Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Seleksi Ketahanan Klon-klon Harapan Krisan terhadap Penyakit Karat
ABSTRAK. Sifat ketahanan terhadap penyakit merupakan salah satu kriteria dalam seleksi progeni hasil persilangan untuk pelepasan varietas baru krisan. Untuk mendapatkan klon-klon unggul krisan tahan karat, sejumlah progeni telah dievaluasi ketahanannya. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias (1.100 m dpl) dari bulan Oktober 2002 hingga September 2003 untuk mengevaluasi 13 aksesi yang terdiri dari 12 klon krisan, yaitu nomor 151.13, 159.79, 162.7, 164.28, 164.37, 164.64, 164.82, 164.88, 164.97, 164.102, 164.156, 165.12, dan 1 varietas kontrol (cv. White Reagent) terhadap penyakit karat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal terjadinya gejala dan insidensi penyakit bervariasi pada klon-klon yang dicoba. Berdasarkan kriteria tingkat ketahanan, terdapat 2 klon, yaitu No. 151.13 dan 164.64, dikategorikan sangat tahan terhadap penyakit karat. Selain itu terdapat 2 klon yang termasuk kriteria tahan dan 7 klon yang dikategorikan agak tahan. Sedangkan cv. White Reagent dan klon No. 164.37 termasuk dalam kategori agak rentan terhadap penyakit karat.ABSTRACT. Budiarto, K., I. B. Rahardjo, and Suhardi. 2008. Resistant Evaluation of Chrysysanthemum Promising Clones to Japanese White Rust Dise ase . Resistance to major disease is one of important criteria in the selection of chrysanthemum for new released varieties. Japanese white rust is considered one of constrained-diseases and become major problems in commercial chrysanthemum growers in Indonesia up to this moment. Thus, selection of progenies against this disease became important. The research was conducted from October 2002 to September 2003 to evaluate 13 accessions of chrysanthemum, comprised of 12 promising clones of no. 151.13, 159.79, 162.7, 164.28, 164.37, 164.64, 164.82, 164.88, 164.97, 164.102, 164.156, 165.12, and 1 commercial variety (cv. White Reagent) as control to white rust disease. The results of the experiments showed that the initial symptoms and white rust incidence were varied among clones tested. Among the 13 accessions, 2 clones (no. 151.13 and 164.64) were considered strongly resistant. The other 2 and 7 clones were included to the criteria of resistant and moderate resistant, respectively. While cv. White Reagent (control) and clone no. 164.37 were categorized as moderate susceptible
Aplikasi Pestisida Biorasional Agonal 866 untuk Mengendalikan Hama dan Penyakit Bawang Merah
ABSTRAK. Penelitian aplikasi pestisida biorasional Agonal 866 untuk mengendalikan hama dan penyakit bawang merah dilaksanakan di lahan petani di Rancaekek, (650 m dpl.), Kabupaten Bandung, dari Desember 2001 sampai Maret 2002. Percobaan dirancang dengan rancangan acak kelompok, diulang 4 kali. Perlakuan yang digunakan adalah pestisida biorasional Agonal 866 dan pestisida sintetik, kedua-keduanya diaplikasikan baik secara tungg al terus menerus dan bergiliran untuk mengendalikan hama dan penyakit utama bawang merah. Pestisida biorasional Agonal 866 adalah campuran ekstrak kasar A. indica (8 bagian) + A. nardus (6 bagian) + A. galanga (6 bagian). Prosedur pembuatannya dicantumkan dalam artikel. Perlakuan lain pestisida sintetik adalah campuran Piretroid 25 EC dan Propineb 70 WP 0,2%. Hasil penelitian menunjukk an bahwa pestisida biorasional Agonal 866 yang diaplikasikan baik secara tunggal maupun digilir dengan pestisida sintetik ternyata efikasinya dalam mengendalikan penyakit bercak ungu yang disebabk an A. porri maupun serangan hama S. exigua, setara dan tidak berbeda nyata satu sama lain. Hasil penelitian ini memberikan indikasi kuat bahwa pestisida biorasional Agonal 866 dapat digunakan untuk menggggantikan pestisida sintetik Piretroid 25 EC dan Propineb 70 WP untuk mengendalikan A. porri dan S. exigua pada bawang merah dalam upaya memecahk an masalah pengg unaan pestisida sintetik yang berlebihan dalam pengertian mengurangi kuantum pemberian pestisida sintetik tersebut.ABSTRACT. Hadisoeganda, A.Widjaja, W. 2008. Application of Biorational Pesticide to Control Pests and Diseases of Shallot. Research concerning biorational and synthetic pesticides was conducted in order to reduce the overuse of synthetic pesticide on shallot cultivation. The experiment was carried out at farmer’s field in Rancaekek (elevation 650 m asl) Bandung District, from December 