Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Optimasi Metode Cryotherapy untuk Mengeliminasi Virus pada Tunas Kentang In Vitro (Optimation of Cryotherapy Method to Eliminate Virus on In Vitro Potato Shoot Tips)

    Get PDF
    Penggunaan benih kentang generasi awal dan bebas virus merupakan kunci keberhasilan produksi kentang berkualitas. Cryotherapy (perendaman dalam nitrogen cair) merupakan teknik terbaru untuk mengeliminasi virus pada benih kentang. Salah satu kendala dalam penerapan teknologi cryotherapy ialah tingkat daya hidup eksplan yang masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas teknik enkapsulasi-dehidrasi untuk mendapatkan tunas yang sehat setelah perendaman dalam nitrogen cair. Ujung tunas in vitro ukuran 2–3 mm dari empat genotipe kentang di prakultur selama 3 hari secara bertahap pada media MS dengan penambahan gula 0,25 M, 0,5 M, dan 0, 75 M. Kemudian tunas dienkapsulasi, didehidrasi selama 5 jam, lalu direndam dalam nitrogen cair selama 60 menit lalu dihangatkan kembali dalam waterbath selama 3 menit. Tunas dalam kapsul kemudian dikulturkan pada media MS +30 g/l sukrosa + 8 g/l agar + 0,4 mg/l BAP + 1 mg/l GA3 untuk pemulihan, lalu dipelihara di ruang kultur dengan suhu 24oC. Daya hidup ujung tunas diamati pada minggu ke-8 dengan menggunakan kriteria skoring sebagai berikut: (1) pemutihan jaringan dan tidak ada respons pertumbuhan, (2) kalus mencokelat, (3) kalus hijau, (4) tumbuh tunas, dan (5) planlet sehat. Hasil penelitian menunjukkan daya hidup ujung tunas bervariasi antargenotipe. Skor daya hidup berkisar 1–2 (frekuensi 2–10) pada perlakuan nitrogen cair, yang menunjukkan tidak ada respons pertumbuhan tunas, beberapa memperlihatkan pertumbuhan kalus. Tunas pada perlakuan kontrol (tanpa perendaman dalam nitrogen cair) menunjukkan skor daya hidup 5 (frekuensi 1–7), di mana ujung tunas mampu beregenerasi menjadi planlet.KeywordsCryopreservation; Solanum tuberosum; Kultur jaringan tanaman; Eliminasi virusAbstractVirus-free, early generation seed is a key in the production of high quality potatoes. Cryotherapy (exposure to liquid nitrogen) is a new and promising method of virus elimination. One bottleneck in cryotheraphy method is survival of the explants after treatment with liquid nitrogen. This study investigated the effectiveness of enkapsulasi-dehidrasi method to obtain survival explants. Shoot tips were precultured for 3 days in MS media with sucrose addition of 0.25 M, 0.5 M and 0.75 M. Shoot tips were then encapsulate, dehydrate for 5 hours, expose to liquid nitrogen for 60 minutes and rewarm in waterbath for 3 minutes. Beads with shoot tips were then cultured in MS media + 30 g/l sucrose + 8 g/l agar + 0.4 mg/l BAP + 1 mg/l GA3 for recovery, and placed in 24oC culture room. Shoot tip survival was assessed at 8 weeks using the following scoring criteria: (1) tissue bleaching and no growth response, (2) brown callus, (3) green callus, (4) shoot growth, and (5) plantlet establishment. Survival was varied among genotypes. Survival scored between 1–2 (frequency 2–10) on liquid nitrogen treatment, showing shoot tips are mostly has no growth response, only some callus growth. Shoot tips on control treatment (without exposure in liquid nitrogen) shows survival scored 5 (frequency 1–7), i.e. shoot tips able to regenerate into plantlets

    Teknologi Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Budidaya Kentang Toleran Suhu Tinggi

