Chimica et Natura Acta
Not a member yet
    191 research outputs found

    Karakteristik Ekstraksi Dan Fermentasi Daun Indigofera Sebagai Pewarna Alami Pada Tekstil

    No full text
    Keberadaan potensi tanaman Indigofera di wilayah Jawa Barat yang dikenal dengan “Tarum”, banyak diperuntukan sebagai pakan ternak. Kemanfaatan lainnya adalah penghasil pigmen warna biru yang berguna sebagai zat warna alam (ZWA). Peranan ZWA pada kain tekstil memberikan dampak positif bagi lingkungan, karena material hasil buangan warna yang dicelupkan bersifat biodegradable dan mampu teruraikan. Kelemahan dari ZWA diantaranya terletak pada daya ikat,  daya cuci, daya luntur, dan daya tahan sinar yang dinilai tidak kuat menempel pada kain. Perlu adanya variasi perlakuan metode untuk memberikan informasi kajian terbaharukan pada produk material ZWA. Tujuan penelitian ini, memvariasikan beda perlakuan antara fermentasi (aerob) dan ekstraksi pada variabel kain katun dan sutera dengan varibel bebas penggunaan fiksasi tawas, kapur, dan tunjung terhadap daya tahan pencucian, daya tahan kelunturan, dan daya tahan cahaya matahari. Metode yang digunakan meliputi tahapan perlakuan beda konsentrasi daun indigo 1kg/5L dan 1kg/10L, kemudian dilanjutkan proses beda perlakuan yaitu ekstraksi dan fermentasi (aerob). Selanjutnya perlakuan penggunaan fiksasi/non fiksasi sebagai variabel bebas dan variabel terikat sebagai uji daya tahan. Hasil uji ketahanan daya tahan pencucian, daya tahan luntur, dan daya tahan sinar mtahari menunjukkan bahwa kategori nilai yang dihasilkan pada beda kondentrasi, menghasilkan penilaian yang tidak jauh berbeda. Sedangkan perlakuan penggunaan fiksasi/non fiksasi diperoleh kategori nilai terbaik rata-rata pada perlakuan fermetasi (aerob)

    Carboxymethyl Cellulose Photocracking by Magnetic Recoverable Photocatalyst to Produce Biofuel in Ambient Condition

    Full text link
    Synthesis of Fe3O4/SiO2/TiO2 nanocomposite and its application as photocatalyst in Carboxymethyl Cellulose (CMC) photocracking had been conducted. Magnetite preparation was carried out by sono-coprecipitation method. The deposition of SiO2 and TiO2 were performed by sol-gel method under ultrasonic irradiation. All material products were characterized by X-ray diffraction (XRD), Fourier transform infra-red spectrophotometry (FT-IR), and transmission electron microscopy (TEM). The final material product was also analysed by specular reflectance UV-Visible (SR-UV-Vis). The product of photocracking was analysed by gas chromatography – mass spectrometry (GC-MS).The XRD diffractogram and FT-IR spectra confirmed the presence of Fe3O4, SiO2, and anatase phase of TiO2. The TEM image revealed the presence of nanocomposite with core-shell structure. The SR-UV-Vis spectrum was used to determine band gap energy of the photocatalyst and it gave a result of 3.22 eV. The GC chromatogram of photocracking product indicated some major fractions. The MS spectra showed that some major fractions were smaller molecules including methanol, the component of biofuel

    Penyimpanan Haloalkana Dehalogenase: Pengaruh Konsentrasi Terhadap Stabilitas dan Aktivitas Enzim

    Full text link
    Karena kebutuhan penyimpanan protein rekombinan dalam waktu yang sangat lama, berbagai macam kondisi penyimpanan telah disarankan dalam berbagai publikasi guna mempertahankan integritas struktur dan/atau aktivitas enzim asalnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh konsentrasi protein terhadap kestabilan penyimpanan dari haloalkana dehalogenase murni. Haloalkana dehalogenase rekombinan dimurnikan dengan dua langkah pemurnian, yaitu kromatografi penukar ion  dan afinitas. Dua kondisi konsentrasi enzim diobservasi selama 4 minggu. Aktivitas enzim diuji tiap minggu yang merefleksikan kestabilan dari enzim. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi enzim 0.5 mg/mL, dibandingkan dengan konsentrasi 2 mg/mL, lebih mudah mengalami inaktifasi dan kehilangan aktivitas. Peningkatan aktivitas dan stabilitas enzim bentuk konsentrat selama penyimpanan mungkin dipengaruhi oleh oligomerisasi protein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi tinggi dari haloalkana dehalogenase direkomendasikan untuk proses penyimpanan enzim dalam waktu yang lama

