Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Deteksi dan Pemetaan Distribusi Fusarium oxysporum f. sp. Cubense pada Daerah Potensial Pengembangan Agribisnis Pisang di In do ne sia
Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) adalah patogen pal ing berbahaya pada tanaman pisang didunia. Di In do ne sia, sekitar 8 juta rumpun tanaman pisang tradisional dan lebih dari 5000 ha perkebunan komersialhancur oleh patogen ini, selama kurun waktu 1995/1996-2000/2001. Patogen ini telah menyebabkan kerugianekonomis yang sangat besar. Walaupun tingkat kehancuran oleh Foc telah mencapai tingkat yang cukup tinggi,namun belum ditemukan cara pengendalian yang pal ing tepat, baik secara ekonomis maupun efektivitasbahan/metoda yang diaplikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi dan memetakan keberadaan Foc, agardalam pengembangan pisang dalam skala agribisnis, kerugian yang sangat besar akibat serangan patogen ini dapatdihindari secara dini. Penelitian dilakukan sejak bulan Juli 2001 sampai dengan Desember 2002. Pemetaan dilakukandi lokasi yang sudah dipublikasikan sebagai lokasi potensial untuk pengembangan agribisnis pisang di In do ne sia, danatau pada lokasi-lokasi yang ditargetkan oleh pemerintah daerah setempat sebagai lokasi pengembangan pisang.Lokasi yang dipilih adalah Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Barat dan Lampung. Deteksi dilakukan dengan mengambilsampel tanaman pisang terserang Foc pada lokasi-lokasi tersebut. Isolat dikarakterisasi secara VOT di LaboratoriumPenyakit, Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok. Dari 67 isolat yang dikoleksi berasal dari 28 jenis pisang, 60 diantaranya adalah Foc ras 4. Pengembangan agribisnis pisang di lokasi terinfeksi oleh ras 4 tidak direkomendasikan,bila tidak menggunakan varietas tahan atau menggunakan metoda pengendalian Foc ras 4 yang sudah terujikemangkusannya. De tec tion and map ping of Fusarium oxysporum f. sp.cubense on the potential area for banana agribusiness development in Indonesia. Fusarium oxysporum f. sp.cubense (Foc) is the most dan ger ous patho gen on ba nana in the world. In In do ne sia, about 8 mil lion mats of ba nana tra -di tional plan ta tion and more than 5 000 hect ares of com mer cial plan ta tion have de stroyed by this patho gen in theperiode of 1995/1996–2000/2001. The patho gen has caused enor mous eco nomic dam age in the coun try. Al thoughdev as ta tion caused by the patho gen has reached the data men tioned above, there was no ap pro pri ate method to con trolthe patho gen to date, whether in term of the eco nomic value or the ef fec tive ness ways in com bat ing the patho gen. Thepur pose of this study was to de tect and to map the ex ist ing of Foc so that ba nana ag ri busi ness de vel op ment pro gram inIn do ne sia can be avoided from the dev as ta tion caused by the patho gen. Mappings were con ducted on the se lected lo -ca tions which have been pub lished as the po ten tial area for ba nana ag ri busi ness de vel op ment in some parts ofSumatera. Or at the ar eas which are tar geted by lo cal gov ern ment to be used for ba nana es tate pro gram. Stud ies wereheld in the Prov inces of Riau, Jambi, West Su ma tra and Lampung. De tec tion was car ried out by col lect ing sam ple ofdis eased plants at the lo ca tions which were clar i fied above. Iso lates were char ac ter ized by VOT tech nique at the plantpa thol ogy lab o ra tory of the Re search In sti tute for Fruits, Solok. From 67 iso lates col lected which de rived from 28 ba -nana cultivars, 60 of them were race 4 of Foc. Based on this study, to de velop ba nana ag ri busi ness pro gram in the ar easwhich have been or be ing in fected by Foc race 4 is not rec om mended, un less re sis tant cultivars availabe or im ple men -ta tion of a method which has been suc cess fully tested to con trol Foc race 4
Kemangkusan Amblyseius swirskii dan Orius laevigatus dalam Mengendalikan Hama Thrips parvispinus pada Paprika
ABSTRAK. Penelitian yang bertujuan mengetahui kemurnian predator introduksi, keamanan jaring kasa Agronet(568 lubang/cm²), serta kemangkusan predator introduksi Amblyseius swirskii dan Orius laevigatus, dilaksanakansejak bulan Oktober 2007 sampai dengan April 2008 di Laboratorium Entomologi dan Fitopatologi Balai PenelitianTanaman Sayuran Lembang (±1.250 m dpl.) dan di Rumah Kasa CV ASB Farm di Desa Cigugurgirang, KecamatanParongpong, Kabupaten Bandung Barat (±1.100 m dpl.). Uji kemurnian dan keamanan dilakukan di laboratorium,sedang uji kemangkusan predator dilaksanakan di rumah kasa dalam mengendalikan hama T. parvispinus padatanaman paprika. Penelitian di rumah kasa menguji empat macam perlakuan pengendalian, yaitu dengan: (A) 75ekor A.swirskii/m2, (B) O.laevigatus 5 ekor/m2, (C) kombinasi 40 ekor A.swirskii + 3 ekor O.laevigatus/m2, dan (D)kontrol (tanpa predator). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kemasan predator introduksi A.swirskii danO.laevigatus hanya dijumpai kedua jenis predator tersebut dan tungau tepung sebagai makanan A.swirskii. Organismehama dan penyakit tidak ditemukan dalam kemasan, sehingga kedua predator tersebut layak diintroduksi ke Indonesia.Jaring kasa Agronet yang digunakan memiliki anyaman yang cukup rapat, sehingga tidak memungkinkan predatorpredatortersebut melaluinya. Dengan demikian, jaring tersebut aman digunakan sebagai dinding rumah kasa. Daripercobaan di rumah kasa diketahui bahwa A.swirskii efektif mengendalikan trips, sehingga hasil panen paprika dapatdipertahankan.ABSTRACT. Prabaningrum, L. and T.K. Moekasan. 2010. Effectiveness of Amblyseius swirskii and Oriuslaevigatus Against Thrips parvispinus on Sweet Pepper. The experiment was aimed to determine the purity ofintroductory predators, safety of the Agronet screen (568 holes/cm²), and effectiveness of introductory predatorsA. swirskii and O.laevigatus. The research was conducted from October 2007 until April 2008 in the Laboratory ofEntomology and Phytopathology Division of Indonesian Vegetables Research Institute (IVEGRI) (1,250 m asl.) andin the Greenhouse of CV ASB Farm in Cigugurgirang Village, Parongpong Subdistrict, West Bandung District (1,100m asl.), West Java. Purity and safety tests were conducted in the laboratory and the effectiveness test was conductedin the greenhouse. Four treatments were tested in the greenhouse i.e. the application of (A) A.swirskii (75/m2), (B)O.laevigatus (5/m2), (C) A.swirskii (40/m2) + O.laevigatus (3/m2), and (D) check (without predators). The resultsshowed that there were only A.swirskii, O.laevigatus, and powder mites as food in the containers of the introductorypredators. There were no pests and diseases in the container, so that the predators can be introduced. The net of thescreen was plaited closely, so that A.swirskii and O.laevigatus did not able to pass through. It was indicated that thescreen was safe to be used as the wall of screenhouse. The experiment in the screenhouse indicated that A.swirskiisuppressed thrips population effectively, so that the sweet pepper yield would be sustained
Pengaruh Jenis Media Kultur In Vitro dan Jenis Eksplan terhadap Morfogenesis Lili Oriental
ABSTRAK. Perbanyakan secara in vitro merupakan teknik yang sangat menjanjikan untuk perbanyakan tanaman.Dengan teknik ini dapat diperoleh bibit tanaman yang banyak dalam waktu singkat. Tujuan penelitian ialahmemperoleh informasi mengenai pengaruh jenis media dan jenis eksplan tehadap morfogenesis lili secara in vitro.Varietas yang digunakan ialah lili oriental cv. Donau. Penelitiaan dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan BalaiPenelitian Tanaman Hias, Segunung, Cianjur, Jawa Barat, dari bulan Januari-Desember 2007. Percobaan menggunakanrancangan acak lengkap pola faktorial dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama ialah empat jenis media, yaituA = Murashige dan Skoog (MS)+BAP 1 ppm+2,4-D 1 ppm, B = MS+NAA 0,5 ppm+TDZ 0,08 ppm, C=MS+NAA1 ppm+TDZ 2 ppm, dan D = MS+2,4-D 1,5 ppm+Kinetin 1 ppm+TDZ 1 ppm dan faktor kedua adalah empat jeniseksplan (petal, petiol, ovul, dan sisik umbi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata padainteraksi antara faktor pertama dan faktor kedua pada semua parameter yang diamati. Media B yang dikombinasikandengan eksplan ovul memberikan hasil tertinggi untuk inisiasi pembengkakan eksplan, sedangkan media B denganeksplan petal, serta media D dengan eksplan petal dan sisik umbi memberikan hasil terbaik untuk induksi kalus. MediaA dan sisik umbi merupakan kondisi terbaik untuk pembentukan tunas dan akar. Media A dengan eksplan sisik umbidan media C dengan eksplan tangkai bunga menunjukkan hasil perlakuan terbaik dalam menginduksi umbi mikro.Pembentukan kalus embriogenik tertinggi terjadi pada media D dengan eksplan petal.ABSTRACT. Pramanik, D. and F. Rachmawati. 2010. The Effect of In Vitro Culture Media and Explants onMorphogenesis of Oriental Lily. Tissue culture technique is the promising method for plant multiplication. Theaim of this study was to evaluate the effect of in vitro media and explants on the morphogenesis of oriental lily cv.Donau. The research was conducted by using randomized complete design with two factors and three replications.The first factor was media, that were A = Murashige and Skoog (MS)+BAP 1 ppm+2.4-D 1 ppm, B = MS+NAA0.5 ppm+TDZ 0.08 ppm, C = MS+NAA 1 ppm+TDZ 2 ppm, and D = MS+2.4-D 1.5 ppm+Kinetin 1 ppm+TDZ 1ppm. While second factors was explants, i.e. petal, peduncle, ovule, and bulb-scale. The results of the study showedthat there was a very significant difference of interaction between first factor and second factor to all parametersobserved. B medium combined with ovule explants gave the best treatment for explants-swollen induction. MeanwhileB medium with petal explants and D medium with petal and bulb-scale explants were the best treatment for callusinduction. A medium with bulb-scale explants provided the best condition for shoot and root formation. A mediumwith bulb-scale explants and C medium with peduncle explants showed the best treatment in micro-bulb induction.The best result on embryogenic callus induction was D medium combined with petal explants
