JURNAL AGRICA
Not a member yet
    256 research outputs found

    Analisis Pola Perdagangan dan Daya Saing Minyak Kelapa Sawit (CPO) Indonesia

    Full text link
    Indonesia is an agrarian country whose economy is supported by the agricultural sector with plantations as the dominant sub-sector and makes the CPO has an imporkan role in Indonesia's export structure. The accumulated export value of Indonesian palm oil during 2001-2021 was USD 253.42 million, far greater than the accumulated value of imports of USD 208,133. Indonesian CPO is the largest foreign exchange earner from the export value of the processing industry, but on the other hand Indonesia also has considerable trade interactions with India and China in particular. So an analysis of trade patterns and the competitiveness of Indonesian palm oil commodities with trading partners is important to understand Indonesia's competitiveness in the trade of palm oil commodities and their derivatives against 10 of Indonesia's main trading partner countries for 21 years, namely 2001-2021. Analysis IIT is used as an indicator to analyze trade patterns of commodity palm oil HS code 1511 and its derivatives HS code 151190. RSCA and TII is used as a measure of the competitiveness of Indonesia's palm oil exports. The results showed that the pattern of trade in Indonesian palm oil was not integrated in 9 trading partner countries, meaning that there was no two-way trade between Indonesia and trading partner countries because Indonesia only exports and does not import palm oil and its derivatives. Indonesia is proven to have a comparative advantage in world palm oil exports with the intensity index of Indonesia's bilateral trade with 9 countries being greater than expected.Ekspor minyak kelapa sawit merupakan salah satu komoditas utama dalam struktur ekspor Indonesia. Produksi minyak sawit Indonesia meningkat pesat dari 721.127 ton pada tahun 1996 menjadi 49.710.345 ton pada tahun 2021. Ekspor minyak sawit juga meningkat dari USD 825.415 pada tahun 1996 menjadi USD 26.665.128 pada tahun 2021. Penelitian ini menganlisis pola perdagangan minyak kelapa sawit Indonesia dan daya saing ekspor minyak kelapa sawit Indonesia di dunia. Intra Industri Trade Index (IIT) digunakan sebagai indikator untuk menganlisis pola perdagangan minyak kelapa sawit Indonesia terhadap 10 negara utama mitra dagang Indonesia, khususnya komoditi HS 1511 dan turunannya kode HS 151110. Daya saing minyak kelapa sawit Indonesia dianalisis dengan Reveal Symmetric Comparative Advantage (RSCA) dan Trade Intensity Index (TII). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola perdagangan minyak kelapa sawit Indonesia tidak terintegrasi di antara 10 mitra dagang Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia hanya mengekspor dan tidak mengimpor komoditi HS 1511 dan 151110 dari 10 negara tersebut. Indonesia memiliki keunggulan komperatif dalam ekspor minyak kelapa sawit dunia. Mengingat pentingnya Indonesia dalam perdagangan dunia, indeks intensitas perdagangan menunjukkan bahwa arus perdagangan bilateral Indonesia ke 10 negara lebih besar dari yang diharapkan

    Analisis Pendapatan Petani serta Faktor yang Mempengaruhi Produksi Padi Sawah di Kecamatan Baktiya Kabupaten Aceh Utara

