Chimica et Natura Acta
Not a member yet
    191 research outputs found

    Aktivitas Sitotoksik Ekstrak Etil Asetat Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) Terhadap Sel Kanker Leukemia L1210

    Full text link
    Kanker merupakan penyakit yang menyebabkan tingkat kematian paling tinggi di dunia. Sel kanker merupakan sel yang pertumbuhannya tidak terkontrol dan berkembang di dalam jaringan sel tubuh. Kandungan flavonoid dan sifat antioksidan yang tinggi dari daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk) dapat digunakan sebagai pengobatan terapi kanker. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan aktivitas sitotoksik  G. ulmifolia Lamk terhadap sel leukemia L1210. Daun G. ulmifolia kering dimaserasi secara bertahap menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol. Masing-masing ekstrak yang diperoleh dievaluasi aktivitas sitotoksisitasnya terhadap sel leukemia L1210. Ekstrak paling aktif difraksinasi menggunakan kromatografi kolom dengan berbagai pelarut yang sesuai. Selanjutnya semua subfraksi yang diperoleh diuji aktivitas sitotoksiknya dan dianalisis dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) untuk mengetahui bentuk kromatogranya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etil setat memiliki nilai IC50 paling kecil diantara ekstrak yang lain, yaitu sebesar 6,23 µg/mL. Fraksinasi ekstrak etil asetat diperoleh (1-8) fraksi dengan fraksi 4 memiliki aktivitas paling tinggi yang  berpotensi sebagai anti kanker dengan nilai IC50 sebesar 2,67 µg/mL. Analisis fraksi 4 etil asetat G ulmifolia menggunakan KCKT menunjukkan bahwa kandungan utama adalah flavonoid

    Karakterisasi Komposisi Mineral Mud Vulcano Desa Napan Kawasan Perbatasan Republik Indonesia – Republic Democratic Timor Leste dan Potensi Pemanfaatannya

    Full text link
    Penelitian karakterisasi kimia terhadap lumpur volcano (mud volcano) desa Napan yang merupakan kawasan perbatasan negara Indonesia dan Timor Leste telah dilakukan. Karakterisasi dilakukan menggunakan instrumentasi XRD, FTIR, XRF. Karakterisasi bertujuan untuk mengetahui komposisi mineral-mineral dalam lumpur sehingga dapat mengeksplorasi potensi pemanfaatan lumpur tersebut didasarkan pada studi literatur riset-riset sejenis yang telah dilakukan. Hasil karakterisasi memperlihatkan penyusun lumpur adalah Cr2O3, Re2O7, ZnO, V2O5, Rb2O, CuO, ZrO2, BaO, SrO, MnO, TiO2, CaO, K2O, Al2O3, Fe2O3, SiO2 yang menyusun mineral-mineral besar yaitu kaolinit, gibsit, kuarsa, kristobalit, ilit, hematit, alumina (corundum). Terdapat tiga mineral yang mendominasi kandungan lumpur yaitu SiO2 (52%) dikuti Fe2O3 (±20,55%) dan Al2O3 (± 15,5%).  Lumpur tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti subtituen semen, adsorben, katalis, sumber silika, zeolite, briket, silika gel dan aerogel

    Uji Aktivitas antioksidan dan Analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) Fraksi Etil Asetat Daun Purun Tikus (Eleocharis dulcis)

    Full text link
    Salah satu tumbuhan yang banyak terdapat di lahan rawa Kalimantan Selatan yaitu purun tikus (E. dulcis). Penelitian ini betujuan untuk menentukan nilai IC50 dari uji aktivitas antioksidan fraksi etil asetat daun purun tikus (E. dulcis) dan kandungan senyawa. Proses ekstraksi menggunakan pelarut metanol selanjutnya dipartisi dengan pelarut n-heksana dan etil asetat. Fraksi etil asetat yang diperoleh sebesar 22,18%. Nilai IC50 fraksi etil asetat sebesar 55,64 ppm sedangkan nilai IC50 dari pembanding vitamin C sebesar 7,07 ppm. Berdasarkan gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS) diketahui bahwa fraksi etil asetat terdapat tiga senyawa utama yaitu senyawa metil 14-metil pentadekanoat, mentol, p-metil benzaldehida

    Pembentukan Karbon Konduktif dari Sekam Padi dengan Metode Hidrotermal Menggunakan Larutan Kalium Karbonat

