Kesmas: National Public Health Journal
Not a member yet
    828 research outputs found

    Housewives’ Compliance in Reading Food Labels in Gorontalo City

    No full text
    In Indonesia, food packaging labels’ problem received less attention from consumers. This study aimed to determine the housewives’ compliance in reading food packaging labels and its determinants in Gorontalo City. This studied was conducted from July to August 2013. The study was a cross sectional survey, using enquetten in data collection. The dependent variable was compliance in reading labels on food packaging consisting of labels information about nutritional value, food composition, expiration date, price and halal status, while the independent variables were age, education level and exposure to information media. This study involved 262 respondents selected through accidental sampling technique. Data analyisis used chi square test. This study showed that most respondents dutifully read the labels on expiration date, price tag, and halal status. Age was found associated with compliance in reading labels on information about nutritional value, expiration date and price. Education level was found related to information about nutritional value, food composition, price and halal labels. Exposure to the information media was related to compliance in reading food composition, expiration date, price and halal labels. This study suggested that the authorized institution namely health agency should educate people to understand the importance of reading food packaging labels, especially information about nutritional value and food composition.AbstrakDi Indonesia, masalah label pada kemasan makanan kurang mendapat perhatian konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari determinan kepatuhan membaca label pada kemasan makanan oleh ibu rumah tangga di Kota Gorontalo. Penelitian dengan metode survei ini dilakukan dari bulan Juni sampai Agustus 2013. Data dikumpulkan secara potong lintang dengan menggunakan angket. Variabel terikat adalah kepatuhan membaca label pada kemasan makanan yang terdiri dari label informasi nilai gizi, komposisi makanan, masa kedaluwarsa, harga, dan status halal. Variabel bebas adalah usia, tingkat pendidikan, dan keterpaparan dengan media informasi. Besar sampel 262 orang ditentukan secara accidental technique. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden patuh membaca label kedaluwarsa, label harga, dan label halal. Faktor usia berhubungan dengan kepatuhan membaca label informasi nilai gizi, label kedaluwarsa dan label harga. Tingkat pendidikan berhubungan dengan kepatuhan membaca label informasi nilai gizi, label komposisi, label harga, dan lebel halal. Keterpaparan dengan media informasi berhubungan dengan kepatuhan membaca label komposisi, kedaluwarsa, harga, dan halal. Disarankan kepada institusi terkait, yaitu dinas kesehatan untuk melakukan upaya meningkatkan pemahaman pentingnya membaca label kemasan makanan, terutama yang berkaitan dengan informasi nilai gizi dan komposisi bahan makanan

    The Effect of Structured Counseling towards Knowledge, Attitude, and Participation of Modern Contraceptive among Unmet Need Couples

