Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Pengembangan Marka SNAP Berbasis Resistance Gene Analogue Pada Tanaman Pisang (Musa spp.)

    Full text link
    Pengembangan kultivar pisang tahan penyakit secara konvensional menghadapi kendala utama, yaitu lamanya waktu yang diperlukan untuk seleksi dan evaluasi tanaman hasil persilangan. Oleh karena itu dilakukan pendekatan bioteknologi melalui pengembangan marka molekuler untuk mempercepat capaian program pemuliaan. Tujuan penelitian ialah mengembangkan marka SNAP untuk seleksi ketahanan tanaman pisang terhadap penyakit berdasarkan substitusi basa nukleotida atau single nucleotide polymorphism (SNP) pada fragmen resistance gene analogue (RGA) asal tanaman pisang (MNBS). Kegiatan penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Molekular Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, mulai Bulan Juli sampai November 2012. Penelitian menggunakan sembilan sekuen MNBS yang terdeposit pada bank data NCBI untuk mendisain primer SNAP yang diperlukan. Dari 30 posisi SNP yang ada pada fragmen MNBS, terdapat 19 posisi SNP yang menyebabkan perubahan asam amino yang disandikan. Delapan posisi SNP di antaranya dapat digunakan untuk pengembangan marka SNAP. Dengan menggunakan perangkat lunak WebSNAPER, primer SNAP berhasil didisain dari delapan posisi SNP. Namun satu posisi SNP menghasilkan seperangkat primer yang tidak layak pakai. Dari 64 alternatif primer SNAP yang dihasilkan berhasil dipilih 14 pasang primer SNAP. Sepuluh dari 14 pasang primer terpilih, dihasilkan dari posisi SNP1, SNP2, SNP4, SNP5, dan SNP6. Sepuluh pasang primer SNAP terpilih juga telah diuji dan berhasil mengamplifikasi marka SNAP menggunakan DNA genom pisang cv. Klutuk Wulung dan Barangan. Sepuluh pasang primer SNAP tersebut berpotensi untuk digunakan sebagai marka ketahanan terhadap penyakit padatanaman pisang secara umum

    Aplikasi Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan Strangulasi untuk Induksi Pembungaan di Luar Musim Pada Tanaman Jeruk Keprok (Citrus reticulata)

    Full text link
    Paclobutrazol sebagai zat penghambat biosintesis giberelin selama ini telah digunakan secara luas untuk mengatur produksi di luar musim beberapa buah tropika, namun zat ini meninggalkan residu yang panjang. Prohexadion-Ca adalah zat penghambat biosintesis giberelin yang dalam penggunaannya tidak meninggalkan residu, namun belum pernah diuji efektifitasnya dalam mengatur produksi buah di luar musim. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mendapatkan teknologi produksi buah jeruk di luar musim tanpa meninggalkan residu dalam tanah. Penelitian menggunakan rancangan blok terpisah (split block design). Penelitian berlangsung dari bulan November 2012 sampai Mei 2013. Hasil penelitian menunjukan perlakuan Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan strangulasi dapat mempercepat pembungaan dan meningkatkan jumlah bunga dan buah tanaman jeruk keprok. Perlakuan Prohexadion-Ca dapat mempercepat mulainya muncul bunga  dibandingkan dengan perlakuan Paclobutrazol dan dapat meningkatkan jumlah bunga dan buah sama dengan Paclobutrazol. Penggunaan Prohexadion-Ca dapat dijadikan sebagai teknologi untuk memproduksi buah jeruk di luar musim tanpa meninggalkan residu dalam tanaman

    Karakteristik Mutu dan Ketahanan Simpan Bunga Potong Sedap Malam di Sentra Produksi

