EKSPRESI
Not a member yet
78 research outputs found
Sort by
Analisis Musikal pada Proyek Video Musik “SM Remastered”
Dalam era industri musik kontemporer, remastering dipahami sebagai upaya mengemas ulang suatu video musik baik dari aspek audio maupun video dengan ide dan kreativitas yang baru. Sehingga video musik tersebut memiliki peningkatan kualitas dan dapat dinikmati oleh pendengar. Proyek SM Remastered mengemuka dengan banyaknya video musik dari artis-artis SM Entertainment yang dirilis pada tahun 1990-an hingga 2000-an. Hasil remastering dipublikasikan melalui media platform Youtube. Beberapa penelitian sebelumnya terkait dengan SM Remastered mengarah pada bisnis musik. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan struktur musikal video musik antara versi sebelum remastering dengan sesudah remastering. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pengambilan data-data berupa studi diskografi, studi literatur, pustaka, dan dokumen yang bersifat deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya kemasan berbeda dari video musik SM Remastered dari segi struktur musikal, yaitu bagian introduksi dan penutup dengan kontras yang menonjol. Pengolahan konsep dan penyuntingan yang mengedepankan kualitas merupakan indikator penentu bagi keberhasilan pemasaran yang dilakukan. Kata kunci: video musik, remaster, SM Remastered, K-Pop AbstractIn the era of the contemporary music industry, remastering is understood as an effort to repackage a music video from both audio and video aspects with new ideas and creativity so that the music video becomes more interesting and can be enjoyed by audiences around the world. The SM Remastered project emerged with many music videos from SM Entertainment artists released in the 1990s to 2000s being made in remastered versions and published via the YouTube platform. Some previous research related to SM Remastered focuses on the music business. This article aims to determine the differences in the musical structure of music videos between the versions before the remaster and after the remaster. The research uses qualitative methods by collecting data in the form of discography studies, literature studies, libraries and descriptive documents. The results of this research show that there is a different packaging for the SM Remastered music video in terms of musical structure, namely the introduction and ending parts with prominent contrast. Conceptualization and editing that emphasize quality are key indicators for successful marketing of works
Cyber Crime Sebagai Sumber Penciptaan Skenario Film Pendek "Pitch Bill"
Skenario dengan judul Pitch Bill merupakan sebuah karya yang berfokus pada isu cyber crime masa kini. Karya ini berangkat dari keresahan yang tumbuh akibat melihat grafik korban penipuan online yang kian naik, serta bentuk empati kepada orang-orang terdekat yang menjadi korban dari kasus penipuan online sekaligus menjadi narasumber wawancara dalam proses pengumpulan data. Penciptaan ini menggunakan teori kriminologi untuk menciptakan latar belakang tokoh-tokoh dengan didukung oleh data dari hasil wawancara, sebelum akhirnya dikemas menjadi sebuah karya fiksi dengan format filmis. Penerapan teori kriminologi, film komedi drama, dan skenario film guna mendukung proses kreatif serta inovatif. Pengumpulan data yang dilakukan setelah terciptanya ide dan konsep cerita bermaksud untuk dijadikan sebagai kriteria dalam proses pencarian data. Hal tersebut guna membantu dalam proses pengembangan untuk dijadikan skenario film yang utuh. Pitch Bill menceritakan tentang Kaivan yang membantu Sarah dalam produksi untuk film tugas akhirnya sebagai produser, namun Kaivan menggunakan jasa pinjaman online untuk dijadikan dana produksi film Sarah. Skenario film pendek Pitch Bill diproduksi menjadi sebuah film pendek. Produksi film pendek ini berupa proyek kerja sama antara mahasiswi jurusan Teater ISI Yogyakarta dengan mahasiswi jurusan Televisi dan Film Universitas Padjajaran. Kata kunci: Cyber Crime, Film Scenario, Comedy Drama Film, Online Lending, Pitch Bill AbstractCybercrime as a Source of Inspiration for the Creation of the Short Film Script Pitch Bill. Scenario called Pitch Bill focuses on current cyber crime issues. The scenario stems from the anxiety that has grown as a result of seeing the increasing graph of online fraud victims, as well as a form of empathy for the dearest one who have become victims of online fraud