Pengaruh Pengemasan dan Penyimpanan terhadap Masa Kesegaran Bunga Mawar Potong
Larutan pulsing merupakan suatu larutan nutrisi sebagai sumber karbohidrat dan dapat melindungi tangkai bunga dari serangan mikroorganisme penyebab penyumbatan dan mampu mempertahankan mutu bunga mawar potong. Tujuan penelitian ialah untuk memperoleh cara pengemasan dan penyimpanan yang tepat dalam upaya memperpanjang masa kesegaran bunga mawar potong. Bunga mawar dipanen di daerah Sukabumi, Jawa Barat, pada pagi hari pukul 07:00 dengan stadia kuncup dua petal terluar terbuka, kemudian direndam dalam 20 ppm AgNO3 + 5% gula pasir + 320 ppm asam sitrat selama 12 jam. Selanjutnya bunga mawar dikemas dalam kantong plastik PE dengan ketebalan 0,03 mm sebagai kemasan primer. Setelah itu dimasukkan ke dalam kotak karton ukuran 75 x 20 x 8 cm sebagai kemasan sekunder. Sebagai kontrol digunakan bunga tanpa perlakuan perendaman. Selanjutnya disimpan dalam ruang dingin suhu 5–10oC. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias Pasarminggu, dari bulan Agustus 2006 sampai dengan Maret 2007 menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan dua faktor, yaitu cara pengemasan (A), enam taraf terdiri atas (a1) pengemasan dalam kantong plastik PE dengan ketebalan 0,03 mm, 16 lubang mikro, kapasitas 10 tangkai bunga mawar potong; (a2) pengemasan dalam kantung plastik PE dengan ketebalan 0,03 mm, 16 lubang mikro, kapasitas satu tangkai bunga mawar potong; (a3) pengemasan dalam kantong plastik PE dengan ketebalan 0,03 mm, tanpa lubang, kapasitas 10 tangkai bunga mawar potong; (a4) pengemasan dalam kantong plastik PE dengan ketebalan 0,03 mm, tanpa lubang, kapasitas 1 tangkai bunga mawar potong; (a5) tanpa pengemasan (langsung dimasukkan ke dalam kotak karton); dan (a6) tanpa pulsing dan pengemasan. Lama penyimpanan (B), tiga taraf terdiri atas (b1) penyimpanan 2 hari; (b2) penyimpanan 4 hari; dan (b3) penyimpanan 6 hari dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengemasan primer dengan kantong plastik PE 0,03 mm, dalam kotak karton single corrugated (ukuran 75 x 20 x 8 cm) dengan lama penyimpanan 2 hari, memberi hasil yang terbaik dengan masa kesegaran mencapai 6,81 hari (2 hari lebih lama dibanding kontrol) dengan diameter bunga berkisar 5,23-7,11 cm dan larutan terserap yang tertinggi. Implikasi ini merupakan metode pengemasan yang dapat digunakan pedagang untuk memperpanjang ketahanan simpan bunga mawar potong sehingga jangkauan distribusi dan pemasaran dapat diperluas.ABSTRACTPulsing solution containing sugar and germicides were used for flower stem dipping before packaging and long storage to serve as carbohydrate sources, prevent the plugged stems from microbe infestation, and keep the quality of rose cut flowers. The objective of the study was to determine the proper packaging and storage of rose cut flowers. The flowers were harvested at a flower rose garden in Sukabumi-West Java at 07:00 AM with two bud opening stages and then they were pulsed with solution of AgNO3 20 ppm + sucrose 5% + 320 ppm citric acid for 12 hours. Each flower was placed in a box (75 x 20 x 8 cm) with capacity of 10 inflorescences. All treated cut flowers were storage at temperature of 5–10oC. The experiment was conducted in Experimental Garden of Indonesian Ornamental Plant Research Institute from August 2006 until March 2007, arranged in a completely randomize design (packaging method, six level: (a1) packaging PE 0.03 mm, pink prick 16 micro, 10 cut rose flowers; (a2) packaging PE 0.03 mm, pink prick 16 micro, 1 cut rose flowers; (a3) packaging PE 0.03 mm, 10 cut rose flowers; (a4) packaging PE 0.03 mm, 1 cut rose flowers (a5) without packaging (put direct into the cartoon box), (a6) control. Storage duration (B), three level: (b1) two days; (b2) four days; and (b3) six days with three replication. The results showed that the primary packaging with polyethylene plastic bag (PE) 0.03 mm, in a cardboard box single corrugated (size 75 x 20 x 8 cm) and storage duration of 2 days, give the best results with the freshness reach 6.81 days (two days longer than the control), with flower diameter 5.23-7.11 cm and highest take up solution. This method was beneficial to the grower because they can expand their potential to market the flower.
