Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Penampilan Fenotipik Tujuh Spesies Jamur Kuping (Auricularia spp.) di Dataran Tinggi Lembang
ABSTRAK. Jamur kuping (Auricularia spp.) merupakan salah satu jamur edibel komersial yang merupakan komoditas sayuran bernilai ekonomi tinggi serta merupakan sumber devisa. Tujuh spesies jamur kuping berasal dari berbagai tempat dievaluasi hasil dan kualitasnya di dataran tinggi Lembang. Penelitian dilakukan di laboratorium dan di rumah jamur (kumbung) sejak bulan Juli-Desember 2004, menggunakan rancangan acak kelompok yang diulang 3 kali. Hasil evaluasi memperlihatkan bahwa Auricularia sp.-7 dari BP2APH-Kaliurang memiliki produktivitas lebih tinggi dibandingkan 6 spesies jamur kuping lainnya.ABSTRACT. Djuariah, D. and E. Sumiati. 2008. Phenotypic Performance of Seven Species Auricularia spp. in Lembang Highland. Auricularia spp. is one of edible commercial mushroom which have high economic value and as a source of foreign exchange for the government. Seven species of Auricularia spp. were evaluated for their yield and quality in Lembang highland. Research was conducted in the laboratory and mushrooms house from July until December 2004, using completely randomize block design with 3 replications. The results showed that Auricularia sp.-7 from BP2APH-Kaliurang Yogyakarta significantly gave the highest yield among 6 species
Bioefikasi Beberapa Isolat Nematoda Entomopatogenik Steinernema spp. terhadap Spodoptera litura Fabricius pada Tanaman Cabai di Rumah Kaca
ABSTRAK. Percobaan dilakukan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran dari bulan Agustus sampai Oktober 2003. Percobaan ini bertujuan mengetahui isolat dan tingkat kepadatan populasi entomopatogen yang efektif terhadap larva Spodoptera litura pada tanaman cabai. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 21 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu 5 macam isolat Steinernema spp. dari Jombang, Lembang, Medan, Solo, dan Yogyakarta. Masing-masing isolat dicoba dengan 4 tingkat kepadatan populasi nematoda, yaitu (200, 400, 800, dan 1.600 JI/ml serta kontrol. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan infektivitas antara Steinernema spp. isolat Jombang, Lembang, Medan, Solo, dan Yogyakarta. Isolat Lembang merupakan isolat yang paling infektif yang menyebabkan mortalitas tertinggi terhadap S. litura pada kepadatan 200, 400, dan 800 JI/ml, masing-masing sebesar 23,9, 51,1, dan 78,3% pada 120 jam setelah aplikasi dan LT50 yang terpendek yaitu 33,7565 jam setelah aplikasi.ABSTRACT. Uhan, T.S. 2008. Bioefficacy of Some Strains of Entomopathogenic Nematode Steinernema spp. Against Spodoptera litura Fabricius on Red Chili in the Greenhouse. The objective of this research was to study the infection capacity of entomopathogenic nematodes Steinernema spp. strains Jombang, Lembang, Medan, Solo, and Yogyakarta on Spodoptera litura on red chili in the greenhouse. The experiment was carried out in the Laboratory of Pest and in the Greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute at Lembang, Bandung District, from August-October 2003. The experiment was arranged in a randomized block design with 21 treatments and 4 replications. The treatments were 5 strains of Steinernema spp. (strain Jombang, Lembang, Medan, Solo, and Yogyakarta) with 4 level of nematode population (200, 400, 800, 1.600 JI/ml), and control. The results showed that there were differences in the capacity of infection among the strain of Steinernema spp. tested. Strain Lembang was the most infectious, which caused the highest mortality on S. litura. Population of Steinernema spp. at 200, 400, and 800 JI/ml caused mortality of S. litura up to 23.9; 51.1; and 78.3% respectively, at 120 hours after application. The LT50 of strain Lembang was also the shortest (33.7565 hours after application)
Keefektifan Nematoda Entomopatogen Steinernema carpocapsae (Rhabditida:Steinernematidae) Isolat Lembang terhadap Mortalitas Larva Agrotis ipsilon Hufn. (Lepidoptera:Noctuidae) pada Tanaman Kubis di Rumah Kaca
