Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Sumber Inokulum, Respons Varietas, dan Efektivitas Fungisida terhadap Penyakit Karat Putih pada Tanaman Kris
ABSTRAK. Penelitian untuk mengetahui peranan bibit sebagai sumber inokulum, respons varietas krisan, serta intervalpenyemprotan fungisida dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Hias. Survai kesehatan bibit dilakukan di lahan petanipenghasil bibit krisan pada bulan Juli 2002. Penelitian di rumah plastik untuk mengetahui respons varietas krisanserta efektivitas penyemprotan fungisida, dilakukan dari bulan Juli-September 2002. Hasil penelitian menunjukkanbahwa bibit merupakan sumber inokulum bagi penyakit karat pada tanaman krisan. Pada tanaman individual, baik dirumah plastik maupun rumah kaca, perkembangan penyakit karat tertekan. Kultivar Phuma White relatif lebih tahandibanding cv. Reagent Ungu dan cv. Town Talk. Fungisida benomil (benzimidazol) belum menunjukkan keefektifanuntuk pengendalian penyakit karat pada tanaman krisan (Puccinia horiana).ABSTRACT. Suhardi. 2009. Inoculum Source, Variety Response, and Fungicide Efficacy to Rust Disease ofChrysanthemum. Studies to evaluate the role of cutting as an inoculum source, variety resistance, and fungicideapplication interval were done at Indonesian Ornamental Crops Research Institute. Survey of cutting health wascarried out at farmer’s fields as seed producer on July 2002. A study under plastichouse to evaluate the response ofsome cultivars and determine the efficacy of fungicide applications was carried out from July-September 2002. Theresults indicated that cuttings were the inoculum source of rust on chrysanthemum. On individual plant, both underplastic and glasshouse, the development of white rust was suppressed. Phuma White cultivar relatively more resistantthan cv. Reagent Ungu and cv. Town Talk. Benomyl (benzimidazole) fungicide was not effective yet in controllingchrysanthemum white rust (P. horiana)
Pengaruh Ukuran Batang Bawah dan Batang Atas terhadap Pertumbuhan Durian Monthong, Hepe, dan DCK-01
ABSTRAK. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Sumani, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, mulaibulan Februari sampai dengan Oktober 2007. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh sambung pucuk dariberbagai ukuran batang bawah dengan 3 varietas batang atas durian. Perlakuan terdiri dari berbagai ukuran diameterbatang bawah, yaitu ukuran kecil (KCL= 0,35-0,40 cm), sedang (SDN= 0,45-50 cm), dan besar (BSR= 0,55-60cm). Varietas lokal DCK-01 digunakan sebagai batang bawah, selanjutnya batang bawah tersebut disambung denganmenggunakan batang atas Monthong (MNT), Hepe (HP), dan DCK-01. Batang bawah berasal dari semaian biji durianlokal DCK-01 yang berumur 2 bulan, sedangkan batang atas berasal dari pucuk durian varietas Monthong dan Hepeyang berasal dari koleksi plasma nutfah Balitbu Tropika. Rancangan percobaan menggunakan acak kelompok dengan3 ulangan, setiap perlakuan terdiri dari 10 tanaman. Parameter yang diamati meliputi ukuran diameter sambungan,jumlah tunas yang keluar, jumlah daun, tinggi tanaman, jumlah daun dalam tunas, dan bobot kering akar. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa varietas lokal DCK-01 ukuran sedang (0,45-0,55 cm) dan ukuran besar (0,55-0,60cm) dapat dipergunakan sebagai batang bawah dalam penyambungan dengan batang atas varietas Monthong, Hepe,dan DCK-01. Kompatibilitas penyambungan terbaik terjadi antara batang bawah DCK-01 ukuran besar (0,55-0,60cm) dengan batang atas Hepe menghasilkan diameter sambungan 1,00 cm, jumlah tunas 2,93, tinggi tanaman 32,07cm. Hasil penelitian ini bermanfaat dalam upaya perbaikan sistem perbenihan tanaman durian.ABSTRACT. Sudjijo. 