Hikmah Journal of Islamic Studies
Not a member yet
    148 research outputs found

    Relasi Timur dan Barat dalam Permasalahan Konflik Suriah

    Full text link
    Based on historical fact, between Islam and the West theologically has strong bond which is on the meeting points and similarities between Islam and the West that inherit Jewish and Christian traditions. These three religions inherited the tradition of Prophet Ibrahim. However, theological similarities between Christianity and Islam precisely become t he cause of collision between two of them. Historical problem between Islam and the West can be seen from the root of the conflict that includes: theological and political. Conflict between Islam and the West is covered by political motives. On the contrary, theology is only become justification to distinguish culturally and theologically between Islam and the West, basically this difference is more encouraged by political interest. Conflicts happen in Syiria is not because of religious factor, but it is more dominated by political and economic interest. The facts prove that most of Arab countries are the eternal alliance of the Western block, which was directed by The United States as the Solely Super Power in the world. Therefore, in the effort to build agreement and global coalition, actively promote cooperation. So that, the most important thing right now is the encounter between Islam and the West, that must be interpreted as building a dialogue of Civilization, not confrontation or mutual suspicion, building ideal relationship and also the need of harmonization between Islam and the West. Keywords: West, Islam, Conflict Berdasarkan fakta sejarah, antara Islam dan Barat secara teologis mempunyai ikatan yang kuat yakni ada titik temu dan persamaan antara Islam dan Barat yang mewarisi tradisi Yahudi dan Kristen. Ketiga agama ini mewarisi tradisi Nabi Ibrahim. Namun, persamaan teologis yang ada antar Kristen dan Islam justru menjadi penyebab benturan di antara keduanya. Problem historis antara Islam dan Barat dapat dilihat dari akar konflik yang meliputi, teologis dan politis. Konflik antara Islam dan Barat tertutupi dengan motif politik. Sebaliknya, teologis hanya dijadikan justifikasi untuk membedakan secara kultural dan teologis antara Islam dan Barat, pada dasarnya perbedaan ini lebih didorong oleh kepentingan politik. Adalah konflik yang terjadi di Suriah bukanlah karena faktor agama namun lebih didominasi oleh faktor politik dan ekonomi. Fakta membuktikan, bahwa sebagian besar negara Arab adalah aliansi abadi blok Barat, yang dinakhodai langsung oleh Amerika Serikat sebagai kekuatan Super Power tunggal dunia. Oleh karena itu dalam upaya untuk membangun kesepakatan dan koalisi global, untuk secara aktif mempromosikan kerja sama. Oleh karena itu, yang terpenting saat ini perjumpaan Islam dan Barat harus dimaknai sebagai membangun dialog peradaban, bukan konfrontasi atau saling curiga, membangun hubungan yang ideal serta perlunya harmonisasi antara peradaban Islam dan Barat. Kata Kunci: Barat, Islam, Konfli

    Pemaksaaan dalam Pendidikan dan Prestasi Belajar

    Full text link
    This research was conducted at the Lirboyo Islamic Boarding School, East Java. The purpose of this study is to find out about coercion in education and its contribution to student achievement. We used 65 sample and we used mixed research method. We used triangulation as the qualitative data validity, and we used the product moment correlation coefficient and the biserial point correlation coefficient as the quantitative data validity. We used data reliability by alpha cronbach and KR 21. The results showed, the form of coercion in this boarding school by giving sanctions (punishment). The results also showed, there was a positive and significant correlation between giving sanctions to student achievement and sanctions had a contribution to student achievement of 39.60 percent. Keywords: Islamic Boarding School, Students, Coercion, Education, Sanctions. Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Lirboyo, Jawa Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang pemaksaan yang dilakukan dalam pendidikan dan kontribusinya terhadap prestasi belajar siswa. Jumlah sample dalam penelitian ini sebanyak 65 orang dan metode yang digunakan adalah metode penelitian campuran (mixed method). Validitas data secara kualitatif dengan menggunakan triangulasi, secara kuantitatif dengan menggunakan koefisien korelasi product moment dan koefisien korelasi point biserial. Reliabilitas data digunakan dengan alpha cronbach dan KR 21. Hasil penelitian menunjukkan, bentuk pemaksaan yang dilakukan di pondok pesantren ini dengan memberikan sanksi (punishment) terhadap pelanggaran yang dilakukan santri. Hasil penelitian juga menunjukkan terdapat hubungan yang positif dan signifikans antara pemberian sanksi terhadap prestasi belajar siswa dan pemberian sanksi memiliki kontribusi terhadap prestasi belajar siswa sebesar 39.60 persen. Kata Kunci: Pondok Pesantren, Santri, Pemaksaan, Pendidikan, Sanksi