    Abu Ilalang Sebagai Katalis Basa untuk Produksi Biodiesel dari Minyak Jelantah dengan metode BeRA (Biodiesel Electrocatalytic Reactor)

    Full text link
    Pada penelitian ini pengabuan ilalang dilakukan pada suhu 900°C selama 8 jam dan digunakan sebagai katalis basa pada pembuatan biodiesel yang dilakukan dengan proses elektrokatalitik menggunakan elektrode grafit dengan tegangan DC 18,2 V. Proses elektrokatalitik campuran minyak jelantah, metanol dan katalis abu ilalang (2, 3 dan 5% berat katalis terhadap minyak) berlangsung pada suhu kamar dengan rasio molar minyak terhadap metanol sebesar 1:6 selama 60 menit dengan perbandingan volume pelarut THF terhadap metanol sebesar 1:1. Karakterisasi abu ilalang dilakukan dengan menggunakan XRF dan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan mineral alkalis tertinggi terdapat pada abu akar ilalang (Ca 3,99%) yang menghasilkan 55,65% rendemen biodiesel dengan tingkat efisiensi produksi 41,01% pada aplikasi 5% katalis dengan minyak kedelai sebagai bahan baku produksi. Untuk katalis yang sama pada minyak jelantah dihasilkan 44,47% rendemen biodiesel dengan tingkat efisiensi produksi 41,79%. Selain itu efisiensi produksi biodiesel dengan proses elektrokatalitik menggunakan katalis akar abu ilalang adalah lima kali lebih besar dibandingkan proses tanpa katalis. Melalui penggunanaan abu ilalang sebagai katalis untuk produksi biodiesel dari minyak jelantah diharapkan dapat mengurangi penyebab kebakaran lahan oleh tanaman ilalang sehingga meningkatkan kesuburan lahan pertanian dan mengurangi kuantitas limbah minyak jelantah yang dapat mencemari lingkungan serta tersedianya bahan bakar terbarukan yang ramah lingkungan

    Penggunaan Air Olahan Limbah Kantin Hasil Perendaman Batang Pisang dan Ampas Teh untuk Pertumbuhan Tanaman Mangkokan dan Puring, Serta Peningkatan Mutu Air Olahan dengan Elektrokimia Termediasi

    Full text link
    Pertumbuhan tanaman mangkokan dan puring dalam media air olahan limbah salah satu kantin di lingkungan kampus Jatinangor menunjukkan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dalam media air limbah kantin yang tanpa diolah terlebih dulu. Hal ini dapat dilihat dari tumbuhnya akar dan pucuk daun baru.Pengolahan pendahuluan dilakukan dengan memasukkan irisan batang pisang dalam air limbah kantin selama 2 jam. Perlakuan ini berhasil menurunkan jumlah total koloni bakteri yaitu sebesar 57,13%. Selanjutnya dilakukan bioadsorpsi menggunakan ampas teh (10 g/L), proses ini menyebabkan perubahan nilai pH air limbah menuju pH normal. Pada 2 jam bioadsorpsi nilai pH air olahan 5,42; konduktivitas 713 µS/cm; dan COD 291,2 mg/L. Kemudian terhadap air olahan tersebut dilakukan oksidasi elektrokimia termediasi pada beda potensial 6 V selama 20 menit dengan elektrode aluminium. Elektrokimia ini berhasil mendapatkan air olahan dengan nilai pH 6,07, COD 348 mg/L, dan penurunan kekeruhan sebesar 50,71% dengan diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada λ460. Air olahan limbah tersebut dapat dimanfaatkan untuk penyiraman tanaman khususnya mangkokan dan puring

    Karakterisasi Maltodekstrin dari Pati Jagung (Zea mays) Menggunakan Metode Hidrolisis Asam pada Berbagai Konsentrasi

    Full text link
    Karakteristik pati jagung alami memiliki kekurangan diantaranya tidak larut dalam air dingin, kestabilan yang rendah, terjadinya pengentalan setelah pemasakan dan retrogradasi sehingga aplikasinya menjadi terbatas dalam industri. Cara untuk mengatasi kekurangan tersebut adalah dengan memodifikasi pati jagung menjadi maltodekstrin melalui hidrolisis asam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu hidrolisis yang tepat untuk menghasilkan maltodekstrin dari pati jagung (Zea mays) yang memiliki karakteristik sesuai Standar Nasional Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Variasi lama waktu hidrolisis yang digunakan adalah 20, 25, 30, dan 35 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu hidrolisis 35 menit pada suhu 80ºC dan konsentrasi HCl 1,35% menghasilkan maltodekstrin paling baik dengan nilai DE 16,12, rendemen 75,83%, dan viskositas 65 mpass. Maltodekstrin tersebut memiliki beberapa karakteristik yang sesuai Standar Nasional Indonesia diantaranya derajat asam 1,89%, kadar serat kasar 0,10%, kadar air 8,29%, serta warna putih kekuningan dengan nilai L sebesar 82,90 sedangkan kriteria yang belum sesuai standar diantaranya kelarutan dalam air dingin 86,79%, kadar abu 1,79% dan kehalusan 80 mesh sebesar 55,48%

