Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Pola Sebaran Vertikal Thrips parvispinus Karny (Thysanoptera: Thripidae) pada Tanaman Paprika

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian tentang pola sebaran vertikal Thrips parvispinus Karny pada tanaman paprika dilaksanakan dari bulan Maret - Desember 2003 di Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang (1.250 m dpl). Tujuannya adalah untuk mengetahui bagian tanaman paprika yang paling disukai oleh T. parvispinus. Bagian tanaman yang diuji meliputi bunga, daun pucuk, daun atas, daun tengah, dan daun bawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nimfa T. parvispinus paling banyak dijumpai pada daun atas, sedangkan imago pada daun pucuk. Dengan demikian, daun atas dan daun pucuk dapat dipilih sebagai unit contoh dalam kegiatan pengamatan trips.ABSTRACT. Prabaningrum, L. and T.K. Moekasan. 2008. Vertical Distribution of Thrips parvispinus Karny (Thysanoptera: Thripidae) on Sweet Pepper (Capsicum annuum var. grossum). A Study on vertical distribution of T. parvispinus on sweet pepper was conducted from March to December 2003 at the Indonesian Vegetables Research Institute, Lembang (1,250 m asl.). The aim of the study was to determine which part of the plant that most prefered by T. parvispinus. The plant parts tested were flower, shoot, upper leaf, middle leaf, and lower leaf. The results indicated that the highest population of nymph was found on upper leaf and the highest population of imago was found on shoot. Therefore, upper leaf and shoot can be chosen as sampling units in monitoring of thrips

    Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat Kultivar Intan dan Mutiara pada Berbagai Jenis Tanah

    Get PDF
    ABSTRAK. Salah satu usaha peningkatan produksi tomat adalah dengan mencari kultivar unggul yang cocok pada berbagai lokasi dengan jenis tanah yang berbeda. Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Wera, Subang dari bulan September sampai dengan Desember 2005, pada ketinggian 100 m dpl. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan pola faktorial, terdiri dari 2 faktor (kultivar Intan dan Mutiara) dan 4 jenis tanah (Andosol Lembang, Latosol Jalancagak, Latosol Subang, dan Aluvial Sukamandi) di mana setiap perlakuan diulang 4 kali. Tujuan percobaan adalah, mengetahui pertumbuhan kultivar Intan dan Mutiara yang cocok dan berproduksi baik pada jenis tanah tertentu. Hasil percobaan menunjukkan adanya interaksi antara kultivar dan jenis tanah terhadap bobot buah. Kultivar tomat berpengaruh nyata terhadap perbedaan tinggi tanaman, jumlah cabang, diameter batang, jumlah bunga, dan buah. Kultivar Mutiara memperlihatkan pertumbuhan vegetatif dan hasil yang lebih baik. Hasil tertinggi tomat Mutiara pada jenis tanah Andosol Lembang yaitu sekitar 1,8 kg/tanaman.ABSTRACT. Sutapradja, H. 2008. The Growth and Yield of Intan and Mutiara Tomato Cultivar on Several Type of Soil. One of the effort to increase tomato production is the use of superior cultivar which is adaptive to various locations with different types of soil. The experiment was conducted at Wera, Subang Experimental Garden from September until December 2005, with the elevation 100 m asl. The experiment used a factorial completely randomized design, consisting of 2 factors, i.e. the cultivars (Intan and Mutiara) and soil types (Andosol Lembang, Latosol Jalancagak, Latosol Subang, and Aluvial Sukamandi), with 4 replications. The experiment was conducted to determine the tomato cultivars which gave highest yield for the certain soil type. The results showed that there was interaction between cultivar and soil type on fruit weight per plant. While cultivar was significantly affect plant height, branch number, stem diameter, cluster number, flower number, fruit weight, and fruit number per plant. Mutiara cultivar gave better growth and yield compare to Intan cultivar. The highest yield of Mutiara cultivar (1,8 kg/plant) was achieved by Lembang Andosol soil type

