Hikmah Journal of Islamic Studies
Not a member yet
148 research outputs found
Sort by
MASHLAHAH AL-MURSALAH SEBAGAI DALIL DAN METODE IJTIHAD
Abstract
Mashlahah al-mursalah (consideration of public interest) is a part of mashlahah (public interest), functions as argument and method to formulate the law when no legal argument to do or not to do. There is a ulama consensus on the allowance to consider public interest as argument or ijtihad method. This article explores various problem dealing with, ranging from the terminology, etymology, various of it, the requirement of mashlahah al-mursalah, and mashlahah al-mursalah as argument and ijtihad method and the implementation of mashlahah al-mursalah in early period, contemporary and the future.
Abstrak
Mashlahah al-mursalah adalah bahagian dari mashlahah, yang berfungsi menjadi dalil serta alat perumus hukum ketika tidak ada dalil hukum yang menyuruh atau melarang. Maka di sini terdapat ketidaksepakatan ulama tentang kebolehan berhujjah sebagai dalil dan metode ijtihad. Walaupun seperti itu, mashlahah mursalah telah memberikan solusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan perbuatan manusia yang terkait hukum semenjak zaman Nabi Saw. sampai sekarang. Dalam artikel ini akan dipaparkan berbagai persoalan terkait dengan mashlahah al-mursalah, mulai terminology mashlahah al-mursalah dari sisi etimologi dan terminologi, macam-macam, syarat-syarat kehujjahan mashlahah al-mursalah, mashlahah al-mursalah sebagai dalil dan metode ijtihad dan perwujudan mashlahah al-mursalah di zaman klasik, kontemporer dan masa mendatang
SENGKARUT FORMALISASI SYARIAH DI INDONESIA
Abstract
This paper tries to trace the dispute (pro-konta) on sharia formalization in Indonesia and presents the description how far the sharia formalization is implemented. Regardless to the dispute, the difficulties to implement the formalization is no country in the world implement the sharia totally. This research is used social and historical approaches and also literary reviews on legislation, journal, quoting ulama’ ideas and their activities and others related opinions.
Abstrak
Artikel ini berupaya untuk melacak kekacauan (baca: pro-konta) mengenai formalisasi syariat di Indonesia, dan mencoba memberi gambaran seberapa jauh peluang formalisasi syariat ini disetujui. Namun terlepas dari adanya pro dan kontra mengenai gagasan formalisasi syariat, kesulitan dalam mewujudkan formalisasi tersebut adalah hingga saat ini tidak ada satu pun negara di dunia yang menerapkan formalisasi syariat secara utuh. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosial historis dengan menggunakan penelitian kepustakaan melalui pengumpulan dan studi literatur, legislasi, jurnal, dan mengutip pendapat ulama dan aktivis serta pendapat terkait lainnya
MODERASI BERAGAMA DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK MASYARAKAT MULTIKULTUR
Abstract
This article proposes the whole-school approach model, an approach to put multicultural education as strategy to involve all the stakeholders of schools in one system. Islamic education is a sub system of multicultural national education system. Religious moderation in Islamic education is a hidden curriculum, to present Islam as moderate religion, not to serve religious subject as violence and extremism. The strategy or religious moderation can be seen from some aspects, such as teacher, textbook and extra-curricular activities.