    Saridinn dalam Perguluman Islam dan Tradisi: Relevansi "Islamisme" Saridin Bagi Pendidikan Karakter Masyrakat Pesisir

    Full text link
    Saridin’s popularity in the grassroots of the community is not only because of the strange attitudes and behavior in the era of kuwalen (Walisongo) especially when struggling and interacting with Sunan Kudus. Saridin left many teachings that are still inherent in the local community in Pati. Saridin’s existence with all existing images seems to have helped in constructing this public awareness, even in a particular group, it participates in constructing pattern of beliefs and value system that embodied in the “Religion of the People.” Story, legend and history of Saridin in the coastal community remain strong in the grassroots of the community because the cultural reproduction process is still ongoing whether through art, literature or local tradition. In connection with its relation with Islam, Saridin’s images and traditions can be identified at least into two: Firstly, in a struggle with tradition, Saridin is known by the innocence and spirit out of order (status quo) through a resistance with an attitude of “nggendeng” ie, pretending not to know, to know as it is shown through attitudes and behaviors of the community of Sedulur Sikep (sikepisme) in Sukolilo, Pati. Secondly, in a struggle within Islam, Saridin has created a kind of variant of sufistic-populist Islam namely Islam that is simple with attitudes and kasunyatan that are not rigid. Keywords: struggle, folk religion, local tradition. Kepopuleran Saridin dalam masyarakat bawah (grass root) bukan saja karena berbagai keanehan sikap dan perilakunya di zaman kuwalen ( walisongo) terutama ketika bergumul dan berinteraksi dengan Sunan Kudus. Saridin juga meninggalkan berbagai ajaran yang masih melekat dalam masyarakat lokal di Pati. Eksistensi Saridin dengan segala pencitraan yang ada ini agaknya telah turut mengkonstruksi kesadaran masyarakat, bahkan pada kelompok tertentu turut mengkonstitusi pola keyakinan dan sistem nilai sehingga terwujud dalam “ Agama Rakyat.” Cerita, kisah, legenda dan sejarah Saridin dalam mesyarakat pesisir masih bertahan kuat di masyarakat bawah karena proses reproduksi budaya masih terus berlangsung baik melalui seni, karya sastra maupun tradisi lokal. Berkaitan dengan persentuhannya dengan Islam, citra dan tradisi Saridin setidaknya dapat diidentifikasi menjadi dua; Pertama dalam bergumul dengan tradisi, Saridin dikenal dengan keluguan dan semangat keluar dari tatanan (status quo) melalui perlawanan dengan sikap “nggendeng” yakni berlagak tidak tahu, untuk tahu sebagaimana terejawantahkan dalam sikap dan perilaku komunitas Sedulur Sikep ( sikepisme) di Sukolilo, Pati. Kedua, Saridin dalam bergumul dalam Islam telah memunculkan semacam varian Islam sufistik-populis, yakni warna Islam yang sederhana dengan perilaku dan kasunyatan, tidak terlalu baku. Kata Kunci: pergumulan, agama rakyat, tradisi loka

    Sejarah Sebagai Benteng Kerukunan Beragama (Studi Kasus Masyarakat Muslim Loloan Timur Bali)

