Chimica et Natura Acta
Not a member yet
    191 research outputs found

    Karakteristik Kimia Minuman Sari Tempe-Jahe Dengan Penambahan Carboxy Methyl Cellulose dan Gom Arab pada Konsentrasi Yang Berbeda

    Full text link
    Tempe dapat diolah menjadi produk  minuman dan dapat dicampurkan dengan bahan  lain, seperti jahe. Minuman sari tempe-jahe memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Pembuatan minuman sari tempe-jahe memerlukan penambahan bahan penstabil untuk meningkatkan stabilitas dan viskositas produk. Bahan penstabil tersebut memiliki reaksi yang berbeda dengan bahan lainnya dan akan memberikan karakteristik kimia yang berbeda-beda pula pada minuman sari tempe-jahe, Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh penstabil (CMC dan gom arab) yang diberikan terhadap karakteristik kimia minuman sari tempe jahe. Perlakuan konsentrasi penstabil CMC dan gom arab yang diberikan pada penelitian yaitu sebesar 0%, 0,25% dan 0,5%. Hasil penelitian menujukkan bahwa  CMC dan gom arab pada konsentrasi 0%, 0,25% dan 0,5% terhadap minuman sari tempe jahe memberikan pengaruh yang  berbeda nyata pada Sig. < 0.05 terhadap kadar protein (gom arab 0,5%) dan nilai pH (gom arab 0,5%), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar abu dan kadar karbohidrat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perlakuan menghasilkan mutu terbaik produk adalah penambahan gom arab pada konsentrasi 0,5%, dengan nilai kadar abu sebesar 0,41%, kadar protein sebesar 10,49%, kadar karbohidrat sebesar 3,44%, dan pH sebesar 6,83

    Penentuan Kadar Protein Albumin dalam Sampel Brownies yang Diberikan Kepada Penderita Tuberkulosis

    Full text link
    Pembuatan makanan yang mengandung rasa manis sangat banyak diminati oleh beberapa orang mulai dari anak – anak, remaja, dewasa bahkan pun lansia. Salah satunya adalah brownies yang mengandung coklat dan beberapa tambahan bahan pangan lainnya dan sedikit gula sebagai penambah cita rasa. Brownies yang diolah pada penelitian ini adalah brownies yang ditambahkan bahan ikan gabus yang memiliki tinggi protein. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kadar protein albumin pada sampel brownies dengan alat spektrofotometer UV-VIS. Metode penelitian adalah metode bradford dimana ditambahkan reagen CBB agar terbentuk perubahan warna menjadi biru. Sampel yang diuji ada 6 sampel dimana 3 sampel ditambahkan daging ikan gabus mentah dan 3 sampel ditambahkan 3 sampel daging ikan gabus dikukus. Kode sampel diberikan mulai dari F1 – F6. Hasil menunjukkan bahwa sampel dengan kode F1 lebih tinggi kadar albuminnya dibandingkan F6 dikarenakan pada sampel tersebut ditambahkan ikan gabus mentah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan kadar albumin terhadap sampel brownies yang dibuat melalui proses pengukusan ikan gabus dan pemanggangan pada sampel brownies diperoleh kadar tertingginya yaitu kode F1 (Brownies dengan ikan gabus) 459,29% dengan dan kadar terendah albumin yaitu kode F6 (brownies tanpa ikan gabus) 43,61%.Dengan kadar yang diperoleh, dapat menambah informasi peneliti untuk memberikan olahan makanan kepada penderita TBC

    Phytochemical Screening and Total Phenolic Compounds of Red Ginger (Zingiber officinale) and Secang Wood (Caesalpinia sappan) As Preliminary Test of Antiarthritis

    Full text link
    Rheumatoid arthritis is an auto-immune disease that causes chronic inflammation occurs of the joints. Rheumatoid arthritis is characterized by the the overproduction of proinflammation cytokines such as TNF-α and IL-1. The phenolic compounds mainly anthocyanin and elagitanin have TNF-α inhibition activity that induces cyclooxygenase-2 expressions that cause inflammation. Phytochemical screening showed that ethanol extract of red ginger contains alkaloids, phenolics, flavonoids, tannins, terpenoid, and steroids while ethanol extract of secang wood contains alkaloids, phenolics, flavonoids, tannins, and terpenoid. This research aims to identify the secondary metabolite qualitatively and total phenolic compunds on red ginger and secang wood with Folin-Ciocalteu method. Total phenolic compounds are defined as the Gallic Acid Equivalent (GAE). The results showed that the total phenolic compunds of red ginger and sappan wood were 21.90 mg GAE/g extract and 27.65 mg GAE/g extract, respectively. The phenolic compounds in red ginger and secang wood have the potential as antiarthritic

