Hikmah Journal of Islamic Studies
Not a member yet
148 research outputs found
Sort by
MENGGALI POTENSI ANAK DALAM PENDIDIKAN ISLAM
AbstractEvery child is born with a state of purity and nature. This means that children are born in a weak state when in fact they have great potential. But that does not mean that every child is born like a white paper that has not been tarnished, as John Lock argues, and in the Jabariyah view, which considers helpless. This ability assumes that humans have the potential in the form of certain desires related to various types and levels of logical, mental and psychological abilities. Therefore education is needed as a means for the possibilities that exist in individuals for growth and development in accordance with the nature of their creation. How to educate children in Islam, namely; (1) Teach monotheism sentences, (2) attach a good name, (3) train children to pray and provide separate beds for men and women, (4) teach your children to love the Prophet. experts in captivity and reading the Qur'an Therefore, the educational process that meets the needs of nature must be started immediately. This is where the importance of family education by parents. So, in the end, Muslims will be the best of people. AbstrakSetiap anak terlahir dengan keadaan suci dan fitrah. Artinya anak dilahirkan dalam keadaan yang lemah padahal sebenarnya memiliki potensi yang besar. Tapi itu tidak berarti setiap anak dilahirkan seumpama bagaikan kertas putih yang belum ternodai, seperti pendapat oleh John Lock, dan dalam pandangan jabariyah yang menganggap tak berdaya. Kemampuan ini menganggap bahwa manusia memiliki potensi berupa keinginan-keinginan tertentu yang berkaitan dengan berbagai jenis dan tingkat kemampuan logis, mental dan psikologis. Oleh karena itu pendidikan diperlukan sebagai sarana Untuk kemungkinan yang ada pada individu untuk pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan fitrah ciptaannya. Cara mendidik anak dalam Islam yaitu; (1) Mengajarkan anak kalimat Tauhid, (2) Menyematkan nama yang baik, (3) Menlatih anak agar mau melaksanakan sholat dan Menyediakan Tempat Tidur Terpisah antara Laki-laki dan Perempuan, (4) Ajarkan anak-anakmu untuk mencintai Nabi. ahlinya dalam penangkaran dan membaca Al-Qur'an Oleh karena itu, proses pendidikan yang memenuhi kebutuhan fitrah harus segera dimulai. Di sinilah pentingnya pendidikan keluarga oleh orang tua. Sehingga, pada akhirnya, umat Islam akan menjadi sebaik-baik umat.
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH INKLUSI
AbstractThrough this research, the researcher aimed to analyze and integrate the character education strategy in Sumbersari Primary School 1 Kota Malang and Muhammadiyah Primary School 04 Kota Batu, to become a mixed character education strategy that includes morals knowledge, moral love and moral action. The results of this study indicate that the moral knowledge strategy includes: psychological testing when students want to go to school, planning character education through RPP, transmission of character values through the method of course, character information, extracurricular activities and assessment carried out with the student's character assessment sheets or through tortuous activities. Although the moral strategy of love is achieved through a teacher or character, extracurricular activities, visits to inspiring places such as a hero's grave, character films, 'peer therapy, religious activities and punishment activities that arouse students. While moralizing strategies such as helping each other, collecting trash together and pointing fingers, going to class with your right foot and praying, praying when you start the lesson, speaking and being polite, and pray together.AbstrakPenelitian ini menganalisis dan menggabungkan strategi pendidikan karakter