    Full text link
    Religious harmony becomes more strong if it has any basis of historical experience. Such harmony is created by the community. The Muslim community of East Loloan- Bali becomes a model of this kind of creation of harmony. Although Muslims in Bali are minority in the number, they are free to perform their worship. There is a meeting point (kalimatun sawa’) from both Muslim and non-Muslim communities for a long time. In the past, they had the same commitment against the invaders. This togetherness is maintained until now in a different form. Although one of the Muslim leaders was in power in the community, the power is handed back to the Hindu community to maintain the continuity of harmonious relation among adherents of different religions. This tradition is maintained well up to now. Keywords: harmony, history, religiousness Kerukunan umat beragama makin menjadi kokoh jika mempunyai landasan pengalaman sejarah. Kerukunan seperti ini terbangun dengan sendirinya oleh masyarakat. Komunitas Muslim Loloan Timur Bali menjadi contoh model penciptaan kerukunan jenis ini. Meski muslim Bali termasuk minoritas dari sisi jumlah, mereka bebas menjalankan ibadahnya. Ada titik temu ( kalimatun sawā’) dari kedua belah pihak sejak lama. Dahulu melawan penjajah adalah komitmen bersama. Kebersamaan ini dipertahankan hingga kini dengan bentuknya yang lain. Meski salah satu tokoh Islam sempat berkuasa di Komunitas Loloan, toh akhirnya kekuasaan itu diserahkan kembali ke masyarakat Hindhu untuk menjaga keberlangsungan hubungan antar pemeluk agama yang berbeda ini. Kebertahanan tradisi menjaga kerukunan ini hingga kini masih bisa dirasakan. Kata Kunci: kerukunan, sejarah, keberagamaa

    Islam dan Kearifan Lokal: Dilektika Faham dan Praktik Keagamaan Komunitas Kokoda-Papua dalam Budaya Lokal

    Full text link
    The community of Kokoda is a Muslim community of indigenous Papuans. Their existence in the city of Sorong begins from their migration from Inawatan, one of the hinterlands of West Papua. Islam is a religion of the majority of this community and only a few adherents are Christians. Both adherents are integrated in the same environment. The topic of interest in this study is the dialectic of Islam and the local wisdom that is understood and practiced by this community. In addition, the local wisdom that is practiced by both adherents is out of religious context, even the wisdom which is conceived as “brotherhood” or “sapu sodara” is preserved, maintained and preserved well until it ties emotional connection of Kokoda tribe. This research aims to find the dialectic of Islam and local wisdom in the context of religious understanding of Kokoda community. Therefore, three methods are used for this research namely observation, interview, and thick description. The data is processed by phenomenology analysis technique which is to uncover the social consciousness and collective consciousness of a community. The results of this study show that in fact the practice and religious understanding of the community of Kokoda are from a single concept of “brotherhood” or “sapu sodara”. Their knowledge of religious is based on trust and motivation. Meanwhile their practices are based on: 1) the establishment of committees of religious activities, 2) participation in giving alms, and 3) togetherness in ritual and ceremonial practices. There are two forms of local wisdom of Kokoda community namely: 1) through behavior and 2) refers to the knowledge (cognitive). The dialectic of religion and local wisdom in religious practices of Kokoda also seen in two things: 1) inclusion of religious practices, and 2) inter-religious acculturation. Keywords: Religion (Islam), local wisdom, dialectics, ideology and religious practices, Kokoda. Komunitas Kokoda adalah komunitas muslim yang berasal dari penduduk asli Papua. Eksistensinya di Kota Sorong diawali dengan migrasi dari Inawatan, salah satu daerah pedalaman Papua Barat. Islam merupakan agama mayoritas yang dianut oleh komunitas ini dan hanya sebagian kecil saja penganut Kristiani. Keduanya terintegrasi dalam lingkungan yang sama. Isu yang menarik dalam kajian ini adalah adanya dialektika agama (Islam) dan kearifan lokal yang dipahami dan dipraktikkan oleh komunitas ini. Selain itu, adanya kearifan lokal yang dipraktikkan kedua penganutnya [Islam-Kristen] di luar konteks agama, bahkan kearifan yang dikonsepsikan “persaudaraan” atau “sapu sodara” itu dipelihara, dijaga dan dilestarikan dengan baik hingga mengikat hubungan emosional-kesukuan Kokoda. Riset ini bertujuan mencari dialektika agama [Islam] dan kearifan lokal dalam konteks pemahaman keagamaan komunitas Kokoda. Karenanya, untuk mengupasnya digunakan tiga metode, yaitu observasi, interview, dan thick description. Data tersebut diolah dengan teknik analisis fenomenologi. Analisis ini untuk mengungkap kesadaran sosial dan kesadaran kolektif dari suatu komunitas tersebut. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa ternyata praktik dan pemahaman keagamaan komunitas Kokoda bersumber dari konsep tunggal “persaudaraan” atau “sapu sodara”. Pengetahuan keagamaannya dilihat pada unsur kepercayaan dan motivasi. Sedang praktiknya pada; 1) Pembentukan kepanitian kegiatankegiatan keagamaan. 2) Berpartisipasi memberikan sedekah, dan 3) Bersama-sama dalam ritual dan seremonialnya. Ada dua wujud kearifan lokal dari komunitas Kokoda; 1) Lewat Perilaku; 2) Mengacu pada pengetahuan (kognitif). Sedangkan, dialektika agama dan kearifan lokal dalam praktik keagamaan Kokoda juga dilihat dalam dua hal; 1) Inklusifitas praktik keagamaan dan 2) Akulturasi budaya antar agama. Kata Kunci : Agama (Islam), Kearifan Lokal, Dialektika, Faham dan Praktik Keagamaan, Kokoda

