Jurnal Teknologi Pertanian Andalas
Not a member yet
    271 research outputs found

    ANALISIS KERUSAKAN BEARING MAIN SHAFT PADA MESIN SCREW PRESS MSB 15 DENGAN METODE TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM) DI PABRIK KELAPA SAWIT PT. XYZ

    Full text link
    Salah satu perusahaan kelapa sawit yang memproduksi CPO dan kernel di Kalimantan Selatan adalah PT. XYZ. Material yang sering mengalami kerusakan pada proses produksi kelapa sawit di PT. XYZ adalah bearing main shaft pada mesin screw press MSB 15 yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas CPO dan kernel yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan penyebab kerusakan bearing main shaft pada mesin screw press MSB 15 dengan metode Total Productive Maintenance (TPM) menggunakan informasi dan pengetahuan mengenai Overall Equipment Effectiveness (OEE), TPM, dan jam kerja mesin yang ada di stasiun press. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OEE pada mesin press di PT. XYZ berada di bawah standar, yaitu dengan nilai availability 77% yang seharusnya 90%. Nilai performance rate dan quality rate yaitu 89,57% dan 100%. Secara keseluruhan nilai OEE masih berada pada angka 68,5% masih dibawah standar yaitu 85%, yang artinya produksi yang dilakukan masih dinilai wajar namun perlu banyak perbaikan yang dilakukan. Hasil analisis yang dilakukan penyebab kerusakan bearing main shaft screw press MSB 15  stasiun press PT. XYZ adalah faktor engine error, human error, dan material

    OKSIDASI VIRGIN COCONUT OIL TERKEMAS OLEH PAPARAN SINAR UV SECARA KONTINYU

    Full text link
    Oksidasi minyak terjadi oleh beberapa faktor seperti sifat alami minyak dengan asam lemak penyusunnya, tipe oksigen, suhu, nilai aktivitas air, cahaya, ion logam, bahan tambahan dan kondisi penyimpanan. Fotooksidasi vigin coconut oil (VCO) dipelajari sebagai faktor cahaya dengan menggunakan paparan sinar UV panjang gelombang 256 nm. VCO terkemas di dalam botol gelap dan botol bening mendapatkan iradiasi kontinyu selama 240 jam dengan daya lampu 40 W dan 60 W. Hasil observasi parameter oksidasi, botol gelap dan daya lampu lebih rendah dapat memperlambat aktivitas oksidasi VCO. Nilai asam lemak bebas meningkat dari 0,13% menjadi 0,26%; bilangan peroksida sedikit meningkat dari 1,31 mg eq/kg menjadi 1,40 meq/kg. Nilai asam tiobarbiturat (TBA) meningkat secara logaritmik pada periode penyimpanan hari ketiga dan konstan pada pemaparan hari berikutnya sampai hari kesepuluh dimana TBA naik dari 0,15 mg mol/kg menjadi 0,53 mg mol/kg. Paparan UV 256 nm dapat menyebabkan potensi oksidasi VCO setelah 1128 jam pada kemasan botol bening dan 1740 jam terkemas botol gela

    PENGARUH DOSIS PUPUK KALIUM DAN KOSENTRASI PAKLOBUTRAZOL TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI UBI JALAR (IPOMOEA BATATAS L.)

    Full text link
    Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian dosis kalium dan konsentrasi paklobutrazol terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi hasil ubi jalar. Penelitian ini menggunakan rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 4 x 4 sebanyak 3 ulangan. Faktor pertama yaitu dosis pupuk kalium terdiri dari 4 taraf, yaitu dosis 100 kg KCl ha-1 setara 60 kg K2O ha-1 (K1), 150 kg KCl ha-1 setara 90 kg K2O ha-1 (K2), 250 kg KCl ha-1 setara 150 kg K2O ha-1 (K3), dan 300 kg KCl ha-1 setara 180 kg K2O ha-1. Faktor kedua yaitu konsentrasi paklobutrazol 0 ppm (P0), 50 ppm (P1), 100 ppm (P2), dan 150 ppm (P3). Parameter penelitian berupa tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar tanaman, jumlah umbi, diameter umbi, panjang umbi, bobot segar umbi, bobot segar umbi per tanaman, bobot umbi ekonomis per tanaman, dan indeks panen. Data dianalisis statistik dengan analisis varian (ANOVA) pada taraf 5%, kemudian dilanjut dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kalium berpengaruh nyata terhadap parameter diameter umbi. Paklobutrazol berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan panjang tanaman dan diameter tanaman. Interaksi antara dosis pupuk kalium dan konsentrasi paklobutrazol berpengaruh nyata terhadap bobot segar umbi, bobot segar umbi per tanaman, bobot umbi ekonomis per tanaman, dan indeks panen. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa paklobutrazol efektif menekan pertumbuhan panjang tanaman ubi jalar konsentrasi 50 ppm serta dosis pupuk kalium 150 kg KCl ha-1 dan konsentrasi paklobutrazol 50 ppm efisien untuk meningkatkan produksi ubi jalar

