Chimica et Natura Acta
Not a member yet
    191 research outputs found

    Optimasi Penggunaan Glukosa Oksidase untuk Memperbaiki Volume Pengembangan Roti Tawar Komposit Sorgum Putih (Sorgum bicolor (L) Moench) Kultivar Lokal Bandung

    Full text link
    Konsumsi roti tawar di Indonesia terus meningkat yang menyebabkan impor tepung terigu turut meningkat. Pemanfaatan sorgum sebagai salah satu jenis bahan lokal dalam bentuk tepung menjadi produk roti tawar merupakan salah satu cara untuk mengurangi impor terigu. Sorgum dalam bentuk tepung dapat dijadikan tepung komposit untuk roti tawar akan tetapi menghasilkan volume pengembangan yang kecil sehingga dibutuhkan bahan untuk memperbaikinya salah satunya yaitu enzim. Glukosa oksidase merupakan salah satu enzim yang dapat digunakan untuk memperbaiki volume pengembangan roti tawar dengan jumlah yang optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kondisi optimum penggunaan glukosa oksidase dan tepung sorgum untuk menghasilkan volume pengembangan roti tawar yang optimal menggunakanResponse Surface Methodology (RSM). Variabel yang divariasikan meliputi faktor A (Glukosa oksidase 1,5 – 2%) dan B (Tepung sorgum 30 – 100%) kemudian analisis data menggunakan Design Expert versi 10.0.1.0 khususnya CCD dengan total 13 running. Kombinasi optimum untukmenghasilkan volume pengembangan terbaik pada pembuatan roti tawar komposit yaitu tepung sorgum sebanyak 30%/berat tepung dan glukosa oksidase sebanyak 2%/berat tepung menghasilkan volume pengembangan sebesar 188.76%

    Sintesis Nanopartikel Codoped Ceria Melalui Metode Sol-Gel Menggunakan Ekstrak Jeruk Lemon (Citrus limon) Sebagai Agen Pengkelat

    Full text link
    Ceria dengan dopan ganda (codoped) merupakan salah satu alternatif elektrolit padat untuk sel bahan bakar padatan oksida suhu menengah (Intermediate Temperature – Solid Oxide Fuel Cell, IT-SOFC). Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan sintesis dan karakterisasi nanopartikel ceria terdoping Gadolinia 10% dan Neodimia 10% dengan metode sol-gel menggunakan asam sitrat atau ekstrak jeruk lemon sebagai agen pengkelat. Ce0,8Gd0,1Nd0,1O1,9 (GNDC1010) telah berhasil disintesis dengan metode sol-gel menggunakan asam sitrat dan ekstrak jeruk lemon dengan variasi pH 5; 7; dan 9. Berdasarkan hasil XRD, pola XRD dari GNDC1010 memiliki kemiripan dengan pola XRD dari struktur fluorit ceria murni (JCPDS ICDD: #00-034-394). Pergeseran 2θ ke arah yang lebih kecil dari pola difraksi GNDC1010 dibandingkan dengan ceria murni mengindikasikan terjadinya ekspansi kisi. Berdasarkan hasil penghalusan (refinement) GNDC1010 hasil sintesis memiliki struktur kubik dengan grup ruang Fm3m dan parameter kisi pada rentang 5,435(1) hingga 5,4438(7) Å. Ukuran kristalit (persamaan Scherrer) GNDC1010 ekstrak berada pada rentang 4,27nm hingga 13,85nm

    Pengembangan Metode Analisis Hormon Tanaman Kelompok Auksin Menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

    Full text link
    Auksin merupakan salah satu kelompok hormon tanaman yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Analisis kandungan auksin pada tanaman sangat diperlukan di bidang pertanian untuk mengetahui pola pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode analisis auksin menggunakan KCKT-UV. Analisis dilakukan terhadap tiga senyawa auksin, yaitu Asam Indol-3-Asetat (IAA), Asam Indol-3-Butirat (IBA) dan Asam 1-Naftalena Asetat (NAA). Pengembangan metode analisis meliputi tahap optimasi derivatisasi senyawa IAA, IBA dan NAA berdasarkan reaksi  sililasi dan optimasi kondisi analisis hasil derivatisasi iAA, IBA dan NAA menggunakan KCKT-UV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum derivatisasi IAA, IBA dan NAA adalah menggunakan pereaksi trimetilklorosilen (TMCS) pada suhu 25oC selama 30 menit. Validasi proses derivatisasi menggunakan KCKT-UV memiliki presisi dan linieritas yang memenuhi syarat dengan nilai % SBR ≤ 2 dan nilai rata-rata koefisien korelasi (r) 0,9998 serta konsentrasi terkecil IAA, IBA dan NAA yang masih dapat diderivatisasi adalah 0,05 mg/L.Kata kunci: Asam Indol-3-Asetat (IAA), Asam Indol-3-Butirat (IBA), Asam 1-Naftalena                      Asetat (NAA), Reaksi Sililasi dan KCKT-U

