AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika
Not a member yet
    443 research outputs found

    PENGEMBANGAN LKPD BERBASIS KONTEKSTUAL DENGAN MODEL LOGAN AVENUE PROBLEM SOLVING (LAPS)–HEURUSTIC UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis kontekstual yang dikembangkan dengan model Logan Avenue Problem Solving (LAPS)–Heurustic untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik yang valid, dan efektif. Jenis penelitian yang dilakukan adalah Research and Development dengan menggunakan model penelitian menurut Borg dan Gall. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, angket, dan tes instrumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, desain pengembangan LKPD berbasis kontekstual dengan model Logan Avenue Problem Solving (LAPS)–Heurustic untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis memiliki kriteria valid. Kedua, rata-rata indeks gain kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menggunakan LKPD berbasis kontekstual dengan model Logan Avenue Problem Solving (LAPS)–Heurustic lebih tinggi dari rata-rata indeks gain kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang tidak menggunakan LKPD, sehingga LKPD berbasis kontekstual dengan model Logan Avenue Problem Solving (LAPS)–Heurustic efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa

    DEFRAGMENTING STRUKTUR METAKOGNITIF SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH HOTS

    Full text link
    Defragmenting merupakan proses memperbaiki struktur berpikir seseorang yang salah agar mendapat pemahaman yang benar. Kesalahan pemahaman tersebut dapat terjadi karena siswa belum mampu mengimplementasikan metakognisinya dalam pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan struktur metakognitif siswa dalam menyelesaikan masalah HOTS dan upaya defragmentingnya. Metode penelitian yang digunakan pendekatan deksriptif kualitatif dengan  jumlah subjek penelitian sebanyak 30 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan menggunakan tes HOTS, observasi, wawancara, dan rekaman video. Proses analisis data penelitian dilakukan dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami kesalahan metakognisi dalam menyelesaikan masalah HOTS yang diberikan. Kesalahan metakognisi tersebut dilakukan siswa dalam mendalami makna dari masalah matematis atau pada aspek memahami masalah dan menentukan strategi penyelesaian yang tepat atau pada aspek perencanaan. Setelah siswa menerima intervensi dan upaya defragmenting didapatkan hasil bahwa metakognisi siswa dalam aspek memahami masalah dan aspek perencanaan menjadi optimal sehingga siswa memperoleh solusi pemecahan masalah matematis yang tepat. Defragmenting is the process of reworking one's wrong thinking structure to get the correct understanding. The missed perception can occur because students have not implemented their metacognition in problem-solving. The study aims to describe the errors of students' metacognitive structures in solving HOTS problems and their defragmenting efforts. Research methods are used qualitatively descriptively with the number of subjects as many as 30 students. The data collection technique used uses HOTS tests, observations, interviews, and video recordings. The process of analysis of research data is carried out with data reduction techniques, data presentation, and conclusion withdrawal. The results showed that students experienced metacognition errors in resolving a HOTS problem. Metacognition errors are made by students in exploring the meaning of mathematical problems or on aspects of understanding problems and determining appropriate solution strategies or on planning aspects. After students receive intervention and defragmenting, efforts obtain the result that the student's metacognition in aspects of understanding the problem and aspects of planning becomes optimal to acquire the right mathematical problem-solving solution