Pengaruh Myoinositol dan Arang Aktif terhadap Pertumbuhan Planlet Anggrek Dendrobium dalam Kultur In Vitro
ABSTRAK. Anggrek Dendrobium merupakan tanaman hias komersial yang sangat penting di Indonesia. Optimasi media dalam kultur in vitro sangat diperlukan untuk meningkatkan dan mempercepat pertumbuhan planlet. Salah satu cara untuk mengoptimalisasi media in vitro yaitu dengan pemberian myoinositol dan arang aktif. Tujuan penelitian ialah mengetahui pengaruh myoinositol dan arang aktif terhadap pertumbuhan planlet Dendrobium. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Hias Pasarminggu, Jakarta mulai Bulan Juni sampai dengan Desember 2010. Metode penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan delapan perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan terdiri atas konsentrasi myoinositol 0, 50, 100, dan 150 mg/l dengan dan tanpa penambahan arang aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian myoinositol 50 mg/l tanpa arang aktif dapat meningkatkan tinggi planlet, panjang dan lebar daun, sedangkan myoinositol 100 mg/l dengan penambahan arang aktif 2 g/l meningkatkan pertumbuhan jumlah dan panjang akar terbaik.ABSTRACT. Widiastoety, D, Santi, A, and Solvia, N 2012. Effect of Myoinositol and Activated Charcoal on the Growth of Dendrobium Orchid Plantlets in In Vitro Culture. This study was aims to determine the effect of myoinositol and activated charcoal on the growth of Dendrobium plantlets. Dendrobium is one of the most important commercial orchids in Indonesia. Media optimization is critical factor to improve and to promote plantlet growth. One of the methods to enrich the medium was by the use of myoinositol and activated charcoal. The study was conducted at the In Vitro Culture Laboratory of Indonesian Ornamental Crops Plants Research Institute Pasarminggu, Jakarta from June through December 2010. A completely randomized design with eight treatments and five replications was used in this experiment. The treatments given were myoinositol 0, 50, 100, and 150 mg/l with and without addition of activated charcoal. The results showed that application of myoinositol 50 mg/l without activated charcoal enhance the plantlet height, length, and leave width, while myoinositol 100 mg/l with addition of activated charcoal 2 g/l increased the highest number of the root and the longest root growth
Pengaruh Varietas, Status K-Tanah, dan Dosis Pupuk Kalium terhadap Pertumbuhan, Hasil Umbi, dan Serapan Hara K Tanaman Bawang Merah
ABSTRAK. Pemupukan sebaiknya didasarkan pada kebutuhan tanaman dan kesuburan lahan agar diperoleh hasil yang optimal. Adanya keragaman tanah dan lingkungan yang cukup tinggi di Indonesia menyebabkan kebutuhan pupuk berbeda dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk K optimum untuk dua varietas bawang merah pada status K-tanah yang berbeda. Metode penelitian terdiri atas survei status K-tanah yang dilakukan di sentra produksi bawang merah di dataran rendah Jawa Barat dan Jawa Tengah, dan percobaan pot yang dilakukan di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang dari Bulan Maret sampai dengan Desember 2008. Rancangan percobaan yang digunakan untuk percobaan pot ialah petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama ialah bawang merah varietas Bangkok dan Kuning. Anak petak ialah status hara K-tanah, yaitu status K-tanah rendah (<20 ppm K2O), sedang (21–40 ppm K2O), dan tinggi (>41 ppm K2O). Anak-anak petak ialah dosis pupuk K terdiri atas 0, 60, 120, 180, dan 240 kg/ha K2O. Pupuk N (150 kg/ha) dan P (150 kg/ha P2O5) diberikan sebagai pupuk dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara varietas, status K-tanah, dan dosis pupuk K terhadap bobot kering tanaman, luas daun, hasil bobot umbi segar, dan bobot umbi kering eskip bawang merah. Namun serapan hara K tanaman dan residu pupuk K dalam tanah dipengaruhi oleh interaksi ketiga faktor tersebut. Hubungan antara hasil umbi bawang merah varietas Bangkok dan Kuning dengan dosis pupuk K pada semua status K-tanah bersifat kuadratik. Dosis pupuk K optimum untuk varietas Bangkok ialah 126,67 kg/ha K2O pada status K-tanah rendah, 170,00 kg/ha K2O pada status K-tanah sedang, dan 1,5 kg/ha K2O pada status K-tanah tinggi, sedangkan dosis pupuk K optimum untuk varietas Kuning ialah 214,29 kg/ha K2O pada status K-tanah rendah, 216,67 kg/ha K2O pada status K-tanah sedang, dan 106,50 kg/ha K2O pada status K-tanah tinggi. Hasil umbi dan serapan hara tanaman varietas Bangkok dan Kuning pada status K-tanah tinggi nyata lebih tinggi dibandingkan pada status K-tanah rendah dan K-tanah sedang. Makin tinggi status K-tanah dan dosis pupuk K, maka makin tinggi pula residu K dalam tanah.ABSTRACT. Sumarni, N, Rosliani, R, Basuki, RS, and Hilman, Y 2012. Effects of Varieties, Soil-K Status, and K Fertilizer Dosages on Plant Growth, Bulb Yield, and K Uptake of Shallots Plant. In order to get the optimum yield, fertilization should be based on plant need of nutrient and nutrient content of soil. The presense of high diversities of soil and