    Full text link
    Sampai saat ini mutu bunga sedap malam (Polianthes tuberose L.) yang diproduksi oleh petani kecil belum dapat memenuhi mutu sesuai kebutuhan pasar. Penurunan mutu bunga sedap malam diduga berkaitan dengan kurangnya keseragaman diameter tangkai bunga, bentuk tangkai bunga, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi mengenai karakteristik mutu bunga potong sedap malam komersial di sentra-sentra produksi. Mutu bunga sedap malam sangat ditentukan oleh ukuran tangkai bunga dan kesegaran bunga. Penelitian dilakukan sejak bulan Juli 2006 sampai  dengan Februari 2007. Sampel bunga potong sedap malam dipanen dari daerah Cianjur (Jawa Barat), Bandungan (Jawa Tengah), dan Pasuruan (Jawa Timur) masing-masing sebanyak 100 tangkai untuk diamati karakteristik fisiknya, yaitu panjang tangkai bunga, diameter bunga, panjang bunga, warna, dan kesegaran bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bunga potong sedap malam dari daerah Jawa Timur adalah tipe bunga tunggal dengan jumlah bunga per malai 49,1 ± 8,2, stadia kemekaran bunga 1,6±0,5, dan diameter tangkai bunga 10,8±1,5 cm. Aroma bunga sangat tajam, dengan penampilan lebih ramping dibanding bunga potong sedap malam asal Jawa Barat dan Jawa Tengah. Informasi mengenai mutu bunga potong sedap malam  sangat bermanfaat bagi pedagang atau eksportir untuk mendapatkan produk yang diinginkan pasar atau konsumen.Quality of tuberose cut flowers which are produced by small farmers until now has not enough to fulfil market demand. The decrease of tuberose cut flower quality is believed to be related to unavailability of stalk diameter and other flower characteristics. The aim of the study was to determine quality characteristics of fresh tuberose cut flowers harvested from  farmer field  in production centers. Tuberose cut flowers quality is mainly affected by the flowers size and freshness. The research was conducted from July 2006 to February 2007. Tuberose cut flower were freshly harvested at farmer  field in Cianjur (West Java), Bandungan (Central Java), and Pasuruan (East Java), 100 samples collected from each district. The cut flower samples were observed and evaluated for physical appearance i.e. length of flower stalk, diameter, color, and freshness. The results showed that the tuberose cut flower from East Java was a single type with flower number 49.1 ± 8.2, the number of opening flower 1.6 ± 0.5, stem diameter 10.8 ± 1.5 cm. The aroma of the flowers was very keen compared to slimmer appearance of delicate tuberose cut flowers from West Java and Central Java. The information of tuberose cut flowers characteristics will benefit to saler or exporters to obtain the product that demanded by market and consumers

    Inventarisasi dan Identifikasi Patogen Tular-tanah pada Pertanaman Kentang di Kabupaten Purbalingga

    Full text link
    atogen tular-tanah di lahan kentang merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap pertumbuhan, produksi, dan kualitas hasil tanaman. Inventarisasi dan identifikasi patogen tular-tanah di lahan kentang dengan metode purposive sampling telah dilakukan di Kabupaten Purbalingga, yang meliputi Dusun Gunung Malang di Desa Serang dan Dusun Bambangan dan Kutabawa di Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja dari bulan November 2008 sampai Januari 2009. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis dan virulensi patogen tular-tanah di lahan kentang di lokasi tersebut. Isolasi dan uji virulensi dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Peubah yang diamati yaitu karakter morfologi mikrobe patogen, kepadatan di dalam tanah, dan reaksi hipersensitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh spesies patogen ditemukan di lahan kentang, yaitu Fusarium oxysporum, F. solani, Ralstonia solanacearum, Curvularia sp., Phytophthora infestans, Helminthosporium purpureum, dan Pseudomonas kelompok berpendar. Populasi mikrobe di lahan kentang yang paling dominan ialah R. solanacearum, yaitu 71,6%, disusul oleh F. oxysporum sebesar 16,87%. Sebaran mikrobe di masing-masing lahan kentang berbeda. Semua lahan kentang di Kabupaten Purbalingga sudah terkontaminasi patogen tular-tanah penting sehingga perlu disehatkan kembali secara hayati.Soilborne plant pathogens in potato land are one of important factors influencing plant growth, production and yield quality. Inventarization and identification of soilborne diseases using purposive sampling method  were conducted at potato land in Purbalingga Regency consisted of Guning Malang location at Serang Village and Bambangan and Kutabawa locations at Kutabawa Village, Karangreja District from November 2008 to January 2009.  The study aimed to determine type and virulence of soilborne pathogens at the locations.  Isolation and virulence test were carried out at the Laboratory of Microbiology, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. Variable observed in the research was morphological characteristics of pathogenic microbes, their density in soils, and response of hypersensitive test. Result of the research showed that seven pathogenic species were found at the land, i.e., Fusarium oxysporum, F. solani, Ralstonia solanacearum, Curvularia sp., Phytophthora infestans, Helminthosporium purpureum, and fluorescent Pseudomonad. The dominant microbe population in potato land was R. solanacearum with 71.6% followed by F. oxysporum with 16.87%. The microbes were spread differently in every potato land. All potato lands in Purbalingga Regency have been contaminated by the important potato pathogens so that soil bioremediation is needed