    Full text link
    Aceh Utara is the largest rice producing district in Aceh Province in the last five years with a total production of 393,477 thousand tons in 2020. The high production of lowland rice in Aceh Utara District cannot be separated from the high production of lowland rice in Baktiya Sub-District with total production reaching 50,347 thousand tons with an average productivity of 5.4 tons/ha in 2020. The purpose of this study is to analyze the income of lowland rice farming, as well as to see what factors affect the production of lowland rice farming in Baktiya Sub-District in the Aceh Utara District. The method of determining the sample using random sampling method with the number of respondents as many as 140 rice farmers, while the data analysis method uses the Cobb-Douglas function analysis approach. The results of this study found that the net income received by rice farmers in Baktiya Sub-District, Aceh Utara District within one year was Rp.39,526,000/Ha/year. The description of the model to see the factors that affect the production of lowland rice in the Baktiya Sub-District, it is found that all independent variables have a positive effect on the factors that affect the production of lowland rice farming. In the partial test, the variables of land area and fertilizer have a significant effect on the factors that affect the production of lowland rice in the Baktiya Sub-District.Aceh Utara adalah kabupaten penghasil produksi padi terbesar di provinsi Aceh dalam waktu lima tahun terakhir dengan total produksi mencapai 393.477 ribu ton di tahun 2020.  Tingginya produksi padi sawah di kabupaten Aceh Utara tidak lepas dari tingginya hasil produksi padi sawah di kecamatan Baktiya dengan total produksi mencapai 50,347 ton dengan produktivitas rata-rata mencapai 5,4 ton/ha di tahun 2020. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis pendapatan usaha tani padi sawah, serta melihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi usahatani padi sawah di kecamatan Baktiya di kabupaten Aceh Utara. Pendapatan bersih yang diterima oleh petani padi sawah di kecamatan Baktiya kabupaten Aceh Utara dalam satu kali musim panen sebesar Rp. 19.869.667. Dikecamatan Baktiya dalam satu tahun ada dua kali musim panen padi sawah, maka akumulasi keuntungan diperoleh petani padi sawah dalam masa kurun waktu satu tahun sebesar Rp. 39.739.334. Deskripsi model untuk melihat faktor yang mempengaruhi produksi padi sawah di kecamatan Baktiya, didapatkan semua variabel independen berpengaruh positif terhadap faktor yang mempengaruhi produksi usaha tani padi sawah. Pada uji parsial variabel luas lahan dan pupuk berpengaruh signifikan terhadap faktor yang mempengaruhi produksi padi sawah di kecamatan Baktiya

    ANALISIS RISIKO PANEN TANDAN BUAH SEGAR KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN METODE Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) DI AFDELING OA (ALPA) PADA PT. KARYA TANAH SUBUR

    Full text link
    One of the factors that affect productivity in oil palm plantations is the harvest factor. Harvest management needs to be considered to reduce yield loss. Risks occur in oil palm harvesting, especially in harvesting activities that are not in accordance with standard operating procedures. Harvesting problems that are not in accordance with Standard Operating Procedures (SOP) result in reduced Fresh Fruit Bunches (FFB) production such as unripe fruit, rotten fruit, loose fruit, leftover and long stalks. This study aims to determine the risks of harvesting fresh fruit bunches of oil palm at PT. Karya Tanah Subur. The data used in this study are primary data and secondary data. The data analysis method used is the Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) method to identify the type of risk and look for the resulting effects. The results of this study indicate that there are three priority risk components to be resolved immediately for Afdeling Alpa (OA) PT. Karya Tanah Subur.  The first priority is for the risk of harvesting unripe fruit with a critical risk level with RPN of 324, the second priority is for harvesting rotten fruit with a critical risk level with RPN of 280 and the third priority is for harvesting with long stalks with a critical risk with RPN of 245. These risks can be handled by the company according to priority.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko panen tandan buah segar kelapa sawit pada PT Karya Tanah Subur. Beberapa hal yang terkait dari masalah pemanenan yang tidak sesuai standar SOP (Standar Operasional Prosedur) sehingga mengakibatkan pengurangan hasil produksi TBS (Tandan Buah Segar) seperti pada buah mentah, buah busuk, brondolan, restan dan tangkai panjang. Metode penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Metode analisis data menggunakan analisis kualitatif yaitu mengamati secara langsung risiko-risiko apa saja yang sering terjadi pada saat panen kelapa sawit dan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) untuk mengidentifikasi jenis risiko serta mencari efek yang ditimbulkan dari jenis risiko panen kelapa sawit. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga komponen risiko yang dijadikan prioritas pada Afdeling Alpa (OA) PT. Karya Tanah Subur yaitu pada buah mentah dengan tingkat risiko kritis dengan RPN 324, pada buah busuk dengan tingkat risiko kritis dengan RPN 280 serta pada tangkai panjang dengan tingkat tinggi dengan RPN 245

