Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Formulasi Biopestisida Berbahan Aktif Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, dan Corynebacterium sp. Nonpatogenik untuk Mengendalikan Penyakit Karat pada Krisan
ABSTRAK. Karat putih yang disebabkan oleh Puccinia horiana merupakan salah satu penyakit pada krisan yangdapat menimbulkan kehilangan hasil sampai 100% . Selama ini untuk mengendalikan patogen tersebut, petani seringmenggunakan pestisida kimiawi. Hal tersebut sangat mengkhawatirkan mengingat penggunaan fungisida sintetiksecara berlebihan dapat mencemari lingkungan yang membahayakan bagi kehidupan makhluk hidup. Oleh karenaitu, cara pengendalian alternatif yang efektif dan aman bagi lingkungan diperlukan untuk mengendalikan penyakitkarat putih pada krisan. Salah satu alternatif cara pengendalian penyakit karat yaitu dengan mengaplikasikanbiopestisida yang ramah lingkungan. Penelitian dilakukan di laboratorium, rumah kaca, dan rumah plastik KebunPercobaan Balai Penelitian Tanaman Hias (1.100 m dpl), pada bulan April 2009 sampai Februari 2010. Tiga spesiesbakteri antagonis sebagai bahan aktif biopestisida (Bacillus subtilis Cs 1a, Corynebacterium sp.1, dan Pseudomonasflurescens 3 Sm) dan bahan pembawa (campuran antara ekstrak kascing, molase, gula pasir, dan atau kentang),masing-masing diformulasi dalam 12 jenis formula biopestisida cair. Formulasi biopestisida difermentasikan selama3 minggu dalam keadaan aerobik menggunakan biofermentor. Viabilitas bahan aktif dalam bahan pembawa diujisetiap bulan, yaitu pada periode sebelum dan sesudah fermentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi bahanaktif setelah difermentasi selama 3 minggu selalu meningkat, populasi bahan aktif sebelum fermentasi sejumlah 105cfu/ml meningkat menjadi 106-7 cfu/ml. Dua bulan setelah fermentasi, populasi bahan aktif biopestisida masih tetaptinggi yaitu berkisar antara 106-11 cfu/ml. Perlakuan ekstrak kascing + gula pasir + B. subtilis + P. fluorescens +Corynebacterium pada tingkat konsentrasi 0,3% merupakan perlakuan terbaik. Disamping dapat menekan intensitasserangan P. horiana (38,49%), formulasi biopestisida tersebut juga dapat menaikkan hasil panen bunga krisan layakjual sebanyak 14,58%.ABSTRACT. Hanudin, W. Nuryani, E. Silvia, I. Djatnika, and B. Marwoto. 2010. Formulation of BiopesticideContaining Bacilllus subtilis, Pseudomonas fluorescens, and Corynebacterium sp. for Controlling WhiteRust Disease on Chrysanthemum. White rust caused by Puccinia horiana is one of the contagious diseases ofchrysanthemum that is able to cause yield losses up to 100%. Chemical synthetic fungicides have been used tocontrol the disease. Because of harmful effects of the synthetic fungicides, the other alternative measure to controlthe disease have to be developed in order to support the sustainable farming system. One of the recommended controlmeasures is the application of biopesticide which is environmentaly friendly. The experiments were conducted inthe laboratory, glasshouse, and plastichouse of Indonesia Ornamental Crops Research Institute (1,100 m asl), fromApril 2009–February 2010. Three candidates of biocontrol agents, i.e. B. subtilis Cs 1a, Corynebacterium sp.1, andP. fluorescens 3 Sm, were formulated with organic basal medium made from fermented worm manure, molasses,sugar, and or potatoes extracts. Twelve formulations were tested for their effectiveness to control the disease in thefield. The viability of the biocontrol agents in the formulations was monthly tested before and after fermentationprocess during storage. Population of the biocontrol agents, after fermentation for 3 weeks was increased from 105to 106-7 cfu/ml. Two months after fermentation the population of the biocontrol agents was still high (106-11 cfu/ml).The results showed that the formulation of vermicompost + sugar + B. subtilis + P. fluorescens + Corynebacteriumat the concentration level of 0.3%, was proven to be the best treatment. The treatment was effective to supress whiterust up to 38.49%, and could also increase the yield of marketable chrysanthemum flowers up to 14.58%