2009. The Influence of Rootstok Sizes on the Growth of Scion Monthong, Hepe, andDCK-01 Durian Varieties. The research was conducted at Sumani experimental field of ITFRI from February toOctober 2007. The objective of this research was to know the influence of rootstock diameter sizes on the growth ofscion of 3 durian varieties. The treatments consist of several diameter sizes of rootstock namely of small sizes 0.35-0.40 cm, medium 0.45-0.50 cm, and big 0.55-0.60 cm. Local variety of DCK-01 was used as rootstock. The rootstockswas grafted on scion of DCK-01, Hepe (HP), and Monthong (MNT). The rootstocks were originally from 2 monthseedlings of local variety DCK-01 meanwhile scions were from germplasm collection of ITFRI. Randomized blockdesign with 3 replications was used in this research, hence, there were 10 plants in each treatments. The parametersobserved were grafting diameter, bud break number, flush number, leaves number, plant height, leaves numberon flush, and root dry weight. The results showed that medium and big diameter size of local variety DCK-01 couldbe used as rootstock on the grafting with Monthong, Hepe, and DCK-01 scion. The best compatibility of graftingwas showed by big diameter size of DCK-01 rootstock (0.55-0.60 cm) on Hepe scion, with grafted diameter 1.00cm, number of flush 2.93 and height of plant 32.07 cm. This research was useful for improving the availability ofdurian seedling
Pengetahuan Petani dan Keefektifan Penggunaan Insektisida oleh Petani dalam Pengendalian Ulat Spodoptera exigua Hubn. pada Tanaman Bawang Merah di Brebes dan Cirebon
Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi pengetahuan dan keefektifan penggunaan insektisidaoleh petani dalam pengendalian ulat Spodoptera exigua Hubn. pada tanaman bawang merah. Penelitian dilakukanpada bulan November 2005 menggunakan metode survei, di Kecamatan Losari dan Pabedilan, Kabupaten Cirebonserta di Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes. Data dikumpulkan melalui teknik diskusi kelompok dan wawancaraindividual menggunakan kuesioner. Total jumlah responden yang diwawancara adalah 100 orang. Data yang terkumpuldianalisis menggunakan metode statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hama utama bagi petanidi Brebes dan Cirebon adalah S. exigua, S. mauritia, dan Liriomyza sp.. Untuk mengendalikan serangan hama S.exigua, petani di Brebes dan Cirebon mempunyai keterbatasan pengetahuan dan sumber informasi dalam memilihjenis insektisida yang efektif. Petani di Brebes dan Cirebon melakukan penyemprotan insektisida secara rutin, dengankonsentrasi formulasi 150-200% lebih tinggi dari rekomendasi dan interval penyemprotan pendek 1-2 hari sekali. Adaindikasi kuat bahwa penggunaan insektisida yang intensif oleh petani dipicu oleh kurang efektifnya jenis insektisidayang digunakan petani. Hama S. exigua di Brebes diduga telah resisten terhadap 3 dari 7 jenis insektisida (48%)yang digunakan petani, sedangkan di Cirebon telah resisten terhadap 5 dari 8 jenis insektisida (63%) yang digunakanpetani. Sebagian besar petani menggunakan insektisida campuran untuk mengendalikan hama S.exigua. Di Brebes,dari 17 petani yang menggunakan campuran 2 jenis insektisida, 8 petani (47%) menggunakan campuran yang bersifatsinergistik dan 2 petani (12%) menggunakan campuran yang bersifat antagonistik, sedangkan sisanya belum diketahui.Di Cirebon, dari 18 petani yang menggunakan campuran 2 jenis insektisida, 6 petani (33%) menggunakan campuranyang bersifat sinergistik, 5 petani (28%) menggunakan campuran yang bersifat antagonistik, dan sisanya tidak diketahui.Pengendalian hama S.exigua menggunakan insektisida yang dilakukan oleh 54% petani di Brebes dan 74% petani diCirebon masih belum efektif, dengan kerusakan tanaman oleh hama >10%. Komponen teknologi pengendalian yangdibutuhkan dan sesuai dengan kondisi petani adalah teknik memilih jenis insektisida yang efektif dan pencampuraninsektisida yang bersifat sinergistik.ABSTRACT. Basuki, R.S. 2009. Farmers’ Knowledge and the Effectiveness of Insecticide-use Practiced byFarmers to Control Spodoptera exigua on Shallots in Brebes and Cirebon. The objective of the research was tounderstand farmer’s knowledge and effectiveness of insecticides application done by farmers to control Spodopteraexigua on shallots in Brebes and Cirebon. Research was conducted in November 2005 through a survey in Losari andPabedilan Subdistricts in Cirebon District, and Wanasari Subdistrict in Brebes District. Data were collected through agroup discussion and individual interview using a questionnaire. Total respondents interviewed was 100 