Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Potensi Kandungan Antosianin pada Daun Muda Tanaman Mangga sebagai Kriteria Seleksi Dini Zuriat Mangga

    Get PDF
    ABSTRAK. Antosianin pada buah, batang, dan daun tanaman mangga terekspresi sebagai karakter warna merah, ungu,dan biru. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui korelasi antara kandungan antosianin pada daun muda dengankandungan antosianin pada kulit buah mangga, serta potensi kandungan antosianin daun muda sebagai kriteria seleksidini terhadap warna merah kulit buah mangga. Penelitian dilakukan dari bulan Januari - Desember 2004 dan Januari- Desember 2006 di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Penelitian menggunakan 11varietas mangga berkulit buah merah (Delima, Irwin, Haden, Kartikia, Saigon, Gedong, Apel, Liar, Keitt, Beruk, Ayu)dan 1 varietas mangga berkulit hijau yaitu Arumanis 143. Metode Horwitz digunakan untuk mengetahui kandunganantosianin pada daun muda dan kulit buah mangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan antosianin padadaun muda berkorelasi positif secara linier dengan kandungan antosianin pada kulit buah mangga dengan persamaanregresi Y=60,14+3,02X (r=0,83**). Kandungan antosianin pada daun muda mangga dapat digunakan untuk kriteriaseleksi dini terhadap karakter warna merah kulit buah zuriat-zuriat mangga.ABSTRACT. Sukartini and M. Jawal Anwarudin Syah. 2009. Potency of Anthocyanin Compound in the YoungLeaves for Early Selection Criteria of Mango Zuriat. Anthocyanin in fruits, stems, and leaves are expressedas red, blue, and purple hues characteristic. The objective of the research was to find out the correlation betweenanthocyanin compound on mango young leaves and anthocyanin compound on fruit peel. The research was doneduring January- December 2004 and January-December 2006 in Indonesian Center for Agricultural PostharvestResearch and Development. Eleven red peel mango varieties (Delima, Irwin, Haden, Kartikia, Saigon, Gedong, Apel,Liar, Keitt, Beruk, Ayu) and 1 green peel mango variety (Arumanis 143) were used in the research. Horwitz methodswas used to determined anthocyanin compound in the young leaves and in the peel of mango. The results showedthat anthocyanin compound in the young leaves have linear correlation with anthocyanin compound in the peel atY=60.14+3.02X (r=0.83**) regression formula. Young leaves anthocyanin compound of mango was potentially usedas early selection criteria for red peel of mango zuriat

    Pemanfaatan Mikoriza, Bahan Organik, dan Fosfat Alam terhadap Hasil, Serapan Hara Tanaman Mentimun, dan Sifat Kimia pada Tanah Masam Ultisol

