Kesmas: National Public Health Journal
Not a member yet
828 research outputs found
Sort by
Effect of Ambient Particulate Matter 2.5 Micrometer (PM2.5) to Prevalence of Impaired Lung Function and Asthma in Tangerang and Makassar
Particulate matter 2.5 micrometer (PM2.5) emission increased with increasing number of urban population as a result of increasing number of motor vehicles for their daily transportation. This study aimed to determine the level of impaired lung function and asthma and its relation to ambient levels of PM2.5 among migrant communities in Tangerang and Makassar and socioeconomic conditions. A cross-sectional design was implemented by involving 4,250 and 2,900 respondents in Tangerang and Makassar respectively on April to September 2010. Cluster sampling approach was applied. PM2.5 ambient measurements in each city were based on the coordinates of 40 global positioning system locations. The PM2.5 levels found higher in the morning than afternoon in both cities, with average about six folds of WHO guideline of 35 mg/m3. Asthma prevalence was found similar in both cities (1.3%) and impaired lung function prevalence in Makassar was higher (24%) than Tangerang (21%). Data showed there was no association between PM2.5 levels to the prevalence of asthma and impaired lung function in both cities. The study confirmed that exposure to PM2.5 is associated with prevalence of asthma and impaired lung function and provided evidence showed that the effect of air pollution was modified by certain living environment characteristics. These findings suggest the improvement of housing ventilations and larger space of living room for better oxygen circulation.AbstrakEmisi partikel debu 2,5 mikrometer (PM2.5) meningkat dengan bertambahnya jumlah penduduk kota akibat peningkatan angka kendaraan bermotor sebagai transportasi penduduk sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat gangguan fungsi paru dan asma serta hubungannya dengan kadar ambien PM2.5 pada masyarakat migran di Tangerang dan Makassar dan kondisi sosial ekonomi. Desain potong lintang digunakan dengan melibatkan 4.250 dan 2.900 responden di Tangerang dan Makassar pada bulan April sampai September 2010. Pendekatan cluster sampling diterapkan. Pengukuran ambien PM2.5 di masing-masing kota berdasarkan koordinat 40 lokasi Global Positioning System (GPS). Kadar PM2.5 ditemukan lebih tinggi pada pagi hari dibandingkan siang hari di kedua kota tersebut dengan rata-rata enam kali lipat dari pedoman World Health Organization (WHO) 35 mg/m3. Prevalensi asma ditemukan sama pada kedua kota (1,3%) dan prevalensi gangguan fungsi paru di Makassar lebih tinggi (24%) dibandingkan di Tangerang (21%). Data menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kadar PM2.5 terhadap prevalensi asma dan gangguan fungsi paru di kedua kota. Penelitian ini menguatkan bahwa pajanan PM2.5 berkaitan dengan prevalensi asma dan gangguan fungsi paru serta bukti yang diberikan menunjukkan bahwa efek polusi udara diubah oleh karakteristik lingkungan tertentu. Temuan ini menyarankan adanya perbaikan ventilasi rumah dan ruang tamu yang lebih luas untuk sirkulasi oksigen yang lebih baik
Role of Hearth Program with Undernutrition Incidence among Toddlers in Tangerang City
Toddler is a group at risk of undernutrition in which World Health Organization (WHO) stated that toddler mortality because of undernutrition was 54% in 2002. In Indonesia, the prevalence increased from 17.9% in 2010 to 19.6% in 2013. In Tangerang City, there was 1.43% of toddlers suffering from undernutrition in 2013. This study aimed to prove in valid the correlation between Hearth Program covering food-providing behavior, toddler’s hygiene behavior, health care seeking behavior and toddler parenting behavior with undernutrition incidence among toddlers. This study was quantitative, cross sectional, using primary data, analyzed in univariate, bivariate and multivariate in a month on September. Samples were taken by total sampling as many as 60 toddlers suffering from undernutrition in Tangerang City. Results showed that 12 (20%) of 60 toddlers suffered from very underweight nutrition and the remaining amounted to 48 toddlers (80%) suffered from underweight nutrition. There was a correlation between food providing behavior and health care seeking behavior with undernutrition among toddlers. Variable food-providing behavior was the dominant factor influencing undernutrition among toddlers with OR = 4.655 (CI = 1.052 – 20.6) after controlled by the variable health care seeking behavior. Improvement on food providing and health care seeking is hopefully able to improve and decrease undernutrition among toddlers.AbstrakKelompok yang rentan terhadap gizi kurang adalah balita. World Health Organization (WHO) menyatakan kematian anak bawah lima tahun (balita) akibat gizi kurang sebesar 54% pada tahun 2002. Di Indonesia, prevalensinya mengalami peningkatan dari 17,9% pada tahun 2010 menjadi 19,6% pada tahun 2013. Di Kota Tangerang, terdapat 1,43% balita yang mengalami gizi buruk pada tahun 2013. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara valid hubungan antara Program Pos Gizi yang meliputi perilaku pemberian makan, perilaku kebersihan balita, perilaku mencari pelayanan kesehatan dan perilaku pengasuhan balita dengan kejadian gizi kurang pada balita. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, potong lintang, menggunakan data primer serta dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat selama satu bulan pada bulan September 2015. Sampel diambil secara total sampling sebanyak 60 balita yang mengalami gizi kurang di Kota Tangerang. Hasil menunjukkan bahwa dari 60 balita yang mengalami gizi kurang, sebanyak 12 balita (20%) mengalami gizi sangat kurus dan sisanya sejumlah 48 balita (80%) mengalami gizi kurus. Terdapat hubungan antara perilaku pemberian makan dan perilaku mencari pelayanan kesehatan dengan gizi kurang pada balita. Variabel perilaku pemberian makan merupakan faktor dominan yang memengaruhi gizi kurang pada balita dengan OR = 4,655 (CI = 1,052 – 20,6) setelah dikontrol oleh variabel perilaku mencari pelayanan kesehatan. Perbaikan pemberian makan dan pencarian pelayanan kesehatan diharapkan mampu memperbaiki dan menurunkan gizi kurang pada balita
Basis for Development of Business Strategic Plan Primary Health Care with Local Public Service Entity Status in Gianyar District
Primary health care as Local Public Service Entity needs to make the right business strategic plan. Arranging business plan needs to pay attention to its competitors operating around its working area. This study aimed to determine internal and external environmental factors in Ubud 1 and Tegallalang 1 Primary Health Care and develop model of business strategic plan development in both primary health cares with Local Public Service Entity status. This study was descriptive explorative conducted in 2014. Data were collected through questionnaires, and documentation study. Samples were determined purposively or taken non-proportionally, consisting of Ubud 1 and Tegallalang 1 Primary Health Care heads and staff. Data were analyzed by descriptive quantitative analysis. Results of internal and external factor analysis in both primary health cares showed similar findings. Most indicators of internal variable were strength, only quantities of medical and non-medical workers were the weaknesses in program development. Meanwhile, external factor analysis showed that most indicators of external variable were opportunities and it was only people’s lifestyle toward environment as the threat in program development. In conclusion, the development strategic position in Ubud 1 Tegallalang 1 was growth strategy.AbstrakPuskesmas yang berbentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) perlu membuat rencana strategi bisnis yang tepat. Penyusunan rencana strategi bisnis perlu memerhatikan pesaing yang beroperasi di sekitar wilayah kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari aspek lingkungan internal dan eksternal di Puskesmas Ubud 1 dan Tegallalang 1 serta mengembangkan model pengembangan rencana strategi bisnis di kedua puskesmas yang berstatus BLUD tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif yang dilakukan pada tahun 2014. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner dan studi dokumentasi. Sampel penelitian ditentukan secara purposif dan diambil secara non proporsional, terdiri dari kepala dan staf Puskesmas Ubud 1 dan Tegallalalng 1. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil analisis faktor internal dan eksternal kedua puskesmas menunjukkan hasil yang sama. Sebagian besar indikator variabel internal merupakan kekuatan, hanya kuantitas tenaga kerja bidang medis dan nonmedis sebagai kelemahan dalam pengembangan program. Sedangkan hasil analisis faktor eksternal menunjukkan sebagian besar indikator variabel eksternal merupakan peluang dan hanya perilaku masyarakat terhadap lingkungan yang merupakan ancaman dalam pengembangan program. Sebagai kesimpulan, posisi strategis pengembangan di Puskesmas Ubud 1 dan Tegallalang 1 adalah strategi pertumbuhan
Measles Immunization and Vitamin A for Prevention of Pneumonia in Indonesia