    Pengaruh Beberapa Ekstrak Tanaman terhadap Bercak Hitam dan Embun Tepung pada Tanaman Mawar Varietas Pertiwi

    Get PDF
    ABSTRAK. Kendala pada budidaya tanaman mawar di antaranya adalah penyakit tanaman, seperti penyakit bercak hitam dan embun tepung.  Salah satu alternatif pengendalian penyakit tanaman adalah penggunaan fungisida botani. Tujuan penelitian adalah mengetahui efektivitas ekstrak tanaman terhadap bercak hitam (Marssonina rosae) dan embun tepung (Oidium sp.) pada tanaman mawar. Percobaan dilaksanakan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung (1.100 m dpl.), dari bulan April 2002 sampai Maret 2003. Perlakuan penelitian ini adalah kontrol (tanpa perlakuan), kencur (Kaempferia galanga), arang sekam, temu lawak (Curcuma xanthorriza), nyiri (Xylocarpus granatum), nimba (Azadirachta indica), kunyit (Curcuma domestica), temu putih (Curcuma zedoaria), temu hitam (Curcuma aeruginosa), jahe (Zingiber officinale), pinang (Areca catechu), bratawali (Tinospora tuberculata), teh (Thea sinensis), pinus (Pinus merkusii), onje (Phaeomeria speciosa), dan lengkuas (Languas galanga). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dan diulang 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak tanaman yang efektif terhadap bercak hitam sebelum terjadinya infeksi adalah arang sekam, daun teh, jahe, kencur, temu lawak, daun nyiri, daun nimba, dan temu hitam. Ekstrak tanaman yang efektif dapat menurunkan intensitas serangan embun tepung adalah daun nimba, temu hitam, jahe, onje, teh, kencur, dan lengkuas. Perlu ada uji lanjut efikasi ekstrak tanaman terhadap bercak hitam dan embun tepung pada tanaman mawar.ABSTRACT. Rahardjo, I.B. and Suhardi. 2008 The Effect of Several Plant Extracts on Black Spot and Powdery Mildew of Rose Pertiwi Variety. One of the constraints on rose plant cultivation was disease infection, especially black spot and powdery mildew. The alternatives to control the diseases was the use of botanic fungicide. The objective of the experiment was to determine the effffectiveness of plant extracts to control black spot (Marssonina rosae) and powdery mildew (Oidium sp.) on rose. The experiment was conducted in the Greenhouse of Indonesian Ornamental Plant Research Institute (1,100 m asl.), from April 2002 to March 2003. The treatments were control (no treatment), galingale (Kaempferia galanga), rice coal, wild ginger (Curcuma xanthorriza), Xylocarpus granatum, neem (Azadirachta indica), turmeric (Curcuma domestica), Curcuma zedoaria, Curcuma aeruginosa, ginger (Zingiber officinale), areca nut (Areca catechu), Tinospora tuberculata, tea (Thea sinensis), pinus (Pinus merkusii), torch ginger (Phaeomeria speciosa), and galanga (Languas galanga). A complete randomized design with 5 replications were used. The results of the experiment showed that plant extracts which effffective to control black spot before infection occured were rice husk charcoal, tea leaves, ginger, galingale, wild ginger, Xylocarpus granatum, neem leaves, and Curcuma aeruginosa. While plant extracts which effffectively decreased powdery mildew intensity were neem leaves, Curcuma aeruginosa, ginger, torch ginger, tea, galingale, and galanga. Futher study is needed to verify the efficacy of plant extract to control black spot and powdery mildew on roses

    Efikasi Pestisida Biorasional untuk Mengendalikan Thrips palmi Karny pada Tanaman Kentang