Abstrak
Artikel ini menawarkan model whole-school approach, pendekatan yang memandang pendidikan multikultural sebagai sebuah strategi pendidikan yang melibatkan semua elemen sekolah sebagai sebuah sistem. Pendidikan Agama Islam merupakan sub sistem dari sistem pendidikan nasional yang multikultural. Moderasi beragama dalam pendidikan agama Islam dijadikan sebagai hiidden curriculum berarti cara mengajarkan pendidikan agama Islam yang moderat, bukan pendidikan agama yang mengajarkan kekerasan dan keekstreman. Strategi moderasi beragama dalam pendidikan agama Islam untuk masyarakat Indonesia multikultural dapat dilihat dari beberapa aspek antara lain guru, buku ajar dan kegiatan ekstrakurikuler
Islam Dayak: Dialektika Identitas Dayak Tidung dalam Relasi Sosial-Agama di Kalimantan Timur
Dayak Tidung is one of the communities of sub-Dayak from
families of Murut who do dialectic and construct their own
identities independently. Their civilized existence can be a driving
force (trigger power) in building social integration that is often
hurt by the conflict of ethnicity and religion. In addition, it could
act as a breaker of the classical construction of Dayak identity
attached to non-Muslims and non-Malays that could jeopardize
the potency for social integration in East Kalimantan. This study
is aimed to determine the dialectic of the identity of Dayak Tidung,
especially in the aspect of social relation and religion. Thus this
can be understood as: firstly the dialectic of religious identity and
struggle of the identity of Dayak, secondly, the dynamics of the
social-religious relation and its response in articulating Islam in
the middle of the local identity of Dayak, and thirdly the dynamics
of its religiousness and its relation to the community outside of
itself.
Keywords: relation, dialectics, identity
Dayak Tidung adalah salah satu komunitas sub Dayak dari
rumpun Murut yang melakukan dialektika dan mengkontruksi
identitasnya secara mandiri. Keberadaannya yang civilized dapat
menjadi kekuatan pendorong ( trigger power) dalam membangun
integrasi sosial yang kerap terciderai konflik berbasis vis a vis
etnisitas dan agama. Di samping itu bisa berperan sebagai
pembongkar terhadap kontruksi klasik identitas Dayak yang lekat
dengan non Muslim dan non Melayu yang dapat membahayakan
potensi integrasi sosial di Kalimantan Timur.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui dialektika
identitas Dayak Tidung, terutama dalam aspek relasi sosial
dan Agama. Dengan demikian bisa dimengerti beberapa hal.
Pertama, dialektika keberagamaan dan pergulatan identitas
ke Dayakannya. Kedua, dinamika Relasi Sosial-Agama dan
responsinya dalam mengartkulasikan agama (Islam) ditengah
identitas lokal Dayak. Ketiga, dinamika keberagamaannya dan
relasinya terhadap komunitas di luar dirinya.
Kata Kunci: relasi, dialektik
Kesejahteraan Sosial dalam Perspektif Al-Qur'an
The vision of wealth creation in al-Qur’ān is set forth in the
detailed stages. For that, no doubt if al-Qur’ān is a sacred
document that can be used as a guide in the creation of prosperity.
Some terminologies such as maslahat (beneficiaries), aman/iman
(safe/faith), salam (greeting) and others actually show a vision
of humanity from Al’Qur’an. Al-Qur’ān also provides steps for
people to get welfare. The terms of shulh, maslahah, salam, aman
and iman are part of the welfare concept.
Keywords: Welfare, prosperity, social
Visi penciptaan kesejahteraan dalam al-Qur’an dituangkan
dalam tahapan-tahapan yang rinci.Untuk itu, tidak dipungkiri
jika al-Qur’an merupakan dokumen suci yang bisa dijadikan
panduan dalam penciptaan kesejahteraan. Beberapa peristilahan
seperti maslahat, aman/iman, salamdan sejenisnya sebenarnya
menunjukkan visi kemanusiaan dari al-Qur’an. Al-Qur’an juga
memberikan langkah-langkah secara pasti agar seorang manusia
dapat mendapatkan kesejahteraan.
Kata Kunci: Kesejahteraan, sosial
HUKUM TALAQ ISTERI KETIKA HAIDH: SATU ANALISIS HADITH DAN FIQH
Abstract
This article deals with the divorce occurred during the wife’s menstrual period. It aims to examine the status of hadiths on the law of divorce during the wife’s menstrual period and also the opinion of fiqih madhab on it. The research is library research with analysis and descriptive method. Some hadiths on it are analyzed with takhrij method, either the text of hadith or the chains of transmitter (sanad). The article also analyses the opinion of fiqh scholars on the law of divorce during the wife’s menstrual period. Based on shariah, the divorce is allowed if the husband divorce the wife in non-menstrual and before having a sexual intercourse. But if the divorce occurred during the wife’s menstrual period, there are many opinions among ulama. The result of this research shows that majority ulama stated it is unlawful if if the husband divorce the wife during her menstrual period, and his divorce is unlawful. But, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah said that the divorce is not in line with shariah and unlawful and the husband is regarded sin doer.