ABSTRAK. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keefektifan nematoda entomopatogen Steinernema carpocapsae isolat Lembang pada mortalitas larva Agrotis ipsilon pada tanaman kubis di rumah kaca. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Hama dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Kabupaten Bandung. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah 5 macam perlakuan tingkat kepadatan populasi nematoda S. carpocapsae (325; 650; 1.300; 2.600; dan 5.200 JI/ml), pestisida sipermetrin 0,5 ml/l, dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nematoda entomopatogen S. carpocapsae isolat Lembang mulai tingkat kepadatan 1.300 JI/ml efektif dalam mengendalikan larva A. ipsilon mengakibatlan mortalitas sebesar 56,11% dan mengurangi tingkat kerusakan tanaman kubis sebesar 47,50% pada 96 jam setelah aplikasi.ABSTRACT. Uhan, T.S. 2008. Effectiveness of Entomopathogenic Nematodes Steinernema carpocapsae (Rhabditida: Steinernematidae) Lembang Strain Against the Mortality of Agrotis ipsilon Hufn. (Lepidoptera: Noctuidae) on Cabbage in the Greenhouse. The purpose of this experiment was to study the effectiveness of entomopathogenic nematodes S. carpocapsae strain Lembang on the mortality of Agrotis ipsilon Hufn. larvae on cabbage in the greenhouse. The experiment was carried out in the Laboratory of Entomology and the Greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute, in Lembang, District of Bandung. The experiment was arranged in a randomized block design with 7 treatments and 4 replications. The treatments were 5 level of entomopathogenic nematodes population density, i.e. 325, 650, 1,300, 2,600, and 5,200 JI/ml, pesticide sipermethrine 0.5 ml/l, and control. The results of this research showed that entomopathogenic nematodes with population density of 1,300 JI/ml was effective to control A. ipsilon larvae, caused 56.11 % mortality and reduced damage up to 47.50% at 96 hours after treatment
Tingkat Efisiensi Usahatani Bunga Potong Mawar dalam Pengembangan Agribisnis di Indonesia
ABSTRAK. Penelitian efisiensi usahatani bunga potong mawar telah dilakukan di Kecamatan Parompong (Lembang) dan Kecamatan Cipanas (Cianjur) Jawa Barat dari bulan Juli-Desember 2003. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi potensi dan kelemahan dari sistem budidaya bunga potong mawar dengan dan tanpa naungan dan mencari alternatif perbaikan yang dapat meningkatkan efisiensi dan pendapatan petani. Data primer diperoleh melalui wawancara terstruktur dengan petani dan pedagang. Analisis data kualitatif dilakukan secara deskriptif, sedangkan analisis biaya dan pendapatan dilakukan dengan metode analisis finansial statik. Analisis kekuatan dan kelemahan dari sistem usahatani yang ada menghasilkan alternatif pengembangan usahatani bunga potong mawar. Permasalahan utama usahatani bunga potong mawar adalah kurang efisiennya penggunaan pestisida, tenaga kerja intensif, dan biaya pemasaran tinggi. Produktivitas bunga potong mawar di tingkat petani hanya berkisar (2-10) tangkai/m2, sedangkan potensinya dapat 18 tangkai/m2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani bunga potong mawar cukup menguntungkan dengan rerata pendapatan bersih petani dengan sistem naungan sebesar Rp. 125 juta/ha, sedangkan tanpa naungan menghasilkan Rp. 109 juta/ha. Kenyataan menunjukkan bahwa kedua tingkat efisiensi usahatani kedua sistem budidaya relatif masih rendah, yaitu B/C = 0,90 (sistem naungan) dan B/C = 0,91 (sistem tanpa naungan). Kesimpulan menunjukkan bahwa pada usahatani dengan dan tanpa sistem naungan, efisiensi perlu ditingkatkan terutama untuk menekan biaya penggunaan pestisida, tenaga kerja, irigasi, dan biaya pemasaran. Pada sistem naungan, biaya konstruksi naungan dan kebergantungan bibit impor juga perlu diperhatikan. Secara umum dapat dikatakan bahwa usahatani bunga potong mawar yang efisien dan menguntungkan memenuhi kriteria produksi dan frekuensi panen tinggi, produk berkualitas dengan nilai tinggi sesuai permintaan pasar, banyak alternatif varietas, biaya produksi rendah, dan serangan hama/penyakit rendah.ABSTRACT. Supriadi, H., Nurmalinda, and H. Ridwan. 