    Pengaruh Waktu dan Suhu Perkecambahan Terhadap Karakteristik Tepung Kecambah Sorgum Kultivar Lokal Bandung

    Full text link
    Sorgum merupahan komoditas lokal yang mempunyai potensial untuk mengantikan penggunaan tepung terigu, namun sorgum mengandung senyawa antinutrisi yaitu tannin yang dapat menimbulkan sifat organoleptik yang kurang baik sehingga kurang disukai. Perkecambahan dapat menghilangkan senyawa antrinutrisi sehingga dapat mempertahankan mutu protein. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan waktu perkecambahan dan suhu perkecambahan untuk menghasilkan tepung kecambah sorgum yang baik. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial. Faktor pertama adalah suhu perkecambahan (A) dengan 2 taraf yaitu A1 = 25°C dan A2 = 35°C. Faktor kedua adalah waktu perkecambahan (B) dengan 3 taraf yaitu yaitu B1 = 12 jam, B2 = 24 jam dan B­3 = 36 jam.  Hasil pengamatan menunjukan bahwa waktu perkecambahan 36 jam merupakan waktu perkecambahan yang tepat karena dapat mempengaruhi penurunan kadar abu dan kadar lemak, meningkatkan kadar protein, meningkatkan nilai swelling power, kelarutan dan kapasitas penyerapan lemak. Suhu perkecambahan 35°C merupakan suhu perkecambahan yang tepat karena dapat mempengaruhi peningkatan kadar protein, peningkatan nilai swelling power, kelarutan dan kapasitas penyerapan lemak. Kombinasi antara suhu perkecambahan 35°C dan waktu perkecambahan 36 jam merupakan kombinasi yang tepat karena dapat mempengaruhi peningkatan kadar protein, swelling power dan kelarutannya

    Identifikasi Molekuler Dan Uji Aktivitas Inhibitor Alfa Glukosidase Dari Bakteri Endofit Daun Afrika (Vernonia amygdalina)

    Full text link
    Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah postprandial atau hiperglikemia. Hal ini disebabkan oleh sel ß pankreas tidak dapat menghasilkan insulin yang cukup atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkan secara efektif. Pengendalian hiperglikemia merupakan hal penting dalam terapi pengobatan DM tipe 2. Salah satu caranya yaitu memberikan terapi inhibitor alfa glukosidase. Daun afrika (Vernonia amygdalina) merupakan tanaman yang berpotensi sebagai penghasil senyawa inhibitor alfa glukosidase. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan menguji aktivitas inhibitor alfa glukosidase dari bakteri endofit daun afrika (Vernonia amygdalina) serta identifikasi molekuler bakteri yang menghasilkan inhibitor alfa glukosidase. Metode penelitian ini dilakukan dengan mengisolasi bakteri endofit V. amygdalina, bakteri yang didapatkan diproduksi, kemudian dilakukan ekstraksi senyawa inhibitor dan uji inhibitor alfa glukosidase. Bakteri yang didapatkan diidentifikasi secara molekular. Hasil penelitian menunjukkan bakteri endofit dari daun afrika (Vernonia amygdalina) yang berhasil diisolasi hanya berjumlah satu isolat, yaitu Bacillus circulans dan memiliki aktivitas inhibitor alfa glukosidase sebesar 8,5±1,32% penghambatan pada konsentrasi ekstrak 0,1 µg mL-1 dibandingkan dengan  akarbosa (kontrol) yaitu sebesar  8,41 ± 0,43%

    Studi In Silico Senyawa Aktif Daun Singawalang (Petiveria alliacea) Sebagai Penurun Kadar Glukosa Darah Untuk Pengobatan Penyakit Diabetes Melitus Tipe-2