yang ada di sekolah inklusif yaitu SDN Sumbersari 1 Kota Malang dan SD Muhammadiyah 04 Kota Batu, menjadi strategi penanaman karakter gabungan yang meliputi pengetahuan moral, cinta moral dan tindakan moral. Kajian menunjukkan bahwa strategi penanaman pengetahuan moral meliputi: tes psikologi ketika siswa akan masuk sekolah, perencanaan pendidikan karakter melalui RPP, penanaman nilai karakter proses atau metode pembelajaran, informasi tentang karakter, kegiatan ekstrakurikuler dan penilaian yang dilakukan dengan lembar evaluasi karakter siswa, maupun melalui kegiatan kelompok. Sedangkan cinta moral dilakukan melalui wibawa dan tindakan guru atau inspirasi tokoh teladan, kegiatan ekstrakurikuler, kunjungan ke tempat-tempat yang merangsang seperti Makam Pahlawan, menonton film karakter, kegiatan terapi sebaya, kegiatan keagamaan dan hukuman yang menyadarkan siswa. Adapun pembiasan tindakan moral dilakukan seperti gotong royong, mengumpulkan sampah secara bersama-sama dan berkala, masuk kelas dengan kaki kanan dan memanjatkan doa, memulai kelas pembelajaran dengan berdoa, berbicara dan berperilaku santun, sholat dhuha dan zuhur berjamaah.AbstractThrough this research, the researcher aimed to analyze and integrate the character education strategy in Sumbersari Primary School 1 Kota Malang and Muhammadiyah Primary School 04 Kota Batu, to become a mixed character education strategy that includes morals knowledge, moral love and moral action. The results of this study indicate that the moral knowledge strategy includes: psychological testing when students want to go to school, planning character education through RPP, transmission of character values through the method of course, character information, extracurricular activities and assessment carried out with the student's character assessment sheets or through tortuous activities. Although the moral strategy of love is achieved through a teacher or character, extracurricular activities, visits to inspiring places such as a hero's grave, character films, 'peer therapy, religious activities and punishment activities that arouse students. While moralizing strategies such as helping each other, collecting trash together and pointing fingers, going to class with your right foot and praying, praying when you start the lesson, speaking and being polite, and pray together.Keywords:character education; inclusion schoolAbstrakPenelitian ini menganalisis dan menggabungkan strategi pendidikan karakter yang ada di sekolah inklusif yaitu SDN Sumbersari 1 Kota Malang dan SD Muhammadiyah 04 Kota Batu, menjadi strategi penanaman karakter gabungan yang meliputi pengetahuan moral, cinta moral dan tindakan moral. Kajian menunjukkan bahwa strategi penanaman pengetahuan moral meliputi: tes psikologi ketika siswa akan masuk sekolah, perencanaan pendidikan karakter melalui RPP, penanaman nilai karakter proses atau metode pembelajaran, informasi tentang karakter, kegiatan ekstrakurikuler dan penilaian yang dilakukan dengan lembar evaluasi karakter siswa, maupun melalui kegiatan kelompok. Sedangkan cinta moral dilakukan melalui wibawa dan tindakan guru atau inspirasi tokoh teladan, kegiatan ekstrakurikuler, kunjungan ke tempat-tempat yang merangsang seperti Makam Pahlawan, menonton film karakter, kegiatan terapi sebaya, kegiatan keagamaan dan hukuman yang menyadarkan siswa. Adapun pembiasan tindakan moral dilakukan seperti gotong royong, mengumpulkan sampah secara bersama-sama dan berkala, masuk kelas dengan kaki kanan dan memanjatkan doa, memulai kelas pembelajaran dengan berdoa, berbicara dan berperilaku santun, sholat dhuha dan zuhur berjamaah.Kata Kunci:pendidikan karakter; sekolah dasar inklus
KONTROVERSI ISU NEPOTISME KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN
AbstractUtsman bin Affan was famous as fair chalif and had many achievements during his tenure as chalif. Howefer, all the virtues and achievements during his caliphate seemed to disappear because of his controversial policies. The circulating issues, especially the issue of nepotism caused a rebellion that ended in the death of caliph Utsman bin Affan. Ironically, orientalist historians and some Muslim historians in their writings later branded Utsman bin Affan as the first person to practice nepotism in the history of Islamic civilization. This study aims to explore Utsman bin Affan’s policies were the root of the isu nepotism in his time. This study uses library research to provide and overview of the nepotism controversy during the caliphate of Utsman bi Affan. At the time of caliph Utsman, the issue of nepotism was blowing hard when the rebels accused Utsman bin Affan of firing a number of officials and replacing them with relatives who did not have the ability and capacity to lead the Muslims. As for giving positions to relatives accompanied by considerations of competence, professionalism and trustworthiness, it is not prohibited in Islam. AbstrakUtsman bin Affan dikenal sebagai khalifah yang adil dan banyak memiliki prestasi selama menduduki kursi khalifah. Namun, semua keutamaan dan prestasi selama masa kekhalifahannya seakan sirna karena kebijakannya yang dianggap kontroversial. Isu-isu yang beredar terutama isu nepotisme menyebabkan terjadinya pemberontakan yang berakhir dengan kematian Khalifah Utsman bin Affan. Ironisnya para sejarawan orientalis dan beberapa sejarawan muslim dalam tulisannya kemudian mencap Utsman bin Affan sebagai orang pertama yang melakukan praktik nepotisme dalam sejarah peradaban islam. Penelitian ini bertujuan mengupas lebih dalam kebijakan-kebijakan Utsman bin Affan yang menjadi akar isu nepotisme di masanya. Penelitian ini menggunakan library research untuk memberikan gambaran umum tentang kontroversi nepotisme pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Di masa Khalifah Utsman isu nepotisme ini berhembus kencang ketika para pemberontak menuduh Utsman bin Affan memecat sejumlah pejabat dan menggantinya dengan kerabat yang tidak mempunyai kemampuan dan kapasitas untuk memimpin kaum muslimin. Adapun memberikan jabatan kepada kerabat yang disertai dengan pertimbangan kompetensi, profesionalisme dan sifat amanah, maka tidak dilarang dalam Islam.
SHALAT KESELARASAN SEMESTA: Keterhubungan Hukum Hakikat dan Hukum Syariat
AbstractThis article aims to explore the cohesion and harmony of the meaning of prayer that connects the law of occurrence (essence) and the law of brushing (Shari'a) as the main capital of the progress of one nation's civilization. This study uses a linguistic approach that is analyzed linguistically by researchers and literature study. From the results of the analysis and study of the author, it was found that individuals who halt their lives by interpreting the concept of 3 (three) pillars of prayer will harmonize the law of their essence and the law of the rule of worship against themselves. The pattern of harmony between the laws of nature and the laws of collective Sharia will build prosperity for mankind, and will give birth to blessings in the form of prosperity and progress of one nation's civilization. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk menggali kohesi dan harmoni pemaknaan shalat yang menghubungkan hukum kejadian (hakikat) dan hukum penyikapan (syariat) sebagai modal utama kemajuan peradaban satu bangsa. Kajian ini menggunakan pendekatan linguistik yang dianalisa secara kebahasaan oleh peneliti dan pendekatan studi literatur. Dari hasil analisa dan kajian penulis ditemukan bahwa individu yang menshalatkan kehidupannya dengan memaknai konsep 3 (tiga) rukun shalat akan menyelaraskan hukum hakikat dirinya dan hukum aturan penyikapan terhadap diri. Pola keselarasan hukum hakikat dan hukum syariat kolektif akan terbangun kesejahteraan untuk umat manusia, serta akan melahirkan keberkahan berupa kemakmuran dan kemajuan peradaban satu bangsa
