Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Peningkatan Potensi Hasil Varietas Galur Murni Cabai Dengan Memanfaatkan Fenomena Heterosis di Dataran Tinggi Pada Musim Kemarau
Perakitan varietas hibrida telah terbukti mampu meningkatkan potensi hasil, sehingga dapat menjadi salah satu strategi peningkatan produktivitas untuk menjaga stok pangan sebagai antisipasi peningkatan jumlah penduduk. Penelitian bertujuan menguji daya hasil dan karakter penting lainnya dari cabai hibrida dengan tetua dan beberapa varietas galur murni sebagai pembanding. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang, Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat pada Bulan Mei sampai dengan Oktober 2013. Tata letak penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok terdiri atas 10 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas tiga tetua (Tanjung-2, Lembang-1, dan GI), empat hibrida (H1=Tanjung-2 x GI, H2=GI x Tanjung-2, H3=Lembang-1 x GI, dan H4=GI x Lembang-1), serta tiga varietas galur murni sebagai pembanding (Ciko, Tit Super, dan Kencana). Hasil per hektar cabai hibrida lebih baik dibandingkan tetua dan pembanding. H1 dan H2 merupakan hibrida yang memiliki nilai heterosis lebih dari 70% dengan hasil per hektar mencapai lebih dari 30 t/ha. Selain memiliki karakter hasil per hektar yang tinggi, keunggulan hibrida H1 dan H2 ialah berumur genjah serta memiliki ukuran buah yang sesuai dengan preferensi konsumen rumah tangga
Teknik Penyemaian Benih True Shallot Seed untuk Produksi Bibit dan Umbi Mini Bawang Merah
Budidaya bawang merah dengan menggunakan true shallot seed (TSS) dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu (1) penanaman TSS langsung di lapangan, (2) penyemaian TSS terlebih dahulu untuk mendapatkan bibit, dan (3) pembuatan umbi mini, yaitu umbi bibit mini (< 3 g/umbi) yang berasal dari TSS. Tujuan penelitian adalah mendapatkan media semai, cara semai, dan kedalaman semai TSS paling tepat untuk menghasilkan bibit dan umbi mini bawang merah (var. Bima). Penelitian lapangan dilakukan di Kebun Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, Jawa Barat (± 1.250 m dpl), dari bulan Juni sampai Oktober 2013, menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama (A) adalah media semai, terdiri atas : a = tanah + pupuk kandang (1:1), a 2 = tanah + pupuk kandang + arang sekam padi (1:1:1), dan a = tanah + pupuk kandang + cocopit (1:1:1). Anak petak (B) adalah cara semai + kedalaman semai TSS, terdiri atas : b 1 3 = disebar + kedalaman 1 cm, b = disebar + kedalaman 2 cm, b 3 = digarit + kedalaman 1 cm, dan b 4 2 = digarit + kedalaman 2 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media semai campuran tanah + pupuk kandang dengan cara semai TSS disebar rata di bedengan sedalam 2 cm dan bibit dipindahkan ke lapangan pada umur 6 minggu setelah semai merupakan perlakuan yang baik karena dapat menghasilkan jumlah bibit yang tumbuh cukup banyak dan menghasilkan bobot kering eskip paling tinggi, yaitu 1,51 kg/m setara 12,08 t/ha (efisiensi lahan 80%). Kombinasi media semai tanah + pupuk kandang + arang sekam padi dengan cara semai TSS disebar pada garitan sedalam 2 cm menghasilkan umbi mini paling banyak, yaitu 358 umbi setara 1.909.333 umbi mini dengan bobot antara 0,938 g/1,5 m 2 setara 5,003 t/ha (efisiensi lahan 80%). Hasil umbi mini tersebut hanya sekitar 36% dari total bobot umbi kering eskip yang dihasilkan. Persentase umbi mini yang dihasilkan masih rendah, oleh karena itu penanaman bawang merah asal TSS lewat seedling diduga paling menjanjikan
Keragaan Tiga Galur Lanjut Cabai Merah Pada Ekosistem Dataran Tinggi Lembang, Jawa Barat (Performance of Three New Advanced of Hot Pepper Genotypes Grown on High Land Ecosystem of Lembang, West Java)
