Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Pengaruh Pemberian Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan dan Produksi Buah Naga (The Influence of Organic Fertilizer to Growth and Production of Dragon Fruit)

    Full text link
    Pemupukan merupakan salah satu aspek penting untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas buah naga. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik terhadap pertumbuhan dan produksi buah naga. Penelitian dilaksanakan di kebun petani Nagari Aripan, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatra Barat, dimulai sejak Januari sampai dengan Desember 2014. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor perlakuan dan tiga ulangan, setiap unit perlakuan terdiri atas tiga tiang. Faktor pertama adalah takaran pupuk organik dengan tiga level, yaitu 5, 10, dan 15 kg/tiang. Faktor kedua adalah interval waktu pemberian pupuk organik terdiri atas empat level, yaitu 1, 2, 3, dan 4 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik secara nyata dapat meningkatkan pertumbuhan (jumlah cabang), jumlah produksi dan kualitas buah (grade/ukuran buah, TSS). Pemberian pupuk organik juga dapat meningkatkan kandungan hara pada tanah dan tanaman. Aplikasi pupuk organik dengan takaran 15 kg dan interval 1 bulan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan (jumlah cabang), produksi, dan kualitas buah (grade/ukuran buah) tertinggi. Implikasi dari penelitian ini adalah dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi buah naga perlu dilakukan aplikasi pupuk organik.KeywordsPupuk organik; Pertumbuhan; Produksi; Buah nagaAbstractFertilization is one of important aspect in improving the productivity and quality of dragon fruit. This study aims to determine the effect of organic fertilizer on the growth and production of dragon fruit. The research was conducted from January to December 2014 at farmer orchard in Solok District, West Sumatra. The study was prepared based on a Factorial RCBD with two factors and three replicates, each treatment consisting of three pillars. First factor  was organic fertilizer dose with three levels (5, 10, and 15 kg/pillar).  Second factor was the interval application of organic fertilizer consisting of four levels (1, 2, 3, and 4 months). The results showed that the provision of organic fertilizer can significantly increase the growth (number of branches), amount of production and quality of fruit (grade/fruit size,TSS). Provision of organic fertilizers can also increase the nutrient content of soil and plants. Application of organic fertilizer with a dose of 15 kg and 1 month interval gives the highest growth (number of branches), the highest number of fruit production and quality (grade/fruit size) are significantly. Implication of this research is to increase the growth and production of dragon fruit that needs to be done organic fertilizer application

    Korelasi dan Analisis Lintas Beberapa Karakter Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) pada Kondisi Normal dan Tercekam Kekeringan (Correlations and Path Analysis of Some Characters in Chili Pepper (Capsicum annuum L.) Under Normal and Drought Stress)