    Get PDF
    ABSTRAK. Dalam upaya untuk mendapatkan pestisida alternatif, percobaan lapangan telah dikerjakan di Kebun Percobaan Margahayu (elevasi 1.250 m dpl), Lembang, Jawa Barat dari bulan Oktober 2001 sampai Januari 2002. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok, 12 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari pestisida biorasional Phrogonal 866, 666, 466, Phronical 826, 626, 426, 846, 646, 446, Agonal 866, dan pestisida sintetis Deltametrin 2.5 EC. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semua pestisida biorasional sama efektifnya dibandingkan dengan Deltametrin 2.5 EC konsentrasi 0,25%. Hasil penelitian ini paralel dengan hasil-hasil penelitian tentang pestisida biorasional lainnya, dengan sangat kuat memberi indikasi bahwa pestisida biorasional yang berasal dari tumbuhan akan mampu menggantikan posisi pestisida sintetik dalam mengendalikan T. palmi untuk mengurangi penggunaan pestisida sintetik pada budidaya kentang.ABSTRACT. Suryaningsih, E. 2008 . The Efficacy of Biorational Pesticides to Control ontrol Thrips palmi Karny on Potato Plant . In order to investigate an alternative pesticide, namely biorational pesticides, field experiment was conducted at Margahayu Research Station (elevation 1,250 m asl), Lembang, West Java, from October 2001 until January 2002. The treatments was laid in a randomized block design, with 3 replications. The treatments were biorational pesticides Phrogonal 866, 666, 466, Phronical 826, 626, 426, 846, 646, 446, Agonal 866, and syntetic pesticides Deltamethrin 2.5 EC. The results of the experiment showed that all of the biorationals tested were found to be as effective as Deltamethrin 2.5 EC (0.25%) in controlling T. palmi on potato. However, biorationals consisting A. indica, T. candida, and N. tabacum in higher portion gave higher efficacy compared with synthetic insecticide Deltamethrin 2.5 EC. The results of this experiment were in line with the results of other biorational pesticide experiments, which was strongly gave indication that biorational pesticides derived from plants would be able to replace synthetic pesticides in controlling T. palmi, and to reduce the quantity of synthetic pesticide application on potato cultivation

    Kemangkusan Nematoda Entomopatogen Steinernema carpocapsae terhadap Hama Penggerek Umbi/Daun (Phthorimaea operculella Zell.) Kentang

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari patogenisitas nematoda Steinernema carpocapsae terhadap larva Phthorimaea operculella di rumah kaca. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, Kabupaten Bandung mulai Agustus 2003-Agustus 2004. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Pengujian dilakukan menggunakan metode kertas saring dan penyemprotan. Perlakuan yang diuji yaitu 4 macam tingkat kepadatan populasi nematoda S. carpocapsae (200, 400, 800, dan 1.600 JI/ml), insektisida pembanding, dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode kertas saring dengan kepadatan S. carpocapsae 800 JI/ml pada 144 jam setelah aplikasi, efektif dalam mengendalikan larva P. operculella pada tanaman kentang di rumah kaca dengan mortalitas 100%, sedangkan pada metode penyemprotan dengan kepadatan S. carpocapsae 800 dan 1.600 JI/ml pada 144 jam setelah aplikasi dengan mortalitas 97,5 dan 100% berturut-turut.ABSTRACT. 2008 Effctivit Uhan, T.S. 2008. The Effectivity of Steinernema carpocapsae Against Pototatoto Tuber Mototh (Phthorimaea operculella Zell.).The objective of this research was to find out the pathogenicity of Steinernema carpocapsae nematodes Lembang strains on mortality of Phthorimaea operculella on potato plant in the greenhouse. The experiment was carried out in the Laboratory of Pest and in the Greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, Bandung, at 1,250 m asl, from August 2003 to August 2004. The experiment was arranged in a randomized block design with 6 treatments and 4 replications. Testing was done by using filter paper method and spraying method. The treatments were 4 level density of S. carpocapsae nematodes (200, 400, 800, and 1,600 JI/ml), one insecticide as comparison, and control. The results showed that filter paper method with density of S. carpocapsae 800 JI/ml at 144 hours after application was effective to control larvae of P. operculella on potato plant in a greenhouse with mortality of 100%, while spraying method with density of S. carpocapsae 800 and 1,600 JI/ml at 144 hours after application caused mortality 97.5% and 100% of P. operculella, respectivel