    Get PDF
    Pengembangan kentang di dataran medium dihadapkan pada kendala serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen. Oleh karena itu diperlukan teknologi pengendalian untuk mengatasinya. Tujuan penelitian adalah untuk merakit teknologi pengendalian OPT yang dikombinasikan dengan penggunaan klon toleran suhu tinggi. Penelitian dilaksanakan di Desa Cibulakan (600 m dpl.), Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dari bulan Juni sampai Oktober 2012. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Macam perlakuan yang diuji adalah (A) teknologi pengendalian OPT (a1= rakitan teknologi PHT dan a2= rakitan teknologi konvensional) dan (B) klon/varietas kentang ( b1= MB 17, b2= CIP 394614.117, b3= CIP 392781.1, dan b4= Granola). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rakitan teknologi PHT mampu menekan serangan trips, tungau, kutudaun, kutukebul, dan ulat grayak hingga di bawah ambang pengendalian, kecuali penyakit layu bakteri. Dengan penerapan rakitan teknologi PHT penggunaan pestisida dapat ditekan sebesar 97–100%. Klon CIP 392781.1 lebih toleran terhadap penyakit layu bakteri dan hasil panennya lebih tinggi dibandingkan dengan klon CIP 394614.117. Selain itu kandungan bahan kering CIP 392781.1 cukup tinggi sebesar 18,22%. Klon CIP 392781.1 mempunyai harapan untuk dikembangkan lebih lanjut dengan dukungan teknologi pengendalian penyakit layu bakteri dan teknologi untuk menurunkan suhu tanah agar hasilnya optimum

    Pengaruh Minyak Cengkeh terhadap Pertumbuhan Koloni dan Sifat Antagonis Cendawan Gliocladium sp. terhadap Fusarium oxysporum f. sp. cubense

    Get PDF
    Minyak cengkeh dan cendawan Gliocladium sp. diketahui memiliki potensi sebagai agens pengendali cendawan Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc), penyebab penyakit layu pada tanaman pisang. Pengujian kompatibilitas antara minyak cengkeh dengan cendawan Gliocladium sp. perlu dievaluasi dalam rangka menyusun paket pengendalian terpadu terhadap penyakit layu Fusarium. Tujuan penelitian ialah mengevaluasi pengaruh minyak cengkeh terhadap pertumbuhan koloni cendawan Gliocladium sp. dan daya hambatnya terhadap cendawan Foc ras 4. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Tanaman Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika pada bulan Mei sampai Juli 2008. Perlakuan terdiri atas  minyak cengkeh volume 3, 9, dan 18 µl disusun dalam rancangan acak lengkap dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa miselium cendawan Gliocladium sp. yang mendapat perlakuan minyak cengkeh masih mampu tumbuh hingga memenuhi ruang cawan petri. Jumlah konidia cendawan Gliocladium sp. yang diperlakukan dengan minyak cengkeh terbukti lebih sedikit dibanding cendawan yang tidak diperlakukan dengan minyak cengkeh.  Cendawan Gliocladium sp. yang telah mendapat perlakuan minyak cengkeh masih memiliki sifat antagonistik yang efektif terhadap cendawan Foc. Efektivitas antagonisme cendawan tersebut tidak berbeda nyata dengan efektivitas antagonisme yang tidak diperlakukan dengan minyak cengkeh. Hasil ini memberikan harapan karena minyak cengkeh tidak memberikan efek negatif terhadap aktivitas Gliocladium sp., sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu komponen dalam program pengendalian secara terpadu penyakit layu Fusarium pada pisang. Namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh minyak cengkeh terhadap pertumbuhan tanaman.Clove essential oil and Gliocladium sp.   are known to have the potency for controlling Fusarium oxysporum f.sp cubense (Foc) the causal agent of  wilt banana disease. The compatibility of clove oil and Gliocladium sp. has to be evaluated to establish an integrated pest management against Fusarium disease. The objective of this experiment was to evaluate the effect of clove oil on the growth of Gliocladium sp. colony and the inhibition value of this fungus to Foc race 4. The experiment was conducted  in the Plant Protection Laboratory  of Indonesian Tropical Fruit Research Institute  from May to July 2008. The treatments were volumes of clove oil i.e. 3, 9, and 18 µl that were arranged in a completely randomized design with five replications. The results showed that Gliocladium sp. mycelia treated with clove oil could still grow throughout the available space within petridish. However, Gliocladium sp. treated with this oil had lower number of conidia than that it was untreated. Gliocladium sp. treated with clove oil had still effective antagonism trait to Foc. This effectiveness was not significantly different from  Gliocladium sp. that was untreated with clove oil. This result indicated  that clove oil  had good potency as a component in integrated control program against  wilt disease on banana, because it did not have negative effect to Gliocladium sp. However, further research is still needed to evaluate the effect of clove oil to plant growth.