Pneumonia is the major cause of child death in Indonesia after diarrhea. Increasing coverage of measles, pertusis, Streptococcus pneumoniae (Spn) and Haemophilus influenzae b (Hib) immunization substantially cancontrol pneumonia. Spn and Hib vaccines have not been included in category of mandatory immunization in Indonesia. Measles vaccine has more direct effect on prevention of pneumonia than pertusis vaccine. Providing immunization followed by providing vitamin A will increase the specific antibody titer among children. This study aimed to determine effects of measles vaccine and vitamin A to pneumonia incidence among toddlers. Method of study was cross sectional using 13,062 data of children drawn from 2012 Indonesia Demographic and Health Survey. Data were analyzed using poisson regression test. Analysis results showed that prevalence of pneumonia among Indonesian children was 5.4%, measles immunization coverage was 82.57%, and vitamin A supplementation coverage was 74.9%. Furthermore, providing measles immunization and vitamin A could prevent pneumonia incidence among toddlers (12 – 59 months old) up to 26.5%. Providing measles immunization then followed by providing vitamin A can be used as a preventive action in attempt to decrease pneumonia incidence.AbstrakPneumonia merupakan penyebab kematian tertinggi pada anak di Indonesia setelah diare. Pengendalian pneumonia dapat dilakukan dengan peningkatan cakupan imunisasi campak, pertusis, Streptococcus pneumoniae (Spn), dan Haemophilus influenzae b (Hib). Vaksin Spn dan Hib belum masuk ke dalam kategori imunisasi wajib di Indonesia. Vaksin campak lebih memiliki pengaruh langsung terhadap pneumonia dibandingkan dengan vaksin pertusis. Pemberian imunisasi yang disertai pemberian vitamin A akan meningkatkan titer antibodi pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian imunisasi campak dan vitamin A terhadap kejadian pneumonia. Metode penelitian adalah potong lintang dengan menggunakan 13.062 data anak yang terdapat pada data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012. Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi poisson. Hasil analisis menunjukkan prevalensi pneumonia pada anak di Indonesia adalah 5.4%, cakupan imunisasi campak sebesar 82.6%, dan cakupan pemberian vitamin A sebesar 74.9%. Pemberian imunisasi campak disertai dengan pemberian vitamin A dapat mencegah terjadinya kejadian pneumonia pada anak usia 12 – 59 bulan sebesar 26,5%. Pemberian imunisasi campak yang disertai dengan pemberian vitamin A dapat digunakan sebagai tindakan pencegahan dalam upaya penurunan kejadian pneumonia
Effects of Mothers’ Attitude as Breeders and Distance of Stockyard toward Diarrhea Incidence among Toddlers
Diarrhea is a disease with change of feces form and concentration in which feces is mushy to liquid, and the increase of poop frequency more than usual (three times or more in a day). In Aceh Province, there were diarrheacases as many as 48/1,000 live births. In West Aceh District, there were 1,071 cases in 2014, meanwhile there were 70 cases among toddlers in Meureubo Subdistrict. This study aimed to determine relation between mothers’attitude as breeders and distance of stockyard toward diarrhea incidence among toddlers in work scope of Meureubo District Primary Health Care. This study was cross-sectional as conducted on July – September 2015. Samples were 70 mothers who had toddlers suffering from diarrhea symptoms. Data analysis used univariate, bivariate and multivariate. Chisquare test showed that mothers’ attitude as breeders and the distance of stockyard were related to diarrhea incidence among toddlers (p value 0.05). Diarrhea incidence among toddlers is related to mothers’attitude as breeders and the distance of stockyard, but the relation is insignificant.AbstrakDiare merupakan penyakit dengan perubahan bentuk dan konsentrasi tinja yang melembek sampai mencair, dan bertambahnya frekuensi buang air besar lebih dari biasanya (tiga kali atau lebih dalam sehari). Di ProvinsiAceh, terdapat kasus diare sebanyak 48/1.000 kelahiran hidup pada 2013. Di Kabupaten Aceh Barat, pada tahun 2014 terdapat 1.071 kasus, sedangkan di Kecamatan Meureubo terdapat sebanyak 70 kasus pada anak bawah lima tahun (balita). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sikap ibu sebagai peternak dan jarak kandang ternak terhadap kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Meureubo. Penelitian ini dilakukan secara potong lintang pada bulan Juli – September 2015. Sampel sebanyak 70 ibu yang memiliki balita dengan gejala diare. Analisis data menggunakan univariat, bivariat dan multivariat. Uji kai kuadrat menunjukkan bahwa sikap ibu sebagai peternak dan jarak kandang ternak berhubungan dengan kejadian diare pada balita (nilai p 0,05). Kejadian diare pada balita berhubungan dengan sikap ibu sebagai peternak dan jarak kandang ternak, namun hubungannya tidak kuat
Rural-Based Health Promotion Model for Pregnant Women in Banyumas District