2001 until March 2002. The experiment was laid in a randomized block design, replicated 4 times. The treatments were application of biorational pesticide Agonal 866 and synthetic pesticide, either applied singly or alternately to control the most important pests and diseases of shallot. Biorational pesticide Agonal 866 is simply mixture of the crude extract of A. indica (8 parts) + A. nardus (6 parts) + A. galanga (6 parts), and the synthetic pesticide was a mixture of Pirethroid 25 EC and Propineb 70 WP 0.2%. The results of the experiment indicated that biorational pesticide Agonal 866 either applied singly or alternately with synthetic pesticide was as effective as synthetic pesticide in controlling purple blotch diseases caused by A. porri as well as harmful insect S. exigua. These evident strongly gave indication that biorational pesticide Agonal 866 could replace synthetic pesticide Pirethroid 25 EC and Propineb 70 WP in controlling A. porri and S. exigua on shallot in order to overcome the overuse of synthetic pesticide
Pengaruh Biokultur dan Pupuk Anorganik terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kentang Varietas Granola
ABSTRAK. Penggunaan pupuk buatan dapat meningkatkan hasil panen namun dampak negatifnya menurunkan tingkat kesuburan tanah. Untuk mengatasi hal ini diperlukan teknologi yang dapat menghemat penggunaan bahan agrokimia untuk mempertahankan kesuburan tanah, meningkatkan kualitas produk, dan meningkatkan pendapatan petani. Salah satu cara untuk mengatasi hal ini yaitu dengan teknologi enzimatis, seperti dengan penggunaan biokultur. Penelitian dilaksanakan di K.P. Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Lembang pada tanah Andisol, ketinggian tempat 1.250 m dpl, mulai bulan Maret sampai dengan Juli 2006. Tujuan penelitian untuk mendapatkan kombinasi takaran biokultur dan pupuk anorganik yang memberikan pertumbuhan tanaman paling baik dan hasil yang paling tinggi. Perlakuan terdiri dari 8 kombinasi biokultur dan pupuk buatan. Pupuk kimia 180 kg N/ha + 92 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha adalah dosis rekomendasi Balitsa. Dosis biokultur terdiri dari normal, yaitu 1.750 l/ha, di atas normal 2.000 l/ha, dan di bawah normal 1.500 l/ha. Dosis pupuk anorganik yaitu dosis rekomendasi Balitsa dan setengah dosis Balitsa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah acak kelompok dengan 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan biokultur dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kentang. Hasil umbi paling tinggi dicapai dengan perlakuan pupuk kimia 180 kg N/ha + 92 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha (rekomendasi Balitsa) + biokultur 2.000 l/ha, yaitu 15,30 kg/10,5 m2 (14,57 t/ha) tetapi tidak berbeda nyata dengan rekomendasi Balitsa tanpa biokultur yaitu 13,06 kg/10,5 m2 (12,43 t/ha).ABSTRACT. Nurtika, N., E. Sofiari, and G.A. Sopha. 2008. Effect of Bioculture and Anorganic Fertilizer on Growth and Yield of Potato Granola Variety. Experiment was carried out at Margahayu Experimental Garden, Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI), Lembang on Andisol soil type, 1,250 m asl from March until July 2006. The aim of this experiment was to observe the effect of combination of bioculture and anorganic fertilizer on the growth and yield of potato. The treatments consisted of 8 combinations of chemical fertilizer and bioculture. The chemical fertilizer dosage recommended by IVEGRI was 180 kg N/ha + 92 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha. Dosages of bioculture i.e. normal 1,750 l/ha, upper 2,000 l/ha, and lower 1,500 l/ha. Dosages of anorganic fertilizers i.e. recommended dosage and half of recommended dosage of IVEGRI. The experiment was laid in a randomized block design with 8 treatments and 4 replications. The results indicated that the combination of bioculture 2,000 l/ha with 180 kg N/ha + 92 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha (IVEGRI recommendation) gave the highest yield, i.e. 15.30 kg/10.5 m2 or equivalent to 14.57 t/ha and did not significantly different with the application of recommended fertilization by IVEGRI without bioculture with the yield of 13.06 kg/10.5 m2 or equal to 12.43 t/ha
Spesies Lalat Buah yang Menyerang Sayuran Solanaceae dan Cucurbitaceae di Sumatera Selatan