    Pengaruh Mutagen Etil Metan Sulfonat Terhadap Regenerasi Tunas pada Dua Genotip Manggis Asal Purwakarta dan Pandeglang

    Get PDF
    Tanaman manggis termasuk tanaman apomik. Pemuliaan mutasi dapat meningkatkan keragaman genetik pada tanaman manggis. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pembentukan tunas dua genotip manggis akibat perlakuan beberapa konsentrasi etil metan sulfonat (EMS) yang berbeda. Percobaan dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran sejak bulan September 2012 – Februari 2013. Eksplan manggis yang digunakan adalah biji manggis asal Purwakarta (A) dan Pandeglang (B). Percobaan ditata dalam rancangan acak lengkap (RAL). Konsentrasi EMS terdiri atas 0; 0,05; 0,1; 0,15; dan 0,2% digunakan sebagai perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regenerasi tunas pada eksplan dua genotip asal Purwakarta dan Pandeglang memiliki respons yang berbeda akibat perlakuan mutagen EMS. Pada perlakuan a3 (genotip asal Purwakarta pada EMS 0,1%) menghasilkan waktu muncul tunas lebih cepat dan jumlah tunas per eksplan paling tinggi, sedangkan perlakuan b4(genotip asal Pandeglang pada perlakuan EMS 0,15%) memiliki nilai paling tinggi pada karakter tinggi tunas. Perlakuan a5(genotip asal Purwakarta pada EMS 0,2 %) merupakan perlakuan paling baik pada karakter jumlah pasang dau

    Sinergisme Jamur Entomopatogen Metarhizium anisopliae Dengan Insektisida Kimia untuk Meningkatkan Mortalitas Ulat Bawang Spodoptera exigua