2008. Efficiency Rate of Rose Farming System in Indonesian Floriculture Agribusiness Development. The research on rose farming system efficiency was conducted in the region of Parompong (Lembang) and the region of Cipanas (Cianjur) West Java, from July to December 2003. The purpose of this research was to evaluate the strengths and weakness both of shading and unshading system of rose cut flower cultivation and to find out the alternative farming system for improving the production efficiency and farmer’s income. Primary data were collected by structural interviews with the farmers and traders. Qualitative data analysis was conducted descriptively, while cost and income analysis was done using static financial method. The strengths and weakness analysis of existing farming system would give the opportunity in improving the farming system.The main problems of rose cut flower agribusiness were unefficiency of pesticides application, labour intensif, and high cost of marketing. The productivity of rose cut flowers on farm level was (2-10) stem/m2, while potential productivity was up to 18 stem/m2. The average net income of farmers by shading system was Rp. 125 million/ha and without shading was Rp. 109 million/ha, with B/C of ratio of 0.90 (shading system) and 0.91 (without shading system). The conclusion showed that both of with and without shading systems, improvement of efficiency was needed especially on pesticides application, labour used, and marketing cost. Especially for shading system, efficiency also needed to minimize the cost of shading construction and import seedling. Generally, the rose farming system would be profitable and efficient with the criteria of high productivity, high quality, and frequent harvest of flower, market oriented, many alternative of varieties, low production cost, and low pest and diseases investation
Pengaruh Rachis Pisang terhadap Perkembangan Penyakit Embun Tepung dan Bercak Hitam pada Daun Mawar
ABSTRAK. Embun tepung dan bercak hitam merupakan penyakit utama pada tanaman mawar. Dilaporkan bahwa ekstrak rachis pisang dapat mengendalikan penyakit. Untuk mendapatkan cara pengendalian penyakit yang mudah diaplikasikan dan aman terhadap lingkungan, maka ekstrak tersebut berpotensi untuk dikembangkan penggunaannya. Percobaan ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak rachis pisang terhadap intensitas penyakit embun tepung dan bercak hitam pada tanaman mawar var. Black Magic di lapangan. Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak rachis dengan konsentrasi 10% sudah dapat mengendalikan embun tepung, tetapi tidak mempengaruhi intensitas penyakit bercak hitam.ABSTRACT. Djatnika, I. 2008. The Effect of Banana Rachis on Development of Powdery Mildew and Black Spot on Rose Plant. Powdery mildew and black leaf spot are the important diseases on rose plant. Banana rachis was reported to be able to reduce some plant diseases and has the potency to be developed for disease control method which is easy to apply and environmentally friendly. The objective of the research was to find out the effect of banana rachis extract to control powdery mildew and black spot on rose plant var. Black Magic. The results indicated that 10% of banana rachis extract was able to control the powdery mildew, but not on the black spot disease intensity
Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Tanaman Salak
ABSTRAK. Salak merupakan salah satu jenis buah tropika asli Indonesia yang digemari masyarakat karena rasa daging buahnya khas. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan karakteristik unggul beberapa aksesi tanaman salak yang digunakan sebagai tetua terpilih dalam perakitan varietas unggul baru. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Sumani, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, dari bulan November 2006 sampai Juni 2007 menggunakan rancangan acak kelompok dengan 8 aksesi salak sebagai perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua tanaman menghasilkan bunga sempurna mandul. Tanaman salak indigenous Sumatera (SSDM-05 dan SSDP-06) menghasilkan buah dengan rasa manis kelat. Tidak ada aksesi tanaman yang menghasilkan buah ukuran besar (>61 g), sedangkan 4 nomor aksesi (SNJK-01, SPHK-03, SPHP-04, dan SSMT-07) menghasilkan buah dengan rasa manis. Dua aksesi (SPHP-04 dan SSMT-07) menghasilkan buah yang bersifat masir. Aksesi SPHP-04 berpeluang dikembangkan sebagai tetua terpilih, karena menghasilkan buah/dompol paling banyak (22 buah), rasa manis (PTT 16,77o Brix), bersifat masir, dan warna daging buah krem menarik.ABSTRACT. Sudjijo. 