    Model Statistik dalam Menentukan Status Hara Nitrogen sebagai Pedoman Rekomendasi Pupuk pada Tanaman Manggis

    Full text link
    Penelitian bertujuan mendapatkan model regresi yang sesuai untuk menentukan status hara nitrogen pada tanaman manggis, sehingga status hara nitrogen dapat diinterpretasikan. Penelitian dilakukan di Kebun Manggis Kampung Cengal, Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat mulai April 2005 sampai dengan April 2007. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dan lima ulangan. Perlakuan yang di uji ialah lima taraf dosis pupuk N yaitu 0, 300, 600, 900, dan 1.200 g/tanaman/tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model regresi yang terbaik antara konsentrasi N pada daun umur 5 bulan dan produksi ialah kuadratik. Berdasarkan model kuadratik tersebut diketahui bahwa konsentrasi N daun berstatus sangat rendah (<99%), rendah (0,99-<1,35%), sedang (1,35-<2,10%), dan tinggi (>2,10%). Untuk menaikkan konsentrasi N daun dari status sangat rendah menjadi sedang membutuhkan pupuk N sebesar 3.017-7.017 g/tanaman/tahun pada tahun pertama. Untuk tahun kedua, N yang diperlukan sekitar 2.032-4.698 g/tanaman/tahun. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam menyusun rekomendasi pemupukan untuk tanaman manggis.The objectives of this study was to determine an ideal regression model for estimating nitrogen status on mangosteen plants, so that the nitogen status in mangosteen leaf tissue can be interpreted. The research was conducted at a mangosteen orchard at Cengal Kampong, Karacak Village, Leuwiliang Subdistrict, Bogor District, West Java in April 2005 till April 2007.  A completely randomized block design was used with five treatments levels of N fertilizer dosages and six replications. The dosages levels of N tested were 0, 300, 600, 900, and 1,200 g/plant/year. The results showed that the best regression model for describing the relation between concentration of N on mangosteen leaf of  5 months age and plant production was the quadratic model. According to this model, the nitrogen status in leaf tissues was very low (<0.99%), low (0.99 to <1.35%), medium (1.35 to <2.10%), and high (>2.10%). To increase the concentration of N on mangosteen leaf  from low status to medium ones, it  needed  N fertilizer approximately 3,017 to 7,017 g/plant/year in the first year. For the second year, it required about 2,032 to 4,698 g/plant/year. This results can be used as a guide to estimate fertilizer recommendations for mangosteen

    Pendugaan Keragaman Genetik Beberapa Karakter Pertumbuhan dan Hasil pada 30 Genotipe Tomat Lokal

    Full text link
    Tomat (Lycopersicum esculantum) merupakan jenis sayuran yang terus berkembang menjadi komoditas penting di dunia termasuk Indonesia. Permintaan yang terus meningkat secara kuantitas dan kualitas menuntut ketersediaan varietas unggul tomat. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi keragaman genetik beberapa karakter pertumbuhan dan karakter produksi 30 genotipe tomat lokal. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Agustus 2013 di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB, menggunakan 30 genotipe tomat lokal hasil eksplorasi dari berbagai provinsi di Indonesia, yaitu Aceh, Riau, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur,Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua. Penelitian disusun berdasarkan rancangan kelompok lengkap teracak dengan tiga ulangan. Tiap unit percobaan terdiri dari 20 tanaman. Penanaman di lapangan dilakukan dalam bedeng berukuran 1 m x 6 m dengan jarak tanam 50 cm x 60 cm. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa genotipe berpengaruh sangat nyata terhadap karakter tinggi tanaman, jumlah daun, persentase tanaman hidup, jumlah buah total, bobot buah per tanaman, dan persentase pecah buah. Karakter-karakter yang diuji memiliki keragaman genetik yang luas sehingga efektif dilakukan seleksi. Seleksi terhadap karakter bobot buah dapat dilakukan pada generasi awal karena memiliki nilai heritabilitas yang tinggi. Genotipe Aceh5, KEF9,LOM4, MER2, dan PAPUA memiliki potensi hasil yang tinggi. Genotipe KEF12, KEF6, dan MAK1 toleran terhadap pecah buah