    PENGEMBANGAN PERMAINAN SEMBILUN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN LITERASI MATEMATIKA

    Full text link
    Tujuan penelitian ini menghasilkan media permainan sembilun sebagai media pembelajaran literasi matematika yang valid, praktis, dan memiliki efek potensial terhadap kemampuan literasi matematika.  Penelitian ini menggunakan jenis penelitian research and development (R&D) yaitu metode design research dengan siklus berulang yang menggunakan evaluasi formatif (formative evaluation). Tahap yang dilakukan pada penelitian yaitu tahap persiapan (preliminary) dan tahap prototyping (formative evaluation) yang terdiri dari one-to-one dan expert review, small group, dan field test. Penelitian dilakukan menggunakan konsep blended (daring dan luring). Teknik pengumpulan data meliputi lembar observasi, walktrough, wawancara, dan angket, serta tes langsung terkait permasalahan literasi matematika menggunakan permainan sembilun. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan di salah satu SMP swasta di Pangkalpinang yang melibatkan 24 siswa. Media yang telah dikembangkan dinyatakan valid berdasarkan hasil revisi dari ahli dan subjek one-to-one terkait dengan langkah-langkah permainan sembilun, aturan permainan sembilun, media permainan, dan soal literasi matematika yang digunakan. Kepraktisan terlihat dari tahap small group dimana media permainan yang dikembangkan dapat digunakan dalam pembelajaran. Efek potensial didapat pada tahap field test dimana melalui penggunaan media pembelajaran literasi matematika  berbasis permainan  sembilun,  siswa dapat  melatih  kemampuan  untuk  merumuskan, menafsirkan,  dan  menerapkan  konsep matematika  ke dalam konteks permainan sembilun. Sehingga dapat memberikan alternatif media pembelajaran literasi matematika menggunakan permainan sembilun untuk meningkatkan kemampuan literasi matematika pada siswa Indonesia.The purpose of this study was to produce the nine game media as a valid, practical, and practical mathematical literacy learning media, and have a potential effect on mathematical literacy skills. This study uses research and development (R&D) research, namely the design research method with repeated cycles using formative evaluation. The stages carried out in the research are the preliminary stage and the prototyping stage (formative evaluation) which consist of one-to-one and expert review, small group, and field test. The research was conducted using the blended concept (online and offline). Data collection techniques include observation sheets, walkthroughs, interviews, and questionnaires, as well as direct tests related to mathematical literacy problems using the sembilun game. Data were analyzed descriptively qualitatively. This research was conducted in a private junior high school in Pangkalpinang involving 24 students. The media that has been developed is declared valid based on the revision results from experts and one-to-one subjects related to the steps of the nine games, the rules of the nine games, game media, and mathematical literacy questions used. Practicality can be seen from the small group stage where the developed game media can be used in learning. The potential effect is obtained at the field test stage where through the use of media for learning mathematics literacy based on the sembilun game, students can practice their ability to formulate, interpret, and apply mathematical concepts in the context of the sembilun game. So that it can provide an alternative media for learning mathematics literacy using the sembilun game to improve mathematical literacy skills in Indonesian students

    ANALISIS KREATIVITAS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL OPEN ENDED DITINJAU DARI KEMAMPUAN METAKOGNITIF

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan kemampuan kreativitas siswa dalam menyelesaikan soal open ended ditinjau dari kemampuan metakognitif siswa . Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Adapun subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas VII dengan kemampuan metakognisi sangat kurang, kurang, cukup, baik, baik sekali. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket kesadaran metakognisi siswa, tes kemampuan kreativitas siswa berupa soal open-ended, dan rubrik penskoran kreativitas siswa. Teknik analisis data dilakukan dengan 3 tahapan yaitu : reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Siswa dengan tingkat metakognisi kurang sekali memenuhi aspek orisinalitas, keluwesan dan kerincian, namun berlaku pada satu soal saja. Siswa dengan tingkat metakognisi kurang hanya memenuhi aspek orisinalitas dan kerincian namun bisa menyelesaikan semua soal. Siswa dengan tingkat metakognisi cukup memenuhi aspek semua aspek namun pada soal yang berbeda. Siswa dengan metakognisi baik memenuhi aspek kelancaran dan keluwesan, kurang memenuhi aspek orisinalitas, dan tidak memnuhi aspek kerincian. Siswa dengan tingkat metakognisi baik sekali memenuhi semua aspek kreativitas

