Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Identifikasi Molekuler Pohon Induk Beberapa Varietas Durian Asal Jepara Menggunakan Random Amplified Polymorphic DNA

    Full text link
    Jepara dikenal sebagai salah satu sentra buah durian di Jawa Tengah. Di antara varietas durian asal Jepara yang banyak dikenal di pasar buah domestik ialah durian Petruk. Beberapa varietas lokal lain yang terdapat di Jepara yaitu Sutriman, Sukarman, Subandi, dan Sundari. Varietas tersebut secara formal belum dilepas tetapi memiliki potensi sebagai varietas unggul. Penelitian bertujuan memperoleh identitas kelima varietas durian lokal Jepara dan keragaman genetiknya berdasarkan profil sidik RAPD. Penelitian yang dilakukan meliputi koleksi lapangan sampel tanaman durian di Kabupaten Jepara dan Kebun Raya Bogor pada Bulan Maret-April 2009 dan analisis RAPD dilakukan di Laboratorium Genetika Tumbuhan, Pusat Penelitian Biologi-LIPI sejak Bulan Juli 2010-Maret 2011. Tujuh primer RAPD diseleksi dan tiga di antaranya terpilih untuk dianalisis, yaitu OPB-18, OPN-14, dan OPD-20. Ketiga primer ini menghasilkan 22 pita DNA yang dapat diskor, dimana 91,1% di antaranya merupakan pita-pita polimorfik. Beberapa pita merupakan pita spesifik yang merupakan identitas varietas tertentu, yaitu OPB-18 ukuran 1210 bp pada varietas Sutriman, 1200 dan 1300 bp pada varietas Subandi, 450 bp dijumpai pada varietas Petruk, dan OPN-14 ukuran 1200 bp pada varietas Sukarman. Profil RAPD ini kemudian digunakan untuk menganalisis sistem pengelompokan menggunakan metode UPGMA. Nilai kesamaan genetik berkisar antara 49−73% yang menunjukkan tingginya kesamaan genetik antarvarietas yang diuji, sehingga mengindikasikan rendahnya keragaman genetik di antara aksesi durian tersebut

    Teknik Pemberian Benzilaminopurin dan Pemupukan NPK untuk Meningkatkan Produksi dan Mutu Benih 2) 1) True Shallot Seed di Dataran Rendah

    Full text link
    Produksi true shallot seed (TSS) di dataran rendah potensial dikembangkan karena ada indikasi pembentukan biji lebih bernas daripada di dataran tinggi. Aplikasi benzilaminopurin (BAP) 50 ppm melalui teknik penyiraman tiga kali dapat meningkatkan pembungaan dan viabilitas serbuk sari bawang merah di dataran rendah. Teknik aplikasi BAP dengan cara perendaman umbi bibit perlu diteliti untuk mengetahui efisiensi penggunaan BAP. Sementara itu pemupukan NPK yang tepat diharapkan dapat memperbaiki produksi TSS di dataran rendah. Tujuan penelitian menentukan teknik pemberian BAP dan pemupukan NPK yang efektif untuk meningkatkan produksi dan mutu benih TSS di dataran rendah. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Subang (100 m dpl.). Penelitian dimulai dari bulan Maret sampai dengan bulan Juni 2013. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial (dua faktor) dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu aplikasi BAP 50 ppm melalui (1) teknik penyiraman tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 minggu setelah tanam (MST), (2) teknik perendaman sebelum tanam dan penyiraman pada umur 3 dan 5 MST, dan (3) teknik perendaman sebelum tanam. Faktor kedua yaitu pemupukan NPK terdiri atas (1) NPK 400 kg/ha dengan empat kali aplikasi, (2) NPK 400 kg/ha dengan delapan kali aplikasi, (3) NPK 600 kg/ha dengan empat kali, dan (4) NPK 600 kg/ha dengan delapan kali aplikasi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa aplikasi BAP dengan teknik penyiraman tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 MST dan pemupukan NPK 400 kg/ha dengan empat kali aplikasi (setiap 2 minggu) menghasilkan tingkat pembungaan dan produksi TSS yang paling efektif yaitu sekitar 60–70% pembungaan dan 0,6 g TSS/tanaman di dataran rendah Subang. Implikasi penelitian ini adalah produksi TSS di dataran rendah berpeluang untuk dikembangkan dengan memperbaiki tingkat pembungaan yang lebih tinggi