    Get PDF
    The number of unmet need for family planning remains high in developing countries, including in Indonesia. Structured contraceptive counseling potentially increases contraceptive use effectively maintain its continuity and enhances client’s satisfaction. Contraceptive counseling had not been properly performed, therefore this study aimed to analyze structured counseling influence toward knowledge improvement, attitude and participation at modern contraceptive among unmet need reproductive-aged couples. This study was conducted on March - June 2015 by using a randomized pretestposttest measurement with control group design. The subjects were recruited through stratified random sampling method. Inclusion subjects were further classified into 48 persons for the intervention group and other 48 persons for the control group. The increase of knowledge and attitude between intervention and control group was then compared by using Mann-Whitney U test, and the effect of structured counseling toward participation of modern contraceptive was analyzed by using multiple logistic regression. Results showed that there was a significant difference of test score for knowledge and attitude between the intervention and the control group (p value < 0.05). Reproductive-aged women are more likely to participate at modern contraceptive with odds ratio = 6.167 (95% CI= 2,427 - 15,67). Inconclusion, structured counseling can increase knowledge, attitude, and participation at modern contraceptive among reproductive-aged couples.AbstrakUnmet need Keluarga Berencana (KB) masih tinggi di negara berkembang termasuk di Indonesia. Konseling kontrasepsi terstruktur berpotensi meningkatkan penggunaan kontrasepsi secara efektif, menjaga keberlangsungan penggunaan dan meningkatkan kepuasan klien. Selama ini seling kontrasepsi yang dilakukan belum optimal, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konseling terstruktur terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan partisipasi kontrasepsi modern pada pasangan usia subur (PUS) yang unmet need. Penelitian ini merupakan eksperimen semu dengan rancangan pretest-posttest dengan kelompok kontrol. Penelitian ini dilakukan pada periode Maret – Juni 2015. Pengambilan sampel dilakukan dengan stratified random sampling pada 48 orang untuk kelompok perlakuan (konseling terstruktur) dan 48 orang untuk kelompok kontrol (konseling standar). Perbedaan peningkatan pengetahuan dan sikap pada kelompok perlakuan dan kontrol diuji dengan uji Mann-Whitney U, sedangkan pengaruh konseling terstruktur terhadap partisipasi kontrasepsi modern dianalisis dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan bermakna pada skor pengetahuan dan sikap setelah dilakukan konseling terstruktur antara kelompok perlakuan dan kontrol dengan nilai p < 0,05. Wanita usia subur (WUS) yang berada pada kelompok perlakuan akan berpeluang ikutserta menggunakan kontrasepsi modern dengan OR= 6,167 (95% CI= 2,427-15,67). Kesimpulan penelitian ini, konseling yang dilakukan secara terstruktur mampu meningkatkan pengetahuan, sikap dan keikutsertaan kontrasepsi modern pada PUS

    Communication of Parents, Sexual Content Intake and Teenage Sexual Behavior at Senior High School in Banjarmasin City

    Get PDF
    Free sex behavior among teenagers in Banjarmasin City is currently more worrying parents. Lack of sex education affects teenagers tend to commit premarital sexual intercourse that will cause unintended pregnancy and early marriage. Parent-child communication and exposure of both printed and electronic media are the way to reduce risky sexual behavior. This study aimed to determine correlation between communication of parents and sexual content intake with sexual behavior of teenagers at senior high schools (SHS) in Banjarmasin City. To reach the aim, analitic survey study with cross-sectional approach was conducted on July – October 2015 at two state SHS and one private SHS in Banjarmasin City. Subject was the second grade of SHS students from three SHS as taken with purposive sampling. Variables of study were teenage sexual behavior, communication of parents and sexual content intake measured using questionnaire. Test reliability was stated with cronbach alpha 0.746. Data obtained was analyzed using chi-square test and logistic regression test. Results showed that communication of parents and sexual content intake affected teenage sexual behavior, meanwhile age, sex and family structure did not affect teenage sexual behavior. A good communication of parents and low intake of sexual content may give a protection against risky sexual behavior among teenagers.AbstrakPerilaku seks bebas di kalangan remaja Kota Banjarmasin belakangan ini semakin mengkhawatirkan para orangtua. Kurangnya pendidikan seksologi berdampak para remaja cenderung melakukan hubungan seksual pranikah yang akan berakibat pada kehamilan yang tidak diinginkan dan pernikahan dini. Komunikasi orangtua-anak dan paparan media baik media cetak maupun elektronik merupakan cara untuk mengurangi perilaku seksual berisiko. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan komunikasi orangtua dan asupan muatan seksual dengan perilaku seksual remaja sekolah menengah atas (SMA) di Kota Banjarmasin. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian survei analitik dengan pendekatan potong lintang dilakukan pada bulan Juli – Oktober 2015 di dua sekolah negeri dan satu sekolah swasta di Kota Banjarmasin. Subjek penelitian adalah siswa SMA kelas XI dari tiga SMA yang diambil secara purporsive sampling. Variabel penelitian adalah perilaku seksual remaja, komunikasi orangtua, dan asupan muatan seksual diukur menggunakan kuesioner. Reliabilitas uji dinyatakan dengan cronbach alpha 0,746. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji kai kuadrat dan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi orangtua dan asupan muatan seksual memengaruhi perilaku seksual remaja sedangkan usia, jenis kelamin, dan struktur keluarga tidak memengaruhi perilaku seksual remaja. Komunikasi orangtua yang baik dan asupan muatan seksual yang rendah dapat memberikan proteksi terhadap perilaku seksual berisiko pada remaja

