Hikmah Journal of Islamic Studies
Not a member yet
    148 research outputs found

    A PROPORTIONAL ALLOCATION OF FORMATIVE AND SUMMATIVE ASSESSMENT: A Quest of Shaping an Effective Assessment Policy

    No full text
    Abstract This paper outlines and discusses most of the literatures on formative and summative assessment. It considers some of the key features of both formative and summative assessment as a means of evaluating teaching and learning processes. This study suggests that both types of assessment should be proportionally designed and aligned with learning goals. More importantly, this study proposes three key aspects of assessment that should be considered in designing effective assessment policy: (a) assessment forms an integral part of planning, assessing, and reporting, (b) the use of assessment as a means to monitor the progress of student learning and achievement, (c) assessment as a tool to determine the effectiveness of teaching. The three aspects of assessment policy can help educational leaders to design a proportional formative and summative assessment for an effective assessment policy. Abstrak Artikel ini memaparkan dan mendiskusikan literatur-literatur tentang penilaian formatif dan sumatif. Artikel ini juga menyuguhkan gambaran penting penilaian formatif dan sumatif sebagai alat evaluasi pengajaran dan proses pembelajaran. Kajian ini menemukan bahwa kedua jenis penilaian tersebut harus didesain secara proporsional dan harus sejalan dengan tujuan pembelajaran. Lebih penting lagi, kajian ini menawarkan tiga aspek penting yang harus dipertimbangkan dalam merancang kebijakan penilaian yang efektif.: (a) penilaian harus membentuk sebuah bagian integral dari perencanaan, penilaian dan pelaporan, (b) penggunaan penilaian sebagai alat untuk memonitor progress pembelajaran siswa dan pecapaiannya, (c) penilaian sebagai alat untuk menentukan efektivitas mengajar. Tiga aspek kebijakan penilaian tersebut dapat membantu pemimpin pendidikan untuk merancang penilaian formatif dan sumatif yang proporsional untuk sebuah kebijakan penilaian yang efektif

    Majaz Al-Qur'an dalam Perspektif Sejarah (Studi Perbandingan antara Abi Ubaidah, al-Jahizh dan Qadhi ‘Abdul Jabbar)

    No full text
    The aims of this paper are: (1) to analyze the paradigm of Abi Ubaidah, al-jahizh and Qadhi ‘Abdul Jabbar about the metaphors of The Koran from the historical point of view. (2) to interpret and describe metaphors analytically as one of the aesthetics of language styles in The Koran. This paper applies qualitative approach to discuss the problems as well as library research with comparative and comprehensive analysis method. It means that to know the paradigm of “mufassir” and metaphors in The Koran, the writer should know the similarities and differences among “mufassir' opinions, especially in the interpretation of controversial verses. To obtain the data of those three “mufassir” the writer uses historical approach. Abi Ubaidah and al-Farra’ have a great distribution in revealing the secret of the verses in The Koran, especially the meaning of metaphors. Both “mufassir” are the pioneers and inspirators of the next followers such as Al- Jahizh, Ubnu Qutaibah and Al-Qodhi, ‘Abdul Jabbar. The result of their thoughts will be inherited to the next generation as the medium of streng their belifs . Keywords: Majāz, Sejarah, al-Qur’an Tulisan ini bertujuan untuk (1) mengkaji cara pandang Abi Ubaidah, al-Jahizh dan al-Qadhi ‘Abdul Jabbar tentang majāz al-Qur’an ditinjau dari perspektif sejarah. (2) menginterpretasi atau mendeskripsikan secara analitis tentang Majāz sebagai salah satu bentuk keindahan gaya bahasa al-Qur’an. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dan untuk membahas persoalan yang ada dalam penelitian ini, penulis menggunakan penelitian kepustakaan (library research), dengan pendekatan metode analisis komprehensif dan komparatif. Artinya, untuk mengetahui cara bergulirnya pandangan para mufassir tentang majāz dalam al-Qur’an, terlebih dahulu harus dilihat segi persamaan dan perbedaan antara dua atau lebih pendapat mereka pada lafazh atau ayat yang diperselisihkan penafsirannya. Untuk mendapatkan data mengenai ketiga tokoh tersebut, digunakan pendekatan sejarah. Abi Ubaidah dan al-Farra’ memiliki andil yang cukup besar dalam menguak rahasia kandungan susunan kalimat baik al-Qur’an maupun bahasa Arab dalam pengertian majāzī-nya. Keduanya merupakan pioner dan pembawa obor bagi generasi selanjutnya seperti al-Jahizh, Ibnu Qutaibah, dan Qadhi ‘Abdul jabbar. Hasil dari kedua pemikir tersebut, generasi selanjutnya dapat menjadikan ta’wīl al-Qur’an sebagai media memperteguh iman mereka. Kata Kunci: Majāz, Sejarah, al-Qur’a