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian dilakukan di lahan petani di daerah Kabupaten Lebak, Banten. Jenis tanah Ultisol dengankandungan P rendah dan karakteristik fisik yang buruk. Tujuan percobaan adalah mempelajari pengaruh inokulasicendawan mikoriza arbuskula, penyediaan bahan organik dari pupuk kandang domba, dan dosis fosfat alam terhadapserapan P oleh tanaman, hasil mentimun, dan kandungan hara tanah masam Ultisols. Penelitian dilaksanakan daribulan Juli sampai Oktober 2004. Perlakuan terdiri atas 3 dosis fosfat alam, pupuk kandang domba, dan inokulasimikoriza. Kombinasi perlakuan seluruhnya ada 12 dengan 3 ulangan yang disusun dalam rancangan acak kelompokfaktorial. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang domba meningkatkan efisiensi penggunaanfosfat alam, bobot buah, dan serapan hara. Interaksi antara mikoriza dengan pupuk P dan bahan organik denganpupuk P berpengaruh nyata terhadap serapan P. Tanpa pupuk kandang domba maupun tanpa mikoriza, dosis P yangdibutuhkan untuk menghasilkan buah mentimun adalah 200 kg P2O5 /ha, sedangkan dengan pupuk kandang dombamaupun dengan mikoriza dosis P yang dibutuhkan untuk menghasilkan buah mentimun yang sama hanya 100 kgP2O5 /ha dan kombinasi perlakuan tersebut meningkatkan ketersediaan P tanah. Inokulasi mikoriza tanpa bahanorganik menurunkan pH tanah. Penggunaan fosfat alam pada dosis tinggi dengan adanya bahan organik meningkatkansenyawa Ca-P pada tanah Ultisols. Teknologi yang diperoleh dari penelitian ini sangat berguna untuk pengembangantanaman sayuran pada tanah-tanah masam atau lahan marginal seperti Ultisols.ABSTRACT. Rosliani, R. , Y. Hilman, and N. Sumarni. 2009. The Effect of Rock Phosphate Fertilizer and SheepManure Application, and Arbuscular Mycorrhizae Fungi Inoculation on the Growth and Yield of Cucumberin Ultisol Acid Soil. The experiment was conducted at the farmer field in Lebak District of Banten Province. Thesoil was Ultisols with low available P and poor physical property. The objectives of this experiment was to study theeffect of rock phosphate and sheep manure application, and arbuscular mycorrhizae fungi inoculation on the growth,P uptake, and yield of cucumber in acid soil. The treatments consisted of 3 levels of rock phosphate, 2 levels of sheepmanure, and 2 levels of mycorrhizae inoculation. All treatment combinations were arranged in factorial randomizedblock design with 3 replications. The results showed that sheep manure supply could increased the efficiency ofrock phosphate application, growth, yield of cucumber, and nutrient uptake. The effect of mycorrhizae inoculationwas more clear when accompanied by sheep manure supply. Interaction of sheep manure and rock phosphate ormycorrhizae inoculation and rock phosphate significantly increased P uptake. Without sheep manure supply andwithout mycorrhizae inoculation, 200 kg P2O5/ha of rock phosphate was needed compare with sheep manure supplyand mycorrhizae inoculation, which only required 100 kg P2O5/ha of rock phosphate to reach the same productivity ofcucumber fruit, and these treatment combination P availability were also increased. Mycorrhizae inoculation withoutsheep manure could decrease the soil pH. Rock phosphate at high dosage with sheep manure could increase Ca-Pon Ultisols acid soil. The results of the experiment could be benefit for the development of vegetables on acid soilsor marginal land such as Ultisols

    Preferensi Petani Brebes terhadap Klon Unggulan Bawang Merah Hasil Penelitian

    Get PDF
    Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui preferensi petani Brebes terhadap klon unggulan bawangmerah hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang. Penelitian dilakukan di Desa Slatri,Brebes, pada bulan Juni sampai Agustus 2003. Metode penelitian yang digunakan adalah kombinasi antara percobaanlapangan dan penelitian partisipatif petani. Percobaan lapangan dimanfaatkan sebagai petak observasi bagi 20 petanipartisipan. Percobaan lapangan menggunakan rancangan acak kelompok. Perlakuan terdiri dari 9 klon unggulanbawang merah dan kontrol varietas lokal Bima Brebes dengan 3 ulangan. Data penelitian partisipatif dikumpulkandari jawaban tertulis petani partisipan pada kuesioner yang dibagikan peneliti pada saat petani melakukan observasilapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara agronomis, daya hasil dan ukuran umbi klon unggulan Balitsatidak lebih unggul dibanding varietas lokal Bima Brebes kecuali klon No. 9. Di antara klon unggulan yang diuji,klon No. 8 merupakan klon yang paling potensial diadopsi petani karena pertumbuhan tanaman dan hasil panennyadisukai petani. Klon No. 9 kurang disukai petani karena warnanya pucat, sehingga perlu perbaikan warna umbiuntuk meningkatkan peluang adopsi oleh petani. Preferensi petani dan pemulia terhadap klon unggulan berbedasangat nyata. Klon No. 9 yang paling disukai pemulia namun kurang disukai petani. Penelitian preferensi petaniperlu diintegrasikan dalam penelitian perakitan varietas unggul untuk meningkatkan peluang adopsi varietas unggultersebut setelah dilepas.ABSTRACT. Basuki, R.S. 2009. Farmers’ Preferences in Brebes to Shallots Promising Clones Generatedfrom IVEGRI. The objective of the research was to understand farmer’s preferences to promising shallots clonescreated by the Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI). Research was conducted in Slatri, Brebes, fromJune to August 2003. A combination of field experiment and farmer’s participatory was used in the research. Thefield experiment was used as an observation plot for 20 farmer participants. The field experiment was arranged in arandomized complete block design with 3 replications. The treatments consisted of 9 promising shallots clones and alocal variety of Bima Brebes as control. Data from farmer participatory research were collected from farmer’s writtenanswers on the questionnaire distributed by researchers. Results showed that agronomically the yield and tuber sizeof the promising clones, except clone No.9, were not significantly higher or bigger than that of local variety of BimaBrebes. Among the promising clones, only clone No.8 has the potential to be adopted by farmers because farmerswas in favor with the growth and tuber quality of the clone. In order to increase the potential adoption of clone No.9improvement of the tuber color from pale red to red is needed. Farmers and breeder preferences to the promisingclones were significant difference, due to the different criteria used in evaluating the clones. Research on farmerspreference should be integrated into the research on creating a new variety to increase the potential adoption of thenew variety after released