Eksplorasi Isolat Lemah Chili Veinal Mottle Potyvirus pada Pertanaman Cabai di Jambi, Sumatera Barat, dan Jawa Barat
ABSTRAK. Salah satu virus utama yang menginfeksi tanaman cabai ialah Chili veinal mottle potyvirus (ChiVMV) yang potensial menyebabkan kehilangan hasil. Strategi pengendalian virus melalui proteksi silang mengandalkan kemampuan virus strain lemah dalam melindungi tanaman dari infeksi virus strain kuat. Penelitian dilakukan untuk mengeksplorasi isolat lemah ChiVMV pada pertanaman cabai di Jambi, Sumatera Barat, dan Jawa Barat, sedangkan deteksi ChiVMV dilakukan di Laboratorium Virologi Tumbuhan dan penularan ke tanaman cabai di Rumah Kaca Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, dari bulan Februari sampai Juli 2011. Isolat-isolat ChiVMV dari tiap daerah berhasil ditularkan dan diperbanyak pada tanaman cabai rentan (Capsicum annuum L.) IPB C13 di rumah kaca. Berdasarkan gejala penyakit dan keparahan penyakit, isolat ChiVMV dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu isolat kuat (CKB), isolat sedang (CKW), dan isolat lemah (KAR, SPR, IVAK, SKT, LGM, SKR, CGN, CSR, dan PGL). Isolat-isolat lemah ChiVMV ini selanjutnya dapat digunakan sebagai kandidat agens proteksi silang dalam pengendalian penyakit belang yang disebabkan oleh ChiVMV.ABSTRACT. Asniwita, Hidayat, SH, Suastika, G, Sujiprihati, S, Susanto, S, and Hayati, I 2012. Exploration of Weak Isolates of Chili Veinal Mottle Potyvirus from Chili Peppers in Jambi, West Sumatera, and West Java. Chili veinal mottle potyvirus (ChiVMV) is known as an important virus infecting chili peppers and may cause significant yield loss. Management strategy of virus diseases using cross protection relies on the ability of mild strain of virus to protect plant from infection by severe strain of the same virus. A research was initiated to employ cross protection approach for disease management to reduce the infection of ChiVMV. Initial exploration was conducted at chili peppers growing areas in Jambi, West Sumatera, and West Java to collect ChiVMV field isolates, whereas ChiVMV detection was conducted at Plant Virology Laboratorium, and transmission to chili peppers in Greenhouse Plant Protection Department, Bogor Agricultural Institute from February to July 2011. ChiVMV isolates were successfully collected and propagated in susceptible chili peppers line (Capsicum annuum L.) IPB C13. Based on percentage of symptom development, and disease severity of ChiVMV isolates can be differentiated into three groups, i.e. strong isolate (CKB), mild isolate (CKW), and weak isolates (KAR, SPR, IVAK, SKT, LGM, SKR, CGN, CSR, and PGL). Further characterization of promising ChiVMV weak isolates could use as an agent of cross protection candidates in controlling mottle disease caused by ChiVMV
Analisis Keragaman Genetik Manggis Menggunakan Teknik Amplified Fragment Length Polymorphism (AFLP)
ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret 2004 sampai dengan Desember 2005 di Laboratorium PemuliaanBalai Penelitian Tanaman Buah dan Laboratorium Bioteknologi Balai Penelitian Tanaman Perkebunan. Penelitianbertujuan mengetahui keragaman genetik manggis berdasarkan analisis molekuler dengan teknik AFLP menggunakanlima pasang primer. Analisis keragaman menggunakan program NTSys. Hasil amplifikasi amplified fragment lengthplymorphism (AFLP) terhadap sembilan sampel genom manggis menunjukkan adanya keragaman yang tinggi. Denganmetode unweighted pair-group with arithme average (UPGMA) pada koefisien jarak genetik 60% menghasilkansatu kelompok genom. Pada nilai koefisien kesamaan genetik 70%, aksesi manggis dapat dikategorikan menjadi tigakelompok yaitu kelompok 1 terdiri atas sampel 8-(Garcinia sp. manggis hutan-1), 13-(G. mundar), 17-(Garciniasp. manggis hutan-asam), kelompok 2 mencakup sampel 19-(G. mangostana Pasarminggu-2), 20-( G. mangostanaPasarminggu-1), 22-(G. mangostana Jayanti-2), dan kelompok 3 terdiri atas sampel 25-(G. malaccensis-Jambi),26-(G. malaccensis Bukit Kawang Medan PK 1), dan 27-(G. malaccensis Bukit Lang PK 2). Informasi variabilitasgenetik diharapkan dapat mendukung program pemuliaan manggis.ABSTRACT. Makful, S. Purnomo, and Sunyoto. 