    Full text link
    Cekaman air merupakan salah satu faktor pembatas pertumbuhan dan produksi tanaman termasuk cabai (Capsicum annuum L.). Produktivitas tanaman merupakan karakter yang kompleks sehingga hubungan antarkarakter perlu diketahui untuk mendapatkan kriteria seleksi yang tepat untuk perbaikan tanaman. Penelitian ini bertujuan mengetahui kriteria seleksi terhadap produksi tanaman cabai toleran kekeringan pada fase pembungaan. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga taraf cekaman air, yaitu 100% kapasitas lapang (kontrol), 50% kapasitas lapang (medium stress), dan 25% kapasitas lapang (extreme stress). Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa berbagai karakter yang diamati memperlihatkan perbedaan asosiasi dengan level cekaman kekeringan. Karakter panjang akar tidak dapat digunakan sebagai kriteria seleksi tanaman cabai yang toleran terhadap kekeringan karena panjang akar tidak berkorelasi secara signifikan dengan bobot buah per tanaman pada 50% dan 25% kapasitas lapang. Berdasarkan korelasi dan analisis lintas pada kondisi normal (100% kapasitas lapang) dan kondisi tercekam (50% kapasitas lapang), karakter jumlah buah dan persentase fruit set berkorelasi positif dan berpengaruh langsung terhadap bobot buah per tanaman sehingga dapat digunakan sebagai kriteria seleksi untuk perbaikan tanaman cabai yang toleran kekeringan.KeywordsCekaman air; Cekaman kekeringan; Kriteria seleksi; Cabai; Capsicum annuum LAbstractWater stress is one of limiting factors for plant growth and production, including chili (Capsicum annuum L.). Plant productivity is a complex character so the relationship between characters needs to be known to get the right selection criteria for crop improvement. This study aimed to determine the selection criteria for the production of drought-tolerant chili pepper at the flowering phase. The research arranged under completely randomized design with three levels of water stress, namely 100% water field capacity (control), 50% water field capacity (medium stress) and 25% water field capacity (extreme stress). The results of the correlation analysis showed that the various characters observed exhibited differences associations with drought stress levels. Root length cannot be used for selection criterium of drought tolerant on chili because it was no positive significantly correlated to fruit weight per plant at 50% and 25% water field capacity. Based on correlation and path analysis in normal and drought conditions, the number of fruits and percentage of fruit set can be used as selection criteria for genetic improvement of drought-tolerant on chili plants because these characters were significantly positively correlated and had a direct effect on fruit weight of the plant

    Pengelolaan Air dan Mulsa pada Tanaman Bawang Merah di Lahan Kering (Water Management and Mulch on Shalot in Dry Land)

    Full text link
    Budidaya bawang merah di lahan kering mempunyai ketersediaan air terbatas sehingga diperlukan pengelolaan air secara efisien. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh interval waktu pemberian air yang efisien dan jenis mulsa yang dapat meningkatkan produksi dan pendapatan usahatani bawang merah. Penelitian pengelolaan air dengan interval pengairan dan mulsa pada bawang merah varietas Monjung dilaksanakan pada MK II 2016 dalam luasan 2.500 m2 (ukuran petak 15 m x 6 m) di Desa Bunbarat, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, disusun secara acak kelompok faktorial dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: faktor I (mulsa): (a) mulsa plastik, (b) mulsa jerami, dan (c) tanpa mulsa, sedangkan faktor II (pengairan): (a) 1 hari sekali, (b) 2 hari sekali, dan (c) 3 hari sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan mulsa jerami disertai pengairan 2 hari sekali memberikan bobot umbi 7,89 ton/ha dan penggunaan air selama pertumbuhan tanaman sebesar 1.230 m3/ha sehingga untuk menghasilkan 1 kg umbi dibutuhkan 156 liter air. Berdasarkan hasil analisis usahatani bawang merah yang diberi mulsa jerami disertai pengairan 2 hari sekali dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air dan biaya produksi serta mempunyai B/C ratio tertinggi (2,27) sehingga layak secara ekonomi.KeywordsPengelolaan air; Bawang merah; Mulsa; Lahan keringAbstractShallot cultivation in dry land has limited water availability so needed to efficient water management. This study aims to obtain an efficient water time interval and mulch type that can increase production and farming income of shallot. Research on water management with irrigation interval and mulch on shallot of Monjung variety was implemented at dry season year 2016 in the area of 2,500 m2 (the size of plot 15 m long to 6 m width) at Bunbarat Village, Rubaru Subdistrict, Sumenep Regency were arranged of randomized block design by factorial with nine treatments and three replications : I (mulch): (a) plastic mulch, (b) straw mulch, and (c) without mulch, while factor II (irrigation): (a) irrigation every 1 day, (b) irrigation every 2 days, and (c) irrigation every 3 days. The results showed that straw mulch treatment with irrigation every 2 days gave a tuber weight of 7.89 ton/ha and the use of water during plant growth was 1,230 m3/ha so that to produce 1 kg of tubers required 156 liters of water. The analysis of shallot farming that is given mulch straw accompanied by irrigation every 2 days can increase the efficiency of water use and production costs and has the highest B/C ratio (2.27) so that it is economically feasible

