Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Pengaruh Pemangkasan Tajuk Terhadap Produktivitas dan Mutu Buah Jeruk Keprok Pulung (Effect of Pruning Canopy on Productivity and Fruit Quality of Mandarin cv Pulung)

    Full text link
    Pemangkasan merupakan tindakan dalam budidaya tanaman yang berperan penting dalam mengatur percabangan tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemangkasan tajuk tanaman terhadap produktivitas dan mutu buah jeruk keprok Pulung. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2015 – Agustus 2016 di Kebun Percobaan (KP) Tlekung Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) pada tanaman jeruk keprok Pulung berumur 6 tahun. Penelitian berdasarkan Rancang Acak Kelompok (RAK) dengan lima perlakuan, yaitu pemangkasan pemeliharaan (P), pemangkasan bentuk V (V), pemangkasan lorong (L), pemangkasan samping (S), dan tidak dipangkas (K). Setiap perlakuan diulang lima kali dengan sembilan unit tanaman per ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah bunga tertinggi diperoleh pada perlakuan pemangkasan bentuk V (V), yaitu 85,30%, jumlah buah tertinggi pada perlakuan pemangkasan bentuk V (V) dan perlakuan pemangkasan samping (S) masing-masing sebesar 208,8 buah/pohon dan 201 buah/pohon. Rerata diameter dan bobot buah tertinggi diperoleh pada perlakuan pemangkasan pemeliharaan (P), yaitu 66,20 mm dan 143,75 g. Dari hasil analisis buah jeruk, total gula tertinggi (7,5%) dan total asam terendah (1,79%) diperoleh pada tanaman yang diperlakukan pemangkasan samping (S), sedangkan total karotenoid tertinggi (10,63 µg/g) terdapat pada tanaman yang diperlakukan pemangkasan lorong (L) dan kadar air yang tertinggi sebesar 90,08% dimiliki oleh tanaman kontrol (tanpa pemangkasan). Perlakuan pemangkasan samping (S) dapat direkomendasikan untuk diterapkan di petani karena menghasilkan jumlah buah yang tinggi dengan rasa yang manis.KeywordsJeruk; Kanopi; Pemangkasan; Produktifitas; Mutu buahAbstractPruning plays an important role in regulating branching of fruit plants. This research was aimed to examine the effect of canopy pruning on productivity and fruit quality of mandarin cv Pulung. The study was conducted at the Experimental Farm Tlekung ICSFRI on 6 year old tree of mandarin cv. Pulung. The observation was carried out from August 2015 until August 2016. The study was analyzed by using a Randomized Block Design (RBD) with five treatments and five replicates. The treatments were consisted of pruning for maintenance (P), V shape pruning (V), alley shape pruning (L), side pruning (S), and unpruning (K). The results indicate that the highest number of flowers is shown by V shape pruning treatment (V) i.e. 85.30%, the highest number of fruits is performed by V shape pruning treatment (V) and side pruning treatment (S), with the average of 208.8 and 201 fruits per tree. The mean fruit diameter and weight is the highest in pruning for maintenance treatment (P), i.e. 66.20 mm and 143.75 g, respectively. The highest total sugar (7.5%) and lowest total acid (1.79%) were obtained in the side pruning treatment (S), while the highest total caratenoid (10.63 µg / g) was found in the alley pruning treatment (L) and the highest water content of 90.08% is owned by the control (unpruning). Results of the study suggest that side pruning treatment (S) can be recommended as the best pruning practice to farmers since it may produce highest number of fruits and sweetest taste

    Studi Ex-Ante Teknologi Produksi Lipat Ganda Cabai Merah pada Musim Hujan: Studi Kasus di Kabupaten Garut, Jawa Barat (Ex-ante Study of Chili Multiple Production Technology in the Rainy Season: Case Study in Garut District, West Java)

