Chimica et Natura Acta
Not a member yet
191 research outputs found
Sort by
Formulasi Sediaan Hair Tonic dari Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona Muricata L.) Dan Ekstrak Lidah Buaya (Aloe vera)
Sediaan penumbuh rambut alami telah menjadi pilihan paling populer karena diolah dari berbagai bahan alami dan mempunyai banyak manfaat dan efek samping yang relatif kecil. Tanaman obat seperti daun sirsak dan lidah buaya merupakan bahan-bahan alami yang dapat digunakan dalam pembuatan sediaan tonik rambut alami. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik tonik rambut dari berbagai ekstrak dan untuk mengetahui pengaruh ekstrak tonik rambut kombinasi ekstrak daun sirsak lidah buaya terhadap efektivitas pertumbuhan rambut pada hewan uji kelinci dengan menggunakan metode uji organoleptik, homogenitas, uji pH, uji berat jenis, uji viskositas dan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik tonik rambut daun sirsak dan lidah buaya berwarna ‘dark olive’ dan bening, berbau khas ekstrak daun sirsak, cair, dan memiliki rasa sejuk pada kulit. Memiliki pH 5-6 dengan berat dosis berkisar antara 0,9519-0,9777 gr/cm3 dan viskositas 0,81-1,11 cPs. Tonik rambut juga memiliki efektivitas yang cukup pada pertumbuhan rambut pada kelinci, di mana persiapan terbaik ditemukan dalam persiapan F2, rasio kombinasi ekstrak adalah 2:1 dengan panjang pertumbuhan rambut rata-rata 0,93 cm
Chemical Fingerprint Berbasis Spektroskopi Inframerah (ATR-FTIR) Dipadukan dengan Kemometrik Untuk Kontrol Kualitas Daun Kratom (Mitragyna Speciosa Korth.)
Kratom dijuluki sebagai daun narkotika dari Kalimantan yang memiliki berbagai efek biologi seperti antiinflamasi dan antinoseptif. Secara tradisional daun kratom digunakan untuk menambah stamina, mengobati diare, sakit perut, susah tidur, kolesterol, asam urat, dan diabetes. Permintaan daun kratom di pasaran begitu tinggi sehingga memunculkan masalah berupa pemalsuan daun tersebut dari tanaman yang memiliki kemiripan morfologi.Penelitian ini bertujuan mengembangkan metode analisis untuk mengidentifikasi dan mengautentikasi daun kratom dari daun jambu biji. Data hasil analisis ATR-FTIR dikombinasikan dengan analisis kemometrika untuk mengklasifikasikan serta mengelompokan data tersebut, sehingga dapat membedakan daun kratom dan daun jambu biji. Metode analisis ATR-FTIR yang dipadukan dengan analisis kemometrik melalui pemodelan PCA (Principal Component Analysis) dan PLS-DA (Partial Least SquaresDiscriminant Analysis) mampu membedakan daun kratom dan daun jambu biji. PCA dengan nilai PC 90% mampu mengelompokkan sampel daun kratom dan daun jambu biji. Model PLSDA berhasil memprediksi keaslian sampel uji daun kratom yang telah dicampur dengan daun jambu biji. Pembuatan model prediksi daun kratom dengan PLS menghasilkan R2 kalibrasi, R2 prediksi, RMSEC, dan RMSEV masing-masing sebesar 0,9068; 0,8641; 0,1366 dan 0,1666. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa spektra ATR-FTIR dan kemometrik dapat digunakan untuk membedakan daun kratom dengan daun jambu biji serta mampu memprediksi keaslian daun kratom yang dipalsukan.