    Aplikasi Desain Eksperimen Plackett-Burman dan Response Surface Methodology Box-Behnken pada Produksi Senyawa Pengontras Magnetic Resonance Imaging Gadolinium Dietilentriaminpentaasetat-Folat

    Full text link
    Desain Plackett-Burman digunakan untuk menyeleksi variabel yang memiliki pengaruh utama dalam produksi Gadolinium Dietilentriaminpentaasetat-Folat (Gd-DTPA-Folat) sebagai senyawa pengontras Magnetic Resonance Imaging (MRI). Tujuh variabel seperti rasio mol Gadolinium (Gd) dan ligan Dietilentriaminpentaasetat-Folat (DTPA-Folat), suhu, laju pengadukan, pH, waktu reaksi dan volume pelarut diseleksi dalam proses produksi. Faktor dummy yang tidak memiliki pengaruh secara kimia ditambahkan juga dalam eksperimen. Dari ketujuh variabel, rasio mol Gd dan DTPA-Folat, laju pengadukan dan volume pelarut memiliki pengaruh yang positif terhadap persentase hasil rendemen Gd-DTPA-Folat. Tahapan selanjutnya adalah mengetahui interaksi antara faktor-faktor yang berpengaruh positif dalam eksperimen dan menghasilkan respon optimum untuk keseluruhan variabel menggunakan Response Surface Methodology Box-Behnken. Pendekatan statistik dalam studi untuk eksperimen desain menggunakan Software Design Expert 9.0.6.2. Kesimpulan dalam hasil penelitian adalah bahwa kondisi reaksi optimum dalam produksi Gd-DTPA-Folat, yaitu rasio mol Gd dan DTPA-Folat 10:1, laju pengadukan 500 RPM dan volume pelarut sebanyak 20 mL (untuk 2,5 x 10-4 mmol ligan). Prediksi hasil rendemen Gd-DTPA-Folat pada kondisi optimum adalah 87,3296%

    Pemurnian Pretrombin-2pH Hasil Ko-Ekspresi Chaperone pada Escherichia coli ER2566 Menggunakan Sistem IMPACT

    Full text link
    Pemurnian pretrombin-2 merupakan tahap penting dalam produksi trombin sebagai salah satu komponen lem fibrin untuk mengganti teknik jahitan pascabedah mata. Pemurnian pretrombin-2 melalui sistem IMPACT memanfaatkan aktivitas pemotongan intein yang membawa penanda afinitas chitin-binding domain dan tidak memerlukan enzim protease tambahan. Pemotongan pretrombin-2pH dari CBD-intein dapat dilakukan melalui C-terminal intein dengan induksi perubahan pH dan suhu tanpa memerlukan reagen kimia tambahan. Namun dibutuhkan kondisi pH, suhu dan waktu inkubasi yang sesuai untuk memotong pretrombin-2pH dari C-terminal intein. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi pH, suhu dan waktu inkubasi pemotongan yang dibutuhkan dalam pemurnian pretrombin-2pH dengan memanfaatkan aktivitas pemotongan C-terminal intein. Metode yang dilakukan adalah ekspresi gen CBD-intein-pt2pH menggunakan vektor pTWIN1 dalam E. coli ER2566 disertai dengan ko-ekspresi chaperone menggunakan plasmid pG-KJE8, isolasi CBD-intein-PT2pH dengan metode sonikasi, pemurnian pretrombin-2pH menggunakan sistem IMPACT, serta karakterisasi pretrombin-2pH hasil pemurnian dengan metode SDS-PAGE. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi inkubasi pemotongan yang dibutuhkan untuk mendapatkan pretrombin-2pH murni adalah pada suhu 25oC, selama 48 jam dengan perubahan pH lingkungan kolom dari 8,5 ke 7,0. Namun efisiensi pemotongan yang dihasilkan sangat kecil. Hal ini mungkin disebabkan oleh kondisi suhu dan waktu inkubasi yang belum optimum serta diduga masih terdapat reaksi proteolisis yang mendegradasi pretrombin-2pH murni yang dihasilkan