    Back Matter

    No full text

    Kelayakan Usahatani Bawang Putih di Berbagai Tingkat Harga Output (Feasibility of Garlic Farming at Various Price Levels of Output)

    Full text link
    Indonesia selama ini mengimpor sebanyak 95% bawang putih konsumsi, namun direncanakan bahwa Indonesia harus dapat berswasembada bawang putih pada tahun 2021. Untuk itu dilaksanakan upaya perluasan tanam mulai dari penggunaan dana APBN, penanaman oleh importir, maupun penanaman secara swadaya petani yang akan membutuhkan benih bawang putih dalam jumlah banyak. Dengan alasan terbatasnya jumlah benih bawang putih dan meningkatnya permintaan untuk penanaman maka harga benih bawang putih di tingkat petani melonjak naik sehingga perlu dibuat aturan mengenai harga bawang putih agar semua pemangku kepentingan dapat saling mendapatkan keuntungan. Penelitian ini bertujuan merekomendasikan harga bawang putih yang layak sesuai dengan harga pasar dan keuntungan petani. Data yang digunakan berupa data primer input dan output usahatani yang dikumpulkan dari 86 orang petani di tiga sentra produksi bawang putih yang selama ini konsisten menanam bawang putih, yaitu Lombok Timur, Magelang, dan Temanggung. Data sekunder berupa data Upah Minimum Kabupaten (UMK) diperoleh dari BPS untuk membandingkan dengan keuntungan usahatani yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga jual yang layak untuk bawang putih konsumsi adalah Rp15.000,00/kg dan untuk benih sebesar Rp53.000,00/kg. Apabila harga jual kurang dari harga tersebut maka keuntungan usahatani akan lebih rendah dari UMK sehingga tidak akan menarik untuk petani.KeywordsBawang putih; Biaya usahatani; Harga jual; UMKAbstractIndonesia for long years has been importing as much as 95% of the consumption of garlic, but it is planned that Indonesia should be able to self-sufficient in garlic in 2021. Therefore, efforts are made to expand planting, starting from the use of national budget funds, planting by importers, as well as planting independently farmers who will need seeds garlic in large quantities. Due to the limited amount of garlic seeds and the increasing demand for planting, the price of garlic seeds at the farmer level soared. Regulations should be made regarding the price of garlic so that all stakeholders can benefit from each other. This study aims to recommend the price of decent garlic according to market prices and farmers’ profits. The data used in the form of farm input and output primary data collected from 86 farmers in three centers of garlic production that have consistently planted garlic, namely East Lombok, Magelang, and Temanggung. Secondary data in the form of District Minimum Wage data was obtained from Statistics Indonesia (BPS) to compare with farm profits obtained. The results of the study show that the reasonable selling price for garlic consumption is IDR 15,000/kg and for seeds of IDR 53,000/kg. If the selling price is less than this price, the farming profit will be lower than the District Minimum Wage so that it will not be attractive to farmers

    Back Matter

    No full text

    Inovasi Teknologi Tanaman Krisan yang Dibutuhkan Pelaku Usaha (Technology Innovation of Chrysanthemum Needed by Stakeholders)

