Media Konservasi
Not a member yet
    670 research outputs found

    IDENTIFICATION OF ORNAMENT AND FAUNA POTENTIAL OF SIBIUK CAVE IN CIAMPEA BOGOR SUBDISTRICT

    Get PDF
    The beauty of ornament and uniqueness of cave is the potential of Sibiuk Cave that could be made into special interest tourism. Sibiuk Cave is known as Air Conditioner Cave for it has three doors that make the cave cold inside. This study aims to identify the potential that Sibiuk Cave has, which located in Ciampea Subdistrict.  This study was conducted from February to May 2020 by applying survey forward method and top to bottom survey system in making Sibiuk Cave profile map and direct collection with rapid assessment method to identify cave ornament and fauna.  The results of the study were the existence of stalactites, stalagmite, chamber, column, and boulder as well as faunas such as ancient shrimp (Stenasellus sp), cave cricket (Rhaphidophora sp), tailless whip scorpion (Stygophrynus dammermani), whip scorpion (Thelyphonus caudatus), millipede (Orthomorpha coarctata), land snail (Leptopoma celebesianum), centipede (Scutigeria sp), bat (Rousettus amplexicaudatus), and swift (Collocalia vestita). SIbiuk cave potential is expected to be expanded into special interest tourism of rock climbing, caving, speleology and biospeleology.    Key words: cave fauna, sibiuk cave, cave ornament, forward surve

    BIRDS DISTRIBUTION IN PT EKOSISTEM KHATULISTIWA LESTARI, KUBU RAYA REGENCY, WEST KALIMANTAN PROVINCE

    Get PDF
    IUPHHK-RE PT Ekosistem Khatulistiwa Lestari is the habitat of various wildlife species, comprises of a restoration forest area surrounded by production forest and oil palm plantations. The threats of damages from illegal logging and land clearing activities tend to threaten the wildlife existence. Therefore, this study aims to determine the distribution and diversity of bird species in PT Ekosistem Khatulistiwa Lestari. The study was conducted from  January - February 2019, and  data collection was conducted using the IPA (Index Ponctualle deAbondance) method. Furthermore, data analysis used diversity index, evenness index, and species similarity with dendrogram analysis using SPSS 21. The results showed that the highest bird species were found in mangroves (32 species), old swamp scrubs (26 species), young swamp scrubs (24 species), plantations (13 species), and settlement (15 species) habitats. Meanwhile, the diversity index of bird species in the five habitat types is classified as medium diversity. Species evenness with the highest value is settlement (E = 0.93). The dendrogram image of the settlement area showed bird species, which can be found in the other four habitats.   Keywords: diversity, bird distribution, West Borneo, dendrogra

    THREATS AND CONSERVATION EFFORTS OF THE LAST REMAINING BANTENG (Bos javanicus lowi) IN UNPROTECTED AREAS AT BELANTIKAN HULU, CENTRAL KALIMANTAN

    Get PDF
    Bornean banteng is classified as endangered and found only in Borneo island. The existence of a wild population of Bornean Banteng in Belantikan Hulu, in the north-western part of Indonesia’s Central Kalimantan Province, has been confirmed from the results of camera-trap programme since 2013, but its population size has yet to be determined. The study aimed to identify the threats to the banteng population in Belantikan Hulu and describe the conservation efforts that have already been taken there. Although Belantikan Hulu is now one of the priority habitats for conserving banteng in Kalimantan, the area lies outside the nationally-designated conservation area network. Hunting is one of the greatest threats that can lead directly to failure in their population. Local informants were able to describe the location and number of 24 banteng that were killed over a 65-year period, from the 1950’s to 2015. The true number is likely to be much higher, since these data were derived from a sample representing only 30% of the local hunting community, and they did not include information from any outsiders. Logging, mining and shifting cultivation in around banteng habitats are important factors that are currently contributing to the destruction and degradation of their habitats in Belantikan Hulu. Conservation efforts have got a lot of supports from local stakeholders. These efforts have led to a customary regulation being adopted that prohibits hunting of banteng or degradation of their habitats around their key saltlicks and feeding sites, and the creation of local conservation area of 1,700 ha (on land voluntarily released by the logging company) that includes these key sites.   Keywords: bornean banteng, conservation, habitat, hunting, threa

    PREFERENSI RELUNG PAKAN BADAK JAWA DAN BANTENG: Dietary Niche Preference of Javan Rhinoceros and Bull