    Get PDF
    (Synergism Entomopathogenic Fungus Metarhizium anisopliae and Chemical Insecticide to Increase the Mortality of Armyworm, Spodoptera exigua)Hama ulat bawang Spodoptera exigua (Lepidoptera: Noctuidae) merupakan salah satu hama penting pada tanaman bawang di Indonesia. Jamur entomopatogen terutama Metarhizium anisopliae telah banyak digunakan untuk mengendalikan hama serangga. Keefektivitasan jamur entomopatogen M. anisopliae bila diaplikasikan secara tunggal untuk pengendalian hama hasilnya belum memuaskan. Oleh karena itu perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan keefektifan jamur entomopatogen tersebut dengan melakukan pencampuran dengan insektisida kimia. Tujuan penelitian untuk mengetahui sinergisme campuran jamur entomopatogen M. anisopliae dengan insektisida kimia terhadap mortalitas larva S. exigua instar ke-3 di laboratorium. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang ( ± 1.250 m dpl.), mulai bulan Juni sampai Oktober 2014. Larva S. exigua dikumpulkan dari pertanaman petani bawang merah di daerah Cirebon, Jawa Barat dan diperbanyak di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap kegiatan, yaitu (1) uji pendahuluan dosis jamur M. anisopliae dan dosis insektisida kimia dan (2) uji campuran jamur M. anisopliae dengan dosis sublethal insektisida kimia. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap yang terdiri atas enam perlakuan dan empat ulangan. Penelitian menggunakan metode pencelupan. Mortalitas larva S. exigua diamati mulai 24 jam sampai dengan 168 jam setelah perlakuan. Data mortalitas larva diolah menggunakan analisis probit untuk menetapkan nilai LC50. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai LC50 insektisida kimia yang terendah diperoleh dari insektisida abamektin, yaitu 482,34 ppm dan yang tertinggi diperoleh dari jamur M. anisopliae, yaitu 1.189, 83 ppm. Nilai LC50 campuran insektisida, campuran jamur M. anisopliae dengan insektisida abamektin menunjukkan efek sinergistik dan meningkatkan efikasi 24,45 kali lipat jika dibandingkan dengan jamur M. anisopliae secara tunggal. Kombinasi jamur entomopatogen dengan insektisida konsentrasi sublethal dapat meningkatkan kemampuan jamur entomopatogen dalam mengendalikan S. exigua sehingga dapat memperlambat terjadinya resistensi insektisida.KeywordsSinergisme; Insektisida kimia; Jamur Metarhizium anisopliae; Mortalitas larva; Spodoptera exiguaAbstractThe beet armyworm, Spodoptera exigua (Lepidoptera: Noctuidae) is a serious pest of shallot in Indonesia. Many entomopathogenic fungi especially Metarhizium anisopliae are used as biological control agents of insects pests. But, the control of pest in crops with entomopathogens fungi, M. anisopliae alone is still not effective. Therefore it is necessary to improve the effectiveness of the entomopathogenic fungus by mixing with chemical insecticides. The aim of the study was to determine the sinergism of entomopathogenic fungi with insecticides to control third instar of S. exigua larvae under laboratory condition. The experiment was conducted at Indonesian Vegetables Research Institute Lembang (±1,250 m asl.), from June to October 2014. Sample of S. exigua larvae were collected from farmers’ field in Cirebon, West Java and mass production was carried in a screenhouse. Two bioassay steps were performed i.e. (1) preliminery test of entomopatogenic doses and insecticide doses and (2) the combination of sublethal doses of insecticide and several doses of M. anisopliae. The experimental design used was completely randomized design consisted of six treatments and four replications. Dipping method was used in this research. Mortality of S. exigua larvae was observed at 24 hours after exposures and repeated every 24 hours up to 168 hours of expo sures. The mortality data was analyzed using probit analysis to determine the LC50 values. The analysis showed that the LC50 value of the lowest chemical insecticides derived from insecticides abamectin that is 482,34 ppm and the highest obtained from the fungus M. anisopliae that is 1,189,83 ppm. Based on LC50 value of insecticides mixtures, the addition of abamectin insecticide to the entomopathogenic fungi, M. anisopliae, indicated synergism and increased their efficacy by 24,45 times higher, compared to M. anisopliae alone. Entomopathogenic fungi, M. anisopliae in combination with sublethal concentration of insecticides could increase the fungal ability in controlling S. exigua and also could be useful to abate insecticide resistance

    Deteksi dan Identifikasi Chrysanthemum Stunt Viroid pada Tanaman Krisan Menggunakan Teknik Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (Detection and Identification of Chrysanthemum Stunt Viroid on Chrysanthemum Using Reverse Transcriptase Polymerase

    Get PDF
    Chrysanthemum stunt viroid (CSVd) merupakan salah satu viroid yang menginfeksi tanaman krisan di Indonesia. Tujuan penelitian ialah untuk mengembangkan metode deteksi CSVd secara molekuler dan mengkarakterisasi CSVd isolat Indonesia. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Virologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, dan Rumah Kaca serta Laboratorium Virologi, Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung, Cianjur, Jawa Barat, dari Bulan Mei 2007 sampai dengan Juni 2008. RNA total diekstraksi dari daun tanaman krisan yang dihasilkan di rumah kaca menggunakan rneasy plant mini kits. Genom CSVd diamplifikasi dengan pasangan primer 5’-CAACTGAAGCTTCAACGCCTT-3’ dan 5’-AGGATTACTCCT- GTCTCGCA-3’. Suatu fragmen dengan ukuran 250 bp mengindikasikan bahwa c-DNA CSVd berhasil diamplifikasi dari tanaman krisan sakit menggunakan teknik RT-PCR. Urutan cDNA dari salah satu CSVd isolat Indonesia berhasil ditemukan dengan urutan sebagai berikut: cttaggattactcctgtctcgcaggagtggggtcctaagcctcattcga ttgcgcg aatctcgtcgtgcacttcctccagggatttccccgggggataccctgtaag- gaacttcttcgcctcatttcttttaagcagcagggttcaggagtgcaccacaggaaccacaagtaagtcccgagggaacaaaactaaggttccacgggcttactccctagcccaggtag- gctaaagaagattggaa. Urutan basa-basa tersebut memiliki tingkat kesamaan yang tinggi dengan sekuen nukleotida isolat CSVd dari Jepang, Korea, India, dan Amerika.