    Karakterisasi Morfologi dan Evaluasi Daya Hasil Sayuran Polong Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC)

    Full text link
    ABSTRAK. Tanaman kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC) memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai jenis sayuran polong. Selama ini, budidaya tanaman kecipir dilakukan secara tradisional sehingga informasi mengenai produksi dan keunggulannya masih sangat terbatas. Balai Penelitian Tanaman Sayuran memiliki koleksi kecipir yang memperlihatkan keragaman morfologi maupun produksi polongnya. Tujuan penelitian adalah memperoleh data karakterisasi tujuh nomor kecipir dan mendapatkan sedikitnya satu nomor kecipir yang berdaya hasil tinggi. Penelitian dilakukan dari bulan Mei sampai Oktober 2013 di Kebun Percobaan Margahayu,  Lembang (1.250 m dpl.). Tujuh nomor kecipir ditanam dengan rancangan acak kelompok lengkap, dengan lima ulangan. Karakterisasi dilakukan mengikuti AVRDC GRSU characterization data sheet. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa tujuh nomor kecipir seragam untuk karakter warna batang (hijau), warna daun (hijau), warna kaliks (hijau), warna bunga (ungu), dan bercak pada polong (tidak ada). Keragaman muncul pada karakter bentuk anak daun, bentuk polong, warna polong, dan warna sayap polong. Anak daun berbentuk ovate lanceolate (KCP A), ovate (KCP C dan KCP D), dan deltoid (KCP B, KCP E, KCP F, dan KCP G). Polong KCP C berbentuk semi datar, sedangkan enam nomor lainnya berbentuk rectangular. Produksi polong muda tertinggi dihasilkan oleh KCP C, yaitu jumlah polong per tanaman (62,84), berat polong per tanaman (800,04 g), dan berat polong per plot (7,82 kg). Keunggulan lain KCP C adalah kandungan serat polong mudanya tertinggi dibanding nomor lain, yaitu 2,89%

    Bioefikasi Klon-Klon Kentang Transgenik RB Hasil Silangan terhadap Penyakit Hawar Daun Phytophthora infestans dan 2) Karakter Agronomi di Lapangan Uji Terbatas