    Analisis Kecukupan Beras di Kabupaten Asahan

    Full text link
    The standard area of paddy fields in Asahan Regency experiences degradation almost every year. Asahan District Government has made efforts to prevent the continuation of this problem. The aim of this study is to analyze the condition of rice sufficiency and the projection of rice sufficiency in Asahan District. This research is descriptive  used time series data for  years 2012-2021. The analytical method used is the calculation of rice availability based on the regulations of the minister of agriculture and projection analysis using Brown's Double Exponential Smoothing. The results showed that the availability of rice  tends to decrease throughout 2012-2021 and the need for rice  tends to increasing causes a deficit of sufficient rice every year in Asahan Regency. The projection of rice sufficiency in Asahan Regency until December 2024 show a deficit value meanwhile averages rice deficit every month reaches 3,129.27 tons/month.Kondisi ketahanan pangan di Indonesia secara nasional yang dianggap masih belum stabil dan masih fokus hanya kepada peningkatan produksi beras saja, maka penelitian ini dianggap penting dilakukan untuk mengukur kecukupan beras di Kabupaten Asahan. Luas baku sawah di Kabupaten Asahan mengalami degradasi hampir setiap tahun.  Pemerintah Kabupaten Asahan telah melakukan upaya pencegahan berlanjutnya masalah ini dengan menerbitkan Peraturan Daerah Kabupaten Asahan. Penelitian ini bertujuan untuk meliaht angka kecukupan dan proyeksi ketersediaan beras di Kabupaten Asahan. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis ketersediaan beras dihitung berdasarkan persamaan yang terdapat pada lampiran Peraturah Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 43/Permentan/OT.140/&/2010 dan Metode Pemulusan Eksponensial Ganda dari Brown. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Asahan mengalami defisit beras dalam kurun waktu tahun 2012-2021 rata-rata sebesar 27.416,21 ton per tahun. Ketersediaan beras yang cenderung menurun serta kebutuhan beras yang cenderung meningkat menyebabkan terjadinya defisit kecukupan beras setiap tahun di Kabupaten Asahan. Dan Proyeksi kecukupan beras di Kabupaten Asahan hingga Desember 2024 akan menunjukkan nilai yang defisit. Rata-rata defisit beras setiap bulan mencapai 3.129, 27 ton/bulan

    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR SAYUR KUBIS DI PROVINSI SUMATERA UTARA

    Full text link
    Kebutuhan dan permintaan suatu komoditas pertanian di satu negara tidak dapat dipenuhi secara mandiri. Oleh karena itu, dilakukan perdagangan internasional yang meliputi ekspor dan impor. Kubis (Brassica olareceae) adalah salah satu sayuran semusim. Ekspor kubis pada tahun 2016 menjadi penyumbang devisa terbesar dari sayuran semusim selain wortel, bawang merah, dan jamur. Taiwan adalah salah satu tujuan utama ekspor kubis namun mengalami fluktuatif. Fluktuasi ekspor kubis dari tahun ke tahun akan berdampak pada penurunan ekonomi daerah dan negara. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami dan mendapatkan informasi mengenai pengaruh Gross Domestik Produk (GDP) riil negara Taiwan, nilai tukar, volume ekspor, dan harga ekspor terhadap nilai ekspor kubis di Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan menggunakan data panel dari tahun 2016 sampai tahun 2020. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial berdasarkan Uji T diketahui bahwa variabel GDP riil negara Taiwan, nilai tukar, volume ekspor, harga ekspor berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai ekspor. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa fluktuasi dari GDP perkapita riil negara Taiwan, nilai tukar, volume dan harga ekspor juga berpengaruh terhadap naik turunnya nilai ekspor kubis di Provinsi Sumatera Utara.Fluktuasi Ekspor Kubis (Brassica olareceae) dari tahun ketahun akan berdampak pada penurunan ekonomi daerah dan negara. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami dan mendapatkan informasi mengenai pengaruh Gross Domestik Produk perkapita Rill Negara Taiwan, nilai tukar, volume dan harga ekspor terhadap nilai ekspor kubis di Provinsi Sumatera Utara. Jenis Penelitian adalah analisis kuantitatif dengan menggunakan data time series dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2020. Teknik data yang digunkan adalah Analisa regresi berganda. Dan data diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara dan Sistem Informasi Karantina Pertanian (Iqfast). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gross Domestik Produk perkapita Rill Negara Taiwan, nilai tukar, volume dan harga ekspor berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai ekspor kubis di Provinsi Sumatera UtaraKata kunci : Ekspor, GDP Riil Taiwan, Nilai Tukar, Volume dan Harg