Pemanfaatan Zeolit Alam Bayah sebagai Katalisator Biodiesel dan Turunannya dan Adsorben Ammonium: Pengaruh Pretreatment
Katalisator dan adsorben seringkali digunakan di dalam sistem proses yang ada di industri, dalam rangka mendapatkan sistem proses yang efektif dan efisien. Penelitian ini mencoba melakukana kajian literatur guna mengetahui tingkat keefektivitasan penggunaan zeolit alam Bayah-Banten sebagai katalisator atau adsorben. Hal ini dilakukan karena zeolit alam bayah dari segi kuantitas sangat melimpah, tetapi pemanfaatannya masih sangat rendah khususnya di bidang industri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perlakuan awal yang dilakukan terhadap zeolit alam bayah (ZAB) terhadap performanya sebagai katalisator pada reaksi biodiesel dan turunannya (sintesis triacetin dan solketal), serta adsorben pada proses penjerapan ammonium di dalam air. Harapannya dengan ditulisnya artikel ini dapat memberikan informasi terkait kelebihan dan kekurangan dari zeolit alam bayah, sehingga dapat dijadikan informasi awal guna perbaikan atau mengadopsi metode yang telah diterapkan oleh peneliti sebelumnya yang dianggap baik ketika ingin digunakan sebagai katalisator maupun adsorben alternatif ke depan. Hasil kajian menunjukkan bahwa perlakuan awal yang dilakukan terhadap ZAB berdampak positif terhadap perannya sebagai katalisator pada sintesis biodiesel dan turunannya (pada sintesis triacetin dan solketal), dan sebagai adsorben dalam mereduksi ammonium di dalam air dengan tingkat persentase konversi reaktan dan persentase penjerapan yang tinggi
Pengaruh Perlit sebagai Adsorben pada Adsorpsi Zat Warna Metilen Biru
Aktivitas industri di zaman modern yang berkembang pesat dapat menyebabkan permasalahan lingkungan. Hal ini dikarenakan bertambahnya jumlah limbah yang dihasilkan akibat peningkatan produksi. Limbah zat warna tanpa pengolahan dapat menghambat penetrasi cahaya matahari, aktivitas fotosintesis, dan pertumbuhan biota air. Salah satu limbah zat warna yang sering ditemukan adalah metilen biru. Pengolahan zat warna metilen biru dapat menggunakan metode adsorpsi yang praktis, mudah dilakukan dengan biaya rendah. Penelitian ini menunjukkan aktivitas adsorpsi terbaik metilen biru oleh adsorben perlit terhadap parameter pH, waktu kontak, serta penentuan kinetika dan isoterm adsorpsi. Aktivitas terbaik perlit dalam mengadsorpsi metilen biru adalah pada pH 9 dengan waktu kontak 180 menit yang menghasilkan kapasitas adsorpsi maksimum sebesar 3,873 mg/g. Kinetika adsorpsi yang digunakan mengikuti model pseudo orde dua dengan nilai k dan q berturut-turut sebesar 0,0055 g/(mg×menit-1) dan 3,3102 mg/g, sedangkan isoterm adsorpsi mengikuti model isoterm Langmuir dengan nilai qmaks dan KL berturut-turut sebesar 3,873 mg/g dan 0,5822 L/mg
Review: Mutasi pada DNA Mitokondria dan Pengaruhnya terhadap Diabetes Melitus Tipe 2 dan Kompleks Forforilasi Oksidatif
Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah akibat ketidakmampuan pankreas dalam mensekresikan insulin atau tidak bekerjanya reseptor insulin. Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) disebabkan oleh kombinasi faktor genetik, metabolisme, dan lingkungan yang berinteraksi satu sama lain dan berkontribusi dalam gangguan mekanisme kerja insulin. Studi ini mengulas tentang mutasi pada DNA mitokondria (mtDNA) serta mekanisme molekuler dan jalur yang terlibat dalam metabolisme insulin dan fosforilasi oksidatif serta kaitannya terhadap DMT2. Metode yang dilakukan dalam studi ini adalah penelusuran pustaka menggunakan basis data elektronik seperti Google Scholar, ScienceDirect, dan PubMed dengan kata kunci yang berhubungan dengan diabetes melitus, mutasi pada mtDNA, gangguan mekanisme fosforilasi oksidatif, serta kasus diabetes melitus yang disebabkan oleh mutasi pada mtDNA. Studi ini menunjukkan bahwa mutasi pada mtDNA dalam kompleks fosforilasi oksidatif (OXPHOS) berpengaruh pada mekanisme produksi ATP yang dibutuhkan pada sekresi insulin di sel β pankreas. Gangguan sekresi insulin ini menjadi salah satu penyebab keadaan hiperglikemia yang berujung penyakit diabetes
Antioxidant Testing and Identification of Bioactive Compounds in Ethanol Extract of Propolis from Various Locations in Indonesia using LCMS-QTOF
Propolis produced by Trigona sp. stingless bees contains various bioactive substances including alkaloids, flavonoids, polyphenols, saponins, steroids, and terpenoids. The geographical origin of propolis production can influence its composition of secondary metabolites. This study aimed to qualitatively analyze ethanol extracts of propolis from Bintan, Lampung, and Makassar, and evaluate their phenolic and flavonoid contents, as well as antioxidant activities. The extraction method employed kinetic maceration with continuous stirring over 24 hours, using 70% ethanol as the solvent. Additionally, antioxidant activity was assessed using the DPPH method. The qualitative phytochemical analysis revealed that all three ethanol extracts contained alkaloids, flavonoids, and polyphenols. Saponin compounds were uniquely identified in the Makassar ethanol extract. Furthermore, antioxidant activity tests indicated significant potential in all three propolis extracts. These findings highlight the potential of Trigona sp. Stingless bee propolis as a valuable source of bioactive compounds beneficial for human health