cases as well as being sources in the research process. The process of creating the background for the characters uses criminology theory supported by data from interviews, before finally turned into a work of fiction in filmic format. Application of criminological theory along with comedy drama film and film scenario to support creative and innovative process. The data collection carried out after the creation of story ideas the idea is intended to be used to classify in the data search process. This is to assist in the development process to become a complete film scenario. Pitch Bill tells the story of Kaivan who helps Sarah with the production of her final film as a producer, but Kaivan uses an online loan service as the main funds for Sarah’s film production. “Pitch Bill’s” short movie scenario was produced into a short movie. The production of this short movie is a collaborative project between the sutdent of theater department of ISI Yogyakarta and the student of television and film department of Padjajaran University. Keywords: Cyber crime, Film Scenario, Comedy Drama Film, Online Lending, Pitch Bil
Transformasi Orkes Dangdut Menjadi Orkestra Dangdut dalam Perspektif Sosial Budaya: Kidung Etnosia
AbstrakDangdut adalah jenis musik populer di Indonesia. Melihat perkembangannya, tentu tidak terlepas dari elemen-elemen musiknya. Perkembangan tersebut juga terjadi pada kelompok musik Kidung Etnosia di Wonosari. Kajian terhadap musik dangdut pada dasarnya merupakan sebuah kajian tentang bentuk, struktur, orkestrasi, gaya dan sejumlah komponen musik lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta menganalisis bentuk dan struktur sajian kolaborasi musik dangdut dengan alat musik Barat pada kelompok musik Kidung Etnosia dalam konteks perubahan sosial budaya dan ekonominya. Untuk mencapai pemahaman yang menyeluruh terhadap masalah yang dikaji, digunakan paradigma antropologi yaitu Strukturalisme Levi-Strauss. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pengumpulan data melalui pengamatan terlibat (participatory observation), wawancara, dan studi literatur. Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa masyarakat Wonosari mampu menerima sajian orkestra dangdut karena sajiannya tidak meninggalkan unsur dangdut asli. Sajian orkestra dangdut merupakan bagian dari seni yang mengalami perubahan dalam konteks perubahan sosial budaya dan ekonomi masyarakat Wonosari. Sebagai kota yang kaya akan seni budaya lokal di dalamnya termasuk Kidung Etnosia yang awalnya hanya memainkan genre musik karawitan, kerocong, dangdut, campursari dengan format asli kini sudah mengalami perubahan yang membawa energi positif untuk membuka wawasan masyarakat khususnya Wonosari tentang musik Barat. Tentunya dengan tanpa meninggalkan kaidah-kaidah dalam musik aslinya.Kata kunci: Dangdut, Orkestra Dangdut, Sosial Budaya AbstractDangdut is a type of popular music in Indonesia. Seeing its development, of course it cannot be separated from its musical elements. This development also occurred in the music group Kidung Etnosia in Wonosari. The study of dangdut music is basically a study of form, structure, orchestration, style and a number of other musical components. This study aims to identify and analyze the form and structure of the performance of dangdut music collaboration with Western musical instruments in the Song of Ethnosia music group in the context of socio-cultural and economic changes. To achieve a thorough understanding of the problems studied, an anthropological paradigm, namely Levi-Strauss Structuralism, is used. This research is a qualitative research with data collection through participant observation, interviews, and literature studies. Based on the results of the research, it can be seen that the Wonosari people are able to accept dangdut orchestral performances because the performances do not leave the original dangdut elements. Dangdut orchestra performances are part of the arts that have undergone changes in the context of socio-cultural and economic changes in the Wonosari community. As a city that is rich in local cultural arts, including the Song of Ethnosia, which initially only played the musical genres of karawitan, kerocong, dangdut, campursari with the original format has now undergone a change that brings positive energy to open people's insight, especially the Wonosari people, about Western music. Of course, without leaving the rules in the original music.Keywords: Dangdut, Dangdut Orchestra, Socio-Cultura