    Child Health Improvement through Implementation of Food Safety Model

    Get PDF
    Food is the most important basic human need, in which it’s fulfillment becomes major component of human right to embody qualified human resources in Indonesia. However, there have been some problems to embody it, such as food safety problem with percentage of foodborne ilness case that remains high. This study aimed to analyze the situation of Street Food for School Children (SFSC) safety practice nowadays and select the most effective and efficient food safety model alternative implemented on Micro and Small Enterprises (MSE) in order to improve food safety performance, so child health improvement may occur. This study was conducted in the second quarter until the early third quarter of 2015 through field survey and expert survey by taking case study in elementary school environment. Field survey involved 102 respondents was conducted to enable situational analysis and expert survey was conducted to select the most effective and efficient food safety model implemented in SFSC MSE with Analytical Hierarchy Process. Field survey results showed 91% school child respondents ever suffered from health disorders after consuming SFSC. Moreover, 100% SFSC MSE respondents did not wear masks nor gloves before producing food/beverage, 62% still used nearby well water as water source for SFSC production and 86% used Food Additives. Expert survey results showed Five Keys to Safer Food model selected as the most effective and efficient food safety model implemented in SFSC MSE.AbstrakPemenuhan akan pangan merupakan komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Namun, masih terdapat permasalahan dalam mewujudkannya, di antaranya masalah keamanan pangan dengan persentase kasus keracunan makanan masih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis situasi pelaksanaan keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) yang ada saat ini dan memilih alternatif model keamanan pangan yang paling efektif dan efisien diterapkan di usaha mikro kecil (UMK) guna meningkatkan keamanan pangan yang dihasilkannya sehingga terjadi peningkatan kesehatan anak. Penelitian dilakukan pada kuartal II tahun 2015 sampai dengan awal kuartal III tahun 2015 melalui survei lapangan dan survei pakar dengan mengambil studi kasus di lingkungan sekolah dasar. Survei lapangan melibatkan 102 responden untuk memungkinkan dilakukannya analisis situasional dan juga survei pakar untuk memilih model keamanan pangan yang paling efektif dan efisien untuk diterapkan pada UMK PJAS dengan Analytical Hierarchy Process. Hasil survei lapangan menunjukkan 91% responden anak sekolah pernah mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi PJAS. Selain itu, 100% responden UMK PJAS tidak menggunakan masker dan sarung tangan sebelum mengolah makanan/minuman, 62% masih menggunakan air sumur sebagai sumber air untuk produksi PJAS dan 86% menggunakan Bahan Tambahan Pangan. Hasil survei pakar menunjukkan model Lima Kunci Pangan Aman terpilih sebagai model keamanan pangan yang paling efektif dan efisien diterapkan pada UMK PJAS

    Environmental, Behavioral Factors and Filariasis Incidence in Bintan District, Riau Islands Province