    Full text link
    Inovasi merupakan komponen utama dalam peningkatan daya saing. Informasi inovasi teknologi yang sesuai kebutuhan pengguna sangat diperlukan dalam penentuan prioritas program penelitian. Tujuan penelitian adalah memperoleh informasi jenis inovasi teknologi yang dibutuhkan pelaku usaha untuk mengembangkan budidaya tanaman krisan. Penelitian dilakukan di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali pada bulan Januari-Desember 2014. Pemilihan lokasi dan responden dilakukan secara purposive, yaitu dengan menentukan sebanyak 45 petani yang berasal dari 10 kelompok tani yang menanam krisan di masing-masing wilayah. Untuk mengetahui tingkat kepentingan kebutuhan inovasi teknologi dalam pengembangan agribisnis krisan berkelanjutan digunakan skala Likert lima tingkat, yaitu sangat penting, penting, cukup penting, tidak penting, dan sangat tidak penting. Penilaian kepentingan dilakukan berdasarkan perkiraan besarnya tingkat kepentingan suatu inovasi teknologi dalam pengembangan sistem agribisnis krisan. Penilaian pelaku usaha terhadap nilai kepentingan relatif jenis inovasi dari masing-masing subsistem agribisnis merupakan dasar pertimbangan untuk menentukan tingkat prioritas dalam program penelitian ke depan dengan kategori utama, prioritas, maupun potensial.KeywordsIdentifikasi; Inovasi teknologi; Krisan; Pelaku usahaAbstractInnovation is a key component in increasing competitiveness. Informations of technology innovation is necessary in determining the priority of research programs that meet the needs of users. The purpose of this study was to obtain information on the type of technological innovation required by business actors to develop chrysanthemum cultivation. The study was conducted in West Java, Central Java, and Bali in January-December 2014. The selection of location and respondents was done purposively by determining as many as 45 farmers from 10 farmer groups planting chrysanthemums in each region. To know the importance level of technological innovation in the development of sustainable chrysanthemum agribusiness was used five-level Likert scale, that is very important, important, important enough, unimportant, and very unimportant. Assessment of interest is based on the approximate level of importance of a technological innovation in the development of chrysanthemum agribusiness system. The appraisal of business actors on the relative importance of different types of innovation from each agribusiness subsystem is the basis of consideration to determine the priority level in future research programs with major category, priority category, and potential category categories

    Identifikasi dan Karakterisasi Penyakit Bintik Batang dan buah pada Tanaman Buah Naga (Hylocereus spp.) di Indonesia I

    Full text link
    [Identification and Characterization of Stem and Fruit Canker Diseases on Dragon Fruit (Hylocereus spp.) in Indonesia]Kendala utama budidaya tanaman buah naga di Indonesia adalah masalah penyakit. Ada beberapa jenis patogen yang menyerang tanaman buah naga, namun penyakit yang paling berbahaya dan sangat merugikan adalah penyakit bintik batang. Penelitian ini bertujuan  mengkarakterisasi gejala serangan dan mengidentifikasi penyebab penyakit bintik batang pada tanaman buah naga. Penelitian dilakukan di kebun petani di area endemik Padang Pariaman dan Solok serta laboratorium penyakit dan molekular Balitbu Tropika sejak tahun 2014 sampai 2016. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dan pengujian laboratorium. Karakterisasi gejala serangan penyakit diamati  terhadap bagian tanaman yang terserang. Identifikasi dilakukan dengan pengamatan cendawan penyebab penyakit secara mikroskopis, uji postulat Koch dan uji DNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala awal penyakit ditandai dengan adanya bintik kecil berwarna putih pada tunas muda dan buah  tanaman buah naga, ditengah bintik ditemukan lubang halus seperti tusukan jarum. Gejala lebih lanjut berupa bercak-bercak yang sedikit membesar, menyatu dan bagian batang yang lunak berlubang dan hancur. Berdasarkan ciri-ciri mikroskopis dan hasil amplifikasi region ITS DNA isolat cendawan asal buah naga teramplifikasi pada 580 bp dan berdasarkan identifikasi bank gen (BLAST), sekuen nukleotida isolat cendawan menunjukkan 99% kesamaan dengan Neoscytalidium dimidiatum. Hasil penelitian ini selanjutnya dapat menjadi dasar/rujukan dalam melakukan penelitian untuk mencari teknik pengendalian di lapangan nantinya.KeywordsHylocereus spp.; Penyakit; Identifikasi; Karakterisasi gejalaAbstractDiseases are the main obstacles in the cultivation of dragon fruit plants in Indonesia. Several types of pathogens attack dragon fruit plants, but the most dangerous and detrimental disease is the stem canker. This study aimed to characterize disease symptoms and identify the causes of stem canker disease in dragon fruit plants. The research was carried out at the farmer’s farms in the endemic areas of Padang Pariaman and Solok as well as the Laboratory of Disease and Molecular Balitbu Tropika from 2014 to 2016. The study was conducted using descriptive methods and laboratory testing. Characterization of symptoms of disease was observed in the affected part of the plant. Identification is done by observing the fungus that causes disease microscopically, Koch's postulate test and DNA test. The results showed that the initial symptoms of the disease were characterized by the presence of small white spots on young shoots and fruit of dragon fruit plants, in the middle of the spots found a fine hole like a needle puncture. Further symptoms include patches that are slightly enlarged, fused and the soft part of the stem is hollow and broken. Based on microscopic characteristics and the results of amplification of the ITS region the fungus isolates DNA from dragon fruit amplified at 580 bp and based on gene bank identification (BLAST), nucleotide sequences of fungal isolates showed 99% similarity with Neoscytalidium dimidiatum. Further research is needed on the ecobiology of pathogen and effective control techniques