    BAGAIMANA SISWA MEMECAHKAN MASALAH ARITMATIKA SOSIAL BERDASARKAN TINGKAT KEMAMPUAN MATEMATIS SISWA

    Full text link
     Ekspolrasi tentang pemecahan masalah matematis yang dilakukan oleh siswa pada saat menyelesaikan aritmatika sosial yang ditinjau dari kemampuan matematika siswa sangatlah diperlukan. Dengan mengetahui tahapan bagaimana siswa memecahkan masalah aritmatika sosial akan memudahkan guru dalam menyusun, serta merencanakan pembelajaran aritmatika sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan wawancara tidak terstruktur untuk mencapai tujuan penelitian ini, subjek dalam penelitian ini adalah siswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dimana hasil wawancara dan hasil pengerjaan tes oleh subjek dengan kajian mendalam dari beberapa penelitian-penelitian terkait sesuai dengan tahapan kemampuan pemecahan masalah matematis menurut Polya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah pada siswa yang tinggi. Kontribusi penelitian ini adalah mengetahui bagaimana profil pemahaman pemecahan masalah siswa pada materi aritmatika sosial berdasarkan tingkat kemampuan matematis siswa

    STUDENTS' CREATIVE THINKING ANALYSIS OF SPLTV MATERIALS THROUGH VIRTUAL LEARNING REVIEWED FROM BEGINNING MATHEMATICS ABILITY

    Full text link
    Mathematical creative thinking ability is certainly different for each student based on their initial mathematical abilities. Virtual learning has become the main learning process during a pandemic. The purpose of this study was to analyze how students' creative thinking skills on SPLTV material through virtual learning were based on students' initial mathematical abilities. The subjects in this study were students of class X SMA Malahayati Islamic School totaling 149 students, which were then taken 3 students based on their initial mathematical abilities. This study used the descriptive qualitative method. Data analysis in this study is to describe the results of student interviews and answers. Checking the validity of the data using data triangulation techniques. The results showed that students with high and moderate initial abilities had mathematical creative thinking skills from the ground up and needed to be honed again. Meanwhile, students with low initial ability cannot think creatively at all. Learning in virtual classes greatly affects the learning process, especially student learning outcomes. So that mathematical creative thinking skills are strongly influenced by students' initial mathematical abilities and student learning processes.

    PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MODEL SSCS DENGAN PENDEKATAN RME DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KOMPUTASIONAL

    No full text
      This study aims to develop a mathematics learning tool consisting of a Learning Implementation Plan (RPP), Student Worksheet (LKS), and a Computational Thinking Test (CT Test) using the Search, Solve, Create, and Share (SSCS) learning model with a Realistic approach. Mathematics Education (RME) which is valid, practical and effective and examines its effect on the computational thinking ability of junior high school students. This research combines development research (R&D) and experimental research. Data collection techniques in this study used interviews, observation of student activities, observation of the implementation of learning devices, student response questionnaires, and learning outcomes tests in the form of CT tests. The results showed that the learning tools met the criteria of being valid, practical, and effective. The validity coefficients for lesson plans, worksheets, and CT tests were 3.80, respectively; 3.80; and 3.81. The value of practicality seen from the results of observations of the implementation of learning devices is in the very practical category with a percentage of 98%. The value of the effectiveness of learning tools shows that 92% of students are active, 98% of students respond positively to learning, and 77% of students complete learning. Based on the t-test on the results of experimental research, it was found that the SSCS model learning device with the RME approach had a significant effect on students' computational thinking abilities

    PENGEMBANGAN MODUL GEOMETRI ANALITIK BERBASIS STRATEGI REACT BERBANTUAN GEOGEBRA UNTUK MELATIHKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