ABSTRAK. Penelitian bertujuan mengetahui spesies lalat buah yang menyerang sayuran Solanaceae dan Cucurbitaceae di sentra sayuran di Sumatera Selatan. Survei dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Juni 2006 di sentra tanaman sayuran famili Solanaceae (Lycopersicum esculentum Miller, Solanum melongena L., Lycopersicum pimpinellifoliumL., dan Capsicum annuum L.), dan Cucurbitaceae (Cucumis sativus L., Luffa acutangula L., Momordica charantia, Linn., dan Sechium edule Jack.). Spesies lalat buah yang ditemukan di Sumatera Selatan ada 4, yaitu Bactrocera cucurbitae (Coquillett), B. dorsalis (Hendel), B. tau (Walker), dan B. umbrosus Fabricius. Dari keempat spesies tersebut B. cucurbitae muncul dari buah C. sativus, L. acutangulata, M. charantia, dan S. edule. Bactrocera tau muncul dari buah C. sativus, dan B. dorsalis muncul dari buah C. annuum, L. esculentum, L. pimpinellifolium, dan S. melongena. Lalat buah yang terperangkap melalui perangkap metil eugenol, yaitu B. dorsalis, B. cucurbitae, dan B. umbrosus.ABSTRACT. Herlinda, S., Zuroaidah, Y. Pujiastuti, S. Samad, and T. Adam. 2008. Species of Fruitfly Attacking Solanaceous and Cucurbitaceous Vegetables in South Sumatera. The research was aimed to identify the species of fruitfly infesting Solanaceous and Cucurbitaceous vegetables at the center of vegetable production in South Sumatera. Survey had been conducted in central areas of Solanaceous vegetable (Lycopersicum esculentum Miller, Solanum melongena L., Lycopersicum pimpinellifolium L., and Capsicum annuum L.), and cucurbitaceous vegetable (Cucumis sativus L., Luffa acutangula L., Momordica charantia Linn., and Sechium edule Jack). There were 4 fruitfly species found in South Sumatera, i.e. Bactrocera cucurbitae (Coquillett), Bactrocera dorsalis (Hendel), Bactroceratau (Walker), and Bactrocera umbrosus Fabricius. Among them, B. cucurbitae was found on fruits of C. sativus, L. acutangulata, M. charantia, and S. edule; Bactrocera tau was found on fruits of C. sativus; B. dorsalis was found on fruits of C. annuum, L. esculentum, L. pimpinellifolium, and S. melongena. Three species of fruitfly were trapped by methyl eugenol, namely B. dorsalis, B. cucurbitaceae, and B. umbrosus
Respons Tanaman Paprika (Capsicum annuum var. grossum) terhadap Serangan Thrips parvispinus Karny (Thysanoptera:Thripidae)
ABSTRAK. Penelitian mengenai respons tanaman paprika terhadap serangan Thrips parvispinus Karny telah dilaksanakan dari bulan Maret sampai Desember 2003 di Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang (1.250 m dpl). Tujuannya adalah mengetahui pengaruh waktu penyerangan T. parvispinus terhadap kerusakan tanaman dan kehilangan hasil. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 macam perlakuan, dan tiap perlakuan diulang sebanyak 8 kali. Macam perlakuan yang diuji adalah tanaman yang terserang mulai (a) 2 minggu setelah tanam, (b) 4 minggu setelah tanam, (c) 6 minggu setelah tanam, dan (d) 8 minggu setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) serangan trips dapat menurunkan hasil panen paprika secara nyata, (2) serangan T. parvispinus dalam bentuk nimfa maupun imago memiliki pengaruh nyata terhadap penurunan hasil panen paprika, (3) semakin awal terjadinya serangan, semakin tinggi kerusakan tanaman dan penurunan hasilnya, baik secara kualitas maupun kuantitas, (4) tanaman berumur muda atau pada fase vegetatif lebih rentan terhadap serangan trips, dan (5) pengendalian trips pada tanaman paprika harus dilakukan sejak awal tanam.ABSTRACT. Prabaningrum, L. and T.K. Moekasan. 2008. Response of Sweet Pepper (Capsicum annuum var. grossum) to Infestation of Thrips parvispinus Karny (Thysanoptera:Thripidae). The experiment was conducted from March until December 2003 at the Indonesian Vegetable Research Institute in Lembang. The aim of the study was to determine effect of time of initial infestation on plant damage and yield loss. Four treatments were arranged using randomized complete block design and each treatment was replicated 8 times. The treatments tested were plant infested at (a) 2 weeks after transplanting, (b) 4 weeks after transplanting, (c) 6 weeks after transplanting, and (d) 8 weeks after transplanting. Results showed that (1) thrips infestation could significantly reduce the yield, (2) infestation of both nymph and imago of thrips could significantly decrease the yield, (3) the earlier of plant infested the higher of plant damage and the yield loss, either the quantity or the quality, (4) the young plant or plant in vegetative periode was susceptible to thrips infestation, and (5) control measure of thrips has to be done earliest