    Pengeruh Strategi Pembelajaran Active Knowledge Sharing Terhadap Motivasi Belajar Mata Kuliah Masa'ilul Fiqhiyah Mahasiswa STAI Alhikmah Jakarta

    No full text
    This study aims to find out the influence of learning strategies active knowledge sharing on learning motivation masa’ilul fiqhiyah courses students of Islamic High School ALHIKMAH Jakarta. The method used through a quantitative approach and using a simple regression statistical test. The results of the study showed that there was a significant effect between active knowledge sharing learning strategies on learning motivation at the masa’ilul fiqhiyah. This is evidenced by the acquisition of r count> r table (0.871> 0.361) which means Ha is accepted and Ho is rejected. And the magnitude of the effect of active knowledge sharing learning strategies on learning motivation was 75,8%, while 24,2% of learning motivation was influenced by other variables not examined. Keywords: Strategies Active Knowledge Sharing; Motivation; Masa’ilul Fiqhiyah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh strategi pembelajaran active knowledge sharing terhadap motivasi belajar matakuliah masa’ilul fiqhiyah mahasiswa STAI ALHIKMAH Jakarta. Metode yang digunakan melalui pendekatan kuantitatif dan menggunakan uji statistic regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara strategi pembelajaran active knowledge sharing terhadap motivasi belajar matakuliah masa’ilul fiqhiyah mahasiswa STAI ALHIKMAH Jakarta. Hal ini dibuktikan dengan perolehan r hitung > r tabel (0,871 > 0,361) yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Dan besarnya pengaruh strategi pembelajaran active knowledge sharing terhadap motivasi belajar matakuliah masa’ilul fiqhiyah mahasiswa STAI ALHIKMAH Jakarta sebesar 75,8 %, sedangkan 24,2% motivasi belajar dipengaruhi variable lain yang tidak diteliti. Kata kunci: Strategi Pembelajaran Active Knowledge Sharing; Motivasi Belajar; Masa’ilul Fiqhiyah

    Islam dan Kearifan Lokal di Sulawesi Selatan Pasca Islamisasi

    Full text link
    The main source of the history of South Sulawesi is lontara’ including the historical development of Islam. Some manuscripts of lontara that provide information about the process of Islamization in South Sulawesi are: Lontara Bilang Gowa Tallo, Lontara’ Sukku’na Wajo and some others. The manuscripts also describe the fusion of custom norms called panngadakkang/ pangadereng with the norms of religion called sara’. Custom values get the same position with the religious values. Violations of the norms of religion are regarded as violations of the norms of custom. Integration of Islamic teachings into the custom and people’s lives led to the joints of the custom and people’s lives besides sara’ there are also ada’, rapang, wari’, and bicara. The example of custom that is held firmly is matanre siri’, which means having a high sense of shame and morality. Matanre siri’ is one of the requirements that must be owned by a leader. Having a sense of shame and noble character in Islam becomes the main mission of the Prophet, even having a sense of shame is part of one’s faith. The intermingling between the values of Islam and the local custom takes place throughout the region of South Sulawesi. As in Luwu, the structure of Palopo ancient city is still dominated by the influence of the local culture. This proves that the presence of Islam does not change the total socio-cultural images that have established. The reality shows that Islam just deconstructs the local culture to be accordance with Islamic aqidah (faith) and law according to al-Qur’ān and Hadith. Keywords: custom, lontara, norm, local policy Sumber informasi utama sejarah Sulawesi Selatan adalah lontara’, termasuk sejarah perkembangan Islam. Beberapa naskah lontara yang dapat memberikan tentang proses Islamisasi di Sulawesi Selatan antara lain: Lontara Bilang Gowa Tallo, Lontara’ Sukku’na Wajo, dan beberapa naskah lontara lainnya. Termasuk didalamnya digambarkan bagaimana terjadinya peleburan norma-norma adat yang disebut pangadakkang/ pangadereng dengan norma-norma agama yang disebut sara’. Nilai-nilai adat menjadi setingkat dengan agama. Pelanggaran terhadap norma-norma agama akhirnya identik dengan pelanggaran terhadap adat. Integrasi ajaran Islam ke dalam adat istiadat dan kehidupan masyarakat menyebabkan sendi-sendi adat-istiadat dan kehidupan masyarakat selain sara’ ada pula ada’, rapang, wari’, dan bicara. Contoh adat yang dipegang kokoh adalah matanre siri’ yang berarti mempunyai rasa malu yang tinggi dan berakhlak mulia. Matanre siri’ ini merupakan salah satu persyaratan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Rasa Malu dan akhlak mulia dalam Islam menjadi misi utama Rasulullah Saw, bahkan mempunyai rasa malu adalah bagian dari Iman seseorang. Pembauran antara nilai-nilai Islam dengan adat local berlangsung merata di wilayah Sulawesi Selatan. Seperti di daerah luwu, struktur kota kuno Palopo masih didominasi pengaruh budaya lokal. Hal ini membuktikan bahwa kehadiran Islam tidak merubah secara total citra-citra sosial budaya yang telah mapan. Kenyataan menunjukkan, Islam hanya melakukan dekonstruksi budaya lokal sejauh sesuai aqidah dan syariah menurut al-Qur’an dan Hadits Kata Kunci: adat, lontara, norma, kebijakan loka