environment in Indonesia cause the fertilizer needed are different from one location to another. This research methodologies were survey of soil-K status on some shallots production areas in lowland of West and Central Java, and pot experiment that was carried out at Screenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute from March to December 2008. The aim of this experiment was to find out the optimum dosage of K fertilizer for two shallots varieties on several soil fertility level (soil-K status). A split-split plot design with three replications was used in this experiment. As main plots were shallots varieties, consisted of Bangkok and Kuning varieties. Subplots were the content/status of soil-K, consisted of low (<20 ppm K2O), medium (21–40 ppm K2O), and high (>41 ppm K2O). Sub-subplots were K fertilizer dosages, consisted of 0, 60, 120, 180, and 240 kg/ha K2O. N fertilizer (150 kg/ha N) and P fertilizer (150 kg/ha P2O5) were applied as basic fertilizers. The results showed that there were no interaction between varieties, soil-K status, and K fertilizer dosages on plant leaf area, plant dry weight, fresh and dry weight of bulb yield of shallots. But K uptake by shallots plant and residual of K fertilizer in soil were affected by the three those factors. The curves of the relationship between K fertilizer dosages and bulb yield of Bangkok and Kuning varieties on all soil-K status were quadratics. The optimum dosage of K fertilizer for Bangkok variety were 126.67 kg/ha K2O on low of soil-K status, 170.00 kg/ha K2O on medium of soil-K status, and 1.50 kg/ha K2O on high of soil-K status; whereas for Kuning variety were 214.29 kg/ha K2O on low of soil-K status, 216.67 kg/ha K2O on medium of soil-K, and 106.50 kg/ha K2O on high of soil-K status.The bulb yield and K uptake of Bangkok and Kuning varieties were significantly higher on high soil-K status than on low and medium of soil-K status. The more higher of K fertilizer dosages and soil-K status gave the more higher of K residual of K fertilizer in soil
Trips (Thysanoptera: Thripidae) pada Bunga dan Buah Manggis Serta Hubungannya dengan Kejadian Burik
ABSTRAK. Burik merupakan salah satu penyebab rendahnya mutu buah manggis di Indonesia. Saat ini informasi tentang kejadian burik pada buah manggis di Indonesia baik penyebab maupun pengelolaannya masih sangat terbatas. Tujuan penelitian ialah untuk mempelajari burik buah, dinamika populasi trips, dan hubungan populasi trips dengan kejadian burik pada buah manggis. Penelitian tentang asosiasi serangga trips (Thysanoptera: Thripidae) dengan bunga dan buah serta hubungannya dengan kejadian burik pada buah manggis dilaksanakan di Desa Cengal, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dari bulan Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010. Pengamatan laboratorium dilakukan di Laboratorium Biosistematika Serangga dan Laboratorium Anatomi Tumbuhan, Institut Pertanian Bogor. Bagian tanaman yang diamati ialah daun muda, kuncup, bunga mekar sempurna, dan buah umur 1–16 minggu setelah antesis (MSA). Hasil penelitian menunjukkan burik hanya merusak lapisan kutikula dan eksokarp buah manggis. Scirtothrips dorsalis dan Thrips hawaiiensis (Thysanoptera: Thripidae) ditemukan pada daun muda, kuncup, bunga, dan buah manggis. Populasi imago S. dorsalis dan T. hawaiiensis tertinggi ialah 1,15 dan 0,95 indiividu/bunga mekar sempurna, populasi larva tertinggi ditemui pada buah berumur 2 MSA yaitu 8,75 individu. Populasi trips semakin menurun dengan bertambahnya umur buah manggis. Gejala burik paling banyak muncul pada buah umur 2 dan 3 MSA. Terdapat korelasi antara kepadatan populasi trips pada buah umur 2 dan 3 MSA dengan kejadian burik pada buah manggis. Kepadatan trips sebanyak 10,6 inidividu dapat menimbulkan gejala burik pada buah manggis umur 2 MSA. Karena populasi trips dan gejala burik muncul pada awal pertumbuhan buah, tindakan preventif dengan insektisida dapat dilakukan sebelum tanaman manggis memasuki periode berbunga.ABSTRACT. Fardedi, Maryana, N, Manuwoto, S and Poerwanto, R 2012. Thrips (Thysanoptera: Thripidae) in Flower and Fruit of Mangosteen (Garcinia mangostana L.) and the Correlation to Fruit Scars. Scars on mangosteen decreases the quality of this fruit economically. At the moment, information about management and causal factor of the scars on mangosteen in Indonesia are very limited. The aims of this research were to investigate the fruit scars, the population dynamic of thrips, and the correlation to the fruit scars. The association between thrips and mangosteen flowers and fruits as well as the correlation between thrips population to the fruit scars was investigated. The research was conducted at Cengal Village, Bogor District, West Java from May 2009 to August 2010. Laboratory investigation was carried out in Insect Biosystematics Laboratory and Plant Anatomy Laboratory, Bogor Agricultural University. Parts of plant observed were the shoot, flower bud, opened-flower, and fruit of 1 - 16 weeks after anthesis (WAA). The