2008. Characterization and Evaluation of Several Accessions of Salacca edulis. Salacca is one of tropical fruits that was native of Indonesia and preferred by consumers due to the specific fruit flesh taste. The objective of the research was to obtain superior characteristics of salacca accessions potentially for parent lines in breeding programe of new superior varieties. The research was conducted at the Sumani Experimental Garden of Indonesian Tropical Fruits Research Institute from November 2006 to June 2007 using randomized block design with 8 salacca accessions as the treatments and 3 replications. The results showed that all the plants produced sterile hermaphrodite flowers. Indigenous accessions from Sumatera (SSDM-01 and SSDP-06) produced fruit with sweet and astringent, while accessions (SNJK-01, SPHK-03, SPHP-04, and SSMT-07) produced sweet fruit. No accessions produced big size of fruits (>61 g). Friable fruit texture was obtained from SPHP-04 and SSMT-07. Meanwhile SPHK-04 accession has the potency to be used as parent lines because it produced the highest number of fruits per cluster (22 fruits), with TSS 16.77o Brix, friable fruit texture, and creamy color fruit flesh
Indeks Keberlanjutan Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Jeruk Berkelanjutan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat keberlanjutan pengembangan Kawasan Sentra Produksi Jeruk Berkelanjutan (KSPJB) di Kabupaten Agam melalui 5 dimensi. Faktor dominan terhadap keberlanjutan diidentifikasi untuk memformulasikan rekomendasi kebijakan pengembangan KSPJB. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara keseluruhan pengembangan KSPJB di Kabupaten Agam termasuk dalam kriteria tidak berkelanjutan dengan indeks keberlanjutan (IKB) sebesar 49,56%, di antara skala keberlanjutan 0 (buruk) dan 100% (baik). Besarnya IKB masing-masing dimensi berturut-turut ialah dimensi ekologi dan sosial sebesar 51,29 dan 53,63% termasuk dalam kriteria berkelanjutan. Sedangkan dimensi ekonomi, teknologi, dan kelembagaan berturut-turut sebesar 48,82, 39,53, dan 35,21% termasuk dalam kriteria tidak berkelanjutan. Terdapat 14 faktor dominan/sensitif terhadap keberlanjutan KSPJB. Empat skenario perbaikan IKB dilakukan untuk memformulasi rekomendasi kebijakan pengembangan KSPJB. Rekomendasi kebijakan berdasarkan pada Skenario IV ialah skala prioritas jangka pendek melalui perbaikan dimensi kelembagaan, jangka menengah melalui perbaikan dimensi ekologi dan sosial, serta jangka panjang melalui perbaikan dimensi ekonomi dan teknologi.ABSTRACT. Iswari, D., S.H. Sutjahjo, R. Poerwanto, A.K. Seta, and A. Bey. 2008. Sustainability Index of Development of Citrus Production Center at Agam District, West Sumatera. The aim of the research was to elucidate sustainability index of citrus development at 5 dimensions. The key factors that affect sustainability were determined in order to formulate the policy recommendation for developing sustainable citrus production center. The results of the research indicated that the development of citrus production center in Agam District was determined as unsustainable. The sustainability index was 49.56%, within range of 0 (bad) to 100% (good). The sustainability index of ecology and social dimension were 51.29 and 51.63%, respectively which were determined as sustainable, while sustainability index of economic, technology, and institution dimensions were 48.02, 39.52, and 35.21% respectively which were determined as unsustainable. There were 14 important factors affected sustainability. Four scenarios were built to develop policy recommendations of sustainable development of citrus production center. The recommendation was based on scenario IV that determined as short term by improving institutions dimension, medium term by improving ecology and social dimensions, and long term by improving economic and technology dimensions
Uji Kepekaan Antiserum Poliklonal untuk Deteksi Cepat CMV dengan Metode ELISA Tidak Langsung pada Tanaman Anthurium
ABSTRAK. Virus mosaik ketimun (CMV) merupakan salah satu patogen penting pada berbagai tanaman hortikultura, termasuk tanaman anthurium. Untuk mengetahui secara dini infeksi virus pada tanaman, maka perlu dikembangkan metode deteksi cepat. Salah satu metode serologi yang paling banyak digunakan dewasa ini untuk deteksi virus secara cepat adalah ELISA. Penelitian ini bertujuan mengetahui konsentrasi optimal dari antiserum CMV untuk deteksi cepat pada tanaman anthurium. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Virologi, Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung (1.100 m dpl.), dari bulan April sampai Juli 2005. Antiserum diproduksi dengan cara penyuntikan virus murni CMV secara bertahap pada kelinci dengan konsentrasi setiap penyuntikan sebesar 1 mg/ml yang dilakukan pada penelitian sebelumnya. Konsentrasi antiserum diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 280 nm. Pengujian kepekaan antiserum terhadap antigen dilakukan dengan metode ELISA tidak langsung. Hasil pengujian menunjukkan konsentrasi antiserum CMV dan pengenceran sampel yang optimal untuk deteksi CMV pada tanaman anthurium yang terinfeksi adalah masing-masing sebesar 1/1.000 dan 1/5, 1/1.000 dan 1/10.ABSTRACT. Rahardjo, I.B., E. Diningsih, and Y. Sulyo. 