    Sifat Inovasi dan Aplikasi Teknologi Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat dalam Pengembangan Agribisnis Jeruk di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat

    Get PDF
    Untuk meningkatkan produksi dan mutu buah jeruk di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura telah melaksanakan program penelitian dan pengkajian penerapan pengelolaan terpadu kebun jeruk sehat (PTKJS) di beberapa provinsi sentra produksi jeruk. Pengelolaan terpadu kebun jeruk sehat meliputi (a) penggunaan bibit jeruk berlabel bebas penyakit, (b) pengendalian OPT terutama vektor penyakit CVPD, (c) sanitasi kebun yang baik, (d) pemeliharaan tanaman secara optimal, dan (e) konsolidasi pengelolaan kebun. Tujuan penelitian adalah mengetahui sifat inovasi teknologi PTKJS yang berpengaruh terhadap adopsi inovasi oleh petani. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, dari bulan April sampai Desember 2006, menggunakan metode survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua inovasi teknologi PTKJS diadopsi oleh petani jeruk di Kabupaten Sambas. Inovasi teknologi yang tidak diadopsi oleh petani memiliki sifat inovasi yang berkategori nilai rendah. Inovasi teknologi tersebut adalah penggunaan perangkap kuning, penyiraman tanah dengan insektisida, penggunaan sex feromon, pemberongsongan, penyulaman dengan bibit berlabel, pemangkasan arsitektur, penyiraman tanaman dan pemanenan secara benar, serta konsolidasi pengelolaan kebun. Inovasi teknologi PTKJS yang sangat cepat diadopsi oleh petani adalah penyaputan batang menggunakan bubur (belerang) Kalifornia. Faktor nonteknis yang mempengaruhi adopsi teknologi PTKJS adalah kurang dukungan benih bermutu dari instansi berwenang, kurang dukungan penyediaan input produksi, khususnya belerang, rendahnya harga jual, dan kurangnya modal finansial petani.ABSTRACT. Ridwan, H.K., A. Ruswandi, Winarno, A. Muharam, and Hardiyanto. 2008. I���v�����Innovation Characteristics and Technologies Application of Integrated Crop Management for Healthy Citrus Orchid (ICMHCO) on the Development of Citrus Agribusiness in Sambas District, West Kalimantan. To increase production and quality of citrus in Indonesia, the Indonesian Center for Horticulture Research and Development has conducted research and assessment program of ICMHCO in several provinces. Integrated Crop Management for Healthy Citrus Orchid consists of (a) labelled and free diseases planting materials use, (b) pests and diseases control especially for the CVPD vector, (c) good field sanitation, (d) optimum cultural practices, and (e) field management consolidation. The objectives of this research was to evaluate characteristics of ICMHCO innovatory technologies that affect the adoption of the innovations by the farmers. The research was conducted in Sambas District, West Kalimantan, from April to December 2006, using survey method. The results showed that only a part of the innovatory technologies of ICMHCO were adopted by the citrus farmers in Sambas District. The non-adopted technologies generally have low value of technology characteristics. The technologies were labelled free diseases planting materials, yellow trap application, drenching with insecticide solutions, sex pheromon application, pruning, fruit wraping, irrigation and good harvesting practices. The innovatory technologies promptly adopted by the citrus farmers was California (sulphur) paste application. Non-technical factors that affect the adoption of the innovatory technologies of ICMHCO were less quality seed support institutionally, less support of production input from the proper institution especially for sulphur, low selling price and less financial capital of the farmers