    Full text link
    Teknologi Produksi Lipat Ganda (Proliga) cabai merah merupakan paket teknologi yang terdiri atas beberapa komponen teknologi yang dirangkai sehingga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas cabai merah hingga 20 ton/ha. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi awal mengenai sifat inovasi dan potensi adopsi paket teknologi Proliga cabai merah berdasarkan persepsi petani. Sebuah demplot teknologi Proliga cabai merah dilakukan di Kecamatan Banyuresmi, Kabupten Garut, Jawa Barat. Demplot tersebut melibatkan 30 orang petani partisipatif untuk dapat melihat seluruh komponen teknologi dari awal pesemaian hingga panen. Setelah demplot dipanen, petani selanjutnya ditanya mengenai persepsi mereka terhadap paket teknologi yang diperkenalkan berdasarkan dimensi-dimensi karakteristik inovasi, yaitu: keunggulan relatif, kesesuaian, kerumitan, kemudahan untuk diamati, dan kemudahan untuk diuji coba. Selain itu juga ditanyakan mengenai sejauh mana potensi adopsi dari masing-masing komponen teknologi oleh petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memberikan jawaban positif terhadap komponen-komponen teknologi yang diperkenalkan berdasarkan lima dimensi karakteristik inovasi. Meskipun terdapat responden yang memiliki sikap negatif terutama pada dimensi kesesuaian, secara keseluruhan komponen-komponen teknologi yang diperkenalkan memiliki karakteristik inovasi yang tinggi dan sangat tinggi. Mayoritas petani menyatakan sikap yang positif terhadap potensi adopsi paket teknologi Proliga cabai merah.KeywordsCabai merah; Produksi lipat ganda; Sifat inovasi; Persepsi petaniAbstractMultiple Production Technology (Proliga) of chili is a technology package consisting of several technological components so that it can increase the productivity of chili up to 20 tons/ha. This study aims to conduct an initial survey of the characteristics of innovation and the potential for adoption of the chili’s Proliga technology package. A demonstration plot for chili’s Proliga technology was conducted in Banyuresmi Subdistrict, at Garut District, West Java. The demonstration plot involved 30 participatory farmers in being able to see all technological components from the beginning of the nursery until harvested. After the demonstration plot is completed, farmers will be asked about their perceptions of the technological package introduced based on the dimensions of innovation characteristics, such as relative advantage, suitability, complexity, easiness to observe, and trialability. It was also asked about the extent of the potential adoption of each component of technology by farmers. The results showed that the majority of respondents gave definite answers to the components of technology that were introduced based on the five dimensions of innovation characteristics, although there were still many respondents who had negative attitudes especially in the dimensions of suitability. Overall the technology components introduced have high and very high innovation characteristics. The majority of farmers expressed a positive attitude towards the potential adoption of the chili’s Proliga technology package

    Pengaruh Aplikasi Pupuk Mikotricho pada Budidaya Bawang Merah dengan Pengurangan Dosis Pupuk N-P-K (The Effect of Mikotricho Fertilizer Application on Shallots Cultivation by Reducing the N-P-K Dose)