THE DEVELOPMENT OF THE MODERN SOCIETY ORDER MOVEMENT IN INDONESIA AND PAKISTAN
AbstractUrban Sufism is a phenomenon that occurs in almost all major cities in the world. In a metropolis environment that is increasingly strongly influenced by postmodern culture, the presence of classes of spirituality is both promising and worrying. On the one hand, the discourse of spirituality becomes the guardian of the "sanctity of the soul". But on the other hand, spirituality is also feared to be trapped in the mechanisms of life of postmodern society. This research is an academic study to determine the impact of the tarekat movement on people's lives in Indonesia and Pakistan, as well as enrich the insight into social and diverse life a. The research method used in this research is a qualitative method carried out through tracing and reviewing information from a number of library materials (library research) and interviews. AbstraksUrban Sufism merupakan fenomena yang terjadi nyaris di segenap kota besar di dunia. Dalam lingkungan masyarakat metropolis yang kian kuat dipengaruhi budaya postmodern, kehadiran kelas-kelas spiritualitas merupakan sesuatu yang menjanjikan sekaligus mengkhawatirkan. Di satu sisi, wacana spiritualitas menjadi penjaga “kesucian jiwa”. Namun di sisi lain, spiritualitas juga dikhawatirkan dapat terperangkap dalam mekanisme kehidupan masyarakat posmodern. Penelitian ini adalah sebuah study akademis untuk mengetahui dampak gerakan tarekat pada kehidupan masyarakat di Indonesia dan Pakistan, serta memperkaya wawasan kehidupan bermasyarakat dan beragama. Metode penelitian yang digunakan pada penelitin ini adalah metode kualitatif yang dilakukan melalui penelusuran dan pengkajian informasi dari sejumlah bahan pustaka (library research) dan wawancara.
ANALISIS DESKRIPTIF METODE ISTINBAT HUKUM MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)
AbstractMajelis Ulama Indonesia (MUI)/The Council of Indonesia Ulama a body of muslim scholars established by the Indonesia government as the channel of communication to the society. One of MUI’s task and authority is delivering the fatwa (Islamic legal opinion) to the need individually or institutionally. Legal problems addressed to MUI varied, ranging from private to public ones. In term of that, MUI compiled the guidance of fatwa establishment. It is based on Decision Letter of Board Leader of Majelis Ulama Indonesia, Number: U-596/MUI/X/1997. It is stated in the guidance of fatwa that every fatwa is legal opinion based on high authoritative law and bring the goodness (maslahah) to people. The basic principles in determining fatwa are al-Qur’an, hadith, Ijmak (consensus), qiyas (analog), and others principles of law. AbstrakMajelis Ulama Indonesia (MUI) merupakan lembaga yang dibentuk oleh pemerintah dengan fungsi sebagai saluran komunikasi umat Islam. MUI memiliki sejumlah tugas dan wewenang, salah satunya adalah memberikan fatwa bagi orang yang membutuhkannya, baik yang bersifat individual ataupun lembaga pemerintahan. Permasalahan yang diajukan kepada MUI untuk dimintai fatwa pun beragam, baik masalah pribadi bahkan masalah publik. MUI telah menyusun pedoman penetapan fatwa sebagai acuan dalam memutuskan suatu permasalahan, sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan nomor: U-596/MUI/X/1997. Dalam pedoman ini dikatakan bahwa setiap fatwa yang dikeluarkan harus berupa pendapat hukum yang didasarkan oleh dalil-dalil yang paling kuat, serta membawa kemaslahatan bagi umat. Dasar-dasar yang dijadikan pegangan dalam penetapan fatwa adalah al-Qur’an, hadits, ijmak, kiyas, dan dasar-dasar hukum lainnya.
