Jurnal Cakrawala Kependidikan
Not a member yet
70 research outputs found
Sort by
MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI VERBAL DAN NONVERBAL BERDASARKAN NILAI NORMA SOSIAL MELALUI PEER INTERACTION
Krisis pada aspek sosial cukup memprihatinkan. Rendahnya nilai-nilai sosial seperti kurangnya loyalitas/ pengabdian, kurang disiplin, kurang empati terhadap masalah sosial, kurang efektif berkomunikasi adalah sebagian besar penyebabnya. Hal itu menunjukkan adanya permasalahan pribadi dan sosial di kalangan masyarakat baik yang berpendidikan tinggi maupun rendah. Sikap-sikap individualistis, egoistis, acuh tak acuh, kurangnya rasa tanggung jawab, malas berkomunikasi dan berinteraksi atau rendahnya empati merupakan fenomena yang menunjukkan adanya kehampaan nilai sosial dan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Sesungguhnya dalam menghadapi kondisi yang demikian, pendidikan dapat memberikan kontribusi yang cukup besar. Pendidikan dapat memberikan kontribuasi dalam mengatasi masalah komunikasi dan masalah sosial. Strategi Peer interaction di kelas memiliki kelebihan dibandingkan dengan strategi pembelajaran biasa yaitu penguasaan: keterampilan sosial dan komunikasi.Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif, nilai sosial, norma socia
Internet Dalalm Proses Mengajar dan Belajar
Information and Communication Technology (ICT) sebagai suatu teknologi baru telah merambah jauh ke hampir setiap aspek kehidupan manusia di muka bumi ini. Ke dalam dunia pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, ICT telah membawa perubahan yang luar biasa yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Salah satu perubahan yang terjadi adalah kecanggihan teknologi internet yang dimanfaatkan dalam proses pembelajaran di mana seorang pelajar bisa dengan mudahnya mendapatkan materi apa saja yang dia ingin pelajari hanya dalam hitungan detik. Demikian pula sebaliknya seorang pengajar bisa memperoleh bahan ajar yang telah didesain jauh lebih menarik serta up-to date yang dia perlukan kemudian bahkan bisa langsung dia sajikan dalam hitungan detik, tanpa harus datang ke ruang kelas konvensional dan tradisional seperti yang masih banyak kita lakukan sekarang ini. Oleh karena itu, pemahaman akan cara dan pemanfaatan internet ini perlu kita kembangkan untuk diaplikasikan dalam dunia pendidikan. Kata Kunci: ICT, internet, pendidikan, belajar mengaja
GRAFIK FUNGSI DI RUANG 2 DAN 3 DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM MAPLE
Maple merupakan program komputer paket yang amat bermanfaat sebagai alat bantu dalam menyelesaikan masalah-masalah masalah matematika, seperti menggambar Grafik Fungsi, Kalkulus, dan Aljabar Linear. Program ini dikembangkan oleh Symbolic Computation Group, Waterloo University, Canada. Kata Kunci: Grafik, Maple, plo
Peran Pembelajaran Diskursus Multi Representasi Terhadap Pengembangan Kemampuan Matematika dan Daya Representasi pada Siswa SLTP
Masalah utama penelitian adalah lemahnya daya representasi siswa dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Penelitian ini melibatkan tiga kelompok dan berbentuk eksperimen dengan disain tes awal tes akhir menggunakan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen-1 diberi perlakuan pembelajaran Diskursus Multi Representasi (DMR), kelompok eksperimen-2 diberi pembelajaran Klasikal Multi Representasi (KMR) dan kelompok kontrol diberi pembelajaran Konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan DMR lebih efektif terhadap hasil belajar kemampuan matematika dan daya representasi siswa daripada pembelajaran dengan KMR, dan pembelajaran KMR lebih efektif daripada pembelajaran Konvensional. Temuan lainnya, siswa yang belajar dengan DMR dan KMR lebih menyukai soal masalah sehari-hari dan memiliki beberapa cara penyelesaian atau beberapa jawaban benar, dan lebih terampil menggunakan berbagai bentuk representasi dalam menyelesaikan soal matematika daripada siswa yang belajar dengan Konvensional. Kata Kunci: Multi representasi, Diskursus, Daya matematik
PENINGKATAN KUALITAS HASIL DAN PROSES PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN ARIAS (ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESMENT, DAN SATISFACTION) PADA MAHASISWA S-1 PGSD FKIP UNTAN PONTIANAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hasil dan proses pembelajaran mahasiswa tentang materi Bilangan dan Lambang Bilangan melalui penerapan Model Pembelajaran ARIAS Penelitian ini berbentuk penelitian tindakan dengan subyek penelitiannya mahasiswa semester tiga S-1 PGSD FKIP Untan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar maupun kuliatas proses pembelajarannya, dan tanggapan/respon mahasiswa melalui angket meunjukkan bahwa model pemebelajaran ARIAS, dapat menanamkan percaya diri, membangkitkan semangat/ minat dalam belajar, menumbuhkan rasa dihargai/bangga untuk menyajikan atau mempresen-tasikan materi dalam rangka untuk menguasai konsep-konsep pada materi yang dipelajari.Kata Kunci: Kualitas hasil, Kualitas proses, Pembelajaran ARIA