2010. Analysis of Genetic Diversity of Mangosteen Basedon the Amplified Fragment Length Polymorphism (AFLP) Technique. This experiment was conducted fromMarch 2004 to December 2005 at the Laboratory of Plant Breeding of Indonesian Fruit Research Institute andthe Laboratory of Biotechnology of Indonesian Estate Crop Research Institute. The objective of the study was todetermine genetic diversity of mangosteen. The method used was AFLP technique with five pairs of primers, whiledata obtained was analyzed by the NTSys program. From the AFLP amplification of nine DNA samples, it wasproven that the accessions of mangosteen had a high degree of diversity. Based on analysis of AFLP and unweightedpair-group with arithme average (UPGMA) it was shown that the samples of mangosteen could be grouped into onecluster at relative ecludian distance of 60% and into three clusters at relative ecludian distance of 70%, i.e. cluster1for sample 8-( Garcinia sp. manggis hutan-1), 13-(G. mundar), 17-( Garcinia sp. manggis hutan-asam) samples,cluster 2 for sample 19-(G. mangostana Pasarminggu-2), 20-(G. mangostana Pasarminggu-1), 22-(G. mangostanaJayanti-2) samples, and cluster 3 for sample 25-(G. malaccensis-Jambi), 26-(G. malaccensis Bukit Kawang MedanPK 1), and 27-(G. malaccensis Bukit Lang PK 2) samples. Information of genetic variability is expected to supportthe mangosteen breeding program
Pembungaan Jeruk Kalamondin Hasil Perbanyakan Melalui Somatik Embriogenesis yang Disambung pada Batang Bawah JC
Fase vegetatif mencakup fase juvenil yang ditandai dengan munculnya percabangan, pertumbuhan duri, serta belum berkembangnya bunga. Karakter ini ditemukan pada periode vegetatif asal biji dan hasil perbanyakan somatik embriogenesis (SE). Tujuan penelitian ialah mengetahui kemampuan berbunga dan berbuah tanaman jeruk Kalamondin hasil perbanyakan SE yang disambung dengan batang bawah JC setelah 1 tahun ditanam di lapangan. Penelitian pembungaan pada tanaman hasil perbanyakan SE yang disambung dengan batang bawah JC dilakukan di Kebun Percobaan Tlekung, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, pada Bulan Februari 2011-Maret 2012. Tanaman jeruk Kalamondin berasal dari hasil sambungan ex vitro, yaitu batang atas berasal dari embrio kotiledonari dan planlet disambungkan pada batang bawah JC dengan tiga perlakuan, yaitu planlet JC hasil perbanyakan SE yang berumur 4 dan 8 bulan setelah aklimatisasi serta semaian biji umur 8 bulan. Tanaman jeruk Kalamondin hasil sambungan berumur 1 tahun, ditanam di lapangan dan disusun secara RAK dengan tiga ulangan dengan unit percobaaan tiga tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai dengan umur 7 bulan di lapangan, tanaman masih pada fase vegetatif, dengan pertumbuhan tertinggi pada perlakuan KPS yaitu tanaman yang berasal dari planlet Kalamondin yang disambungkan pada semaian JC. Namun, pada bulan kedelapan setelah tanam, pertanaman menunjukkan fase generatif yang ditandai dengan munculnya organ bunga. Jumlah bunga dan buah tertinggi terdapat pada perlakuan tanaman yang berasal dari planlet Kalamondin yang disambungkan pada batang bawah JC hasil aklimatisasi. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa hasil perbanyakan jeruk melalui SE, berupa embrio kotiledonari maupun planlet dapat dimanfaatkan sebagai batang atas yang tumbuh dan berkembang dengan normal di lapangan apabila didukung oleh kondisi lingkungan yang optimal
Mekanisme Ketahanan Terinduksi oleh Plant Growth Promotting Rhizobacteria (PGPR) pada Tanaman Cabai Terinfeksi Cucumber Mosaik Virus (CMV)
