Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Perbanyakan Massal Embrio Kalamondin Melalui Teknologi Somatik Embriogenesis Menggunakan Bioreaktor
Sejauh ini, penelitian perbanyakan somatik embriogenesis baik untuk penyediaan semaian batang bawah maupun varietas komersial jeruk menghasilkan laju multiplikasi yang relatif lambat. Kombinasi antara perbanyakan melalui metode somatik embriogenesis dengan penggunaan bioreaktor, diharapkan mampu meningkatkan laju produksi kalus embrionik menjadi planlet. Kajian awal dilakukan menggunakan nuselus Kalamondin (Citrus mitis Blanco) sebagai sumber kalus. Kalus yang dihasilkan diinduksi dan diperbanyak menjadi kalus embrionik dan embrio dengan cara dikulturkan pada shaker (100 rpm) serta bulb bioreactor. Tujuan penelitian ini ialah membandingkan produksi embrio Kalamondin melalui teknologi somatik embriogenesis pada kultur cair menggunakan shaker dan bioreaktor. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, dari September 2008 sampai dengan Desember 2009. Pada tahapan perbanyakan embrio dengan metode shaker, diperoleh bahwa rerata kemampuan kalus menghasilkan embrio dalam kultur selama 10 minggu ialah 18,12 embrio/g kalus. Dengan kisaran waktu yang sama, total embrio yang dihasilkan 3 g kalus/300 cc media cair di dalam bioreaktor menghasilkan 46 embrio/g kalus atau setara 2,53 kali dibandingkan metode shaker. Embrio yang tumbuh pada bioreaktor dapat berkembang hampir 100% menjadi planlet. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa aplikasi bioreaktor untuk tujuan perbanyakan massal embrio Kalamondin memiliki pengaruh yang signifikan terhadap laju multiplikasinya.ABSTRAKSo far, research on somatic embryogenesis for rootstock and citrus commercial varieties has been faced by low multiplication rate of embryos. Combination of somatic embryogenesis method and bioreactor hypothezed can increase multiplication rate of embryos and improve regeneration of embryogenic calli to produce plantlets. Kalamondin explants were inducted and proliferated to be embryonic calli and embryos using both shaker (100 rpm) and bulb bioreactor. The aimed of this research was to compare the production of Kalamondin embryos through somatic embryogenesis method on liquid media using shaker and bulb bioreactor. Research was conducted at Tissue Culture Laboratory of Indonesian Citrus and Subtropical Fruit Research Institute from September 2008 to December 2009. Kalamondin nucelus as a callus source was used in this research. Results of the study indicated that the average of embryos production through shaker technique within 10 weeks of culture incubation was 18.12 embryos/g callus, while application of bioreactor imrpoved embryo productivity up to 46 embryos/g calli (3 g/300 cc media). The multiplication rate using the bioreactor increased up to 2.53 fold compare to shaker method. Results of the study give the real evidence that application of biorector for in vitro mass propagation of Kalamondin embryos had high significant effect on embryo multiplication rate
Pengaruh Kombinasi Komposisi Media Tanam dan Konsentrasi Sitokinin terhadap Pertumbuhan Aglaonema
ABSTRAK. Pertumbuhan dan kualitas Aglaonema dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya media tanam dan aktivitas hormonal. Penggunaan media tanaman alternatif selain pakis dan hormon seperti sitokinin penting untuk diketahui. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui pengaruh kombinasi tiga komposisi media tumbuh sebagai media alternatif serta pemberian sitokinin terhadap pertumbuhan dan kualitas Aglaonema Fit Langsit. Penelitian dilakukan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran mulai Bulan Mei sampai dengan Agustus 2008. Komposisi media tanam yang digunakan yaitu arang sekam, cocopeat, dan zeolit dengan perbandingan (2:2:1), (3:2:1), (4:2:1), dan sebagai kontrol digunakan pakis, humus, pasir malang, dan cocopeat (2:1:1:1) yang dikombinasikan dengan pemberian sitokinin dengan konsentrasi 0, 50, dan 100 µl/l yang disemprotkan pada daun setiap 2 minggu