    Insidensi dan Intensitas Serangan Penyakit Karat Putih pada Beberapa Klon Krisan

    Get PDF
    ABSTRAK. Penyakit karat putih adalah salah satu kendala dalam meningkatkan produksi bunga krisan. Penyakit karat putih pada tanaman krisan disebabkan oleh cendawan Puccinia horiana. Salah satu alternatif pengendalian adalah menggunakan varietas resisten. Tujuan penelitian adalah mengetahui insidensi dan intensitas penyakit karat putih pada klon-klon krisan. Penelitian dilakukan di Rumah Plastik Balai Penelitian Tanaman Hias di Segunung (1.100 m dpl.), sejak bulan September 2002 sampai Februari 2003. Pada penelitian ini dievaluasi sebanyak 13 klon harapan krisan hasil seleksi tahun 2000. Perlakuan terdiri 13 klon harapan krisan yaitu klon nomor 116.44, 116.53, 116.57, 125.14, 130.8, 131.1, 133.59, 133.7, 133.95, 135.6, 136.1, 136.11, 150.4, var. Saraswati, dan var. White Reagent, menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon nomor 136.10 adalah klon yang memiliki sifat baik, paling lambat terinfeksi penyakit karat (133 HST), pada 15 MST paling rendah insiden penyakitnya (12,67%). Intensitas serangan kedua terendah (5,08%) setelah klon nomor 133.95 (4,6%), dan intensitas penyakit waktu panen juga rendah (4,44%).ABSTRACT. Rahardjo I.B. and Suhardi. 2008. Incidence and Intensity of White Rust Disease on Several Chrysanthemum Clones. White rust disease is one of constrain in increasing the production of chrysanthemum flower. White rust disease on chrysanthemum caused by Puccinia horiana. One of the control alternative was the use of resistant variety. The aim of the experiment was to know incidence and disease intensity of white rust on chrysanthemum clones. The experiment was done in Plastichouse at Indonesian Ornamental Crop Research Institute, Segunung (1.100 m asl), from September 2002 to February 2003. Evaluations were done on 13 chrysanthemum promising clones from selection in 2000. The treatments consisted of 13 chrysanthemum promising clones namely : 116.44, 116.53, 116.57, 125.14, 130.8, 131.1, 133.59, 133.7, 133.95, 135.6, 136.1, 136.11, 150.4, var. Saraswati, and var. White Reagent. RCBD with 3 replications were used in this experiment. The results of the experiment showed that clone 136.10 indicated good characteristic, with latest of disease infection (133 days after planting), lowest disease incidence at 15 weeks after planting (12.67%), and the second lowest for disease intensity (5.08%) after clone 133.95 (4.6%). While clone 136.10 showed lowest disease intensity on harvesting time (4.44%)

    Segmentasi Pasar dan Pemetaan Persepsi Atribut Produk Beberapa Jenis Sayuran Minor (Under-utilized)