ABSTRAK. Plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) dapat digunakan untuk menekan insiden penyakitmelalui mekanisme induksi ketahanan secara sistemik atau menghasilkan hormon tumbuh. Tujuan penelitian adalahmengetahui mekanisme ketahanan terinduksi pada tanaman cabai yang terinfeksi cucumber mosaik virus (CMV)dengan mengukur akumulasi asam salisilat (SA) dan peroksidase, deteksi CMV dengan teknik RT-PCR, dan analisispola protein tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi PGPR dapat mereduksi insiden penyakit padatanaman yang terinfeksi CMV. Aplikasi PGPR secara signifikan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman cabaidan mengurangi insiden penyakit meskipun terinfeksi oleh CMV. Campuran isolat PG 01 dan BG 25 menghasilkanpertumbuhan tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Insiden penyakit yang ditunjukkanpada cabai yang diberi perlakuan campuran PG 01 dan BG 25 serta isolat BG 25 yang diberikan secara tunggalmencapai 8,33%, sementara insidensi penyakit pada cabai yang diberi isolat PG 01 secara tunggal mencapai 16,67%.Akumulasi SA dan peroksidase terjadi lebih tinggi pada tanaman cabai yang diaplikasi dengan PGPR. Teknik PCRmenggunakan primer spesifik berhasil mengamplifikasi genom CMV. Pola pita protein total tanaman yang diuji tidakberbeda dengan kontrol.ABSTRACT. Taufik, M., A. Rahman, A. Wahab, and S.H. Hidayat. 2010. Induced Resistant Mechanism byPlant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) on Pepper Plants Infected By Cucumber Mosaic Virus (CMV).Plant growth promoting rhizobacteria can suppress disease intensity through systematical induction resistance or yieldhormone of growth regulator. The purpose of this research was to determine the mechanism of induced resistance CMVinfected chilli plants by measureing accumulate salicylated acid (SA), peroxidase (reverse transcriptase-polymerasechain reaction) (RT-PCR) and banding patterns of plant protein. The results showed that the application of PGPR canreduce of disease incidence pepper plants that was infected by CMV. Application PGPR can significantly improveplant growth and reduce the occurence of CMV infection symptoms. Mixture of isolates PG 01 and BG 25 gave betterresponse of plant growth compared to other treatments. The occurence of the disease on infected chilli plants treatedwith isolates mixture of PG 01 and BG 25, and single isolate of BG 25 was 8.33%, while the application of singleisolate of PG 01 caused the desease intensity up to 16.67%. The accumulation of salicylates acid and peroxydasewas higher in the chilli plants applied by PGPR. The technique of RT-PCR was able to detect CMV using spesificprimers. No difference of total protein band patterns between tested plants and control
Variabilitas Genetik antara Tanaman Induk Manggis dan Keturunannya
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Mei 2002 di laboratorium Biologi Molekuler dan Immunologi,Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan-Bogor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variabilitas genetikantara tanaman induk manggis dan keturunannya. Observasi dilakukan menggunakan tiga tanaman induk manggisyang berasal dari Sumatera Barat, yaitu Balai Baru (Kodya Padang), Padang Laweh dan Subarang Sukam (KabupatenSawahlunto/Sijunjung) dengan keturunannya masing-masing. Tanaman keturunan berupa bibit semaian darimasing-masing tanaman induk yang berumur 1 tahun. Analisis variabilitas genetik dilakukan melalui teknik RAPDmenggunakan lima primer terseleksi, yaitu SB-13 (AGTCAGCCAC), SB-19 (CAGCACCCAC), OPH-12(ACGCGCATGT), OPH-13 (CACGCCACAC), dan OPH-18 (GAATCGGCCA). Hasil penelitian menunjukkanbahwa terdapat variasi genetik antara induk manggis dan keturunannnya yang ditunjukkan oleh ketidakmiripan antarapola pita DNA. Variasi genetik rataan dari individu turunan adalah sebesar 56,35%. Hasil penelitian ini memperkuatinformasi tentang variabilitas genetik pada manggis, dan membuka peluang perbaikan varietas melalui seleksiterhadap populasi manggis indijenus.Kata kunci: Garcinia mangostana L.; Variabilitas genetik; Tanaman induk; Turunan; RAPD.AB STRACT. Mansyah, E., M. J. Anwaruddin Syah, F. Usman, and T. Purnama. 