Abstrak
Artikel ini adalah berkaitan dengan Talak Isteri Ketika Haidh. Penulisan ini bertujuan untuk meneliti status hadis-hadis berkaitan hukum talak isteri ketika haidh serta pandangan mazhab fiqh mengenainya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode deskriptif-analisis. Penulis menganalisis hadis-hadis tersebut melalui kaedah takhrij (redaksi) hadis yaitu, analisis matan (teks) dan sanad hadis seterusnya meneliti pandangan para fuqaha sekitar hukum talak ketika isteri dalam keadaan haidh. Menurut hukum syarak, talak sah apabila suami menceraikan isteri pada saat isteri dalam keadaan suci yang sebelumnya tidak digauli. Namun jika talak dijatuhkan saat isteri dalam keadaan Haidh, antara jumhur dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah serta beberapa fuqaha berbeda pandangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut jumhur ulama, hukum suami yang mentalak isteri ketika Haidh adalah haram dan hukum talaknya adalah sah. Namun, menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, talak tersebut tidak disyariatkan dan talak yang dijatuhkan tidak sah, serta suami tetap dianggap telah berdosa
Implementasi E-Learning dalam Upaya Meningkatkan Kreativitas Dosen dan Mahasiswa di STAI Alhikmah Jakarta
The development of information technology and computer that
develops very fast has positive impact on the daily life of society. The
development of technology results in so many community services
that have implemented ICT (Information and Communication
Technology). In business, we often hear the term of e-business
or e-commerce, in Governancy it is often called by e-government,
and in the field of education it is known by e-learning. E-learning
is an education system that uses electronic application to support
learning and teaching activity using internet media or computer
networks. To find out the utilization of e-learning by lecturers
and students as learning media, in-depth study needs to be
conducted. Islamic Religion College ALHIKMAH Jakarta is a
college institution that tries to apply information technology and
communication as the basis of learning and teaching process in
every subject course held.
Keywords: Implementation, E-Learning, Creativity
Perkembangan teknologi informasi dan komputer yang sangat
cepat, berdampak positif pada kehidupan di masyarakat
sehari-hari. Perkembangan teknologi menghasilkan begitu
banyak layanan masyarakat sudah mengimplementasikan ICT
(Information and Communication Technology). Dalam bisnis
sering kita dengar dengan istilah e-business atau e-commerce, di
dunia pemerintahan biasa disebut dengan istilah e-government
dan bagi dunia pendidikan dikenal dengan istilah e-learning.
E-learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan
aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan
menggunakan media Internet atau jaringan komputer, maupun
dengan komputer standalone. Untuk mengetahui pemanfaatan
e-learning oleh dosen dan mahasiswa sebagai media
pembelajaran perlu dilakukan kajian secara mendalam. Sekolah
Tinggi Agama Islam ALHIKMAH Jakarta merupakan sebuah
lembaga perguruan tinggi yang mencoba menggunakan teknologi
informasi dan komunikasi sebagai dasar dalam setiap proses
belajar mengajar di setiap mata kuliah yang diselenggarakannya.