    Metode Non-Enzimatik Riboflavin-Nitrobluetetrazolium (Rb-NBT) Sebagai Teknik Penentuan Aktivitas Penangkal Radikal Bebas Anion Superoksida pada Kompleks Mangan(III)-Salen

    Full text link
    Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas penangkal radikal bebas superoksida secara in vitro terhadap senyawa kompleks polimerik [Mn(salen)N(CN)2]n, baik dengan metode non-enzimatik maupun enzimatik. Aktivitas penangkal radikal bebas superoksida yang didapatkan dari kedua metode ini dinyatakan dengan IC50.  Melalui metode non-enzimatik riboflavin-nitrobluetetrazolium (Rb-NBT), radikal superoksida yang dihasilkan dari penyinaran riboflavin, bereaksi dengan nitrobluetetrazolium sebagai indikator dan senyawa kompleks, lalu serapan NBT tereduksi diukur pada panjang gelombang 560 nm. Dengan metode non-enzimatik ini, dihasilkan nilai IC50 yang tinggi, konsisten, dan standar deviasinya sangat kecil, yaitu 3,4 ± 0,4 µM. Sedangkan secara enzimatik, radikal superoksida yang dihasilkan dari reaksi antara xantin dan xantin oksidase ditangkap oleh sitokrom C (sebagai indikator) dan senyawa kompleks, kemudian sitokrom C tereduksi diukur serapannya pada panjang gelombang 450 nm. Melalui metode enzimatik McCord-Fridovich (McCF) ini, dihasilkan beberapa nilai IC50 kompleks [Mn(salen)N(CN)2]n yang tidak konsisten, yang disebabkan oleh tidak berfungsinya enzim. Dengan demikian, metode non-enzimatik Rb-NBT lebih mudah dan lebih akurat untuk digunakan sebagai teknik penentuan aktivitas penangkal radikal anion superoksida dibandingkan dengan metode enzimatik

    Depsidon Dari Buah Tumbuhan Asam Kandis (Garcinia cowa)

    Full text link
    Suatu senyawa kelompok depsidon (1) telah berhasil diisolasi dan dielusidasi struktur kimia dari  ekstrak etil asetat Garcinia cowa.Roxb. asal Indonesia.  Isolasi dan pemurnian dilakukan dengan teknik kromatografi vakum cair dan kromatografi kolom gravitasi, menggunakan adsorben silika gel, dengan sistem elusi bergradien: n-heksan, CH2Cl2, EtOAc, dan MeOH. Penentuan struktur molekul ditetapkan dengan metode spektroskopi meliputi spektroskopi UV, IR, NMR 1 D dan 2 D. Senyawa  hasil isolasi ditetapkan sebagai  1,3-dihidroksi-7-metoksi 2,8-(3-metilbutenil) depsidon (1). Senyawa ini untuk pertama kalinya  dilaporkan sebagai komponen kimia  dari  buah  G. cowa.

    Optimisasi pH dan Agitasi pada Produksi Glukoamilase dari Saccharomycopsis fibuligera R64 Menggunakan Response Surface Method

    Full text link
    Glukoamilase adalah salah satu enzim esktraseluler yang dihasilkan oleh ragi Saccharomycopsis fibuligera. Enzim ini mampu memecah ikatan α-1,4 dan α-1,6 glikosidik pada molekul amilosa dan amilopektin. Pada penelitian ini telah dilakukan produksi enzim glukoamilase dalam media fermentasi yang mengandung sumber karbon yang berbeda, yaitu tepung beras, dedak dan pati. Fermentasi dilakukan dengan sistem lompok pada suhu kamar dengan kecepatan agitasi 150 rpm selama 3 hari. Nilai OD dan aktivitas glukoamilase ditentukan setiap 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung beras menghasilkan aktivitas glukoamilase tertinggi. Aktivitas glukoamilase tertinggi pada tepung beras terdeteksi pada jam ke-48 dengan nilai 28,48 unit/mL. Dengan kondisi waktu yang sama nilai aktivitas enzim glukoamilase pada media dedak dan pati berturut-turut yaitu 18,08 dan 18,67 unit/mL. Selanjutnya media tepung beras digunakan untuk mengoptimisasi produksi enzim glukoamilase dengan variasi agitasi dan pH menggunakan desain Response Surface Method. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH berpengaruh signifikan terhadap produksi enzim glukoamilase. Kondisi optimum produksi glukoamilase diperoleh pada agitasi dan pH berturut-turut yaitu 250 rpm dan 5. Nilai aktivitas enzim glukoamilase pada kondisi optimum yaitu 56,22 unit/mL