    Pertumbuhan dan Hasil Umbi Kentang Kultivar Granola dengan Aplikasi Mepiquat Klorida di Dataran Medium Maja, Jawa Barat

    No full text
    Abstrak. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan konsentrasi dan jumlah aplikasi optimum xat pengatur tumbuh (ZPT) mepiquat klorida untuk memaksimalkan pertumbuhan dan hasil umbi kentang kultivar Granola yang ditanam di dataran medium Maja, Jawa Barat. Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan telah digunakan. Pemberian mepiquat klorida terdiri atas empat taraf konsentrasi, yaitu 4,6,8 ml/l diaplikasikan satu kali pada umur 42 hari setelah tanam dan yang diaplikasikan dua kali masing-masing setengah konsentrasi pada umur 35 dan 42 hari setelah tanam bibit umbi kentang dan kontrol, sehingga jumlah perlakuan ada sembilan. Hasil penelitian mengungkapkan tidak terjadi gejala fitotoksisitas klorosis, dan gejala abnormal lainnya pada tanaman kentang kultivar Granola yang disemprot laturan meiquat klorida tersebut, mepiquat  klorida konsentrasi 4 sampai 16 m/l yang diberikan satu atau dua kali mereduksi luas daun 17% sampai 37%, meningkatkan bobot umbi segar total sebesar 14% sampai 25%. Hasil bobot umbi tertinggi diperoleh dari pemberian mepiquat klorida konsentrasi 6 ml/l satu kali aplikasi pada 42 hst. Penerapan teknologi yang dihasilkan dapat menguntungkan melalui peingkatan hasil umbi kentang kultivar Granola sekitar 25% yang ditanam di dataran medium dengan pemberian ZPT yang tepat. Abstract. Research has been carried out to find out the optimal concentration and optimal number of application of plant growth regulator mepiquat cloride and to maximize both the growth and yield of potato cv. Granola at Maja medium elevation (560 m above sea level). A Randomized Block Design wit three replications was set up in the field.Treatments consisted of four levels of mepiquat chloride concentrations, viz.4,6,8, 16 ml/l which were applied once at 42 days after planting nd twice in a half dosage at 35 and 42 days after plantng, respectively, and control. Research results revealed that there was no phytotoxicity symptom, no chlorosis, and abnormality on potatoplants cv. Granola treated with mepiquat cloride at concentration of 4 to16 ml/l for both at once and at twice have reduced leaf area by 17-37%, increased total fresh weight of potato tuber by 14% to 25%; however, the highest yield of potato tuber was gained from plants treated with mepiquat chloride 6 ml/l applied at 42 days after planting. The users may get benefit trough improvement of potato yield cv Granola around 255 which is cultivated in medium elevation with proper dosage and frequency of growth regulator application.   