    Full text link
    Diabetes melitus (DM) adalah kondisi hiperglikemik kronis yang merupakan tanda adanya gangguan metabolik. Pengendalian homeostasis glukosa serta metabolisme zat makanan sangat penting pada penderita DM. Salah satu yang berperan dalam pengendalian tersebut adalah AMPK-α2, sehingga AMPK-α2 dapat dijadikan sasaran pengobatan DM tipe 2. Secara empiris, singawalang (Petiveria alliacea) dimanfaatkan untuk pengobatan diabetes. Tanaman yang banyak ditemukan di Indonesia tersebut, mengandung berbagai senyawa aktif, diantaranya benzaldehida, benzil 2-hidroksietil trisulfida, tanin, kumarin, dan isoarborinol. Pada penelitian ini, dilakukan analisis interaksi dan afinitas senyawa daun singawalang terhadap reseptor AMPK-α2 serta dilakukan prediksi terkait adsorpsi, distribusi, metabolisme, dan toksisitas (Pre-ADMET) sehingga memperoleh kandidat obat baru untuk pengobatan diabetes melitus tipe-2 dengan efek samping minimum dan profil farmakokinetik yang baik. Hasil simulasi penambatan molekuler senyawa aktif singawalang terhadap reseptor AMPK-α2 menunjukan 3 ligan uji terbaik dengan nilai energi bebas ikatan (∆G) dan nilai konstanta inhibisi (Ki) yang lebih rendah dibandingkan pembanding, Metformin, yang memiliki nilai energi bebas ikatan (ΔG) -5.16 kcal/mol. Ketiga senyawa tersebut adalah isoarborionl asetat dengan nilai energi ikatan -7,57 kkal, isoarborinol sebesar -7,45 kkal, dan benzyl 2-hydroxymethyl trisulphide sebesar -5,95 kkal. Sedangkan prediksi ADMET dengan operasi ADMET Predictor menunjukkan bahwa ligan uji benzyl 2-hydroxyethyl trisulphide memiliki potensi bersifat mutagenik tetapi tidak karsinogenik. Oleh karena itu, perlu modifikasi struktur untuk dapat memberikan efek toksisitas yang lebih rendah.  Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diketahui bahwa benzyl 2-hydroxyethyl trisulphide merupakan kandidat senyawa yang paling berpotensi dengan afinitas tertinggi dan resiko toksisitas yang rendah

    Optimasi Degradasi Rhodamin B dengan Proses Fenton-Like Heterogen Menggunakan Sinar UV

    Full text link
    Fenton heterogen dapat mengatasi masalah pada Fenton klasik yang merupakan katalis homogen. Beberapa masalah pada Fenton klasik diantaranya produksi lumpur besi, hilangnya katalis, dan tidak bisa digunakan kembali. Studi ini berfokus pada aplikasi Fe-alginat gel beads dalam sistem foto-Fenton menggunakan sinar UV untuk mendegradasi zat warna rhodamin B. Setelah tahap sintesis Fe-alginat gel beads, dilakukan optimasi kondisi sistem foto-Fenton meliputi massa Fe-alginat gel beads, volume H2O2, serta waktu dan pH terhadap degradasi rhodamin B. Selain itu, dilakukan pengamatan uji kedapatan penggunaan kembali Fe-alginat gel beads. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum sistem foto-Fenton yaitu pada penggunaan 5 gram Fe-alginat gel beads, 0,6 mL H2O2 1%, serta pH optimum pada pH 3. Nilai degradasi rhodamin B mencapai 99,12% dalam 40 menit. Uji kedapatan penggunaan kembali pada Fe-alginat gel beads dilakukan sebanyak lima kali pengulangan, dan menunjukkan nilai degradasi lebih dari 90%. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penggunaan Fe-alginat gel beads sebagai Fenton heterogen memungkinkan diterapkan pada industri pengolahan limbah yang mengandung pewarna atau polutan organik karena biaya yang cukup ekonomis serta sistem foto-Fenton ini dapat diterapkan juga pada sinar tampak

    Optimasilisasi Waktu Fermentasi, Kadar Air dan Konsentrasi Cu2+ pada Produksi Lakase Trichoderma asperellum LBKURCC1 Secara Fermentasi Padat Batang Padi dalam Reaktor Labu

    Full text link
    Trichoderma asperellum LBKURCC1 adalah galur Trichoderma yang diisolasi dari tanah perkebunan cokelat di Riau yang mampu memproduksi lakase. Lakase merupakan enzim ligninolitik yang dapat mendegradasi lignin, sekaligus mengoksidasi senyawa fenol. Penelitian ini bertujuan mengoptimasi produksi lakase T. asperellum LBKURCC1 secara fermentasi padat (SSF) menggunakan batang padi sebagai penginduksi lakase, di dalam reaktor labu sederhana. Optimasi parameter fermentasi (waktu fermentasi, kadar air dan konsentrasi Cu2+)dilakukan menggunakan Central Composite Design (CCD) dengan Response Surface Methodology  (RSM). Hasil ANOVA menunjukkan bahwa model quadratik dipilih, dengan persamaan regresi Y= 64,19 - 6,71 X1 + 6,93 X2 - 15,65 X1*X1 - 7,11 X2*X2 - 15,40 X3*X3. Waktu fermentasi, kadar air dan konsentrasi Cu2+ sebagai CuSO4.7H2O ditemukan memiliki efek signifikan (p-value<0,05) terhadap aktivitas lakase yang diproduksi. Kondisi optimal untuk produksi lakase dengan penginduksi batang padi, secara SSF dalam reaktor labu, adalah 7 hari fermentasi, kadar air 67% dan konsentrasi CuSO4.7H2O 0,046 g/L. Aktivitas lakase yang diperoleh pada kondisi optimum adalah 65,3±0,7 mU per gram batang padi. Meskipun hanya meningkatkan aktivitas lakase 2% dari aktivitas pada center point, kondisi optimum tetap membuat proses menjadi lebih ekonomis dan efisien, karena memperpendek waktu produksi dari 8 hari menjadi 7 hari, dan mengurangi konsentrasi penambahan Cu2+