    Dirham: Problematika Mata Uang Solusi di Tengah Krisis

    Full text link
    The getting worse of domestic currency, the more people will speculate on the system of currency usage. It will appear parties argue that the currency usage is no longer relevant in today’s monetary sistem. The phenomenon then become a strong reason to impost bi-metal currency which are gold dinar and silver dirham. In this article, presented problematics of imposing bi-metal currency, which is dinar dirham -- that can be used as solution in the midst of economic crisis or precisely it will lead to a new polemic. Finally, it was found that the dinar and dirham can not be the absolute solution to handle currency crisis. Because, the limited availability of gold become the greatest obstacle, less simple, and can be the trigger of crime. Besides that, crisis problem is not merely currency problem, but payment balance, interrelation of foreign transaction in which the economic condition of other countries as partners. Keywords: Dinar, Dirham, Solutions, Crisis Semakin terpuruknya nilai mata uang domestik, maka akan semakin banyak yang berspekulasi tentang sistem penggunaan mata uang. Muncullah pihak-pihak yang mensinyalir, jika penggunan mata uang, sudah tidak lagi relevan dengan kondisi sistem moneter yang kekinian. Fenomena tersebut yang kemudian menjadi alasan kuat untuk kembali memberlakukan mata uang dwi logam yakni dinar emas dan dirham perak. Dalam artikel ini ditampilkan problematika pemberlakuan mata uang dwi logam, yaitu dinar dirham—dapat dijadikan solusi di tengah-tengah krisis ekonomi atau justru akan memunculkan polemik baru. Akhirnya, ditemukan jawaban bahwa dinar dan dirham tidak secara mutlak dapat menjadi solusi atas krisis yang terjadi. Sebab, ketersediaan emas yang terbatas menjadi kendala terbesar, kurang praktis, dan dapat memicu kejahatan. Selain itu, persoalan krisis bukan semata-mata persoalan mata uang tetapi keseimbangan neraca pembayaran, keterkaitan transaksi luar negeri yang kondisi ekonomi negara lain sebagai mitra. Keywords: Dinar, Dirham, Solusi, Krisi