    Get PDF
    Kegiatan penelitian survai konsumen dilaksanakan di Kelurahan Sukasari dan Lembang, Bandung, Jawa Barat pada bulan Agustus-November 2004. Responden dipilih menggunakan metode multistage cluster sampling. Responden ibu rumah tangga sebanyak 50 orang dipilih secara acak dan proporsional dari kedua kelurahan tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Pada studi awal ini komoditas sayuran minor (under-utilized) yang dipilih adalah koro/roay jengkol, katuk, kecipir, dan labu siam. Untuk keperluan mempelajari posisi sayuran minor tersebut dipilih pula 4 komoditas lain yang dapat dianggap sebagai padanan atau substitusi, yaitu kacang jogo, bayam, kacang panjang, dan zukini. Atribut produk yang dipelajari meliputi (a) kandungan gizi tinggi, (b) berfungsi juga sebagai obat, (c) rasa enak, (d) tahan simpan, (e) harga mahal, dan (f) mudah diperoleh di pasar. Penelitian ini diarahkan untuk mengidentifikasi segmentasi pasar dan memetakan persepsi konsumen menyangkut beberapa atribut produk sayuran minor. Hasil penelitian mengidentifikasi 2 klaster atau segmen konsumen untuk setiap komoditas dengan karakteristik yang berbeda. Jumlah anggota klaster 1 secara konsisten selalu lebih besar dibandingkan klaster 2 untuk semua komoditas, sehingga upaya perbaikan untuk semua komoditas sayuran minor disarankan lebih diarahkan ke segmen konsumen yang pertama. Sementara itu, berdasarkan perbandingannya dengan komoditas padanan/substitusi (kacang jogo, bayam, zukini, dan kacang panjang), atribut produk yang perlu diperbaiki adalah atribut rasa enak dan gizi tinggi (kacang koro/roay), fungsi sebagai obat dan ketahanan simpan (labu siam), serta ketersediaan (kacang koro/roay, katuk, dan kecipir).ABSTRACT. Adiyoga, W., M. Ameriana, and T. A. Soetiarso. 2008. Market Segmentation and Perceptual Mapping of Product Attributes of Some Minor/under-utilized Vegetables. Consumer surveys were carried out in Sukasari and Lembang Subdistrict, Bandung, West Java from August to November 2004. This study was aimed to identify market segmentation and consumer’s perceptual mapping regarding product attributes of some minor (under-utilized) vegetables. Multi-stage cluster sampling was used to select 50 respondents who were proportionally and randomly drawn from those 2 subdistricts. Data were gathered through interviews by using a structured questionnaire. In this preliminary study, 4 minor vegetables were chosen; those were lima bean, stragooseberry, winged bean, and chayote. For the purpose of examining the product positioning of these 4 minor vegetables, 4 other vegetables that were considered as their substitute (bean, spinach, yard-long bean, and zucchini) were also involved. Product attributes examined were (a) high nutrient content, (b) medicinal purpose, (c) taste good/delicious, (d) long shelf-life, (e) price/expensive, and (f) availability. Results have identified 2 clusters or 2 market segments with different characteristics for each commodity. Number of cases/respondents in cluster 1 was consistently larger than that in cluster 2 for all commodities. Hence, the effort for improvements was suggested to be more focus to cluster 1 or consumer segment 1. Meanwhile, based on the comparison with their substitutes, some attributes that should be considered for improvement were taste and nutrient content (for lima bean), medicinal purpose, and shelf-life (for chayote), and availability (for lima bean, stragooseberry, and winged bean)

    Pengaruh Lama Penyimpanan Entris terhadap Keberhasilan Sambung Pucuk Beberapa Varietas Avokad