    Strategi Pengembangan Agribisnis Bawang Merah di Kabupaten Solok (Shallot Agribusiness Development Strategy in Solok Regency)

    Full text link
    Kabupaten Solok dicanangkan sebagai salah satu sentra produksi bawang merah untuk mengimbangi sentra produksi utama di Pulau Jawa yang produksinya selalu berfluktuasi. Beberapa kelebihan dan kekurangan dimiliki oleh Kabupaten Solok dalam mengembangkan potensinya sebagai sentra bawang merah nasional. Penelitian bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan Kabupaten Solok sebagai sentra bawang merah nasional. Penelitian dilakukan dari bulan Agustus hingga Desember 2017 bertempat di Kabupaten Solok. Data primer berupa atribut-atribut faktor internal kekuatan dan kelemahan serta faktor-faktor eksternal peluang dan ancaman diidentifikasi melalui Focussed Group Discussion (FGD) yang dilakukan dengan peserta para pemangku kepentingan di Kabupaten Solok sekaligus untuk melakukan kuantifikasi dari atribut-atribut yang telah teridentifikasi. Analisis dilakukan dengan pendekatan SWOT, yaitu menggunakan perhitungan IFE, EFE, matriks IE, matriks SPACE, dan matriks SWOT. Terdapat enam atribut kekuatan, delapan atribut kelemahan, enam atribut peluang, dan lima atribut ancaman. Perhitungan IFE dan EFE memperlihatkan bahwa faktor internal merupakan faktor yang paling dominan, dengan faktor kekuatan merupakan faktor yang paling dominan dibandingkan kelemahan. Posisi Kabupaten Solok dalam matriks IE dan matriks SPACE masing-masing berada dalam posisi jaga dan pertahankan serta mendukung strategi agresif. Strategi yang perlu diterapkan adalah strategi memaksimalkan kekuatan untuk menangkap peluang yang tersedia (S-O) di antaranya pengembangan teknologi PTT bawang merah spesifik lokasi, pengembangan teknologi pascapanen bawang merah, membuka pasar baru selain yang sudah ada, dan membina penangkar bawang merah. Beberapa dukungan teknologi dan inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian sebagai peluang yang tersedia juga perlu diterapkan untuk memaksimalkan kekuatan yang dimiliki Kabupaten Solok untuk berkembang sebagai sentra produksi bawang merah nasional.KeywordsKabupaten Solok; Bawang merah; Strategi; SWOTAbstractSolok Regency is planned as one of the production centers of shallot to complement the main production centers on Java Island which production always fluctuating. Some advantages and disadvantages are owned by Solok in developing its potential. This study aims to formulating strategy to develop Solok Regency as a national shallot production center. The research was conducted from August till December 2017 at Solok District. Primary data such as internal factor attributes like strengths and weaknesses as well as external factors like opportunity and threat are identified through Focus Group Discussion (FGD) which conducted with participants of stakeholders in Solok to quantify the attributes that have been identified. The analysis then conducted with the SWOT approaches using IFE, EFE, IE matrix, SPACE matrix, and SWOT matrix. There are six attributes of strength, eight attributes of weakness, six attributes of opportunity, and five attributes of threat. The calculation of IFE and EFE shows that internal factor is the most dominant factor, with strength is the most dominant internal factor. The position of Solok Regency in IE is in a position to guard and defend while in the SPACE matrix the position of Solok Regency is to support an aggressive strategy. The strategies that needs to be implemented is strategy to maximize the power to capture the available opportunities (S-O) such as the development of location-specific shallot integrated crop management technology, the development of shallot post-harvest technology, create new markets other than existing ones, and develop shalot breeder. Some IAARD’s technology and innovation support as available opportunities also need to be applied to maximize the power of Solok to grow as a national production center for shallot