2008. Sensitivity Test of Cucumber Mosaic Virus Polyclonal Antisera for Rapid Detection of CMV with Indirect ELISA on Anthurium. Cucumber mosaic virus is one of the major pathogens on some horticulture crops including Anthurium. A rapid detection method should be developed to support the evaluation of initial infection of the virus in crops. A serological method commonly used for rapid detection of plant viruses is ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay). The objective of the experiment was to determine the optimum concentration of CMV antiserum for rapid detection on anthurium. The experiment was done in Virological Laboratory of Indonesia Ornament Crops Research Institute in Segunung (1.100 m asl.), from April to July 2005. A polyclonal CMV antiserum had been produced by injections of purified CMV into a rabbit with the concentration of 1 mg/ml each injection from previous research. Antiserum concentration was measured with the spectrophotometer at 280 nm wave length. The sensitivity tests of the antiserum was carried out with indirect ELISA method. The results showed that the optimum concentration of the antiserum and the optimum sample dilution for detection of CMV infected anthurium were 1/1,000 and 1/5, 1/1,000 and 1/10 respectively
Pengaruh Cara Tanam dan Metode Pinching terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bunga Potong Anyelir
ABSTRAK. Anyelir merupakan salah satu tanaman penghasil bunga potong yang sangat penting dalam agribisnis florikultura di Indonesia. Peningkatan permintaan terhadap bunga potong ini menuntut perbaikan kualitas proses produksi yang menyangkut aplikasi teknik budidaya yang diharapkan meningkatkan produktivitas dan efisiensi pada skala usahatani. Perbaikan teknik budidaya ini antara lain perbaikan cara tanam (tata letak dan kerapatan tanaman) dan metode pinching. Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh tata letak dan kerapatan tanaman serta metode pinching terhadap pertumbuhan dan produksi bunga potong anyelir. Penelitian dilakukan di bawah kondisi rumah plastik di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung dari bulan September 2004 hingga Agustus 2005. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola split-split plot dengan 3 ulangan. Petak utama adalah tata letak tanaman, yaitu zig-zag dan lurus dalam barisan. Anak petak adalah kerapatan tanaman, yaitu 25 dan 36 tanaman/m2. Sedangkan yang bertindak sebagai anak-anak petak adalah metode pinching, yaitu tunggal, 1½, dan piching ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata letak tanaman dalam bedengan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi bunga anyelir. Tunas lateral lebih banyak tumbuh pada kerapatan tanaman yang lebih renggang. Namun demikian jumlah tanaman per satuan luas lebih banyak pada kerapatan tanaman yang lebih padat berkontribusi lebih nyata terhadap total produksi bunga. Perlakuan metode pinching yang diterapkan hanya berpengaruh pada jumlah tunas lateral dan panjang tangkai bunga yang dihasilkan. Metode pinching ganda memberikan jumlah tunas lateral dan panjang tangkai yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan metode 1½ dan pinching tunggal, namun tidak nyata pada parameter pertumbuhan dan parameter reproduktif yang lain.ABSTRACT. Wuryaningsih, S., K. Budiarto, and Suhardi. 2008. The Effects of Cultural Practices and Pinching Methods on the Growth and Flower Production on Carnation. Carnation is one of the important cut flowers in Indonesian floriculture trade. The demand of this commodity has increased significantly up to this moment. Improvement of cultural practices is needed to make the business more efficient and profitable. The research was conducted to find out the effect of plant arrangement, plant density, and method of pinching on growth and flower production of carnation. The experiment was carried out under plastichouse conditions at Segunung Research Station, Indonesian Ornamental Crops Research Institute from September 2004 to August 2005. A split-split plot randomized completely block design with 3 replications was used. The