scars occurred in fruit cuticle and exocarp. There were two species of thrips, Scirtothrips dorsalis and Thrips hawaiiensis, that were found at flower bud, opened- flower, and fruit. The highest larva population of S. dorsalis and T. hawaiiensis imago were 1.15 and 0.95 each flowers, the highest larva population was on 2 WAA fruits (8.75). The population of adults for both species was high in opened-flower. The population of larva was also high on fruit 2 WAA. The population of thrips decreased along with fruit growth. Scars occurred on fruit 2 and 3 WAA. There was a correlation between the abundance of thrips on fruit 2–3 WAA and scars at mangosteen fruits. Trips density 10.6 could cause scars on 2 WAA fruits. Thrips population and the symptoms of scars occurred on the early growth of fruits, therefore to control the trips using insecticide was suggested to be applied before flowering stage
Teknologi Budidaya Tanaman Tomat Melalui Inverted Gardening dan Conventional Gardening Berbasis Pemanfaatan Bakteri Indigenus
ABSTRAK. Inokulan padat Azzofor-wd3 merupakan campuran 16 isolat bakteri indigenus lahan gambut (Rhizobium, Azotobacter, Azospirillum, dan bakteri pelarut fosfat) masing-masing empat isolat digunakan sebagai pupuk hayati untuk meningkatkan produksi tomat dalam inverted dan conventional gardening. Penelitian bertujuan mengetahui peran potensial inokulan padat Azzofor-wd3 sebagai plant growth promoter dalam kondisi lingkungan ekstrim, khususnya pada lahan gambut. Penelitian dilaksanakan di Pusat Penelitian Biologi, LIPI, dari Bulan Januari sampai dengan Desember 2011 Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 28 perlakuan penambahan media pupuk pada media tanam dengan tiga ulangan atau pot. Media dasar ialah gambut (50%) dan tambahan pupuk hayati (50%). Perlakuan tambahan media pupuk mencakup : (1) gambut sebagai kontrol, (2) sekam kotoran ayam, (3) kompos, (4) pasir halus, (5) kapur, (6) Azzofor-wd3, (7) sekam kotoran ayam + pasir halus, (8) sekam kotoran ayam + kapur, (9) sekam kotoran ayam + Azzofor-wd3, (10) kompos + pasir halus, (11) kompos + kapur, (12) kompos + Azzofor-wd3, (13) pasir halus + kapur, (14) pasir halus + Azzofor-wd3, (15) kapur + Azzofor-wd3, (16) sekam kotoran ayam + kompos + pasir halus, (17) sekam kotoran ayam + kompos + kapur, (18) sekam kotoran ayam + kompos + Azzofor-wd3, (19) sekam kotoran ayam + pasir halus + kapur, (20) sekam kotoran ayam + pasir halus + Azzofor-wd3, (21) sekam kotoran ayam + kapur + Azzofor-wd3, (22) kompos + pasir halus + kapur, (23) kompos + kapur + Azzofor-wd3, (24) pasir halus + kapur + Azzofor-wd3, (25) sekam kotoran ayam + kompos + pasir halus, (26) sekam kotoran ayam + kompos + pasir halus + Azzofor-wd3, (27) kompos + pasir halus + kapur + Azzofor-wd3, dan (28) sekam kotoran ayam + kompos + pasir halus + kapur + Azzofor-wd3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi tomat tertinggi setelah 3 bulan ialah pada perlakukan media gambut + sekam kotoran ayam + kompos + pasir halus + kapur + Azzofor-wd3 pada inverted dan conventional gardening, masing-masing sebesar 63,9 dan 65,9 g/pot. Terdapat perbedaan pengaruh perlakukan yang nyata antara inverted dan conventional gardening dalam hal P-tersedia, populasi bakteri, dan aktivitas PME-ase. Namun demikian, tidak ada pengaruh perlakuan yang nyata terhadap produksi tomat antara inverted dan conventional gardening. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Azzofor-wd3 merupakan bakteri pendorong pertumbuhan tanaman yang potensial untuk tanaman tomat yang dibudidayakan pada lahan gambut. Aplikasi jenis bakteri tersebut sangat bermanfaat dalam pengayaan tanah gambut untuk pembudidayaan tanaman sayuran. ABSTRACT. Widawati, S, Sudiana, IM, Sukara, E, and Muharam, A 2012. The Technology of Tomato Plant Cultivation Through Inverted and Conventional Gardening Based on Utilization of Indigenous Bacteria. Azzofor-wd3 is a solid inoculant consisted of 16 peat indigenous bacteria isolates i.e. Rhizobium, Azotobacter, Azospirillum, and PSB four isolates respectively were used as biofertilizers to stimulate tomato production on inverted and conventional gardening. An experiment was conducted at the Research Center for Biology, Indonesian Institute of Sciences from January until December 2011. The research was aimed to determine the potential role of Azzofor-wd3 solid inoculant as a plant growth promoter in extremely environmental conditions. The treatments of growth media mixture were arranged in a completely randomized design with three replications. The based media was peat for 50% of mixture. The treatments were the addition of biofertilizers with the same volume of the based media (50%). The treatments were (1) peat only as the control, (2) chicken dunk, (3) compost, (4) fine sand, (5) lime, (6) Azzofor-wd3 inoculant, (7) chicken dunk + fine sand, (8) chicken dunk + lime, (9) chicken dunk + Azzofor-wd3, (10) compost + fine sand, (11) compost + lime, (12) compost + Azzofor-wd3, (13) fine sand + lime, (14) fine sand + Azzofor-wd3, (15) lime + Azzofor-wd3, (16) chicken dunk + compost + fine sand, (17) chicken dunk + compost + lime, (18) chicken dunk + compost + Azzofor-wd3, (19) chicken dunk + fine sand + lime, (20) chicken dunk + fine sand + Azzofor-wd3, (21) chicken dunk + lime + Azzofor-wd3, (22) compost + fine sand + lime, (23) compost + lime + Azzofor-wd3, (24) fine sand + lime + Azzofor-wd3, (25) Chicken dunk + compost + fine sand, (26) chicken dunk + compost + fine sand + Azzofor-wd3, (27) compost + fine sand + lime + Azzofor-wd3, and (28) chicken dunk + compost + fine sand + lime + Azzofor-wd3. The results showed that the highest production of tomato in inverted gardening was 63.9 g/pot and in conventional gardening was 65.9 g/pot produced by the plants grown on peat + chicken dunk + compost + sand + lime + Azzofor wd3 inoculant, 3 months after planting. There was significant difference of available-P, bacterial population, and PME-ase activity in inverted and conventional gardening before and after fertilization, whereas there was no significant difference of tomato yield between inverted and convensional gardening. It can be concluded that Azzofor-wd3 is potential as a plant growth promoting bacteria for tomato plants grown in peat soil. The application of the bacteria is very helpful to enrich peat soil for growing vegetable crops
Pengujian Ketahanan Klon-klon Hasil Silangan Tanaman Kentang Transgenik dengan Nontransgenik terhadap Penyakit Hawar Daun Phytophthora infestans di Lapangan Uji Terbatas
STRAK. Tanaman kentang transgenik Katahdin event SP904 dan SP951 mengandung gen RB, yang diisolasi dari spesies liar kentang diploid Solanum bulbocastanum. Gen RB mempunyai ketahanan yang bersifat durable dengan spektrum yang luas terhadap ras-ras Phytophthora infestans di Amerika Serikat. Dalam perakitan tanaman kentang tahan penyakit hawar daun P. infestans di Indonesia, transgenik Katahdin dijadikan sebagai donor tahan dalam persilangan dengan varietas rentan Atlantik dan Granola. Klon-klon hasil silangan dianalisis secara molekuler mengandung gen RB. Penelitian dilakukan untuk menguji ketahanan klon-klon hasil silangan tanaman kentang transgenik dengan nontransgenik terhadap isolat P. infestans di lapangan uji terbatas (LUT) yang berlokasi di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Lembang dari bulan Oktober 2009 sampai dengan Maret 2010. Klon-klon yang diuji ialah 12 klon hasil silangan Atlantik x transgenik Katahdin SP904 (A); 15 klon hasil silangan Atlantik x transgenik Katahdin SP951 (B); 17 klon hasil silangan Granola x transgenik Katahdin SP904 (C); dan 20 klon hasil silangan Granola x transgenik Katahdin SP951 (D). Atlantik dan Granola digunakan sebagai kontrol rentan, sedangkan transgenik Katahdin sebagai kontrol tahan. Pengamatan dimulai ketika muncul gejala awal, yaitu pada 26, 32, 39, 46, dan 53 hari setelah tanam. Ketahanan tanaman semakin menurun dengan bertambahnya periode pengamatan, diikuti meningkatnya intensitas penyakit dan AUDPC. Semua klon yang diuji menunjukkan keragaman dalam ketahanan fenotipik terhadap hawar daun P. infestans. Klon-klon hasil silangan Atlantik x transgenik Katahdin SP951 mempunyai nilai AUDPC 697, yang hampir sama dengan transgenik Katahdin SP904 yaitu 698,5. Klon-klon Granola x transgenik Katahdin SP951 mempunyai nilai AUDPC 687,5 lebih kecil dibandingkan transgenik Katahdin SP904. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa klon-klon tersebut mempunyai ketahanan yang lebih tinggi dibandingkan transgenik Katahdin SP904. Pada pengamatan 46 hari setelah tanam atau 20 hari setelah infeksi diperoleh tiga klon tahan yaitu B49 (skor 7,5), C111 (skor 7,1), dan D26 (skor 7,3). Ketahanan ini lebih tinggi daripada transgenik Katahdin SP904 (skor 5,1) dan transgenik Katahdin SP951 (skor 6,4). ABSTRACT. Ambarwati, AD, Herman, M, Listanto, E, Suryaningsih, E and Sofiari, E 2012. Resistance Testing on Transgenic and Nontransgenic Potato Clones Against Late Blight Phytophthora infestans in Confined Field Trial. Transgenic potato Katahdin event SP904 and SP951 containing RB gene, which were isolated from a wild diploid potato species, Solanum bulbocastanum. RB gene showed durable resistance with broad spectrum to all known races of P. infestans in the USA. In development of potato resistant to late blight P. infestans in Indonesia, Katahdin transgenic were used as a resistant donor and crossed with susceptible varieties i.e. Atlantic and Granola. Clones derived from the crossing were molecularly analyzed and had RB gene contain. Experiment was conducted to assess the resistance of the clones derived from crossing of Katahdin transgenic and nontransgenic to P. infestans in confined field trial (CFT), located at the Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI), Lembang from October 2009 to March 2010. Several clones tested were 12 clones of Atlantic x Katahdin transgenic SP904 (A); 15 clones of Atlantic x Katahdin transgenic SP951 (B); 17 clones of Granola x Katahdin transgenic SP904 (C); and 20 clones of