Chimica et Natura Acta
Not a member yet
    191 research outputs found

    Antioxidant Activity of Nutmeg Mace (Myristica fragrans) Graded Extract

    Full text link
    Nutmeg (Myristica fragrans) contains essential oils and can be applied in industrial scale because it has medicinal benefits such as stimulating the heart system, stomachache, rheumatism, muscle pain, toothache, eliminating toxins in the liver, flatulence, and antioxidant. The purpose of this study was to determine the antioxidant activity of the nutmeg mace graded extract. The research methods include plant determination, sample preparation, extraction by maceration method, phytochemical test, and antioxidant test using the DPPH method. The yield of Mace Nutmeg extract obtained was 30.3% n-hexane, 8.79% ethyl acetate, and 3.79% methanol and the IC50 value of each mace nutmeg extract, namely the n-hexane extract was 56.22±1.15 ppm, 20.39±0.13 ppm ethyl acetate extract and 17.89±0.10 ppm methanol extract. From these results, it can be concluded that mace nutmeg extract has antioxidant activity with a strong category

    Treatment of Water Contaminated with Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs): A Review of Various Techniques, Constraints, and Field Procedures

    Full text link
    Clean water is vital in the creation of energy and sustenance of life. However, the pollution of water and the absence of potable water are global problems resulting from agricultural and industrial activities. We have witnessed significant growth in the pollution of water by organic compounds like PAH. Experts have made an effort to establish favorable techniques for the treatment of PAH polluted water. These techniques are either thermal, biological, physical or chemical. Bioremediation, chemical oxidation, solid-phase extraction, coagulation, photocatalytic degradation and adsorption using graphenes, mesoporous silica and agricultural wastes are techniques that are already in use in the field treatment of PAHs while electrokinetic remediation and nanoremediation are still in their developmental stage. Several reviews on the treatment of sediments and soils contaminated with PAHs have been published, but only a few reviews center mainly on the removal of PAHs in water. Therefore, this review aims to provide information on the techniques used in the treatment of water contaminated with PAHs. Techniques that are already in use and those that are in their developmental stage were reviewed. The successes of these methods, limitations, constraints and field procedures were analyzed and this will help to inform decision making

    Pengaruh Penambahan H2O2 dan Variasi Massa Fe3O4-Kitosan Beads dalam Mendegradasi Zat Warna Methylene Blue di Bawah Sinar UV

    Full text link
    Methylene blue (MB) merupakan salah satu zat warna yang banyak digunakan di industri tekstil. MB merupakan zat warna kationik yang beracun dan memiliki daya serap paling tinggi. Pengurangan kadar MB yang terkandung dalam limbah cair berwarna dapat dilakukan menggunakan metode Advance Oxidation Processes AOPs yang menggunakan radikal hidroksil (•OH) dalam mendegradasi limbah cair yang berwarna. Salah satu teknologi AOPs yang banyak digunakan adalah katalis heterogen Fenton karena biayanya yang terjangkau, mudah digunakan kembali dan tidak menghasilkan lumpur padat. Pada penelitian ini dilakukan aplikasi penggunaan Fe3O4-kitosan beads dalam mendegradasi MB  pada sistem foto-Fenton di bawah sinar UV. Penelitian  ini meliputi proses sintesis Fe3O4-Kitosan beads, penentuan massa Fe3O4-kitosan beads, volume H2O2 1% yang digunakan dan watu penyinaran optimum dalam mendegradasi MB. Hasil penelitian menunjukkan massa Fe3O4-kitosan beads optimum yang digunakan yaitu 0,5 gram, volume H2O2 1% optimum yaitu 0,4 mL dan waktu penyinaran optimum yaitu 4 jam. Efektivitas degradasi MB pada kondisi optimum yaitu sebesar 72,14% dan nilai degradasi kombinasi adsorpsi dan kerja fotokatalitik mencapai 98,93%. Berdasarkan penelitian katalis heterogen Fenton yang dikomposisikan ke dalam Fe3O4-Kitosan beads efektif dalam mendegradasi zat warna MB

    Desain Peta Plasmid Pengkode α-Amilase Saccharomycopsis fibuligera R64 Mutan dan Pemodelan Struktur Protein