    IHSAN KEPADA KEDUA ORANG TUA: TINJAUAN TAFSIR SOSIAL KONTEMPORER

    No full text
    Abstract This study aims to reveal the interpretation of the Koran about doing good (ihsan) to parents which is explicitly mentioned 13 (thirteen) times, and which is mentioned 7 (seven) times directly after Allah swt invites and calls on people to tauhid and thanksgiving. to him. In social practice, how a person has good character to both parents is revealed in this study with Tafsir al-Amthal fi Tafsir Kitabillah al-Munzal by Makarim Syairazi as the primary source. This Interpretasion is a contemporary social interpretation. Meanwhile, the secondary data in this study are other authoritative and relevant social interpretation works. The findings of this research are that the meaning of ihsan applies to both parents in the Koran is in the form of monotheism that must be put forward to accompany the worship of both parents. Ihsan is absolute covering all goodness, including the category whether the religious status of both parents is Muslim or infidel. be civilized when both parents are weak, old and old, who desperately need protection and affection from their children. Be gentle and respectful when communicating with him. Be tawadhu 'and pray for them when they are still alive or not. Always ask Allah for an easy way to serve both parents. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap penafsiran Al-Quran tentang berbuat baik (ihsan) kepada orang tua yang secara tersurat disebutkan sebanyak 13 (tiga belas) kali, dan yang 7 (tujuh) kali disebut langsung setelah Allah swt mengajak dan menyerukan umat kepada tauhid dan sukur kepada-Nya. Dalam praktik sosial, bagaimana seseorang berakhlaq baik kepada kedua orang tua diungkap dalam penelitian ini dengan Tafsir al-Amthal fi Tafsir Kitabillah al-Munzal karya Makarim Syairazi sebagai sumber primer. Tafsir Al-Amthal merupakan tafsir yang bercorak sosial kontemporer. Sedang data sekunder dalam penelitian ini adalah karya tafsir sosial lainnya yang otoritatif dan relevan dengan kajian ini. Temuan penelitin ini adalah bahwa makna berlaku ihsan kepada kedua orang tua dalam Al-Quran adalah berupa tauhid yang harus dikedapankan yang mengiringi kebaktian terhadap kedua orang tua. Ihsan bersifat mutlak meliputi semua kebaikan termasuk kategori apakah status agama kedua orang tua muslim ataupun kafir. bersikap beradab ketika kedua orang tua dalam masa lemah, renta dan tua yang sangat membutuhkan perlindungan dan kasih sayang dari anaknya. Bersuara lembut dan hormat ketika berkomunikasi dengannya. Bersikap tawadhu’ dan mendoakan mereka ketika masih hidup maupun telah tiada. Selalu memohon kepada Allah untuk di anugerahi jalan mudah untuk berkhidmat kepada kedua orang tua

    Kompetensi Pendidikan Agama dalam Surat Al-'Alaq Perspektif Tafsir Al-Misbah Karya Muhammad Quraish Shibah

    Full text link
    The purpose of this study was to determine the Competence of Religious Educators based on Q.S. Al-‘Alaq's perspective on the Tafsir al-Misbah by M. Quraish Shihab. Research that uses the Pure library research method. The results of this study obtained data that the competence of religious educators in the Q.S. al-‘Alaq perspective of Tafsir Al-Misbah by M. Quraish Shihab consists of pedagogic competence, personality competence, social competence, and professional competence. This conclusion supports Article 10 of the Law of the Republic of Indonesia number 14 of 2005 concerning teacher competencies. Keywords: Competence, Religious Educator, Surat al-‘Alaq, Tafsir al-Misbah penelitian ini adalah untuk mengetahui Kompetensi Pendidik Agama berdasarkan Q.S. Al-Alaq perspektif tafsir al- Misbah karya M. Quraish Shihab. Penelitian yang menggunakan metode Pure library research. Hasil penelitian ini memperoleh data bahwa kompetensi pendidik agama dalam Q.S. al-‘Alaq perspektif tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab terdiri dari kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Kesimpulan ini mendukung Pasal 10 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang kompetensi guru. Kata Kunci: Kompetensi, Pendidik Agama, Surat al-‘Alaq, Tafsir al-Misba