    LIFE CYCLE COSTING EKSTRAKSI MINYAK GAHARU DENGAN METODE MASERASI BERBANTU MICROWAVE DAN ULTRASONIK

    Full text link
    Ekstraksi minyak gaharu merupakan proses penting dalam industri gaharu. Penelitian ini telah mengeksplorasi teknik inovatif seperti maserasi dengan bantuan ultrasonik dan microwave untuk meningkatkan rendemen hasil ekstraksi minyak gaharu. tujuan penelitian ini yaitu mengetahui metode yang dapat meningkatkan rendemen serta menghitung efisiensi waktu dan biaya dengan menghitung biaya siklus hidup (life cycle costing) ekstaksi minyak gaharu. Hasil ekstraksi memperoleh rendemen tertinggi yaitu dengan menggunakan metode kombinasi maserasi berbantu microwave selama 3 menit dan maserasi berbantu ultrasonic selama 60 menit dengan hasil rendemen sebesar 0,148%, kemudian di konversi dalam waktu 24 jam dapat menghasilkan ekstrak minyak gaharu sebanyak 18 gram dengan tambahan biaya sebanyak Rp13.037. Selanjutnya limbah cair yang terbuang dalam proses ekstraksi minyak gaharu yaitu 26 ml. Maserasi pelarut menggunakan microwave menghasilkan rendemen minyak gaharu sebanyak 0,096% dengan tambahan biaya yang lebih murah yaitu sebanyak Rp3.190, dalam waktu ekstraksi 24 jam menghasilkan ekstrak sebanyak 12 gram. Maka dapat disimpulkan metode maserasi berbantu microwave lebih efektif dibandingkan dengan maserasi ultasonik dan maserasi suhu ruang dalam menghasilkan rendemen minyak gaharu dan lebih efisien terhadap waktu dan biaya.Kata Kunci: Gaharu, Life Cycle Costing, Microwave, Ultrasoni

    MODIFIKASI IKLIM MIKRO DENGAN OTOMATISASI SISTEM IRIGASI TETES PADA TANAMAN SELEDRI (Apium Graveolens A)

    Full text link
    Seledri atau Apium graveolens sudah sangat dikenal pemanfaatannya oleh masyarakat luas. Daun tanaman tersebut dikonsumsi sebagai lalapan dan penghias hidangan. Bijinya juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyedap. Selain itu, ekstrak minyak seledri juga dapat digunakan sebagai obat.Penanaman seledri di areal lahan terbuka mengalami beberapa kendala diantaranya seledri merupakan varietas tanaman semusim yang sensitif terhadap kebutuhan air yang memiliki kondisi jenuh air dan kurang air. Pemberian air yang berlebihan atau kekurangan dapat membuat pertumbuhan tanaman seledri tidak optimal. Penerapan mikrokontroler pada sistem irigasi dapat memungkinkan dalam mengontrol pemberian air secara otomatis berdasarkan perintah yang diberikan. Selain masalah pemberian air, Perubahan iklim, suhu ekstrem, atau cuaca tidak stabil juga menjadi kendala tanaman seledri di lahan. Seledri lebih baik tumbuh pada suhu yang lebih sejuk, dan suhu ekstrem dapat mempengaruhi produksi tanaman. Pada lahan terbuka modifikasi iklim mikro dilakukan dengan memberikan mulsa sebagai penutup permukaan lahan sehingga mampu memberikan karakteristik yang berbeda terhadap unsur-unsur iklim mikro, yang meliputi, kelengasan tanah, suhu tanah, serta suhu dan kelembapan udara. Penelitian ini menunjukkan bahwa otomatisasi irigasi tetes dapat berfungsi dengan baik. Alat ini mampu membaca suhu udara (°C), kelembapan udara (%), dan suhu tanah (°C) menggunakan sensor SHT10 dan DS18b20. Data hasil pembacaan sensor dan kondisi servo berhasil disimpan secara real time oleh data logger RTC DS3231 dalam format file .csv. Semua data dan aktivitas alat dapat dimonitor melalui MQTT Dashboard. Kelengasan tanah tertinggi terdapat pada tanah dengan menggunakan mulsa jerami yaitu sebesar 32% pada pukul 18:4:9 sore hari, Suhu tanah tertinggi terjadi pada perlakuan tanpa mulsa pada pukul 12:00 di siang hari sebesar 33.5 oC, diikuti suhu tanah pada perlakuan mulsa plastik sebesar 32 oC dan suhu tanah pada perlakuan dengan mulsa jerami sebesar 29,6 oC. Suhu udara yang diperoleh pada penelitian adalah  25,93 ˚C dengan kelembapan 79,72 %. Dari hasil yang diperoleh di lapangan, seledri bisa tumbuh dengan optimal pada rentang suhu dan kelembapan tersebut