    Full text link
    Bawang merah termasuk sayuran bumbu yang dibutuhkan oleh masyarakat dan harganya bersifat fluktuatif sehingga diperlukan kecukupan produksi untuk mendukung kestabilan harga. Kecukupan produksi dapat tercapai melalui pemanfaatan lahan marjinal seperti Ultisol yang masih luas dan perbaikan teknik budidaya, di antaranya melalui aplikasi pupuk Mikotricho. Tujuan penelitian adalah mengkaji pupuk Mikotricho dengan pengurangan dosis N-P-K terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian berupa percobaan lapang di lahan Ultisol menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama, dosis pupuk Mikotricho, yaitu 10 g, 30 g, dan 50 g/tanaman, faktor kedua, pengurangan dosis N-P-K berupa Urea, SP-36, KCl, dan ZA, yaitu 0, 25%, dan 50% dari rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan, aplikasi pupuk Mikotricho meningkatkan jumlah daun (11,4%) dan bobot tanaman segar (49,1%) bawang merah secara linier positif dengan dosis terbaik 50 g/tanaman. Hasil umbi/rumpun dan per petak efektif (0,64 m2) dosis pupuk Mikotricho, 10 g, 30 g, dan 50 g/tanaman tidak berbeda. Pengurangan dosis N-P-K dari rekomendasi berpengaruh terhadap jumlah anakan dan bobot segar tanaman bawang merah dengan efek linier negatif, namun pengurangan 25% dosis N-P-K dapat dipilih. Pengaruh interaksi pupuk Mikotricho dengan pengurangan dosis N-P-K terjadi pada kehijauan daun dan luas daun. Pemberian pupuk Mikotricho dosis 10 g hingga 30 g/tanaman dengan pengurangan dosis N-P-K 25% hingga 50% dari rekomendasi meningkatkan kehijauan daun dan luas daun bawang merah. Implikasi dari penelitian ini adalah diperlukan sosialisasi pemanfaatan pupuk Mikotricho pada budidaya tanaman bawang merah atau tanaman sayuran lain untuk mengurangi pemakaian pupuk sintetik dan perlu dukungan industri pembuatan pupuk Mikotricho.KeywordsMikoriza; Trichoderma; N-P-K; Bawang merah; Lahan marginalAbstractShallots are a spice vegetable needed by the community. Adequacy of production can be achieved through the use of Ultisols with application of Mikotricho fertilizer. The aim of this research was to study the Mikotricho fertilizer with a reduced dose of N-P-K on growth and yield of shallots. The research was a factorial RCBD with three replications. The first factor, namely 10 g, 30 g, and 50 g/plant Mikotricho fertilizer dose, the second factor, namely 0, 25%, 50% N-P-K reduction of the recommendation.The results showed that Mikotricho fertilizer increased the number of leaves (11.4%) and fresh plant weight (49.1%) of shallots, the best dose of 50 g/plant. The yield bulbs/clump and per plot (0.64 m2) 10 g, 30 g, and 50 g Mikotricho fertilizer were not different. The 25% reduction in the N-P-K can be chosen to the number of tillers and fresh weight of shallots plants. Apply of Mikotricho fertilizer 10 g until 30 g/plant with a reduction in the N-P-K of 25% until 50% increases leaf greenish and leaf area. The implication was that socialization of Mikotricho fertilizer in cultivation of shallots or other vegetable crops to reduce the use of synthetic fertilizers and needs the support of the Mikotricho fertilizer manufacturing industry

    Lubang Resapan Biopori untuk Meningkatkan Kapasitas Penyimpanan Air di Daerah Perakaran Jeruk Keprok (Citrus reticulata)

    Full text link
    [Biopore Infiltration Holes to Increase Water Holding Capacity in Rhizosphere of Mandarin (Citrus reticulata)]Lubang Resapan Biopori (LRB) dan penambahan bahan organik ke dalam LRB dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah pada jangka panjang. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh jumlah LRB dan jenis bahan organik pengisi LRB terhadap kapasitas penyimpanan air di daerah perakaran tanaman jeruk keprok dewasa di lahan kering dan pengaruhnya terhadap kualitas buah. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok dengan faktor yang diujikan adalah kombinasi jumlah LRB dan bahan pengisi LRB. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan jumlah LRB, baik 4, 5, maupun 6 lubang dan bahan pengisi baik cocopeat maupun zeolit meningkatkan lengas tanah di daerah perakaran tanaman jeruk pada bulan kering. Penambahan cocopeat, zeolit, atau pupuk kandang ke dalam LRB meningkatkan kandungan jus. Perlakuan bahan pengisi serasah pada LRB dan tanpa LRB meningkatkan kandungan padatan terlarut total (PTT), sedangkan penambahan zeolit dan serasah serta perlakuan tanpa LRB meningkatkan kandungan asam tertitrasi total (ATT). Kadar air pada daerah perakaran yang tinggi menyebabkan peningkatan kandungan jus, serta penurunan kandungan PTT dan ATT pada buah jeruk keprok. Pembuatan LRB pada awal musim hujan dapat dilakukan sebagai upaya menabung air hujan sehingga dapat menghindarkan tanaman dari pengaruh negatif defisit air pada musim kering.KeywordsAir; Buah jeruk keprok; Kualitas; Lubang resapan biopori; Rizosfer AbstractBiopore Infiltration Holes (BIH) and addition of organic matters to the BIH can improve the physical, chemical, and biological properties of the soil. The purpose of this study was to study the effect of BIH and type of BIH filler on water storage capacity in the rhizosphere of mature mandarin plants on dry land and their effect on fruit quality. The study employed a randomized block design with the tested factors of combination of BIH number and BIH filler material. The results showed that either 4, 5 or 6 holes BIH and fillers of both cocopeat and zeolite increased the soil water content in the rhizosphere in the dry months. Adding cocopeat, zeolite, or manure into BIH increased the juice content. Weeds as fillers and treatment without BIH increased the total soluble solids (TSS), while addition of zeolite and weeds and treatment without BIH increased the total acid (TA). High water content in the rhizosphere caused an increase in juice content, but a decrease in TSS and TA. Making BIH at the beginning of rainy season is an effort to save rainwater so that it can prevent plants from the negative influence of water deficit in the dry season