sekali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kombinasi arang sekam, cocopeat, dan zeolit (3:2:1) disertai sitokinin 50 µl/l memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya dalam memperpanjang dan memperlebar ukuran daun, sehingga dapat meningkatkan kualitas tanaman Aglaonema menjadi lebih rimbun dan kompak karena semakin meningkatnya ukuran daun.ABSTRACT. Mubarok, S, Salimah, A, Farida, Rochayat, Y, and Setiati, Y 2012. The Effect of Growing Media Compositions and Cytokinin Concentrations on the Growth of Aglaonema. The growth and quality of Aglaonema is affected by several factors such as growing media and hormones. The using of alternative growing media and hormones such as cytokinin are urgently needed to be identified. The aim of experiment was to find out the effect of the combination of three growing media composition as an alternative growing medium with cytokinin on the growth and quality of Aglaonema Fit Langsit. This experiment was conducted in Greenhouse at the Faculty of Agriculture, Padjadjaran University from May to August 2008. The compositions of growing media consisted of the mix of carbonated rice hulls, cocopeat, and zeolite at three combinations (2:2:1, 3:2:1, and 4:2:1) and a control consisted of the mix of fern, humus, malang sands, and cocopeat (2:1:1:1). They were combined with cytokinins of 0, 50, and 100 µl/l. The results showed that the composition of carbonated rice hulls, cocopeat, and zeolite (3:2:1) combined with 50 µl/l cytokinin gave a better result than other treatments in increasing leaves length and leaves width, so it increases the quality of Aglaonema become more dense and compact due to by increasing the leaf size
Perilaku Memanggil Ngengat Betina dan Evaluasi Respons Ngengat Jantan terhadap Ekstrak Kelenjar Feromon Seks pada Tanaman Cabai Merah
Helicoverpa armigera merupakan hama penggerek buah pada tanaman cabai merah di Indonesia. Kehilangan hasil akibat serangan H. armigera dapat mencapai 60%. Pengendalian yang umum dilakukan ialah menggunakan insektisida secara intensif, yang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Feromon seks merupakan salah satu alternatif cara yang dapat digunakan untuk memonitor dan mengendalikan H. armigera. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perilaku kawin ngengat betina H. armigera dan untuk mengevaluasi respons ngengat jantan terhadap feromon seks dari kelenjar ngengat betina dara H. armigera pada tanaman cabai merah. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran dan di lahan petani di Desa Pabedilan Kaler, Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon dari Bulan April 2009 sampai dengan Maret 2010. Penelitian dilakukan pada tiga tahap kegiatan yaitu : (1) perilaku memanggil betina dara dilakukan dengan cara memasukkan 20 ekor betina dara ke dalam vial plastik (10 ml) dan diberi makan larutan sukrosa 10%. Perilaku memanggil diamati setiap jam sepanjang malam, dimulai dari saat periode gelap mulai pukul 18.00 – 06.00, perlakuan diulang tiga kali, (2) untuk mengetahui respons ngengat jantan terhadap feromon seks dilakukan menggunakan tabung olfaktometer. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok terdiri atas lima perlakuan dan diulang lima kali, dan (3) evaluasi feromon seks dilakukan di lahan petani di Kabupaten Cirebon. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok terdiri atas enam perlakuan dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku memanggil betina dara H. armigera mulai umur 1 hari mencapai maksimum pada hari ketiga pada periode 7 sampai 8 jam setelah scotophase. Respons ngengat jantan tertinggi terhadap feromon seks diperoleh dari ekstrak kelenjar feromon asal betina dara umur 4 hari sebesar 20,33% dan berbeda nyata bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya kecuali dengan betina dara umur 2 dan 3 hari. Kerusakan buah cabai terendah dan berbeda nyata diperoleh dari perlakuan feromonoid seks + insektisida (9,25%) diikuti feromon seks + insektisida (16,13%), dan insektisida (13,55%). Kerusakan buah cabai tertinggi (49,29%) diperoleh pada perlakuan kontrol. Kombinasi antara penggunaan feromon dengan insektisida mampu menekan kehilangan hasil buah cabai merah akibat serangan H. armigera sebesar 61,10 – 62,18 % bila dibandingkan dengan kontrol. Feromon seks merupakan senyawa kimia yang efektif untuk memonitor dan mengendalikan populasi H. armigera pada tanaman cabai di lapangan