Idiotipe Durian Nasional Berdasarkan Preferensi Konsumen
ABSTRAK. Survei untuk menetapkan karakter idiotipe durian nasional berdasarkan preferensi konsumen terhadap karakter fisik dan citarasa (biofisik) dilakukan dari bulan November 2005 sampai Oktober 2006 di 7 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Kalimantan Tengah. Sampel dipilih menggunakan kaidah purposive random sampling. Data dikumpulkan melalui penyebaran angket dan wawancara terhadap 430 responden yang terdiri atas pegawai negeri sipil dan pensiunan, karyawan dan wiraswasta, pedagang buah, pekebun, penangkar bibit, pelajar, dan ibu rumah tangga. Hasil survei menunjukkan bahwa karakter biofisik dominan yang menjadi penentu responden memilih durian adalah ukuran buah sedang (1,6-2,5 kg), aroma kuat, daging tebal bertekstur lembut kering (pulen), dan rasanya manis legit, sedangkan bentuk buah lonjong, warna kulit hijau coklat, panjang duri sedang, warna daging kuning, serta biji berukuran kecil diidentifikasi sebagai karakter pendamping. Karakter-karakter biofisik dominan tersebut menggambarkan suatu karakter idiotipe durian nasional. Karakter ini disarankan sebagai acuan bagi pekebun dalam memilih varietas durian yang akan dikembangkan dan bagi pemulia tanaman durian untuk merakit atau menyeleksi varietas unggul baru.ABSTRACT. Santoso, P. J., Novaril, M. Jawal A. S., T. Wahyudi, and A. Hasyim. 2008. Idiotype of National Durian Based On Consumer’s Preference. A survey to determine idiotype characters of Indonesian durian based on consumer’s preference on fruit biophysic was conducted from November 2005 to October 2006 in 7 provinces of North Sumatera, West Sumatera, DKI Jakarta, Banten, West Java, East Java, and Central Kalimantan. Samples were determined using purposive random sampling. Data was collected through questioner distribution and interview on 430 respondents consisted of active and retirement government official, functionary and entrepreneur, durian trader, grower, nurseryman, student, and housewife. The results indicated that the predominant biophysic characters driving consumer to pick durian which denoting the idiotype of current Indonesian durian were medium fruit size (1,6-2,5 kg), strong aroma, thick flesh, fatty flesh texture, and deep-sweet flesh taste. Meanwhile, oblong shape, green brownish skin, medium spine, yellow aril, and small seeds are identified as co-idiotype characters. This idiotype was predicted persistent for next 10-20 years. It is, therefore, recommended as guidance for grower to choose the available durian varieties to be planted, and for durian breeder to establish or select new superior varieties
Pengaruh Komposisi Media Dasar, Penambahan BAP, dan Pikloram terhadap Induksi Tunas Bawang Merah
ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Sayuran pada bulan Maret-Juni 2005, dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan zat pengatur tumbuh BAP dan pikloram pada media dasar MS dan B5 terhadap pertumbuhan tunas bawang merah kultivar Sumenep. Bahan tanaman yang digunakan adalah jaringan meristematik sedangkan media tumbuh yang diuji adalah media dasar MS dan B5 dengan konsentrasi BAP (0, 1, dan 2 mg/l), pikloram (0, 0,1, dan 0,2 mg/l). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan pertumbuhan plantlet akibat penambahan zat pengatur tumbuh BAP dan pikloram. Persentase daun normal terbesar didapat dari perlakuan B5 tanpa pikloram dan BAP, media MS tanpa pikloram. Pertumbuhan akar plantlet lebih baik yang dikulturkan pada media MS tanpa hormon atau dengan penambahan hormon dengan konsentrasi terendah.ABSTRACT. Karjadi, A.K. and Buchory, A. 2008. The Effect of Additional BAP and Picloram to Basal Medium MS and B5 on Shoot Induction of Shallot. The`experiment was conducted in Tissue Culture Laboratory of Indonesian Vegetable Research Institute in Lembang on March-June 2005. Objective of the experiment was to find out the effect of additional BAP and picloram to basal medium MS and B5 on shoot induction of shallot cv. Sumenep. The treatments were culturing meristem tissue (shoot tip) on medium MS and B5 with concentration of BAP (0, 1, and 2 mg/l), and picloram (0, 0,1, and 0,2 mg/l). The results showed that there were differences on plantlet growth with addition of BAP and picloram. Meristematic tissue of shallot cv. Sumenep could be proliferated on medium MS or B5. The highest percentage of normal leaf growth was obtained by B5 medium without picloram or BAP, and MS medium without picloram. The best roots growth was found in culture of MS medium without or with low concentration of hormone