    Get PDF
    Microfilaria rate of filariasis in Bintan District remains high, especially in Teluk Bintan, Teluk Sebong, and Sri Kuala Lobam Subdistricts. This study aimed to determine relation between environmental risk factors (physical, biological, chemical, socio-cultural, economic) and behavioral factors with filariasis incidence. The study was an analytic observational study conducted on May – September 2015 using case control design, which consisted of a total of case as many as 33 filariasis sufferers and a total of control as many as 65 non filariasis sufferers as taken by cluster sampling technique. Population of study was people in Bintan District. Data obtained were then analyzed by using chi square and logistic regression test. Results showed correlation of knowledge (p value= 0.045; OR = 1.365), wire-net use (p value = 0.048; OR = 1.381), stockyard (p value= 0.018; OR = 3.5), swamp (p value = 0.038; OR = 1.358), plantation/forest (p = 0.035; OR = 0.373) and mosquito-net use (p value = 0.036; OR = 1.417) as risk factor of filariasis incidence. In conclusion, variables most related to filariasis incidence in Bintan District are knowledge (OR = 6.154), mosquito-net use (OR = 3.861) and distance to swamp (OR = 3.668).AbstrakTingkat mikrofilaria filariasis di Kabupaten Bintan masih tinggi, khususnya di Kecamatan Teluk Bintan, Teluk Sebong, dan Sri Kuala Lobam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor risiko lingkungan (faktor fisik, biologi, kimia, sosial budaya, ekonomi) dan faktor perilaku dengan kejadian filariasis. Jenis penelitian observasional analitik yang dilakukan pada Mei – September 2015 dengan desain kasus kontrol, yang terdiri dari jumlah kasus 33 orang penderita filariasis dan kontrol 65 orang bukan penderita filariasis dengan teknik cluster sampling. Populasi penelitian adalah masyarakat di Kabupaten Bintan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji kai kuadrat dan regresi logistik. Hasil menunjukkan adanya hubungan pengetahuan (nilai p = 0.045; OR = 1.365), kawat kasa (nilai p = 0.048; OR = 1.381), kandang ternak (nilai p = 0.018; OR = 3,5), rawa-rawa (nilai p = 0.038; OR = 1.358), perkebunan/hutan (nilai p = 0.035; OR = 0.373), dan penggunaan kelambu (nilai p = 0.036; OR = 1.417) sebagai faktor risiko kejadian filariasis. Sebagai kesimpulan, variabel yang paling berhubungan dengan kejadian filariasis di Kabupaten Bintan adalah pengetahuan (OR = 6.154), penggunaan kelambu (OR = 3.861) dan jarak dengan rawa-rawa (OR = 3.668)

    Impact of Husband’s Participation in Antenatal Care on the Use of Skilled Birth Attendant

    Get PDF
    Alternative approaches are needed to address the issues of reproductive health, one of which is by increasing participation of men on women’s sexual and reproductive health. This study aimed to investigate the impact of husband’s participation in antenatal care on the use of skilled birth attendant after controlling socio-demographic characteristics. Samples were 4,000 women aged 15 – 49 years who had their last childbirth in the past year before the survey drawn from 2012 Indonesia Demographic and Health Survey. The study used binary logistic regression model to identify the impact of husband’s participation in antenatal care on the use of skilled birth attendant after controlling socio-demographic and maternal characteristics. The odds after controlling other factors indicated that women whose husbands attended at least one antenatal care visit were more likely to use skilled birth attendants than those whose husbands did not attend. In conclusion, husband’s participation, through attending antenatal visit, positively affects the use of skilled birth attendant by women during delivery.AbstrakPendekatan alternatif diperlukan untuk mengatasi persoalan kesehatan reproduksi, salah satunya dengan meningkatkan partisipasi laki-laki pada kesehatan reproduksi perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri dampak partisipasi suami dalam pelayanan antenatal pada penggunaan tenaga persalinan terlatih setelah mengontrol karakteristik sosial demografi. Sampel sebanyak 4.000 perempuan berusia 15 – 49 tahun yang memiliki persalinan terakhir pada tahun lalu sebelum survei diambil dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012. Penelitian menggunakan model regresi logistik biner untuk mengidentifikasi dampak partisipasi suami dalam pelayanan antenatal pada penggunaan tenaga persalinan terlatih setelah mengontrol karakteristik ibu dan sosial demografi. Peluang setelah mengontrol faktor lainnya mengindikasikan perempuan yang suaminya datang setidaknya satu kali kunjungan pelayanan antenatal lebih berpeluang menggunakan tenaga persalinan terlatih dibandingkan yang suaminya tidak datang. Sebagai kesimpulan, partisipasi suami dengan berkunjung ke pelayanan antenatal secara positif berdampak pada penggunaan tenaga persalinan terlatih oleh perempuan selama bersalin