Penggunaan Netting House dan Mulsa Plastik untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Merah
Dalam rangka mengatasi terjadinya fluktuasi produksi cabai merah sepanjang tahun di Indonesia, maka perlu dicoba salah satu teknik produksi cabai merah yaitu menggunakan netting house. Percobaan untuk mengetahui pengaruh penggunaan netting house dan mulsa plastik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil cabai merah dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1250 m dpl.), Jawa Barat dari Bulan April sampai November 2011. Rancangan percobaan yang digunakan ialah petak terpisah, sebagai petak utama ialah dua teknik produksi cabai merah (netting house dan di lahan terbuka), sedangkan anak petak ialah kombinasi varietas cabai merah dan penggunaan mulsa plastik hitam perak. Varietas cabai merah besar yang digunakan yaitu Tanjung-2, Wibawa, dan Hot Beauty, sedangkan perlakuan penggunaan mulsa plastik hitam perak terdiri dari penggunaan mulsa plastik dan tanpa mulsa plastik. Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali. Pengamatan meliputi pertumbuhan tanaman, komponen hasil, dan hasil tanaman, serta jumlah buah yang terserang hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman cabai merah yang ditanam di bawah naungan (netting house) lebih tinggi dan mempunyai kanopi yang lebih besar dibandingkan dengan tanaman cabai merah yang ditanam di lahan terbuka (open field). Penggunaan naungan juga dapat mengurangi jumlah buah yang terserang hama ulat buah dan lalat buah. Tanggap varietas Wibawa terhadap penggunaan naungan (netting house) lebih baik daripada varietas Tanjung-2 dan Hot Beauty yang ditunjukkan dengan peningkatan bobot buah dan jumlah buah melebihi peningkatan bobot buah dan jumlah buah pada varietas Tanjung-2 dan Hot Beauty baik yang menggunakan mulsa plastik maupun yang tidak menggunakan mulsa plastik. Varietas Wibawa dan Hot Beauty yang ditanam di dalam netting house dapat ditanam tanpa menggunakan mulsa plastik, namun varietas Tanjung-2 yang ditanam baik di dalam netting house maupun yang ditanam di lahan terbuka (open field) sebaiknya ditanam menggunakan mulsa plastik. Teknik produksi cabai merah menggunakan netting house dapat direkomendasikan sebagai salah satu alternatif dalam rangka mengurangi fluktuasi produksi cabai merah di Indonesia
Kajian Potensi Predator Coccinellidae untuk Pengendalian Bemisia tabaci (Gennadius) pada Cabai Merah
Kutukebul Bemisia tabaci (Hemiptera: Aleyrodidae) merupakan hama penting pada pertanaman cabai merah dansatu-satunya penular virus Gemini (virus kuning). Virus kuning keriting yang disebabkan oleh virus Gemini sekarang menjadiepidemik di berbagai daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sumatera Utara, dan Lampung, dengan intensitasserangan antara 20 sampai 100%. Tujuan penelitian untuk mendapatkan predator dari jenis Coccinellidae yang benar-benar efektifuntuk mengendalikan B. tabaci pada pertanaman sayuran khususnya cabai merah. Kajian potensi Coccinellidae sebagai predatorB. tabaci dilaksanakan pada tiga tahap percobaan, yaitu eksplorasi predator, uji daya pemangsaan, dan uji preferensi. Eksplorasipredator dilaksanakan dengan metode survei di tiga provinsi sentra produksi cabai merah dan daerah endemi penyakit virus kuningyaitu Jawa Barat (Kabupaten Cirebon dan Garut), Jawa Tengah (Kabupaten Brebes dan Magelang), dan DI Yogyakarta (KabupatenBantul dan Sleman). Eksplorasi predator dilakukan dengan mengumpulkan secara langsung serangga yang diduga sebagai predator(pendugaan predator berdasarkan pengamatan dan studi literatur), kemudian di inventarisasi dan diuji keefektifannya sebagai musuhalami melalui uji daya pemangsaan dan preferensi terhadap B. tabaci dan hama kutu daun cabai