Granola x Katahdin transgenic SP951 (D). Atlantic and Granola were used as susceptible control whereas Katahdin transgenic as resistant control. Observation was started as late blight symptoms and detected at 26, 32, 39, 46, and 53 days after planting. Plant resistance decreases with increasing period of observation, followed by increasing disease intensity and AUDPC. All clones tested showed variation in phenotypic resistance to late blight P. infestans. Clones derived from crossing of Atlantic x Katahdin transgenic SP951 had AUDPC score 697 and almost similar to Katahdin transgenic SP904 (698.5). Clones derived from crossing of Granola x Katahdin transgenic SP951 had AUDPC score 687.5 and smaller than Katahdin transgenic SP904. The results also indicated that these clones had higher resistance than Katahdin transgenic SP904. Observation at 46 days after planting or 20 days after infection resulted three resistant clones i.e. B49 (score 7.5), C111 (score 7.1); and D26 (score 7.3). This resistance was higher than Katahdin transgenic SP904 (score 5.1) and Katahdin transgenic SP951 (score 6.4)
Kompatibilitas Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, dan Trichoderma harzianum untuk Mengendalikan Ralstonia solanacearum pada Tanaman Kentang
ABSTRAK. Dalam usaha budidaya kentang dijumpai berbagai kendala yang menekan produktivitas tanaman. Salah satu kendala yang paling penting yaitu patogen tular-tanah yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum E. F. Smith. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa patogen ini dapat menimbulkan kehilangan hasil tanaman kentang 40–100%. Salah satu alternatif yang paling prospektif dalam mengendalikan R. solanacearum ialah dengan mengaplikasikan mikrob antagonis yang diisolasi dari alam. Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, dan Trichoderma harzianum merupakan mikrob antagonis yang mampu mengendalikan patogen yang terbawa tanah sampai 70% dan mampu meningkatkan produksi tanaman sampai 40%. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi kompatibilitas mikrob antagonis dan dapat mengendalikan R. solanacearum pada tanaman kentang. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, dan Laboratorium Bakteriologi Balai Penelitian Tanaman Hias, pada bulan Maret sampai dengan Desember 2009. Dari hasil penelitian ini diperoleh dua nomor isolat bakteri yaitu P. fluorescens yang diisolasi dari rizosfer krisan, Segunung (Pf2), B. subtilis berasal dari IPB (Bs 12), dan satu isolat T. harzianum berasal dari Universitas Gadjah Mada (Th 1) kompatibel pada media yang banyak mengandung protein (King’s B), tetapi tidak kompatibel pada media yang banyak mengandung karbohidrat (potato dextrose agar). Indikatornya ialah indeks kompatibilitas ≤1. Aplikasi B. subtilis secara tunggal merupakan perlakuan yang paling efektif mengendalikan R. solanacearum pada kentang. Hal tersebut ditunjukkan oleh persentase penekanan perlakuan tersebut paling besar (35,27%) bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, kecuali perlakuan gabungan antara Bs 12, Pf 2, dan Th 1 yang sama-sama menunjukkan persentase penekanan sebesar 35,27%.ABSTRACT. Hanudin, Marwoto, B, Hersanti, and Muharam, A 2012. Compatibilities of Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, and Trichoderma harzianum to Control Ralstonia solanacearum on Potato. Among the vegetable crops cultivated by farmers, potato is the most important one. In cultivating the crop, farmers has faced many problems, the most important one is wilt disease caused by Ralstonia solanacearum E. F. Smith. Based on the available data known that the disease reduces 40–100% of the total production. One of the alternative methods control which was more environmentally friendly applied by the use of antagonistic microbes isolated from the soil. Bacillus subtilis, P. fluorescens, and T. harzianum were abundance in the soil and easily be isolated from rhizosfer. The bacteria are reported to be effective to control soilborn pathogens in the field. Based on the preliminary research proven that the bacteria could reduce 70% of the total soilborn pathogens in the soil and increase crop production up to 40%. The objective of this study was to determine information of compatibilities between antagonistic microbe and bacterial wilt which had control on potato. The research were conducted in Laboratory and Greenhouse of the Padjadjaran University, Indonesian Vegetable Research Institute, and Indonesian Ornamental Crops Research Institute, on March to December 2009. The results showed that isolates of P. fluorescens (Pf2), B. subtilis (Bs12), and T. harzianum (Th1) were compatible on medium which containing protein (King’s B), but were not copmatible on medium containing carbohydrate (PDA). The indicator is compatibility index ≤1. Single application of B. subtilis was effective to control R. solanacearum on potato, suppression wilt biggest (35,27%), if compared with other treatments except combination between Bs 12, Pf 2, and Th 1 treatments was 35,27 % too.