    Pendekatan Fenetik Taksonomi dalam Identifikasi Kekerabatan Spesies Anthurium

    Get PDF
    ABSTRAK. Identifikasi kekerabatan Anthurium koleksi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropikadilakukan menggunakan pendekatan fenetik. Hasil identifikasi kekerabatan ini akan sangat bermanfaat dalam kegiatanpemuliaan Anthurium untuk menghasilkan varietas baru. Sumber data yang digunakan adalah parameter morfologi,organ vegetatif, organ reproduksi, dan polen. Penentuan hubungan kekerabatan Anthurium dilakukan mengikutipetunjuk Sokal dan Michener (1958). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Balai Penelitian TanamanJeruk dan Buah Subtropika, Tlekung Batu dan Laboratorium Biologi Universitas Negeri Malang dari bulan Juni2005 hingga Januari 2006. Dari hasil penelitian diperoleh ciri-ciri umum dan khusus dari masing-masing spesiesAnthurium yang selanjutnya ciri-ciri tersebut dianalisis dan disusun dalam bentuk matriks jumlah pasangan satuantaxonomi operasional (STO). Fenogram dibentuk dari perhitungan koefisien asosiasi matriks. Berdasarkan fenogramdiperoleh 5 kelompok kekerabatan berturut-turut dari yang terdekat sampai yang terjauh. Spesies yang tergabungdalam kelompok pertama (A. ferriense dan A.macrolobim) dan kedua (A. amnicola Dressler. dan A. andraeanumLinden) termasuk berkerabat dekat di mana indeks kesamaannya masing-masing 65 dan 57,1%. Kelompok 3 (A.halmoreii Croat. dan A. jenmanii Engl.), dan kelompok 4 (A. crystallinum Linden & Andre dan A. andicola Liebm.)merupakan pasangan-pasangan yang berkerabat jauh, yaitu dengan indeks kesamaan 53,7 dan 47,8%. Kelompokkelima (A. superbum Madison dan A. correa Croat) merupakan pasangan yang berkerabat paling jauh dengan indekskesamaan 32,8%. Indeks kesamaan antara kelompok 1 dan kelompok 2 sebesar 29%, kelompok 3 dan kelompok 4sebesar 26%, dan indeks kesamaan kelompok 5 terhadap keempat lainnya adalah sebesar 25,3%.ABSTRACT. Martasari, C., A. Sugiyatno, H.M.Yusuf, and D. L. Rahayu. 2009. The Phenetic TaxonomyApproach to Identify Relationship of Anthurium Species. Identification of relationship of Anthurium species,collection from Indonesian Citrus and Subtropical Fruit Research Institute (ICISFRI) was conducted using phenetictaxonomy approach method. The study was very useful to developed new superior variety of Anthurium. The data usedin the study were morphological, vegetative organ, reproductive organ, and pollen parameters. Anthurium relationshipwas defined based on Sokal and Michener method (1958). The research was carried out at both Indonesian Citrusand Subtropical Fruits Research Institute (ICISFRI) Breeding Laboratory and the Biology Laboratory, Malang StateUniversity from June 2005 to January 2006. The general and specific descriptors obtained from the experiment wereanalyzed and arranged in a matrices of STO pair number. Phenogram was created from the calculation of matricescoefficient association. According to the phenogram it was shown that 5 related groups of Anthurium species laid fromnear to far distance based on their relationship. The first group consist of A. ferrience and A. macrolobin, it had a neardistance with group 2 (A. amnicola Dressler. and A. andraeanum Linden) with their similarity index 65 and 57.1%respectively. Group 3 (A. halmoreii Croat and A. jenmanii Engl.), and group 4 (A. crystallinum Linden & Andre andA. andicola Liebm.) had a far distance with similarity index 53.7 and 47.8%. The last group (A. superboom Madisonand A. correa Croat.) was the furthest distance with similarity index 32.8%. The similarity index between first andsecond group, third and fourth group, and the fifth group to others was 29, 26, and 25.3%, respectively