    Pengaruh Indeks Panen Terhadap Umur Simpan dan Mutu Buah Naga (Hylocereus polyrhizus) Selama Penyimpanan [Effect of Harvest Index on Shelf-Life and Quality of Dragon Fruit (Hylocereus polyrhizus) During Storage]

    Full text link
    Pengembangan buah naga (Hylocereus polyrhizus) masih mengalami kendala dalam aspek pascapanen, seperti rendahnya mutu buah di pasaran dan pendeknya umur simpan. Indeks panen yang tepat diharapkan dapat meningkatkan mutu buah naga di pasaran dan memperpanjang umur simpan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh indeks panen terhadap mutu dan umur simpan buah naga selama penyimpanan. Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai dengan November 2015 di Laboratorium Kimia dan Pascapanen Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika), Solok, Sumatra Barat. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan, yaitu indeks I=kulit buah hijau  90–99% dan merah 1–10% (hijau semburat merah) jumbai hijau, indeks II=kulit buah hijau 60–89% dan merah 11–40% (hijau>merah) jumbai hijau, indeks III=kulit buah hijau 11–40% dan merah 60–89% (hijau<merah) jumbai hijau, indeks IV=kulit buah hijau 0–10% dan merah 90–100% (merah terang) jumbai hijau, dan indeks V=kulit buah merah gelap jumbai hijau, dan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan indeks panen berpengaruh nyata terhadap warna kulit buah, kesegaran, padatan terlarut total, asam tertitrasi total, dan susut bobot. Perlakuan indeks panen yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap mutu dan umur simpan buah naga. Perlakuan yang menghasilkan mutu  terbaik selama buah disimpan adalah buah naga yang dipanen pada indeks III. Perlakuan terbaik yang menghasilkan umur simpan terlama adalah buah naga yang dipanen pada indeks II, yaitu 8 hari setelah panen. KeywordsIndeks panen; Mutu; Umur simpan; Buah nagaAbstractThe development of dragon fruit is still encountered some constraints in postharvest aspects i.e. low quality in the market and short self-life. The suitable harvest index is intended to improve quality and prolong the shelf-life of dragon fruit. The aim of the research was to determine the effect of harvest index on quality and shelf-life of dragon fruits during storage. The research was conducted from September to November 2015 at Chemistry and Postharvest Laboratory of Indonesian Tropical Fruits Research Institute (ITFRI), Solok. The study was used completely randomized design with five treatments were index I=peel color are green 90–99% and red 1–10% (green tinge of red), II=peel color are green 60–89% and red 11–40% (green>red), III=peel color are green 11–40% and red 60–89% (green<red), IV=peel color are green 1–10% and red=90–100% (light red), and V=peel color  is dark red with green scaled all of treatments, and five replications. The results showed that harvest index effected in peel color, freshness, total soluble solid, total titrable acidity, and weight loss. The treatment which produces the best quality during storage was  index III. The best treatment that prolongs the shelf-lfe of dragon fruit during storage was index II i.e. 8 day after harvesting.