    Migrasi dan Problematika Minoritas Muslim Thailand

    Full text link
    Migration is the movement of population from one area to another, whether from one village to other village or from one city to another city and from one country to other country conducted by someone or group of society with intention to stay and live or not, due to various factors as the reasons. Thailand is one of the country in Southeast Asian countries with its geographical location between Australian Continent and China’s mainland. Muslims in Thailand are minority that develop rapidly and the biggest minority after China. They live in the southern part of Thailand as the base of Malay-Muslim communities, but it is a region that has religious conflict. Thai government obliges assimilation of Thai culture (Buddhism) towards Muslim minority. The struggle of Muslim Pattani society takes place for the their freedom in worship and conserves Pattani Malay c ulture. Keywords: Migration, Cultural Assimilation, Minority Muslims Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain baik itu dari desa ke desa lain, dari desa ke kota atau dari kota ke kota dan dari suatu negara ke negara lain yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok msyarakat dengan niat menetap atau tidak menetap karena berbagai faktor yang menjadi penyebabnya. Thailand adalah salah satu negara diantara negaranegara di kawasan Asia Tengara dengan letak geografisnya berada di kawasan antara Benua Australia dan daratan China. Umat Islam di Thailand merupakan minoritas yang berkembang cepat dan merupakan minoritas terbesar setelah China, Mereka tinggal di kawasan Thailand bagian selatan sebagai basis masyarakat Melayu-Muslim namun merupakan daerah konflik agama. Pemerintah Thailand mewajibkan asimilasi budaya Thai (agama Budha) kepada muslim minoritas. Perjuangan masyarakat Muslim Pattani terjadi demi kebebasan mereka dalam beribadah dan melestarikan budaya Melayu Pattani. Kata Kunci: Migrasi, Asimilasi Budaya, Muslim Minorita

    ANAK-ANAK DAN HAFALAN AL-QURÁN: STUDI METODE MENGHAFAL AL-QURÁN UNTUK ANAK-ANAK

    No full text
    Abstract This article discusses the method of Qur’an memorization for children based on the age levels. Mushrooming tahfiz programs in schools, this library research elaborates some pivotal consideration that parents should take into account before deciding to take their children into tahfiz program. Qur’an memorization can not be instantly conducted. It need perseverance and persistence in the process of repeating in order the memorization resulted is very strong in the heart. Implementation of proper method in Qur’an memorization will make children attracted in memorizing the Qur’an with no coercion. Abstrak Tulisan ini membahas metode menghafal Al-Qurán untuk anak-anak yang sesuai dengan jenjang usianya. Dilatarbelakangi oleh maraknya sekolah-sekolah berprogram tahfiz (menghafal Al-Qurán), kajian dengan metode library research ini sedikit memberikan ulasan beberapa hal penting yang harus dipertimbangkan para orangtua sebelum memutuskan anak-anak mengikuti program hafalan Al-Qurán. Menghafal Al-Qurán tidak bisa dilakukan secara instan. Butuh ketekunan dan kontinuitas dalam proses pengulangannya agar hafalan yang dihasilkan benar-benar kuat. Penggunaan metode menghafal Al-Qurán yang tepat dapat membuat anak-anak tertarik untuk menghafal Al-Qurán tanpa paksaan