KESEHATAN MENTAL PERSPEKTIF TAFSIR AL-MISBAH KARYA M. QURAISH SHIHAB
AbstractThis article discusses mental health in Muhammad Quraish Shihab's Tafsir Al-Misbah, which discusses verses related to mental health in the Qur'an. The conclusion of this article, first: mental health has a close relationship with faith and efforts to obtain and maintain mental health. With high faith accompanied by an attitude of patience, sincerity, gratitude, ridha, and piety and optimizing self-potential through remembrance and good deeds, mental health will be obtained which is marked by peace and tranquility and a happy life in the world and the hereafter, as well as the Qur'an. 'an is a psychotherapy for mental illness and psychosomatic illness. Second, M. Quraish Shihab's concept of mental health has relevance to modern mental health based on Abraham H. Maslow's hierarchy of needs theory. Faith and spirituality are at the level of the highest needs, namely self-actualization, and enjoyment of the world is at the level of the most basic needs, namely physiological needs. The concept of mental health from the perspective of M. Quraish Shihab's interpretation based on Maslow's hierarchy of needs can be described as follows: physiological needs, safety needs, social needs and self-actualization needs.AbstrakArtikel ini mengkaji ayat-ayat kesehatan mental dalam Al-Qur`an menurut perspektif Kitab Tafsir Al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab. Adapun hasil dari penelitian diantaranya adalah, pertama: kesehatan mental sangat berkaitan erat dengan keimanan dan upaya dalam memperoleh, menjaga kesehatan mental. Melalui Keimanan, kesabaran, ikhlas, syukur, ridha dan takwa kepada Allah yang disertai memaksimalkan potensi diri dengan zikir dan amal saleh, kesehatan mental akan hinggap pada kehidupan yang ditandai dengan munculnya ketentraman dan ketenangan hati serta kehidupan yang bahagia di dunia maupun nanti akhirat, serta Al-Qur’an merupakan psikoterapi bagi penyakit jiwa dan penyakit psikosomatik. Kedua, konsep kesehatan mental M. Quraish Shihab berkaitan dengan konsep kesehatan mental modern berdasarkan teori hierarki kebutuhan Abraham H. Maslow. Akidah dan spiritualitas berada pada tingkat kebutuhan tertinggi yaitu aktualisasi diri, dan kenikmatan dunia menempati tingkat kebutuhan paling dasar yaitu kebutuhan fisiologis. Konsep kesehatan mental perspektif penafsiran M. Quraish Shihab berdasarkan hierarki kebutuhan Maslow dapat diuraikan sebagai berikut: kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan keamanan (safety needs), kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang (social needs), dan kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization Needs)
EFEK GLOBALISASI DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN
AbstractGlobalization can be interpreted as a condition where human interaction is not separated by space and time. In this condition, the competition for life is getting tougher because it does not only intersect with the local community but with the global community. This study focuses on analyzing the effects of globalization on education programs in Indonesia. This study uses qualitative research methods with literature studies. Based on the results of literature research, globalization has implications for the face of the world of education, start shifting from tradition to modernization, from social spiritual to commercial, and from local to universal. The researcher also identified the presence of eight programs as an effect of globalization in the world of education, the inclusion of foreign languages as learning materials, the presence of foreign language/literature majors, program collaboration between cross-country educational institutions, collaboration with foreign donor agencies, the existence of an international level Student Competency Assessment, establishment of cross-border educational institutions, cross-country lecturer exchanges, and student exchanges between countries.AbstrakGlobalisasi bisa dimaknai sebagai sebuah keadaan dimana interaksi manusia sudah tidak bersekatkan ruang dan waktu. Dalam kondisi ini, persaingan hidup semakin ketat karena tidak hanya bersinggungan dengan komunitas lokal saja tapi jauh lebih luas yaitu dengan komunitas global. Penelitian ini fokus menganalisis bagaimana efek globalisasi terhadap program Pendidikan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi literatur. Berdasarkan hasil penelitian literatur ditemukan fakta bahwa globalisasi berimplikasi pada wajah dunia pendidikan mulai dari pergeseran tradisi ke modernisasi, sosial spiritual ke komersial, dan dari lokal ke universal. Peneliti juga mengidentifikasi hadirnya delapan program sebagai efek globalisasi di dunia pendidikan, yaitu masuknya bahasa asing sebagai materi pembelajaran, hadirnya jurusan bahasa / sastra asing, kerjasama program antar lembaga pendidikan lintas negara, kerjasama dengan lembaga donor luar negeri, adanya Asesmen Kompetensi Siswa tingkat internasional, pendirian lembaga pendidikan lintas negara, pertukaran dosen lintas negara, dan adanya pertukaran pelajar antar negara.