    Corak Penafsiran Al-Qur'an Periode Klasik Hingga Modern

    Full text link
    Al-Qur'an as a source of knowledge and life, therefore it is needed a method in exploring the treasure of knowledge which are contained inside it, not only the method needed. Since the vastness of interpretation study, so, many kinds of scientific approaches have been used to understand it. This writing is a part of research in order to explore many styles of interpretation since classical period to contemporary, which were compiled and formulated by the scholars, the writer sees the importance of detecting how far is that formulation can be used and developed in the al-Qur'an studies. Until now, interpreter scholars will continue to develop various fields of science in order to approach the Qur'an, until the virtues of al-Qur'an can be obtained and used as good as possible. These interpretation styles use the bi al-ra'yi interpretation form, which has always been a clash among the scholars in determining the position of these styles, some accept and some reject. It is also found in this article that every scholars has differences in concluding the number of interpretation styles from classical period until modern, those differences are because of the time and object that is being researched, at least, the writer finds some styles of interpretation, such as fikih interpretation style, sufi interpretation style, philosophy, madzhab interpretation style, language literature interpretation style, iImi interpretation style, ilhadi interpretation style, adabi Ijtima’i interpretation style, haraki interpretation style. Keywords: Style, Interpretation, Clasic, Modern Al-Qur’an sebagai sumber ilmu dan kehidupan, olehnya itu dibutuhkan metode dalam menggali khazanah keilmuan yang terkandung didalamnya, tidak hanya metode yang dibutuhkan. Karena betapa luasnya kajian penafsiran sehingga berbagai pendekatan ilmu digunakan untuk memahaminya. Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian dalam rangka menggali berbagai corak-corak penafsiran sejak zaman klasik hingga kontemporer, yang disusun dan dirumuskan oleh para Ulama, penulis melihat pentingnya mendeteksi sejauhmana rumusan tersebut dapat digunakan dan dikembangkan dalam kajian al- Qur’an. Sampai saat ini ulama tafsir akan terus mengembangkan berbagai bidang keilmuan dalam rangka mendekati al-Qur’an, hingga mutiara-mutiara al-Qur’an dapat diperoleh dan digunakan sebaik mungkin. corak-corak penafsiran tersebut menggunakan bentuk penafsiran bi al-ra’yi, yang sejak dulu terjadi pertentangan ulama dalam menentukan kedudukan dari corak-corak tersebut, ada yang menerima dan ada pula yang menolak. Pada artikel ini juga ditemukan bahwa setiap ulama berbeda dalam menyimpulkan jumlah corak-corak tafsir dari klasik hingga modern, perbedaan tersebut disebabkan karena masa dan objek yang sedang diteliti, setidaknya penelis menemukan beberapa corak tafsir diantaranya, corak tafsir fikih, corak tafsir Sufi, Filsafat, corak tafsir mazhab, corak tafsir sastra bahasa, corak tafsir Ilmi, corak tafsir ilhadi, corak tafsir Adabi Ijtimā’i, corak tafsir akhlaqy, corak tafsir haraki. Keywords: Corak, Tafsir, Klasik, Moder

    Pengaruh Kemampuan Menghafal Al-Qur'an dan Sikap Siswa Terhadap Hasil Belajar Matematika

    Full text link
    The purpose of this study is to determine the effect of ability to memorize al-Qur'an, students' attitude, and interactions both of them towards students' learning outcomes in mathematics. The research method used is the correlational survey method, the number of sample are 60 students from two classes who conduct memorization of Al-Qur'an. Data collection was done by using questionnaire distribution and test technique. Data analysis using correlation analysis and multiple regression methods. The statistical test used was t test and F test. Data analysis used correlation and regression techniques (simple & plural). From the research results found that: (1) there is a significant influence between the ability to read Al-Qur'an towards mathematics learning outcomes (r = 0.883 and Ŷ = 1,276 + 1,182X1). (2) there is significant influence between students' attitude towards mathematics learning outcomes (r = 0.876 and Ŷ = 0.509 + 0.138X2). (3) there is significant influence between the ability to memorize Al-Qur'an and students' attitude towards mathematics learning outcomes (r = 0.893 and Ŷ = 0.183 + 0.062X1 + 0.689X2). Keywords: Memorize al-Qur’an, Student’s Attitude, Matematics Learning Outcame. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kemampuan menghafal al-Qur’an, sikap siswa dan interaksi keduanya terhadap hasil belajar matematika siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey korelasional, sampel berjumlah 60 siswa dari dua kelas yang menerapkan hafalan al-Qur’an. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik penyebaran angket dan teknik tes. Analisa data dengan menggunakan metode analisis korelasi dan regresi ganda. Uji statistik yang digunakan adalah uji t dan uji F. Analisis data menggunakan teknik korelasi dan regresi (sederhana & jamak). Dari hasil penelitian ditemukan bahwa: (1) terdapat pengaruh yang berarti antara kemampuan membaca al-Qur’an terhadap hasil belajar matematika (r = 0,883 dan Ŷ = 1.276 + 1,182X1). (2) terdapat pengaruh yang berarti antara sikap siswa terhadap hasil belajar matematika (r = 0,876 dan Ŷ = 0.509 + 0,138X2). (3) terdapat pengaruh yang berarti antara kemampuan menghafal Al-Qur’an dan sikap siswa terhadap hasil belajar matematika (r = 0,893 dan Ŷ = 0.183 + 0,062X1 + 0,689X2). Kata Kunci: Menghafal al-Qur’an, Sikap Siswa, Hasil Belajar Matematika

    69

    full texts

    148

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Hikmah Journal of Islamic Studies
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