    Potensi Insektisida Nabati dalam Mengendalikan Aphis gossypii pada Tanaman Gerbera dan Kompatibilitasnya dengan Predator Menochilus sexmaculatus

    Full text link
    (The Potential of Botanical Insecticides to Control of Aphis gossypii on Gerbera and its Compatibility with Menochilus sexmaculatus)Kutu daun Aphis gossypii diketahui dapat menghambat peningkatan produksi gerbera. Upaya pengendalian hama ini masih mengandalkan penggunaan insektisida sintetik. Namun, pada beberapa kasus, praktik pengendalian hama tersebut seringkali kurang efektif. Insektisida nabati merupakan salah satu teknik pengendalian ramah lingkungan yang dapat mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan menguji keefektifan formulasi insektisida nabati ekstrak daun suren (Toona sinensis) dan bunga piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) dalam pengendalian A. gossypii pada tanaman gerbera serta kompatibilitasnya dengan Menochilus sexmaculatus. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Februari sampai November 2017. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 12 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan ekstrak bunga piretrum dan daun suren serta campuran keduanya (Formula I, Formula II, Formula III) diuji keefektifannya terhadap nimfa A. gossypii pada tanaman gerbera koleksi plasma nutfah nomor 01200002. Pengujian dilakukan pada dua taraf konsentrasi 0,35% dan 0,40% (w/v) dengan metode semprot serangga dan residu pada daun. Uji kompatibilitas insektisida nabati terhadap M. sexmaculatus dilakukan dengan metode semprot serangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan insektisida nabati memiliki aktivitas insektisida, namun hanya perlakuan konsentrasi 0,40% yang menunjukkan persentase kematian tertinggi hama target. Penyemprotan langsung insektisida nabati pada nimfa A. gossypii lebih efektif dibandingkan dengan residu pada daun gerbera. Perlakuan Formula III 0,40% menunjukkan mortalitas tertinggi, dan keefektifannya setara dengan imidakloprid dalam mengendalikan kutu daun di rumah kaca. Ekstrak insektisida nabati uji kompatibel dengan M. sexmaculatus, sementara imidakloprid bersifat toksik terhadap keduanya. Dengan demikian, penggunaan imidakloprid untuk pengendalian kutu daun pada tanaman gerbera perlu dibatasi.KeywordsGerbera jamesonii; Aphis gossypii; Chrysanthemum cinerariaefolium; Toona sinensis; Predator CoccinellidaeAbstractAphis gossypii is known as one of the most damaging aphid species in gerbera production. The botanical insecticide is one of the environmentally-friendly control techniques to overcome this pest. The objective of research was to examine the effectiveness of the botanical insecticide from Toona sinensis leaf and pyrethrum flowers extract to control gerbera aphids and its compatibility with Menochilus sexmaculatus. The research was conducted at Segunung Research Station from February to November 2017, using a Randomized Completed Design with 12 treatments and three replications. Extract of Toona leaf, and pyrethrum flowers, and mixture of both (Formula I, Formula II, Formula III) were tested for its effectiveness against A. gossypii nymphs on gerbera. Testing was arranged at two concentration levels of 0.35% and 0.40% (w/v) by insect spraying and leaf residual methods. The compatibility test against M. sexmaculatus was worked by using the insect spraying method. The results showed that all botanical insecticide had insecticidal activity, but only a concentration of 0.40% showed the highest target pests mortality. Direct spraying of A. gossypii is more effective than residue on the leaf. The Formula III 0.40% showed the highest mortality and equal to imidacloprid for controlling aphids in greenhouses. The botanical insecticide extract was compatible with M. sexmaculatus, while imidacloprid was toxic them both

    Front Matter

    No full text

    Kajian Jumlah Populasi dan Varietas Terhadap Produksi dan Keuntungan Usahatani Bawang Merah di Sumatra Utara (Assessment of Population and Varieties Toward Production and Revenue of Shallot Farming in North Sumatra)