2004. Ge netic vari abil itybetween man go steen mother plants and their off springs. The re search was con ducted on Jan u ary un til May 2002 atMo lec u lar Bi ol ogy and Im mu nol ogy Lab o ra tory of Es tate Bio tech nol ogy Ex per i men tal Unit Bogor The ob jec tive ofthis study was to de ter mine the ge netic vari abil ity be tween man go steen mother plants and their off springs. Plant ma te -ri als used were three man go steen mother plants from West Sumatera i.e. Balai Baru (in clud ing in Padang mu nic i pal -ity), Padang Laweh, and Subarang Sukam (both in clud ing in Sawahlunto/Sijunjung re gency) and their off springs. Theoff springs were one year old seed ling which was de rived from each mother plants. Ge netic vari abil ity was ob served byus ing RAPD tech nique and five se lected prim ers i.e.: SB-13 (AGTCAGCCAC), SB-19 (CAGCACCCAC), OPH-12(ACGCGCATGT), OPH-13 (CACGCCACAC), and OPH-18 (GAATCGGCCA). The re sults showed that there werege netic variabilities be tween the mother plants and their off spring as in di cated by dis sim i lar i ties of DNA band ing pat -terns. The av er age of ge netic vari abil ity for the off spring was 56.35%. This re sults would sup port the in for ma tionabout the pres ence of ge netic vari abil ity on man go steen and lead ing to va ri etal im prove ment op por tu nity throughse lec tion of in dig e nous pop u la tion
Respons Tanaman Bawang Merah terhadap Pemupukan Fosfat pada Beberapa Tingkat Kesuburan Lahan (Status P-Tanah)
ABSTRAK. Pemupukan sebaiknya didasarkan pada kebutuhan tanaman akan unsur hara dan kandungan hara dalam tanah, agar diperoleh hasil yang optimal. Tujuan penelitian ialah untuk mendapatkan dosis optimal pupuk P pada dua varietas bawang merah pada beberapa tingkat kesuburan tanah (status P-tanah). Penelitian dilakukan di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, dari bulan Mei sampai dengan Desember 2008. Rancangan percobaan yang digunakan ialah split-split plot design dengan tiga ulangan. Petak utama ialah varietas bawang merah, terdiri atas varietas Bangkok dan Kuning. Anak petak ialah kandungan/status P-tanah (Bray 1), terdiri atas rendah (<15 ppm P2O5), sedang (16–25 ppm P2O5), dan tinggi (>26 ppm P2O5). Anak-anak petak ialah dosis pupuk P (P2O5), terdiri atas 0, 60, 120, 180, dan 240 kg/ha. Pupuk N dan K diberikan sebagai pupuk dasar dengan dosis N 150 kg/ha dan K2O 150 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara varietas, status P-tanah, dan dosis pupuk P terhadap luas daun, bobot umbi segar, dan bobot umbi kering eskip per tanaman, serta serapan P tanaman bawang merah. Pada status P-tanah rendah dan sedang, dosis optimal pupuk P untuk varietas Bangkok dan Kuning masih belum diketahui, karena kurva respons hubungan antara dosis pupuk P dan hasil umbi kering eskip masih linier. Pada status P-tanah tinggi, hubungan antara dosis pupuk P dan hasil umbi kering eskip varietas Bangkok ataupun Kuning bersifat kuadratik. Hasil umbi kering eskip maksimal diperoleh dengan dosis pupuk P sebesar 126,50 kg/ha P2O5 untuk varietas Bangkok dan 0 kg/ha P2O5 untuk varietas Kuning. Makin tinggi dosis pupuk P yang diberikan, maka makin tinggi pula residu pupuk P terdeteksi dalam tanah. Implikasi hasil penelitian ialah kebutuhan pupuk P yang optimal pada bawang merah berbeda bergantung pada status P-tanah dan varietas yang digunakan.ABSTRACT. Sumarni, N, Rosliani, R, Basuki, RS, and Hilman, Y 2012. Response of Shallots Plant to Phosphat Fertilization on Several Soil Fertility Levels (Soil-P Status). To achieve an optimum yield, fertilization should be applied based on plant nutrient requirement and soil nutrient content. This experiment was