Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Studi penyebaran Tobacco Mosaic Virus Strain Orchid dan Cymbidium Mosaic Virus dengan Metode DAS ELISA pada Tanaman Anggrek Komersial di Pulau Jawa dan Bali serta Teknologi Pembebasannya
Cymbidium mosaic virus (CymMV) dan tobacco mosaic virus strain orchid (TMV-O) merupakan dua virus yang paling penting pada tanaman anggrek di Indonesia dan di negara lain pengekspor anggrek. Infeksi kedua virus tersebut pada tanaman anggrek dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil dan kualitas bunga. Sampai saat ini belum diketahui status penyebaran kedua virus utama tersebut di Indonesia. Penelitian bertujuan (a) mendapatkan data dan informasi status penyebaran CymMV dan TMV-O pada anggrek komersial di sentra-sentra produksi di Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, serta Bali dan (b) mendapatkan konsentrasi optimal senyawa antiviral ribavirin dalam eliminasi CymMV pada bahan perbanyakan tanaman anggrek Dendrobium. Sampel dikumpulkan dari perbenihan dan petani penganggrek di enam provinsi. Metode double antibody sandwich enzyme linked immuno sorbent assay (DAS ELISA) digunakan untuk deteksi virus dalam tiap sampel. Percobaan eliminasi virus dilaksanakan di Laboratorium Virologi, Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung, Pacet, Cianjur dari Bulan Desember 2010 hingga April 2011. Tahap percobaan meliputi (a) perbanyakan protocorm like bodies (plbs) Dendrobium varietas Jayakarta yang terinfeksi CymMV pada media Vacin & Went cair dan (b) uji eliminasi CymMV dengan perlakuan antiviral ribavirin. Rancangan acak lengkap digunakan dalam uji eliminasi CymMV dengan perlakuan lima taraf konsentrasi ribavirin, yaitu 0, 10, 20, 30, 40, dan 50 ppm, dengan tiga ulangan. Hasil deteksi infeksi CymMV dan TMV-O dari sampel yang dikumpulkan dari 22 kabupaten/kota menunjukkan adanya keragaman persentase tanaman anggrek terinfeksi CymMV dan TMV-O. Infeksi CymMVdan TMV-O pada sampel masing-masing sebesar 0,00 –79,00% dan 4,00 – 97,92%. Sampel yang terinfeksi bersama oleh kedua virus tersebut ialah sebesar 0,00 – 62,00%. Insiden infeksi virus anggrek tersebut tampaknya bergantung pada jenis dan umur tanaman serta daerah pembudidayaan. Antiviral ribavirin cukup efektif untuk membebaskan infeksi CymMV pada plbs Dendrobium varietas Jayakarta. Konsentrasi optimum antiviral ribavirin yang dapat membebaskan 100% CymMV pada plbs ialah 30 ppm pada subkultur ketiga tanpa mengganggu pertumbuhannya. Pemanfaatan antiviral ribavirin untuk eliminasi CymMV pada plbs sangat penting dalam rangka pengadaan benih anggrek bebas virus, sehingga tanaman anggrek menghasilkan mutu bunga yang optimal sesuai dengan preferensi konsumen
Hubungan antara Tingkat Konsentrasi Inokulum Fusarium oxysporum f. sp. cubense VCG 01213/16 dengan Perkembangan Penyakit Layu pada Kultivar Pisang Rentan
ABSTRAK. Peran konsentrasi inokulum awal patogen Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) terhadap insidensi penyakit layu pada pisang perlu diteliti, mengingat patogen ini persisten di dalam tanah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi inokulum Foc VCG 01213/16 dengan laju perkembangan penyakit layu pada pisang. Bahan yang digunakan ialah kultivar pisang rentan (Kilita). Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika pada bulan Mei sampai dengan September 2009. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, perlakuan terdiri atas lima taraf konsentrasi inokulum Foc yaitu 0; 102; 104; 106; dan 108 sel konidia/ml dengan lima ulangan, masing-masing plot berisi lima tanaman. Analisis regresi dan korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi inokulum dengan perkembangan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua taraf konsentrasi inokulum Foc VCG 01213/16 dapat menyebabkan 100% tanaman terserang. Perbedaan konsentrasi berpengaruh nyata terhadap masa inkubasi, intensitas, dan perkembangan penyakit pada pisang Kilita. Makin tinggi konsentrasi inokulum, maka makin cepat masa inkubasi penyakit serta makin tinggi intensitas dan perkembangan penyakit. Terdapat korelasi positif antara konsentrasi inokulum dengan intensitas penyakit pada daun dan bonggol pisang dan korelasi negatif antara masa inkubasi dengan intensitas penyakit pada daun dan bonggol pisang. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat direkomendasikan bahwa pengendalian Foc harus diarahkan pada upaya penurunan konsentrasi inokulum awal di dalam tanah sampai pada tingkat serendah mungkin.ABSTRACT. Riska, Jumjunidang, and Hermanto, C 2012. Relation between Concentration Level of Fusarium oxysporum f. sp. cubense VCG 01213/16 and the Disease Development on Susceptible Banana. Initial inoculum of pathogen is the most important factor to be observed, due to persistent of F. oxysporum f.sp.cubense (Foc) in the soil. The research was aimed to ascertain the relation between concentration levels of Foc VCG 01213/16 and the disease development on susceptible banana. This research was conducted at the Indonesian Tropical Fruits Research Institute from May to September 2009. Kilita as banana variety wich susceptible to Foc was used in the study as plant material. The experiment was arranged in a randomized complete block design with five concentrations of inoculum i.e. 0; 102; 104; 106; and 108 conidia/ml and five replications. Regression analysis was performed to determine the relation between concentration levels of Foc VCG 01213/16 and the disease development on susceptible banana. The results showed that there was no significant difference observed among the concentration levels of Foc inoculums on the percentage of wilted plants. All the concentrations caused 100% of Kilita bananas to be wilt. The inoculum concentrations of Foc VCG 01213/16 significantly affected incubation period, the disease intensity on leaves and corm and disease development on Kilita. The higher concentration of Foc inoculums, the shorter disease development and incubation period occurred, the higher levels of disease intensity observed. There was a positive correlation between the inocolum concentration and the disease intensity and a negative correlation between the incubation period and the disease intensity on banana leaves and corms of the banana. The result of study, it could be recommended that decreasing initial inoculums of Foc in the soil is important to be done to control the disease severity in the field
Pengelolaan Fisik, Kimia, dan Biologi Tanah untuk Meningkatkan Kesuburan Lahan dan Hasil Cabai Merah
ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.250 mdpl.) dengan jenis tanah Andisol, dari bulan Juni 2004-Januari 2005. Tujuan percobaan adalah mengetahui pengaruhpemberian zeolit, jenis pupuk kandang, dan dosis NPK terhadap kesuburan tanah dan hasil cabai merah varietas Tanjung1. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri ataspemberian zeolit (0 dan 500 kg/ha), jenis pupuk kandang (kuda, sapi, dan ayam) masing-masing 20 t/ha, dan dosis NPK15-15-15 (250, 500, 750, dan 1.000 kg/ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara perlakuanzeolit, jenis pupuk kandang, dan dosis NPK 15-15-15 terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah. Pemberian zeolit500 kg/ha tidak berpengaruh terhadap sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, begitu pula terhadap pertumbuhan danhasil cabai. Jenis pupuk kandang yang berbeda pada tingkat dosis yang sama (20 t/ha) tidak berpengaruh terhadappertumbuhan dan hasil cabai. Jenis pupuk kandang yang paling baik untuk pertumbuhan dan hasil cabai merah adalahpupuk kandang ayam. Pengurangan dosis pupuk NPK 15-15-15 dari 1.000 kg/ha menjadi 250 kg/ha tidak menurunkanhasil cabai merah secara nyata. Pemberian pupuk kandang perlu diberikan setiap kali bertanam, tetapi pupuk NPKtidak perlu diberikan secara berlebihan, agar produktivitas lahan dapat dipertahankan.ABSTRACT. Sumarni, N., R. Rosliani, and A.S. Duriat. 