farmers. Datawas analyzed using descriptive statistics. The results showed that the main pest for farmers in Brebes and Cirebonwere S. exigua, S. mauritia, and Liriomyza sp.. Farmers in Brebes and Cirebon had a lack of knowledge and source ofinformation in selecting effective insecticides to control S. exigua. Farmers in Brebes and Cirebon sprayed insecticides ina routine basis, using a high concentration of formulation, 150-200% of the recommended rate, with interval of sprayingevery day or 2 days, in order to control the existing damages by S. exigua not becoming more severe. There was a strongindication that intensive application of insecticides done by farmers was triggered by ineffective insecticides selectedand used by farmers. Spodoptera exigua in Brebes was resistant to 3 from 7 types of insecticides (48%) used by farmers,whereas in Cirebon was resistant to 5 from 8 types of insecticides (63%) used by farmers. Most farmers applied a mixedinsecticides to control S.exigua. In Brebes, from 17 farmers who used a mixture of 2 insecticides, 8 farmers (47%)used a mixture with a sinergistics effect, 2 farmers (12%) used a mixture with an antagonistics effect, and the rest wasunknown. In Cirebon, from 18 farmers who used a mixture of 2 insecticides, 6 farmers (33%) used a mixture with asinergistics effect, 5 farmers (28%) used a mixture with an antagonistics effect, and the rest was unknown. Applicationof insecticides to control S. exigua done by 54% farmers in Brebes and 74% farmers in Cirebon were not effective.The plant damages by the pest still >10%. The technological components required by farmers and suitable for farmerscondition were techniques for selecting effective insecticides and mixing insecticides with sinergistics effect
Kultivar dan Formula Pupuk pada Pertumbuhan Bunga Potong Anthurium
ABSTRAK. Bunga potong Anthurium (Anthurium andraeanum Lind.) mempunyai bentuk bunga yang khas sepertitopi, terdiri dari spathe dan spadix dengan warna spathenya yang sangat beragam, dikenal mempunyai kesegaran bungadalam vas yang lama. Penelitian bertujuan untuk memperoleh formula pupuk yang tepat dan kultivar yang baik untukpertumbuhan dan produksi bunga potong Anthurium. Penelitian dilakukan di Rumah Sere Balai Penelitian TanamanHias (Balithi) dengan ketinggian 1.100 m dpl dari bulan Januari sampai Desember 2006. Percobaan menggunakanrancangan acak kelompok pola faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama 2 kultivar, yaitu kultivar Tropical danAvo Orange, sedangkan faktor kedua formula pupuk, yaitu (1) formula anthura sebagai kontrol, (2) formula Balithi1, (3). formula Balithi 2, (4) formula Balithi 3, dan (5) formula Balithi 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwajumlah klorofil, panjang dan diameter spadik, serta diameter tangkai bunga kultivar Tropical nilainya lebih besardibandingkan kultivar Avo Orange, yaitu berturut-turut 63,96 unit; 5,81; 6,77 cm; dan 4,86 mm. Sedangkan kultivarAvo Orange lebih cepat inisiasi bunganya, tangkai bunga lebih panjang dengan produksi bunga lebih tinggi, yaitumasing-masing 45,19 hari, 46,27 cm, dan 19,13 tangkai/petak. Formula pupuk 4 menghasilkan tanaman dengan inisiasibunga tercepat, yaitu 49,36 hari, sedangkan formula pupuk 3 menghasilkan bunga tinggi sebesar 18,0 tangkai/petak.Hasil penelitian memberikan informasi tentang adanya kultivar Anthurium yang produktif dan bermutu baik sertaformula nutrisi yang mudah diperoleh.ABSTRACT. Tedjasarwana, R. and S. Wuryaningsih. 2009. Cultivars and Fertilizer Formulae on the Growthof Anthurium Cut Flower. Anthurium cut flower (Anthurium andraeanum Lind.) has spesific flower form like hatconsist of spathe and spadix with variation on spathe color, and has long vaselife. The objectives of this researchwere to find out fertilizer formula and cultivars of Anthurium to increase the productivity of Anthurium cut flower.The experiment was carried out in a Screenhouse of Segunung Field Trial at Indonesian Ornamental Crops ResearchInstitute (IOCRI) from January to December 2006 at 1,100 m asl. Factorial design with 3 replications was used.The first factor was 2 cultivars of Anthurium cut flower consist of Tropical