Cabai merupakan sayuran penting yang banyak digunakan masyarakat di Indonesia. Pengujian dilakukan dibawah kondisi agro ekosistem dataran tinggi di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Penelitian disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan lima ulangan. Tiga galur baru cabai merah yaitu, 1) PP 0537-7558, 2) YK-1, 3) YK-2 serta dua vartietas pembanding Perisai dan Tanjung- 2 dijadikan sebagai perlakuan. Setiap plot ditanami 30 tanaman per plot. Peubah yang diamati diantaranya ialah tinggi tanaman, vigor tanaman, intensitas kerusakan oleh Antracnosa dan virus kuning, hasil panen bobot dan jumlah buah, serta panjang buah yang merupakan karakter kuantitatif. Untuk karakter kualitatif yang diamati ialah data yang diperlukan untuk penyusunan deskripsi morfologi tanaman. Hasil pengujian diketahui bahwa, peroleh bahwa, galur YK-2 menampilkan vigor tanaman yang paling bagus. Disamping itu galur tersebut menampilkan tinggi tanaman yang tertinggi. Potensi hasil paling tinggi dihasilkan galur YK-2 (22,64 ton/ha) nyata lebih tinggi dibandingkan kedua varietas pembandingnya yaitu Perisai (14,96 ton/ha) dan Tanjung-2 (14,62 ton/ha). Disamping itu galur YK-2 memiliki panjang buah yang ideal yaitu 15,08 cm, lebih panjang dari varietas pembanding Perisai (9,06 cm). Galur-galur yang diuji dapat dideskripsikan dengan cukup lengkap. Implikasi dari kegiatan ini terpilih satu galur advanced cabai untuk pengujian lebih lanjut.KeywordCapsicum annuum L.; Galur; Keragaan; Ekosistem; Dataran tinggi AbstractHot pepper is one of important vegetable crops which are consumed by most Indonesian people for ingredient of daily menu. Production and quality yield are affected by interaction of genotypes and environment. Therefore, in the breeding program of hot pepper adaptation test of the genotypes to the spesific environment is a must. The experiment was conducted at high land ecosystem in Lembang, District Bandung, West Java Province. The experimental used randomized complete block design with five replications. Three genotypes of hot pepper used in this experiment were (1) PP 0537-7558, (2) YK-1, and (3) YK-2 and two varieties Perisai and Tanjung- 2 as control variety. Each plot was planted by 30 plants. Data collected were plant height, plant vigor, intensity plant damage due to anthracnose and yellowing virus, fruit weight, fruit size, numbers of fruit, and morphology data. The results of research showed that the most vigorous and the highest plant was obtained from YK-2 genotype. The highest yielding was also obtained from YK-2 genotype (22.64 ton/ha) and significantly different compared to control varieties Tanjung-2 (14.62 ton/ha) and Perisai (14.96 ton/ha). YK-2 genotipe had an ideal of fruit length (15,08 cm) which are longer than that of cv. Perisai (9.06 cm). The genotypes tested was morphologically characterized based on local growth condition
Pengaruh Benzilaminopurin dan Boron Terhadap Pembungaan, Viabilitas Serbuk Sari, Produksi, dan Mutu Benih Bawang Merah di Dataran Rendah
Biji botani atau TSS (true shallots seed) merupakan salah satu sumber benih bawang merah yang potensial untuk dikembangkan sebagai bahan perbanyakan. Selama ini produksi TSS dilakukan di dataran tinggi. Dataran rendah dengan suhu yang tinggi tidak sesuai untuk menghasilkan pembungaan, namun ada indikasi bahwa dataran rendah menghasilkan pembentukan dan mutu benih TSS yang lebih baik dibandingkan dataran tinggi. Penelitian dilakukan untuk memproduksi benih bawang merah (TSS) di dataran rendah melalui peningkatan pembungaan dan viabilitas serbuk sari menggunakan BAP dan boron. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Wera, Subang, Jawa Barat (ketinggian 100 m dpl.), dari Bulan Maret sampai dengan Juni 2012. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas dua faktor, yaitu aplikasi benzilaminopurin atau BAP (0, 50, 100, 150, dan 200 ppm) dan boron (0, 1, 2, 3, dan 4 kg/ha). Aplikasi BAP diberikan tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 minggu setelah tanam (MST), dan boron pada umur 3, 5, dan 7 MST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian BAP dapat meningkatkan pembungaan dan viabilitas serbuk sari bawang merah, tetapi tidak meningkatkan produksi dan mutu benih TSS di dataran rendah Subang. Aplikasi BAP konsentrasi 50 ppm yang diaplikasikan pada umur 1, 3, dan 5 MST cukup memadai untuk meningkatkan pembungaan bawang merah di dataran rendah Subang. Sementara boron tidak memperbaiki tingkat pembungaan maupun produksi dan mutu benih TSS. Boron 4 kg/ha hanya dapat memperbaiki viabilitas serbuk sari bawang merah. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa ada peluang untuk memperbaiki tingkat pembungaan yang lebih tinggi di dataran rendah, sedangkan tantangannya ialah peningkatan pembentukan kapsul/buah dan biji TSS
Identifikasi Gejala dan Kisaran Inang Enam Isolat Begomovirus Cabai di Indonesia (Symptom and Host Range Identification of Six Chilli Begomovirus Isolate in Indonesia)
Perkembangan infeksi Begomovirus pada cabai di Indonesia tidak menutup kemungkinan adanya isolat baru yang berbeda gejala dan kisaran inangnya. Tujuan penelitian adalah melakukan identifikasi isolat Begomovirus cabai dari beberapa sentra produksi di Indonesia berdasarkan gejala dan kisaran inangnya. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kasa Virologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang, dari Bulan Mei 2013 sampai dengan Agustus 2013. Isolat Begomovirus cabai diperoleh dari enam daerah, yaitu Leuwikopo-Bogor, Brebes, Magelang, Kediri, Blitar, dan Karangploso-Malang. Isolat Begomovirus cabai tersebut diisolasi dan dipelihara pada benih tanaman cabai sehat varietas Tanjung-2 dengan cara ditularkan melalui serangga vektor Bemisia tabaci nonviruliferous. Deteksi isolat Begomovirus cabai secara polymerase chain reaction (PCR) menggunakan sepasang primer universal pAL1v1978/pAR1c715. Identifikasi gejala dan kisaran inang dilakukan pada sembilan jenis tanaman indikator, yaitu cabai, tomat, terung, kacang panjang, buncis, mentimun, babadotan, caisim, dan bayam duri. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Amplifikasi PCR menggunakan primer universal pAL1v1978/pAR1c715 terhadap enam isolat Begomovirus cabai berhasil memperoleh fragmen DNA berukuran 1.600 kb. Isolat Begomovirus cabai asal Brebes, Magelang, Kediri, Blitar, dan Karangploso berhasil ditularkan pada tanaman indikator cabai, tomat, terung, mentimun, kacang buncis, kacang panjang, dan babadotan, namun tidak berhasil ditularkan pada tanaman caisim dan bayam duri. Pada tanaman cabai, isolat Begomovirus asal Brebes lebih virulen 3,3–10% untuk tingkat kejadian penyakit dengan masa inkubasi lebih cepat 2,7–3,7 hari dibandingkan isolat Begomovirus asal Bogor, Magelang, Kediri, Blitar, dan Malang. Untuk kepastian perbedaan enam isolat Begomovirus cabai secara molekuler, disarankan untuk analisis perunutan DNA.KeywordsBegomovirus; Gejala; Kisaran inang; VirulenAbstractPossibility Begomovirus infection on chilli in Indonesia continually could appear a new isolate. The research was aimed at identifying chilli Begomovirus isolate from some chilli area in Indonesia according to their symptom dan host range. The research was conducted at virology’s Laboratory and Screen Net House of the Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI), from May to August 2013. Chilli Begomovirus isolates from six area were collected, namely: Leuwikopo-Bogor, Brebes, Magelang, Kediri, Blitar, and