    Get PDF
    ABSTRAK. Kendala yang sering dihadapi dalam perbanyakan avokad secara sambung pucuk adalah jauhnya jarak antara pohon induk dengan lokasi pembibitan, sehingga dibutuhkan waktu agak lama mulai dari pengambilan entris sampai penyambungan. Selain itu jumlah bibit yang akan disambung sering dalam jumlah yang banyak, sehingga tidak bisa disambung dalam waktu sehari dan entris yang belum tersambung harus disimpan untuk keesokan harinya. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh penyimpanan entris terhadap keberhasilan sambung pucuk beberapa varietas avokad. Penelitian dilakukan di rumah pembibitan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok selama 6 bulan mulai Juni sampai Desember 2005. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok faktorial dengan 2 faktor perlakuan dan 3 ulangan. Faktor perlakuan pertama adalah lama penyimpanan entris yang terdiri dari 3 taraf, yaitu entris tidak disimpan, entris disimpan selama 2 dan 4 hari, sedangkan faktor kedua adalah varietas avokad yang terdiri dari varietas Mega Murapi, Mega Gagauan, dan Aripan. Setiap unit perlakuan terdiri dari 5 tanaman yang disambung. Parameter yang diamati meliputi persentase keberhasilan penyambungan, persentase pecah tunas, panjang tunas, dan jumlah daun yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamanya penyimpanan entris mempengaruhi keberhasilan sambung pucuk dan panjang tunas, yaitu semakin lama entris disimpan semakin rendah tingkat keberhasilan sambung pucuk dan semakin pendek tunas yang terbentuk. Interaksi antara lama penyimpanan entris dengan varietas berpengaruh terhadap persentase pecah tunas dan pembentukan daun bibit sambung avokad.ABSTRACT. Jawal, M. Anwarudin Syah. 2008. The Effect of Scion Storage on Successfulness of Top Grafting of Some Avocado Varieties. Problems encountered in avocado top grafting multiplication was the long distance between mother plant and the nursery location, so that took some times for scion to be grafted. Beside that, in case of big quantity of seedling should be prepared, the work would not be finished within a day. Experiment was conducted in nursery house of Indonesian Tropical Fruits Research Institute Solok from June to December 2005, and arranged in a 3 x 3 factorial with 3 replications. The first factor was scion storage duration which consisted of 0, 2, and 4 days and the second factor was avocado varieties which consisted of 3 varieties: Mega Murapi, Mega Gagauan, and Aripan. Each treatment consisted of 5 grafted plants. Parameter observed were the percentage of top grafted successfulness, percentage of bud break, leaf number, and shoot length. The results showed that scion storage duration affected top grafting successfulness and shoot length of grafted avocado. There was an interaction between scion storage duration and avocado varieties on the percentage of bud break and leaf number of grafted seedling avocado

    Pengaruh Auksin dan Sitokinin terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Jaringan Meristem Kentang Kultivar Granola

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Sayuran mulai bulan Maret sampai September 2004 Perlakuannya adalah penumbuhan jaringan meristem kentang varietas Granola pada media MS ditambah suplemen sukrose 30 g/l, air kelapa 100 ml/l, CaP 2 mg/l, myoinositol 100 mg/l, agar 6,5 g/l, pH 5,7, serta zat pengatur tumbuh NAA (0,01, 0,05, dan 0,10 mg/l), BAP/2-ip (0,01 dan 0,05 mg/l). Rancangan menggunakan acak lengkap dengan 19 perlakuan dan setiap perlakuan menggunakan 20 tabung reaksi kultur tanaman yang berisi 3 ml media sebagai ulangan. Hasil yang didapat, 18% jaringan meristem dapat tumbuh menjadi plantlet pada umur 15 minggu setelah tanam. Pertumbuhan jaringan meristem dipengaruhi oleh ketersediaan zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin yang ditambahkan ke dalam media. Penambahan NAA atau sitokinin (BAP, 2-ip) secara tersendiri pada berbagai konsentrasi yang tidak dikombinasikan, memberikan pengaruh yang kurang menguntungkan pada pertumbuhan jaringan meristem. Jaringan meristem kentang Granola tumbuh baik pada media yang berisi kombinasi NAA dan BAP.ABSTRACT. Karjadi, A.K and Buchory A. 2008. The Effect of Auxin and Cytokinin on the Growth of Potato Meristem cv. Granola. The experiment was conducted in Tissue Culture Laboratory of Indonesian Vegetable Research Institute from March until September 2004. The treatments were MS medium with supplement of sucrose 30 g/l, coconut water 100 ml/l, CaP 2 mg/l, myoinositol 100 mg/l, agar 6.5 g/l, pH 5.7, and growth hormone of NAA (0.01, 0.05, 0.10 mg/l) and BAP/2-ip ( 0.01 and 0.05 mg/l). The experiment was arranged in a randomized complete design with 19 medium composition as treatments, and 20 replications of test tube culture with 3 ml medium each treatment. The results showed that 18% of meristem could develop plantlet within 15 weeks after planting. Meristem growth depended on the availability of auxin and cytokinin in the medium. The medium with NAA supplement or cytokinin (BAP, 2-ip) singly, gave negative effect on meristem growth. Granola potato meristem could develop well on combination media of NAA and BAP

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