and Avo Orange. The second factor wasfertilizer formula: (1) Anthura as a control, (2) IOCRI 1, (3) IOCRI 2, (4) IOCRI 3, and (5) IOCRI 4. The resultsshowed that chlorophyl number, length and diameter of spadix, also flower stalk diameter of Tropical variety washigher than Avo Orange, i.e. 63.96 unit; 5.81; 6.77 cm, and 4.86 mm, respectively. On the other hand, Avo Orangeshowed faster flower initiation with flower stalk length and flower production higher than Tropical, i.e. 45.19 days;46.27 cm, and 19.13 flower stalk/plot respectively. Fertilizer IOCRI 4 showed fastest flower initiation (49.36 days)and fertilizer IOCRI 3 indicated the highest on flower production (18.0 flower stalk/plot)
Preferensi Konsumen Hotel terhadap Bunga Potong Gerbera
Gerbera merupakan salah satu jenis bunga potong yang banyak diminta pasar. Dilihat dari besarnyapenjualan bunga potong gerbera di pasar bunga Rawabelong, berarti terbuka peluang bagi petani untuk meningkatkanproduksi bunga potong tersebut. Namun demikian, satu hal yang harus diperhatikan bahwa jenis bunga potonggerbera cukup banyak, sehingga perlu dipilah jenis-jenis yang paling disukai konsumen. Tujuan penelitian adalahuntuk mengetahui preferensi konsumen hotel terhadap bunga potong gerbera. Penelitian dilakukan di hotel-hotelberbintang 4 dan 5 di wilayah DKI Jakarta, pada bulan September 2005-Februari 2006. Pemilihan hotel berbintang 4dan 5 adalah dengan pertimbangan bahwa hotel tersebut merupakan sentra kegiatan pelaku bisnis yang menggunakanrangkaian bunga segar sebagai dekorasi ruangan. Responden penelitian adalah konsumen antara, yaitu floris-florishotel yang menyediakan bunga untuk dekorasi ruangan hotel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang palingmemengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian bunga potong adalah pendidikan. Dari sisi produk, gerberayang banyak dicari konsumen adalah yang berkualitas tetapi harga tidak terlalu mahal dan diantar ke tempat olehsupplier. Promosi bunga melalui pameran merupakan salah satu kemudahan bagi responden untuk mendapatkaninformasi mengenai bunga potong umumnya dan gerbera khususnya. Selain itu, konsumen floris menyukai gerberaintroduksi yang sudah lama dikembangkan di Indonesia atau sering disebut sebagai jenis lokal, semua warna, ukuranbunga sedang, ketahanan bunga sekitar 5 hari.ABSTRACT. Nurmalinda and A. Yani. 2009. Hotel Consumer Preference on Gerbera Cut Flower. Gerberais one of cut flowers that has high market demand. High selling of gerbera cut flower in Rawabelong is a signal forfarmers to increase their production. However, it should be noted that the type of gerbera is quite a lot. Therefore,farmer should be aware of the type of gerbera mostly desired. This study was intended to examine hotel consumerpreference on gerbera cut flower. The research was carried out in 4 and 5 star hotel in Jakarta from September 2005to February 2006. Ten of 4 star hotels and 9 of 5 star hotels were selected purposively based on the potential ofbussinesmen using flower arrangement for room decoration. The florists of these hotels who provided flower forroom decoration were chosen as respondents. The results indicated that the main factor influenced the consumersto buy flower was education. In term of product, gerbera mostly demanded by consumers was of best quality, withreasonable price, and delivered by supplier. Flower exhibition provided an easy opportunity to get information oncut flowers in general and especially for gerbera. Furthermore, florist prefered gerbera that has been introduced anddeveloped in Indonesia for decades, or so called local variety of all color, medium size, 5 days vaselife
Eradikasi Tanaman Pisang Terinfeksi Fusarium Menggunakan Glifosat dan Minyak Tanah