    Penggunaan Pupuk TSP dan SP-36 pada tanaan Bawang Putih di Dataran Tinggi

    No full text
    Abstrak. Efisiensi penggunaan pupuk fosfat pada bawang putih tergolong rendah. Salah satu alternatif untuk meningkakan efisiens penggunaan pupuk fofat adalah penggunaan pupuk SP-36 (Superfosfat 36). Penelitian ini dilaksanakan di lahan petani bawang putih di dataran tinggi iidey Kabupaten Bandung (1.400 d.p.l) dengantipe tanah andosol. Tujuan peneltian ini adalah untuk mendapatkan sumber da dosis fosfat yang paling efisien dan untuk mempelajari seberapa jauh pupuk SP-36 dapat mempertahankan hasil umbi serta perubahan ciri kimia tanah pada budidaya bawang putih. Perlakuan terdiri dari dua jenis pupuk fosfat yakni TSP dan SP-36 yang dikombinasikan dengan empat taraf dosis pemupukan fosfat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Acak kelompok dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pupuk SP-36 dan TSP pada berbagai dosis tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, berat kering, dan berat basah tanaman bawang putih dan tidak juga menigkatkan serapan nitrogen, fosfor, dan kalium total. Hasil umi total bawang putih tertinggi terjadi pada sumber fosfat yang berasal dari TSP dengan dosis 250 kg/ha, tetapi tidak berbeda nyata dengan pupuk fosfat yang berasal dari SP-36. Dengan demikian, pupuk fosfat yang berasal SP-36 dengan dosis 150 kg/ha merupakan penggunaan pupuk fosfat yang paling efisien. Peningkatan dosis TSP sedikit meningkatkan pH tanah, sebaiknya peningkatan dosis SP-36 cenderung memasamkan tanah. Makin tinggi dosis TSP dan SP-36 yang digunakan makin tinggi pula P ersedia di dalam tanah. Abstract.Utilization of triple superphniplaite (TSP). and superphosphate (SP)-36 fertilizers on garlic in highland of Ciwiday, The efficiency of using P fertilizer on garlic is low. One of the alternatives to increase the efficiency is by the utilization of SP-36 fertilizer,  Experiment was conducted at farmer's field at Ciwidey, West Jawa. The altitude was 1400 m a.s.l. with Andosol suit type. The objectives of this research were to find out the most efficient rate of phosphate fertilizer and to study how far SP-36 fertilizer could increase bulb yield as well as the change of soil chemical properties in the cultural practises of garlic. The treatments  consisted of 4 dosage levels each of TSP and SP-36. Result of the experiment showed that SP-36 and TSP fertilizers al all rates tested did not influence plant height, leaf number, dry weight and fresh weight of garlic plant nor increase the total N, P, and K uptakes. The highest increase in total yield occured al the rate of 250 kg/ha TSP. However, the most rieiefficient was 150 kg/ha SP-36. Utilization of TSP slightly increased soil pH, but SP-36 tended to decrease soil pH. Soil P availability can he improved by increasing TSP and SP-36 dosage

    Penerapan Teknologi Pembibitan Salak Secara Cangkok

    No full text
    Abstrak. Upaya menguji efisiensi penggunaan hormon untuk induksi akar dan penerapan teknologi perbanyakan bibit salak secara cangkok di sentra produksi salak Kabupaten Malang, Pasuruan. dan Karangasern (Bali) di Lakukan menggunak.an metode penelitian adaptif di kebun petani. Penelitian melibatkan kerja sama aktif antara peneliti dan petani, sejak persiapan pencangkokan hmgga panen bibit salak. Penelitian dilaksanakan dari bulan Aaustus 1995 hingga Maret 1996. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan rakitan teknologi pembibitan salak secara cangkok menggunakan limbah bawang merah takaran 75 g per cangkok untuk induksi akar dapat meningkatkan keberhasilan cangkok sebesar 10% dibandingkan menggunakan induksi akar IBA 1.000 ppm takaran 7,5 ml per cangkok. Pada saat harga bawang merah Rp.1.000 per kg dan harga IBA Rp.20.000,- per g, keuntungan dari penerapan teknologi dengan limbah bawang merah dapat menekan biaya bibit cangkok sebesar 28%. Setelah petani melihat cara pelaksanaan mencangkok tunas anakan salak dan kemudian melaksanakan pencangkokan sendiri, ternyata tingkat keberhasilan cangkok tidak berbeda dengan hasil yang dilaksanakan oleh peneliti, yakni mencapai 61% cangkok jadi.Tingkat keberhasilan cangkok yang dilakukan oleh petani yang pernah mencangkok lebih tinggi dari pada petani yang baru melihat atau mendengar cara mencangkok tunas anakan salak. Tingkat keberhasilan cangkok pada pohon salak umur 5-15 tahun lebih tinggi dari pada salak umur di atas 15 tahun. Luas pemilikan kebun salak berpengaruh terhadap keberhasilan cangkok, tetapi tingkat pendidikan dan umur petani salak serta jumlah cangkokan per pohon tidak berpengaruh.ABSTRAC'T, The application of technology on marcotting propagation of salacea. Adaptive research, on salacca propagation technique was done at farmer's field to evaluate the efficiency of the use of root induction, and to introduction salacca propagation using marcotting method to farmers in the salacca production center in Malang. Pasuruan. and Karangasem The research involved an active participation of farmers in all activities, from the preparation to the harvest of marcotting, from August 1995 to March 1996 The results showed that the use of discarded shallot at 75g 'in each marcotting increased the success of marcotting by 10% compared to the use of 100 ppm IBA at 7.5 ml, while the price or discarded shallot was Rp. 1000.-/kg and IBA was Rp. 20.000.-/g. therefore the use of discarded shallot reduced the marcotting cost by 28%. Farmers adopted the technology readily, as indicated by 61% of successful marcotting which was not much different to the results obtained by researchers The rate of succes of farmers who had experienced in marcotting practice was higher than those who unexperienced. The rate of success in marcotting of 5 to 15 years old plants was higher then those of more than 15 years. Size Of land ownership had a significant influence to the success of marcotting, while the number of marcotted sucker per plant, the education and the age of farmers had no Influence on the marcotting success.  