    Metode ERASI (Gabungan Process Electro-Assisted Phytoremediation dan Aerasi) dengan Tanaman Akar Wangi (Vetiveira zizanioides L) untuk Remediasi Air Limbah Logam Fe dan Cu

    Full text link
    Kegiatan industri, pertanian, dan pertambangan semakin meningkat sehingga pencemaran logam berat pada air menjadi persoalan penting secara global yang membutuhkan perhatian khusus. Salah satu sumber pencemar diperairan adalah logam berat karena memiliki sifat yang stabil dan sulit untuk didegradasi, sehingga perlu dilakukan tindakan remediasi. Salah satu metode remediasi yang dapat digunakan adalah gabungan proses EAPR (electro-assisted phytoremediation) dan aerasi dengan tanaman akar wangi (Vetiveira zizanioides L) sebagai akumulator polutan yang selanjutnya disebut dengan metode ERASI. Metode ini merupakan proses fitoremediasi, dengan bantuan listrik arus searah yang dialirkan melalui elektroda untuk membantu mobilitas polutan bermuatan dari sumber limbah yang dalam mendekat ke arah akar tanaman serta dengan injeksi udara melalui proses aerasi untuk meningkatkan konsentrasi oksigen di dalam air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan tanaman akar wangi menyerap logam Fe dan Cu dalam jangka waktu lebih lama pada media limbah logam berat dengan parameter kualitatif dan kuantitatif yaitu pengamatan perubahan morfologi tanaman dan penurunan konsentrasi logam berat Fe dan Cu. Dalam penelitian ini dilakukan juga perbandingan tiga proses yaitu fitoremediasi, fitoremediasi-aerasi dan ERASI dengan lama waktu pengamatan selama 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan tanaman akar wangi yang lebih cepat menyerap logam berat Fe dan Cu adalah pada perlakuan ERASI yang ditandai dengan timbulnya gejala toksisitas tanaman yang lebih cepat seperti layu, kering hingga terbakar serta penurunan konsentrasi logam Fe dan Cu dalam air sebesar 85% dari konsentrasi semula dibandingkan dengan dengan proses aerasi (80%) dan fitoremediasi (26%). Hasil analisis konsentrasi klorofil tanaman pada proses ERASI menunjukkan tanaman mengalami tingkat stress lebih rendah dibandingkan dengan proses aerasi mengalami stress paling tinggi. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa metode ERASI merupakan proses yang paling efektif dalam menurunkan konsentrasi logam berat Fe dan Cu dari kedua metode lainnya

    Pengaruh Aktivator Terhadap Kemampuan Bubuk Biji Alpukat (Persea americana Mill) dalam Menjerap Ion Timbal (II)

    Full text link
    Penggunaan limbah buah sebagai adsorben berbiaya rendah untuk mengurangi pencemaran akibat logam telah menarik banyak perhatian. Pada penelitian ini akan dibuat adsorben dari bubuk biji alpukat (Persea Americana Mill) yang diaktivasi menggunakan dua jenis aktivator yaitu HCl dan H2SO4. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh aktivator terhadap bubuk biji alpukat dalam menjerap ion Pb(II). Variasi konsentrasi aktivator (2,5; 5; dan 7,5%) dilakukan untuk mendapatkan adsorben dengan kemampuan daya jerap terbaik.Hasil karakterisasi terhadap bubuk biji alpukat yang telah diaktivasi menunjukkan bahwa konsentrasi optimum HCl sebagai aktivator adalah 2,5%, sedangkan H2SO4 yaitu 7,5%. Bubuk biji alpukat yang telah diaktivasi kemudian diuji kemampuan daya jerapnya terhadap ion Pb(II). Kandungan logam Pb dalam larutan sebelum dan setelah proses adsorpsi dianalisis menggunakan metode Spektroskopi Serapan Atom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua jenis aktivator tersebut dapat meningkatkan penyerapan timbal dalam larutan jika dibandingkan hasil adsorpsi bubuk biji alpukat tanpa aktivasi. Efisiensi penjerapan bubuk biji alpukat yang diaktivasi menggunakan HCl dan H2SO4 masing-masing sebesar 96,81 dan 83,56% terhadap larutan Pb dengan konsentrasi 10 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa aktivator HCl bersifat lebih baik dibandingkan H2SO4 dalam menjerap ion Pb(II) dalam larutan

    174

    full texts

    191

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Chimica et Natura Acta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