Hikmah Journal of Islamic Studies
Not a member yet
    148 research outputs found

    KAJIAN MA’ANIL HADIS TENTANG PEREMPUAN BEPERGIAN TANPA DIDAMPINGI MAHRAM

    No full text
    Abstract The study aims to convey the meaning contained in the hadith on a woman travels without accompanied by a mahram. The research is quite interesting to study recently, particularly concerning the relevance of the early fuqaha's understanding of the hadith with recent cases. This article describes some hadith explaining the prohibition to woman travels without accompanied by a mahram. Nevertheless, the hadith is implemented in the contemporary era, which commonly known as the millennial era. If the hadith were understood textually and carelessly, it would understand that all hadith has been attached nasakh by the period and place. However, it needs to reconsider why the hadith about women travels without accompanied by mahram emerges. From the review in this article, it is found that Rasulullah states the prohibition for a woman to travel without accompanied by a mahram. The prohibition was influenced by many factors, such as safety, chastity, and the situation was rather hostile for a woman at the time. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna yang terkandung dalam hadis tentang perempuan bepergian tanpa mahram. Kajian ini cukup menarik dibahas dewasa ini, terutama terkait relevansi pemahaman para fuqaha’ terdahulu tentang hadis tersebut dengan kasus-kasus yang muncul belakangan. Dalam artikel ini diuraikan tentang sejumlah hadis yang menjelaskan tentang larangan perempuan bepergian dengan tidak ditemani mahram. Bagaiamana hadis-hadis tersebut diterapkan dalam era kontemporer ini yang sering disebuat era millennial. Kalau semua hadis itu dipahami secara tekstual dan tergesa-gesa maka akan muncul pengertian bahwa semua hadis itu telah dinasakh oleh zaman dan tempat. Namun perlu direnungkan kembali kenapa Hadis tentang perempuan bepergian tanpa mahram itu muncul. Dari kajian dalam artikel ini ditemukan bahwa Rasulullah menyatakan ketidakbolehan seorang perempuan melakukan perjalanan seorang diri tanpa mahram. Larangan ini dipengaruhi faktor keamanan, kesucian dan ketidakberpihakan keadaan saat itu pada perempuan

    KLASIFIKASI AYAT-AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT MENURUT AL-ZAMAKHSYARI DALAM TAFSIR AL-KASYSYAF

    No full text
    Abstract The discussion in this article is intended to analyze az-Zamakhsyari's classification of muhkamat and mutasyabihat verses. Theoretically, the concept proposed by az-Zamakhsyari regarding muhkam and mutasyabih is actually similar to what has been classified by the previous ulema in general. Likewise, according to him, the mutasyabihat verses are the muhkamat verses by other ulemas. When finding the mutasyabihat verses, az-Zamakhsyari constantly measures or returns to muhkamat verses. In determining the muhkamat and mutasyabihat verses, az-Zamakhsyari uses at least two criteria: language and theological criteria. Abstrak Pembahasan dalam artikel ini dimaksudkan untuk menganalisis pengklasifikasian az-Zamakhsyari terhadap ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat. Secara teoritis, konsep yang ditawarkan al-Zamakhsyari tentang muhkam dan mutasyabih sebenarnya tidaklah jauh berbeda dengan yang diungkapkan ulama pada umumnya. Tetapi dalam prakteknya tidak jarang ayat-ayat yang muhkamat menurut beliau dianggap mutasyabihat oleh para ulama yang lain. Demikian juga sebaliknya, ayat-ayat yang mutasyabihat menurut beliau adalah muhkamat bagi ulama yang lain. Ketika menjumpai ayat-ayat mutasyabihat beliau mentolok-ukurkan atau mengembalikannya kepada ayat-ayat muhkamat. Dalam menentukan ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat tersebut az-Zamakhsyari setidaknya menggunakan dua kriteria, yaitu kriteria bahasa dan teologi