Penyakit layu fusarium merupakan salah satu kendala utama produksi pisang di dunia, karenanyapengelolaan tanaman terinfeksi menjadi isu penting dalam pengendalian penyakit. Penelitian bertujuan untukmendapatkan informasi tentang perkembangan cendawan fusarium dari jaringan terinfeksi dan mencari metodeeradikasi tanaman yang terserang penyakit. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Tanaman dan KebunPercobaan Aripan, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika dari bulan Juli 2007 sampai Maret 2008, terdiri dari 3tahap kegiatan, yaitu (1) sporulasi cendawan Fusarium oxysporum f.sp. cubense pada jaringan pembuluh vaskularsecara in vitro, (2) sporulasi cendawan fusarium akibat pemotongan batang semu pada tanah steril, dan (3) eradikasitanaman terinfeksi secara kimiawi. Hasil penelitian menunjukkan (a) pemotongan jaringan terinfeksi merangsangpembentukan konidiofor, sporulasi, dan produksi konidia, (b) peningkatan luas permukaan jaringan yang terinfeksipenyakit yang terbuka sampai 4,5 kali yang dapat meningkatkan produksi konidia sampai 14,83 kali, (c) fitotoksispada tanaman pisang terserang penyakit layu fusarium yang dieradikasi dengan herbisida glifosat terjadi pada 3-4hari setelah aplikasi dan mencapai nekrotik pada 14-16 hari setelah aplikasi, dan (d) injeksi 10 ml glifosat merupakanmetode eradikasi yang paling baik terhadap tanaman yang terserang penyakit layu fusarium karena mengakibatkanintensitas dan insidensi nekrosis daun, serta kematian patogen yang paling tinggi. Hasil penelitian dapat digunakansebagai dasar dalam pengelolaan tanaman pisang yang terserang penyakit layu fusarium secara tepatABSTRACT. Hermanto, C., Eliza, and D. Emilda. 2009. Eradication of Fusarium Infected Banana PlantUsing Glyphosate and Kerosene. Fusarium wilt disease is one of the major constraints of world banana production.Management of diseased plants becomes a critical issue in disease control. Research was aimed to gain information offusarium development from infected tissue and method to eradicate dying-infected plant. The research was conductedin Plant Protection Laboratory and Aripan Experimental Farm, Indonesian Tropical Fruit Research Institute from July2007 to March 2008, consisting of 3 steps, namely (1) in vitro sporulation of fusarium from dying-infected tissue,(2) study of fusarium sporulation from dying-infected tissue on sterile soil, and (3) chemical eradication of fusariumwilt dying plants. The results showed that (a) cutting of dying-infected tissue stimulated conidiophore formation,sporulation, and conidial production, (b) increase of the surface of dying-infected tissue by 4.5 times resulted inincrease of conidial production until 14.83 times, (c) phytotoxic of banana plant started appearing on 3-4 days afterapplication of glyphosate herbicide, and reached total necrotic on 14-16 days, and (d) 10 ml glyphosate injectioncaused phytotoxis on leaves, petioles, pseudostem, and fruits, resulting in the best eradication method for fusariumwilt dying plant with highest severity and incidence of leaf necrosis, and pathogen mortality. The results can be usedto properly manage fusarium wilt dying-infected banana plant
Aktivitas Antijamur Minyak Atsiri terhadap Penyakit Antraknos Buah Pisang di Penyimpanan pada Kondisi Laboratorium
ABSTRAK. Antraknos yang disebabkan oleh Colletotrichum sp. merupakan penyakit penting yang menyerangbuah pisang pada penyimpanan. Teknologi yang direkomendasikan untuk mengendalikan penyakit ini adalah denganpenerapan perlakuan panas dan penggunaan fungisida. Teknologi alternatif yang mempertimbangkan keamanankonsumen dan lingkungan sangat diperlukan untuk menggantikan penggunaan fungisida. Tujuan penelitian adalahmengevaluasi aktivitas antijamur beberapa minyak atsiri yang diekstrak dari daun kayu manis, sereh wangi, dankulit jeruk besar terhadap penyakit antraknos. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman BalaiPenelitian Tanaman Buah Tropika pada suhu ruang mulai dari bulan Januari sampai Mei 2007. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa minyak atsiri mampu menekan perkembangan miselium jamur Colletotrichum sp.. Minyakatsiri yang diekstrak dari daun kayu manis mempunyai nilai penghambatan tertinggi (65-72%) terhadap pertumbuhanmiselium Colletotrichum sp., diikuti oleh nilai penghambatan minyak atsiri sereh wangi (62-64%), dan kulit jerukbesar (14-19%). Hasil ini menunjukkan bahwa minyak atsiri mempunyai potensi yang baik untuk dikembangkansebagai teknologi alternatif yang mempertimbangkan keamanan konsumen dan lingkunganABSTRACT. Istianto, M. and Eliza. 