Chimica et Natura Acta
Not a member yet
191 research outputs found
Sort by
Penentuan Besi (III) Secara Voltammetri Menggunakan Elektrode Grafit Pensil
Besi (Fe) adalah unsur yang penting dalam organisme hidup karena aktivitas biologisnya, misalnya sebagai kompleks porfirin dalam hemoglobin, mioglobin dan sitokrom. Namun, Fe yang melebihi ambang batas dalam air minum, sebagai Fe(II) dan Fe(III), dapat berdampak buruk bagi kesehatan sehingga penentuan kadar Fe menjadi penting. Penentuan Feumumnya dilakukan secara spektroanalisis maupun elektroanalisis. Dalam penelitian ini, penentuan Fe(III) secara voltammetri pulsa diferensial telah dilakukan menggunakan elektrode grafit pensil. Hasil penelitian menunjukkan kondisi optimum pengukuran meliputi: media buffer asetat pH 5,0; potensial awal -0,5 V; tahap potensial 4,0 mV; dan modulasi amplitudo 25,0 mV dengan waktu modulasi 0,05 s. Pengukuran Fe(III) dalam larutan standar SRM-NIST memberikan puncak respon arus pada potensial +1,38 V ± 0,02 terhadap Ag/AgCl (KCl 3,0 M), pengukuran optimum tanpa potensial deposisi. Kenaikan arus bertahap seiring dengan semakin tingginya konsentrasi larutan Fe(III)dan linier dalam rentang konsentrasi 0,04 - 0,7 ppm. Batas deteksi diperoleh sebesar 0,061 ppm (1,09x10-6 M) dan batas kuantitasi sebesar 0,185 ppm (3,31x10-6 M). Metode ini dapat digunakan sebagai alternatif untuk metode praktikum voltammetri maupun untuk penentuan rutin Fe dalam sampel air
Penyerapan Timbal(II) dan Cadmium(II) di dalam Larutan Menggunakan Limbah Kulit Buah Kapuk
Kulit buah kapuk (Ceiba pentandra L) merupakan limbah pertanian yang belum dioptimalkan sampai sekarang. Penelitian biosorpsi Pb(II) dan Cd(II) menggunakan biosorben kulit buah kapuk telah dilakukan dengan metoda batch. Parameter yang dipelajari untuk penentuan kondisi optimum yaitu pH, konsentrasi awal, waktu kontak, massa biosorben dan ukuran partikel. Biosorben terlebih dahulu diaktivasi dengan HNO3 0,01 M. Kondisi optimum biosorpsi diperoleh pada pH 4, waktu kontak 15 menit, massa biosorben 0,025 g dan ukuran partikel ≤25 µm kedua ion logam, sedangkan konsentrasi awal larutan 1200 mg/L untuk Pb(II) dan 1000 mg/L untuk Cd(II). Studi isotherm adsorpsi mengikuti model isoterm Langmuir dengan koefisien determinasi (R2) 0,9983 untuk Pb(II) dan 0,9892 untuk Cd(II). Kinetika adsorpsi mengikuti model pseudo orde dua yang menunjukkan bahwa adsorpsi terjadi secara kimia. Karakterisasi menggunakan FTIR menunjukkan bahwa biosorben mengandung gugus fungsi seperti –OH, dan -C=O yang berperan dalam proses biosorpsi, sedangkan karakterisasi menggunakan SEM menunjukkan adanya pori – pori biosorben sebelum menyerap ion logam dan pori – pori akan tertutup setelah menyerap ion logam. Kapasitas adsorpsi Pb(II) sebesar 223,72 mg/g dan Cd(II) 88,7 mg/g. Hal ini menunjukkan bahwa kulit buah kapuk merupakan biosorben potensial dengan biaya rendah dalam menyerap Pb(II) dan Cd(II)
Isolasi dan Identifikasi Mikroalga Sebagai Sumber Antioksidan dari Perairan Tirtasari Sonsang, Agam, Sumatera Barat
Mikroalga memiliki potensi sebagai sumber antioksidan, yang dapat mencegah dan menghambat radikal bebas. Peneliti secara personal telah mengisolasi mikroalga dari perairan Tirtasari Sonsang, Sumatra Barat. Pada penelitian ini, isolat mikroalga diidentifikasi secara morfologi dan molekular. Mikroalga ditumbuhkan dalam tiga jenis medium dan diekstrak menggunakan pelarut metanol, etil asetat dan heksana. Potensi antioksidan ekstrak mikroalga tersebut diuji menggunakan metoda DPPH. Berdasarkan hasil identifikasi secara morfologi dan molekular, isolat mikroalga termasuk dalam jenis Chlorella sp.. Aktivitas antioksidan isolat mikroalga yang tumbuh dalam medium BBM, dan diesktrak menggunakan metanol pada konsentrasi 200 mg/L memiliki nilai persen inhibisi terhadap radikal DPPH sebesar 55,8%
Produksi dan Pemurnian Human Epidermal Growth Factor (hEGF) Rekombinan Menggunakan Metode Heat Treatment, fraksionasi amonium sulfat dan kromatografi filtrasi gel