    SUMBERDAYA PERAIRAN (AQUATIC RESOURCES) DALAM PARADIGMA KEBAHARIAN ISLAM

    No full text
    Abstract The research aims to explain the Malayan and Nusantara maritime paradigm comprehension compared to the maritime, coastal, and nautical paradigm. The research of maritime terms are usually reduced and equal to a place containing plenty of saltwater quality and quantity, e.g. sea or maritime. Although, based on the writer's finding, in line with the notion's of the language and Middle East experts, al-baḥr, which then absorb in Indonesian as the word 'bahari', aside from saltwater civilization, is also intended to cover plenty of freshwater quality and quantity in the land. The study is qualitative research by combining and excavating thoroughly through data prepared before and emphasizing library research. Therefore, the writer conducts some exploration toward some data concerning maritime management in Islam and nautical management in the world. In addition, the writer also uses articles related to the research topic, writings, documents, or national or international journals. The data analysis of the article uses the qualitative content analysis technique. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kekomprehensifan paradigma kebaharian Nusantara dan Melayu jika dibandingkan dengan paradigma kelautan, pesisir, atau kemaritiman. Penelitian tentang kebaharian cenderung direduksi dan disamakan hanya merujuk pada suatu tempat yang menampung sejumlah kualitas dan kuantitas air yang hanya bersifat asin yang banyak, yaitu laut atau maritim. Padahal, berdasarkan temuan penulis, sejalan dengan pendapat para pakar bahasa dan kebudayaan Timur-Tengah, konsep al-baḥr yang kemudian diserap dalam Bahasa Indonesia terbakukan dalam istilah bahari, selain untuk peradaban air asin, juga diperuntukan bagi suatu tempat yang menampung sejumlah kualitas dan kuantitas air tawar yang terdapat di daratan. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan mengungkapkan dan menggali data secara lebih mendalam melalui data-data yang telah disediakan dan menitikberatkan pada kajian kepustakaan (library research). Karenanya yang dilakukan adalah eksplorasi terhadap sejumlah data, yang berkaitan dengan pengelolaan laut dalam Islam dan kelautan di dunia. Selain itu, artikel yang berkaitan dengan topik penelitian, baik berupa tulisan-tulisan, dokumen-dokumen, jurnal nasional, maupun internasional juga penulis gunakan. Analisa data artikel ini menggunakan teknik analisis isi secara kualitatif (qualitative content analysis)

    RELEVANSI KITAB MAULID SIMTUDDUROR KARYA AL IMAM AL HABIB ALI BIN MUHAMMAD ALHABSYI PADA NILAI AKHLAK

    No full text
    Abstract This study aims to determine the relevance of the content of moral education values in the book of Maulid Simtudduror by al-Imam al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi. The research is a library research type using descriptive analysis technique by collecting data or documents relating to the discussion theme and formulation of problems obtained from library sources, and then analyzed by reducing data, displaying data, and finally drawing the conclusion. The research result show Moral values contained in Simtud Duror book are; 1) chastity to Allah SWT that is by Exalting and Praising His Name, begs for blessing and be grateful, 2) chastity to Rasulullah PBUH that is by hail Sholawat when mentioning his name, 3) chastity to oneself, that is, by having a sense of shame, tell the truth, behave zuhud, have a strong determination, be gentle, and generous, 4) engage in matrimony, by selecting a good, fair, and compassionate spouse, 5) chastity in the society, that is, to fulfill any invitation without distinct its status, and always honest even when in joking. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui relevansi kandungan nilai pendidikan akhlak dalam kitab maulid simtudduror karya al-Imam al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi. Penelitian ini merupakan jenis Library Research dengan teknik analisis deskriptif analisis, dengan cara mengumpulkan data atau bahan-bahan yang berkaitan dengan tema pembahasan dan permasalahannya, yang diambil dari sumber-sumber kepustakaan, kemudian dianalisis dengan mereduksi data, men-display data lalu memberikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan nilai-nilai Akhlak yang terkandung dalam kitab Simtud Duror antara lain; 1) akhlak kepada Allah SWT yaitu menyucikan dan memuji asma-Nya, memohonkan ridho, dan bersyukur, 2) akhlak kepada Rasulullah SAW yaitu membacakan shalawat ketika disebutkan namanya, 3) akhlak kepada diri sendiri yaitu mempunyai rasa malu, berkata jujur, berperilaku zuhud, memiliki tekad kuat, lemah lembut, dan dermawan, 4) berkeluarga yaitu mampu memilih pasangan hidup yang baik, adil, dan kasih sayang, 5) akhlak bermasyarakat yaitu memenuhi undangan tanpa membeda-bedakan dan berkata jujur walaupun dalam bergurau