2010. Physical, Chemical, and Biological SoilManagement to Increase Soil Fertility and Hot Pepper Yield. The experiment was conducted at the ExperimentalGarden of Indonesian Vegetable Research Institute-Lembang (1,250 m asl.) on Andisol soil type from June 2004 upto January 2005. The aim of the experiment was to determine the effect of zeolite, stable manure, and NPK fertilizerapplications on soil fertility and hot pepper cv. Tanjung 1 yield. The treatments were set up in a factorial randomizedblock design with three replications. The treatments consisted of three factors, viz. (1) zeolite (0 and 500 kg/ha), (2)kinds of stable manure (horse, cow, and chicken manures) 20 t/ha respectively, and (3) NPK 15-15-15 (250, 500,750, and 1,000 kg/ha). The results indicated that there were no interaction effects between zeolite, stable manure, andNPK 15-15-15 on the growth and yield of hot pepper. Application of zeolite 500 kg/ha did not significantly affect thephysical, chemical, and biological characteristics of soil. It also did not affect on the growth and yield of hot pepper.The physical, chemical, and biological conditions of soil were not affected by the kinds of stable manure. But chickenmanure application gave the highest yield of hot pepper. Decreasing of NPK 15-15-15 dosages from 1,000 to 250 kg/ha did not significantly affect on the yield of hot pepper. Applying of stable manure (organic fertilizer) and adequatedosage of NPK fertilizer was necessary for each planting season to maintain the soil productivit
Beberapa Aspek Bioekologi Hama Penggerek Batang Mangga
ABSTRAK. Penggerek batang merupakan masalah utama pada budidaya mangga di wilayah rendah basah. Informasimengenai hama ini masih sangat sedikit, sehingga upaya untuk mendapatkan teknologi pengendalian agak sulitdilakukan. Penelitian bertujuan untuk mengumpulkan data mengenai jenis penggerek, tingkat serangan OPT padabeberapa lokasi dan varietas mangga, serta eksplorasi untuk mendapatkan musuh alaminya. Penelitian dilakukandengan metode survai mulai Januari 2005 sampai dengan Desember 2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwahama penggerek yang menyerang tanaman mangga di Sumatera Barat dan Sumatera Utara adalah Rhytidodera integra(Coleoptera: Cerambycidae) (Kolbe 1886). Selain didominasi jenis hama tersebut, di Kebun Percobaan Balai PenelitianTanaman Buah Tropika juga ditemukan jenis lain, yaitu spesies Palimna annulata Oliver (Coleoptera: Cerambycidae).Perilaku kedua jenis hama tersebut sama, yaitu menyerang mangga mulai dari pucuk kemudian menuju ke bagianbatang utama. Hama penggerek batang menyerang hampir semua varietas yang ditemui dan ditemukan di semuadaerah yang disurvai. Tingkat serangan rerata hama penggerek batang di Sumatera Barat 8,83% dan di Sumatera Utara10,36%. Varietas mangga yang terserang paling parah di Sumatera Barat adalah Cengkir (23,26%) dan di SumateraUtara adalah Podang (19,01%). Lima jenis agens pengendali biologi hama penggerek batang mangga ditemukanselama pelaksanaan survai. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi awal untuk menyusun teknologipengendalian hama penggerek batang mangga.ABSTRACT. Muryati, M. Istianto, and Affandi. 2010. Some Bioecological Aspects of Mango Stem Borer.Stem borer is the most important pest on mango in the wet lowland area. The information about this pest was stillvery limited, therefore, it is difficult to arrange its control strategy. The research were intended to collect data on thespecies of stem borer from some locations, its damage severity on some mango varieties as well as its natural enemies.The study was conducted by survey method from January 2005 to December 2006. The research revealed that thestem borer found in some locations was dominated by Rhytidodera integra (Coleoptera: Cerambycidae) (Kolbe 1886).Besides this species, another Cerambycidae, i.e. Palimna annulata Oliver was also found at Aripan Research Stationof Indonesian Tropical Fruit Research Institute. Both species have a similar behavior. The stem borer attacked almostall varieties that were found in research locations. The damage severity of mango by stem borer was 8.83 and 10.36%in West Sumatera and in North Sumatera, respectively. The most severe damage of mango variety in West Sumaterawas Cengkir (23.26%), while in North Sumatera was Podang (19.01%). Five species of natural enemies were foundduring the study. The results of this experiment can be used as initial information to control mango stem bore