    Kelayakan Teknis dan Ekonomi Budidaya Cabai Merah di Dalam Rumah Kasa untuk Menanggulangi Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan

    Full text link
    K. Pada satu dasawarsa terakhir produktivitas cabai merah mengalami penurunan akibat meningkatnya serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang dipicu oleh dampak perubahan iklim. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan budidaya cabai merah di dalam rumah kasa. Budidaya cabai merah di dalam rumah kasa di dataran rendah mampu meningkatkan hasil panen > 9 kali dibandingkan dengan budidaya cabai merah di lahan terbuka, sedangkan di dataran tinggi mampu mengurangi penggunaan pestisida dengan hasil panen tetap tinggi. Namun demikian, kelayakan teknis dan ekonominya belum diketahui. Penelitian bertujuan mengetahui kelayakan teknis dan ekonomi budidaya cabai merah di dalam rumah kasa di dataran tinggi dalam upaya menanggulangi serangan OPT. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang (± 1.250 m dpl.), Jawa Barat, sejak bulan Juni sampai November 2014. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode petak berpasangan dan diulang empat kali. Petak perlakuan berukuran 75 m2, varietas cabai yang ditanam adalah Ciko. Dua macam perlakuan yang diuji adalah (a) budidaya tanaman cabai di dalam rumah kasa dan (b) budidaya tanaman cabai merah di lahan terbuka. Penyemprotan insektisida dilakukan berdasarkan ambang pengendalian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan rumah kasa dapat mengurangi serangan hama sehingga biaya insektisida dapat dikurangi sebesar 73,19% dengan produksi lebih tinggi sebesar 106,45–109,00% dibandingkan dengan budidaya tanaman cabai merah di lahan terbuka, dengan tingkat pengembalian (R) mencapai 2,36. Dengan demikian, penggunaan rumah kasa dapat direkomendasikan sebagai teknologi budidaya cabai merah di dataran tinggi karena secara teknis dapat menekan serangan OPT dan mengurangi penggunaan insektisida dan secara ekonomi menguntungkan

    Respons Jenis Perangsang Tumbuh Berbahan Alami dan Asal Setek Batang Terhadap Pertumbuhan Bibit Tin (Ficus carica L.)

    Full text link
    Perbanyakan tanaman tin pada umumnya dilakukan dengan setek batang. Penanaman setek batang tanpa perlakuan menghasilkan persentasi jadi bibit yang relatif rendah sehingga diperlukan suatu perlakuan yang tepat pada setek sebagai sumber bibit yang dapat meningkatkan persentase jadi bibit. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis bahan alami dan asal setek batang terhadap pertumbuhan bibit tin. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Berastagi dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl. jenis tanah Andisol yang dilaksanakan dari bulan Juni sampai November 2011. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan dua ulangan. Sebagai faktor I adalah jenis bahan alami yang terdiri atas a0= air, a1=air kelapa 100%, a2= air kelapa 50%, a3= sari bawang merah 100%, a4= sari bawang merah 50%, dan a5= pembanding (Rootone-F 100 ppm), sedangkan faktor II adalah asal setek bibit yang terdiri atas i1 = pangkal batang, i2 = tengah batang, dan i3= ujung batang. Sumber bibit berasal dari satu pohon induk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh nyata perlakuan asal setek batang pada setiap parameter yang diamati, tidak terdapat interaksi antara jenis bahan alami dan asal setek tanaman bibit tin. Jenis bahan alami air kelapa 50% menghasilkan waktu bertunas lebih cepat, panjang tunas, jumlah daun, panjang, dan bobot basah akar yang tinggi. Bahan alami air kelapa 50% dapat menggantikan perangsang akar sintetis sebagai zat pengatur tumbuh pada setek batang tin. Hasil dari penelitian akan bermanfaat dalam meningkatkan persentase jadi perbanyakan bibit tin melalui setek batang dengan menggunakan bahan alami sebagai perangsang tumbuh