Human Epidermal Growth Factor (hEGF) adalah suatu protein yang membantu dalam proses penyembuhan luka, dalam hal proses proliferasi, migrasi dan diferensiasi sel. Protein hEGF dengan tingkat kemurnian tinggi sangat diperlukan agar mencapai aktivitas yang maksimal untuk pengaplikasian sebagai protein terapeutik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik hEGF rekombinan setelah pemurnian menggunakan metode heat treatment, fraksionasi amonium sulfat dan kromatografi filtrasi gel, dan menentukan kadar protein hEGF setelah dimurnikan dengan metode ELISA dan Lowry. Metode pertama yang digunakan pada penelitian ini adalah produksi protein hEGF skala fermentor pada sel inang E. coli. Hasil produksi kemudian disentrifugasi. Supernatan hasil ekspresi selanjutnya dipanaskan pada suhu 80°C kemudian disentrifugasi kembali dan diambil supernatannya. Supernatan lalu difraksionasi dengan garam amonium sulfat dan hasilnya disentrifugasi kembali lalu diambil endapannya. Endapan disuspensikan dalam larutan amonium bikarbonat yang selanjutnya dimasukkan ke dalam kolom filtrasi gel Sephadex G-25. Serapan dan konduktivitas dari tiap fraksi diukur. Hasil pemurnian dikarakterisasi dengan SDS-PAGE dan diukur kadar protein dengan ELISA dan Lowry. Hasil penelitian menunjukkan hEGF rekombinan dapat diproduksi pada skala fermentor menggunakan inang E. coli BL21 (DE3) [pD881-PelB-hEGF] dengan perolehan sebesar 121,76 µg/mL dan dapat dimurnikan dengan menggunakan metode heat treatment, fraksionasi amonium sulfat, dan kromatografi filtrasi gel dengan tingkat kemurnian sebesar 66,11%
Sintesis Tetrapeptida PSSY dengan Metode Fasa Padat
Senyawa tetrapeptida antioksidan PAGY telah berhasil diisolasi dari kulit ikan amur sturgeon dan telah berhasil disintesis berserta analog PSGY, PFFY, PAFY dan PAIY menggunakan metode SPPS. Uji antioksidan menunjukkan senyawa PSGY lebih aktif dari senyawa PAGY dan senyawa analog lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis senyawa tetrapeptida PSSY dengan metode SPPS, dan mengetahui aktivitas antioksidan senyawa tetrapeptida hasil sintesis dengan uji DPPH. ibuat dalam dua versi; bahasa Indonesia dan Inggris. Tetrapeptida PSSY telah berhasil disintesis menggunakan strategi SPPS dengan resin 2-klorotritilklorida sebagai padatan penyangga, gugus pelindung Fmoc, dan reagen kopling HATU/HOAt. Padatan PSSY berhasil dimurnikan menghasilkan PSSY 17 mg (13,88%). Setelah dimurnikan, PSSY dikarakterisasi dengan HR-TOF-MS yang memberikan nilai m/z [M+H] 453,2711 yang sesuai untuk PSSY. Uji aktivitas antioksidan dilakukan pada PSSY dengan nilai IC50 sebesar 7,513 mg/mL
Pengaruh Persentase PVA-Alginat Beads Terhadap Tingkat Dekolorisasi Pewarna Sintetis Azo Menggunakan Konsorsium Bakteri Amobil
Pewarna merupakan salah satu komponen dalam industri tekstil yang sangat penting. Salah satu senyawa pewarna seperti pewarna Azo pada limbah cair tekstil memiliki bahan pencemar yang berbahaya bagi lingkungan. Dekolorisasi pewarna menggunakan metode fisik dan kimia membutuhkan biaya yang tinggi dan masih menghasilkan hasil samping yang beracun, sehingga diperlukan pendekatan dekolorisasi menggunakan metode biologis yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan konsorsium bakteri seperti Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, Escherichia coli dan Bacillus subtilis. Konsorsium bakteri diimobilisasi menggunakan beads dengan variasi perbandingan PVA-alginat 8:1, 10:1, dan 12:1. Pengujian menunjukkan bahwa komposisi PVA dan alginat mempengaruhi kemampuan dekolorisasi pewarna sintetis azo. Parameter yang diuji antara lain kebocoran beads menggunakan spektrometri, tingkat swelling dengan mengukur diameter beads, serta tingkat dekolorisasi menggunakan spektormetri Perbandingan PVA-alginat 8:1 memiliki nilai persentase dekolorisasi paling besar (47,71%), tingkat kebocoran sel yang paling besar (O.D. 0,849), serta ukuran pori sebesar 6,306 μm. Perbandingan PVA-alginat 12:1 memiliki nilai persentase dekolorisasi yang paling kecil (36,99%), tingkat kebocoran sel sebesar (O.D) 0,733, dan ukuran pori sebesar 2,557 μm. Perbandingan PVA-alginat 10:1 menunjukkan tingkat dekolorisasi sebesar 42,71% dengan nilai swelling yang paling rendah (0,5 mm), ukuran pori sebesar 5,089 μm serta bentuk dan tingkat aglomerasi yang paling baik. Perbandingan PVA-alginat 10:1 merupakan perbandingan terbaik yang dapat digunakan dalam mendekolorisasi pewarna sintetis azo
Chemical Constituent and Antimalarial Activity based on Inhibition of Heme Polymerization from Water Extract of Yellow Root (Arcangelisia flava L. Merr)