    Metode Pengakaran Batang Bawah Mawar Bebas Prunus Necrotic Ringspot Virus Secara In Vitro

    Get PDF
    Metode untuk memproduksi batang bawah mawar bebas virus sudah diperoleh pada penelitiansebelumnya. Untuk mendapatkan bibit bebas virus diperlukan metode pengakaran yang tepat secara in vitro. Pengakaranmerupakan salah satu tahap penting dalam teknik kultur jaringan untuk perbanyakan bibit tanaman secara cepat.Penelitian bertujuan mendapatkan jenis media terbaik untuk pengakaran batang bawah mawar bebas virus. Penelitiandilaksanakan di Laboratorium Virologi dan Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung, Cianjur, JawaBarat (1.100 m dpl), dari bulan Januari sampai Desember 2003. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompokpola faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah 3 kultivar batang bawah mawar bebas virus (Rosa multiflora,Rosa sp. cv. Multic, dan cv. Natal Brior). Faktor kedua adalah 7 komposisi media pengakaran (MS+IBA 0,5 mg/l,MS+IBA 1,0 mg/l, MS+NAA 0,5 mg/l, MS+NAA 1,0 mg/l, MS+IAA 0,5 mg/l, MS+IAA 1,0 mg/l, dan MSO (tanpaZPT)). Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pengakaran yang paling baik untuk memproduksi batang bawahmawar bebas virus yaitu dengan komposisi MS+IBA 0,5 mg/ml. Implikasi hasil penelitian ini adalah tersedianyateknologi pengakaran in vitro untuk batang bawah mawarABSTRACT. Diningsih, E., F. Rahmawati, Y. Sulyo, and Darliah. 2009. In Vitro Rooting Method for ProducingFree-Virus Rose Rootstock. The method for producing virus free plantlet of rose rootstock had been obtained inprevious study. In obtaining virus-free seed, availability of appropriate in vitro rooting method is needed. Rootingis one of the important step in tissue culture technique for plant rapid multiplication. The purpose of this experimentwas to obtain the best rooting medium for producing virus-free rose rootstock. The experiment was conducted in theVirology Laboratory of the Indonesian Ornamental Crop Research Institute, Segunung, Cianjur, West Java (1,100 masl.) from January to December 2003. The research was laid in a factorial randomized block design with 3 replications.The first factor was 3 virus-free rose rootstock cultivars (Rosa multiflora, Rosa sp. cv. Multic, and cv. Natal Brior)resulted from the previous experiment. The second factor was 7 compositions of medium (MS+IBA 0.5 mg/l, MS+IBA1.0 mg/l, MS+NAA 0.5 mg/l, MS+NAA 1.0 mg/l, MS+IAA 0.5 mg/l, MS+IAA 1.0 mg/l, and MSO (without PGR)).The results showed that the best rooting medium for producing virus-free rose rootstock was MS+IBA 0.5 mg/l