ANALISA KAIDAH USHULIYAH DAN KAIDAH FIQHIYYAH TERHADAP PERBEDAAN PENDAPAT FIQH
Abstract
This writing discusses the influence of Ushul and Fiqh principles toward the Ulema's and Muslim scholars' opinion differences regarding fiqh issues, particularly on the legal status of profession zakat. The emergence of pros and cons on profession zakat laws can not be separated from its legal foundation, which lies in the Quran that has global nature so that it needs ushul and fiqh principles as the analysis tools to formulate the laws. This article uses a normative research framework (doctrinal) in Islamic laws, i.e., legal rules in the Quran, hadith, and ushuliyah and fiqhiyyah principles, as the legal parameter generated in this research. This article concludes that there is a difference in legal opinion for profession zakat; that is, the first group says it is mandatory, and the second group opposes the obligation of profession zakat. The differences occur because of the distinction in applying the principles of ushul and fiqh and comprehending the different principles. The principles of ushul and fiqh used in interpreting the text also need to consider the existing reality to create dialectics between text and context.
Abstrak
Tulisan ini mendiskusikan tentang pengaruh kaidah ushul dan kaidah fiqih terhadap adanya perbedaan pendapat para ulama dan cendekiawan muslim pada masalah fiqih, khususnya tentang status hukum zakat profesi. Adanya pro dan kontra tentang hukum zakat profesi tidak terlepas dari persoalan dasar hukumnya yang ada di dalam al-Quran yang bersifat global, sehingga perlu kaidah ushul dan kaidah fiqh sebagai pisau analisis untuk merumuskan hukumnya. Dalam artikel ini menggunakan kerangka penelitian normatif (doktrinal) dalam hukum Islam yaitu aturan hukum yang ada dalam al-Quran, hadis dan kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyyah sebagai barometer keabsahan hukum yang dihasilkan dalam penelitian ini. Dalam artikel ini disimpulkan bahwa adanya perbedaan pandangan hukum zakat profesi terbagi menjadi dua pandangan; kelompok pertama mengatakan wajib, dan kelompok kedua menentang kewajiban zakat profesi. Hal ini terjadi karena penggunaan kaidah ushul dan fiqh yang berbeda dan cara memahami kaidah yang berbeda. Kaidah-kaidah ushul dan kaidah fiqih yang digunakan dalam menginterpretasi teks juga perlu mempertimbangkan realitas yang ada, sehingga ada dialektika antara teks dan konteks
PROFESIONALISME GURU REGULER DALAM PENDIDIKAN INKLUSIF
Abstract
Regular or public teacher requires a collaboration professionally to provide learning to the disabled children in the inclusive school. The research aims to explain the method to make assessment correctly and learning strategy for disabled students. The study is crucial to be conducted because it can increase regular teachers' professionalism in handling disabled children. Based on the Ministry of Education and Culture data in 2015/2016 in dapodik, the number of Junior High School (SMP) held inclusive education was 3,817 schools. According to Dunn, the method used in this research is the policy analysis method with normative and descriptive analysis.
Guru pendidikan reguler atau umum memerlukan suatu kolaborasi dengan professional dalam memberikan pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusif. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan cara melakukan asesmen yang benar dan strategi pembelajaran untuk siswa berkebutuhan khusus. Penelitian ini penting dilakukan karena secara khusus dalam meningkatkan profesionalisme guru reguler dalam menghadapi anak berkebutuhan khusus. Berdasarkan data Kemendikbud yang berupa dapodik tahun pelajaran 2015/2016 menunjukkan bahwa jumlah sekolah menengah pertama (SMP) yang menyelenggarakan pendidikan inklusif di seluruh Indonesia berjumlah 3.817 sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis kebijakan menurut Dunn, dengan analisis deskriptif dan normatif