carried out at Screenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute from May to December 2008, to find out the optimum dosage of P fertilizer for two shallots varieties on several soil fertility levels (soil-P status). A split-split plot design with three replications was set up for this experiment. Main plots were shallots varieties i.e.: Bangkok and Kuning. Subplots were three soil-P statuses i.e.: low (<15 ppm P2O5), medium (16–25 ppm P2O5), and high (>26 ppm P2O5). Sub-subplots were five levels of P fertilizer dosage of 0, 60, 120, 180, and 240 kg/ha P2O5. Nitrogen fertilizer of 150 kg/ha and K fertilizer (K2O) of 150 kg/ha were applied to all. The results showed that there were interaction effect among varieties, soil-P status, and P fertilizer dosages influencing leaf area, fresh, and dry weight of bulb yield, and P uptake by shallots plant. The optimal dosage of P fertilizer for Bangkok and Kuning varieties on low and medium of soil-P status was still unknown yet, since the relation response curve of relationship between P fertilizer dosages and dry bulb yield was still linear. Meanwhile, in high of soil-P status, the response curve was quadratic for both Bangkok and Kuning varieties. The maximum dry bulb yield was obtained by 126.50 kg/ha P2O5 for Bangkok and 0 kg/ha P2O5 for Kuning. The higher of P fertilizer dosage applied, the higher of residual of P fertilizer detected in soil. The optimum dosage of P fertilizer for shallots production was different depend on variety and soil-P status
Perakitan Varietas Tanaman Kerk Lili yang Berbunga Tegak dan Wangi serta Tabung Bunga Pendek
ABSTRAK. Pada tahun 2008 Balai Penelitian Tanaman Hias telah melepas varietas Candilongi dengan karakter bungategak, beraroma agak wangi, dan tabung bunga relatif panjang. Perbaikan genetik telah dilakukan selama April 2008sampai dengan Agustus 2010 untuk menghasilkan varietas unggul baru yang disukai konsumen. Tujuan utama programpemuliaan lili ialah memperpendek ukuran tabung bunga. Perakitan varietas lili dimulai dengan menyilangkan aksesikerk lili LC-33 (longiflorum-candidum) dan Casablanca (hibrida oriental). Penyilangan menghasilkan populasi F1yang selanjutnya dipelihara di dalam rumah kaca hingga berbunga. Seleksi positif dilakukan dengan menggunakankriteria ukuran tabung bunga yang lebih pendek daripada Candilongi. Selanjutnya individu terpilih diperbanyak secaraterbatas dan dievaluasi. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan dan tiga ulangan.Perlakuan terdiri atas lima klon terpilih dan varietas Candilongi sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkantiga dari lima klon terpilih memiliki keragaan bunga yang lebih baik daripada varietas Candilongi. Oleh karena itu,tiga klon tersebut sangat potensial untuk dilepas dan dikembangkan secara komersial. Hanya satu klon yang memilikikarakter unik seperti bunga tegak berbentuk lonceng, tabung bunga pendek, dan beraroma sangat wangi.ABSTRACT. Sanjaya, L. 2010. Assembly of Lilium Varieties Which Have Erect Flower, Aromatic Fragrance,and Short Floret Tube. In 2008 Indonesian Ornamental Crop Research Institute released a new superior variety ofLilium cv. Candilongi possessing main flower characteristics i.e., erect flower, moderately strong aromatic fragrance,and moderately long floret tube. Genetic improvement of the new superior variety had been conducted continuouslysince April 2008 to Agustus 2010 to produce new varieties according to consumer’s preferences. The main issueof this breeding program was to shorter its floret tube. To achieve the breeding goal, crosses were made betweenlily accession No. LC-33 (longiflorum-candidum) and cv. Casablanca (oriental hybrid). The crosses produced F1population that were all being maintained intensively in the greenhouse till flowering. Using criterium of shorterfloret tube than Candilongi, positive selection was conducted. Selected plants were being propagated and evaluated.This research was carried out by using a randomized block design with six treatments and three replications. Thetreatments were five selected clones and Candilongi variety as a control. The results showed that three out of fiveclones tested had better performance than Candilongi. Therefore, the three potential clones were recommended tobe released and commercialized in the near future. Only one clone had unique characteristics, that were erect flowerwith bell shape, short floret tube, and strong aromatic fragrance
