Hikmah Journal of Islamic Studies
Not a member yet
148 research outputs found
Sort by
Relasi Timur dan Barat dalam Permasalahan Konflik Suriah
Based on historical fact, between Islam and the West theologically
has strong bond which is on the meeting points and similarities
between Islam and the West that inherit Jewish and Christian
traditions. These three religions inherited the tradition of Prophet
Ibrahim. However, theological similarities between Christianity
and Islam precisely become t he cause of collision between two
of them. Historical problem between Islam and the West can
be seen from the root of the conflict that includes: theological
and political. Conflict between Islam and the West is covered
by political motives. On the contrary, theology is only become
justification to distinguish culturally and theologically between
Islam and the West, basically this difference is more encouraged
by political interest. Conflicts happen in Syiria is not because of
religious factor, but it is more dominated by political and economic
interest. The facts prove that most of Arab countries are the eternal
alliance of the Western block, which was directed by The United
States as the Solely Super Power in the world. Therefore, in the
effort to build agreement and global coalition, actively promote
cooperation. So that, the most important thing right now is the
encounter between Islam and the West, that must be interpreted
as building a dialogue of Civilization, not confrontation or
mutual suspicion, building ideal relationship and also the need of
harmonization between Islam and the West.
Keywords: West, Islam, Conflict
Berdasarkan fakta sejarah, antara Islam dan Barat secara
teologis mempunyai ikatan yang kuat yakni ada titik temu dan
persamaan antara Islam dan Barat yang mewarisi tradisi Yahudi
dan Kristen. Ketiga agama ini mewarisi tradisi Nabi Ibrahim.
Namun, persamaan teologis yang ada antar Kristen dan Islam
justru menjadi penyebab benturan di antara keduanya. Problem
historis antara Islam dan Barat dapat dilihat dari akar konflik
yang meliputi, teologis dan politis. Konflik antara Islam dan
Barat tertutupi dengan motif politik. Sebaliknya, teologis hanya
dijadikan justifikasi untuk membedakan secara kultural dan
teologis antara Islam dan Barat, pada dasarnya perbedaan ini
lebih didorong oleh kepentingan politik. Adalah konflik yang
terjadi di Suriah bukanlah karena faktor agama namun lebih
didominasi oleh faktor politik dan ekonomi. Fakta membuktikan,
bahwa sebagian besar negara Arab adalah aliansi abadi blok
Barat, yang dinakhodai langsung oleh Amerika Serikat sebagai
kekuatan Super Power tunggal dunia. Oleh karena itu dalam
upaya untuk membangun kesepakatan dan koalisi global, untuk
secara aktif mempromosikan kerja sama. Oleh karena itu, yang
terpenting saat ini perjumpaan Islam dan Barat harus dimaknai
sebagai membangun dialog peradaban, bukan konfrontasi atau
saling curiga, membangun hubungan yang ideal serta perlunya
harmonisasi antara peradaban Islam dan Barat.
Kata Kunci: Barat, Islam, Konfli
Pemaksaaan dalam Pendidikan dan Prestasi Belajar
This research was conducted at the Lirboyo Islamic Boarding
School, East Java. The purpose of this study is to find out about
coercion in education and its contribution to student achievement.
We used 65 sample and we used mixed research method. We used
triangulation as the qualitative data validity, and we used the
product moment correlation coefficient and the biserial point
correlation coefficient as the quantitative data validity. We
used data reliability by alpha cronbach and KR 21. The results
showed, the form of coercion in this boarding school by giving
sanctions (punishment). The results also showed, there was a
positive and significant correlation between giving sanctions to
student achievement and sanctions had a contribution to student
achievement of 39.60 percent.
Keywords: Islamic Boarding School, Students, Coercion, Education,
Sanctions.
Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Lirboyo, Jawa Timur.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang
pemaksaan yang dilakukan dalam pendidikan dan kontribusinya
terhadap prestasi belajar siswa. Jumlah sample dalam penelitian
ini sebanyak 65 orang dan metode yang digunakan adalah metode
penelitian campuran (mixed method). Validitas data secara
kualitatif dengan menggunakan triangulasi, secara kuantitatif
dengan menggunakan koefisien korelasi product moment dan
koefisien korelasi point biserial. Reliabilitas data digunakan
dengan alpha cronbach dan KR 21. Hasil penelitian menunjukkan,
bentuk pemaksaan yang dilakukan di pondok pesantren ini dengan
memberikan sanksi (punishment) terhadap pelanggaran yang
dilakukan santri. Hasil penelitian juga menunjukkan terdapat
hubungan yang positif dan signifikans antara pemberian sanksi
terhadap prestasi belajar siswa dan pemberian sanksi memiliki
kontribusi terhadap prestasi belajar siswa sebesar 39.60 persen.