Pemupukan Fosfat Alam, Pupuk Kandang Domba, dan Inokulasi Cendawan Mikoriza Arbuskula terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Mentimun pada Tanah Masam
Percobaan dilaksanakan di lahan petani Kabupaten Lebak, Banten, mulai bulan Juli sampai Oktober 2001. Jenis tanah masam adalah ultisols yang mempunyai ketersediaan P rendah dan sifat fisik jelek. Tujuan percobaan adalah mempelajari pengaruh inokulasi cendawan mikoriza arbuskula, penyediaan bahan organik dari pupuk kandang domba dan dosis fosfat alam (P) terhadap pertumbuhan, serapan P, dan hasil mentimun. Perlakuan terdiri atas 3 dosis fosfat alam, pupuk kandang domba, dan inokulasi mikoriza. Kombinasi perlakuan seluruhnya ada 12 dengan 3 ulangan yang disusun dalam rancangan acak kelompok faktorial. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang domba meningkatkan efisiensi penggunaan fosfat alam, pertumbuhan, bobot buah, dan infeksi akar. Pengaruh mikoriza tampak jelas jika disertai penggunaan pupuk kandang domba. Tanpa pupuk kandang domba maupun tanpa mikoriza, dosis P yang dibutuhkan untuk menghasilkan buah mentimun adalah 200 kg P2O5 /ha, sedangkan dengan pupuk kandang domba maupun dengan mikoriza dosis P yang dibutuhkan untuk menghasilkan buah mentimun yang sama hanya 100 kg P2O5 /ha. Tanpa pupuk kandang, mikoriza, dan pupuk P (kontrol), tanaman tidak menghasilkan buah mentimun. Teknologi yang diperoleh dari penelitian ini sangat berguna untuk pengembangan tanaman sayuran pada tanah-tanah masam atau lahan marginal seperti ultisols.The experiment was conducted at the farmer field in Lebak Distric of Banten Province, from July until October 2001. The soil type was ultisols with low P availability and poor physical property. The objectives of this experiment was to study the effect of application of rock phosphate, sheep manure, and arbuscular mycorrhiza fungi inoculation on the growth, P uptake, and yield of cucumber in acid soil. The treatments consisted of three rates of rock phosphate, 2 rates of sheep manure and 2 rates of mycorrhiza inoculation. All treatment combinations were arranged in a factorial randomized block design with 3 replications. The results showed that sheep manure application increased the efficiency of rock phosphate application, growth, yield of cucumber, and root infection. The effect of mycorrhiza inoculation was distinct when accompanied with sheep manure supply. Without sheep manure supply and without mycorrhiza inoculation, 200 kg P2O5/ha of rock phosphate was needed to produce cucumber, while sheep manure supply and mycorrhiza inoculation, only 100 kg P2O5/ha of rock phosphate was needed to produce equivalence cucumber fruit. Without rock phosphate application, sheep manure supply, and mycorrhiza inoculation (control), the plant did not produce any cucumber fruit. The results of the experiment can be usefull for developing vegetables cultivation on acid soils or marginal land such as ultisols
Penggunaan Benzil Amino Purin dan Boron untuk Meningkatkan Produksi dan Mutu Benih True Shallots Seed Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) di Dataran Tinggi
ABSTRAK. Penggunaan umbi benih untuk bahan perbanyakan bawang merah mempunyai beberapa masalah, antara lain ketidaktersediaan benih bermutu, produktivitas rendah, dan mahal. Salah satu alternatif teknologi yang potensial untuk dikembangkan sebagai benih ialah penggunaan biji botani atau true shallots seed (TSS). Penelitian dilakukan untuk memproduksi benih bawang merah TSS di dataran tinggi melalui peningkatan pembungaan dan viabilitas serbuk sari menggunakan BAP dan boron. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, Jawa Barat (ketinggian 1.250 m dpl.) dari Bulan Agustus 2011 sampai dengan Februari 2012. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas dua faktor, yaitu aplikasi benzil amino purin (BAP) 0, 50, 100, 150, dan 200 ppm dan boron 0, 1, 2, 3, dan 4 kg/ha. Aplikasi BAP diberikan tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 minggu setelah tanam (MST), dan boron pada umur 3, 5, dan 7 MST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi BAP dapat meningkatkan pembungaan, viabilitas serbuk sari bawang merah, dan produksi benih TSS tetapi tidak meningkatkan mutu benih, sedangkan aplikasi boron efektif meningkatkan semua variabel yang diamati termasuk mutu benih TSS. Konsentrasi BAP yang optimum untuk menghasilkan produksi benih TSS ialah 37,5 ppm, sedangkan dosis boron yang optimum untuk menghasilkan bobot benih per plot yang tinggi dengan mutu benih sesuai standar sertifikasi mutu yaitu 2,88 kg/ha. Hasil yang diperoleh pada perlakuan boron memberikan peningkatan sebesar 165,69% daripada kontrol. Hasil penelitian ini memberikan informasi teknologi produksi TSS yang dapat dikembangkan untuk memproduksi benih TSS bermutu tinggi. ABSTRACT. Rosliani, R, Palupi, ER, and Hilman, Y 2012. Benzyl Amino Purine and Boron Application for Improving Production and Quality of True Shallots Seed (Allium cepa var. ascalonicum) in Highlands. The use of bulb for propagation material of shallots has several problems including unavailability of quality seeds, low productivity, and expensive. One of the potential alternative technologies to be developed as seed is using true shallots seed (TSS). The aimed of research was to produce TSS in the highlands through increased flowering and pollen viability by using benzyl amino purine (BAP) and boron. The study was conducted at the Experimental Field, Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI) in Lembang, West Java (altitude 1,250 m asl.), from August 2011 to February 2012. The factorial experiment was arranged in a randomized block design with three replications. The treatments consists of two factors, namely the application of BAP 0, 50, 100, 150, and 200 ppm and boron (0, 1, 2, 3, and 4 kg/ha). Benzyl amino purine application was given three times at 1, 3, and 5 weeks after planting (WAP), and boron at 3, 5, and 7 WAP. The results showed that application of BAP improved flowering, pollen viability, and seed production of TSS but did not improve seed quality, while boron application effectively increased all variables including the seed quality of TSS. The efficient concentration of BAP to improve TSS seed weight per plot was 37.5 ppm, while the optimum concentration of boron to improve TSS seed production with the good seed quality (according to the certification standards of seed quality) was 2.88 kg/ha. The yield obtained in the treatment of boron gave an increase of 165.69% compared to the control. The results provide information about TSS production techniques that can be developed to produce the high seed quality of TSS
Potensi Beberapa Varietas Jagung untuk Dikembangkan sebagai Varietas Jagung Semi
ABSTRAK. Jagung semi merupakan salah satu komoditas sayuran yang semakin digemari, akan tetapi produksinyadi Indonesia menghadapi kendala antara lain belum tersedianya varietas jagung yang khusus untuk diproduksi sebagaijagung semi. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi potensi dari beberapa varietas jagung untukdikembangkan sebagai varietas jagung semi. Penelitian lapangan dilaksanakan di KP IPB Leuwikopo, Dramaga,Bogor dari bulan Mei sampai Juli 2009. Bahan genetik yang digunakan terdiri dari 17 varietas koleksi BB Biogen,yaitu lima varietas lokal (Campaloga, Genjah Kodok, Ketip Kuning, Lokal Oesae, dan Lokal Srimanganti), tujuhvarietas hasil pemuliaan (Antasena, Arjuna P18, Bayu, BC 10 MS 15 , Nakula, Sadewa, dan Wisanggeni), lima varietasintroduksi (EW DMR Pool C6S2, EY Pool C4S2, Kiran, Phil DMR Comp 2, dan Phil DMR 6), dan satu varietaskontrol, Bisi-2. Penelitian disusun dalam rancangan kelompok lengkap teracak dengan tiga ulangan. Peubah yangdiamati adalah tinggi tanaman, jumlah buku, diameter batang, umur berbunga, umur panen pertama, jumlah tongkolper tanaman, bobot tongkol bersih per tanaman, ukuran tongkol (diameter dan panjang tongkol), jumlah tongkollayak pasar, dan jumlah tongkol afkir per tanaman. Data dari peubah yang diamati dianalisis dengan ANOVA diikutidengan uji t-Dunnett. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar varietas yang dievaluasi lebih pendekdan berbunga lebih cepat serta dipanen lebih awal, dibanding kontrol. Varietas-varietas Ketip Kuning, Antasena,BC 10 MS 15, dan EW DMR Pool C6S2 menghasilkan jumlah tongkol per tanaman dan bobot tongkol bersih tidakberbeda dari Bisi-2 sebagai kontrol. Varietas-varietas tersebut dapat dikembangkan sebagai varietas jagung semi.Hasil penelitian ini menguatkan diperlukannya perakitan varietas jagung khusus untuk produksi jagung semi yangbertongkol banyak dan layak pasar.ABSTRACT. Yudiwanti, W.R. Sepriliyana, and S.G. Budiarti. 2010. The Potential of Some Maize Varietiesto be Developed as Baby Corn Varieties. Baby corn is one of vegetables which was increasingly popular, but itsproduction in Indonesia was facing constraints such as unavailability of special variety to produce baby corn. Theresearch objective was to obtain information on the potential of several varieties of corn to be developed as baby cornvariety. The experiment conducted at Leuwikopo-IPB experimental field at Dramaga, Bogor from May until July 2009.The genetic material was consisted of 17 collection varieties of Indonesian Center for Agricultural Biotechnologyand Genetic Resources Research and Development, they were: five local varieties (Campaloga, Genjah Kodok, KetipKuning, Local Oesae, and Local Srimanganti), seven breeding varieties (Antasena, Arjuna P18, Bayu, BC 10 MS 15,Nakula, Sadewa, and Wisanggeni), five introduced varieties (EW DMR Pool C6S2, EY Pool C4S2, Kiran, Phil DMRComp 2, and Phil DMR 6), and one control variety, Bisi-2. The experiment was arranged in a randomized completelyblock design with three replications. Variables measured were plant height, number of nodes, stem diameter, dateof flowering, date of first harvesting, number of ears per plant, gross weight of ears per plant, net weight of ears perplant, ear size (diameter and length of ears), number of marketable, and nonmarketable baby corn ears. Data measuredwere analyzed with ANOVA followed by t-Dunnett test. The results showed that most of the varieties evaluated wereshorter and flowering faster and also harvested earlier than Bisi-2 as control. Ketip Kuning, Antasena, BC 10 MS 15,and EW DMR Pool C6S2 varieties did not showed any significant different in the number of ear per plant and earnet weight per plant compare with Bisi-2 as control. It showed that those varieties could be developed as baby cornvariety. The results of this study reinforce the need for creating special corn varieties for baby corn productio
Peningkatan Pertumbuhan dan Regenerasi Eksplan Hasil Kultur Anther Anthurium Melalui Perbaikan Media Kultur
ABSTRAK. Regenerasi kalus merupakan bagian yang paling sulit dalam kultur anther anthurium (Anthuriumandraeanum), karena respons pembentukan tunas yang lambat. Studi pertumbuhan dan regenerasi eksplan hasil kulturanther anthurium pada media regenerasi yang berbeda dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai PenelitianTanaman Hias dari bulan Januari sampai Desember 2008. Penelitian bertujuan mengetahui respons pertumbuhandan regenerasi variasi eksplan hasil kultur anther anthurium pada media regenerasi yang berbeda. Penelitian inimenggunakan kalus tumbuh lambat, kalus haploid, daun, dan petiol muda tanaman haploid sebagai eksplan. MediumWinarto (MW) dan Winarto-Rachmawati (MWR) merupakan media dasar yang digunakan dalam penelitian ini.Penelitian terdiri atas tiga percobaan untuk mempelajari pertumbuhan dan regenerasi, yaitu (1) kalus tumbuh lambat,(2) kalus haploid pada media regenerasi yang berbeda (MR-1 s/d MR-6), dan (3) daun dan petiol muda dari tanamanhaploid menggunakan medium regenerasi terseleksi. Percobaan pertama dan kedua disusun menggunakan rancanganacak lengkap (RAL), sementara percobaan ketiga disusun menggunakan RAL pola faktorial masing-masing denganempat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan kemampuan regenerasi eksplan hasil kulturanther anthurium berhasil ditingkatkan melalui perbaikan media kultur. Pertumbuhan kalus terbaik dari eksplan kalustumbuh lambat ditemukan pada MR-4, sedang