    Full text link
    Enzim α-amilase merupakan enzim yang banyak digunakan pada industri berbasis pati, diantaranya industri pangan, farmasi, tekstil, dan detergen. Enzim ini bahkan semakin dikembangkan di bidang biomedis, bioanalitik, dan kesehatan. α-Amilase dari Saccharomycopsis fibuligera R64 (Sfamy R64) merupakan enzim dari isolat lokal yang memiliki aktivitas amilolitik yang terbaik dari isolat lainnya, meskipun kemampuan adsorptivitasnya masih rendah. α-Amilase dengan adsorptivitas yang baik sangat diperlukan dalam industri pengolah pati karena dapat mengurangi penggunaan energi dan biaya produksi melalui penghilangan proses gelatinisasi. Dengan menambahkan sisi pengikatan di permukaan enzim melalui pergantian asam amino serin menjadi tirosin dan triptofan sehingga bersifat lebih aromatik telah dilakukan secara in silico dan menunjukkan hasil yang positif, mutan Sfamy R64 (sfamy R64 mut11). Protein ini dirancang pada sistem ekspresi Pichia pastoris secara ekstraselular dengan alfa-faktor sebagai sinyal peptida, promotor AOX1, dah penanda poli glisin dan histidine. Penelitian ini menggunakan berbagai web server online untuk merancang konstruksi gen dan pemodelan protein. Hasil perancangan didapatkan dengan mensubstitusi K48Q untuk menghindari pengenalan sisi Kex2 dan urutan nukleotidanya menunjukkan kandungan basa GC 38%, CAI 0,94, dan enzim restriksi yang digunakan adalah EcoR1 dan Not1. Hasil pemodelan struktur menunjukkan bahwa penanda poli glisin dan histidine terpapar keluar struktur dengan nilai DOPE sebesar -57260. Hasil perancangan ini diharapkan mampu mengekspresikan α-amilase rekombinan secara optimal

    Uji Aktivitas Protease Empat Isolat Trichoderma spp. yang Berasal dari Tanah Perakaran

    Full text link
    Perkembangan industri protease telah pesat dan menempati posisi penting dalam bidang industri. Protease dapat diperoleh dari semua mahluk hidup, namun saat ini pemakai enzim banyak yang beralih pada enzim mikrobioal. Keunggulan enzim microbial adalah produksi tinggi, kemudahan dan efisiensi dalam pengaturan pertumbuhan, limbah pertanian dapat dimanfaatkan sebagai sumber substrat. Salah satu mikroba adalah Trichoderma spp. Trichoderma sp dapat berasal dari tanah perakaran tanaman (rhizosfer). Jenis tanah perakaran diantarnya adalah jahe, nenas, pisang dan bawang merah. Keempat tanaman ini merupakan tanaman yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah menentukan jumLah protease yang terdapat pada Trichoderma spp. Metode penelitian dilakukan dengan kualitatif dan kuantitatif. Uji kualitatif dilakukan dengan mengukur zona bening yang terdapat pada medium proteolitik agar sedangkan uji kuantitatif dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan larutan pembanding tirosin. Hasil menunjukkan bahwa jumLah protease yang dihasilkan oleh Trichoderma spp tidak berbeda nyata yaitu. isolat jahe adalah 12,95 U/mL, isolat nenas sebesar 11,86 U/mL, isolat pisang sebesar 11,56 U/mL dan isolat bawang merah sebesar 9,74 U/mL

    Potensi Ekstrak Daun Senduduk (Melastoma malabathricum Linn.) Sebagai Antibakteri terhadap Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus

    Full text link
    Penelitian telah dilakukan untuk mendeteksi fitokimia dan menguji  aktivitas antibakteri pada ekstrak daun senduduk. Tahapan penelitian meliputi maserasi, skrining fitokimia, analisis FTIR, dan uji aktivitas antibakteri. Ekstraksi dilakukan secara maserasi menggunakan pelarut aseton selama tiga hari kemudian filtrat yang dihasilkan dievaporasi untuk menghasilkan ekstrak kental. Ekstrak kental yang dihasilkan sebesar 44,28 g (11,07%). Berdasarkan hasil skrining fitokimia yang dilakukan ekstak daun senduduk mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin, fenolik, dan steroid. Zona hambat hasil uji aktivitas antibakteri tehadap bakteri Pseudomonas aeruginosa sebesar 4,42; 4,525; dan 4,885 mm, sedangkan untuk bakteri Staphylococcus aureus sebesar 4,665; 5,120; dan 5,865 mm pada konsentrasi 10, 20, dan 30 mg

    Sintesis Senyawa 5-(4'-Metoksibenzilidena)imidazolidina-2,4-dion Melalui Reaksi Kondensasi 4'-Metoksibenzaldehida dan Imidazolidina-2,4-dion dengan Katalis Amonium Asetat

    Full text link
    Senyawa 5-benzalhidantoin dan turunannya merupakan suatu senyawa bioaktif yang memiliki berbagai sifat terapeutik, diantaranya sebagai agen antikonsulvan, antibakteri, antikanker dan antijamur. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa tersebut dapat disintesis dengan berbagai cara diantaranya dengan reaksi Knoevenagel antara aldehid aromatik dengan hidantoin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyintesis 5-(4′-metoksi-benzal)hidantoin melalui reaksi kondensasi dengan menggunakan metode baru berkatalis amonium asetat serta membandingkan hasilnya dengan prosedur kondensasi metode Eli-Lilly dan Wheeler-Hoffmann. Senyawa hidantoin direaksikan dengan 4-metoksibenzaldehid dalam asam asetat glasial dengan katalis amonium asetat lalu direfluks dan diaduk dengan magnetic stirrer selama 8-12 jam. Campuran reaksi dinetralkan dengan penambahan natrium bikarbonat lalu diaduk selama 10 menit setelah itu disaring. Produk dimurnikan dengan pencucian menggunakan air dingin dan metanol dan setelah itu produk dikeringkan. Produk yang sudah kering diuji titik lelehnya dan diidentifikasi dengan spektroskopi UV, FTIR, 1H-NMR, 13NMR dan serta dibandingkan dengan 5-(4′-metoksi-benzal)hidantoin standar. Hasil dari percobaan diperoleh senyawa 5-(4′-metoksi-benzal)hidantoin dengan rendemen 88%  dan titik leleh 255,5˚C