    Penyimpangan dalam Tafsir Al-Qur'an

    Full text link
    Al-Qur'an is the revelation of Allah Almighty which was revealed as the guidance for human being until the end of time. Therefore, the Qur'anic text does not change, but its interpretation can be influenced by various factors that sometimes cause distortion. Distortion occurs when interpretation is no longer conducted suitable with predetermined lines, which are methodology of Al- Qur'an interpretation that has been agreed as the first step for every interpreter either in language acquisition, understanding the history of descending Al-Qur'an, supporting sciences related to it and the 'super strict' conditions that must be possessed by every interpreter. This article discusses about the factors of misinterpretation which include following al-Mutashabihat and ignoring al-Muhkamat, bad judgment, placing the sentence (nas) not in the proper position, Nasakh claims as the sign of theorem, nescience towards Sunnah and Athar, more trusting in Isra'iliyyat, turn away from the ummah agreement and weak in science. Keywords: factors, Distortion, Interpretation. Al-Qur’an merupakan wahyu Allah Swt yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia sampai akhir zaman. Karena itu, teks Al-Qur’an tidak mengalami perubahan, namun penafsiran terhadapnya bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor yang terkadang menyebabkan penyimpangan. Penyimpangan terjadi ketika penafsiran tidak lagi dilakukan sesuai dengan garis-garis yang sudah ditetapkan yaitu metodologi penafsiran al-Qur’an yang sudah disepakati sebagai langkah awal bagi setiap penafsir baik dalam penguasaan bahasa, memahami sejarah diturunkannya al-Qur’an, ilmu-ilmu penopang yang berkaitan dengannya serta syarat-syarat ‘super ketat’ yang harus dimiliki oleh setiap penafsir. Artikel ini membahas seputar faktor-faktor penyimpangan tafsir yang di antaranya mengikuti al-Mutāshābihat dan mengabaikan al-Muhkamāt, penakwilan yang buruk, meletakkan kalimat (nas) bukan tidak pada posisi seharusnya, klaim Nasakh tanda dalil, ketidaktahuan terhadap Sunnah dan Āthār, lebih percaya pada Isrā’iliyyāt, keberpalingan dari kesepakatan umat dan lemah dalam ilmu pengetahuan. Kata kunci: faktor-faktor, penyimpangan, tafsi

    (RETRACTION ) Sunda Wiwitan Baduy: Agama Penjaga Alam Lindung di Desa Kenekes Banten

    Full text link
    RETRACTION TO: WAHID, Masykur. Sunda Wiwitan Baduy: Agama Penjaga Alam Lindung di Desa Kenekes Banten. Hikmah: Journal of Islamic Studies, [S.l.], v. 11, n. 1, p. 33-54, may 2020. ISSN 2581-0146. This article has been retracted by Publisher based on the following reason: The Editor of HIKMAH Journal found the double publication in the article publishing due to article's content similarity published in EL HARAKAH Vol 13, No. 2 (2011) URL: http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub/article/view/1888. Titled” SUNDA WIWITAN BADUY: Agama Penjaga Alam Lindung di Desa Kanekes Banten” with the same author who is Masykur Wahid. Based on clarification, Author of the article have admitted that she has published the same article published in EL HARAKAH Vol 13, No. 2 (2011)

    Ziarah dan Relasi Sunni-Syiah: Akar Serazngan Mematikan Terhadap Peziarah di Pakistan