Kata Kunci: Pondok Pesantren, Santri, Pemaksaan, Pendidikan,
Sanksi
Saridinn dalam Perguluman Islam dan Tradisi: Relevansi "Islamisme" Saridin Bagi Pendidikan Karakter Masyrakat Pesisir
Saridin’s popularity in the grassroots of the community is not only
because of the strange attitudes and behavior in the era of kuwalen
(Walisongo) especially when struggling and interacting with Sunan
Kudus. Saridin left many teachings that are still inherent in the
local community in Pati. Saridin’s existence with all existing images
seems to have helped in constructing this public awareness, even in
a particular group, it participates in constructing pattern of beliefs
and value system that embodied in the “Religion of the People.”
Story, legend and history of Saridin in the coastal community remain
strong in the grassroots of the community because the cultural
reproduction process is still ongoing whether through art, literature
or local tradition. In connection with its relation with Islam, Saridin’s
images and traditions can be identified at least into two: Firstly, in
a struggle with tradition, Saridin is known by the innocence and
spirit out of order (status quo) through a resistance with an attitude
of “nggendeng” ie, pretending not to know, to know as it is shown
through attitudes and behaviors of the community of Sedulur Sikep
(sikepisme) in Sukolilo, Pati. Secondly, in a struggle within Islam,
Saridin has created a kind of variant of sufistic-populist Islam namely
Islam that is simple with attitudes and kasunyatan that are not rigid.
Keywords: struggle, folk religion, local tradition.
Kepopuleran Saridin dalam masyarakat bawah (grass root) bukan
saja karena berbagai keanehan sikap dan perilakunya di zaman
kuwalen ( walisongo) terutama ketika bergumul dan berinteraksi
dengan Sunan Kudus. Saridin juga meninggalkan berbagai ajaran
yang masih melekat dalam masyarakat lokal di Pati. Eksistensi
Saridin dengan segala pencitraan yang ada ini agaknya telah turut
mengkonstruksi kesadaran masyarakat, bahkan pada kelompok
tertentu turut mengkonstitusi pola keyakinan dan sistem nilai
sehingga terwujud dalam “ Agama Rakyat.” Cerita, kisah, legenda
dan sejarah Saridin dalam mesyarakat pesisir masih bertahan kuat
di masyarakat bawah karena proses reproduksi budaya masih terus
berlangsung baik melalui seni, karya sastra maupun tradisi lokal.
Berkaitan dengan persentuhannya dengan Islam, citra dan tradisi
Saridin setidaknya dapat diidentifikasi menjadi dua; Pertama
dalam bergumul dengan tradisi, Saridin dikenal dengan keluguan
dan semangat keluar dari tatanan (status quo) melalui perlawanan
dengan sikap “nggendeng” yakni berlagak tidak tahu, untuk tahu
sebagaimana terejawantahkan dalam sikap dan perilaku komunitas
Sedulur Sikep ( sikepisme) di Sukolilo, Pati. Kedua, Saridin dalam
bergumul dalam Islam telah memunculkan semacam varian Islam
sufistik-populis, yakni warna Islam yang sederhana dengan perilaku
dan kasunyatan, tidak terlalu baku.
Kata Kunci: pergumulan, agama rakyat, tradisi loka
Sejarah Sebagai Benteng Kerukunan Beragama (Studi Kasus Masyarakat Muslim Loloan Timur Bali)
Religious harmony becomes more strong if it has any basis of
historical experience. Such harmony is created by the community.
The Muslim community of East Loloan- Bali becomes a model of
this kind of creation of harmony. Although Muslims in Bali are
minority in the number, they are free to perform their worship.
There is a meeting point (kalimatun sawa’) from both Muslim and
non-Muslim communities for a long time. In the past, they had
the same commitment against the invaders. This togetherness
is maintained until now in a different form. Although one of the
Muslim leaders was in power in the community, the power is
handed back to the Hindu community to maintain the continuity
of harmonious relation among adherents of different religions.
This tradition is maintained well up to now.