Musik Viral dalam Peningkatan Brand Awareness pada Konten TikTok
Di era digital dan perkembangan media sosial, TikTok menjadi platform yang populer untuk berbagi konten kreatif dalam pemasaran digital. Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan musik viral sebagai elemen kunci dalam mencapai daya tarik pada konten TikTok. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis upaya meningkatkan Brand Awareness pada konten TikTok yang dihasilkan oleh Widya Robotics melalui penggunaan musik viral. Brand Awareness bertujuan untuk menggambarkan keberhasilan pemasaran dari segi eksposur dan interaksi audiens terhadap merek. Konten diunggah pada akun TikTok Widya Robotics dengan penulis sebagai divisi Social Media Specialist. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus tunggal yaitu studi tentang kekhususan dan kompleksitas suatu kasus, untuk memahami aktivitasnya dalam keadaan penting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan musik viral secara efektif dapat meningkatkan Brand Awareness konten TikTok Widya Robotics. Terjadi peningkatan yang signifikan dalam jumlah tampilan, interaksi, dan keterlibatan audiens setelah implementasi strategi ini.Kata kunci: musik viral, brand awareness, tiktok, media sosialAbstractViral Music in Enhancing Brand Awareness on TikTok Content. In the digital era and the development of social media, TikTok has become a popular platform for sharing creative content in digital marketing. This research focuses on utilizing viral music as a key element in achieving traction on TikTok content. This research aims to explore and analyze efforts to increase Brand Awareness on TikTok content produced by Widya Robotics through the use of viral music. Brand Awareness aims to describe marketing success in terms of audience exposure and interaction with the brand. The content is uploaded on Widya Robotics' TikTok account with the author as the Social Media Specialist division. This research uses a qualitative method with a single case study approach, which is a study of the specificity and complexity of a case, to understand its activities in important circumstances. The results showed that effective utilization of viral music can increase Brand Awareness of Widya Robotics' TikTok content. There was a significant increase in the number of views, interactions, and audience engagement after the implementation of this strategy.Keywords: viral music, brand awareness, tiktok, social medi
Komodifikasi Cerita Rakyat pada Media Perangko Indonesia
The Comodification of Folktale on Stamps in Indonesia. The commodification of folktales on stamps can generate a negotiation between the local culture and the cultural-political interest that benefits the government. Stamp does not only function as a payment device in correspondence or merely to be collected. Moreover, stamp is a site full with the complexity of meanings, messages, and interests. A long series of story is condensed by presenting only the essence of the story and the main meaning. That is why it is hoped that the stamp design simply illustrates the key scene. For PT Pos, it is really hoped that the publishing of the folktales stamps did not stop in 2005, but it can be continued by introducing stories from various regions. Keywords: Perangko, filateli, folk stamp
Penggunaan Found Objects sebagai Media Pembelajaran Musik Kelas XII di SMAN 1 Unggulan Muara Enim
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meneliti proses dan juga hasil dari penggunaan found objects sebagai media pembelajaran musik. Keterbatasan fasilitas instrumen musik dan kurangnya SDM yang berlatar belakang musik, membuat pembelajaran musik di SMAN 1 Unggulan Muara Enim sedikit terhambat. Pemilihan media pembelajaran yang tepat, akan membantu proses belajar mengajar meskipun fasilitas instrumen musik yang dimiliki terbatas. Found objects atau benda-benda di sekitar yang mudah dijangkau, dapat dijadikan sebagai media pembelajaran musik. Pedagogi dijadikan sebagai pendekatan dalam metode pembelajaran untuk mengenal hal-hal baru. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswa sangat antusias dan bersemangat selama proses pembelajaran, sangat tertarik pada saat belajar, mampu bekerjasama dan berinteraksi dengan teman sekelompok, serta mengikuti proses belajar mengajar dengan baik. Penggunaan found objects sebagai media pembelajaran, dapat mengasah kreativitas siswa. Siswa kelas XII di SMAN 1 Unggulan Muara Enim sudah mampu mengaplikasikan benda-benda sekitar (found objects) pada pembelajaran. Kata kunci: Media pembelajaran; pedagogi; found objects AbstractPurpose of this research is to study the process and result of using found objects as a media for music learning. The limitedness of music instrument facility and lack of human resource with music background, make music lessons in SMAN 1 Unggulan Muara Enim little overdue. The right choses of learning media, will help learning and teaching process even though the music instrument facility owned is limitedness. Found object or goods in surround that can easy to reach, can be a music learning media. Pedagogy uses as approach in learning method to recognizing new things. This research uses qualitative method with case studies approach. The result of this research show that student are enthusiastic and excited during learning process, very interesting at the time of learning, could afford to work together and interact with friends in team, and also follow the learning and teaching process well. Found object uses as a learning media, can sharpening students creativity. 3th grade students in SMAN 1 Unggulan Muara Enim already capable to apply goods in surround (found object) for learning. Keywords: Learning method, pedagogy, found object
Kursus Musik sebagai Sarana untuk Menemukan Potensi Anak Sejak Dini (Studi Kasus: Majesty Music Course)
Potensi pada anak sebaiknya digali dan ditemukan sejak usia dini sehingga potensi tersebut dapat dikembangkan dengan lebih terarah. Ada begitu banyak cara untuk menemukan serta mengembangkan potensi anak, salah satunya kursus musik. Kursus musik merupakan pembelajaran tentang musik yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan musikal anak. Namun selain mengembangkan kemampuan musikal, kursus musik juga dapat mengembangkan kemampuan lain di luar kemampuan musikal, contohnya kemampuan kognitif, kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi, kreativitas, problem solving, serta yang paling banyak disebutkan adalah kemampuan matematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi yang diperoleh melalui kursus musik dan faktor-faktor yang mendukung potensi tersebut. Penelitian ini dilakukan terhadap murid kursus di Majesty Music Course. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif dengan penyajian berupa studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara langsung terhadap para pengajar serta para orang tua anak. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa anak dapat mengembangkan potensi untuk berkomunikasi dan berinteraksi kepada orang baru, khususnya kepada orang yang lebih tua dari anak tersebut, dan juga dalam mengomunikasikan kesulitan yang dihadapi. Selain itu anak dapat mengembangkan potensi dalam pemecahan masalah. Kursus musik dapat berperan sebagai sarana untuk menemukan potensi anak sejak dini melalui metode dan proses pembelajaran yang diterapkan, yakni memberikan kesempatan kepada anak untuk berkembang dan menjelajahi apa yang menjadi potensinya. Kata Kunci: Kursus Musik, Anak Usia Dini, Majesty Music Course, Komunikasi, Pemecahan Masalah. AbstractChildren's potential should be explored and discovered from an early age so that the potential can be more focused. There are many ways to find and develop children's potential, including music courses. Music courses are learning about music that aims to develop children's musical abilities. However, in addition to musical skills, music courses can also develop other abilities outside of musical abilities, such as cognitive abilities, social and communication skills, creativity, problem-solving, and, most frequently, mathematical ability. This study aims to determine the potential obtained through music courses and the factors that support this potential. This study was conducted on students at the Majesty Music Course. The study was conducted using a qualitative descriptive method with a presentation as a case study. Data collection was carried out through direct observation and interviews with teachers and parents of children. The results of this study indicate that children can develop the potential to communicate and interact with new people, especially with people who are older than the child, and also in communicating the difficulties they face. In addition, children can develop potential in problem-solving. Music courses can act as a means to discover children's potential from an early age through the learning methods and processes applied, namely by allowing children to develop and explore their potential. Keywords: Music Course, Early Childhood, Majesty Music Course, Communication, Problem-Solving