    KEBIJAKAN PENDIDIKAN TENTANG SEKOLAH ISLAM ELIT DAN DAMPAKNYA TERHADAP MUTU DAN AKSES PENDIDIKAN SERTA TOLERANSI BERAGAMA

    No full text
    Abstract This article discusses the policy of education on elite Islamic school in Indonesia and its impact to the quality and access of education and religious tolerance. The such policy education in this article is government policy on education affair. The elite Islamic schools are the excellent Islamic school founded by government such as Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia in some provinces in Indonesia, or the excellent private school founded by society, organization or pioneering-international standard school/ state madrasah dissolved by the decision of the Constitutional Court (MK). The main focus of this article is analyzed by sociological perspective and also by library research and formulated as follows: what is government policies on elite schools? And what is the impact of education policies on elite schools to the quality and access of education and religious tolerance? This article answers these two questions. Abstrak Artikel ini membahas kebijakan pendidikan tentang sekolah elit di Indonesia dan dampaknya pada mutu dan akses pendidikan serta toleransi beragama. Kebijakan pendidikan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Sekolah Islam elit yang dimaksud adalah sekolah Islam unggulan yang dibiayai pemerintah seperti Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia di beberapa daerah di Indonesia maupun sekolah Islam unggulan yang didirikan masyarakat, yayasan atau organisasi Islam serta madrasah negeri rintisan sekolah/madrasah bertaraf internasional yang telah dihapus melalui putusan Mahkamah Konstitusi. Pokok masalah dalam artikel ini akan ditelaah dengan menggunakan perspektif sosiologis dengan melakukan studi literatur atau kepustakaan. Fokus kajian masalah ini dirumuskan dalam rumusan masalah berikut. Bagaimana kebijakan pendidikan tentang sekolah elit? bagaimana dampak kebijakan pendidikan tentang sekolah elit pada mutu dan akses pendidikan serta toleransi beragama? Berpijak dari dua rumusan masalah tersebut, kajian dalam artikel ini dilakukan

    IJTIHAD ‘VIRTUAL’ DAN FIQIH CORONA: RESPON ULAMA INDONESIA DI MUSIM PANDEMI

    No full text
    Abstract Covid-19 has been announced as global pandemic by World Health Organization (WHO). All countries, including Indonesia, implemented the health protocols in preventing the spread of viruses. Among those protocols is social distancing either in lockdown or physical distancing. This policy disrupted the life order and habit, especially in religious ritual. The religious problems should be answered by the ulamas for the law certainty. In the normal situation, the discussion on fatwa is usually held by collective ijtihad (Ijtihad Jama’i). This way is done by MUI and its fatwa commission, NU and Its Bahtsul Masail, Muhammadiyah and Its Majlis Tarjih. Unfortunately, in covid-9 pandemic, the meeting for collective ijtihad is not easy to do because of the healthy protocol. Instead of that, the discussion to determine fatwa should be done as responding religious problems, but by virtual ijtihad via Zoom and others application, such as whatsapp groups. Therefore, this article discuss about the way ulamas responds the law-religious problems during Covid-19 pandemic. Abstrak Covid-19 telah ditetapkan sebagai pandemi global oleh World Health Organization (WHO) sehingga berbagai negara, termasuk Indonesia, menetapkan protokol kesehatan dalam upaya pencegahan penyebaran virus ini. Salah satunya adalah dengan melakukan social distancing baik dengan cara lockdown maupun hanya dengan melakukan physical distancing. Kebijakan ini tentu berpengaruh terhadap tatanan kehidupan manusia, termasuk dalam ritual keagamaan. Tentu persoalan keagamaan harus mendapatkan jawaban dari para ulama agar umat mendapatkan kepastian hukum. Problemnya adalah, setiap persoalan hukum biasanya dalam kondisi normal dilakukan dengan cara kolektif (ijtihad jama’i), baik yang dilakukan oleh MUI dengan komisi fatwanya, NU dengan Lembaga Bahtsul Masailnya, Muhammadiyah dengan Majlis Tarjihnya, dan ormas-ormas lainnya. Namun dalam kondisi seperti sekarang ini (masa pandemi Covid-19) tentu tidak mudah untuk dilakukan. Maka muncullah terobosan baru dengan cara memaksimalkan kecanggihan teknologi, sehingga persoalan keummatan tetap bisa direspon dengan baik melalui ijtihad ‘virtual’, baik dengan cara melalui aplikasi Zoom maupun melalui chatting dengan memaksimalkan group-group Whatsapp (WAG). Oleh karena itu, kajian ini akan membahas tentang bagaimana para kyai (ulama) merespons persoalan hukum selama pandemi Covid-19