PENELUSURAN BUDAYA DAN TEKNOLOGI LOKAL DALAM RANGKA REKONSTRUKSI DAN PENGEMBANGAN SAINS DI SEKOLAH DASAR (Kajian Etnosains dan Etnoteknologi terhadap Masyarakat Tradisonal Lingkungan Pertanian Suku Melayu dan Dayak di Kabupaten Pontianak)
Pendidikan sains dapat dikembangkan dengan bertumpu pada keunikan dan keunggulan suatu daerah, termasuk budaya dan teknologi lokal (tradisional). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan budaya dan teknologi lokal masyarakat tradisional lingkungan pertanian suku Melayu dan Dayak di Kabupaten Pontianak. Budaya tersebut masih diyakini dan digunakan dalam mempertahankan hidup, serta mengintegrasikan budaya dan teknologi lokal tersebut dalam pengembangan silabus berbasis budaya lokal. Pendekatan kualitatif melalui studi etnografi (kajian etnosains dan etnoteknologi) dengan penekanan pada kajian-kajian kritis dan interpretasi, dilakukan dalam menelusuri budaya dan teknologi lokal masyarakat tradisional lingkungan pertanian suku Melayu dan Dayak dengan teknik observasi dan wawancara secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam budaya dan teknologi lokal masyarakat tradisional lingkungan pertanian suku Melayu dan Dayak teridentifikasi konsep sains sekolah dasar dengan draft pengembangan silabus berbasis budaya lokal yang sesuai dengan budaya setempat.Kata kunci: budaya, teknologi lokal, suku Melayu, suku Dayak, rekonstruks
METODE BERMAIN PERAN DALAM MENGOPTIMALKAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK USIA DINI (4-5 TAHUN)
Penggunaan metode bermain peran pada anak usia dini diperlukan untuk membelajarkan anak berbicara secara benar, baik dari aspek kebahasaan, aspek nonkebahasaan maupun aspek isi dalam menyampaikan ide. Oleh karena itu karena proses pembelajaran tidak hanya bersifat transfer pembicaraan dari guru ke anak, tidak hanya guru yang banyak berbicara menjelaskan sesuatu kepada anak, tidak hanya guru yang banyak melakukan sesuatu, akan tetapi pembelajaran dirancang dan didesain lebih konstruktif, berpusat pada anak (student centered), anak lebih banyak berbuat dan melakukan, dengan banyak terlibatnya anak melakukan aktivitas khususnya dalam bermain peran, maka secara tidak langsung memotivasi anak untuk berbicara, sehingga pembelajaran lebih bermakna (meaningfull), pembelajaran berkesan sampai anak dewasa. Kata Kunci: metode bermain peran, kemampuan berbicar
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN PEMECAHAN MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI PERNALARAN SISWA SEKOLAH DASAR
Guru kurang memperhatikan pengembangan penalaran dan kemampuan berpikir siswa dalam kegiatan pembelajaran dan kegiatan evaluasi pada pelajaran IPA. Pembelajaran dengan model yang dirancang ini memperhatikan konsep awal siswa, menekankan kemampuan minds-on dan hands-on, dan adanya kegiatan bersama. Hasil implementasi menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model yang dirancang dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa tentang konsep IPA yang dipelajari demikian juga dapat meningkatkan penalaran siswa/ kemampuan berpikir siswa. Selain itu tanggapan siswa terhadap pembelajaran ini sangat positif karena selain menarik dan menyenangkan juga dapat membantu siswa dalam proses belajar IPA. Selain itu yang lebih penting adalah terjadinya peningkatan kemampuan guru dalam mengajar IPA.Kata Kunci: Pembelajaran, kompetensi, pernalara
PENERAPAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL DI INDONESIA
Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) adala sebuah jenjang sekolah nasional di Indonesia yang telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) dengan standar mutu internasional. SBI didirikan pemerintah berdasarkan UU Sisdiknas yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing bangsa. Pembelajaran SBI menggunakan bahasa Inggris pada mata pelajaran sains, namun pada pelaksanaannya masih ada kendala dalam penggunaan bahasa, baik guru maupun siswanya. SBI seharusnya tidak hanya menekankan pada bahasanya, tetapi isi mata pelajaran setara dengan di luar negeri sehingga lulusannya bisa diterima di luar negeri. Satu hal yang perlu diperhatikan SBI adalah pembelajaran tidak meninggalkan budaya lokal sebagai eksistensi bangsa Indonesia.Kata Kunci: Sekolah Bertaraf Internasiona
PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Masyarakat atau orang tua berharap sekolah-sekolah tidak hanya dapat membuat anak-anak menjadi pintar tetapi juga untuk membuat mereka menjadi baik, yang kelak akan menjadikan mereka warganegara dan pemimpinnya yang baik.. Karakter yang baik terdiri dari mengetahui kebaikan (loving ordesiring the good), dan melakukan kebaikan (acting the good). kecerdasan otak plus karakter itulah tujuan hakiki dari pendidikan sebenarnya. Pendidikan karakter dapat memberikan harapan tersebut. Dalam pembelajaran anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami' apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Kata Kunci: pendidikan. karakter, pembelajaran kontekstua