    RISET PASAR PUPUK KASGOT

    Full text link
    Pupuk Kasgot merupakan pupuk organik berasal dari budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) yang perlu dikembangkan dan dipasarkan kepada petani. Tahap awal pengembangan pasar pupuk Kasgot melalui riset pasar sebagaimana dalam tujuan penelitian, yakni menentukan target pasar, mengetahui sikap petani dan informasi pasar, serta potensi pasar pupuk Kasgot. Metode analisis deskriptif digunakan dengan pengumpulan data menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi dan wawancara. Data riset pasar dikumpulkan melalui kuesioner, dengan uji validitas dan uji realibilitas. Data dianalisis menggunakan lembar kerja sebagai alat untuk merepresentasikan apa yang ingin diketahui dan diteliti. Hasil analisis lembar kerja dapat disimpulkan bahwa target pasar pupuk Kasgot yakni petani usia produktif, luas lahan kurang dari 5.000 meter persegi, status lahan milik sendiri, jenis lahan merupakan lahan basah dengan komoditas yang ditanam yakni padi dan hortikultura. Dalam aspek sikap, pemahaman petani terhadap pupuk Kasgot tergolong rendah, namun setelah adanya sosialisasi, aspek perasaan dan kecenderungan bertindak petani untuk mencoba sangat besar. Pupuk Kasgot juga memiliki potensi pasar untuk dapat bersaing dengan pupuk organik lainnya. Salah satu strategi pemasarannya berupa sosialisasi dan pengenalan kepada petani melalui pertemuan kelompok tani dan dipraktekan pada lahan percontohan (demplot).Pupuk Kasgot merupakan pupuk organik yang perlu dikembangkan dan dipasarkan kepada petani sebagai pupuk yang tepat dalam budidaya tanaman. Tahap awal pengembangan pasar pupuk ini melalui riset pasar sebagaimana dalam tujuan penelitian, yakni mendapatkan hasil analisis dan interpretasi data guna mentukan target pasar, mengetahui sikap dan informasi pasar, serta potensi pasar pupuk organik Kasgot. Metode analisis deskriptif digunakan dalam penelitian ini, dengan pengumpulan data menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi dan wawancara. Data riset pasar dikumpulkan dengan menyebar kuesioner, dengan uji validitas melihat koefisien korelasi Pearson dan uji realibilitas menggunakan metode Cronbach Alpha.  Selanjutnya data yang terkumpul dianalisis menggunakan beberapa lembar kerja penilaian sebagai alat untuk merepresentasikan apa yang ingin diketahui dan diteliti. Dari hasil analisis lembar kerja dapat disimpulkan bahwa target pasar pupuk Kasgot yakni petani yang memiliki usia produktif, memiliki luas lahan kurang dari 5.000 meter persegi, status kepemilikan lahan berupa lahan sendiri maupun lahan sewa, jenis lahan yang diusahakan sebagian besar merupakan lahan basah dengan komoditas yang ditanam yakni padi, bawang merah dan jagung.  Dalam aspek sikap petani, pemahaman petani terhadap pupuk jenis organik tergolong sangat rendah, namun setelah adanya sosialisasi, aspek perasaan petani dan kecenderungan petani untuk mencoba sangat besar. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan juga dapat disimpulkan bahwa pupuk organik Kasgot memiliki peluang dan potensi pasar untuk dapat bersaing dengan pupuk-pupuk kompetitor yang sudah ada di pasaran. Dimana salah satu strategi pemasarannya berupa sosialisasi dan pengenalan kepada petani, misalkan dengan proses pendampingan petani dalam penggunaan pupuk Kasgot melalui pertemuan kelompok tani dan dapat dipraktekan menggunakan lahan percontohan