    Uji Laboratorium Azospirillum sp. yang Diisolasi dari Beberapa Ekosistem

    Get PDF
    ABSTRAK. Beberapa mikrob yang bersifat nonpatogenik dan nonsimbiotik yang efektif menambat nitrogen dari udara serta mampu melarutkan P terikat pada Ca, Al, dan Fe dalam tanah, dapat hidup dalam berbagai ekosistem di alam. Sebagian bakteri tersebut dapat diisolasi dari daerah perakaran tanaman hortikultura. Penelitian bertujuan mengetahui peran Azospirillum sp. yang potensial sebagai pendorong pertumbuhan tanaman pada ekosistem pantai dan kondisi lingkungan yang ekstrim. Pengujian terhadap isolat bakteri yang dikumpulkan dari berbagai kondisi ekosistem dilaksanakan di Laboratorium Ekofisiologi, Pusat Penelitian Biologi, LIPI, Bogor dari Bulan Januari sampai dengan Desember 2011. Sebanyak 34 isolat Azospirillum sp. diuji dengan berbagai metode, yaitu (1) uji kualitatif kemampuan isolat Azospirillum sp.  dalam menambat (fiksasi) nitrogen dan kemampuan hidup pada media Okon padat yang mengandung NaCl, (2) uji kualitatif kemampuan isolat Azospirillum sp. dalam melarutkan P terikat pada  Ca3(PO4)2 dalam media  Pikovskaya padat dan indeks efisiensi pelarutan fosfat,  (3) uji kualitatif kemampuan isolat Azospirillum sp. dalam melarutkan P terikat pada media  Pikovskaya cair  dan aktivitas enzim PME-ase asam dan basa, serta kondisi pH selama inkubasi 7 hari pada kultur murni (pH asal= 7), dan (4) analisis kemampuan Azospirillum sp. dalam memproduksi indole acetic acid (IAA).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) semua isolat bakteri yang diuji mampu menambat nitrogen dalam media Okon padat,  (2) isolat B2, B4, B6, B12,  B14, PS2, dan FR13 mampu melarutkan P dari Ca3(PO4)2 dalam medium Pikovskaya padat dengan masing-masing indeks efisiensi pelarutan sebesar  120, 160, 140, 100, 110, 120, dan 100,  (3) isolat B1, B2, B3, B4, B6, B14, B17, PS1, PS2, PS3, FR1, FR5, FR7, FR8, FR10, FR12, dan FR13 mampu tumbuh dalam medium Okon dengan kandungan NaCl sebesar 0, 2, 4, atau 6%, (4)  konsentrasi tertinggi P terlarut dihasilkan oleh isolat B4 (5,80 mg/l), B6 (5,84 mg/l), dan PS2 (5,45 mg/l) dengan PME-ase sebesar 0,58 u m/l, 0,58 u m/l, 0,57 u m/l (asam), 0,52 mg/l, 0,50 mg/l, 0,48 mg/l (basa), dan dengan  pH : 4,20, 4,30, dan 4,22,  dan (5) isolat B4 dan B6 yang diisolasi dari pertanaman padi di pantai Rambut Siwi, Bali, mampu memproduksi IAA tertinggi, yaitu masing-masing sebesar 0,6749 dan 0,4694 ppm pada hari pertama setelah perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian ini terbukti bahwa isolat Azospirillum sp. berpotensi sebagai plant growth promoter  untuk ekosistem di daerah pesisir atau pantai. Bakteri tersebut sangat penting untuk pengkayaan nutrisi pada lahan di daerah dataran rendah atau pantai dalam rangka pengembangan tanaman termasuk komoditas