    No full text
    Tujuan pada penelitian ini ialah  mengembangkan modul geometri analitik berbasis REACT berbantuan geogebra yang memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif.untuk mahasiswa IKIP Siliwangi. Adapun model yang digunakan dalam pengembangaan yaitu model 4-D (Define, Design, Development, dan Disseminate). Subjek penelitian ini mahasiswa Pendidikan Matematika angkatan 2020 berjumlah 18 orang. Alat pengumpulan data pada penelitian ini berupa  angket serta tes yang memuat soal uraian mengenai kemampuan berpikir kritis. Dari hasil pengolahan data didapat kesimpulan bahwa modul pembelajaran yang dikembangkan dikategorikan valid dengan nilai rata-rata sebesar 92,06, dikategorikan praktis dengan nilai rata-rata sebesar 72,85 dan dikategorikan efektif dengan nilai rata-rata sebesar 75,25. Denga demikian modul geometri analitik berbasis REACT berbantuan geogebra sangat tepat digunakan dalam pembelajaran geometri untuk tingkat mahasiswa. The purpose of this study is to develop an analytical geometry module based on REACT with the aid of geogebra that meets the valid, practical and effective criteria for students of IKIP Siliwangi. The model used in the development is a 4-D model (Define, Design, Development, and Disseminate). The subjects of this study were 18 students of Mathematics Education class of 2020. Data collection tools in this study were in the form of questionnaires and tests containing descriptions of critical thinking skills. From the results of data processing, it can be concluded that the learning module developed is categorized as valid with an average value of 92.06, categorized as practical with an average value of 72.85 and categorized as effective with an average value of 75.25. Thus, the REACT-based analytic geometry module with the aid of Geogebra is very appropriate to be used in geometry learning for the student level

    ANALISIS PENYEBAB MISKONSEPSI SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA MATERI OPERASI HITUNG PECAHAN

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penyebab miskonsepsi yang terjadi pada siswa kelas VA SDN 1 Bengkulu Tengah dalam menyelesaikan matematika dengan operasi aritmatika untuk tahun pelajaran 2020/2021. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah 24 siswa kelas v A dimana 22 siswa mengalami miskonsepsi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes, observasi, wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa kelas 5 A mengalami tiga jenis miskonsepsi, yaitu miskonsepsi dasar, miskonsepsi sistematik, dan miskonsepsi hitung. Penyebab miskonsepsi yang dialami siswa berdasarkan hasil wawancara merupakan faktor internal yang terjadi dalam diri siswa.Seperti tidak memahami konsep dasar, kurangnya minat siswa dalam belajar matematika, kurangnya motivasi, siswa jarang belajar di rumah. Kurang teliti dalam menyelesaikan soal, sering lupa langkah-langkah dalam mengerjakan soal matematika. Pembelajaran online membuat banyak siswa yang tidak paham. berdasarkan hasil wawancara guru yaitu kurangnya variasi dalam pembuatan video sehingga tidak ada slide atau materi pendukung dari video tersebut. Dari segi orang tua siswa kurang perhatian orang tua dalam mendampingi anak belajar. Perekonomian kota terkendala, orang tua terkadang tidak paham dengan materi anak.berdasarkan hasil wawancara guru yaitu kurangnya variasi dalam pembuatan video sehingga tidak ada slide atau materi pendukung dari video tersebut. Dari segi orang tua siswa kurang perhatian orang tua dalam mendampingi anak belajar. Perekonomian kota terkendala, orang tua terkadang tidak paham dengan materi anak. berdasarkan hasil wawancara guru yaitu kurangnya variasi dalam pembuatan video sehingga tidak ada slide atau materi pendukung dari video tersebut. Dari segi orang tua siswa kurang perhatian orang tua dalam mendampingi anak belajar. Perekonomian kota terkendala, orang tua terkadang tidak paham dengan materi anak. Kata kunci: Analisis Miskonsepsi 1; Soal Matematika 2; Penyebab Kesalahpahaman 3 The purpose of this study is to describe the causes of misconceptions that occur in class V A students of SDN 1 Bengkulu Tengah in solving math problems with theory fractional count operations for the 2020/2021 school year. This type of research uses qualitative research methods. The subjects in this study were 24 students of class v A where 22 students had misconceptions. Data collection techniques used in this study are tests, observations, interviews. The results of this study indicate that grade 5 A students experience three types of misconceptions, namely basic, systematic and calculation misconceptions. The causes of misconceptions experienced by students based on the results of student interviews are internal factors that occur within students. Such as not understanding basic concepts, lack of student interest in learning mathematics, lack of motivation, students rarely study at home. Less careful in solving problems, often forget the steps in doing math problems. Online learning makes many students do not understand. based on the results of teacher interviews, namely the lack of variety in making videos so that there are no slides or supporting material from the video. In terms of parents of students lack of parental attention in accompanying children to learn. The city's economy is constrained, parents sometimes don't understand the child's material.Kata kunci: Penyebab miskonsepsi, Soal matematika, Analisis miskonsepsi

    KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI ADVERSITY QUOTIENT (AQ)

    No full text
    AbstrakKemampuan berpikir kritis dengan tahapan focus, reason, inference, situation, clarity, dan overview serta kemampuan daya juang (adversity quotient) memiliki peranan sangat penting dalam aktivitas memecahkan masalah matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan masalah ditinjau dari adversity quotient (AQ). Penelitian deskriptif kualitatif ini dilakukan di sebuah SMP di Jember, Indonesia, pada bulan September 2021. Pengumpulan data menggunakan metode angket Adversity Response Profile (ARP), tes tertulis berpikir kritis, serta wawancara. Hasil pemberian angket ARP kepada 31 siswa kelas IXB, diketahui ada 10 siswa dengan tipe climber, 18 siswa dengan tipe camper, dan 3 siswa dengan tipe quitter. Dari tipe AQ tersebut dipilih enam siswa dengan 2 siswa tipe climber, 2 siswa tipe camper, dan 2 siswa tipe quitter untuk mengikuti tes tertulis dan wawancara. Triangulasi menggunakan triangulasi metode, yaitu mencari kesesuaian antara data dari hasil tes tertulis dengan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan tipe climber memenuhi seluruh kriteria berpikir kritis FRISCO, yaitu focus, reason, inference, situation, clarity, dan overview. Siswa dengan tipe climber mampu menyelesaikan permasalahan yang diberikan dengan tepat waktu dan mengecek kembali jawaban. Siswa dengan tipe camper dapat memenuhi 5 dari 6 kriteria berpikir kritis FRISCO, yaitu focus, reason, inference, situation dan clarity. Siswa dengan tipe camper mampu menyelesaikan permasalahan yang diberikan tepat waktu. Kekurangannya adalah siswa camper tidak melakukan overview, yaitu tidak mengecek kembali jawaban sesudah menyelesaikan masalah. Adapun siswa dengan tipe quitter hanya mampu memenuhi 2 dari 6 kriteria berpikir kritis FRISCO, yaitu mereka hanya mampu melakukan focus, dan clarity, serta kesulitan memahami permasalahan sehingga tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut. Dari hasil ini, maka guru perlu memberikan motivasi kepada siswa untuk mempunyai daya juang tinggi agar memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi dalam memecahkan masalah matematika.AbstractCritical thinking skills which include the stages of focus, reason, inference, situation, clarity, and overview as well as the ability to fight (adversity quotient) have a very important role in solving mathematical problems. This study aims to describe students' critical thinking skills in solving problems in terms of the adversity quotient (AQ). This descriptive qualitative research was conducted at a junior high school in Jember, Indonesia, in September 2021. The data was collected using the Adversity Response Profile (ARP) questionnaire, a written critical thinking test, and interviews. The results of giving ARP questionnaires to 31 students of class IXB, it is known that there are 10 students with the climber type, 18 students with the camper type, and 3 students with the quitter type. From the AQ type, six students were selected with 2 climber type students, 2 camper type students, and 2 quitter type students to take written tests and interviews. Triangulation uses the triangulation method, which is to find a match between the data from the results of the written test and the interview. The results showed that the climber type students met all of the FRISCO critical thinking criteria, namely focus, reason, inference, situation, clarity, and overview. Students with the climber type are able to solve the problems given in a timely manner and recheck the answers. Camper type students can fulfill 5 of 6 FRISCO critical thinking criteria, namely focus, reason, inference, situation and clarity. Camper type students are able to solve the problems given on time. The drawback is that camper students do not do an overview, that is, they do not re-check the answers after solving the problem. As for students with the quitter type, they are only able to meet 2 of the 6 criteria for FRISCO critical thinking, namely they are only able to focus and clarity, and have difficulty understanding problems so they cannot solve the problems. From these results, the teacher needs to motivate students to have a high adversity quotient in order to have high critical thinking skills in solving mathematical problems. Keywords: Adversity Quotient, Critical Thinking, Mathematical Problem Solving

    377

    full texts

    443

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