Keywords: harmony, history, religiousness
Kerukunan umat beragama makin menjadi kokoh jika mempunyai
landasan pengalaman sejarah. Kerukunan seperti ini terbangun
dengan sendirinya oleh masyarakat. Komunitas Muslim Loloan
Timur Bali menjadi contoh model penciptaan kerukunan jenis ini.
Meski muslim Bali termasuk minoritas dari sisi jumlah, mereka
bebas menjalankan ibadahnya. Ada titik temu ( kalimatun sawā’)
dari kedua belah pihak sejak lama. Dahulu melawan penjajah
adalah komitmen bersama. Kebersamaan ini dipertahankan
hingga kini dengan bentuknya yang lain. Meski salah satu tokoh
Islam sempat berkuasa di Komunitas Loloan, toh akhirnya
kekuasaan itu diserahkan kembali ke masyarakat Hindhu untuk
menjaga keberlangsungan hubungan antar pemeluk agama yang
berbeda ini. Kebertahanan tradisi menjaga kerukunan ini hingga
kini masih bisa dirasakan.
Kata Kunci: kerukunan, sejarah, keberagamaa
Islam dan Kearifan Lokal: Dilektika Faham dan Praktik Keagamaan Komunitas Kokoda-Papua dalam Budaya Lokal
The community of Kokoda is a Muslim community of indigenous
Papuans. Their existence in the city of Sorong begins from their
migration from Inawatan, one of the hinterlands of West Papua.
Islam is a religion of the majority of this community and only a
few adherents are Christians. Both adherents are integrated in
the same environment. The topic of interest in this study is the
dialectic of Islam and the local wisdom that is understood and
practiced by this community. In addition, the local wisdom that
is practiced by both adherents is out of religious context, even the
wisdom which is conceived as “brotherhood” or “sapu sodara” is
preserved, maintained and preserved well until it ties emotional
connection of Kokoda tribe. This research aims to find the dialectic
of Islam and local wisdom in the context of religious understanding
of Kokoda community. Therefore, three methods are used for this
research namely observation, interview, and thick description.
The data is processed by phenomenology analysis technique which
is to uncover the social consciousness and collective consciousness
of a community. The results of this study show that in fact the
practice and religious understanding of the community of Kokoda
are from a single concept of “brotherhood” or “sapu sodara”.
Their knowledge of religious is based on trust and motivation. Meanwhile their practices are based on: 1) the establishment of
committees of religious activities, 2) participation in giving alms,
and 3) togetherness in ritual and ceremonial practices. There
are two forms of local wisdom of Kokoda community namely:
1) through behavior and 2) refers to the knowledge (cognitive).
The dialectic of religion and local wisdom in religious practices of
Kokoda also seen in two things: 1) inclusion of religious practices,
and 2) inter-religious acculturation.
Keywords: Religion (Islam), local wisdom, dialectics, ideology and
religious practices, Kokoda.
Komunitas Kokoda adalah komunitas muslim yang berasal dari
penduduk asli Papua. Eksistensinya di Kota Sorong diawali dengan
migrasi dari Inawatan, salah satu daerah pedalaman Papua Barat.
Islam merupakan agama mayoritas yang dianut oleh komunitas
ini dan hanya sebagian kecil saja penganut Kristiani. Keduanya
terintegrasi dalam lingkungan yang sama. Isu yang menarik dalam
kajian ini adalah adanya dialektika agama (Islam) dan kearifan
lokal yang dipahami dan dipraktikkan oleh komunitas ini. Selain
itu, adanya kearifan lokal yang dipraktikkan kedua penganutnya
[Islam-Kristen] di luar konteks agama, bahkan kearifan yang
dikonsepsikan “persaudaraan” atau “sapu sodara” itu dipelihara,
dijaga dan dilestarikan dengan baik hingga mengikat hubungan
emosional-kesukuan Kokoda. Riset ini bertujuan mencari
dialektika agama [Islam] dan kearifan lokal dalam konteks
pemahaman keagamaan komunitas Kokoda. Karenanya,
untuk mengupasnya digunakan tiga metode, yaitu observasi,
interview, dan thick description. Data tersebut diolah dengan
teknik analisis fenomenologi. Analisis ini untuk mengungkap
kesadaran sosial dan kesadaran kolektif dari suatu komunitas
tersebut. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa ternyata praktik dan pemahaman keagamaan komunitas Kokoda bersumber dari
konsep tunggal “persaudaraan” atau “sapu sodara”. Pengetahuan
keagamaannya dilihat pada unsur kepercayaan dan motivasi.