    Coronary Heart Disease Risk Factors among Women Aged Older than 45 Years Old in Makassar

    Get PDF
    Cardiovascular disease causes 8.6 million deaths of women every year, which is the major cause of death by one-third of all deaths of women in the world. Half of all deaths of women older than 50 years old is caused by cardiovascular and stroke diseases. This study aimed to analyze risk factors related to coronary heart disease among women aged older than 45 years at Dody Sarjoto Makassar Air Force Hospital 2016. The total of sample was 76 consisting of 64 cases of coronary heart disease and 12 non-coronary heart disease. Determination of sample used purposive sampling. Primary data were obtained through interview to respondents using questionnaire and direct interview. Data were analyzed by using contingency correlation coefficient (Exp (B)) test to identify significant relation between dependent and independent variables. Results found were hypertension (Exp (B) = 0.309), obesity (Exp (B) = 0.140), diabetes mellitus (Exp (B) = 0.164) and dyslipidemia (Exp (B) = 0.185), as proven having relation with coronary heart disease among women aged older than 45 years, and the factor which had the most significant relation was dyslipidemia.AbstrakPenyakit kardiovaskuler menyebabkan 8.6 juta kematian pada perempuan setiap tahun, yang merupakan penyebab kematian terbanyak, yaitu sepertiga dari seluruh kematian perempuan di seluruh dunia. Setengah dari seluruh kematian perempuan berusia di atas 50 tahun disebabkan oleh penyakit jantung dan stroke. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan penyakit jantung koroner pada perempuan usia > 45 tahun di Rumah Sakit TNI AU Dody Sarjoto Makassar. Besar sampel sebanyak 76 sampel yang terdiri dari 64 kasus penyakit jantung koroner dan 12 kasus non penyakit jantung koroner. Penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara terhadap responden dengan menggunakan kuesioner dan wawancara langsung. Data dianalisis menggunakan uji koefisien korelasi kontingensi (Exp (B)) terhadap variabel independen dan dependen. Adapun hasil yang ditemukan adalah obesitas (Exp (B) = 0.140), diabetes mellitus (Exp (B) = 0.164), dan dislipidemia (Exp (B) = 0.185) terbukti memiliki hubungan dengan kejadian penyakit jantung koroner pada perempuan usia > 45 tahun dan faktor yang memiliki hubungan paling besar adalah dislipidemia

    Influence of Household Environment and Maternal Behaviors to Upper Respiratory Infection among Toddlers