    Full text link
    One of the areas that had conflict and the deadliest religious conflicts and violence in Islam world is in Pakistan, a Nation that has strong and profound Islamic tradition. Muslims in Pakistan are around 180 millions population, and 15 percent among them are followers of Shia madzhab. It has been three decades since Pakistan was declared in 17 August 1947, Sunni and Shia community lived in Harmony. However, ahead of Islamic revolution in Iran in 1979, Sunni-Shia’s relation heated up. In the last two decades, Pakistan region has become the deadliest region, especially for Pakistan Shia Pilgrims. This paper tries to see the root of the problems. Based on study toward literary materials, there are three factors causing Sunni-Shia conflict in Pakistan, which are : by the appointment of General Muhammad Zia-ul-Haq in the authority (1977), The Iranian Islamic Revolution in 1979, and the politics of nerve war in border Kashmir and Afganistan. Nevertheles, conflicts and the deadly violence are more complex due to power competition in the country and intervention from United States, Saudi Arabia, and Iran. Keywords: Wali, Tawassul bi al-Dhāt, Salafi- Wahabi, Imāmiyah. Salah satu wilayah yang mengalami konflik dan kekerasan keagamaan paling mematikan di dunia Islam adalah Pakistan, negara yang memiliki tradisi keIslaman cukup kuat dan mengakar. Umat Muslim di Pakistan berjumlah sekitar 180 juta, dan 15 persen diantaranya merupakan penganut mazhab Syiah. Telah tiga dasawarsa sejak Pakistan didirikan pada 17 Agustus 1947, komunitas Sunni dan Syiah hidup dalam suasana harmonis. Namun menjelang revolusi Islam di Iran pada 1979, hubungan Sunni- Syiah memanas. Dua dasawarsa terakhir wilayah Pakistan menjadi wilayah paling mematikan, khususnya bagi peziarahpeziarah Syiah Pakistan. Tulisan ini hendak melihat akar permasalahan tersebut. Berdasarkan telaah terhadap bahanbahan tertulis, ada tiga faktor yang menyulut konflik Sunni- Syiah di Pakistan, yakni: naiknya Jenderal Muhammad Zia-ul- Haq dalam tampuk kekuasaan (tahun 1977), Revolusi Islam Iran tahun 1979, dan politik perang syaraf di perbatasan Kashmir dan Afghanistan. Namun, konflik dan kekerasan mematikan tersebut semakin kompleks akibat persaingan kekuasaan di dalam negeri, dan campur tangan Amerika Serikat, Saudi Arabia, dan Iran. Kata Kunci: Wali, Tawassul bi al-Dhāt, Salafi- Wahabi, Imāmiyah

    PERANAN PERHATIAN ORANG TUA DALAM MENSTIMULUS KECERDASAN KOGNISI ANAK

    No full text
    Abstract The research on the role of parents in stimulating children cognitive intelligence aims to uncover parents attention to the children cognitive intelligence, namely the result of learning. It is a non-experiment qualitative research examined to 33 students the fourth grade in social sciences subject. The date is qualitatively and descriptively analysed. The result shows that parents attention influences the stimulus of children cognitive intelligence. It can be concluded from the result of student learning. The result is in line with calculated-t hypothesis greater than ttabel with dk = n-k = 33-2 =31 on significant level 0,05. A one-tailed test is 1.695 meaning t value (17,447) is greater than ttabel (1,695). It means Ho rejected. Therefore, the hypothesis is sound that parents attention contributes positively to the stimulus of children cognitive intelligence. It can be seen form the student result of learning. In other word, the more attention the parent give to the children, the better the result of children’s learning and vice versa. Abstrak Penelitian peranan perhatian orang tua dalam menstimulus kecerdasan kognisi anak bertujuan untuk mengetahui pengaruh perhatian orang tua terhadap kecerdasan kognisi anak yang berupa hasil belajar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non experiment yang diujicobakan kepada 33 peserta didik kelas IV mata pelajaran IPS, sedangkan data dianalisis secara diskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan perhatian orang tua mempengaruhi stimulus kecerdasan kognisi anak, dapat dilihat dari hasil belajar siswa IPS. Hal ini sesuai dengan pengujian hipotesis t hitung yang lebih besar dari ttabel dengan dk = n-k = 33-2 =31 pada taraf signifikansi 0,05 uji satu sisi adalah 1.695 yang berarti thitung (17,447) lebih besar dari ttabel (1,695) hal ini berarti Ho ditolak. Dengan demikian hipotesis penelitian terbukti kebenarannya bahwa Perhatian Orang Tua berpengaruh positif terhadap stimulus kecerdasan kognisi anak yang berupa hasil belajar siswa. Simpulannya bahwa adanya pengaruh perhatian orang tua dalam menstimulus kecerdasan kognisi anak, yang mana semakin tinggi perhatian orang tua, maka cenderung semakin tampak kecerdasan anak dari segi hasil belajarnya, sebaliknya semakin rendah perhatian orang tua maka semakin rendah pula hasil belajarnya