Sedang praktiknya pada; 1) Pembentukan kepanitian kegiatankegiatan keagamaan. 2) Berpartisipasi memberikan sedekah,
dan 3) Bersama-sama dalam ritual dan seremonialnya. Ada dua
wujud kearifan lokal dari komunitas Kokoda; 1) Lewat Perilaku;
2) Mengacu pada pengetahuan (kognitif). Sedangkan, dialektika
agama dan kearifan lokal dalam praktik keagamaan Kokoda juga
dilihat dalam dua hal; 1) Inklusifitas praktik keagamaan dan 2)
Akulturasi budaya antar agama.
Kata Kunci : Agama (Islam), Kearifan Lokal, Dialektika, Faham
dan Praktik Keagamaan, Kokoda
Dirham: Problematika Mata Uang Solusi di Tengah Krisis
The getting worse of domestic currency, the more people will
speculate on the system of currency usage. It will appear parties
argue that the currency usage is no longer relevant in today’s
monetary sistem. The phenomenon then become a strong reason to
impost bi-metal currency which are gold dinar and silver dirham.
In this article, presented problematics of imposing bi-metal
currency, which is dinar dirham -- that can be used as solution
in the midst of economic crisis or precisely it will lead to a new
polemic. Finally, it was found that the dinar and dirham can
not be the absolute solution to handle currency crisis. Because,
the limited availability of gold become the greatest obstacle,
less simple, and can be the trigger of crime. Besides that, crisis
problem is not merely currency problem, but payment balance,
interrelation of foreign transaction in which the economic
condition of other countries as partners.
Keywords: Dinar, Dirham, Solutions, Crisis
Semakin terpuruknya nilai mata uang domestik, maka akan
semakin banyak yang berspekulasi tentang sistem penggunaan
mata uang. Muncullah pihak-pihak yang mensinyalir, jika
penggunan mata uang, sudah tidak lagi relevan dengan kondisi
sistem moneter yang kekinian. Fenomena tersebut yang kemudian
menjadi alasan kuat untuk kembali memberlakukan mata uang
dwi logam yakni dinar emas dan dirham perak.
Dalam artikel ini ditampilkan problematika pemberlakuan mata
uang dwi logam, yaitu dinar dirham—dapat dijadikan solusi di
tengah-tengah krisis ekonomi atau justru akan memunculkan
polemik baru. Akhirnya, ditemukan jawaban bahwa dinar dan
dirham tidak secara mutlak dapat menjadi solusi atas krisis yang
terjadi. Sebab, ketersediaan emas yang terbatas menjadi kendala
terbesar, kurang praktis, dan dapat memicu kejahatan. Selain itu,
persoalan krisis bukan semata-mata persoalan mata uang tetapi
keseimbangan neraca pembayaran, keterkaitan transaksi luar
negeri yang kondisi ekonomi negara lain sebagai mitra.
Keywords: Dinar, Dirham, Solusi, Krisi
IHSAN KEPADA KEDUA ORANG TUA: TINJAUAN TAFSIR SOSIAL KONTEMPORER
Abstract
This study aims to reveal the interpretation of the Koran about doing good (ihsan) to parents which is explicitly mentioned 13 (thirteen) times, and which is mentioned 7 (seven) times directly after Allah swt invites and calls on people to tauhid and thanksgiving. to him. In social practice, how a person has good character to both parents is revealed in this study with Tafsir al-Amthal fi Tafsir Kitabillah al-Munzal by Makarim Syairazi as the primary source. This Interpretasion is a contemporary social interpretation. Meanwhile, the secondary data in this study are other authoritative and relevant social interpretation works. The findings of this research are that the meaning of ihsan applies to both parents in the Koran is in the form of monotheism that must be put forward to accompany the worship of both parents. Ihsan is absolute covering all goodness, including the category whether the religious status of both parents is Muslim or infidel. be civilized when both parents are weak, old and old, who desperately need protection and affection from their children. Be gentle and respectful when communicating with him. Be tawadhu 'and pray for them when they are still alive or not. Always ask Allah for an easy way to serve both parents.