Kendala Mahasiswa Baru dalam Mengikuti Perkuliahan Gitar Klasik pada Tingkat Perguruan Tinggi
Mahasiswa baru program Sarjana di Jurusan Musik umumnya menghadapi kendala dalam mengikuti kuliah gitar klasik karena sebelumnya tidak pernah mempelajari instrument tersebut secara formal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kendala apa saja yang di alami mereka dan mencari kemungkinan solusinya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mengumpulkan informasi dari beberapa mahasiswa aktif gitar klasik yang menghadapi kendala tersebut. Hasil penelitian ini adalah informasi tentang kendala yang mereka hadapi, kemungkinan penyebabnya, dan solusi dari perspektif mahasiswa. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh fakta bahwa seluruh responden tidak bisa membaca not balok sehingga kemandirian dalam mempelajari materi kuliah sangat minim. Guna mengatasi masalah tersebut mereka berkonsultasi kepada para senior. Masalah tersebut sedikit demi sedikit teratasi karena terbantu oleh kuliah-kuliah teori musik dan solfegio. Sebagai kesimpulan, sebenarnya tidak ada kendala yang berarti, kecuali kecemasan dalam menghadapi hal baru karena pada akhirnya dapat teratasi melalui proses adaptasi baik secara formal di dalam perkuliahan maupun di luar perkuliahan. Kata kunci: gitar klasik, perguruan tinggi seni, kendala mahasiswa AbstractNew Student Obstacles in Taking Classical Guitar Lectures at the College. New students of the Bachelor program in the Department of Music generally face obstacles in taking classical guitar courses because they have never studied the instrument formally before. The purpose of this study is to find out what obstacles they experience and find possible solutions. This study uses qualitative research methods by collecting information from several active classical guitar students who face these obstacles. The results of this study are information about the obstacles they face, possible causes, and solutions from a student's perspective. From the results of this study, it was found that all respondents could not read musical notes so independence in studying lecture material was minimal. In order to overcome this problem, they consulted the seniors. This problem was gradually resolved because lectures on music theory and solfeggio helped. In conclusion, there are actually no significant obstacles, except anxiety in dealing with new things because in the end they can be overcome through adaptation processes both formally in lectures and outside lectures. Keywords: classical guitar, art institute, student constraint
INTERPRETASI KONSERTO CELLO NO. 4 KARYA GEORG GOLTERMANN PADA PRAKTIK PEMBELAJARAN CELLO
AbstrakKomposisi konserto karya Georg Goltermann telah terkenal dan menjadi basis materi bagi pelajar cello di seluruh dunia. Salah satu yang paling terkenal yakni konserto cello no. 4 dalam G Mayor Opus 65 karena kekuatan karakter melodinya maupun muatan unsur musiknya. Karya ini populer di kalangan pelajar cello sebagai student concerto karena menawarkan berbagai material musikal yang mendukung pengembangkan teknik permainan dimulai dari fingering, shifting, framing, serta kekayaan dan keindahan musiknya. Komposisi ini juga memberikan kesempatan bagi para cellist untuk mengonsep bagaimana interpretasi yang akan diolah. Artikel ini hendak mengungkap bagaimana material interpretasi yang diinstruksikan oleh Goltermann dapat dikonsep sebagai opsi yang mampu diolah ulang demi terbangunnya ekspresi musik yang tepat dan memikat. Metode yang digunakan adalah observasi latihan dan studi literatur berkenaan dengan komposer dan notasi karya musik. Singkatnya, penulis menemukan bahwa diversitas material yang dimuat dalam karya ini menjadi faktor utama yang berperan dalam membentuk pemahaman tentang interpretasi karyanya. Instrumen cello mengalami deformasi peran dan menawarkan tata cara yang baru lewat berbagai misi pedagogis yang diupayakan oleh komposer seperti Georg Goltermann. Karya konserto-nya menjadi bahan pembelajaran yang penting untuk pengembangan aspek teknis dan interpretatif.Kata kunci: cello, Goltermann, interpretasi, pedagogi, teknik