    Full text link
    Penyakit hawar daun yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans menyerang lebih dari 50% dari luas area pertanaman kentang di Indonesia dan dapat menyebabkan kehilangan hasil 10–90%. Perakitan tanaman kentang tahan terhadap penyakit hawar daun P. infestans  melalui penyisipan gen RB kemudian disilangkan dengan varietas kentang komersial Atlantic dan Granola telah menghasilkan beberapa klon yang mengandung gen RB. Pengujian di lapangan uji terbatas (LUT) telah dilakukan untuk melihat ekspresi gen RB pada klon-klon turunannya terhadap P. infestans. Selain ekspresi ketahanan terhadap P. infestans,  diamati pula karakter agronominya terutama hasil umbi. Tujuan penelitian adalah untuk melakukan bioefikasi gen RB pada klon-klon kentang transgenik hasil silangan Atlantic atau Granola dengan transgenik Katahdin SP951 terhadap P. infestans, serta mengamati  karakter agronomi. Penelitian dilakukan di Banjarnegara, Jawa Tengah pada ketinggian 1.400 m di atas permukaan laut dari bulan Desember 2013 sampai dengan April 2014. Klon-klon yang diuji terdiri atas empat klon silangan Atlantic x transgenik Katahdin SP951, yaitu klon B35, B163, AKRb 134, dan AKRb 354 serta enam klon silangan Granola dengan transgenik Katahdin SP951, yaitu klon D12, D48, D38, D37, GKRb 181, dan GKRb 401. Atlantic dan Granola digunakan sebagai tetua rentan, sedangkan tetua tahan adalah transgenik Katahdin SP951. Percobaan menggunakan dua perlakuan penyemprotan fungisida, yaitu 2 dan 10 kali. Berdasarkan skor ketahanan dan nilai AUDPC, klon-klon kentang transgenik hasil silangan menunjukkan lebih tahan terhadap P. infestans dibandingkan Atlantic atau Granola, dan tidak berbeda nyata ketahanannya dengan transgenik Katahdin SP951, meskipun dengan penyemprotan fungisida secara minimal, 2 dan 10 kali. Pengamatan tinggi tanaman pada 53 hari setelah tanam (HST) menunjukkan tidak ada beda nyata antara klon-klon kentang transgenik hasil silangan dengan tetua-tetuanya atau masih berada dalam kisaran tinggi tanaman kedua tetuanya. Jumlah batang utama klon-klon kentang transgenik hasil silangan adalah 3,3 – 4,6 berbeda nyata dibandingkan Atlantic atau Granola dengan jumlah batang berkisar 2,6 – 2,9. Diameter batang berkisar antara 0,87 – 0,93 cmtidak berbeda nyata dibandingkan Atlantic, Granola atau transgenik Katahdin SP951. Klon-klon kentang transgenik hasil silangan  menghasilkan berat umbi per plot berkisar 3.210 – 4.489 g dengan dua kali penyemprotan fungisida, sedangkan Atlantic, Granola, dan transgenik Katahdin SP951, masing-masing 1.355 g, 467 g, dan 3.544 g. Pada perlakuan 10 kali penyemprotan fungisida, hasil umbi per plot paling tinggi diperoleh untuk klon AKRb354 (8.401 g) diikuti B35 (6.557 g), B163 (5.333 g), dan AKRb134 (4.666 g), sedangkan Atlantic dan transgenik Katahdin SP951, masing-masing 3.297 dan 6.808 g. Klon D48 dan D37 mempunyai berat umbi per plot sebesar 7.577 g dan 6.653 g, berbeda nyata dengan Granola (2.230 g)

    Pengaruh Densitas Awal Kalus dalam Perbanyakan Melalui Embriogenesis Somatik terhadap Daya Multiplikasi dan Stabilitas Genetik Planlet Siam Kintamani

    Full text link
    Optimasi metode pada setiap tahapan perbanyakan melalui embriogenesis somatik perlu dilakukan, mencakup aspek eksplan, media, dan lingkungan tumbuh.  Tujuan penelitian ialah mengetahui pengaruh kepadatan awal (initial density) kalus dalam kultur embriogenesis somatik terhadap laju multiplikasi dan stabilitas genetik planlet yang dihasilkan dari perbanyakan dengan metode SE pada tanaman siam Kintamani. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium SE, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) mulai Bulan Maret 2009 sampai dengan Februari 2011. Penelitian terdiri atas dua tahap, yaitu (1) perlakuan densitas awal dan (2) analisis stabilitas genetik planlet yang dihasilkan dari perbanyakan SE  siam Kintamani. Kegiatan I terdiri atas lima perlakuan densitas kalus (ID100–ID300), yaitu  100, 150, 200, 250, dan 300 mg yang dikulturkan pada 25 ml media cair MS + 500 mg/l malt ekstrak (ME) + 1,5 mg/l BA, yang disusun dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan, tiap ulangan terdiri atas lima erlenmeyer, sedangkan pada penelitian analisis stabilitas genetik, sampel yang digunakan ialah tanaman hasil perbanyakan SE pada stadia planlet hasil subkultur 1–6. Planlet tersebut diuji keragamannya dengan teknik PCR menggunakan penanda intersimple sequence repeat (ISSR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, jaringan nuselus yang digunakan sebagai eksplan dapat tumbuh dengan memuaskan pada 12–45 hari setelah kultur pada media inisiasi kalus.  Pertambahan berat basah kalus pada setiap subkultur sangat beragam.  Pertambahan berat basah tertinggi terjadi pada ID100 subkultur ke-5, sedangkan pertambahan berat secara total tertinggi ditemukan pada perlakuan ID200. Tanaman hasil perbanyakan SE pada stadia planlet secara genetik seragam dengan induknya. Namun pengujian stabilitas genetik pada tanaman hasil SE masih harus terus dilakukan seiring dengan semakin lama tanaman dipelihara di dalam kultur, mengingat frekuensi mutasi dapat meningkat seiring dengan semakin lamanya periode kultur. Implikasi hasil penelitian ini ialah proses multiplikasi kalus dan induksi embriogenesis somatik berlangsung optimal dan tidak mengakibatkan off-type pada tanaman yang dihasilka