    DESAIN TUNGKU PENGERING MOBILE BERBAHAN BAKAR SERBUK GERGAJI

    Full text link
    This research was motivated by the use of a fixed bed furnace. Fixed bed furnaces are less effective because their use is fixed.  The purpose of this research was to design a mobile drying furnace fueled by sawdust biomass.  This research uses an experimental method with 3 stages of design, namely design approach, functional design and structural design. The data obtained were analyzed descriptively. The result of this research is a mobile drying furnace designed consisting of a fuel feeder, fuel channel, hopper, combustion chamber and heat exchanger chamber, chimney and furnace outlet channel and channel after the fan that can function properly. Furnace testing was carried out using sawdust fuel. The resulting feed speed is 10.3 kg/hour, the capacity of the combustion chamber for sawdust is 3.4 kg, the average temperature in the fuel feeder is 40.41 °C, in the combustion chamber 414.57 °C, in the heat exchanger 79.80 °C, in the chimney 104.11 °C, in the furnace outlet channel 62.77 °C, in the channel after the fan 46.08 °C, the sawdust fuel consumption rate was 5.8 kg/hour and the furnace efficiency obtained in the study was 53.90%. The resulting hot air temperature can be used for drying grain.Key words:  design, efficiency furnace, mobile drying furnace, temperatur

    ANALISIS PERBANDINGAN KONSUMSI ENERGI DAN KEBUTUHAN ENERGI PADA PENYANGRAIAN BIJI KAKAO DENGAN SKALA BERBEDA

    Full text link
    Proses penyangraian biji kakao pada skala laboratorium umumnya menggunakan roaster sederhana dengan bahan bakar LPG dan proses pembalikan biji secara manual. Hal ini menyebabkan kualitas pada biji hasil penyangraian tidak seragam pada tiap batch produksi. Berbeda dengan skala ganda, mesin penyangraian biji kakao sudah menggunakan bahan bakar listrik dan teknologi yang lebih canggih, sehingga dapat lebih mudah menjaga kualitas produk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan energi dari perbedaan kedua kondisi penyangraian tersebut untuk mengoptimalkan proses produksi cokelat dengan skala yang sesuai. Metode penelitian yang dilakukan adalah melakukan dan mengamati proses penyangraian selama 60 menit. Parameter yang diamati meliputi kadar air, massa biji, dan suhu proses pada kedua skala. Selain itu diamati pula massa LPG yang terpakai untuk skala laboratorium dan daya listrik yang terpakai pada skala pilot. Hasil perhitungan konsumsi energi pada skala laboratorium adalah 5.277,295 kJ/kg dengan total biaya sebesar Rp. 8.437,5/kg. Sedangkan proses penyangraian skala pilot menggunakan listrik memerlukan energi sebesar 1.260 kJ/kg. Biaya listrik yang dikeluarkan jika menggunakan biaya dasar listrik tegangan rendah sebesar Rp1.699,53 per kWh, sehingga biaya listrik yang dikeluarkan kurang lebih sebesar Rp2.141,41/kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mesin sangrai dalam skala pilot lebih murah bila dilakukan produksi massal

    Analisis Perbandingan Indeks Kekeringan Meteorologis di DAS Sangatta, Kabupaten Kutai Timur