lainnya. Penelitian dilaksanakan ditiga provinsi, yaitu Jawa Barat (Kabupaten Cirebon dan Garut), Jawa Tengah (Kabupaten Brebes dan Magelang), dan DI Yogyakarta(Kabupaten Bantul dan Sleman) dari bulan Mei sampai dengan September 2010. Hasil eksplorasi dan identifikasi ditemukan 11 jenispredator yang berpotensi sebagai musuh alami B. tabaci, yang terdiri atas delapan jenis dari ordo Coleoptera famili Coccinellidae yaituMenochilus sexmaculatus, Coccinella transversalis, Verania lineata, Illeis sp., Curinus coeruleus, Delphastus sp., Harmonia sp., danMenochilus sp., satu jenis dari famili Stapilinidae yaitu Paederus fuscipes, satu jenis dari ordo Hemiptera: famili Miridae (Compylommasp.), satu jenis dari ordo Neuroptera famili Hemerobiidae, dan satu jenis ordo Diptera (Condylostylus sp). Berdasarkan distribusi,kelimpahan, uji daya pemangsaan dan uji preferensi terhadap B. tabaci, maka spesies predator yang berpotensi tertinggi sebagaiagens hayati B. tabaci ialah V. lineata, kemudian diikuti oleh M. sexmaculatus dan C. transversalis (Coleoptera : Coccinellidae).Pemanfaatan predator B. tabaci potensial dapat diuji dan diaplikasikan pada skala yang lebih besar.ABSTRACTWhitefly Bemisia tabaci (Homoptera:Aleyrodidae) is one of important pest on vegetable crops, especially on family of Solanaceae, particularly on chili peppers.Whiteflybecomes very critical pest because it become an important vector for Gemini virus. Many regions in West Java, Central Java,Yogyakarta, South Sumatera, and Lampung became endemic of leafroll yellow virus caused by Gemini virus in the recent year withdisease intensity from 20 till 100%. Objective of this research was to obtain potential and effective predators to control B. tabacifrom West Java, Central Java, and Yogyakarta. Study of Coccinellidae potency as natural enemy to control B. tabaci have beendone through three stages started from predator exploration, predation, and preference test. Predators exploration was done in chilipepper production centre area in three province, namely West Java (Cirebon and Garut Districts), Central Java (Brebes and MagelangDistrict), and Yogyakarta (Bantul and Sleman District). Those areas were choosen as exploration area because beside as chili peppersproduction centre areas, they were also indicated as Gemini virus endemic area. Predator exploration was done by collecting insectsthat were indicated as predator (based on literature study). Predators that found in this exploration then be identified and tested fortheir effectiveness as natural enemies (predation and preference test). From the exploration and identification, there were found11 species of predator, nine of eleven predator were member of Coleoptera (eight of them were member of family Coccinellidae,namely Menochilus sexmaculatus, Coccinella transversalis, Verania lineata, Illeis sp., Curinus coeruleus, Delphastus sp., Harmoniasp., Menochilus sp., and one of them was include in family of Staphylinidae Paederus fuscipes. We also find one species fromordo Hemiptera, i.e. member of Miridae family: Compylomma sp., one species from ordo Neuroptera, family Hemerobiidae, andone species from ordo Diptera (Condylostylus sp). Based on distribution, severity and effectiveness test, it could be concluded thatpredator species which have the highest potency as natural agent for controlling B. tabaci were V. lineata, M. sexmaculatus, and C.transversalis (Coleoptera : Coccinellidae). The use of B. tabaci high potential predators can be tested and applied in higher scale.The use of B. tabaci high potential predators can be tested and applied in higher scale
Penentuan Indeks Kebutuhan Hara Makro pada Tanaman Mangga dengan Metode Diagnosis and Recommendation Integrated System