Karangploso-Malang. All isolates were isolated and maintained to the healthy chilli seedling of Tanjung-2 variety transmitted by insect vector B. tabaci nonviruliferous. The molecular isolate detection by polymerase chain reaction (PCR) using a pair of universal primers pAL1v1978/pAR1c715. Nine indicator plants were used to identify their symptom and host range, namely chilli, tomato, eggplant, yardlong bean, bean, cucumber, ageratum, caisim, and wild spinach. A randomized block design was used with three replications. Amplification on six chilli Begomovirus isolates. Isolates from Brebes, Magelang, Kediri, Blitar, and Karangploso were succesfully transmitted to various indicator plants, i.e chilli, tomato, eggplant, cucumber, bean, yardlong bean, and ageratum weed, but failed on caisim and wild spinach. Isolate from Brebes was 3.3–10.0% more virulent (disease incident parameter) and 2.7–3.7% days shorter (incubation time parameter) than isolate from Bogor, Magelang, Kediri, Blitar, and Malang. DNA sequencing analysis is recommended to be done. Further DNA sequencing was recommended to confirm the moleculer diffferences among the six chilli Begomovirus isolates
Seleksi Khamir Epifit Sebagai Agens Antagonis Penyakit Antraknosa Pada Cabai
Antraknosa merupakan penyakit penting pada tanaman cabai yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi cukup besar. Khamir merupakan salah satu mikroba yang telah diketahui berpotensi sebagai agens antagonis pada berbagai produk pascapanen. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat-isolat khamir epifit yang berpotensi sebagai agens antagonis penyakit antraknosa pada cabai. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikologi Tumbuhan dan Kebun Percobaan Institut Pertanian Bogor, dari bulan April sampai Desember 2013. Khamir epifit diisolasi dari daun dan buah cabai merah yang diperoleh dari pertanaman cabai di Rancabango dan Panjiwangi (Kabupaten Garut) dan Dramaga (Kabupaten Bogor). Patogen penyebab antraknosa yaitu Colletotrichum acutatum diisolasi dari buah cabai bergejala dari pertanaman cabai di Panjiwangi. Khamir hasil isolasi diuji patogenisitasnya pada benih dan buah cabai. Khamir nonpatogenik diseleksi potensi antagonismenya terhadap penyebab penyakit antraknosa. Diperoleh 43 isolat khamir epifit, semua isolat bersifat nonpatogenik berdasarkan hasil uji patogenisitas. Seleksi potensi antagonisme isolat khamir epifit menghasilkan 23 isolat yang berpotensi sebagai agens antagonis C. acutatum. Empat belas isolat khamir epifit menyebabkan penghambatan penyakit antraknosa lebih besar dibandingkan mankozeb
Keragaman Genetik Plasma Nutfah Rambutan di Indonesia Berdasarkan Karakter Morfologi
Rambutan merupakan tanaman menyerbuk silang sehingga secara alami memiliki keragaman tinggi. Penelitian bertujuan mempelajari kemiripan genetik dan pengelompokan aksesi plasma nutfah rambutan (Nephelium lappaceum) dan kapulasan (Nephelium ramboutan-ake) di Indonesia berdasarkan karakteristik morfologi. Penelitian dilakukan di (1) Kebun Percobaan (KP) Aripan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, (2) KP Subang Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, (3) KP Cipaku Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat, dan (4) Kabupaten Limapuluh Kota (Sumatera Barat), pada bulan Juni 2013 sampai Februari 2014. Karakterisasi sifat morfologi dilakukan terhadap 29 aksesi rambutan dan empat aksesi kapulasan mengacu pada descriptor for rambutan yang diterbitkan IPGRI. Perhitungan koefisien ketidakmiripan antaraksesi dilakukan dengan metode Gower. Analisis nominal logistic biplot dilakukan untuk melihat sifat penciri dari suatu kumpulan aksesi. Analisis keragaman genetik dapat membedakan