    Get PDF
    Populasi badak jawa yang hidup di Taman Nasional Ujung Kulon merupakan populasi terakhir spesies tersebut di dunia. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa telah terjadi persaingan antara badak jawa dan banteng berdasarkan banyaknya tumpang tindih relung ekologisnya. Namun penelitian terakhir mengenai status interaksi interspesifik dari kedua spesies menunjukkan adanya indikasi pembagian relung ruang dan waktu dengan tanpa adanya indikasi perilaku agresif. Penelitian ini bertujuan untuk menyimpulkan kembali persaingan relung pakan antara badak jawa dan banteng di Taman Nasional Ujung Kulon. Penelitian dilakukan dengan pengamatan delapan plot analisa vegetasi di semenanjung Ujung Kulon yang mewakili area konsetrasi badak jawa dan banteng. Inventarisasi bekas pakan badak jawa dan banteng beserta ketersediaan seluruh jenis tumbuhan pada lokasi pengamatan dilakukan untuk menilai preferensi pakan dari kedua spesies. Analisa preferensi dilakukan dengan perhitungan indeks Neu untuk setiap plot pengamatan dan membandingkan nilai preferensi yang sudah distandarisasi dari seluruh plot pengamatan. Hasil pengamatan mendapatkan 65 jenis tumbuhan yang dimakan kedua spesies dengan 15 jenis tumbuhan yang tumpang tindih. Jenis yang disukai badak jawa merupakan jenis yang  tidak disukai oleh banteng dan sebaliknya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi persaingan baik yang bersifat exploitative dan terdapat indikasi terjadinya pembagian relung pakan antara badak jawa dan banteng.   Kata kunci: badak jawa, banteng, pembagian relung, preferensi pakan, Taman Nasional Ujung Kulo

    STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI DI ARBORETUM SUNGAI GERONG PT. PERTA SAMTAN GAS, KABUPATEN BANYUASIN, PROVINSI SUMATERA SELATAN: Structure and Vegetation Composition in Arboretum River Forest in PT. Perta Samtan Gas, Banyuasin District, South Sumatera Province

    Get PDF
    Karakteristik hutan sangat kompleks dengan berbagai tipe penyusunnya, salah satunya adalah tipe arboretum. Arboretum PT. Perta Samtan Gas Pertamina merupakan salah satu zona penyangga (buffer zone) yang berfungsi sebagai kawasan konservasi untuk flora dan fauna yang ada di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis dan komposisi vegetasi di Arboretum Sungai Gerong PT. Perta Samtan Gas, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Pengambilan data dilaksanakan dengan mengumpulkan data keanekaragaman jenis vegetasi. Setiap jalur pada tipe ekosistem memiliki ukuran 20 m x 60 m. Jalur tersebut kemudian dibagi menjadi subpetak menggunakan metode nested sampling.  Terdapat 23 jenis vegetasi pada wilayah Arboretum Sungai Gerong. Sebaran dan kerapatan vegetasi yang banyak ditemukan adalah Spathodea campanulate dengan indeks nilai penting sebesar 185,87% pada tingkat pohon, sedangkan pada tingkat tiang dan pancang yang banyak ditemukan adalah Calophyllum tetrapterum dengan INP sebesar 118,29% dan 77,859%. Tingkat semai yang banyak ditemukan adalah Nephrolepis falciformis dengan INP sebesar 26,45%. Keanekaragaman jenis vegetasi di wilayah Arboretum Sungai Gerong tergolong sedang dan kemerataan tergolong baik, hanya sedikit jenis vegetasi yang mendominasi pada pengamatan ini.    Kata kunci: Arboretum Sungai Gerong, Banyuasin, indeks nilai penting, keragaman jenis, struktur vegetas

    ETNOBOTANI RUMAH ADAT ETNIS DAWAN DI KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA: Ethnobotany of Traditional House of Dawan Ethnicity in North Central-Timor Regency

    Get PDF
    Rumah tradisional merupakan salah satu kearifan lokal yang diwariskan dari para leluhur ke keturunannya dalam suatu komunitas masyarakat. Penelitian bertujuan untuk memahami keanekaragaman dan ketersediaan spesies tumbuhan yang digunakan sebagai bahan bangunan rumah tradisional etnis Dawan dan pemanfaatannya oleh masyarakat setempat. Jumlah sampel sebanyak tiga rumah adat dari wilayah yang berbeda yakni rumah adat Tunbaba, Fafinesu, dan Tamkesi. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan etnobotani dan etnoekologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 spesies tumbuhan yang digunakan sebagai bahan bangunan rumah adat tradisional terdiri atas kategori kayu, tali, dan atap. Spesies tumbuhan yang memiliki indeks nilai penting tertinggi dari ketiga sampel rumah adat adalah kayu merah (Pterocarpus indicus Willd) berturut-turut 14,64; 112,14; dan 57,70 dan trengguli (Cassia fistula L.) berturut-turut 105,44; 13,52; dan 50,06. Distribusi spesies tumbuhan tidak merata di setiap wilayah menunjukkan adanya pengaruh faktor lingkungan abiotik dan aktivitas manusia yang sangat memengaruhi keberadaan tumbuhan dalam hal pelestarian.   Kata kunci: bahan bangunan, kearifan lokal, rumah tradisiona