    Aktivitas Antioksidan dan Profil Senyawa Metabolit Sekunder Ekstrak Kulit Batang Alkesa (Pouteria campechiana)

    Full text link
    Antioksidan merupakan senyawa yang dapat meredam radikal bebas. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai sumber antioksidan alami adalah Alkesa (Pouteria campechiana). Tanaman P. campechiana mengandung senyawa fenolik, flavonoid, tanin katekat, monoterpen, dan seskuiterpen. Senyawa flavonoid dan fenolik dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah menguji aktivitas antioksidan dari ekstrak kulit batang P. campechiana dan profiling  senyawa metabolit sekunder pada ekstrak teraktifnya. Kulit batang P. campechiana diekstraksi secara bertahap dengan menggunakan pelarut organik dengan berbagai tingkat kepolaran diantaranya n-heksana, etil asetat, dan metanol. Masing-masing ekstrak dilakukan pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Ekstrak metanol memiliki aktivitas antioksidan terbaik dengan nilai IC50 sebesar73,89 ppm, diikuti oleh ekstrak etil asetat dan n-heksana dengan nilai IC50 masing-masing sebesar 84,03 dan 339,10 ppm. Bedasarkan analisis LCMS/MS Ekstrak metanol mengandung senyawa kafein dan acaciin

    Perbandingan Efektivitas Pektin Kulit Durian (Durio zibethinus L.) dan Pektin Kulit Pisang Kepok (Musa acuminata X balbisiana ABB Group) Sebagai Bioadsorben Logam Timbal

    Full text link
    Timbal merupakan salah satu logam berat yang banyak terdapat di dalam limbah cair yang berasal dari industri atau laboratorium. Logam Pb jika tidak diolah dengan baik akan menimbulkan pencemaran lingkungan serta meracuni makhluk hidup yang ada disekitarnya. Salah satu pengolahan limbah yang mengandung logam berat adalah penggunaan bahan-bahan biologis sebagai bioadsorben. Pektin merupakan salah satu senyawa yang  terdapat pada dinding sel tumbuhan dan mempunyai banyak gugus fungsi, sehingga cocok untuk dijadikan sebagai bioadsorben logam Pb. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan efektivitas bioadsorben dari pektin kulit durian dan pektin kulit pisang melalui penentuan pH optimum, waktu kontak optimum, dan dosis optimum. Penelitian menggunakan alat spektrofotometri serapan atom dengan panjang gelombang pada 283,3    nm. Hasil penelitian yang didapatkan adalah kondisi optimum pektin kulit durian sebagai bioadsorben berada di pH 3, waktu kontak optimum adalah 15 menit, dan massa optimum adalah 125 mg dengan efektivitas adsorbsi 71,74%. Sedangkan untuk pektin kulit pisang mempunyai pH optimum 3, waktu kontak optimum adalah 30 menit, dan massa optimum adalah 125 mg dengan nilai efektivitas sebesar 83,48%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa efektivitas pektin kulit pisang sebagai bioadsorben logam Pb lebih besar dari pada pektin kulit durian

    Optimasi Perbandingan Pelarut Etanol Air Terhadap Kadar Tanin pada Daun Matoa (Pometia pinnata J.R & G. Forst) Secara Spektrofotometri

    Full text link
    Matoa (Pometia pinnata J.R&G.Forst) merupakan tanaman yang secara tradisional digunakan oleh masyarakat untuk mengobati penyakit seperti diare dan disentri. Dari skrining fitokimia yang dilakukan, daun matoa mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu tanin. Berdasarkan kelarutannya, tanin tergolong senyawa polar yang larut dalam pelarut polar seperti air dan etanol. Polaritas akan meningkat jika menggunakan campuran pelarut dengan perbandingan tertentu. Senyawa tanin pada daun matoa diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan perbandingan pelarut etanol air (1:0), (1:1) dan (1:2). Penentuan kadar tanin dilakukan menggunakan reagen pengompleks Folin Ciocalteu dengan larutan pembanding asam tanat yang diukur pada panjang gelombang 765 nm. Berdasarkan kurva kalibrasi, diperoleh persamaan regresi linear y = 0,0476 + 0,0045x dengan koefisien determinasi (R2) 0,9988 dan koefisien korelasi (r) sebesar 0,9994. Pelarut etanol air dengan perbandingan 1:2 memberikan kandungan tanin paling optimal dengan kadar sebesar 11,03% b/b

    174

    full texts

    191

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Chimica et Natura Acta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