang akibat perubahan iklim.KeywordsSolanum tuberosum L.; Produksi ubi; Prolin; Toleran kekeringan AbstractDrought is very influential towards the growth and production of the potato crop. A crossing to drought-tolerant genotypes was conducted and continued with a progeny selection. The aims of this study were to study the response of the potato plant to drought stress and to select potato clones resulted from conventional crossing for drought tolerant. The genetic materials tested were 78 progenies resulted from drought selection in 2015. The study was conducted by comparing plants in drought and normal irrigation conditions in the Greenhouse of the Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, in 2016. Results showed that drought stress affected potato growth as well as tuber yield. On drought conditions, potato plants tend to be poor of plant vigor, showed wilting symptom, yellowing leaves and roll up of the leaves. Drought stress caused the decline of stem diameter of (41.4%), main stem number (6.63%), plant height (22.43%), canopy diameter (18.76%), leaf area (53.7%), per plant tuber number (17.54%), per plant tuber weight (70.35%), tuber length (44.45%) and tuber diameter (42.85%). Another response to drought was the increasing level of proline and chlorophyll in leaf. Based on morphological character changes, vegetative growth and tuber production, 26 genotypes demonstrated potential drought tolerance. The selected genotypes will be used to the next selection in the field to get stable drought-tolerant potato clones. The availability of drought-tolerant potato clones can respond to the threat of reduced potato production due to climate change.
Evaluasi Paket Teknologi Produksi Benih TSS Bawang Merah Varietas Bima Brebes di Dataran Tinggi (Evaluation of the Packages TSS Seed Production Technology of Bima Brebes Varieties in the Highland)
Penggunaan biji botani bawang merah atau true seed of shallot (TSS) diyakini dapat memecahkan kendala ketersediaan benih bawang merah di Indonesia. Tujuan penelitian adalah menentukan paket teknologi produksi benih TSS yang menghasilkan pembungaan dan produksi biji yang lebih tinggi. Penelitian teknologi produksi TSS dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu, Lembang dengan ketinggian tempat 1.250 m dpl. Penelitian menggunakan rancangan petak berpasangan dengan dua perlakuan paket teknologi dan diulang lima kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan A (aplikasi pukan kuda 10 ton/ha dan ayam 5 ton/ha, SP-36 250 kg/ha, NPK 600 kg/ha aplikasi 10 kali (seminggu sekali), aplikasi BAP dan boron) menghasilkan pembungaan dan produksi biji/TSS yang lebih tinggi daripada paket B (pukan kuda 20 ton/ha, NPK 600 kg/ha dengan dua kali aplikasi, dan aplikasi GA3). Implikasi penelitian menunjukkan bahwa inovasi teknologi produksi TSS yang sedang dikembangkan saat ini sangat layak untuk memproduksi benih TSS yang bermutu tinggi.KeywordsBiji botani bawang merah; BAP; Boron; GA3; PemupukanAbstractThe use of true seed of shallots (TSS) is believed to solve the constraints of the availability of shallot seeds in Indonesia. The research objective was to compare the two packages TSS seed production technology that produces higher flowering and seed production. Research on TSS production technology was carried out at Margahayu Experimental Garden, Lembang with an altitude of 1,250 m above sea level. Research used a paired plot design with two treatments of technology package and five replicates. The results showed that treatment A (horse manure 10 ton/ha + chicken manure 5 ton/ha + SP-36 250 kg/ha + NPK 600 kg/ha application 10 times + BAP 37,5 ppm + boron 3 kg/ha) produce better flowering and seed production/higher TSS than package B (horse manure at a rate of 20 ton/ha, NPK 600 kg/ha with two times application and the use of GA3). The implication of this research showed the TSS production technology innovation that is being developed today is very feasible to produce high quality TSS in support shallot seed