kalus haploid pada MR-1. Jumlah bakal tunas per eksplan mencapaisekitar 20 bakal tunas, tetapi pembentukan tunas tertinggi yaitu 4,8 tunas per eksplan ditemukan pada MR-6. Daunmuda tanaman haploid no. 400 merupakan jenis eksplan dan tanaman haploid dengan respons pembentukan tunastertinggi yang mencapai 6,0 tunas per eksplan dibandingkan eksplan dan tanaman haploid yang lain. Media terseleksihasil penelitian dapat diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah regenerasi eksplan pada kultur in vitro anthuriumyang lain.ABSTRACT. Winarto, B. 2010. Increase of Growth and Explants Regeneration Derived from Anther Cultureof Anthurium via the Improvement of Culture Medium. Callus regeneration was an important problem in antherculture of anthurium due to slow response in shoot regeneration. A study of growth and regeneration of explantsderived from anther culture of anthurium in different regeneration media were conducted at Tissue Culture Laboratoryof Indonesian Ornamental Crops Research Institute from January to December 2008. The objective of the researchwas to determine the growth and regeneration of explants on different regeneration media. Slow growth, haploidcallus, young leaf, and petiole of different haploid plants were used in the study, while media of MW and MWRwere two basic media applied in the experiment. There were three experiments in the research i.e. to study thegrowth and regeneration of (1) slow growth, (2) haploid callus on different regeneration media, and (3) young leafand petiole of different haploid plants on selected regeneration medium. The experiment I and II were arranged witha completely randomized design (CRD) and the experiment III used factorial CRD with four replications. Resultsof the studies indicated that growth and regeneration capacity of explants derived from anther culture of anthuriumwere successfully increased via culture medium improvement. The best growth response of slow growth callus wasdetermined on MR-4, while haploid callus was on MR-1. Initial shoots produced per explant were up to ± 20 initialshoots, but the highest shoot number up to 4.8 shoots produced per explant was established on MR-6. Young leavesof haploid plant no. 400 were the appropriate explant and the donor plant in obtaining the highest callus formation,growth and regeneration with 6.0 shoots per explant. The selected media established in the study can be applied toovercome explant regeneration problems in in vitro culture of other anthuriums
Optimasi Jarak Tanam dan Dosis Pupuk NPK untuk Produksi Bawang Merah dari Benih Umbi Mini di Dataran Tinggi
ABSTRAK. Benih umbi mini bawang merah (shallots set) adalah benih umbi berukuran kecil (<3 g/umbi) yang dihasilkan dari biji botani bawang merah (True Shallot Seeds). Penggunaan benih umbi mini belum umum dilakukan pada budidaya bawang merah di Indonesia. Penelitian bertujuan mendapatkan jarak tanam dan dosis pemupukan NPK untuk produksi umbi bawang merah dari benih umbi mini di dataran tinggi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.250 m dpl.) dengan jenis tanah Andisol, dari bulan Agustus sampai dengan Desember 2009. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok dengan tiga ulangan dan 12 perlakuan, yaitu tiga taraf jarak tanam (5 x 20 cm, 10 x 20 cm, dan 15 x 20 cm), yang dikombinasikan dengan empat taraf dosis pupuk NPK (½ ; 1,0; 1,5; dan 2,0 dosis NPK standar), dan satu perlakuan kontrol yang menggunakan benih umbi konvensional (5 g/umbi) dengan jarak tanam 15 x 20 cm dan 1,0 dosis pupuk NPK standar. Dosis NPK standar ialah N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, dan K2O 120 kg/ha. Benih umbi mini dan benih umbi konvensional yang digunakan ialah varietas Bima Brebes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah tanaman yang berumbi (dapat dipanen) paling banyak (39,10%) terdapat pada perlakuan jarak tanam 15 x 20 cm dan dosis pupuk NPK yang rendah (N 95 kg/ha, P2O5 46 kg/ha, dan K2O 60 kg/ha) menggunakan benih umbi mini dibanding perlakuan yang lain (14,66–33,22%). Perlakuan tersebut juga berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan menggunakan benih umbi konvensional (24,99%). Jarak tanam 15 x 20 cm dengan dosis N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, dan K2O 120 kg/ha merupakan jarak tanam dan dosis pupuk NPK optimal untuk produksi umbi bawang merah asal benih umbi mini, yang menghasilkan bobot umbi kering eskip sebesar 35,48 g/tanaman. Penggunaan benih umbi mini dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil umbi bawang merah, serta mengurangi (tonase) penggunaan benih umbi per satuan luas. ABSTRACT. Sumarni, N, Rosliani, R, and Suwandi 2012. Optimization of Plant Distance and NPK Dosage to Produce Shallots from Shallots Set in Highland. Shallots set is small seed bulb derived from true shallot seeds (TSS). Using of the shallots set in shallots production is not common yet in Indonesia. The objective of this research was to find out the optimum plant distance in combination with NPK dosage to produce shallots bulb from shallots set in highland. The experiment was conducted at the Experimental Garden of the Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang (1,250 m asl.) on Andisol soil, from August to December 2009. A randomized complete block design with three replications was applied in the study. There were 12 treatments, viz. three levels of plant distance of 5 x 20 cm, 10 x 20 cm, and 15 x 20 cm that were combined with the application of four levels of standard dosage of NPK, viz. 0.5; 1.0; 1.5; and 2.0 NPK standard dosage, and one treatment as a control using bulb (5 g/set) with 15 x 20 cm planting distance, and a NPK standard fertilization (N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, and K2O 120 kg/ha). Bima Brebes cultivar was used as a planting material source for developing TSS, mini bulbs, and bulbs as generally applied in conventional cultivation. Research results revealed that the highest number of bulbed-plant harvested in the experiment 39.10% was recorded on shallots set cultivated using plant distance of 15 x 20 cm and NPK dosage of N 95 kg/ha, P2O5 46 kg/ha, and K2O 60 kg/ha compared to other treatments (14.66–33.22%). The treatment also gave higher results compared to conventional cultivation using bulbs (24.99%). The optimum plant distance and NPK dosage to produce shallots bulb from shallots set in highland was 15 x 20 cm and N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, and K2O 120 kg/ha that resulted in 35.48 g dry weight of shallots bulb per plant. The application of shallots set could increase the quantity and quality of shallots yield, and reduced quantity of bulbs needed per hectare
Persilangan dan Seleksi untuk Mendapatkan Varietas Unggul Baru Mawar Potong Berwarna Merah
ABSTRAK. Persilangan mawar dan selekasi tanaman F1 dilaksanakan di KP Cipanas, Balai Penelitian TanamanHias, dengan ketinggian tempat 1.100 m dpl. pada tahun 2000. Selanjutnya klon-klon terpilih diuji melalui penelitianpemuliaan partisipatif di Kebun PT Inggu Laut (Malang, Jawa Timur) dan Kebun PT Sekar Asri (Lembang, JawaBarat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon No. 41 (C.00.421-01) mempunyai keunikan dalam warna bunga,yaitu merah cerah (red purple group 57A). Selain itu, klon No. 41 memiliki tangkai yang panjang yang termasukkelas super, batang atau tangkai yang tegak dengan diameter kuncup dan diameter bunga mekar besar, serta jumlahpetal yang lebih banyak dibandingkan dengan varietas Putri sebagai varietas pembanding.ABSTRACT. Darliah, D. Kurniasih, and W. Handayati. 2010. Crossing and Selection Obtain A SuperiorVarieties of Red Cut Rose. Crossing of rose and F1 plants selection were carried out at Cipanas Research Station,Indonesian Ornamental Crops Research Institute, at 1,100 m asl. on year 2000. Clones selected was observed throughparticipatory breeding with PT Inggu Laut (Batu, East Java) and PT Sekar Asri (Lembang, West Java). The resultsshowed that clone No. 41 has unique bright red color (red purple group 57 A),with long and straight stem (fulfilledthe requirement for premium class), big flower bud and flower diameter, with petal number more than Putri as thecontrol variety