ABSTRAK. Mangga merupakan komoditas buah yang memiliki nilai strategis untuk peningkatan ekspor danpengembangan agroindustri buah-buahan di Indonesia. Pemupukan pada tanaman mangga selama ini didasarkanpada pengalaman dan kebiasaan petani, belum mengacu pada kebutuhan tanaman. Diagnosis and RecommendationIntegrated System (DRIS) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mendiagnosis kebutuhan hara tanamandengan memperhitungkan perbandingan sepasang hara yang terkandung dalam jaringan tanaman. Untuk efisiensipemupukan, metode ini dinilai lebih baik dibanding beberapa metode lainnya. Tujuan penelitian ialah mendapatkanindeks hara dan nilai keseimbangan hara makro (N, P, K, Ca, dan Mg) pada tanaman mangga. Penelitian dilaksanakandi perkebunan mangga Arumanis umur 10 tahun milik PT Trigatra Rajasa, Situbondo, Jawa Timur mulai Januari2004 hingga Desember 2005. Pemilihan lokasi sampel didasarkan atas perbedaan kedalaman solum, yakni solumdangkal (<75 cm), solum sedang (75-150 cm), dan solum dalam (>150 cm). Penetapan sampel dilakukan secarapurposive random sampling sebanyak 12 tanaman untuk masing-masing kriteria kedalaman solum. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa hara P merupakan hara dominan yang dibutuhkan tanaman, diikuti oleh hara Mg dan N untuksolum sedang dan dalam, sedangkan untuk solum dangkal diperlukan hara P diikuti hara N. Sementara hara K danCa terdapat dalam jumlah yang cukup untuk semua lokasi. Rasio N/P untuk solum dalam (6,85) dan solum sedang(6,90) berada pada kisaran seimbang/normal (nilai N/P seimbang: 6,29-6,92), sementara untuk solum dangkal (6,07)berada pada kisaran kekahatan ringan (nilai N/P : 5,99–6,29). Rasio nilai N/K (solum dalam = 3,23, solum sedang= 3,38, dan solum dangkal = 3,02), berada pada kisaran normal/cukup (nilai N/K seimbang: 3,09-3,33). Demikianjuga rasio K/P (solum dalam = 2,15, solum sedang = 2,06, dan solum dangkal = 2,03), berada pada kisaran normal/cukup (kisaran K/P seimbang: 2,04-2,12). Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa unsur P merupakan unsurpaling dominan yang dibutuhkan tanaman mangga di lokasi tersebut, menyusul unsur N dan K. Terdapat hubunganantara nisbah hara N/P, N/K, dan K/P terhadap pertumbuhan, produksi, dan produktivitas tanaman, di mana bilamasing-masing nisbah hara tersebut berada dalam kisaran seimbang, maka pertumbuhan dan produksi tanamanjuga menjadi lebih baik. Model DRIS dapat direkomendasikan untuk membantu pengelolaan pemberian hara yangefisien sesuai kebutuhan tanaman.ABSTRACT. Juliati, S. 2010. Determination Macro Nutrient Index on Mango by DRIS Method. Mango ispriority commodity to increase export and as fruit agroindustry in Indonesia. Up till now fertilization on mango hasbeen done based on farmer’s pratices. Diagnosis and Recommendation Integrated System (DRIS) is a method todetermine nutrient requirement by analyzing nutrient ratio in pairs whitin plant tissue. To obtain the efficiency infertilization this method was better than other method. The experiment was carried out in 10 years age of mangoorchard of cv. Arumanis at PT Trigatra Rajasa Situbondo, East Java, from January 2004 until December 2005. Selectionof sample location was based on soil solum depth that were shallow solum (<75 cm), intermediate solum (75-150cm), and deep solum (>150 cm). Twelve trees at each soil solum depth were chosen as sample units determinedby purposive random sampling. The results showed that P was the most dominant nutrient element required by theplant in all location, followed by Mg and N for intermediate and deep solum, while for shallow solum the dominantnutrient was P followed by N. Kalium and Ca nutrient in were efficient all location. N/P nutrient balanced ratio fordeep solum was 6.85, 6.90 for intermediate solum and the normal range was N/P value : 6.29-6.92. For shallowsolum the N/P nutrient balanced ratio was 6.07 at low deficiency range (N/P value: 5.99–6.29). For N/K ratio value(deep solum = 3.23, intermediate solum = 3.38, and shallow solum = 3.02), all solums had balance range (N/Kbalanced value : 3.09-3.33). Similarly for K/P ratio (deep solum = 2.15, intermediate solum = 2.06 and shallowsolum = 2.03), all solums had balanced range (K/P balanced ratio : 2.04-2.12). Results of this study described that Pwas the most dominant nutrient required by the plant in the location. There was relationship between N/P, N/K, andK/P ratio on growth, production, and productivity. If each nutrient ratio was at balance condition it would be obtainedthe optimum growth and production of the plant. Diagnosis and Recommendation Integrated System model could beused to issue recommendation of efficient soil fertilization as it is matched with plant requirement