    Full text link
    Sekam padi, produk sampingan di penggilingan padi, adalah salah satu sumber karbon, berlimpah, terbarukan dan murah. Komponen utama sekam padi adalah selulosa (38%), hemi-selulosa (18%), lignin (22%), dan silika. Sekam padi mengandung senyawa organik tinggi, berpotensi untuk digunakan sebagai bahan dasar karbon berpori. Pembentukan karbon berpori dari sekam padi dilakukan melalui pelarutan silika dari arang sekam padi menggunakan larutan kalium karbonat dengan proses hidrotermal. Pada proses hidrotermal ini dilakukan dengan variasi rasio mol kalium karbonat terhadap silika (1:1, 1,5:1, 2:1, 2,5:1. dan 3:1) serta varasi waktu 1, 2, 3, dan 4 jam. Karbon yang mempunyai kadar abu terendah kemudian di kalsinasi pada suhu 500, 700, dan 900°C. Pelarutan silika yang paling efektif menggunakan larutan kalium karbonat yaitu pada perbandingan 3: 1 dengan suhu 120oC selama 2 jam. Semakin tinggi suhu kalsinasi konduktivitas karbon meningkat dan kondutivitas tertinggi diperoleh pada karbon dikalsinasi pada suhu 900 °C selama 2 jam dengan konduktivitas 17,29 S.m-1

    Implikasi Biogeografi dari Variasi DNA Mitokondria pada Suku Sunda

    Full text link
    Abstrak Suku Sunda menjadi salah satu suku mayoritas di Indonesia. Tetapi, karena tidak mempunyai ciri fisik yang khas seperti suku - suku yang lain, maka sulit untuk menentukan identitas suku Sunda dari segi fisiknya. Akibatnya, penelusuran sejarah dan perjalanan migrasi suku Sunda masih belum jelas. Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan lain berupa data genetik yang dapat menggambarkan hubungan kekerabatan dan evolusinya. Analisis filogenetik urutan DNA mitokondria telah terbukti menjadi alat yang efektif untuk identifikasi seseorang dan juga dapat menunjukkan asal populasi yang berbeda. Urutan DNA mitokondria yang digunakan berada pada daerah hipervariabel I (HVI) karena tingkat variasinya yang tinggi. Pada penelitian ini, urutan DNA mitokondria yang berasal dari Kampung Baduy, Ciptagelar, Dukuh serta Kuta diisolasi, diamplifikasi untuk analisis delesi 9pb dan dikarakterisasi dengan enzim restriksi AluI danDdeI. Selain itu juga dilakukansequencingterhadap sampel Kampung Baduy dan Kuta untuk mengetahui pola migrasinya.Hasil analisis delesi 9pb dan adanya fragmen DNA hasil restriksi menunjukkan bahwa suku Sunda membawa marker Asia. Berdasarkan analisis varian dan haplogrup migrasi suku Sunda berawal dari barat ke timur,yang ditunjukkan oleh Kampung Baduy dengan haplogrup N9a6a yang lebihtua dibandingkan dengan haplogrup pada Kampung Kuta yaitu B5aSuku Sunda menjadi salah satu suku mayoritas di Indonesia yang tidak memiliki ciri fisik khas seperti suku - suku yang lain, contohnya warna kulit ataupun jenis rambut. Hal ini berpengaruh pada sulitnya untuk menentukan identitas suku Sunda dari segi fisiknya. Akibatnya, penelusuran sejarah dan perjalanan migrasi suku Sunda masih belum jelas. Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan lain berupa data genetik yang dapat menggambarkan hubungan kekerabatan dan evolusinya. Analisis filogenetik urutan DNA mitokondria telah terbukti menjadi alat yang efektif untuk identifikasi seseorang dan juga dapat menunjukkan asal populasi yang berbeda. Urutan DNA mitokondria yang digunakan berada pada daerah hipervariabel I (HVI) karena tingkat variasinya yang tinggi. Pada penelitian ini, urutan DNA mitokondria yang berasal dari Kampung Baduy, Ciptagelar, Dukuh serta Kuta diisolasi, diamplifikasi untuk analisis delesi 9pb dan dikarakterisasi dengan enzim restriksi AluI dan DdeI. Selain itu juga dilakukan sequencing terhadap sampel Kampung Baduy dan Kuta untuk mengetahui pola migrasinya. Hasil analisis delesi 9pb dan adanya fragmen DNA hasil restriksi menunjukkan bahwa suku Sunda membawa marker Asia. Berdasarkan analisis varian dan haplogrup migrasi suku Sunda berawal dari barat ke timur, yang ditunjukkan oleh Kampung Baduy dengan haplogrup N9a6a yang lebih tua dibandingkan dengan haplogrup pada Kampung Kuta yaitu B5a

    Perbedaan Kadar Flavonoid Total dari Black Garlic Tunggal dan Majemuk dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis

    Full text link
    Black garlic atau bawang hitam merupakan hasil fermentasi dari bawang putih segar (Allium sativum L.) yang difermentasi pada suhu tinggi selama beberapa waktu sehingga menghasilkan kandungan dan formulasi kimiawi baru. Black garlic sebagai salah satu bahan herbal yang dibutuhkan sebagai suplemen untuk menjaga stamina, dan vitalitas tubuh.  Black garlic mengandung senyawa bioaktif, seperti, fenol, flavonoid, piruvat, tiosulfat, S-allycysteine (SAC), dan S-allymercaptocysteine (SAMC). Dalam penelitian ini, perbedaan kadar flavonoid total black garlic tunggal dan majemuk telah ditentukan. Kadar flavonoid total pada black garlic tunggal dan majemuk diuji dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Kadar flavonoid total black garlic tunggal memiliki kadar lebih tinggi sebesar (2,851 ± 0,346) µg QE/100 g dan kadar flavonoid total black garlic majemuk sebesar (1,976 ± 0,188) µg QE/100 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kadar flavonoid total black garlic tunggal dan majemuk dengan nilai p <0,05

    Sintesis Bahan Monoklinik Zirkonia Berukuran Nano dari Prekursor Zirkonium Klorida Menggunakan Templat Polietilen Glikol

    Full text link
    Monoklinik (m-) ZrOmerupakan fasa ZrO2 yang paling stabil dan dapat ditemukan pada suhu kamar. Penelitian terkini memperlihatkan kemungkinan aplikasi m-ZrO2 berukuran skala nano ataupun mikro di bidang elektronik, katalis, dan lingkungan. Di dalam penelitian ini, bahan m-ZrO2 berukuran nano telah berhasil disintesis dari larutan prekursor ZrCl4 dengan poletilen glikol (PEG) sebagai templat menggunakan metode aging ultrasonik. Larutan prekursor prekursor ZrCl4 diatur pH-nya pada pH 9 menghasilkan gel Zr(OH)4·xH2O, selanjutnya dicampurkan dengan PEG pada suhu 80°C dibawah pengaruh ultrasonik selama 2 jam, menghasilkan endapan putih. Perbandingan mol PEG/Zr divariasikan pada nilai 0,067, 0,133, dan 0,167. Endapan yang dihasilkan selanjutnya dikarakterisasi dengan alat FT-IR, dan dikalsinasi pada suhu 900°C. Produk kalsinasi selanjutnya dianalisis secara mineralogi dan mikrostruktur. Dalam penelitian ini, perlakuan ultrasonik membantu proses interaksi antara prekursor Zr dengan polimer PEG melalui ikatan hidrogen selama proses sintesis zirkonia berlangsung, yang dikonfimasi dengan puncak spektrum FT-IR pada bilang gelombang 3218,69 1/cm. Bahan ZrO2 yang dikalsinasi pada suhu 900°C terdiri atas 94,8% fasa monoklinik dan 5,2% fasa tetragonal. Sampel ZrO2 dengan berbagai perbandingan mol PEG-6000/Zr pada suhu kalsinasi 900°C memperlihatkan morfologi aglomerasi memanjang menyerupai bentuk batangan. Peningkatan perbandingan mol PEG-6000/Zr belum memberikan pengaruh berarti terhadap bentuk mikrostruktur ZrO2 yang dihasilkan

    Studi Pengaruh Kulit Ari Psyllium dan Susu Full Cream Terhadap Kandungan Laktosa, Asam Laktat dan pH Cheese Cream Menggunakan Response Surface Method

    Full text link
    Cream cheese merupakan keju yang lunak bertekstur creamy yang diproduksi melalui koagulasi cream atau campuran susu dan cream dengan kultur bakteri asam laktat (BAL). Penambahan BAL ke dalam susu akan menggumpalkan protein berupa kasein karena terjadi fermentasi laktosa menjadi asam laktat sehingga susu menjadi asam dan kasein terkoagulasi. Penggumpalan kasein akibat fermentasi oleh BAL akan mempengaruhi viskositas dan tekstur yang menjadi kriteria dalam penentuan mutu pangan. Bahan penstabil perlu ditambahkan untuk menjaga sifat viskositas, konsistensi fisik, dan stabilitas produk. Kulit ari psyllium (Plantago ovata) mengandung hemiselulosa yang memiliki kapasitas menahan air hingga kira-kira 80 kali beratnya. Penambahan susu full cream dapat digunakan untuk meningkatkan rasa dan juga tekstur yang lebih padat pada produknya. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis pemanfaatan kulit ari psyllium dan susu full cream dalam pembuatan cream cheese yang dioptimisasi dengan rancangan Response Surface Method (RSM) menggunakan desain Central Composite Design (CCD) untuk menghasilkan respon kadar laktosa, kadar asam laktat, dan nilai pH optimum. Metode yang digunakan yaitu pembuatan cream cheese yang dilakukan dengan penambahan starter Lactobacillus bulrgaricus kulit ari psyllium dan susu full cream sesuai rancangan RSM-CCD, penentuan kadar laktosa dengan metode ferrisianida basa, penentuan asam laktat dengan metode titrasi dan pengukuran nilai pH cream cheese dengan pHmeter. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar laktosa minimum agar laktosa yang digunakan sebagai substrat untuk pembentukan asam laktat lebih banyak maka penggunaan konsentrasi susu full cream 17,66% dan kulit ari psyllium 0,09% dengan kadar laktosa 0,82%; untuk menghasilkan kadar asam laktat maksimum maka penggunaan konsentrasi susu full cream 9,20% dan kulit ari psyllium 0,58% dengan kadar asam laktat 2,47%; sedangkan untuk dapat menghasilkan pH optimum penggumpalan kasein, maka dapat dilakukan penggunaan konsentrasi susu full cream sebesar 6,34% dan kulit ari psyllium sebesar 0,02%