    Keefektifan Teknik Perangsangan Pembungaan pada Kelengkeng

    Get PDF
    ABSTRAK. Pengkajian ini bertujuan untuk memperoleh teknik perangsangan pembungaan pada tanaman kelengkeng yang efektif. Pengkajian teknik perangsangan pembungaan kelengkeng dilaksanakan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mulai bulan Juli hingga Desember 2005. Teknik perangsangan pembungaan yang dikaji meliputi (a) pemberian zat pengatur tumbuh paklobutrazol, (b) pemberian pupuk tambahan hara mikro, (c) perundukan dahan, (d) pemangkasan cabang dan tunas air, dan (e) tanpa perlakuan sebagai pembanding. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa teknik perangsangan pembungaan kelengkeng yang diintroduksikan mampu meningkatkan jumlah pohon berbunga serta meningkatkan kerapatan bunga dan buah per pohon. Aplikasi paklobutrazol mampu meningkatkan jumlah pohon berbunga paling banyak daripada perlakuan lainnya, tetapi kerapatan buah yang terbentuk lebih rendah daripada perlakuan lainnya. Kerapatan buah tertinggi dihasilkan dari tanaman-tanaman yang diperlakukan dengan perundukan dahan. Kerapatan buah yang tinggi berikutnya terjadi pada perlakuan pemangkasan, pemberian hara mikro, dan aplikasi paklobutrazol.ABSTRACT. Yulianto, J. Susilo, and D. Juanda. 2008. The Effectiveveness of Flowerwerwering Induction Techechechniques on Dragon’s Eye Fr uit. The objective of this experiment was to find out the effective flowering induction technique on dragon’s eye fruit. This study was conducted in Temanggung District from July to December 2005. The treatments were several flowering induction techniques i.e. (a) application of paclobutrazol growth regulator, (b) application of micronutrient fertilizer, (c) branches bent down, (d) pruning, and (e) without treatment (control). The assessment indicated that all of flowering induction techniques applied were able to induce flowering and increased yield per tree. Paclobutrazol application produced more flowers than other treatments, but gave less fruit density. The highest fruit density was produced on the trees with bent down branches, followed by pruning, addition of micronutrient, and paclobutrazol treatments

    Penggunaan Pestisida Biorasional untuk Mengendalikan Hama dan Penyakit Penting pada Tanaman Kentang

    Get PDF
    Percobaan lapang dengan tujuan untuk mengendalikan hama dan penyakit penting pada tanaman kentang menggunakan pestisida biorasional dilaksanakan dari bulan April sampai Juli 2002 di Kebun Percobaan Margahayu (elevasi 1.250 m dpl), Lembang, Bandung, Jawa Barat, jenis tanah Andosol dan iklim tipe B1. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, 12 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan berupa seperangkat formula pestisida biorasional Phrogonal 866, 666, 466, Phronical 826, 626, 426, 846, 646, 446, dan Agonal 866. Pestisida biorasional tersebut diuji dan dibandingkan efikasinya dengan insektisida sintetik Deltametrin 2.5 EC 0,2% dalam mengendalikan hama dan penyakit utama kentang. Hasil penelitian secara jelas mengindikasikan bahwa pestisida biorasional tersebut sama, bahkan lebih efektif dibandingkan dengan Deltametrin 2.5 EC 0,2% dalam mengendalikan Thrips palmi dan Liriomyza huidobrensis. Di samping itu, beberapa pestisida biorasional juga menunjukkan indikasi mampu mengendalikan penyakit terpenting kentang yaitu Phytophthora infestans.ABSTRACT. Suryaningsih, E. 2008. The Use of Biorational Pesticide for Controlling the Important Pests and Diseases on Potato. A field experiment to control important pests and diseases of potato was carried out from April to July 2002 at Margahayu Research Station (elevation 1,250 m asl), Lembang, Bandung, West Java on Andosol soil and B1 type of climate. A randomized block design with 12 treatments and 3 replications was employed. The treatments were a set of biorational pesticide formulas, namely Phrogonal 866, 666, 466, Phronical 826, 626, 426, 846, 646, 446, and Agonal 866. The biorational were tested and compared their efficacy with syntetic insecticide Deltamethrin 2.5 EC 0.2 % in controlling key pests and disease of potato. The results of the experiment clearly indicated that biorationals were as effective, and even more effective than Deltamethrin 2.5 EC 0.2% in controlling Thrips palmi and Liriomyza huidobrensis. In addition, some biorational pesticide were also showed good indication in controlling the most important disease of potato, namely late blight Phytophthora infestans