Respons Hama Lalat Buah Jantan terhadap beberapa Jenis Atraktan dan Warna Perangkap di Kebun Petani
ABSTRAK. Penelitian respons lalat buah jantan terhadap beberapa jenis atraktan dan warna perangkap dilakukan dikebun buah dan sayur Padang Pariaman dari bulan Juni sampai Oktober 2006. Penelitian menggunakan rancangan acakkelompok pola faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama ialah warna perangkap (merah, kuning,hijau, oranye, dan transparan). Faktor kedua ialah atraktan ME sintetik (metil eugenol murni 90%), petrogenol (ME70%), dan cue-lure. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata jumlah lalat buah yang terperangkap/perangkap/haripada berbagai warna perangkap dan atraktan sintetik berbeda nyata. Lalat buah lebih banyak terperangkap, diperolehpada perangkap warna kuning (39 ekor), kemudian diikuti oleh perangkap warna merah, hijau, oranye, dan transparan,masing-masing 29,84, 27,99, 14,89, dan 14,3 ekor lalat buah/perangkap/hari. Jumlah lalat buah paling banyak tertarikpada perangkap dengan atraktan metil eugenol murni dibandingkan dengan perangkap ME 70% dan cue-lure. Perangkapwarna kuning dengan atraktan ME dapat menarik lebih banyak jenis lalat buah (11 spesies) kemudian diikuti olehperangkap transparan, perangkap warna merah, oranye, dan hijau, masing-masing dapat menarik berturut-turut 9,8, 8, dan 7 jenis lalat buah. Penggabungan antara warna perangkap dengan atraktan sintetik metil eugenol, dapatmeningkatkan kemampuan sebagai perangkap yang potensial dan juga sebagai alat monitoring lalat buah.ABSTRACT. Hasyim, A., A. Boy, and Y. Hilman. 2010. The Response of Male Fruit Fly to Various Attractantand Trap Colors in the Farmer Orchard. The research was conducted in fruits and vegetables farmer orchard inPadang Pariaman from June to October 2006. The factorial randomized completely design with three replications andtwo factors were used in this experiment. The first factor was trap color (red, yellow, green, orange, and transparent).The second factor was kind of synthetic attractant (pure methyl eugenol 90%, petrogenol 70%, and cue-lure). Theresults showed that number of flies’ caught/trap/day was significantly different in response to trap colors and syntheticattractant. Yellow colored trap captured significantly highest number of male fruit fly (39 flies/trap/day) followed byred, green, orange, and transparent trap which were 29.84, 27.99, 14.89, and 14.3 fruit fly/trap/days, respectively.Pure ME (90%) attracted highest number of flies comparing ME 70% (petrogenol) and cue-lure. Yellow trap attractedhighest number of flies species (11 species) followed by transparent trap, red, orange, and green which were of 9, 8,8, and 7 species, respectively. The incorporation of trap color and synthetic attractant such as methyl eugenol wouldprovide powerful tools not only potential for fruit fly trapped but also for monitoring
Design Pengembangan Hortikultura Tahunan Berkelanjutan Di DAS Ciliwung Hulu
ABSTRAK. Kondisi hidrologis DAS Ciliwung Hulu saat ini dalam keadaan kritis akibat dari penurunan areal vegetasi,khususnya tanaman tahunan yang mempunyai fungsi utama menahan, menangkap, menguapkan, dan mengalirkanair hujan ke dalam tanah maupun di atas permukaan tanah, sebagai bagian penting dari siklus hidrologi. Untukmemperbaiki kondisi hidrologis DAS bagian hulu sebagai wilayah tangkapan air, maka diperlukan peningkatan arealtutupan lahan dengan tanaman tahunan yang sekaligus mampu memenuhi kriteria secara ekonomis menguntungkan,ramah lingkungan, dan dapat diterima oleh masyarakat. Tujuan penelitian ialah menentukan jenis tanaman hortikulturatahunan yang memenuhi kriteria yang diharapkan dan sesuai dengan wilayah pengembangan di DAS CiliwungHulu. Untuk itu diidentifikasi lahan yang terdiri