Previous studies show that knowledge of prenatal care in rural areas remains low that affects to bad behavior, so developing health promotion models is needed to improve prenatal care knowledge, attitude and behavior. This study aimed to develop health promotion model of prenatal care in rural area based on needs assessment. Study was conducted on June 2015 by qualitative approach involving first 16 pregnant women in third trimester with risky pregnancy as key informants and 16 family members living with them and know their daily life, 27 midwives and 3 religious leaders as additional informants. Data collection techniques were in-depth interviews and observation for pregnant women and family, then focus group discussion for midwives and religious leaders. Analysis used was Miles and Huberman model by data reduction, data display and conclusion. Based on needs assessment, health promotion media is needed by book for pregnant women with attractive design that features images, colors and complete explanation. Book is selected because of pregnant women’s preference and needs, characteristics of rural areas and infrastructure availability. Prenatal care materials need to be added from book containing child and maternal health including prenatal checkup by midwives, danger pregnancy signs, causes, consequences, prevention, recommended and unrecommended food, breast care ways, pregnancy exercise and fetal development. Health promotion methods are lectures and discussions in pregnant women’s class.AbstrakPenelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengetahuan pelayanan prenatal di wilayah pedesaan masih rendah yang berdampak pada perilaku buruk sehingga mengembangkan model promosi kesehatan dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan prenatal, sikap dan perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model promosi kesehatan pelayanan prenatal di wilayah pedesaan berdasarkan penilaian kebutuhan. Penelitian dilakukan pada Juni 2015 dengan pendekatan kualitatif melibatkan 16 ibu hamil pertama di trimester ketiga dengan kehamilan berisiko sebagai informan kunci dan 16 anggota keluarga yang tinggal bersama ibu hamil dan mengetahui kehidupan sehari-harinya, 27 bidan dan 3 tokoh agama sebagai informan tambahan. Teknik pengumpulan data adalah wawancara mendalam dan observasi untuk ibu hamil dan keluarga, kemudian focus group discussion untuk bidan dan tokoh agama. Analisis yang digunakan adalah model Miles dan Huberman dengan melakukan pengurangan data, tampilan data dan kesimpulan. Berdasarkan penilaian kebutuhan, media promosi kesehatan dibutuhkan melalui buku untuk ibu hamil dengan desain menarik berfitur gambar, warna dan penjelasan lengkap. Buku dipilih karena kecenderungan dan kebutuhan ibu hamil, karakteristik wilayah pedesaan dan ketersediaan infrastruktur. Bahan pelayanan prenatal perlu ditambahkan dari buku yang memuat kesehatan ibu dan anak meliputi pemeriksaan prenatal oleh bidan, tanda kehamilan berbahaya, penyebab, konsekuensi, pencegahan, makanan rekomendasi dan tidak, cara menjaga payudara dan latihan kehamilan serta perkembangan janin. Metode promosi kesehatan adalah penyampaian dan diskusi di kelas ibu hamil
Well Water Consumed and Urolithiasis in Gedangsari Subdistrict, Yogyakarta
The land in Gedangsari Subdistrict area composes of limestone. Many local people consume drinking water from wells that contain high levels of calcium. Many people suffer from urolithiasis. This study aimed to describe calcium or Ca(OH)2 distribution in the well water and explain its relation with urolithiasis incidence. This study was conducted in Gedangsari Subdistrict, Gunung Kidul District from July to November 2013. The study was cross sectional confirmed with titration test in laboratory. Samples were 94 wells of 3,849 well population as selected randomly. Criteria of sample selection included wells used for drinking by the population aged older than 30 years already, with less than 15 meter of depth. Laboratory test of Ca (OH)2 level was conducted by titration. Suspect urolithiasis was clinically diagnosed by doctor and data analysis used chi-square test. Results showed relation between water hardness and urolithiasis (RP = 2.27), although statistically not significant. In conclusion, there was no relation between mineral water consumption, age, and length of stay with urolithiasis incidence in Gedangsari Subdistrict, Gunungkidul District.AbstrakTanah di wilayah Kecamatan Gedangsari mengandung batuan kapur. Masyarakat di daerah ini banyak yang mengkonsumsi air minum dari sumur gali yang mengandung kadar kalsium tinggi, dan banyak yang menderita urolithiasis. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran distribusi kalsium atau Ca(OH)2 pada air sumur dan menjelaskan hubungannya dengan kejadian urolithiasis. Penelitian dilakukan di Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul selama Juli sampai November 2013. Penelitian dilakukan secara potong lintang dengan konfirmasi uji titrasi di laboratorium. Sejumlah 94 sampel sumur dipilih secara acak dari populasi 3.849 sumur. Kriteria pemilihan sampel adalah sumur gali yang telah digunakan untuk minum oleh penduduk berusia lebih dari 30 tahun, dengan kedalaman kurang dari 15 meter. Pemeriksaan laboratorium kadar kalsium dilakukan dengan titrasi. Dugaan urolithiasis didiagnosis melalui pemeriksaan klinis oleh dokter. Data dianalisis dengan uji kai kuadrat. Hasil analisis menunjukkan hubungan antara kesadahan air dengan urolithiasis (RP= 2.27) namun tidak bermakna secara statistik. Konsumsi air putih, usia, dan lama tinggal tidak berhubungan dengan kejadian urolithiasis di Kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunungkidul
Effectivity of Foot Care Education Program in Improving Knowledge, Self-Efficacy and Foot Care Behavior among Diabetes Mellitus Patients in Banjarbaru, Indonesia
Diabetic foot problem in Indonesia remains a big problem and still needs an optimum concern. Foot care education is one of efforts that must be performed to prevent foot problem among diabetes mellitus patients. This study aimed to analyze effectivity of foot care education program in improving knowledge, self-efficacy and foot care behavior of diabetes patients in Banjarbaru. This study was quasi experimental with prepost test as conducted at primary health care in Banjarbaru in 2013. Foot care education program was provided to intervention group. Samples were 48 patients (32 persons in intervension group and 16 persons in control group) using purposive sampling technique. Variables measured were knowledge, self-efficacy and foot care behavior of diabetes mellitus patients. Intervension provided on respondents was in form of health education concerning foot care for twice. Every variable was measured twice before and after intervension. Knowledge test was measured using Diabetic Foot Care Knowledge Questionnaire, self-efficacy was measured by using Foot Care Confident Scale Self-Efficacy and foot care behavior was assessed using Behavior Foot Care Questionnaire. Data analysis used Manova. Results showed significant differences on knowledge level (p value = 0.001), self-efficacy (p value = 0.000) and foot care behavior (p value = 0.000) before and after intervension. AbstrakMasalah kaki diabetik di Indonesia masih merupakan masalah besar dan masih memerlukan perhatian yang optimal. Edukasi perawatan kaki adalah salah satu upaya yang harus dilakukan dalam mencegah masalah kaki untuk pasien diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas program pendidikan perawatan kaki dalam meningkatkan pengetahuan, efikasi diri, dan perilaku perawatan kaki pasien diabetes di wilayah Banjarbaru. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experimental dengan prepost test, dilakukan di puskesmas wilayah Banjarbaru tahun 2013. Kelompok intervensi diberikan program pendidikan perawatan kaki. Sampel berjumlah 48 pasien (32 orang kelompok intervensi dan 16 orang kelompok kontrol) menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diukur adalah pengetahuan, efikasi diri, dan perilaku perawatan kaki pasien diabetes melitus. Perlakuan yang diberikan pada responden berupa pendidikan kesehatan tentang perawatan kaki sebanyak dua kali. Setiap variabel diukur dua kali sebelum dan setelah intervensi. Uji pengetahuan diukur menggunakan Diabetic Foot Care Knowledge Questionnaire, efikasi diri diukur menggunakan Foot Care Confident Scale Self-Efficacy, dan perilaku perawatan kaki dinilai menggunakan Behavior Foot Care Questionnaire. Analisis data menggunakan Manova. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan pada tingkat pengetahuan (nilai p = 0,001), efikasi diri (nilai p = 0,000) dan perilaku perawatan kaki (nilai p = 0,000) sebelum dan setelah intervensi
Identification of Pathogenic Leptospira in Rat and Shrew Populations Using rpoB Gene and Its Spatial Distribution in Boyolali District