Penggunaan Jenis Entris, Posisi Sambungan, dan Posisi Penyisipan Entris pada Batang Bawah terhadap Keberhasilan Penyambungan dan Pemacuan Pertumbuhan Bibit Manggis
ABSTRAK. Bibit manggis yang dihasilkan melalui teknik sambung pucuk berbuah lebih cepat dengan habitus tanamanrendah, sehingga akan mudah dikelola. Populasi tanaman persatuan luas lebih banyak karena jarak tanam yang rapat.Namun, pertumbuhan bibit yang dihasilkan dengan teknik tersebut sangat lambat dengan arah pertumbuhan yangmenyamping, sehingga bentuk kanopinya tidak menarik. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh jenis entris, posisisambungan, dan posisi penyisipan entris pada batang bawah terhadap keberhasilan sambung pucuk dan pemacuanpertumbuhan bibit manggis. Penelitian dilaksanakan di Rumah Pembibitan Balai Penelitian Tanaman Buah TropikaSolok mulai bulan Juli 2003 sampai dengan Maret 2005. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompokfaktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama ialah jenis entris yang terdiri atas entris tengah dan samping. Faktorkedua ialah posisi sambungan, yaitu penyambungan pada bagian batang bawah yang masih sukulen dan pada bagianyang sudah berkayu. Faktor ketiga ialah penyisipan entris, yaitu entris disisipkan pada bagian yang lebar dan bagianyang sempit dari batang bawah. Setiap unit perlakuan terdiri atas lima tanaman. Peubah yang diamati meliputikeberhasilan penyambungan, frekuensi pecah tunas, jumlah daun, tinggi tanaman, diamater batang, jumlah cabanglateral, dan persentase bibit sambung yang tumbuh menyamping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tunas tengahdan samping dapat digunakan sebagai entris dengan tingkat keberhasilan penyambungan dan pertumbuhan bibitsambung yang relatif sama (79-80%). Posisi penyambungan yang terbaik adalah pada ruas batang bawah yang berkayu.Penyisipan entris pada bagian yang lebar atau bagian sempit dari ruas batang bawah tidak banyak memengaruhitingkat keberhasilan penyambungan dan pertumbuhan bibit sambung manggis.ABSTRACT. Jawal, M. Anwarudin Syah, R. Poerwanto, N. Sutrisno, T. Purnama, and D. Fatria. 2010. TheEffect of Scion Type, Grafting Position, and Scion Insertion Position on the success of Rootstock Grafting andthe Growth of Grafted Mangosteen. The objective of this study was to determine the best scion type, grafting, andscion insertion position on rootstock on grafted mangosteen. This study was conducted at the Nursery of IndonesianTropical Fruit Research Institute Solok from July 2003 to March 2005 by using a factorial randomized block designwith three replications. The first factor was the scion types (autotroph and plagiotroph), the second factor was thegrafting position (in suculent and wooden tissues), and the third one was the scion insertion position on rootstock i.e.scion was inserted on the wide and narrow parts of rootstock. The observed variable were grafting successfulness,the frequency of flush, leaf number, plant height, stem diameter, and the number of lateral branch. The results of theexperiment indicated that autotroph and plagiotroph scions can be used for mangosteen grafting. Best position forgrafting was wooden part of rootstock. Inserting scion on the wide and narrow parts of rootstock did not affect thegrafting growth successfulness
Analisis Konjoin Preferensi Konsumen terhadap Atribut Produk Kentang, Bawang Merah, dan Cabai Merah