atas 30 unit lahan >700 m dpl. dan 21 unit lahan <700 m dpl..Penelitian berhasil mengidentifikasi penyebaran 24 jenis tanaman hortikultura tahunan di masing-masing unit lahan.Berdasarkan kombinasi antara jumlah dan sebaran tanaman, ditentukan 10 jenis tanaman hortikultura tahunan potensialmenggunakan metode perbandingan indeks kinerja. Kesepuluh jenis tanaman tersebut berturut-turut ialah nangka,lengkeng, durian, melinjo, mangga, alpokat, rambutan, limus, petai, dan jengkol. Dengan menggunakan kombinasianalisis kesesuaian lahan, jumlah, dan sebaran tanaman, ditetapkan arahan rekomendasi pengembangan tanamanhortikultura tahunan, yang merupakan tanaman dominan untuk dikembangkan di DAS Ciliwung Hulu. Hasil analisisfinansial menunjukkan bahwa tanaman lengkeng mempunyai nilai NPV tertinggi sebesar Rp42.278.400,00, sedangkantanaman mangga dengan nilai NPV terendah, yaitu Rp13.205.675,00. Kombinasi pola tanam alpokat-nangka-lengkengmenunjukkan nilai NPV tertinggi, yaitu sebesar Rp38.779.187,00.ABSTRACT. Wibawa, W.D., H. Hardjomidjojo, G. Irianto, and B. Pramudya. 2010. The Development Designof Sustainable Perennial Horticulture in Upper Ciliwung Watershed. Hydrological condition of Upper CiliwungWatershed is critical due to rapid decrease of the perennial vegetation area which has a main function to catch anddeliver rainfalls into the soil as part a hydrological cycle. To improve hydrological condition of upper watershed asa catchment area it is necessary to develop perennial vegetation which are economically beneficial, environmentallyfriendly, as well as socially accepted by the community. Therefore, the objective of this research was to determineperennial horticultural commodities and areas in the Upper Ciliwung Watershed. Land units have been identified anddelineated, 30 land units above 700 m asl. and 21 land units below 700 m asl.. Existing 24 perennial horticultures andtheir distribution have been identified and predicted. Combination of plant distribution and quantity was used as abase to select top 10 priority perennial horticultural plants by using comparative performance index (CPI) method.Ten commodities were identified such as jack fruit, longan, durian, Gnetum gnemon, mango, avocado, rambutan,Mangifera odorata, Parkia sp., and Pithecellobium. Combination of land suitability, number, and distribution ofselected perennial horticulture commodities in every land units as well as limitation of maximum three commoditiesto develop for each land unit has been used to recommend the development of perennial horticulture in every land unit.Jack fruit, avocado, durian, longan, and G. gnemon were the dominant recommended commodities to develop. Longanindicates the highest NPV (Rp42,278,400.00), meanwhile mango was the lowest (Rp13,205,675.00). Combinationof avocado-jack fruit-longan indicates the highest NPV (Rp38,779,187.00)
Penetapan Ambang Pengendalian Spodoptera exigua pada Tanaman Bawang Merah Menggunakan Feromonoid Seks
Salah satu upaya untuk menekan penggunaan insektisida yang intensif untuk mengendalikan hama Spodoptera exigua pada budidaya bawang merah ialah menerapkan ambang pengendalian. Ambang pengendalian S. exigua dapat diterapkan berdasarkan populasi kelompok telur, kerusakan tanaman, atau berdasarkan populasi ngengat yang tertangkap menggunakan feromonoid seks. Penelitian penetapan ambang pengendalian berdasarkan populasi ngengat S.exigua yang tertangkap menggunakan feromonoid seks dilaksanakan di Desa Lakawan, Kecamatan Anggeraja (± 530 m dpl.), Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan, sejak Bulan Februari sampai dengan Agustus 2012. Sembilan macam perlakuan diuji pada percobaan ini, yaitu (A) > 0 ngengat S.exigua tertangkap/perangkap/hari, (B) ≥ 5 ngengat S.exigua tertangkap/perangkap/hari, (C) ≥ 10 ngengat S.exigua tertangkap/perangkap/ hari, (D) ≥ 15 ngengat S.exigua tertangkap/perangkap/ hari, (E) ≥ 20 ngengat S.exigua tertangkap/perangkap/ hari, (F) 0,1 kelompok telur/tanaman contoh, (G) Kerusakan tanaman 5%, (H) disemprot insektisida secara rutin dua kali/minggu, dan (I) kontrol (tidak disemprot dengan insektisida). Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dan setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Feromonoid seks yang digunakan ialah Feromon Exi yang diproduksi oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Hasil percobaan menunjukkan bahwa dengan penerapan ambang pengendalian berdasarkan hasil tangkapan populasi ngengat S.exigua menggunakan Feromon Exi sebanyak ≥ 10 ekor/perangkap/hari penggunaan insektisida dapat dikurangi sebesar 35,71% dengan hasil panen sebesar 13,46 t/ha, yang setara dengan hasil panen pada perlakuan menggunakan insektisida dua kali/minggu. Dengan demikian ambang pengendalian tersebut secara ekonomi layak untuk diadopsi karena dapat meningkatkan pendapatan bersih dan mengurangi biaya jika dibandingkan dengan pengendalian menggunakan insektisida dua kali/minggu
Kajian Teknis dan Ekonomis Sistem Tanam Dua Varietas Cabai Merah di Dataran Tinggi
ABSTRAK. Penelitian bertujuan mengkaji kelayakan teknis dan ekonomis sistem tanam monokultur dan tumpangsaridua varietas cabai merah di dataran tinggi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian TanamanSayuran Lembang, dari bulan September 2006 sampai dengan Februari 2007. Penelitian menggunakan perlakuanyang terdiri atas dua faktor, yaitu varietas cabai merah (Hot Chili dan Tanjung-2) dan sistem tanam (monokulturcabai merah dan tumpangsari cabai merah + kubis), seluas 2.500 m2/perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwasistem tanam tumpangsari antara cabai merah dengan kubis tidak memengaruhi pertumbuhan tanaman cabai merah.Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang menyerang pertanaman cabai merah selama percobaan berlangsungadalah gangsir, trips, kutukebul, kutudaun, layu bakteri, dan antraknos. Varietas Tanjung-2 terbukti relatif lebih tahanterhadap serangan OPT dibandingkan dengan varietas Hot Chili, serta mampu menekan kerusakan tanaman hingga50%. Secara teknis, hasil produksi varietas Tanjung-2 (monokultur dan tumpangari) lebih rendah dibanding HotChili. Secara ekonomis, penggunaan varietas Hot Chili yang ditumpangsarikan dengan kubis adalah yang palingmenguntungkan, dengan tingkat pengembalian marjinal yang lebih besar dari satu (>1) dan paling tinggi (458,95%)di antara perlakuan yang lain. Dengan diperolehnya teknologi sistem tanam cabai merah spesifik lokasi dataran tinggiyang secara teknis dapat diterapkan dan secara ekonomis menguntungkan, maka secara sosial akan mempunyaipeluang tinggi untuk diadopsi oleh petani.ABSTRACT. Soetiarso, T. A. and W. Setiawati. 2010. Technical and Economical Studies on Two Hot PepperVarieties Planting Systems in Highland Areas. The research was conducted to assess the technical and economicalfeasibility of two hot pepper varieties planting systems i.e. monoculture and intercropping in highland areas. It wascarried out in IVEGRI’s experimental garden from September 2006 to February 2007. The treatments used in theresearch consisted of two factors. The first factor was hot pepper varieties (Hot Chili and Tanjung-2) and the secondone was planting systems (monoculture of hot pepper and intercropping of hot pepper + cabbage). The results showedthat hot pepper intercropped with cabbage did not affect the growth of hot pepper. Some important pests and diseasesattacking hot pepper were crickets, thrips, bemisia, myzus, bacterial wilt, and anthracnose. Tanjung-2 was relativelymore resistant to pests and diseases than Hot Chili, and reduces of plant damage up to 50%. Agronomically, the yieldof Tanjung-2 as monocropped or intercropped was lower than Hot Chili. Compared to the other treatments, the use ofHot Chili variety intercropped with cabbage was the most profitable option economically. The marginal returns forthis option was greater than one (>1) and the highest (458.95%). The results suggest that the specifically-designedhighland hot pepper planting systems was not only technically feasible, but also economically viable. Hence, it hasgreat potential to be socially accepted and adopted by farmers as the end-users