Leptospirosis becomes health problem in Indonesia. Until April 2014, cases of leptospirosis transmitted by rats were reported in Boyolali with case fatality rate (CFR) 83.3%. Leptospira genus consists of various serovars and genetic types living in different environment. Classification of Leptospira species based on rpoB gene could be used as this gene has high level of polymorphism. This study aimed to identify Leptospira serovars in rat population using kinship analysis based on rpoB gene polymorphism and to describe spatial distribution of rats with Leptospira positive in Boyolali District. A cross sectional study was conducted on April 2014 at Sindon Village in Ngemplak Subdistrict and Jeron Village in Nogosari Subdistrict, Boyolali District. Polymerase Chain Reaction test was performed on 104 rat kidney samples from the two locations of study. Spatial analysis was conducted to map distribution of rats with Leptospira positive. There were six positive rpoB gene samples in Rattus tanezumi, Rattus argentiventer and Suncus murinus. Five of six positive samples showed the closest genetic kinship to Leptospira borgpetersenii serovar Sejroe based on rpoB gene. One isolate did not have a close genetic kinship to any serovar included in the cluster. Spatial analysis based on home range buffer zone showed that rats with Leptospira positive were found in 30 meter and 150 meter from leptospirosis patients.AbstrakLeptospirosis merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Hingga April 2014, dilaporkan kasus leptospirosis yang ditularkan oleh tikus di Kabupaten Boyolali dengan angka kematian 83,3%. Genus Leptospira terdiri dari ratusan serovar dan tipe genetik yang hidup di pelbagai jenis habitat. Pengelompokan spesies Leptospira berdasarkan gen rpoB dapat digunakan karena tingkat polimorfisme gen tersebut tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serovar bakteri Leptospira pada populasi tikus di Kabupaten Boyolali menggunakan analisis hubungan kekerabatan didasarkan pada polimorfisme gen rpoB dan menggambarkan distribusi spasial tikus positif Leptospira di Kabupaten Boyolali. Penelitian potong lintang dilaksanakan pada bulan April 2014 di Desa Sindon Kecamatan Ngemplak dan Desa Jeron Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali. Pemeriksaan Polymerase Chain Reaction dilakukan pada 104 sampel ginjal tikus dari dua lokasi penelitian. Analisis spasial sederhana dilakukan untuk memetakan sebaran tikus yang positif Leptospira. Terdapat enam sampel positif gen rpoB Leptospira pada Rattus tanezumi, Rattus argentiventer dan Suncus murinus. Lima dari keenam sampel menunjukkan hubungan kekerabatan yang paling dekat dengan Leptospira borgpetersenii serovar Sejroe berdasarkan gen rpoB. Satu isolat tidak memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan serovar manapun yang masuk dalam cluster. Analisis spasial berdasarkan jarak aktivitas harian tikus menunjukkan tikus positif Leptospira ditemukan berada dalam kisaran 30 meter dan 150 meter dari penderita leptospirosis
Lack of Exclusive Breastfeeding among Working Mothers in Indonesia
Continuity of breastfeeding process when mothers return to work is a serious issue that immediately must be followed up, so that exclusive breastfeeding program within the first six months can be achieved. Beside providing many benefits for babies, breastfeeding is also beneficial for mothers and entrepreneurs. This study aimed to determine relation of working mothers to exclusive breastfeeding. This study used was cross- sectional design with secondary data of Indonesia Demographic and Health Survey 2012 with samples as many as 1,193 mothers aged 15 – 49 years who had 0 – 5-month-old babies. Based on multivariate analysis, working mothers could decrease opportunity of exclusive breastfeeding in which mother who worked all the time were 1.54 times more likely not to give exclusive breastfeeding than mothers who did not work after controlled by maternal age at childbirth, household wealth index, and antenatal care frequency (p = 0.038; 95% CI = 1.0 to 2.3). Fulltime working mothers are twofold more likely to not be able to give exclusive breasfedding than unemployed mothers after being controlled by counfounder variable. AbstrakKeberlangsungan proses menyusui pada saat ibu kembali bekerja merupakan isu serius yang harus segera ditindaklanjuti agar program pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan dapat tercapai. Selain memberikan banyak manfaat bagi bayi, ASI juga bermanfaat bagi ibu dan pengusaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan data sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dengan sampel berjumlah 1.193 ibu berusia 15 – 49 tahun yang memiliki bayi berusia 0-5 bulan. Berdasarkan analisis multivariat, ibu bekerja dapat menurunkan peluang pemberian ASI eksklusif dimana ibu yang bekerja sepanjang waktu lebih berisiko 1,54 kali untuk tidak memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu yang tidak bekerja setelah dikontrol oleh usia melahirkan ibu, indeks kesejahteraan rumah tangga dan frekuensi pemeriksaan kehamilan (p = 0,038; CI 95% = 1,0 - 2,3). Ibu bekerja dua kali memiliki peluang untuk tidak dapat memberikan ASI eksklusif daripada ibu yang tidak bekerja setelah dikontrol oleh variabel perancu