    Induksi Resistensi Tanaman Krisan Terhadap Puccinia horiana P. Henn. Dengan Menggunakan Ekstrak Tanaman Elisitor (Resistance Induction of Chrysanthemum Plant to Puccinia horiana P. Henn Using Elicitor Plant Extracts)

    Full text link
    Penyakit karat putih yang disebabkan oleh Puccinia horiana Henn. merupakan salah satu penyebab masalah yang paling penting pada tanaman krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelev.). Serangan pada tanaman ini dapat menurunkan nilai komersial bunga krisan. Induksi resistensi merupakan salah satu strategi untuk mengendalikan penyakit ini. Beberapa jenis tanaman elisitor terbukti efektif meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan berbagai jenis patogen. Tujuan penelitian adalah memperoleh minimal dua spesies ekstrak tanaman elisitor yang efektif menginduksi ketahanan tanaman krisan terhadap P. horiana, dan mendapatkan informasi kandungan asam salisilat pada tanaman krisan yang terbukti tahan terhadap P. horiana akibat perlakuan ekstrak tanaman elisitor. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias pada Januari hingga Desember 2013. Tujuh tanaman elisitor yang diuji, yaitu daun tanaman ivy (Hedera helix), batang tanaman wilow (Salix sp.), daun bunga pukul empat (Mirabilis jalapa), daun Phytholacca americana (anti viral), daun kecubung (Datura suaveolens), daun pagoda (Clerodendron japonicum), dan daun lengkuas (Alpinia galanga) yang masing-masing diencerkan dengan perbandingan 1 : 1 w/v (100 g bagian bahan tananam digerus menggunakan mortal sampai halus, kemudian ditambah 100 ml larutan 0,01 M fosfat buffer pH 7,0). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak batang Salix sp. dan daun C. japonicum efektif menginduksi ketahanan tanaman krisan terhadap P. horiana dengan persentase penekanan masing-masing mencapai 80,20 dan 75,46%. Kandungan asam salisilat pada tanaman krisan tahan P. horiana yang diinduksi oleh tanaman elisitor, masing-masing bervariasi antara 1.767,55– 3.767,55 ppm. Pemanfaatan hasil penelitian ini dapat meningkatkan daya saing bunga krisan di pasar internasional melalui aplikasi ekstrak tanaman elisitor sehingga ramah lingkungan dan ekonomis.KeywordsDendranthema grandiflora; Efektivitas; Tanaman elisitor; Induksi resistensi; Puccinia horianaAbstractWhite rust disease caused by Puccinia horiana Henn. Is one of the most important problems in chrysanthemum (Dendranthema grandiflora Tzvelev.) cultivation system. Attacks on these plants can reduce the commercial value of the Chrysanthemum flowers. Induction of resistance is one of reliable strategies for controlling the disease. Some types of plants elicitor are proved to be effective to improve plant resistance to various pathogens. The purpose of this study is to obtain at least two species of plant extracts that its effective to induce plant resistance to P. horiana of chrysanthemum, and obtain information on the content of salicylic acid of resistant plant has been induced by application of plant elicitor extract. The research was conducted in the Laboratory and Greenhouse Indonesian Ornamental Crops Research Institute conducted between January until December 2013. Seven elicitor plants that are leaf ivy (Hedera helix), the plant stem willow (Salix sp.). Leaves flowers at four o’clock (Mirabilis jalapa) , leaves Phytholacca americana (anti-viral), cone-shaped leaves (Datura suaveolens), leaf pagoda (Clerodendron japonicum), and leaves galangal (Alpinia galanga), were tested. Each of which is diluted in the ratio 1: 1 w / v (100 g of the material plants crushed using a mortal until smooth, then add 100 ml of 0.01 M phosphate buffer pH 7.0). The results showed that stem extract of Salix sp. and the leaves extract of C. japonicum were effectively induced plant resistance to P. horiana of chrysanthemum with emphasis percentages respectively reached 80.20 and 75.46%. Salicylic acid content in chrysanthemum effectively induced by elicitor plants, each contained varying between 1,767.55 to 3,767.55 ppm. The used of leave extract of both species can improve resistance plant species

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