hortikultura.ABSTRACT. Widawati, S and Muharam, A 2012. The Laboratory  Test of  Azospirillum sp. Isolated  from Several  Ecosystems. Microbes that are nonpathogenic  and nonsymbiotic bacteria which are effectively fixed up nitrogen from air, and are able to dissolve phosphated bounded on Ca, Al, and Fe in soil, are able to growth in different ecosystems in nature. Some of the bacterial species can be isolated from rizosphere of horticultural crops. The research was aimed to determine the potential role of Azospirillum sp.  as a plant growth promoter in coastal ecosystem and extremely environmental conditions. The laboratory test of Azospirillum sp. isolated from several ecosystems was carried out in the Ecophysiology Laboratory, Research Center for Biology, Indonesian Institute of Sciences, Bogor from January until December 2011. Thirty-four isolates of Azospirillum sp. (B1 to B17;PS1 to PS3; FR1 to FR 14) were investigated with some methods i.e. (1) the qualitative test of the capability of Azospirillum sp. to fix up nitrogen in solid Okon medium containing NaCl, (2) the qualitative test of the capability of Azospirillum sp. in dissolving bounded P in solid Pikovskaya medium and phosphate dissolution efficiency index,  (3) the qualitative test of the capability of Azospirillum sp. in dissolving bounded P in liquid Pikovskaya medium and the activity of acid and base PME-ase, and pH condition after 7 days incubation in pure media, and (4) analysis of the capability of Azospirillum sp. in producing indole acetic acid (IAA).  The results pointed out that : (1) all tested isolates of Azospirillum sp. were  capable to fix up nitrogen in solid Okon medium, (2) isolates of B2, B4, B6, B12,  B14, PS2, and FR13 were capable to solubilize P on Ca3(PO4)2 in solid Pikovskaya medium with its efficiency of  120, 160, 140, 100, 110, 120, and 100, respectively, (3) isolates of B1, B2, B3, B4, B6, B14, B17, PS1, PS2, PS3, FR1, FR5, FR7, FR8, FR10, FR12, and FR13 were able to grow in Okon medium with 0, 2, 4, or 6% of NaCl doses, (4) the highest concentrations of solubilized P was resulted by isolates B4 (5.80 mg/l), B6 (5.84 mg/l), and PS2 (5.45 mg/l) with PME-ase i.e. 0.58 u m/l, 0.58 u m/l, 0.57 u m/l (acid), 0.52 mg/l, 0.50 mg/l, 0.48 mg/l (base), and with pH : 4.20, 4.30, and 4.22, and (5) isolates of B4 and B6 isolated from rice field at Rambut Siwi beach, Bali, were capable to produce highest IAA hormone i.e. 0.6749 and 0.4694 ppm respectively  on the first day after the treatment. Based on the result of this experiment it can be concluded that Azospirillum sp. is a potential plant growth promoting Rhizobacteria for coastal ecosystem. The bacterial species is very important to enrich coastal areas for crop cultivation, including horticulture

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