    Tafsir Tahlili: Sebuah Metode Penafsiran Al-Qur'an

    Full text link
    Tafsir tahlili method is one of the method used by classical mufassir until now in interpreting al-Qur'an verses. This method emerges because of the necessity to the detail explanation of the instruction in the Al-Qur'an. This is also because of the increasing number of moslems along with the times, not only from the Arab nations but also from non-Arabic. Mufassir with tahlili method present an explanation of Al-Qur'an verses which are based on sequence of verses in the manuscripts (mushaf) of Al-Quran seen from any aspects, such as compatibility of one verse with another verse (munasabah al ayah), the cause of the descending verses, the meaning of verses globally, legal review contained, and additional explanation about qiroat, 'i'rab, and others. Keywords: Tafsīr Taḥlīlī , Method of Interpreting, Taḥlīlī Metode tafsir taḥlīlī merupakan salah satu metode yang digunakan oleh para mufassir klasik hingga kini dalam menjelaskan ayatayat al-Qur’an. Metode ini lahir karena kebutuhan terhadap penjelasan petunjuk al-Qur’an secara lebih rinci yang disebabkan kuantitas umat Islam yang semakin bertambah seiring perkembangan zaman, tidak hanya dari bangsa Arab saja tetapi juga non-Arab. Para mufassir dengan metode taḥlīlī menyajikan penjelasan ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan urutan ayat dalam mushaf dilihat dari berbagai aspeknya, seperti munāsabah ayat, sebab turun ayat, makna ayat secara global, tinjauan hukum yang terkandung dan tambahan penjelasan tentang qira’at, i’rab dan lainnya. Keywords: Tafsīr Taḥlīlī , Metode Tafsīr, Taḥlīl

    Urgensi Musyawarah dalam Alqur'an (Kajian Tafsir Tematik)

    Full text link
    The purpose of this writing is motivated by the change in paradigm and system of freedom in opinion, equality and fairness towards social behavior in the society. This study measures, compares and analyzes the principles of deliberation in the dimensions of Al-Qur'an, as well as comparing scientific principles that are sourced from the West. The influence of cultural acculturation and the development of Western political theory have become an urgency for the democratic system. So that requires an in-depth analysis about the perspective of Al-Qur'an towards deliberation, the position of deliberation in Islam, the principle of deliberation and the urgency of deliberation through the phenomenology of Al- Qur'an in solving that problem. Keywords: Deliberation, Al-Quran, Paradigm, Social Behavior Tujuan penulisan ini dilatarbelakangi oleh perubahan paradigma dan sistem kebebasan berpendapat, persamaan dan keadilan terhadap perilaku sosial di masyarakat. Kajian ini mengukur, membandingkan dan menganalisa prinsip musyawarah dalam dimensi Al-Quran, serta membandingkan kaidah-kaidah keilmuan yang bersumber dari Barat. Pengaruh akulturasi budaya dan perkembangan teori politik Barat telah menjadi urgensi bagi sistem demokrasi. Sehingga memerlukan sebuah kajian analisa yang mendalam tentang perspektif Al-Quran terhadap musyawarah, kedudukan musyawarah dalam Islam, prinsip musyawarah dan urgensi musyawarah melalui fenomenologis Al- Quran dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Kata Kunci : Musyawarah, Al-Quran, Paradigma, Perilaku Sosia

    69

    full texts

    148

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Hikmah Journal of Islamic Studies
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