    Peningkatan Konduktivitas Baterai Litium Besi Fosfat Dengan Polianilina Didoping Asam Format

    Full text link
    Beberapa tahun terakhir ini, baterai LiFePO4 sangat banyak dipelajari karena sifatnya yang ramah lingkungan, stabil dan kapasitas teoritisnya yang cukup tinggi yaitu (170 mAh/g). Namun, tingkat kinerja elektrokimia yang rendah telah membatasi aplikasinya. Penyebab kinerja yang kurang baik adalah konduktivitas yang rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan konduktivitasnya adalah dengan penambahan material konduktif. Polianilin (PANI) merupakan polimer yang memiliki konduktivitas cukup baik serta sintesisnya sederhana. Sifat listrik polianilin dapat dikontrol melalui charge-transfer, doping dan protonasi untuk dijadikan sebagai suatu material konduktif. Selain itu, penambahan dopan akan lebih efektif dalam meningkatkan konduktivitas baterai. Dopan yang digunakan berupa asam yaitu asam format. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan konduktivitas baterai litium besi fosfat dengan melapisi bahan katode menggunakan polimer konduktif polianilin didoping asam format. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sintesis kimia polimer PANI melalui polimerisasi interfasial. Konduktivitas diukur menggunakan alat four point probe dan didapatkan konduktivitas tertinggi pada PANI yang didoping asam format pada konsentrasi 1,5 M dengan nilai konduktivitas sebesar 6,4616 S/cm sedangkan konduktivitas tertinggi pada katode yang dihasilkan yaitu 38,4367 S/cm dengan perbandingan komposisi PANI:LiFePO4 50:50 (g/g). Karakterisasi struktur, morfologi, dan konduktivitas PANI yang didoping asam format dan katode LiFePO4-PANI masing-masing menggunakanFTIR, SEM, dan four point probe

    Studi Perbandingan Kinerja Serbuk dan Arang Biji Salak Pondoh (Salacca zalacca) pada Adsorpsi Metilen Biru

    Full text link
    Pembuatan adsorben dengan memanfaatkan limbah biomassa terus dilakukan dalam rangka memperoleh material alternatif yang memiliki efektifitas tinggi. Adsorben seharusnya dibuat dari material yang mudah diperoleh, proses pembuatan mudah, ramah lingkungan, biaya operasional rendah, dan dapat diperbaharui. Dalam penelitian ini, adsorben berbasis biomassa berhasil dibuat dengan dua variasi, yaitu serbuk biji (SSzM) dan arang biji (SSzC) salak pondoh (Salacca zalacca). Masing-masing adsorben dikarakterisasi menggunakan FTIR untuk mengetahui gugus fungsi yang terdapat di permukaan padatan. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa SSzM dan SSzC memiliki kemiripan serapan dengan beberapa pergeseran bilangan gelombang dan perbedaan intensitas puncak. Kinerja adsorben diuji untuk adsorpsi larutan metilen biru (MB) melalui sistem batch pada suhu ambien (30°C) tanpa pengukuran pH dengan kecepatan pengadukan 700 rpm. Sistem dikerjakan dengan variasi waktu kontak dan konsentrasi awal larutan MB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua material dapat mengadsorpsi MBdengan baik. Secara keseluruhan aktivitas adsorpsi SSzC lebih tinggi daripada SSzM. Pengurangan konsentrasi MB terbesar oleh adsorben SSzM diperoleh pada waktu kontak 30 menit dengan konsentrasi awal 100 ppm yaitu sebesar 97,90%, sedangkan SSzC menunjukkan efisiensi sebesar 98,48% pada kondisi yang sama

    Kulit Salak Sebagai Biosorben Potensial Untuk Pengolahan Timbal(II) Dan Cadmium(II) Dalam Larutan