    ETNOBOTANI OBAT PADA MASYARAKAT SUKU PENGULUH DI KPHP LIMAU UNIT VII HULU SAROLANGUN, JAMBI: Medicinal Ethnobotany of Penguluh Ethnic at The KPHP Limau Unit VII Hulu Sarolangun, Jambi

    Get PDF
    Masyarakat Suku Penguluh merupakan masyarakat lokal yang tinggal di kawasan pegunungan karst di daerah Bukit Bulan, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun. Pengetahuan pemanfaatan tumbuhan telah melekat dalam kebudayaan masyarakat sebagai obat, pangan, bahan bangunan dan sebagai bahan ritual. Penurunan pengetahuan pengobatan secara trandisional bagi generasi muda dikhawatirkan menyebabkan hilangnya informasi mengenai pemanfaatan tumbuhan sebagai obat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi etnobotani spesies tumbuhan obat oleh masyarakat Suku Penguluh serta menyusun strategi konservasi dalam pengembangan spesies tumbuhan obat di kawasan hutan produksi KPH Limau Unit VII Hulu di Kabupaten Sarolangun Jambi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2018 – Januari 2019. Data etnobotani diperoleh melalui metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam. Tercatat 100 spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati 33 jenis penyakit. Spesies yang memiliki nilai ICS yang tinggi mengidentifikasikan bahwa spesies tersebut sangat berperan dalam kehidupan masyarakat terhadap penyembuhan penyakit yaitu rambutan (Naphelium lappaceum), kasai (Pometia alnifolia), pisang kemali (Musa balbisiana), Kates (Carica papaya) dan pinang (Areca catechu). Strategi konservasi dalam pengembangan tumbuhan tumbuhan obat dapat dilakukan dengan cara : (1) Memaksimalkan pemakaian obat herbal yaitu dapat dilakukan dengan: a) Membuat pelatihan dalam mengolah obat herbal menjadi sebuah produk yang siap pakai oleh pihak KPHP, b) Pengaturan dosis obat herbal yang mempercepat penyembuhan oleh perguruan tinggi, c) Pemasaran tumbuhan obat yang sudah ada sehingga masyarakat mudah menjualnya oleh pemerintah daerah; (2) Pengembangan budidaya dan model-model pemanfaatan yang tidak mengganggu populasi; (3) Pengembangan obat tradisional menjadi nilai ekonomi.   Kata kunci: etnobotani, pengetahuan tradisional, strategi konservasi, suku penguluh, tumbuhan oba

    KOMUNITAS BURUNG PADA RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA PALU PROVINSI SULAWESI TENGAH: Bird Community at Green Open Space in Palu City Central Sulawesi Province

    Get PDF
    Ruang terbuka hijau (RTH) dapat berfungsi sebagai habitat bagi komunitas burung di perkotaan. Bentuk atau tipe RTH bervariasi sehingga diduga terdapat perbedaan komunits burung yang memanfaatkannya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi komposisi komunitas burung dan menghitung indeks keanekaragaman jenis burung di lima RTH di Kota Palu. Penelitian dilakukan di RTH Hutan Kota, Taman hutan raya (Tahura), dan Taman Kota (Palu Barat, Palu Selatan dan Palu Timur). Pengumpulan data jenis burung dilakukan menggunakan metode titik hitung dengan radius 25 m dan jarak antar titik hitung 100 m. Lama waktu pengamatan pada setiap titik hitung adalah 10 menit. Kondisi vegetasi pada setiap RTH diamati menggunakan metode jalur berpetak. Jumlah jenis burung yang berhasil dijumpai dari seluruh RTH yang diamati adalah sebanyak 58 jenis dari 31 famili, terdiri atas 44 jenis burung penetap dan 4 jenis burung migran. Di antara 58 jenis tersebut terdapat 10 jenis burung yang merupakan jenis endemik Sulawesi dan Walacea. Columbidae merupakan famili yang mendominansi RTH dengan anggota terbanyak yakni sebanyak sembilan jenis (15,5%), diikuti famili Ardeidae dan Cuculidae masing-masing sebanyak empat jenis (6,9%). Sebanyak empat jenis burung termasuk dalam kategori dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 dan tercantum dalam Lampiran Permen LHK Nomor 106 Tahun 2018, yakni: Haliastur indus, Milvus migrans, Ardea sumatrana, dan Loriculus stigmatus. Di seluruh RTH yang diamati tidak ditemukan jenis-jenis burung yang terancam punah menurut IUCN, namun terdapat dua jenis burung yang tercantum dalam Appendix II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yakni Haliastur indus dan Milvus migrans. Indeks keanekaragaman (H\u27) burung tertinggi dijumpai di Tahura Sulawesi Tengah dengan nilai H\u27= 2,6 sedangkan terendah di Taman Kota Palu Selatan dengan nilai H\u27 = 1,97.   Kata kunci: indeks keanekaragaman, komunitas burung, ruang terbuka hija