    Faktor-faktor yang Memengaruhi Keputusan Konsumen dalam Mengonsumsi Sayuran Minor (Under-utilized) Katuk

    Full text link
    Upaya penggunaan spesies sayuran yang lebih beragam pada dasarnya sejalan dengan perhatian dan kebutuhan yang semakin meningkat berkaitan dengan konservasi biodiversitas dan kecukupan pangan. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi keputusan konsumen dalam konsumsi katuk (Sauropus androgynus). Kegiatan penelitian berupa survai konsumen yang dilaksanakan di Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kotamadya Bandung, Jawa Barat mulai bulan Agustus sampai dengan November 2007. Pemilihan responden ibu rumah tangga sebanyak 50 orang dilakukan secara acak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Data kualitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif, sedangkan analisis jalur (path analysis) digunakan untuk menguji faktor-faktor yang memengaruhi keputusan konsumen dalam mengonsumsi katuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi konsumen terhadap pengolahan produk, pengetahuan konsumen, kesadaran konsumen terhadap kesehatan, serta persepsi konsumen terhadap ketersediaan produk merupakan faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam mengonsumsi sayuran minor katuk.Efforts for the use of more diverse vegetables are in parallel with an increasing attention on biodiversity conservation and food security. This study was aimed to identify factors that may influence consumer’s decision making in consuming star gooseberry (Souropus androgynus), an under-utilized vegetable.  A survey was carried out at Suka Asih Village, Bojongloa Kaler Subdistrict, Bandung, West Java from August to November 2007. Fifty housewife were randomly selected as respondents. A structured questionnaire was used for interviewing respondents in data collection. Data were qualitatively elaborated by using descriptive statistics and quantitatively analyzed by using path analysis. Results show that consumers’ perceptions on how to process the product, knowledge, awareness on health, and perceptions on product availability were the most important factors that influencing consumers’ decision making in consuming under-utilized vegetable star gooseberry.

    Virulensi Isolat Fusarium oxysporum f. sp. cubense VCG 01213/16 pada Pisang Barangan dari Varietas Pisang dan Lokasi yang Berbeda