    Full text link
    Kesiapan dan perencanaan penanggulangan bencana kekeringan dapat dilakukan dengan memantau kekeringan menggunakan indeks kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi indeks kekeringan Standardized Precipitation Index (SPI), China Z Index (CZI), Modified China Z Index (MCZI), Z Score Index (ZSI) dengan membandingkan dengan indeks kekeringan Effective Drought Index (EDI). Indeks kekeringan dihitung menggunakan data curah hujan bulanan meliputi 4 stasiun hujan yang berada di wilayah DAS Sangatta periode 2012 - 2022. Pengujian konsistensi data curah hujan menggunakan metode kurva massa ganda, sedangkan pengujian homogenitas data menggunakan uji Buishand. Indeks kekeringan SPI, CZI, MCZI, dan ZSI dihitung pada skala 1, 3, 6 dan 12 bulan, sedangkan indeks EDI dihitung pada skala bulanan. Evaluasi indeks kekeringan dilakukan dengan membandingkan nilai indeks kekeringan dan kategori kekeringan dengan nilai indeks dan kategori kekeringan EDI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks SPI mempunyai korelasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan indeks lainya dengan nilai rata-rata 0,79, dan nilai tertinggi pada SPI-6 sebesar 0.94. Semua indeks kekeringan pada skala waktu 1 bulan diperoleh nilai NSE < 0,50 yang masuk ke dalam kategori tidak layak. Indeks kekeringan SPI-6 mempunyai nilai kesesuaian kategori kekeringan tertinggi dengan indeks EDI yaitu 74,6%. Indeks kekekeringan SPI-6 disarankan digunakan untuk pemantauan kekeringan di DAS Sangatta karena memberikan akurasi status kekeringan yang paling akurat

    EFEK SIKLUS FOTOPERIODE TERHADAP PERTUMBUHAN DAN BERAT BASAH SELADA ROMAINE (Lactuca Sativa Var. Longifolia) PADA SISTEM PFAL (PLANT FACTORY WITH ARTIFICIAL LIGHTS)

    Full text link
    Plant factory with Artificial Lights (PFAL) merupakan tipe plant factory yang menggunakan LED (Light Emitting Diodes) sebagai sumber utama cahaya untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Beberapa penelitian terdahulu umumnya hanya terfokus pada analisis pengaruh perbedaan intensitas cahaya atau lama penyinaran LED terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman pada plant factory. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh siklus fotoperiode terhadap pertumbuhan selada romaine yang ditanam pada sistem PFAL. Siklus fotoperiode yang diberikan pada penelitian ini perlakuan 1 (1 siklus, 14 jam terang/10 jam gelap), perlakuan 2 (2 siklus, 7 jam terang/5 jam gelap x 2) dan perlakuan 3 (4 siklus, 3,5 jam terang/2,5 jam gelap x 4). Siklus fotoperiode mempengaruhi pertumbuhan dan berat basah selada romaine, dimana perlakuan 1 dengan siklus fotoperiode yang lebih panjang memberikan hasil terbaik dengan rata-rata tinggi, panjang daun, lebar daun, jumlah daun dan berat basah masing-masing yaitu 21,46 cm, 17,69 cm, 9,72 cm, 12,73 helai dan 52,49 gram. Perlakuan 1 juga memberikan hasil rasio berat basah terhadap konsumsi energi listrik yang paling tinggi yaitu sebesar 28,05 gr/kWh sehingga perlakuan 1 lebih efisien dalam menghasilkan berat basah selada romaine per jumlah energi listrik yang digunakan dibandingkan dengan perlakuan 2 dan

    KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA TEMPE SAGA (Adenanthera pavonine L) DENGAN BEBERAPA METODE PERLAKUAN PENDAHULUAN

    Full text link
    Saga (Adenanthera pavonine L) merupakan salah satu tanaman yang mudah dibudidayakan di daerah tropis dan memiliki kandungan gizi yang tinggi terutama protein sebesar 48,2%. Namun pemanfaatannya dalam pengolahan makanan masih jarang karena adanya senyawa anti nutrisi seperti aroma langu yang tidak disukai konsumen. Pembuatan biji saga menjadi tempe diharapkan dapat meningkatkan daya terima saga. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji pengaruh metode perlakuan pendahuluan yang berbeda terhadap karakteristik fisikokimia tempe saga dan menentukan perlakuan terbaik dengan menggunakan metode MADM-SAW. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode perlakuan pendahuluan yang berbeda. Perlakuan pendahuluan yang digunakan (A) blanching, (B) roasting, (C) perendaman dalam larutan NaHCO3, (D) pemanasan dengan oven dan (E) tanpa perlakuan pendahuluan dengan bahan baku kedelai sebagai kontrol.  Tempe yang telah dibuat dilakukan analisis meliputi kadar air, abu, lemak, protein, serat kasar, flavonoid, koliform, warna dan tekstur. Hasil penelitian dari beberapa metode perlakuan pendahuluan, perlakuan terbaik dengan menggunakan uji statistik MADM-SAW diperoleh perlakuan perendaman dalam larutan NaHCO3 dilihat dari nilai kandungan protein tempe saga sebesar 26,14%, air 62,47%, abu 1,16%, lemak 9,01%, serat kasar 2,56%, flavonoid 23,83 mgEQ/g dan koliform 4,53 APM/g dan sudah memenuhi standart SNI 3144-2015

    260

    full texts

    271

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Pertanian Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