Kata Kunci: Implementasi, E-Learning, Kreativita
Transformasi Pondok Pesantren dalam Menanggulangi Radikalisme Agama Pada Pondok Pesantren Daerah Penyangga Ibu Kota Jakarta
This article is about the transformation of Islamic boarding
schools in tackling religious radicalism in Islamic boarding
schools in the capital city of Jakarta. This article uses descriptive
methods to obtain the whole picture of the problems found in
the field. The unit of analysis used is The Leader or Pak Kyai,
Teachers and Students, Santri. The findings in this article are:
First, Transforming the purpose of Islamic boarding schools in
overcoming religious radicalism in Islamic boarding schools in the
capital city of Jakarta by trying to create and develop Muslim
personalities who believe and worship unto Allah, good behavior
& character and being useful for society. Islamic boarding schools
guide students to become adult students, act and think critically
and responsibly, also foster an attitude of mutual respect and
appreciate for distinctive cultural, customs, race and every other
person’s abilities. Second, the transformation of the Islamic
boarding school curriculum in overcoming religious radicalism
in Islamic boarding schools in the capital city of Jakarta by
using a curriculum that teaches the science of comparative
Mazhab, so not to give the impression of exclusivity from other
thoughts. Third, Transformation of teaching methods in Islamic
~ HIKMAH, Vol. XIV, No. 1, 2018
boarding schools to overcoming religious radicalism in Islamic
boarding schools in Jakarta’s capital city by increasing the use
of cooperative learning or teaching methods designed to educate
group cooperation. Besides being developed to achieve academic
learning achievements, the method is also effective in developing
social skills and encourages respect for the opinions of others so
that it becomes a way to overcome religious radicalism towards
Santri.
Keywords: Islamic Boarding School, Religius Radicalism
Artikel ini mengenai transformasi pondok pesantren dalam
menanggulangi radikalisme agama pada pondok pesantren
daerah penyangga ibu kota Jakarta. Artikel ini menggunakan
metode deskriptif untuk memperoleh gambaran secara
keseluruhan permasalahan yang ditemukan di lapangan. Unit
analisis yang digunakan adalah Pengasuh atau Kyai Pondok
Pesantren, Guru dan Santri. Temuan dalam artikel ini adalah:
Pertama, Transformasi tujuan pondok pesantren dalam
menganggulangi radikalisme agama di pondok pesantren daerah
penyangga ibu kota Jakarta yaitu dengan berusaha untuk
menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim yang
beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt, berakhlak mulia dan
bermanfaat bagi masyarakat. Pesantren membimbing santri agar
menjadi santri dewasa, bertindak dan berpikir secara kritis dan
bertanggung jawab, juga menumbuhkan sikap saling menghargai
dan menghormati setiap perbedaan budaya, adat istiadat,
ras dan setiap kemampuan orang lain. Kedua, Transformasi
kurikulum pondok pesantren dalam menganggulangi radikalisme
agama di pondok pesantren daerah penyangga ibu kota Jakarta
dengan memasukkan kurikulum yang mengajarkan kepada
ilmu perbandingan mazhab, sehingga tidak memberi kesan
eksklusifisme dari pemikiran lain. Ketiga, Transformasi metode
pengajaran pondok pesantren dalam menganggulangi radikalisme
agama di pondok pesantren daerah penyangga ibu kota Jakarta
dengan memperbanyak penggunaan pembelajaran kooperatif
atau metode pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja
sama kelompok. Di samping dikembangkan untuk mencapai
prestasi hasil belajar akademik, metode itu juga efektif untuk
mengembangkan keterampilan sosial serta mendorong untuk
menghormati pendapat orang lain sehingga menjadi cara untuk
menanggulangi radikalisme agama pada santri.
Kata Kunci: Pondok Pesantren, Radikalisme Agam
Kontekstualisasi Hadis Tentang Transplantasi
Organ transplantation as a medical technique is a new improvement
and discovery in the world of modern medicine. For example, the
first successfully heart Transplantation was carried out in 1967.
Until now many organs or tissues can be transplanted, including
skin, cornea, bones, blood vessels, kidneys, heart, liver, lungs, and
pancreas. While in the review of Islamic law, transplantation is
a contemporary issue, and there are no texts in the Qur’an and
Hadith that explicitly mentioning transplantation.
Because of its increasing widespread of the organ transplants, it
is regarded obligatory to study further in the Islamic perspective
or Hadith on organ transplants. In this article, the author
analyzes the Hadith relating to the transplants, then relates to
the social context and various opinions of the scholars about organ
transplants.