    Get PDF
    Upper respiratory infection (URI) in developing countries causes high morbidity among toddlers. Indonesia Health Ministry reported that non-pneumonia acute respiratory infection (ARI) increased by 2.6% from 2007 to 2011. Risk factors which may contribute to URI include environment and behavior. This study aimed to investigate environmental and behavioral factors with URI among toddlers. This case control study was conducted on February – April 2015 among toddlers in Tamansari that is a slum area in Bandung City. Case was 55 mothers with toddlers suffering from URI who came to primary health care, meanwhile control was twice bigger than cases selected from the environment and matched for age, sex and nutritional status. Environmental factors were density, humidity, ventilation, temperature and smoke disposal. Meanwhile, behavioral factors were hand-washing, mother’s smoking behavior, the use of mask, vitamin A consumption and exclusive breastfeeding. Results of study showed that environmental factor related to URI was only density with p value = 0.021 and OR = 2.843 (CI 95% = 1.168 – 6.920). None of maternal behavior factor was related to URI. Reducing density is an important and challenging issue in slum area, same as similary health promotion and prevention concerning URI are still necessary to reduce the risk of this disease among toddlers in urban slum area. AbstrakInfeksi saluran pernapasan akut atas (ISPA atas) di negara berkembang menyebabkan morbiditas tinggi pada anak bawah usia lima tahun (balita). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa ISPAnonpneumonia meningkat 2,6% dari tahun 2007 ke 2011. Faktor risiko yang dapat berkontribusi termasuk lingkungan dan perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki faktor perilaku dan lingkungan dengan ISPA atas pada balita. Studi kasus kontrol ini dilakukan dari Februari-April 2015 pada balita di Tamansari yang merupakan daerah kumuh di Kota Bandung. Kasus adalah 55 ibu dengan balita menderita ISPA atas yang datang ke puskesmas, sedangkan kontrol dua kali lebih besar dari kasus dipilih dari lingkungan dan cocok untuk usia, jenis kelamin, dan status gizi. Faktor lingkungan adalah kepadatan, kelembaban, ventilasi, suhu, dan pembuangan asap. Sedangkan perilaku adalah mencuci tangan, perilaku merokok ibu, pemakaian masker, konsumsi vitamin Adan ASI eksklusif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan yang berkaitan dengan ISPA atas hanya kepadatan dengan nilai p = 0,021 dan OR = 2,843 (CI 95%: 1,168 – 6,920). Tidak terdapat faktor perilaku ibu yang berhubungan dengan ISPA atas. Pengurangan kepadatan merupakan masalah penting dan menantang di daerah kumuh, sama halnya dengan promosi kesehatan dan pencegahan tentang ISPA atas masih penting untuk mengurangi risiko penyakit ini pada balita di daerah kumuh perkotaan

    Study on Clinical, Histopathological Features and Evaluation Results of Skin Cancer Treatment in Can Tho Oncology Hospital

    Get PDF
    Skin cancer as the most common cancer diagnosis tend to be increasing. This condition is a particularly significant issue in developed countries. This study aimed to describe the clinical features, histopathological features, complications, and early surgical treatment outcomes of skin cancer in Can Tho Oncology Hospital from 2014 to 2015. This descriptive prospective study involved all patients with non-melanoma skin cancer that were examined and treated at Can Tho Oncology Hospital from July 2014 to March 2015. There were 78 cases selected. Skin cancer was found to be more common among older patients. The prevalence of basal cell carcinoma was found higher than squamous cell carcinoma with percentage worth 76.9% and 23.1% respectively. Worth 73.1% of all the patients in the study underwent surgery with wide resection and reconstruction. In this study, most patients were the elderly. The basal cell carcinoma was the most common. The main treatment was surgery with wide resection and reconstruction. The complication was rare 1.3% with skin flap necrosis. AbstrakKanker kulit, diagnosis kanker paling umum, cenderung mengalami peningkatan. Kondisi ini secara khusus merupakan isu penting di negara-negara maju. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fitur klinis, fitur hispatologis, komplikasi dan hasil pengobatan bedah awal kanker kulit di Rumah Sakit Onkologi Can Tho dari tahun 2014 sampai 2015. Penelitian deskriptif prospektif ini melibatkan seluruh pasien dengan kanker kulit nonmelanoma yang diuji dan diobati di Rumah Sakit Onkologi Can Tho dari Juli 2014 sampai Maret 2015. Terdapat 78 kasus terpilih. Kanker kulit ditemukan lebih umum pada pasien yang lebih tua. Prevalensi karsinoma sel basal ditemukan lebih tinggi dibandingkan karsinoma sel skuamosa dengan persentase masing-masing 76,9% dan 23,1%. Sebesar 73,1% dari seluruh pasien dalam penelitian ini menjalani bedah dengan rekonstruksi dan reseksi yang lebar. Dalam penelitian ini, sebagian besar pasien adalah lanjut usia. Karsinoma sel basal adalah yang paling umum. Pengobatan utama adalah bedah dengan rekonstruksi dan reseksi yang lebar. Komplikasi jarang terjadi 1,3% dengan nekrosis lipatan kulit