main plot was plant arrangements, namely zig-zag and straight in row pattern. The subplot was planting densities of 25 and 36 plants/m2, while the sub-subplot was pinching methods, namely single, 1½, and double pinching. The results of the experiment showed that the growth and flower production of carnation were not influenced by plant arrangement. Number of axillary buds was increased with less planting density. However, due to the higher number of plants per unit area, the number of harvested flowers was higher in the treatment of 36 plants/m2. Compared to 1½ and single pinching methods, double pinching only gave higher number of axillary buds and stalk length, but was not significant affect other growth and reproductive parameters
Pengaruh Varietas dan Sistem Tanam Cabai Merah terhadap Penekanan Populasi Hama Kutu Kebul
ABSTRAK. Kutu kebul, Bemisia tabaci merupakan hama penting pada tanaman cabai merah di Indonesia. Penggunaan varietas tahan dan sistem tanam merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi serangan B. tabaci. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh berbagai varietas cabai merah dan sistem tanam terhadap serangan B. tabaci pada tanaman cabai merah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran dari bulan Juli 2004-Maret 2005. Rancangan penelitian yang digunakan adalah petak terpisah dengan 4 ulangan. Sebagai plot utama adalah varietas cabai merah (Taro, TM-99, Hot Beauty, Hot Chili, Keriting Lembang, dan Tanjung-2). Sebagai anak petak adalah sistem tanam (monokutur, tumpangsari cabai dan kubis, dan tumpangsari cabai dan tomat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas cabai merah yang paling disukai oleh B. tabaci adalah varietas Taro dan yang kurang disukai adalah varietas Hot Chili. Tumpangsari antara cabai merah dengan kubis dan tumpangsari antara cabai merah dengan tomat ternyata dapat menekan populasi B. tabaci, masing-masing sebesar 60,72 dan 25,24% dibandingkan dengan sistem tanam monokultur. Pada varietas tanaman yang disukai (Taro) kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh B. tabaci dapat mencapai 29,51% pada sistem tumpangsari, sedangkan pada sistem tanam monokultur dapat mencapai 30,18%. Hasil panen monokultur lebih tinggi dibandingkan dengan tumpangsari. Hasil panen tertinggi didapat oleh varietas Hot Chili (16,86 t/ha) dan yang terendah adalah Keriting Lembang (6,35 t/ha). Varietas Hot Chili mempunyai produksi tertinggi dibandingkan dengan varietas lainnya dan merupakan varietas terbaik bila ditumpangsarikan dengan kubis ataupun tomat dan kurang disukai oleh B. tabaci.ABSTRACT. Setiawati, W., B.K. Udiarto, and T.A. Soetiarso. 2008 Effect of Varieties and Cropping System Against the Tobacco Whitefly on Hot Pepper. The ect of Varieties and Cropping System Against the Tobacco Whitefly on Hot Pepper. The tobacco whitefly, B. tabaci is an important insect affecting hot pepper production in Indonesia. The use of resistant varieties and cropping system are alternative to minimize this pest. The studies was designed to find out the difference in performance among 6 selected hot pepper varieties against B. tabaci and to assess the effect of cropping system against B. tabaci population. This research purposes were to examine fundamental component of any IPM program, the interaction between the crop cultivar, the pest, and the control strategies. The study was conducted at the field of Indonesian Vegetable Research Institute from July 2004 to March 2005. Split plot design with 4 replications was used in this experiment. Varieties was used as a main plot, while cropping system was used as a subplot. The results showed that Taro variety was the most preferred by B. tabaci, while Hot Chili was the least preferred. Multiple cropping between hot pepper-cabbage, and hot pepper-tomatoes can reduced population of B. tabaci on hot pepper at rate of 60.72 and 25,24% respectively compare to monoculture. Damage caused by B. tabaci was the highest on Taro variety, i.e. 29.51% on multiple cropping and 30.18% on monoculture. The yield was higher in monoculture than multiple cropping. The highest yield was obtained from Hot Chili (16. 86 t/ha) while Keriting Lembang gave the lowest yield (6.35 t/ha). The use of tolerant varieties and adoption of proper cultural practices can reduce population of B. tabaci. Hot Chili variety also gave the highest yield in the multiple cropping, either with tomato or cabbge