    Tingkat Keberhasilan Program Sustainable Farming in Tropical Asian Landscape (S-FITAL) Kakao Di Kecamatan Sabbang, Luwu Utara

    Full text link
    The North Luwu Regency is a significant cocoa-producing region in South Sulawesi, and the government recognizes cocoa as one of the country's leading commodities. Various programs have been implemented by the government, private sector, and communities to enhance cocoa quality and productivity. The Sustainable Farming in Tropical Asian Landscapes (S-Fital) program is one such initiative aimed at advancing cocoa plantations and promoting sustainable agricultural land management to improve global market competitiveness. The research examines individual farmer characteristics, program assistant roles, communication processes, and the S-FITAL program's success rate. The study used purposive sampling from November to December 2022, analyzing data through descriptive and correlational analyses via the Spearman rank test. The results indicate a positive correlation between individual characteristics, program assistant roles, communication processes, and program success. Farmers benefit from this research through improved companionship and communication processes.Kabupaten Luwu Utara salah satu daerah di Sulawesi Selatan penghasil kakao. Secara nasional pemerintah memasukkan kakao sebagai salah satu komoditas unggulan.  Berbagai program baik dinisiasi oleh pemerintah maupun kerjasama pemerintah, swasta dan komunitas masyarakat sebagai upaya meningkatkan kualitas dan produktifitas kakao salah satunya yakni program Sustainable Farming in Tropical Asian Landscapes (S-Fital). Tujuan program S-FITAL untuk menjadikan perkebunan kakao yang maju dan mendorong petani-petani mampu mengelolah lahan pertanian secara berkelanjutan sehingga mampu bersaing di pasar global. Penelitian bertujuan menghasilkan: (1) Deskripsi karakteristrik individu petani, peran pendamping program, proses komunikasi dan tingkat keberhasilan program S-FITAL. (2) Analisis hubungan karaktersistik individu petani, peran pendamping program dan proses komunikasi terhadap tingkat keberhasilan program S-FITAL. Penelitian dilakukan di Kecamatan Sabbang menggunakan metode survei. Lokasi dipilih secara purposive (sengaja) didasarkan atas pertimbangan daerah sentra pertanian kakao pelaksana program S-FITAL Tahun 2021. Penelitian dilaksanakan bulan November sampai Desember 2022. Teknik penarikan sampel menggunakan teknik sensus yaitu menggunakan semua populasi berjumlah 21 menjadi sampel penelitian. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis korelasional melalui uji rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan hasil uji korelasi menggunakan rank spearman terdapat hubungan nyata peubah karakteristik individu, peran pendamping program dan proses komunikasi terhadap tingkat keberhasilan program. Hal ini bermakna tingkat keberhasilan program di level petani penerima program S-Fital ditentukan oleh karakteristik individu responden, peran pendamping program dan proses komunikasi pendamping dengan petani responden

    Ketersediaan Modal Dan Pengaruhnya Terhadap Pendapatan Usahatani Padi Sawah di Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango

    Full text link
    Capital has an important role in farming,  because  making production more efficient and increasing income effectiveness. This research aims to determine the source and availability of  capital as well as the effect of the source of capital on the income of rice field farming in the Tilongkabila Subdistrict, Bone Bolango Regency. Samples are determined using the Nomogram Harry King for as many as 120 respondents, using the non-probability sampling method by accidental sampling. Research data types and sources are primary and secondary. The method of  analyzed descriptive and multiple linear regression analysis. Research results show that, 93% of the availability of rice field farming capital in the Tilongkabila Subdistrict, Bone Bolango Regency, can be fulfilled Furthermore, the research also indicates that the source of personal capital had no positive effect on rice field farming income. It is similar to the source of loan capital having no positive impact on rice field farming income. The R square results, the variables owncapital and loan capital have a proportion of influence on rice farming income in Tilongkabila District of 6,9%, while the remaining 93,1% is influenced by other variables that are not in the multiple linear  regression model.Modal yang besar dapat membuat pendapatan petani padi sawah meningkat, karena bisa menghasilkan produksi yang lebih efisien dan peningkatan pendapatan yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumber modal dan ketersediaan modal juga pengaruh sumber modal terhadap pendapatan usahatani padi sawah yang ada di Kecamtan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango. Pengambilan sampel menggunakan Nomogram Harry King sehingga menghasilkan jumlah sampel sebanyak 120 responden dari jumlah populasi 629 orang, dengan menggunakan metode non probability sampling secara  accidental sampling. Jenis dan sumber data menggunakan data primer dan sekunder. Metode analisis yang digunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersedian modal usahatani padi sawah adalah sebesar 93%. Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa sumber modal pribadi tidak berpengaruh positif terhadap pendapatan usahatani padi sawah. Sama halnya dengan sumber modal pinjaman yang tidak berdampak positif terhadap pendapatan usahatani sawah. Hasil R square berpengaruh terhadap pendapatan usahatani padi sawah di Kecamatan Tilongkabila sebesar 4,1%. Sebagai perbandingan, 95,9% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model regresi linier berganda

    Integrated Reporting Sebagai Upaya Mendorong Industri Kelapa Sawit yang Berkelanjutan

    Full text link
    According to Law No. 40 of 2007, companies in Indonesia must only make annual reports containing directors' reports, management reports, analysis and discussion reports, or operational and financial performance reports. However, this information is still insufficient to meet report users’ needs in making a decision. In 2011, the International Integrated Reporting Council (IIRC) issued an Integrated Reporting reporting system that provides complete information on company activities, including activities related to social, environmental, and financial aspects. Through this reporting system, companies can provide complete and reliable information to all stakeholders, including investors, and restore investor confidence. In Indonesia, this reporting system is still voluntary and has not become an obligation. This reporting system will be very relevant to plantation companies, especially oil palm, given the many negative issues about unsustainable oil palm plantation entrepreneurs causing investors to lose confidence in investing in companies in the plantation sector, resulting in a decline in the share price of the plantation sector. This research was conducted on plantation companies listed on the Indonesia Stock Exchange, using data from all company reports from 2014 to 2020. The analytical method used is content analysis, average difference test, and simple regression analysis. The results show that no companies have implemented integrated reporting; companies are still limited to issuing annual reports. However, several companies have issued sustainability reports. The information disclosed is also limited to general matters rather than detailed information, as per the GRI standards. This is because oil palm plantations do not produce finished products sold directly to consumers, causing many aspects to not meet the standards.Proporsi Perkebunan Besar Swasta (PBS) adalah proporsi yang terbesar dalam komposisi pengusahaan kelapa sawit di Indonesia. Pada tahun 2020, proporsinya mencapai 54% dimana hampir 20% adalah perusahaan besar yang sudah go public dan menjual saham di pasar bursa. Namun isu-isu negatif tentang pengusahaan kelapa sawit yang tidak sustainable menyebabkan investor kehilangan kepercayaan untuk berinvestasi pada perusahaan di sektor perkebunan, sehingga terjadi penuruna harga saham sektor perkebunan. Pada tahun 2011, International Integrated Reporting Council (IIRC) mengeluarkan sistem pelaporan Integrated Reporting yang memberikan informasi lengkap tentang aktivitas-aktivitas perusahaan termasuk aktivitas terkait sosial, lingkungan, dan aspek keuangan. Melalui sistem pelaporan ini, diharapkan perusahaan dapat memberikan informasi yang lengkap dan terpercaya kepada seluruh stakeholders termasuk investor dan dapat mengembalikan kepercayaan investor. Di Indonesia sistem pelaporan ini masih bersifat voluntary dan belum menjadi kewajiban. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan perkebunan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan mengambil data seluruh laporan yng dipublikasi oleh perusahaan dari tahun 2014-2020. Metode analisis yang digunakan yaitu content analysis, uji beda rata-rata, dan analisis regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum ada perusahaan yang menerbitkan integrated reporting, perusahaan masih sebatas menerbitkan annual report, tetapi sudah ada yang menerbitkan sustainability report. Tingkat pengungkapan juga masih sangat sedikit, masih terbatas pada hal-hal yang general belum terinci seperti yang ada di standar GRI. Hal ini dikarenakan perkebunan kelapa sawit bukan menghasilkan produk jadi yang langsung ke konsumen, sehingga banyak standar yang juga kurang sesuai