    POTENSI CADANGAN KARBON PADA LAHAN REHABILITASI DI KABUPATEN GUNUNG MAS, KALIMANTAN TENGAH: Carbon Stock Potential in Rehabilitation Land at Gunung Mas District, Central Kalimantan

    Get PDF
    Pemanasan global maupun deforestasi merupakan salah satu permasalahan paling serius untuk lingkungan. Rehabilitasi hutan dapat dilakukan sebagai salah satu upaya penyerapan emisi karbon. Penelitian bertujuan untuk menentukan besaran biomassa, karbon serta penyerapan CO2 sebelum dan setelah rehabilitasi dengan metode non destruktif. Penelitian dilakukan pada lima tutupan lahan (lahan rehabilitasi 2015, 2016, 2017, lahan terbuka, dan hutan sekunder) di tiga kecamatan (Manuhing, Rungan Barat, dan Manuhing Raya) di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Kandungan biomassa di atas permukaan tanah pada lahan rehabilitasi tertinggi baik pada tahun tanam 2015 maupun 2016 terdapat di Kecamatan Manuhing Raya, sedangkan pada tahun 2017 di Kecamatan Manuhing, hasil tersebut terjadi karena adanya input tambahan berupa pupuk alami di lokasi tersebut sehingga meningkatkan kesuburan tanah dan menjadikan pertumbuhan tanaman lebih baik. Total biomassa pada beberapa tutupan lahan di Kabupaten Gunung Mas semakin menurun dengan urutan: hutan sekunder (465,12-806,48 ton/ha) > lahan rehabilitasi (0,77-84,89 ton/ha) > lahan terbuka (0,001-0,06 ton/ha). Simpanan karbon mengalami penurunan yang sangat drastis dari 310,24-418,62 ton C/ha menjadi 7,25-29,43 ton C/ha karena deforestasi dan alih fungsi hutan. Kegiatan rehabilitasi mampu meningkatkan kembali kemampuan suatu lahan dalam menyerap dan menyimpan cadangan karbon secara berkelanjutan.    Kata kunci: cadangan karbon, hutan sekunder, lahan rehabilitasi, lahan terbuka, rehabilitas

    EVALUASI PERTUMBUHAN AREN (Arenga pinnata (Wurmb)) DI LAHAN PASCA TAMBANG PT BERAU COAL KALIMANTAN TIMUR: Growth Evaluation of Sugar Palm (Arenga pinnata (Wurmb)) on Post-Mining Land at PT Berau Coal Kalimantan Timur

    Get PDF
    Kegiatan tambang selalu menimbulkan dampak negatif berupa rusaknya tanah, hilangnya vegetasi dan satwa hingga mengganggu ekosistem, oleh karena itu perlu dilakukan reklamasi dan revegetasi. Revegetasi adalah upaya untuk memperbaiki dan mengembalikan vegetasi yang rusak akibat kegiatan tambang. PT Berau Coal telah melakukan revegetasi dengan menggunakan tanaman lokal yaitu aren (Arenga pinnata). Evaluasi perlu dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman dan status keberhasilan upaya revegetasi tanaman aren yang dilakukan oleh PT Berau Coal. Metode pengambilan data keragaan pertumbuhan aren dilakukan dengan metode Systematic Sampling with Random Start pada lokasi IPD D2, IPD C3.1 dan 2, IPD K dan IPD 6. Data keragaan yang diamati berupa data tinggi, diameter, jumlah daun serta persen hidup dan persen kesehatan tanaman aren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persen hidup aren di areal pasca tambang bervariasi, antara paling rendah 19,35% di lokasi IPD C3.1 dan paling tinggi 87,1% di lokasi IPD D2, sedangkan persen kesehatan paling rendah ditemukan pada lokasi IPD C3.2 yaitu 26,32% dan tertinggi pada lokasi IPD D6 dan IPD C3.1 yaitu 100%. Faktor utama penyebab kegagalan kelangsungan hidup dan pertumbuhan aren yaitu kesalahan pengolahan tanah, naungan, gulma dan serangan hama dan penyakit.   Kata kunci: evaluasi, pertambangan, revegetasi, tanaman aren

    604

    full texts

    670

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Media Konservasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