    Penggunaan Pupuk Multihara Lengkap PML-A gro terhadap Pertumbuhan dan Hasil Cabai Merah

    No full text
    ABSTRAK. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Wera, Subang, dari bulan Mei sampai November 2005, dengan tujuan mendapatkan dosis dan formula pupuk tablet dan pupuk tepung PML-Agro yang tepat untuk meningkatkan hasil cabai merah dan efisiensi aplikasi unsur hara tanaman. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari bentuk pupuk PML-Agro sebagai petak utama, sedangkan dosis dan formula pupuk PML-Agro dan pupuk tunggal sebagai anak petak. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan pupuk PML-Agro 2 (600 kg/ha) dan kombinasi pupuk PML-Agro 1 (150 kg/ha)+PML-Agro 3 (150 kg/ha) menghasilkan buah cabai merah tertinggi, meskipun tidak berbeda nyata dengan kombinasi pupuk tunggal (Urea, ZA, TSP, KCl, dan dolomit). Peningkatan hasil dari kedua pupuk tersebut masing-masing sebesar 16,38 dan 11,41%. Penggunaan pupuk tablet dan tepung tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah. Pemberian pupuk PML-Agro 1 (150 kg/ha)+PML-Agro 3 (150 kg/ha) baik dalam bentuk tablet maupun tepung dapat dianjurkan, karena lebih efisien dari penggunaan pupuk PML-Agro 2 (600 kg/ha) maupun pupuk tunggal (Urea, ZA, TSP, KCl, dan dolomit) dengan efisiensi penggunaan hara makro primer 25% lebih rendah daripada pupuk tunggal. Teknologi pemupukan yang dihasilkan ini lebih menguntungkan karena penggunaan pupuk yang efisien dan daya hasil meningkat.ABSTRACT. Sutapradja, H. 2008. Application of PML-Agro Complete Multinutrient Fertilizer on Growth and Yield of Hot Pepper.This experiment was conducted at Wera, Subang Experimental Garden, started from May to November 2005, to find out the proper dosage and formulation of tablet and powder fertilizers to increase yield of hot pepper and nutrient efficiency. The experiment was arranged in a split plot design with 3 replications. The treatment consisted of PML-Agro fertilizer as main plot, and dosage formulation of PML-Agro fertilizer and combination of single fertilizers as subplot. The results showed that PML-Agro 2 fertilizer (600 kg/ha) and combination of PML-Agro 1 fertilizer (150 kg/ha)+PML-Agro 3 fertilizer (150 kg/ha) produced highest yield of hot pepper, although both treatments were not significanly different from the combination of single fertilizers (Urea, ZA, TSP, KCl, and dolomit). Yield increased due to the application of both fertilizers were 16.38% and 11.41% respectively. Application of tablet and powder fertilizers did not significantly affect the growth and yield of hot pepper. Combination of PML-Agro 1 fertilizers (150 kg/ha)+PML-Agro 3 fertilizer (150 kg/ha) in tablet and powder forms seemed to be more applicable for farmers, since they were more efficient than those of PML-Agro 2 (600 kg/ha) fertilizer and combination of single fertilizers (Urea, ZA, TSP, KCl, and dolomit) with efficiency of macro nutrient application about 25% lower than that of single fertilizer application. The use of PML-Agro fertilizer was more profitable due to its efficiency and yield improvement

    Identifikasi Kekerabatan Genetik Klon-klon Bawang Putih Indonesia Menggunakan Isozim dan RAPD