    Full text link
    Produktivitas bawang merah di Sumatra Utara saat ini lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas nasional. Terkait hal tersebut, perlu peningkatan produksi melalui perbaikan teknik budidaya bawang merah. Perbaikan teknik budidaya diawali dengan melakukan pemillihan varietas yang adaptif pada tingkat populasi tinggi di antaranya, yaitu Maja, Bima Brebes dan Mentes. Penelitian ini bertujuan mengetahui teknologi peningkatan produksi dan keuntungan usaha tani bawang merah di Sumatra Utara. Lokasi kegiatan dilaksanakan pada lahan petani dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl., yang terletak di Desa Pancur Batu, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatra Utara pada musim kemarau, bulan Mei hingga Juli 2017. Penelitian ini merupakan super impose dari kegiatan pendampingan pengembangan kawasan Hortikultura di Sumatra Utara. Metode penelitian menggunakan rancangan petak terpisah. Petak utama adalah populasi dan anak petak, yaitu varietas. Perlakuan populasi, yaitu: (a) 175.000 (umum dipakai), (b) 233.333, (c) 311.111, dan (d) 466.667 rumpun/ha. Perlakuan varietas, yaitu varietas Maja, Bima Brebes, dan Mentes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan varietas tidak berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah. Nilai B/C tertinggi diperoleh dari perlakuan populasi 233.333 rumpun/ha, yaitu 2,08, sedangkan B/C populasi umum (175.000 rumpun/ha) adalah 1,46. Untuk mendapatkan keuntungan paling tinggi secara ekonomi dan layak secara teknis pada budidaya bawang merah tujuan umbi konsumsi, direkomendasikan agar menanam dengan populasi 233.333 rumpun per ha dengan pilihan varietas Maja, Bima Brebes atau Mentes.KeywordsBawang merah; Keuntungan; Populasi; Produksi; VarietasAbstract The productivity of shallots in North Sumatra is currently lower than the national productivity. Related to this, it is necessary to increase production through improved shallots cultivation techniques. Improvement of cultivation techniques begins with the selection of adaptive varieties of shallots at high population level including Maja, Bima Brebes, and Mentes varieties. This study aims to determine the technology to increase production and profits of shallot farming in North Sumatra. The location of the activity was carried out on farmers’ land with a hight of 1,340 m.asl, located in Pancur Batu Village, Merek Subdistrict, Karo District, North Sumatra on dry season, may until july 2017. This research was a super impose of the activities of supporting the development of the horticultural area in North Sumatra. The research method used a split plot design. The main plot were population treatments and subplots, namely variety. Population treatments were : (a) 175,000 (commonly used), (b) 233,333, (c) 311,111, and (d) 466,667 clumps /ha; variety treatments were Maja, Bima Brebes, and Mentes. The results showed differences in varieties did not significantly affect to shallot production. The highest of B/C value was obtained by the treatment of the population of 233,333 clumps/ha was 2.08 while the B/C of the general population (175,000 clumps/ha) was 1.46. To get the highest profit economically and technically feasible in the consumption of shallot for tuber consumption, it is recommended that planting with a population of 233,333 clumps per ha with a choice among of Maja, Bima Brebes or Mentes varieties

    Pengaruh Magnesium, Boron, dan Pupuk Hayati terhadap Produktivitas Cabai serta Serangan Hama dan Penyakit (Effect of Magnesium, Boron, and Biofertilizers on Chili Pepper Productivity and Impact of Pests and Diseases)