Keywords: Contextualization Hadith, Transplantation
Transplantasi organ sebagai teknik pengobatan merupakan
kemajuan dan temuan baru dalam dunia kedokteran modern.
Misalnya, Transplantasi jantung pertama kali sukses dilakukan
tahun 1967. Hingga kini sudah banyak organ atau jaringan
yang dapat ditransplantasikan, antara lain kulit, kornea, tulang,
pembuluh darah, ginjal, jantung, hati, paru, dan pankreas.
Sementara dalam tinjauan hukum Islam transplantasi ini
merupakan masalah kontemporer, dan tidak ada nash al-
Qur’an dan hadis yang secara eksplisit menyebutkan tentang
transplantasi tersebut.
Karena semakin maraknya transplantasi organ ini, maka
dipandang perlu dikaji lebih jauh dalam perspektif Islam tentang
transplantasi organ tersebut. Dalam artikel ini, penulis mengkaji
hadis yang berkaitan dengan transplantasi, kemudian dikaitkan
dengan konteks sosial serta berbagai pendapat ulama tentang
transplantasi organ tubuh.
Kata Kunci: Kontekstualisasi, Hadis, Transplantas
Pola Asuh Anak Perempuan Gayo Dalam Perspektif Gender
Family is the first social environment where children can interact.
It is in this primary institution that a child experiences parenting.
Prolonged parenting will form a habit in children. Teaching good
habits is very important to do since the beginning of a child’s
life and education through habituation can be done by giving
parenting to children or students.
Parenting between families with one another are different. Many
factors can influence parenting by the family. One of the factors
that determine the shape of parenting is culture, so that among
tribes and others have different forms of parenting.
In providing parenting, the Gayo tribe is strongly influenced by
the traditions and culture which they have. They follow to the
patrilineal kinship system, which is a fatherly manner, and in
principle, this system is a kinship system that draws the lineage of
the father or male ancestors.
Boys have a very important role in the kinship system of the
Gayo tribe, boys are given an important place, because boys are
successors and nobility.
This such parenting is known as gender bias, because boys and
girls get different status and roles based on sex (sex) and not
based on their abilities.
Keywords: Parenting, Parents, Child, Gender Bias, Gayo Tribe
Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama tempat anak
dapat berinteraksi. Pada institusi primer inilah seorang anak
mengalami pengasuhan. Pola asuh yang berkepanjangan
akan membentuk sebuah pembiasaan pada anak. Penanaman
pembiasaan yang baik, sangat penting dilakukan sejak awal
kehidupan anak dan pendidikan melalui pembiasaan dapat
dilakukan dengan cara memberikan pola asuh pada anak/siswa.
Pola asuh anak antara keluarga satu dengan keluarga lainnya
berbeda-beda. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi pola
asuh yang dilakukan keluarga. Salah satu faktor yang turut
menentukan bentuk pola asuh orang tua adalah budaya, sehingga
antara suku satu dengan lainnya mempunyai bentuk pola asuh
berbeda.
Dalam memberikan pola asuh, suku gayo sangat dipengaruhi
oleh tradisi dan budaya yang mereka miliki. Mereka menganut
sistem kekerabatan patrilineal yaitu bersifat kebapaan, dan
pada prinsipnya, sistem ini merupakan sistem kekerabatan
yang menarik garis keturunan ayah atau garis keturunan nenek
moyang laki-laki.
Anak lelaki peranannya sangat penting dalam sistem kekerabatan
suku gayo, anak lelaki diberikan tempat yang penting, karena anak
lelaki merupakan penerus keturunan dan gelar kebangsawan .
Pola asuh seperti itulah yang kemudian dikenal dengan pola
asuh bias gender, karena anak laki-laki dan anak perempuan
mendapatkan status dan peranan berbeda berdasarkan jenis
kelamin (sex) dan bukan berdasarkan kemampuan yang dimiliki.
Kata Kunci: Pola asuh, orang tua, anak, bias gender, suku gayo