    Get PDF
    ABSTRAK. Beberapa klon bawang putih (Allium sativum L.) lokal di Indonesia umumnya diberi nama oleh petani berdasarkan nama daerah atau lokasi, sehingga klon yang secara genetik sama kemungkinan dapat berbeda namanya. Dengan demikian identifikasi klon bawang putih berdasarkan marka biokimia maupun molekuler sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi mengenai keragaman dan kekerabatan genetik klon bawang putih lokal. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Banaran, Batu mulai bulan Juni sampai dengan November 2005, sedangkan untuk analisis isozim dan RAPD masing-masing dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler, Universitas Brawijaya, Malang dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor. Berdasarkan metode isozim dan RAPD, kisaran nilai kekerabatan genetik yang dihasilkan hampir sama, masing-masing 0,53-0,91 dan 0,54-0,94. Tingkat kekerabatan genetik klon bawang putih lokal cukup rendah. Metode isozim dan 2 primer RAPD, yaitu OPG 18 dan OPN 06 dapat digunakan untuk identifikasi dan penamaan ulang klon bawang putih lokal.ABSTRACT. 2008 Hardiyanto, N.F. Devy, and C. Martasari. 2008 . Identification of Genetic Relationship among Indonesian Garlic Clones Using Isozyme and RAPD. Local garlic clones (Allium sativum L.) in Indonesia mostly was named by growers based on region or location, thus many genetically-identical clones may have different name. Therefore, identification of garlic clones through biochemical and molecular markers were needed. The aim of this research was to obtain the information of genetic variation and relationship of local garlic clones. This research was carried out at Banaran Experimental Garden Batu, from June to November 2005, whereas isozyme and RAPD analyses were conducted in Molecular Biology Laboratorium, Brawijaya University and Indonesian Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research Institute, Bogor, respectively. The value of genetic relationship showed by isozyme and RAPD methods was almost the same, these were 0.53-0.91 and 0.54-0.94, respectively. Level of genetic relationship among local garlic clones was quite low.Isozyme and 2 primers of OPG 18 and OPN 06 were useful for identification and denomination of local garlic clones

    Studi Bedengan Kompos Permanen pada Budidaya Mentimun di Lahan Kering

    Get PDF
    ABSTRAK. Ketersediaan hara dan air yang terbatas merupakan kendala dalam budidaya mentimun di lahan kering. Salah satu upaya mengatasinya adalah dengan penggunaan bedengan kompos permanen. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dari bulan Oktober 2002 - April 2003 dengan tujuan mempelajari pengaruh penggunaan bedengan kompos permanen terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil mentimun di lahan kering. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 6 ulangan dan 4 perlakuan bedengan kompos permanen dengan formula limbah organik yang berbeda. Mentimun ditanam 1 bulan setelah pembentukan bedengan kompos permanen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bedengan kompos permanen tanpa NPK tidak cocok untuk penanaman mentimun. Penggunaan bedengan tanah dengan diberi pupuk kandang + pupuk NPK (cara konvensional) masih merupakan cara terbaik untuk budidaya mentimun di lahan kering. Cara tersebut menghasilkan bobot buah tertinggi, yaitu sebesar 15,485 t/ha (efisiensi lahan 80%). Penggunaan bedengan kompos permanen dapat diterapkan oleh petani terutama pada daerah di mana ketersediaan air dan pupuk kandang terbatas.ABSTRACT. Sumarni, N. and Y. Hilman. 2008. Permanent Composting Bed for Cucumber Cultivations on Dryland.The problem of cucumber cultivation in dryland is the lack of water and nutrient availability. One of the efforts to overcome this problem was the utilization of permanent composting bed. The aim of the experiment was to study the effect of the use of permanent composting bed on the growth and yield of cucumber in dryland. A randomized block design with 6 replications and 4 treatments of permanent composting beds with different organic waste was used. Cucumber plants were planted at 1 month after composting process took place. Results of the experiment indicated that the use of permanent composting bed without NPK was unsuitable for growing cucumber. The conventional cultivation using regular soil bed with stable manure and NPK fertilizer was still the best method, with highest yield of cucumber (15.485 t/ha with land efficiency of 80%). Vegetable cultivation on permanent composting bed was applicable in the areas with inadequate stable manure and water supply

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