Perilaku Petani Sayuran dalam Menggunakan Pestisida Kimia
ABSTRAK. Penggunaan pestisida kimia di tingkat petani sayuran diindikasikan dalam jumlah yang berlebih, sementara hal tersebut sangat berbahaya baik bagi lingkungan maupun manusia. Berkaitan dengan masalah di atas telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengkaji perilaku petani tomat dalam menggunakan pestisida kimia serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Juli 2004 di sentra produksi tomat Kecamatan Pangalengan dan Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, mengunakan metode survei. Jumlah petani responden yang diwawancara adalah 156 orang. Penentuan lokasi penelitian (kecamatan dan desa) dilakukan secara sengaja berdasarkan luas areal tanam terbesar, sedangkan pemilihan petani responden di setiap desa dilakukan dengan metode acak berlapis berdasarkan luas lahan garapan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan uji statistik analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku petani tomat dalam menggunakan pestisida kimia dipengaruhi oleh (1) persepsi petani terhadap risiko, semakin tinggi persepsi petani terhadap risiko maka semakin tinggi kuantitas pestisida kimia yang digunakan, (2) persepsi petani tentang ketahanan kultivar tomat terhadap OPT, semakin rendah ketahanan suatu kultivar semakin tinggi kuantitas pestisida kimia yang digunakan, serta (3) pengetahuan petani tentang bahaya pestisida, semakin rendah pengetahuan petani semakin tinggi kuantitas pestisida yang digunakan.ABSTRACT. Ameriana, M. 2008. Farmer’s’s Behavior in Using Chemical Peststicide on Vegetablble. The use of chemical pesticides at the vegetable farmer’s level has been indicated to be excessive, and it was hazardous to environment and human health. This study was aimed to assess the tomato farmer’s behavior in using chemical pesticides and factors that may influence this behavior. A survey was carried out on June-July 2004 on tomato production centers, Lembang and Pangalengan, Bandung District. There were 156 respondents (farmers) interviewed in this study. Research location (subdistrict and village) were selected purposively based on the largest tomato planted area. Respondents were selected by using stratified random sampling, based on their farm size. Data were analyzed by using descriptive statistics and path analysis. The results showed that tomato farmer’s behavior was influenced by (1) farmer’s perception on risks, the higher the risk perception the higher the quantity of chemical pesticide used, (2) farmer’s perception on cultivar resistance to tomato pests, the lower the cultivar resistance the higher the quantity of chemical pesticide used, (3) farmer’s knowledge on the danger of pesticides, the lower the knowledge, the higher the quantity of chemical pesticide used
Pengaruh Durasi Pemanasan terhadap Keberadaan Chrysanthemum Virus-B pada Tiga Varietas Krisan Terinfeksi
ABSTRAK. Chrysanthemum virus-B (CVB) merupakan salah satu jenis virus penting yang dapat menyebabkan degenerasi pertumbuhan pada tanaman krisan. Usaha eliminasi virus pada tanaman terinfeksi merupakan salah satu upaya untuk mendapatkan kembali tanaman sehat dengan potensi genetik yang sesuai dengan varietas asalnya. Usaha eliminasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kombinasi metode pemanasan dan kultur meristem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh durasi pemanasan terhadap kandungan partikel CVB pada plantlet 3 varietas krisan terinfeksi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Laboratorium Virologi Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dari bulan Februari hingga Agustus 2005. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan 5 ulangan. Faktor pertama adalah 3 varietas krisan yaitu Cut Nyak Dien, Sakuntala, dan Yellow Fiji. Faktor kedua adalah durasi terapi pemanasan dengan 3 taraf, yaitu 1, 2, dan 3 minggu pemanasan suhu 38-40oC. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan toleransi antarvarietas yang dicoba terhadap durasi suhu tinggi akibat perlakuan pemanasan. Pada ketiga varietas yang dicoba, jumlah plantlet hidup pascaperlakuan pemanasan menurun seiring dengan semakin lamanya durasi pemanasan. Persentase plantlet bebas virus semakin meningkat seiring dengan lamanya durasi pemanasan yang dilakukan dan perlakuan pemanasan selama 3 minggu yang diikuti kultur meristem secara efektif dapat membebaskan plantlet krisan dari infeksi CVB.ABSTRACT. Budiarto, K., Y. Sulyo, I.B. Rahardjo, and D. Pramanik. 2008. The Effect of Duration of Heat Treatment on Chrysanthemum Virus-B at Three Varieties of Infected Chrysanthemum. Chrysanthemum virus-B (CVB) is one of the important pathogenic viruses caused significant degeneration on chrysanthemum growth. Efforts have been made to get the healthy protocols by eliminating virus from the infected plants. One of the promising methods was the combination of heat treatments and meristem culture. The research was conducted to find out the influence of heat durations of meristem culture on the existence of CVB on infected chrysanthemum plants. The experiment was carried out in Tissue Culture Laboratory and Virology Laboratory of The Indonesian Ornamental Crops Research Institute from February until August 2005. A randomized completely block design with 5 replications was used. The first factor was 3 chrysanthemum varieties, namely Cut Nyak Dien, Sakuntala, and Yellow Fiji. The second factor was duration of heat treatments; 1, 2, and 3 weeks heat treatments at 38-40oC. The results of the experiment showed that different responses existed among varieties to heat durations. The plantlet survival rates also decreased in line with the length of heat duration. However, the percentage of virus-free plantlets increased along with the lengthened heat treatments. Three weeks heat treatment of meristem culture, effectively eliminated CVB from infected plantlets
Pengendalian Penyakit Sayuran yang Ditanam dengan Sistem Budidaya Mosaik pada Pertanian Periurban
ABSTRAK. Efek negatif penggunaan pestisida sintetik yang berlebihan telah banyak dideteksi, bukan hanya di daerah produksi sayuran dataran tinggi saja, tetapi juga di pertanian periurban. Agar mendapatkan alternatif metode pengendalian penyakit alternatif selain penggunaan pestisida sintetik, seperangkat percobaan lapangan telah dilakukan di kebun petani daerah periurban, di Rancaekek (elevasi 680 m dpl), Bandung, Jawa Barat, dari Januari sampai Juli 2001. Percobaan digelar menggunakan rancangan acak kelompok, diulang 6 kali. Sayuran tersebut ditanam dengan sistem budidaya mosaik di kawasan pertanian periurban. Perlakuan yang diuji adalah kurungan net plastik putih, pestisida biorasional Agonal 866 + Tigonal 866, Bacillus subtilis 108, Mancozeb 64 WP 0,2% + B. subtilis 108, dan tanpa pestisida (kontrol). Hasil penelitian memberi indikasi bahwa semua metode pengendalian yang diuji sangat efektif mengendalikan penyakit utama cabai, bawang merah, terung, buncis, dan mentimun. Penemuan ini sangat penting bahwa penggunaan pestisida sintetik yang sangat beracun di pertanian periurban, dan urban mengakibatkan senyawa beracun tersebut lebih berpeluang meracuni manusia dan lingkungan.ABSTRACT. Suryaningsih, E. 2008. Disease Control Method for Several Vegetables Planted in Mosaic Farming System in Periurban Agriculture. The negative effects of the overuse of synthetic pesticides has been detected, not only in highland vegetable growing areas but also in periurban agriculture. In order to find out an alternative disease control method other than application of synthetic pesticide, a set of field experiment was conducted at periurban area farmer’s field in Rancaekek (elevation 680 m asl), Bandung, West Java, from January to July 2001. The experiment was laid in a randomized block design, replicated 6 times. The following treatments were employed, namely white plastic net cage, biorational pesticide Agonal 866 + Tigonal 866, Bacillus subtilis 108, Mancozeb 64 WP 0.2% + B. subtilis 108, and unsprayed (control). The results of the experiment gave positive indication that all of alternative control method were very effective to control the major disease of chili pepper, shallot, egg plant, beans, as well as cucumber planted in mosaic farming system in periurban agriculture. These findings were very important since application of poisonous synthetic pesticide in periurban, as well as in urban agriculture tend to be overused and harmfull for human being as well as environment