2009. Antifungal Activity of Essential Oils Against Anthracnose Disease onBanana Fruit During Storage at Laboratory Conditions. Anthracnose, caused by Colletotrichum sp., is importantdisease attacking banana fruit during storage. The technologies recommended to control anthracnose were fungicideand heat treatment application. Alternative technologies that considered safe to consumer and environment areneeded to replace the use of fungicides. The aim of this experiment was to evaluate antifungal activity of essentialoils extracted from Cinnamomum burmanni, Cymbopogon nardus, and Citrus grandis against anthracnose disease.The experiment was conducted in the Plant Protection Laboratory of Indonesian Tropical Fruit Research Institute atroom temperature from January to May 2007. The results showed that essential oils was able to suppress the growthof Colletotrichum sp’s mycelial. Essential oil extracted from C. burmanni had highest inhibition value (65-72%) tothe mycelial growth of Colletotrichum sp., followed by C. nardus (62-64%), and C. grandis (14-19%). This resultsindicated that essential oils had good potential to be developed as alternative technology to control anthracnose diseaseconsidering the consumer and environment safety
Daya Hasil Tomat Hibrida (F1) di Dataran Medium
ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai November 2006, di dataran medium Banyuresmi,Kabupaten Garut pada jenis tanah Latosol dengan ketinggian 550 m dpl. Tujuan penelitian ialah mengevaluasi 16genotip tomat hibrida (F1). Materi terdiri atas 16 genotip hibrida, 11 genotip di antaranya berasal dari Balai PenelitianTanaman Sayuran. Rancangan penelitian menggunakan acak kelompok dengan 2 ulangan dan 20 tanaman/plot. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa genotip IVEGRI 06-05 mencapai hasil tertinggi (56,6 t/ha) tetapi tidak berbeda nyatajika dibandingkan dengan varietas Marta (49,25 t/ha) sebagai kontrol, yang merupakan varietas tomat terbanyakditanam oleh petani di daerah Garut. Produksi terendah dicapai oleh genotip IVEGRI 06-01 (40,10 t/ha) dan Blts05-08 (40,0 t/ha) berbeda nyata jika dibandingkan dengan genotip IVEGRI 06-02, 06-03, 06-05, varietas Idola, danSpirit. Kekerasan buah berkisar dari sangat keras (nilai 3,3) sampai agak lunak (nilai 4,5), meskipun demikian buahyang paling keras (nilai 3,3) ialah genotip IVEGRI 06-01 dan varietas Marta. Demikian juga daya tahan simpanbuah kedua genotip ini adalah yang paling lama (24 hari).ABSTRACT. Purwati, E. 2009. Yield Potential of Tomato F1 Hybrid in Medium Land. Sixteen hybrids of tomatogenotypes (F1) were tested, and 11 out of them were hybrid genotypes from Indonesian Vegetable Research Institute(IVEGRI). The research was conducted in Banyuresmi, Garut District, West Java, at Latosol soil type with an altitudeof 550 m asl., from July to November 2006. Randomized complete block design with 2 replications and 20 plants perplot were used for field evaluation. The results indicated that IVEGRI 06-05 genotype gave the highest yield (56.60t/ha) but it was not significantly different to Marta variety (49.25 t/ha) as control. The lowest yields were shown byboth IVEGRI 06-01 (40.10 t/ha) and Blts 05-08 (40.0 t/ha), which were significantly different with IVEGRI 06-02,06-03, 06-05, Idola, and Spirit. In general fruit firmness ranges from hard to soft (value 3.3 – 4.5). However IVEGRI06-01 genotype and Marta’s variety indicated the highest hardness (value 3.3) and the longest selflife (24 days)
Studi Kultur Anther pada Aksesi Anthurium Lokal
Kultur anther merupakan salah satu terobosan teknologi dalam kultur jaringan untuk menyediakantanaman homozigot dalam waktu yang singkat. Aplikasi kultur anther pada aksesi Anthurium lokal dapat dilakukanuntuk menyediakan tetua homozigot yang tahan terhadap penyakit hawar daun. Penelitian bertujuan menguji responsbeberapa aksesi Anthurium lokal terseleksi dalam kultur anther dan kemampuan regenerasi kalus pada berbagai mediaregenerasi. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Januarihingga Desember 2006. Anther diisolasi dari aksesi Anthurium lokal Cipanas Merah, Cipanas Putih, Cihideung-Lembang Merah, Sukabumi Putih, dan Salatiga Putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa aksesi Anthuriumlokal memberikan respons yang berbeda terhadap kemampuan induksi kalus. Aksesi Cipanas Putih merupakan aksesiyang paling responsif dibandingkan aksesi lainnya dengan persentase pembentukan kalus tertinggi (5,2%). Kalus yangterbentuk dalam kultur anther memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap inkubasi terang dan tumbuh lebihcepat dibandingkan dengan aksesi yang lain. Kalus hasil kultur anther aksesi Cipanas Putih memiliki kemampuanregenerasi yang tercepat (1,5-2,5 bulan) dan jumlah bakal tunas terbanyak (2,2-5,7 tunas). Media MMS-IIIR danMMS-TBN merupakan media yang sesuai untuk regenerasi tunas dari kalus hasil kultur anther aksesi Cipanas Putih.Media tersebut juga sesuai untuk inisiasi kalusABSTRACT. Winarto, B. and N.A. Mattjik. 2009. Studies on Anther Culture of Local Accessions of Anthurium.Anther culture is a technological breakthrough in tissue culture to provide homozygot plants in a shorter periodcompared to conventional method. Anther culture applied for local Anthurium accession for getting desistant motherplant against light blight. Anther culture application aimed to evaluate responses of anther culture of local accessionof Anthurium and capacity of callus regeneration derived from it, in different regeneration media. The study wasconducted at Tissue Culture Laboratory and Glasshouse of Indonesian Ornamental Crops Research Institute fromJanuary to December 2006. Anthers of local accession of Cipanas Merah, Cipanas Putih, Cihideung-Lembang Merah,Sukabumi Putih, and Salatiga Putih were used in this research. The results indicated that among local accessions ofAnthurium tested had different responses in their capacity to produce callus. Cipanas Putih accession was the mostresponsive accession in callus formation (5.2%). Callus derived from this accession grew better and faster than otheraccessions and easily adapted under light incubation. Callus resulted from anther culture of Cipanas Putih accessionexhibited faster regeneration (1.5-2.5 months) and produced highest number of shoots per callus (2.2-5.7 shoots).The MMS-IIIR and MMS-TBN media were the appropriate media for shoot regeneration of callus produced fromanther culture of Cipanas Putih accession. The media was also suitable for callus initiation
Respons Tanaman Tomat terhadap Penggunaan Pupuk Majemuk NPK 15-15-15 pada Tanah Latosol pada Musim Kemarau
ABSTRAK. Percobaan bertujuan mendapatkan dosis pupuk majemuk NPK 15-15-15 yang optimal untuk pertumbuhandan hasil, serapan N, P, dan K pada tanaman tomat. Penelitian dilaksanakan pada tanah Latosol milik petani di DesaSukaresik (700 m dpl), Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada bulan Mei sampai November 2005. Perlakuan pupukmajemuk NPK 15-15-15 dosis 0, 250, 500, 750, 1.000, dan 1.250 kg/ha disusun dalam rancangan acak kelompokdengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk majemuk NPK 15-15-15 dosis 1.000 kg/hamemberi pengaruh terbaik terhadap tinggi tanaman, serapan N, P, dan K, bobot basah dan kering tanaman serta hasilbuah tomat. Kebutuhan pupuk untuk tanaman tomat pada tanah Latosol di Sumedang adalah 213,07 kg N/ha, 28,51kg P/ha, dan 35,69 kg K2O/ha.ABSTRACT. Subhan, N. Nurtika, and N. Gunadi. 2009. Response of Tomato Plant to Compound FertilizerNPK 15-15-15 in Dry Season. An experiment was set up to determine the optimum dosage of compound fertilizerNPK 15-15-15, and uptake of N, P, and K on tomato grown in Latosol soil type. The experiment was conducted atfarmer’s field in the village of Sukaresik Sumedang District (700 m asl), West Java from May until November 2005.The treatments were dosages of compound fertilizer NPK 15-15-15, i.e. 0, 250, 500, 750, 1,000, and 1,250 kg/ha,arranged in a randomized block design with 3 replications. The results showed that dosage of NPK 15-15-15 at 1,000kg/ha gave the best results to the plant height, N, P, K uptake, wet and dry weight of tomato plant, as well as yield oftomato. It could be recommended that fertilization on tomato on latosol soil type in Sumedang was 213.07 kg N/ha,28.51 kg P/ha, and 35.69 kg K2O/ha