    Sintesis Tetrapeptida PSWY dan PSKY Fase Padat dan Evaluasi Aktivitas Antioksidannya

    Full text link
    Untuk mempelajari hubungan struktur dan aktivitas dari senyawa antioksidan PAGY, dua analog dari PAGY, PSWY and PSKY, disintesis dan dievaluasi aktivitas antioksidannya. SIntesis dari kedua analog dilakukan dengan metode sintesis peptida fase padat, mengikuti protocol sintesis PAGY dan analog sebelumnya. Strategi Fmoc diterapkan dalam sintesis dan kombinasi reagen HATU/HOAt digunakan dalam pembentukan ikatan peptida. PSWY dan PSKY diperoleh dengan rendemen berturut-turut 21,8% dan 98,9%. Kedua peptida dimurnikan dengan RP-HPLC preparatif. Peptida hasil pemurnian. dianalisis kemurniannya dengan RP-HPLC dan dikarakterisasi dengan HR-TOFMS, 1H- and 13C-NMR. Selanjutnya, kedua peptida diuji aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH yang menunjukkan bahwa kedua peptida memiliki aktivitas penghambatan yang rendah dibandingkan dengan PAGY dan analog PSGY. Nilai IC50 untuk PSWY dan PSKY berturut-turut 3,079 dan 4,340 mg/mL. Penggantian glisin pada PSGY dengan triftofan (PSWY) dan lisin (PSKY) tidak dapat meningkatkan aktivitas antioksidannya. Meskipun terdapat fakta dari penelitian sebelumnya bahwa penggantian glisin pada PAGY dengan lisin (PAKY) dapat meningkatkan aktivitas antioksidannya, namun hal yang sama yang diterapkan pada PSGY tidak memberikan hasil yang serupa. Sepertinya, komposisi residu pada PSKY yang lebih polar dibandingkan dengan PAKY menjadi penyebab aktivitas antioksidan yang lebih rendah

    Pembuatan Material Komposit Penjernih Air dari Campuran Perlit dan Cangkang Pensi

    Full text link
    Material penjernih air dari komposit campuran perlit dan cangkang pensi telah diuji pada perbaikan kualitas air sungai Batang Muaro Kasang, Padang, Sumatera Barat. Parameter air yang dianalisis pada penelitian ini diantaranya fosfat, nitrat, nitrit, BOD, COD, TSS, dan warna. Percobaan dilakukan dengan metoda batch untuk menguji pengaruh perbandingan massa campuran perlit dan cangkang pensi, volume air dan waktu kontak. Hasil analisis menunjukan perbandingan massa komposit (campuran perlit dan cangkang pensi) yang optimum untuk penurunan kadar fosfat, nitrat, dan warna yaitu (20:10) g pada volume air sungai 50 mL dan waktu kontak 60 menit dengan persen penurunan kadar fosfat (66, 92%), nitrat (78,41 %), warna (93,8 %). Sedangkan untuk BOD, COD, nitrit, dan TSS yaitu (20:15) g pada volume air sungai 50 mL dan waktu kontak 60 menit dengan persen penurunan kadar BOD (97,45%), COD (76,10%), nitrit (99,73%) dan TSS (91,95 %). Dari data analisis komposisi kimia komposit dengan XRF menunjukkan terjadinya penurunan kadar CaO sebesar 10,708 %, sedangkan untuk SiO2 terjadi peningkatan sebesar 10,003 % dan Al2O3 sebesar 2,141 %.  Analisis gugus fungsi yang terdapat pada komposit dengan FT-IR menunjukkan terjadinya pergeseran pada angka gelombang dari 3638,72 cm-1 ke 3315,99 cm-1 yang menandakan hilangnya gugus fungsi amina

    174

    full texts

    191

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Chimica et Natura Acta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