    Full text link
    Analisis genetik  isolat-isolat  cendawan Fusarium  oxysporum f. sp. cubense (Foc) VCG 01213/16 penyebab penyakit layu pada tanaman pisang menunjukkan adanya keragaman yang nyata. Penelitian bertujuan mempelajari keragaman virulensi isolat-isolat yang terkelompok dalam VCG 01213/16, berasal dari berbagai daerah dan varietas pisang yang berbeda.  Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika) Solok, dari bulan Maret sampai dengan Juni 2009. Rancangan yang digunakan ialah acak kelompok dengan 10 perlakuan dan tiga ulangan, masing-masing perlakuan terdiri atas 10 tanaman. Perlakuan terdiri atas 10 isolat Foc VCG 01213/16 yang berasal dari varietas pisang dan lokasi berbeda. Tanaman uji ialah benih pisang Barangan hasil perbanyakan kultur jaringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keragaman virulensi 10 isolat Foc VCG 01213/16 yang dinilai dari perbedaan masa inkubasi, persentase serangan, dan indeks keparahan penyakit pada bonggol dan daun pisang Barangan. Sembilan isolat Foc yang diuji mempunyai virulensi yang tinggi. Masa inkubasi berkisar antara 13,98 dan 16,80 hari, persentase serangan 93,33-100%, dan indeks keparahan penyakit pada bonggol dan daun masing-masing berkisar 3,46-5,35 dan 4,68-5,41. Isolat Foc VCG 01213/16 yang berasal dari Jabung-Lampung Timur dan diisolasi dari pisang varietas Ambon Kuning (isolat F) menunjukkan virulensi yang relatif lebih rendah dibanding sembilan isolat  Foc lainnya dengan masa inkubasi 30,27 hari, indeks keparahan penyakit pada bonggol dan daun masing-masing sebesar 2,14 dan 3,76.  Hasil penelitian ini bermanfaat dalam memberikan informasi tentang biologi F. oxysporum f. sp. cubense sebagai dasar untuk penyusunan teknik pengendalian yang tepat.Genetic analysis of isolates of the Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) that are grouped in VCG 01213/16, as the causal agent of wilt disease in banana plants showed a considerable variation. This research aimed to study the variation in virulence of isolates that are grouped in VCG 01213/16 from different varieties of banana and regions. The study was conducted in the Protection Laboratory and the Screenhouse of Indonesian Tropical Fruit Research Institute (ITFRI) Solok, from March to June 2009. A randomized block design was used in this research with 10 treatments and three replications. Each treatments consisted of 10 banana plants. The treatment was 10 Foc isolates belonging to VCG 01213/16 originating from different varieties of banana and locations. Barangan plantlets produced from tissue culture propagation were used as the planting material. The results showed that there were high variations in virulence among 10 Foc isolates in VCG 01213/16 based on variables of the incubation period, percentage of wilt, and disease severity index on corm and leaves of Barangan variety. Nine of the 10 Foc isolates tested were highly virulent isolates. The incubation period ranged from 13.98 to 16.80 days, the percentage of wilt from 93.33 to 100%, and the disease severity index of corm and leaves ranged from 3.46 to 5.35 and from 4.68 to 5.41, respectively. The Foc VCG 01213/16 isolates originated from Jabung, East Lampung and from Ambon Kuning variety (isolate F) shown relatively low virulence than others isolates that the incubation period was 30.27 days and the disease severity index on the corm and leaves was 2.14 and 3.76, respectively. This result provides useful information on biology of F. oxysprum f. sp. cubense to find out the best control method of the pathogen

    Penetapan Rekomendasi Pemupukan N, P, dan K Tanaman Duku Berdasarkan Analisis Daun