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap penafsiran Al-Quran tentang berbuat baik (ihsan) kepada orang tua yang secara tersurat disebutkan sebanyak 13 (tiga belas) kali, dan yang 7 (tujuh) kali disebut langsung setelah Allah swt mengajak dan menyerukan umat kepada tauhid dan sukur kepada-Nya. Dalam praktik sosial, bagaimana seseorang berakhlaq baik kepada kedua orang tua diungkap dalam penelitian ini dengan Tafsir al-Amthal fi Tafsir Kitabillah al-Munzal karya Makarim Syairazi sebagai sumber primer. Tafsir Al-Amthal merupakan tafsir yang bercorak sosial kontemporer. Sedang data sekunder dalam penelitian ini adalah karya tafsir sosial lainnya yang otoritatif dan relevan dengan kajian ini. Temuan penelitin ini adalah bahwa makna berlaku ihsan kepada kedua orang tua dalam Al-Quran adalah berupa tauhid yang harus dikedapankan yang mengiringi kebaktian terhadap kedua orang tua. Ihsan bersifat mutlak meliputi semua kebaikan termasuk kategori apakah status agama kedua orang tua muslim ataupun kafir. bersikap beradab ketika kedua orang tua dalam masa lemah, renta dan tua yang sangat membutuhkan perlindungan dan kasih sayang dari anaknya. Bersuara lembut dan hormat ketika berkomunikasi dengannya. Bersikap tawadhu’ dan mendoakan mereka ketika masih hidup maupun telah tiada. Selalu memohon kepada Allah untuk di anugerahi jalan mudah untuk berkhidmat kepada kedua orang tua
Kompetensi Pendidikan Agama dalam Surat Al-'Alaq Perspektif Tafsir Al-Misbah Karya Muhammad Quraish Shibah
The purpose of this study was to determine the Competence of
Religious Educators based on Q.S. Al-‘Alaq's perspective on the
Tafsir al-Misbah by M. Quraish Shihab. Research that uses the
Pure library research method. The results of this study obtained
data that the competence of religious educators in the Q.S. al-‘Alaq
perspective of Tafsir Al-Misbah by M. Quraish Shihab consists of
pedagogic competence, personality competence, social competence,
and professional competence. This conclusion supports Article
10 of the Law of the Republic of Indonesia number 14 of 2005
concerning teacher competencies.
Keywords: Competence, Religious Educator, Surat al-‘Alaq, Tafsir
al-Misbah
penelitian ini adalah untuk mengetahui Kompetensi
Pendidik Agama berdasarkan Q.S. Al-Alaq perspektif tafsir al-
Misbah karya M. Quraish Shihab. Penelitian yang menggunakan
metode Pure library research. Hasil penelitian ini memperoleh
data bahwa kompetensi pendidik agama dalam Q.S. al-‘Alaq
perspektif tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab terdiri dari
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi
sosial, dan kompetensi profesional. Kesimpulan ini mendukung
Pasal 10 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun
2005 tentang kompetensi guru.
Kata Kunci: Kompetensi, Pendidik Agama, Surat al-‘Alaq, Tafsir
al-Misba
Corak Penafsiran Al-Qur'an Periode Klasik Hingga Modern
Al-Qur'an as a source of knowledge and life, therefore it is needed
a method in exploring the treasure of knowledge which are
contained inside it, not only the method needed. Since the vastness
of interpretation study, so, many kinds of scientific approaches
have been used to understand it. This writing is a part of research
in order to explore many styles of interpretation since classical
period to contemporary, which were compiled and formulated by
the scholars, the writer sees the importance of detecting how far
is that formulation can be used and developed in the al-Qur'an
studies. Until now, interpreter scholars will continue to develop
various fields of science in order to approach the Qur'an, until the
virtues of al-Qur'an can be obtained and used as good as possible.
These interpretation styles use the bi al-ra'yi interpretation form,
which has always been a clash among the scholars in determining
the position of these styles, some accept and some reject.
It is also found in this article that every scholars has differences
in concluding the number of interpretation styles from classical
period until modern, those differences are because of the time
and object that is being researched, at least, the writer finds some
styles of interpretation, such as fikih interpretation style, sufi
interpretation style, philosophy, madzhab interpretation style,
language literature interpretation style, iImi interpretation style,
ilhadi interpretation style, adabi Ijtima’i interpretation style,
haraki interpretation style.
Keywords: Style, Interpretation, Clasic, Modern
Al-Qur’an sebagai sumber ilmu dan kehidupan, olehnya itu
dibutuhkan metode dalam menggali khazanah keilmuan yang
terkandung didalamnya, tidak hanya metode yang dibutuhkan.