ABSTRAK. Pemahaman tentang preferensi konsumen sangat penting dalam proses pengambilan keputusan pemangku kepentingan utama, termasuk bagi produsen/petani serta berbagai pihak terkait yang beroperasi di dalam subsektor sayuran. Penelitian ini diarahkan untuk menghimpun informasi menyangkut preferensi konsumen atau optimalisasi utilitas atribut produk untuk komoditas prioritas/unggulan sayuran (kentang, bawang merah, dan cabai merah). Kegiatan penelitian dilaksanakan pada Bulan Juni sampai dengan September 2008 di tiga kota besar konsumen sayuran, yaitu Jakarta (DKI Jaya), Bandung (Jawa Barat), dan Padang (Sumatera Barat). Penelitian survai menggunakan kuesioner terstruktur dilaksanakan untuk mewawancarai 335 responden yang dipilih secara acak di ketiga kota tersebut. Atribut produk yang diamati mencakup atribut eksternal, internal, dan organoleptik. Preferensi konsumen diidentifikasi menggunakan analisis konjoin yaitu salah satu modul dalam program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen mengekspresikan preferensinya terhadap kentang yang berukuran 6–8 butir/kg, berkulit mulus, dan memiliki jumlah mata sedikit (<10). Konsumen menganggap ukuran umbi kentang merupakan faktor terpenting dalam menilai atau membeli kentang, dan secara berturut-turut diikuti oleh faktor permukaan kulit serta jumlah mata. Sementara itu, bawang merah yang paling disukai konsumen ialah bawang merah dengan diameter umbi 2,5 cm, berwarna kulit merah-ungu tua, dan beraroma tidak menyengat. Urutan kepentingan atribut bawang merah menurut persepsi konsumen secara berturut-turut yaitu warna kulit, ukuran umbi, serta aroma. Sementara itu, konsumen lebih menyukai cabai merah yang besar, kulit berwarna merah terang, dan memiliki kepedasan agak pedas. Dalam konteks atribut produk cabai merah yang digunakan untuk mengukur preferensi, faktor terpenting yang berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan yaitu warna kulit, dan secara berturut-turut diikuti oleh faktor jenis cabai serta tingkat kepedasan.ABSTRACT. Adiyoga, W and Nurmalinda 2012. Conjoint Analysis of Consumer Preferences on Potato, Shallots, and Hot Pepper’s Product Attributes. Understanding consumer preferences is important in the context of decision-making of key stakeholders, including producers themselves, as well as development agencies that operate in the vegetable subsector. This study was aimed at collecting information on consumer preference or optimizing the utility of product attributes of vegetable priority crops (potato, shallots, and hot peppers). It was carried out in June-September 2008 in three big vegetable consuming cities, Jakarta (Capital Special-Region of Jakarta), Bandung (West Java), and Padang (West Sumatera). Survey method by using a structured questionnaire was implemented to interview 335 respondents randomly selected in the three cities. Parameters observed were external, internal, and organoleptic attributes. Consumer preferences were identified by using conjoint analysis – a module in Statistical Program for Social Sciences (SPSS). The results showed that consumers express their preference to potato that has some characteristics, such as medium size of tuber (6-8 tubers/kg), smooth-flawless skin, and few numbers of eyes (<10). Tuber size were perceived as the most important factor affecting purchasing decision, and followed by skin and number of eyes. The most preferred shallots was the one that has a diameter of 2.5 cm in size, dark-violet red skin color, and least strong aroma. The rank of shallot’s attributes importance as perceived by consumers were skin color, tuber size, and aroma, consecutively. Meanwhile, consumers prefer hot peppers that has the characteristics of bright-red skin color, big-hot peppers type, and slightly hot. Within the context of measuring preference, the most important hot peppers attribute that influences consumer decision making were skin color, and then followed by hot peppers type, and hotness