kelompok rambutan dan kapulasan dengan koefisien ketidakmiripan rerata sekitar 55%. Berdasarkan kerapatan tandan, rambutan dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok, yaitu aksesi yang memiliki tandan sangat jarang, jarang, sedang, rapat, dan sangat rapat. Aksesi dengan tandan rapat sampai sangat rapat antara lain aksesi Gendut Kair, Tangkue, dan Aceh Gendut, sedangkan semua aksesi kapulasan memiliki tandan yang sangat jarang. Berdasarkan ketebalan kulit buah, semua aksesi rambutan memiliki ketebalan kulit sedang sampai tebal, sedangkan aksesi Sibabat diketahui memiliki kulit yang sangat tebal
Keefektifan Eliminasi Penyakit Sistemik (Huanglongbing dan Citrus Tristeza Virus) pada Jeruk dengan Embriogenesis Somatik
Perbanyakan tanaman dengan teknik embriogenesis somatik diduga mampu mengeliminasi penyakit sistemik pada tanaman jeruk. Namun tingkat keefektifan eliminasi penyakit sistemik tersebut sangat bergantung pada eksplan dan status penyakit pada pohon induk. Tujuan penelitian ialah mengetahui keefektifan perbanyakan dengan embriogenesis somatik dalam membersihkan penyakit sistemik pada jeruk (huanglongbing dan citrus tristeza virus). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Terpadu dan Screenhouse Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Tlekung, Kota Batu. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Januari 2010 sampai dengan Desember 2011. Pengujian status penyakit sistemik dilakukan terhadap hasil perbanyakan melalui teknik embriogenesis somatik yang berasal dari tanaman induk terinfeksi dan bebas penyakit sistemik huanglongbing (HLB) dan citrus tristeza virus (CTV). Analisis penyakit HLB menggunakan metode pengujian PCR, sedangkan analisis penyakit CTV menggunakan metode DAS-ELISA. Pengujian dilakukan pada empat stadia pertumbuhan (kalus, embrio, planlet, dan semai) hasil perbanyakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik embriogenesis somatik efektif mengeliminasi penyakit HLB, namun kurang efektif untuk penyakit CTV. Hal ini ditunjukkan oleh hasil pengujian yang menunjukkan bahwa semua varietas dan semua stadia yang diuji bebas dari HLB, namun untuk CTV hanya terjadi pada varietas keprok Kinnow, siam Kintamani, dan nipis. Pada varietas JC (Japanche citroen) fase embrio, 40% dari sampel yang diuji masih terinfeksi CTV. Oleh karena itu, pengambilan nuselus sebagai sumber eksplan pada perbanyakan tanaman jeruk dengan embriogenesis somatik perlu dilakukan pada tanaman yang bebas dari penyakit sistemik
Pengelolaan Hara dan Tanaman untuk Mendukung Usahatani Cabai Merah Menggunakan Input Luar Rendah di Dataran Tinggi
Usahatani cabai merah konvensional dengan menggunakan input pupuk kimia yang tinggi memberikan dampak pada penurunan produktivitas lahan dan tanaman cabai merah, serta pencemaran lingkungan. Karena itu perlu dicari teknologi alternatif ramah lingkungan menggunakan input luar rendah dengan menggganti sebagian input pupuk kimia sintetik dengan bahan organik, alami, dan hayati (mikroorganisme berguna), serta menggunakan sistem tanam ganda. Penelitian dilakukan di dataran tinggi Lembang dari bulan Maret sampai dengan Oktober 2013 menggunakan cabai merah varietas Kencana. Tujuan penelitian ialah untuk menghasilkan sistem tanam dan pengelolaan hara yang tepat untuk meningkatkan hasil cabai merah dalam usahatani dengan input luar rendah. Rancangan penelitian menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama ialah sistem tanam cabai merah (a1= cabai merah monokultur, a2= tumpangsari cabai merah + kubis bunga, dan a3= tumpangsari cabai merah + buncis tegak). Anak petak ialah pengelolaan hara (b1= 30 t/ha pupuk kandang + 1.000 kg/ha pupuk NPK, b2= 30 t/ha kompos pupuk kandang + 750 kg/ha pupuk NPK, b3= 30 