    Full text link
    Biosorben dari kulit salak (Salacca sumatrana) digunakan untuk mempelajari penyerapan Pb(II) dan Cd(II) dalam larutan dengan metode batch. Adsorpsi Pb(II) dan Cd(II) menggunakan kulit salak ini dipelajari pada variasi pH, konsentrasi adsorbat dan waktu kontak. Kondisi optimum penyerapan yang diperoleh pH 4 untuk Pb(II) dan 5 untuk Cd(II), konsentrasi adsorbat 1200 mg/L untuk Pb(II) dan 800 mg/L untuk Cd(II), waktu kontak 45 menit untuk Pb(II) dan 15 menit untuk Cd(II). Kapasitas penyerapan dari biosorben kulit salak sebesar 83,33 mg/g untuk Pb(II) dan 27,78 mg/g untuk Cd(II) dengan pola adsorpsi mengikuti isoterm Langmuir dengan koefisien determinasi 0,987 dan 0,937 dan data kinetika mengikuti model pseudo orde kedua. Konsentrasi Pb(II) dan Cd(II) sebelum dan setelah penyerapan ditentukan dengan Spektrometri Serapan Atom (SSA), karakterisasi kulit salak dilakukan dengan FTIR dan SEM. Adsorben kulit salak sangat baik digunakan untuk mengurangi kadar Pb(II) dan Cd(II) dalam larutan

    Pengaruh Fermentasi Biji Kakao dengan Menggunakan Kluyveromyces sp., Lactobacillus plantarum, Acetobacter xylinum, Enzim Papain dan Bromelain serta Sistein Terhadap Prekursor Cita Rasa serta Kandungan Nutrisi dan Polifenolnya

    Full text link
    Indonesia merupakan produsen kakao terbesar kedua di dunia. Kualitas biji kakao yang diekspor oleh Indonesia kurang baik karena tidak difermentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan nilai nutrisi, kandungan polifenol serta prekursor cita rasa biji kakao melalui proses fermentasi dengan penambahan campuran mikroorganisme Kluyveromyces sp., Lactobacillus plantarum, Acetobacter xylinum, enzim papain dan bromelain serta inhibitor sistein. Adapun variasi fermentasi yang dilakukan adalah (A) biji kakao tidak difermentasi, (B) fermentasi alami, (C) fermentasi dengan Kluyveromyces sp. pada hari ke-0 dan L. plantarum pada hari ke-1, A. xylinum pada hari ke-2, (D) fermentasi dengan Kluyveromyces sp. pada hari ke-0 dan L. plantarum pada hari ke-1, A. xylinum pada hari ke-2 dan campuran enzim eksogen pada hari ke-3, dan (E) fermentasi dengan Kluyveromyces sp. pada hari ke-0 dan L. plantarum pada hari ke-1, A. xylinum pada hari ke-2 serta campuran enzim eksogen dan inhibitor sistein pada hari ke-3. Fermentasi dihentikan pada hari ke-5 kemudian biji kakao dianalisis kadar protein dengan metode Kjeldahl, kadar lemak dengan metode Sokletasi, kadar air dengan metode pengeringan, kadar abu dengan metode gravimetri, asam amino bebas dengan metode kromatografi kertas, kadar karbohidrat dengan metode by difference, pH dengan alat pH meter, dan polifenol dengan metode Folin Ciocalteu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan Kluyveromyces sp., L. plantarum, A. xylinum, campuran enzim bromelain, papain dan sistein dapat mempengaruhi kandungan nutrisi biji kakao hasil fermentasi. Kadar protein perlakuan A (biji kakao tanpa fermentasi) adalah 10,39% sedangkan pada perlakuan D terjadi peningkatan sampai 16,67%. Kadar lemak pada perlakuan A 50,50% dan pada perlakuan B 52,24%. Proses fermentasi pun menurunkan kadar karbohidratnya, dimana pada perlakuan A 29,11% sedangkan perlakuan E 23,03%. Perlakuan D dan E menunjukkan kadar nutrisi yang paling baik, ditunjukkan dengan adanya peningkatan kandungan asam amino bebas hidrofobiknya yang merupakan prekursor cita rasa. Proses fermentasi menaikan pH hingga 6-7, dimana nilai ini telah memenuhi standar fermentasi yang baik yaitu >5,00, sehingga biji kakao hasil penelitian ini memiliki kualitas yang baik. Proses fermentasi menurunkan kadar polifenol totalnya, dimana pada perlakuan A 7,15% sedangkan perlakuan B 2,41%. Penambahan inhibitor sistein (pada perlakuan E-4; E-5) dapat mempertahankan kadar polifenol totalnya yaitu 6,11 dan 5,45% dengan penurunan 14-23%. Kandungan katekin perlakuan E-4 sebesar 5,75%

    174

    full texts

    191

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Chimica et Natura Acta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