    Analisis Pendapatan Agroindustri Ubi Kayu Di Kabupaten Deli Serdang, Indonesia

    No full text
    One of the empowerment of micro small businesses carried out by the Regional Government of Deli Serdang is the utilization of cassava as a raw material for agroindustry which has the potential to be developed and has a profitable market potential for MSMEs. In order to increase income, as one of the government's policies, namely increasing the agro-industry program. In this program, cassava farming and its agro-industry provide an opportunity to be an alternative choice. This can be done because of the advantages possessed by cassava plants, namely besides having a relatively high adaptability and relatively easier farming, and also various benefits, both for food and non-food. The purpose of this study was to determine the cost structure, acceptance, income, and feasibility of processing cassava into opaque. This study used a sampling method in the form of a census on cassava agro-industry, with all respondents processing cassava into opaque craftsmen as many as 35 people. Methods of data collection using questionnaires and field observations. The data analysis tool used is the analysis of the structure of costs, revenues, revenues and R/C. The results of the research show that variable costs are the biggest costs compared to other costs. The average cost of production incurred by MSMEs is IDR 293,071,511 per month, the average income is IDR 318,000,000 per month and the average income is IDR. 24,928,489 per month, with an R/C ratio of 1.08 which means that the cassava agro-industry is profitable or feasible to develop in the research areaOne of the empowerment of micro small businesses carried out by the Regional Government of Deli Serdang is the utilization of cassava as a raw material for agroindustry which has the potential to be developed and has a profitable market potential for MSMEs. Even cassava agroindustry commodities can be a source of income for farmers/entrepreneurs who support the movement of the regional economy. Therefore this study aims to analyze the income of MSMEs in Deli Serdang Regency. The population of this study were all cassava-based micro, small and medium agroindustry entrepreneurs in Pancur Batu District, Deli Serdang Regency. The sample was selected as many as 35 MSMEs that process cassava into opaque. Data collection techniques using questionnaires, field observations and literature study. The data analysis technique used is the cost, revenue, income and R/C analysis model. The results of the research show that variable costs are the biggest costs compared to other costs. The average cost of production incurred by MSMEs is Rp. 293,071,511 per month, the average income is Rp. 318,000,000 per month and the average income is Rp. 24,928,489 per month, with an R/C ratio of 1.08 which means that the cassava agroindustry is profitable or feasible to develop in the research area

    184

    full texts

    256

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JURNAL AGRICA
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