    TRANSFORMISME PENDIDIKAN DI NEGARA MAJU: INISIATIF FILOSOFIS PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN DI INDONESIA

    No full text
    Abstract Finland has been acknowledged as having the best education system in the world. Many countries, such as Australia, Japan and Singapore, adopted Finland education system. Those countries have reformed and transformed their education system, and now, those countries are listed in the best management and quality education countries. The integration among curricula, market and philosophical values of nation founding fathers as world view has resulted transformation of education. Programme for Internasional Student Assessment (PISA) 2019 assessed the quality of education in term of reading, math and science and made Indonesia ranked on the 72nd out of 77 countries. In other word, Indonesia is the 6th ranking from below. At the same time, Singapura took the runner up position. Indonesia has left behind from other countries, including Malaysia and Brunei. It is imperative for Indonesia to learn more to those countries which succeeded in designing the system of education. By doing this, Indonesia will be equal to neighboring countries. Abstrak Finlandia diakui memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Banyak negara di dunia belajar dari kesuksesan Finlandia, seperti Australia, jepang dan singapura. Ketiga negara ini, telah melakukan reformasi bahkan transformasi pendidikan untuk memperbaiki sistem pendidikannya sehingga sekarang mampu menempatkan diri dalam jajaran negara-negara terbaik dalam manajemen mutu pendidikan. Sinergi aspek kebijakan, kurikulum dan pasar serta nilai-nilai filosofis sebagai pandangan hidup yang telah dilahirkan para pendiri bangsa telah melahirkan transformisme pendidikan. Pada tahun 2019, Programme for Internasional Student Assessment (PISA) yang merupakan lembaga survei kualitas pendidikan di dunia dari aspek kemampuan membaca, matematika, dan sains telah menempatkan Indonesia pada urutan 72 dari 77 negara. Jadi, Indonesia berada pada peringkat keenam dari bawah sedangkan Singapura berada pada posisi kedua terbaik dan juga jauh tertinggal di belakang negara-negara tetangga lainnya, seperti seperti Malaysia dan Bruai Darusaalam. Indonesia harus banyak belajar dari negera-negara yang telah sukses mendesain sistem pendidikan yang baik sehingga kualitas, mutu pendidikan dapat disejajarkan dengan negara-nega lainnya

    KEDUDUKAN FATWA DI NEGARA MUSLIM: INDONESIA, BERUNAI DARUSSALAM, MALAYSIA, MESIR

    No full text
    Abstract Muslims will face many complex problem. They need solution to overcome. When Prophet Muhammad lived, all the problem either worldly or heavenly, were attributed to him. But after his death, the role of the companions, successor and ulamas at that time were such fatwa giver/council. It continues today. So, council of fatwa has significant position, dealing with religious affairs and also state-nation problems. They will be a reference to solve the problems. The position of the fatwa council is different in every muslim countries. It also influenced to the products of fatwa. Abstrak Dari hari ke hari permasalahan yang dilami oleh ummat Islam khususnya semakin kompleks sehingga membutuhkan solusi yang tepat untuk mengatasinya. Saat Nabi Muhammad masih hidup, semua urusan baik yang bersifat duniawi, terlebih yang menyangkut ukhrawi langsung disandarkan sepenuhnya kepadanya. Namun beda halnya setelah ia wafat maka peran sahabat, tabi’in, ulama atau sejenis majelis fatwa kemudian menjadi estafet dalam melanjutkan tradisi sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi sebelumnya. Itulah maka majelis fatwa mempunyai kedudukan penting, tidak hanya dalam urusan agama tetapi meyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara serta berkehidupan sebagai salah satu sumber rujukan yang bersifat logis maupun yuridis secara eksplisit dalam menata kehidupan yang layak dan semestinya. Sebagai salah satu referensi atau rujukan dalam mengatasi problematika, namun kedudukan fatwa pada masing-masing negara bebeda-beda sehingga berdampak pula terhadap kualitas fatwa yang diproduksi

    69

    full texts

    148

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Hikmah Journal of Islamic Studies
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