Characterization and Antidiabetic Potential of Durian Leaf (Durio zibethinus Linn.) Ethyl Acetate Extract
Durian leaves (Duiro zibethinus Linn.) are one of the plants whose leaves are used as a fever reducer (antipyretic). The aim of this research is to isolate natural ingredients using natural ingredient extraction techniques by maceration and identify steroid compounds from durian leaves that have anti-diabetic potential. Isolation was carried out through several stages, namely maceration, fractionation, subfractionation using column chromatography, purification using preparative TLC, and testing the purity of the isolate using TLC and determining the melting point of the isolate. The antidiabetic potential of the isolation was carried out using the α-glucosidase enzyme inhibition method. The chemical structure of the isolate was characterized using IR and UV-Vis spectroscopy. Based on IR spectroscopy analysis, the isolation has C=C, OH, O-C functional groups, C-H aromatic functional groups. UV-Vis spectroscopy data shows that there are maximum peaks at 207 nm and 247 nm, meaning that the isolated steroid compound has unconjugated double bonds. Based on spectroscopic data and comparison with reference compounds, it could be identified that the isolate obtained was β-sitosterol
In Silico-Predicted Cytokeratin Fragment 21-1 (Cyfra 21-1) Immunogenic Epitopes for The Early Detection of Nasopharyngeal Carcinoma
Nasopharyngeal Carcinoma, an aggressive cancer in the head and neck region is mostly diagnosed at an advanced stage and thus has a poor prognosis. Cytokeratin Fragment 21-1 (CYFRA 21-1) is one of the oncomarkers discovered in saliva. For developing a diagnostic kit, CYFRA 21-1 antibodies and immunogens are needed. Natural CYFRA 21-1 immunogen is difficult to obtain, so it must be made in-silico using bioinformatics. We aim to predict CYFRA 21-1 immunogenic epitope to produce antibodies polyclonal against CYFRA 21-1, which can be used to develop NPC diagnostics. The immunogenic epitopes were predicted and chosen based on antigenicity, surface accessibility, and hydrophilicity, then characteristic was analyzed and evaluated. The epitope candidates were compared with other saliva protein biomarkers to find if there were cross-reactions. CYFRA 21-1 consists of 57 amino acids, where two immunogenic epitopes (C3 and D2) were chosen. The Ramachandran Plot of both epitopes shows that 100% of the amino acids were in the favoured area. Epitopes C3 and D2 have no cross-reaction with other protein biomarkers. The predicted immunogenic epitopes have the potential as antigen to produce antibodies for developing saliva-based immunodiagnostics to early diagnose NPC patients
Fraksinasi Isolat Fungi Tanah dari Biak-Papua BioMCC-f.T.7720 Berbasis Uji Aktivitas Penghambatan Enzim Dihydroorotate Dehydrogenase Plasmodium falciparum
Enzim dihydroorotate dehydrogenase Plasmodium falciparum (PfDHODH) merupakan target menarik untuk mencari kandidat antimalaria. Enzim ini beperan penting untuk kehidupan Plasmodium karena diperlukan dalam jalur biosintesis de novo pirimidin parasit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan fraksi aktif ekstrak fungi yang menunjukkan penghambatan terhadap aktivitas enzim PfDHODH. Pada penelitian ini telah dilakukan skrining penghambatan aktivitas enzim PfDHODH terhadap 80 ekstrak fungi yang diisolasi dari tanah. Berdasarkan hasil skrining diketahui bahwa ekstrak butanol kaldu fermentasi isolat fungi BioMCC-f.T.7720 dari Biak, Papua menunjukkan penghambatan paling tinggi terhadap aktivitas enzim PfDHODH, dengan nilai penghambatan mencapai 90% pada konsentrasi 0,5 μg/mL dan tidak menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap enzim homolog manusia (HsDHODH). Metode pemurnian ekstrak akfif dilakukan dengan fraksinasi berbasis uji aktivitas terhadap ekstrak butanol isolat fungi tersebut. Ekstrak aktif dimurnikan dengan kromatografi kolom silika gel dan dilanjutkan dengan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) preparatif. Diperoleh 2 fraksi aktif, yaitu Fr2A-2 dan Fr2A-3 dengan puncak dominan pada waktu retensi (Rf)14.654 menit dan 15.060 menit, secara berturut – turut. Fraksi aktif menunjukkan penghambatan terhadap enzim PfDHODH sebesar 57,09% (Fr2A-2) dan 83,52% (Fr2A-3) pada konsentrasi 50 μg/mL. Fraksi Fr2A-3 lebih poten dalam menghambat enzim PfDHODH dibanding fraksi Fr2A-2, dengan nilai IC50 2,76 μg/mL
Extraction and Determination of Total Phenolic and Flavonoid in Kapok Leaves (Ceiba pentandra L.) using Ethanol as Solvent
Kapok (Ceiba pentandra L.) is traditionally used in medicine. Based on the phytochemical screening, the leaves contain phenolic compounds, including flavonoids and tannins. The method used to determine the total phenol content was the Folin-Ciocalteu method using gallic acid as standard solution. The linear regression equation obtained on measured at 765 nm is y = 0.0054x + 0.0272 with determination (r) and correlation coefficient (R2 ) of 0.9994 and 0.9997. Total phenolic content in ethanol extracts is 89.185 µg/ml calculated as gallic acid. Meanwhile, determination of flavonoid content used comparison standard of quercetin used the AlCl3 method. Measuring at a wavelength of 510 nm gives a linear regression equation y= 0.122 + 0.003x with r = 0.9984 and R2 = 0.9960. Flavonoid content in kapok leaves is 1.6287% w/w calculated as quercetin