    Uji Potensi Beberapa Varietas Bawang Merah untuk Menghasilkan Biji Botani di Dataran Tinggi Sulawesi Selatan (Test Potential for Some Variety to Produce True Shallot Seed in Highland South Sulawesi)

    Full text link
    Budidaya bawang merah di Sulawesi Selatan selama ini masih menggunakan umbi lokal sebagai benih. Penggunaan umbi secara terus menerus sebagai benih dapat menyebabkan penurunan produksi. Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut, yaitu dengan menggunakan biji botani (true shallot seed/TSS). Penelitian bertujuan untuk mendapatkan varietas bawang merah yang mampu menghasilkan biji botani (TSS) di atas 1 g per rumpun. Penelitian dilaksanakan di Desa Loka, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jeneponto mulai bulan Maret hingga September 2015. Penelitian disusun berdasarkan rancangan acak kelompok dengan empat perlakuan varietas dan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas yang menghasilkan biji terbanyak adalah Trisula dan Pancasona masing-masing dengan bobot 4,90 g dan 4,18 g per rumpun, dengan persentase tanaman berbunga masing-masing 93% dan 90%. Berbeda dengan varietas Maja Cipanas dan Mentes yang menghasilkan biji masing-masing 1,85 g dan 1,49 g, sedangkan persentase tanaman yang berbunga pada varietas Maja Cipanas hanya 60% dan varietas Mentes 30%. Dua varietas bawang merah, yaitu Trisula dan Pancasona dapat direkomendasikan sebagai penghasil benih TSS bawang merah di dataran tinggi kering Sulawesi Selatan. Analisis R/C ratio usaha tani bawang merah dalam menghasilkan TSS adalah 1,3, yang berarti bahwa produksi benih TSS layak diusahakan.KeywordsBawang merah; Biji botani; VarietasAbstractShallot cultivation in South Sulawesi has been using local tubers as seeds. The continuous use of tubers as seed can cause a decrease in production. One effort to overcome this problem is by using botanical seeds (true shallot seed/TSS). The research aims to shallot varieties that are capable of producing botanical seeds (TSS) above 1 g per clump. The research was conducted in Loka Village, Rumbia District, Jeneponto Regency from March to September 2015. The experiment was arranged in a randomized block design with four treatments varieties, and three replications. The results showed that the varieties that produce the most seeds were Trisula and Pancasona weighing 4.90 g and 4.18 g per clump respectively, with the percentage of flowering plants 93% and 90% respectively. In contrast to the Maja Cipanas and Mentes varieties which produced seeds of 1.85 g and 1.49 g respectively, but the percentage of plants flowering in the Maja Cipanas variety only 60% and the Mentes variety was 30%. Two shallot varieties namely Trisula and Pancasona can be recommended as producers of shallot TSS seeds in the dry highlands of South Sulawesi. R/C ratio analysis of shallot farming in producing TSS was 1.3, which means that TSS seed production is worth to effort

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