    Full text link
    Duku mempunyai perakaran yang dalam, sehingga sulit untuk memperoleh sampel tanah yang representatif pada daerah tersebut, sehingga lebih tepat menggunakan analisis daun. Status hara daun merupakan gambaran status hara aktual dalam tanah. Penelitian bertujuan untuk menentukan kategori status hara N, P, dan K, serta rekomendasi pemupukan optimum berdasarkan status hara tersebut pada tanaman duku. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro, Jambi pada Bulan Desember 2008 sampai dengan April 2012.  Rancangan penelitian menggunakan acak kelompok dengan lima ulangan.  Perlakuan dosis pupuk N (0, 400, 800, 1.200, dan 1.600 g N) , P (0, 500, 1.000, 1.500, dan 2.000 g P2O5), K (0,600, 1.200, 1.800, dan 2.400 g K2O/tanaman/tahun). Hasil penelitian menunjukkan bahwa status hara N sangat rendah (< 1,81%), rendah (1,81 ≤ N < 2,82%), dan sedang (≥ 2,82%), status hara P sangat rendah (< 0,09%), rendah (0,09 ≤ P < 0,17%), dan sedang (≥ 0,17%), serta status hara K sangat rendah (< 1,16%), rendah (1,16 ≤ K < 2,19%), dan sedang (≥ 2,19%).  Rekomendasi pemupukan pada tanaman duku untuk status hara sangat rendah yaitu 858 g N, 1.770 g P2O5, dan 1.900 g K2O/tanaman/tahun, untuk status hara rendah, 588 g N, 1.335 g P2O5, dan 1.107 g K2O/tanaman/tahun, sedangkan berdasarkan pendekatan multinutrien 920 g N, 1.565 g P2O5, dan 1.488 g K2O/tanaman/tahun (biaya produksi terendah). Rekomendasi pemupukan N, P, dan K berdasarkan analisis daun dapat diterapkan pada pertanaman duku di Indonesia dan meningkatkan produksi serta kualitas buah duku. Duku has been deep roots making it difficult to obtain a representative sample of soil at the root zone, so the more appropriate used of leaf analysis. Leaf nutrient status was picture of the actual nutrient status of the soil. The aimed of this study was to determine leaf N, P, K level category and recommendation study determine the optimum fertilizer rate for each nutrient level category on duku plant. The experiment was conducted at Kumpeh Ulu District, Muaro Jambi Regency, in Jambi Province, from December 2008 to April 2012. Each treatments were arranged in randomized block design with five replications. The treatments were N (0, 400, 800, 1,200, 1,600 g N/plant/year), P (0, 500, 1,000, 1,500, 2,000 g P2O5/plant/year), and K (0, 600, 1,200, 1,800, 2,400 g K2O/plant/year). The results showed that leaf nutrient status of N was very low (< 1.81%),  low (1.81 ≤ N < 2.82%), and medium (≥ 2.82%), status of P was very low (< 0.09%), low (0.09 ≤ P < 0.17%), and medium (≥ 0.17%); status of K was very low (< 1.16%), low (1.16 ≤ K < 2.19%), and medium (≥ 2.19%).  Fertilizer recommendation  rate on duku plant for very low nutrient status were 858 g N, 1,770 g P2O5, and 1,900 g K2O/plant/year, low nutrient status were 588 g N, 1,335 g P2O5, and 1,107 g K2O/plant/year, multinutrient approach were 920 g N, 1,565 g P2O5, dan 1,488 g K2O/plant/year (lower production cost). Recommendation of fertilizer N, P, and K based on leaves analysis can be applied on duku in Indonesia and increase production and fruit quality of duku

    Karakterisasi Morfologi dan Anatomi Markisa F1 di Kebun Percobaan Berastagi (Morphology and Anatomy Characterization of Passion Fruit in Berastagi Experimental Farm)

    Full text link
    Ketersediaan varietas markisa unggul yang bermutu tinggi, produktif, tahan terhadap hama/penyakit dan toleran terhadap cekaman lingkungan merupakan salah satu faktor penting dalam peningkatan daya saing industri hortikultura nasional. Upaya untuk memperoleh varietas unggul dilakukan melalui silangan antaraksesi lokal yang memiliki karakter unggul. Tujuan penelitian ini adalah mengarakterisasi morfologi dan anatomi aksesi markisa lokal berkulit ungu, merah, dan markisa hasil silangan. Kegiatan dilaksanakan di Kebun Percobaan Berastagi mulai April 2014 sampai Juli 2014. Hasil analisis data diperoleh kemiripan morfologi markisa ungu dan markisa merah berdasarkan habitat, bunga, liana, teresterial, akar tunggang, batang dan arah tumbuh, sedangkan daun, bunga, buah, biji, dan warna batang berbeda. Berdasarkan karakter kuantitatif antara markisa F1 dengan markisa ungu memiliki kadar gula sama dengan markisa ungu lokal yakni 16,6o Brix. Markisa F1 memiliki 73,06 ml/100 g dengan total asam 1,53%. Berdasarkan hasil analisis dendogram diketahui hubungan morfologi markisa menunjukkan tingkat kemiripan markisa lokal merah dan markisa F1 sebesar 81%. Markisa F1 memiliki buah besar, warna kulit ungu kemerahan, aroma sari buah mirip dengan aroma jambu biji.KeywordsPassiflora edulis f. edulis Sims; Karakter; Morfologi; AnatomiAbstractAvailability of superior variety of passion fruits which high quality, resistant to pests or diseases, and tolerance to environmental stress are essential in improving the competitiveness of national horticultural industry. Superior varieties have been made through crossing local accessions that have superior characters. The aim of this experiment was to characterize the morphology and anatomy of purple passion, red passion, and F1 of passion fruit at Berastagi Experimental Farm from April 2014 to July 2014. Morphology and anatomy characterization obtained that purple passion fruit and red passion fruit had same characters based on habitat, flowers, lianas, terrestrial, taproot, stems, and direction of growth, whereas leaves, flowers, fruits, seeds, and stems color had different characters. Brix sugar level degrees between purple passion fruit and F1 almost similar, it was 16,6o Brix, while the terms content juice of passion fruit cross F1 was 73,06 ml/100 g with total acid was 1,53%. Dendogram based on morphology characters of purple, red, and passion fruit cross F1 had 81% of similarity degree. Passion fruit cross F1 had a great size, reddish purple color, and guava aroma