In developing countries, malaria remains a disease that can spread easily and caused death. Malaria is an infectious disease caused by Plasmodium sp involving female anopheles masquitos during its transmission. Arcangelisia flava L. Merr has been investigated earlier that it can inhibited P. falciparum growth. Method of antimalarial activity based on inhibition of heme polymerization can confirm one of the mechanism of antimalarial drugs. The aim of this research to study further antimalarial activity and IC50 based on inhibition of heme polymerization and determine the chemical constituent from water extract of A. flava L. Merr. This research was conducted through several steps, namely 1) water extraction, 2) column chromatography (SiO2 ; (i) CH2Cl2-MeOH=10:1~1:1 (ii) n-hexane: EA=1:1; CH2Cl2-MeOH=10:1~1:1), 3) antimalarial assay, 4) identification of chemical constituent using FTIR and GC-MS. Results of this research are water extract of A. flava L. Merr has IC50 601 ppm and identification of chemical constituent using FTIR and GC-MS was assumed as stigmastan.In developing countries, malaria remains a disease that can spread easily and caused death. Malaria is an infectious disease caused by Plasmodium sp involving female anopheles masquitos during its transmission. Arcangelisia flava L. Merr has been investigated earlier that it can inhibited P. falciparum growth. Method of antimalarial activity based on inhibition of heme polymerization can confirm one of the mechanism of antimalarial drugs. The aim of this research to study further antimalarial activity and IC50 based on inhibition of heme polymerization and determine the chemical constituent from water extract of A. flava L. Merr. This research was conducted through several steps, namely 1) water extraction, 2) column chromatography (SiO2 ; (i) CH2Cl2-MeOH=10:1~1:1 (ii) n-hexane: EA=1:1; CH2Cl2-MeOH=10:1~1:1), 3) antimalarial assay, 4) identification of chemical constituent using FTIR and GC-MS. Results of this research are water extract of A. flava L. Merr has IC50 601 ppm and identification of chemical constituent using FTIR and GC-MS was assumed as stigmastan
Teori Fungsional Kerapatan Struktur Membran Nata De Coco Tersulfonasi
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan struktur paling stabil dari berbagai struktur membran polimer nata de coco tersulfonasi. Struktur energi minimum untuk dimer, trimer, tetramer dan pentamer nata de coco tersulfonasi ditentukan dengan metode DFT (teori fungsional kerapatan) dengan fungsional B3LYP dan basis set 6-311G(d). Nata de coco tersulfonasi merupakan polimer dengan satuan unit ulang (monomer) D-glukosa sulfonat dengan ikatan β-1,4. Hasil perhitungan struktur dimer, trimer, tetramer dan pentamernya menunjukkan tidak ada perubahan energi secara signifikan pada interaksinya dengan satu molekul air, yaitu sekitar -20.14 kkal/mol. Perhitungan energi tersebut memberikan dasar bahwa untuk perhitungan dan penelitian lebih lanjut tentang membran polimer nata de coco tersulfonasi bisa menggunakan bentuk dimernya
Seskuiterpenoid Prostanterol dari Kulit Batang Dysoxylum excelsum
Dysoxylummerupakan genus besar dari Famili Meliaceae yang terdistribusi di Indonesia. Beberapa spesies Dysoxylum telah dilaporkan mengandung senyawa seskuiterpenoid. Pada penelitian ini, satu senyawa seskuiterpenoid trisiklik, prostanterol (1) telah diisolasi kulit batang Dysoxylum excelsum. Senyawa 1 untuk pertama kali diisolasi dari tumbuhan tersebut. Struktur molekul senyawa 1 ditentukan melalui spektroskopi NMR 1D dan 2D yang dibandingkan terhadap data yang telah dilaporkan sebelumnya
Analisa Karakteristik Simplisia Buah Andaliman (Zanthoxyllum acanthopodium) Serta Aktivitas Penghambatan Xantin Oksidase
Gout atau hiperurisemia adalah keadaan dimana terjadinya peningkatan kadar asam urat dalam darah. Xantin oksidase berperan dalam oksidasi xantin dan hipoxantin menjadi asam urat. Salah satu pengobatan kelebihan asam urat adalah menghambat aktivitas enzim xantin oksidase. Penelitian ini menguji aktivitas anti asam urat ekstrak etanol dari buah andaliman kemudian dan menentukan nilai persentase penghambatannya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak buah andaliman memiliki potensi yang baik untuk menjadi kandidat antihiperurisemia, dengan nilai persentase penghambatannya sebesar 70,67% pada konsentrasi ekstrak sebesar 100 µg/mL