    Full text link
    Penggunaan pupuk hayati dan unsur hara makro sekunder seperti magnesium (Mg) dan hara mikro boron (B) diketahui dapat meningkatkan pertumbuhan, kualitas hasil tanaman, meningkatkan unsur hara dalam tanah serta mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Selain itu penggunaan pupuk tersebut dapat mengurangi kebutuhan terhadap pupuk kimia sintetis. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh aplikasi Mg, B, dan kombinasinya dengan pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil panen serta penekanan serangan hama dan penyakit. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Jawa Barat (1.250 m dpl.) dari bulan Juni 2018 sampai bulan Februari 2019. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok terdiri atas delapan perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang diuji adalah aplikasi Mg, B, dan kombinasi dengan pupuk hayati serta teknologi konvensional sebagai pembanding. Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman dan luas kanopi), komponen hasil dan hasil serta serangan hama dan penyakit penting yang menyerang tanaman cabai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi Mg, B, dan pupuk hayati yang diaplikasikan sebanyak dua kali pada umur 30 HST dan 45 HST mampu meningkatkan produktivitas cabai sebesar 21,68 ton/ha atau meningkat sebesar 54,53% dibandingkan dengan kontrol. Peningkatan produktivitas cabai terjadi karena adanya perbaikan dalam komponen hasil seperti jumlah bunga, jumlah buah, panjang, dan bobot buah serta adanya penekanan terhadap serangan hama dan penyakit seperti trips, antraknosa, lalat buah, dan penggerek buah sebesar 18,10% sampai 23,93%.KeywordsCapsicum annuum; Unsur hara makro; Pupuk hayati; Produktivitas; Organisme pengganggu tumbuhanAbstractThe use of biofertilizer and macro and micro nutrients enhanced the growth and development, yield quality of vegetable crops as well as nutrient status of soil to a greater extent and to increased on pests and diseases resistance. Organic sources of nutrients including biofertilizers also economize the use of chemical fertilizers. The objectives of this study were to determine the best combination of Mg, B, and biofertilizer that increase the growth and yield of chili pepper and the impact to pest and diseases on chili pepper. The field experiment was conducted at the experimental field of the Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, West Java from June 2018 to February 2019. The experiment was arranged in a Randomized Block Design with eight treatments and four replicated. The treatments were Mg, B, and their combinations with biofertilizer compared to the conventional technologies as a control. The observations were carried out on the growth parameters (plant height and leaf canopy), yield components, pest and diseases of chili pepper. The results showed that the combinations of Mg, B, and biofertilizer increased the yield of chili up to 21.68 ton/ha or positive interaction beside beneficial agent with Mg, B, and biofertilizer package on 54.53%. Increased productivity of chili occurs because of improvements in yield components such as the number of flowers, number of fruits, fruit length and fruit weight and reduction of pest and disease attacks such as thrips, anthracnose, fruit flies and, fruit borers by 18.10% to 23.93%

    Aplikasi Berbagai Konsentrasi Giberelin (GA3) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kailan (Brassica oleracea L.) pada Sistem Budidaya Hidroponik

    Full text link
    [Application of Various Concentrations of Gibberellin (GA3) on Kailan (Brassica oleracea L.) Growth with Hydroponic Cultivation System]Giberelin adalah zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman, termasuk pada tanaman kailan yang banyak dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh giberelin dan konsentrasinya yang optimal terhadap pertumbuhan tanaman kailan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret - Mei 2019 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi, Universitas Bangka Belitung. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan giberelin konsentrasi (0 ppm, 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, 80 ppm, dan 100 ppm) diulang empat kali. Pemberian giberelin dilakukan dengan cara perendaman benih sebelum tanam dan dilakukan penyemprotan pada tanaman kailan yang dilakukan dua kali dalam seminggu, dimulai 7 hari setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan giberelin dengan konsentrasi 100 ppm memberikan hasil yang tinggi pada tinggi tanaman, diameter batang, luas daun, bobot segar tajuk, dan bobot kering tajuk, dengan persentase kenaikan produksi sebesar 50% dibandingkan kontrol.KeywordsKailan; Giberelin; HidroponikAbstractGibberellin are plant growth regulators that are widely used to stimulate plants growth and development, including widely consumed Brassica oleracea L. plants. The aims of study to determine the effect of gibberellin and its concentration on growth. The research was conducted in March until May 2019 at experimental garden of the Faculty of Agriculture, Fisheries and Biology, Bangka Belitung University. The experimental design used was a Completely Randomized Design (CRD) with the treatment were concentrations of gibberellin (0 ppm, 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, 80 ppm, and 100 ppm) with four replication. Gibberelin applied by soaking the seeds before planting and spraying the plants twice a week starting 7 days after planting. The results showed that the application of 100 ppm gibberellins gives the best results on plant height, stem diameter, leaf area, canopy fresh weight, and canopy dry weight, with a percentage increase in production by 50% compared to control

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