AbstractGeorg Goltermann's cello concertos have achieved worldwide renown and serve as foundational material for cello students across the globe. Among them, Cello Concerto No. 4 in G Major, Opus 65 stands out as particularly renowned due to the strength of its melodic character and the richness of its musical elements. This composition has gained popularity among cello students as a staple concerto, offering a wide range of musical materials that support the development of technical proficiency, including fingering, shifting, and framing, as well as its musical richness and beauty. Moreover, this work allows cellists to conceive their own interpretations. This article aims to unveil the interpretative materials prescribed by Goltermann and how they can be reinterpreted to achieve precise and captivating musical expressions. The research methodology employs observations of practice sessions and a study of literature pertaining to the composer and the musical notation. In conclusion, the author discovers that the diversity of materials presented in this concerto plays a pivotal role in shaping the understanding of its interpretation. The cello as an instrument undergoes a redefined role and offers novel techniques through various pedagogical missions envisioned by a composer such as Georg Goltermann. His concerto works stand as crucial educational resources for advancing technical and interpretative aspects.Keywords: cello, Goltermann, interpretation, pedagogy, technique
Proses Pembelajaran Kreasi Musik Dalam Membentuk Karakter “Profil Pelajar Pancasila (P3)”
AbstrakProgram “Profil Pelajar Pancasila (P3)” dari Kemdikbudristek dilaksanakan untuk membentuk kembali karakter siswa yang mencerminkan nilai luhur Pancasila. SMP Muhammadiyah Srandakan Bantul sebagai satuan pendidikan menerapkan proses pembelajaran kreasi musik untuk membentuk karakter P3 pada siswanya. Aktivitas pembentukan karakter tersebut dianalisis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Kreasi musik di sekolah ini dilaksanakan selama 9 pertemuan dengan materi pengolahan sumber bunyi yang menggunakan limbah bekas seperti botol kaca dan plastik, kaleng cat, kayu, dan karet ban. Proses kreasi musik dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu siswa diminta membawa, mengidentifikasi, mengeksplorasi, melatih, dan menampilkan sumber bunyi secara berkelompok. Proses berkreasi musik ini memberi dampak perubahan sikap siswa yang semakin kolaboratif, peduli, komunikatif, dan inovatif. Dimensi bergotong-royong tampak saat siswa melatih dan menampilkan bunyi kreasi musik secara berkelompok. Dimensi bernalar kritis tampak saat siswa mengidentifikasi dan mengolah sumber bunyi menjadi alat musik. Dimensi kreatif tampak saat mereka memainkan lagu Gundul-Gundul Pacul dan Cublak-Cublak Suweng dengan limbah bekas serta memodifikasi pola ritme musik untuk mengiringi melodi asli dari lagu-lagu tersebut.Kata kunci: kreasi musik, pembentukan karakter, profil pelajar Pancasila AbstractThe "Pancasila Student Profile (P3)" program from the Ministry of Education and Culture was implemented to reshape student characters to reflect the noble values of Pancasila. Muhammadiyah Middle School Srandakan, Bantul, applies a music creation learning process to form the P3 characters in its students. These character formation activities were analyzed using descriptive qualitative research methods with a phenomenological approach. Music creation was carried out over nine meetings with material processing sound sources using used waste such as glass and plastic bottles, paint cans, wood, and tire rubber. The music creation process is carried out through several stages; students are asked to bring, identify, explore, practice, and display sound sources in groups. This process of creating music has an impact on changing students' attitudes and becoming more collaborative, caring, communicative, and innovative. The dimension of working together is visible when students practice and perform musical creations in groups. The critical reasoning dimension appears when students identify and process sound sources into musical instruments. The creative dimension appeared when they played the songs Gundul-Gundul Pacul and Cublak-Cublak Suweng with used items and then modified the rhythmic patterns of the music to accompany the original melodies of these songs.Keywords: music creation, character building, Pancasila student profil