    Metabolit Sekunder Sekresi Jamur Penicillium spp. Isolat Tanah Gambut Riau sebagai Antijamur Candida albicans

    Full text link
    Mikroba dan tanaman merupakan sumber metabolit sekunder yang aktif dieksplorasi potensinya. Laboratorium Enzim, Fermentasi dan Biomolekuler Jurusan Kimia FMIPA Universitas Riau telah mengisolasi beberapa jenis mikroba khususnya jamur dari tanah gambut Hutan Primer Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (GSKBB) Provinsi Riau. Beberapa isolat tersebut adalah jamur Penicillium sp. LBKURCC29 dan LBKURCC30 yang memiliki potensi menghasilkan enzim selulase. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi potensi lain dari kedua jamur isolat lokat tanah gambut Riau tersebut dalam hal ini potensi sebagai sumber antimikroba, antijamur Candida albicans. Produksi metabolit sekunder antijamur dilakukan dengan cara fermentasi batch dalam media cair yang diinokulasi dengan spora jamur (7×1012 spora untuk 50 mL media) selama 14 hari dengan bantuan rotary shaker kemudian disaring dengan menggunakan kertas saring GF/C. Filtrat kemudian diekstraksi menggunakan etil asetat. Ekstrak etil asetat kemudian diuapkan dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Ekstrak kasar etil asetat kemudian dilarutkan dengan metanol untuk diuji lebih lanjut. Pada penelitian ini dilakukan karakterisasi ekstrak dengan uji fitokimia, KLT, dan HPLC, serta uji antijamur C. albicans dengan metode difusi cakram. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa masing-masing ekstrak Penicillium sp. LBKURCC29 dan LBKURCC30 mengandung senyawa terpenoid. Karakterisasi lebih lanjut ekstrak kasar etil asetat diuji KLT dan HPLC menunjukkan pola noda dan puncak yang berbeda. Untuk uji antijamur, hanya ekstrak Penicillium sp. LBKURCC29 yang memiliki aktivitas antijamur terhadap jamur C.albicans pada konsentrasi 5,7 mg/mL dengan diameter zona hambat sebesar 8,05 nm yang merupakan penghambatan 33,78% dibandingkan dengan kontrol positif Ketokonazol® (23,83 mm)

    Senyawa Santon Terisoprenilasi dari Kulit Batang Cratoxylum arborescens dan Aktivitas Sitotoksiknya Terhadap Sel HeLa

    Full text link
    Cratoxylum arborescens merupakan salah satu tumbuhan endemik Indonesia dari kelompok famili Hypericaceae. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan menentukan struktur senyawa santon terisoprenilasi yang terdapat pada kulit batang C. arborescens, serta menentukan aktivitas antikanker senyawa santon terisoprenilasi terhadap sel kanker rahim (HeLa). Ekstraksi dan isolasi senyawa santon terisoprenilasi dari kulit batang C. arborescens menggunakan metanol dengan metode maserasi pada suhu kamar. Pemisahan dan pemurnian dilakukan menggunakan kromatografi kolom gravitasi dan kromatografi radial menghasilkan senyawa 2,8-diisoprenil-1,3-dihidroksi-6,7-dimetoksisanton (1) dan fuskasanton C (2). Struktur senyawa santon terisoprenilasi ditetapkan berdasarkan analisis spektroskopi, meliputi UV, IR, 1D dan 2D NMR. Uji aktivitas sitotoksik senyawa 1-2 terhadap sel HeLa memperlihatkan nilai IC50 sebesar 116 dan 12 µg/mL

    174

    full texts

    191

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Chimica et Natura Acta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