    Pengembangan Teknik Deteksi Fusarium Patogen Pada Umbi Benih Bawang Merah (Allium ascalonicum) di Laboratorium

    Full text link
    Penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum merupakan salah satu penyakit penting pada bawang merah (Allium ascalonicum). Sebagian besar petani menggunakan umbi sebagai benih dan diketahui bahwa beberapa patogen dapat terbawa oleh benih seperti Fusarium oxysporum. Oleh karena itu diperlukan pengujian kesehatan benih untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut. Salah satu metode sederhana dan efektif untuk digunakan di laboratorium adalah blotter test. Namun beberapa strain F. oxysporum terbukti tidak bersifat patogenik, serta tidak dapat dibedakan secara morfologi dengan strain yang bersifat patogenik. Penelitian ini bertujuan menentukan parameter uji dan jumlah sampel minimal dalam deteksi Fusarium oxysporum pada umbi bawang merah dengan metode blotter test. Hasil pengujian menunjukkan bahwa parameter nekrosis pada basal plate umbi bawang merah mempunyai koefisien korelasi (r) sebesar 0,77 terhadap tingkat infeksi pada growing on test (GOT) dan lebih besar dari tingkat infeksi fusarium (0,34) pada blotter test. Dari 195 isolat Fusarium spp. yang diuji, diketahui bahwa sebagian besar isolat bersifat nonpatogenik. Penentuan jumlah minimal umbi dengan plot kurva rerata jumlah nekrosis pada basal plate dan standar deviasi, menunjukkan jumlah sampel umbi minimal untuk blotter test adalah 150 umbi. Perhitungan jumlah sampel dengan formal probability statement yang menunjukkan jumlah umbi minimal untuk blotter test adalah 138 umbi

    Evaluasi Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Pepaya Hibrida di Wilayah Pengembangan Bogor

    Full text link
    Keragaan pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan hasil interaksi antara potensi genetik tanaman dengan lingkungan tempat tumbuhnya. Untuk mengetahui tanggapan genotipe terhadap lingkungan perlu dilakukan evaluasi dengan menanam berbagai varietas tanaman di wilayah pengembangan. Tanaman yang mempunyai penampilan fenotipe unggul dan adaptif di wilayah pengembangan akan dipilih menjadi kandidat varietas unggul. Tujuan penelitian adalah mendapatkan pepaya hibrida yang mempunyai penampilan fenotipik terbaik. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Dramaga, Bogor (Jawa Barat) pada bulan Januari sampai Desember 2012. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan. Setiap unit perlakuan terdiri atas lima tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hibrida P 24 mempunyai karakter unggul paling banyak (lima karakter), yaitu tinggi tanaman paling rendah, diameter batang lebih besar, jumlah buah lebih banyak, ukuran buah kecil, dan padatan total terlarut cukup tinggi. Hibrida P 21 dan P 31 mempunyai keunggulan jumlah buah cukup banyak, ukuran buah sedang, daging buah agak tebal dan keras. Beberapa dari hibrida F terpilih terbukti memiliki keunggulan karakter morfologi sehingga potensial dikembangkan sebagai komoditas unggul di tanah air

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