    Lama Merokok dan Jumlah Konsumsi Rokok terhadap Trombosit pada Laki-laki Perokok Aktif

    Get PDF
    Jumlah perokok dan jumlah rokok yang dikonsumsi mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Rokok dapat memengaruhi trombosit yang dapat menyebabkan gangguan kardiovaskular. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang yang bertujuan untuk menganalisis lama merokok dan jumlah rokok yang dikonsumsi terhadap jumlah trombosit, mean platelet volume (MPV), platelet distribution width (PDW), platelet crit (PCT), dan platelet large cell ratio (PLCR). Penelitian dilakukan di Pabrik Garmen Cimahi pada tahun 2014 yang diikuti oleh 31 laki-laki perokok aktif berusia 19 - 50 (32,97 + 10,28) tahun, 70,9% di antaranya sebagai perokok sedang. Analisis data dilakukan secara deskriptif, uji normalitas Shapiro-Wilk, dan uji korelasi Spearman’s rho. Peserta telah merokok selama minimal dan maksimal dengan rata-rata (+ SB), yaitu 3 - 25 tahun (10,48 + 6,33) dan konsumsi rokok sebanyak 5 - 25 batang per hari (13,10 + 4,99). Jumlah trombosit 171 - 422 (280,9 + 56,2) x 10^3 sel/mm3, MPV 8,8 - 13,6 (10,14 + 0,93) fL, PDW 8,7 - 13,8 (10,27 + 1,22) fL, PLCR 14,4 - 38,8% (24,91 + 5,46), dan PCT 0,1 - 0,4%(0,28 + 0,06). Sebaran ukuran trombosit ditemukan normal, namun dengan ukuran besar sesuai nilai MPV dan PLCR yang tinggi. PCT normal berkorelasi sangat kuat dengan jumlah trombosit. Jumlah batang rokok yang dikonsumsi berkorelasi lemah dengan lamanya merokok. Lama merokok dan jumlah rokok yang dikonsumsi berkorelasi negatif dengan jumlah trombosit, MPV, PDW maupun PLCR.Smoking Period and Number of Cigarette Consumption with Thrombocyte among Active Male SmokersNumber of smokers and cigarette consumption are increasing from time to time. Cigarettes influence thrombocytes which may cause cardiovascular disorder. This study was a cross sectional study aiming to analyze smoking period and cigarette consumption number toward the number of thrombocytes, MPV, PDW, PCT and PLCR. This study was conducted at Cimahi Garment Factory in 2014 participated by 31 active male smokers in age of 19 - 50 (32,97+10,28) years old in which 70,9% of them were medium smokers. Data analysis was conducted descriptively, using Shapiro-Wilk normality test and Spearman’s rho correlation test. Participants had been smoking for the minimum and maximum 3 - 25 (10.48 + 6.33) years and 5 - 25 (13.10 + 4.99) cigarettes in average per day. The number of thrombocytes was worth 171 - 422 (280,9 + 56,2)x10^3 cells/mm3, MPV 8.8 - 13.6 (10.14 + 0.93) fL, PDW 8.7 - 13.8 (10.27+ 1.22) fL, PLCR 14.4 - 38.8% (24.91 + 5.46) and PCT 0.1 - 0.4% (0.28 + 0.06). PDW was found normal with the giant shape in accordance with the high MPV and PLCR value. PCT was normal correlated strongly with thrombocyte number. The cigarette consumption number had a weak correlation with the smoking period. The smoking period and the cigarette consumption number had a negative correlation with the number of thrombocytes, MPV, PDW and PLCR

    761

    full texts

    828

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Kesmas: National Public Health Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