Karena betapa luasnya kajian penafsiran sehingga berbagai
pendekatan ilmu digunakan untuk memahaminya. Tulisan
ini merupakan bagian dari penelitian dalam rangka menggali
berbagai corak-corak penafsiran sejak zaman klasik hingga
kontemporer, yang disusun dan dirumuskan oleh para Ulama,
penulis melihat pentingnya mendeteksi sejauhmana rumusan
tersebut dapat digunakan dan dikembangkan dalam kajian al-
Qur’an. Sampai saat ini ulama tafsir akan terus mengembangkan
berbagai bidang keilmuan dalam rangka mendekati al-Qur’an,
hingga mutiara-mutiara al-Qur’an dapat diperoleh dan digunakan
sebaik mungkin. corak-corak penafsiran tersebut menggunakan
bentuk penafsiran bi al-ra’yi, yang sejak dulu terjadi pertentangan
ulama dalam menentukan kedudukan dari corak-corak tersebut,
ada yang menerima dan ada pula yang menolak.
Pada artikel ini juga ditemukan bahwa setiap ulama berbeda
dalam menyimpulkan jumlah corak-corak tafsir dari klasik hingga
modern, perbedaan tersebut disebabkan karena masa dan objek
yang sedang diteliti, setidaknya penelis menemukan beberapa
corak tafsir diantaranya, corak tafsir fikih, corak tafsir Sufi,
Filsafat, corak tafsir mazhab, corak tafsir sastra bahasa, corak
tafsir Ilmi, corak tafsir ilhadi, corak tafsir Adabi Ijtimā’i, corak
tafsir akhlaqy, corak tafsir haraki.
Keywords: Corak, Tafsir, Klasik, Moder
Pengaruh Kemampuan Menghafal Al-Qur'an dan Sikap Siswa Terhadap Hasil Belajar Matematika
The purpose of this study is to determine the effect of ability to
memorize al-Qur'an, students' attitude, and interactions both of
them towards students' learning outcomes in mathematics. The
research method used is the correlational survey method, the
number of sample are 60 students from two classes who conduct
memorization of Al-Qur'an. Data collection was done by using
questionnaire distribution and test technique. Data analysis
using correlation analysis and multiple regression methods.
The statistical test used was t test and F test. Data analysis used
correlation and regression techniques (simple & plural). From the
research results found that: (1) there is a significant influence
between the ability to read Al-Qur'an towards mathematics
learning outcomes (r = 0.883 and Ŷ = 1,276 + 1,182X1). (2)
there is significant influence between students' attitude towards
mathematics learning outcomes (r = 0.876 and Ŷ = 0.509 +
0.138X2). (3) there is significant influence between the ability to
memorize Al-Qur'an and students' attitude towards mathematics
learning outcomes (r = 0.893 and Ŷ = 0.183 + 0.062X1 + 0.689X2).
Keywords: Memorize al-Qur’an, Student’s Attitude, Matematics
Learning Outcame.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
kemampuan menghafal al-Qur’an, sikap siswa dan interaksi
keduanya terhadap hasil belajar matematika siswa. Metode
penelitian yang digunakan adalah metode survey korelasional,
sampel berjumlah 60 siswa dari dua kelas yang menerapkan
hafalan al-Qur’an. Pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan teknik penyebaran angket dan teknik tes. Analisa
data dengan menggunakan metode analisis korelasi dan regresi
ganda. Uji statistik yang digunakan adalah uji t dan uji F. Analisis
data menggunakan teknik korelasi dan regresi (sederhana &
jamak). Dari hasil penelitian ditemukan bahwa: (1) terdapat
pengaruh yang berarti antara kemampuan membaca al-Qur’an
terhadap hasil belajar matematika (r = 0,883 dan Ŷ = 1.276 +
1,182X1). (2) terdapat pengaruh yang berarti antara sikap siswa
terhadap hasil belajar matematika (r = 0,876 dan Ŷ = 0.509 +
0,138X2). (3) terdapat pengaruh yang berarti antara kemampuan
menghafal Al-Qur’an dan sikap siswa terhadap hasil belajar
matematika (r = 0,893 dan Ŷ = 0.183 + 0,062X1 + 0,689X2).
Kata Kunci: Menghafal al-Qur’an, Sikap Siswa, Hasil Belajar
Matematika