t/ha kompos sisa-sisa tanaman + 500 kg/ha pupuk NPK, dan b4= 30 t/ha kompos campuran pupuk kandang dan sisa-sisa tanaman yang diperkaya + 250 kg/ha pupuk NPK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara sistem tanam dan pengelolaan hara terhadap pertumbuhan tanaman, serapan hara, dan hasil buah cabai merah. Sistem tanam tumpangsari cabai merah + kubis bunga dan cabai merah + buncis tegak umumnya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap pertumbuhan tanaman, dan serapan hara, serta hasil buah tanaman cabai merah dibandingkan dengan sistem tanam cabai merah monokrop. Perbedaan pengelolaan hara berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan bobot kering tanaman, serapan hara P dan Mg, serta hasil bobot buah cabai merah. Bobot buah cabai merah tertinggi diperoleh dengan sistem tanam cabai merah monokultur dengan pemberian 30 t/ha kompos pupuk kandang + 750 kg/ha pupuk NPK, yaitu 64 kg/42 m2, sedangkan sistem tanam tumpangsari cabai merah + buncis dan pengelolaan hara 30 t/ha kompos sisa-sisa tanaman + 500 kg/ha pupuk NPK walaupun memberikan hasil buah cabai merah yang lebih rendah (54 kg/42 m2) tetapi lebih baik karena mempunyai tingkat pengembalian marginal tertinggi. Aplikasi hasil penelitian ini dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan meningkatkan produktivitas lahan yang sejalan dengan prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan
Metode Penularan Massal untuk Uji Penapisan Ketahanan Cabai Mutan terhadap Begomovirus
Hasil iradiasi sinar gamma pada benih lima genotipe cabai telah menghasilkan populasi mutan M2 yang harus diuji ketahanannya terhadap infeksi Begomovirus menggunakan serangga vektor Bemisia tabaci. Keefektifan metode penularan secara individu lebih tinggi dibandingkan metode penularan massal, namun jika uji penapisan diaplikasikan untuk suatu populasi yang besar maka metode yang cocok adalah penularan massal. Penelitian bertujuan (1) mendapatkan metode penularan massal yang keefektifannya sama dengan metode penularan individu, (2) mengetahui tanaman inang yang cocok untuk perbanyakan serangga vektor B. tabaci, (3) mengetahui tingkat ketahanan cabai genotipe Mhasil iradiasi sinar gamma terhadap infeksi Begomovirus, dan (4) mengetahui perbedaan pertumbuhan dan hasil tanaman dari genotipe M2 dan genotipe tetua M2 saat terinfeksi Begomovirus. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kasa dan Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran sejak bulan Mei sampai dengan Agustus 2013. Kajian penularan massal menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan lima perlakuan dan tiap perlakuan diulang lima kali, sedangkan kajian jenis tanaman inang untuk perbanyakan imago B. tabaci menggunakan rancangan yang sama diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman terung ungu (Solanum melongena) dan kapas (Gossypium hirsutum) cocok dijadikan sebagai tanaman inang dalam usaha perbanyakan serangga vektor B. tabaci. Penggunaan vektor B. tabaci dalam kondisi viruliferous (masa akuisisi 48 jam) dengan jumlah sekitar 20–30 ekor dalam satu kotak sungkup kain kasa dapat digunakan sebagai metode penularan massal untuk populasi 50 bibit tanaman cabai (kondisi 2–4 daun sejati) dengan keefektifan setara dengan metode penularan secara individu. Rerata dari 195 individu cabai genotipe Kencana M2 dan SSP M2 masuk dalam kategori tahan dan agak tahan terhadap infeksi Begomovirus, sedangkan rerata dari 195 individu cabai genotipe Seloka M2, Lembang-1 M2, dan Tanjung-2 M2 masuk dalam kategori rentan-agak rentan. Perubahan karakter kuantitatif dari pertumbuhan dan hasil tanaman pada lima genotipe M2 jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan genotipe tetua M2 saat terinfeksi Begomovirus