Rona Teknik Pertanian
Not a member yet
207 research outputs found
Sort by
Desain dan Uji Performansi Alat Pengering Gula Semut Untuk Meningkatkan Kualitas Produksi Industri Rumahan
Abstrak. Gula semut adalah produk diversifikasi gula palma berbentuk butiran yang diperoleh dari nira aren, atau nira kelapa. Tanaman Kelamapa banyak tumbuh dengan subur di Kabupaten Cilacap, salah satunya dihasilkan oleh Kelompok Tani Semi Rahayu yang berada di Desa Prapagan Kecamatan Jeruk Legi. Kelompok tani ini mampu menghasilkan gula kelapa sebesar 2-3 ton per bulan. Proses produksi gula semut di kelompok tani semi rahayu dilakukan secara konvensional. Salah satu proses penting dalam proses produksi gula semut yaitu pengeringan. Proses pengeringan yang tidak sesuai dengan standar akan menyebabkan gula semut yang diproduksi mempunyai umur simpan yang pendek. Hal ini menjadi salah satu permasalahan pada kelompok tani semi rahayu karena proses pengeringan masih dilakukan secara manual. Untuk mengatasi permasalahan ini maka solusi yang ditawarkan yaitu teknologi tepat guna berupa alat pengering yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas gula semut sehingga umur simpan menjadi lebih panjang. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan gula semut dengan kadar air sesuai dengan baku mutu standar dengan rekayasa teknologi berupa alat pengering gula semut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah rancang bangun konvensional yang terdiri dari rancangan structural dan rancangan fungsional. Selanjutnya dilakukan uji kinerja dari alat pengering dengan melihat kadar air yang dihasilkan dari proses pengeringan. Hasil yang diperoleh dari 3 kali uji kinerja dengan kapasitas 50 kg dengan setiap 5 fan yang masing masing fan berisi 10 kg gula semut. Pengukuran selama 8 jam diperoleh nilai kadar air pengukuran pertama adalah 2,583 % b/b, 2,417 % b/b, dan 2,083 % b/b. suhu pengeringan yang digunakan 60 oC . rata rata kadar air yang dihasilkan sebesar 2,361 %, b/b dengan waktu pengeringan 8 jam menggunakan Gas LPG dengan konsumsi sebesar 2,1 kg.Design and Performance Test of Palm Sugar Dryer to Improve the Quality of Home Industry ProductionAbstract. One of the important processes in the production of palm sugar is drying. The drying process that is not in accordance with the standard will cause the palm sugar produced to have a short shelf life. This is one of the problems experienced especially for home industry producers because the drying process is still done traditionally. To overcome this problem, the solution offered is appropriate technology in the form of a dryer which is expected to improve the quality of palm sugar so that the shelf life becomes longer. The purpose of this research is to produce palm sugar dryer that is in accordance with the needs and capabilities of home industries so that it can produce palm sugar with water content according to standard quality standards. The method used in this study is a conventional design consisting of structural design and functional design. Furthermore, the performance test of the dryer was carried out by looking at the moisture content resulting from the drying process. The results obtained from three-time performance tests with a capacity of 50 kg and measurements for 8 hours obtained water content values were 2.583% w/w, 2.417% w/w, and 2.083% w/w. The drying temperature used was 60 oC which resulted in an average moisture content of 2.361%, w/w, drying time of 8 hours and required 2.1 kg of LPG gas as the main fuel
Analisis Perbandingan Tutupan Lahan (Land Cover) Wilayah Malang Raya Menggunakan Citra Sentinel
Abstrak. Wilayah Malang Raya merupakan salah satu wilayah dengan pertumbuhan penduduk yang cepat di Jawa Timur. Selain jumlah pertumbuhan penduduk yang besar, wilayah Malang juga memiliki potensi wisata dan termasuk daerah dengan pusat pendidikan di Jawa Timur. Hal tersebut berpengaruh besar terhadap pertumbuhan pembangunan yang terjadi di wilayah Malang Raya. Saat ini informasi mengenai tutupan lahan mulai banyak dibutuhkan, salah satunya adalah untuk mengetahui ketersediaan lahan terbuka yang dapat digunakan dalam sektor pertanian. Informasi mengenai tutupan lahan dapat memanfaatkan teknologi penginderaan jauh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan tutupan lahan di Wilayah Malang Raya selama periode 2015 dan 2020 menggunakan Citra Satelit Sentinel dan metode Maximum Likelihood Classification (MLC). Analisis yang telah dilakukan menghasilkan peta tematik tutupan lahan Wilayah Malang Raya tahun 2015 dan 2020. Peta tematik yang dihasilkan pada tahun 2015 memiliki kualitas citra yang kurang baik karena terdapat tutupan awan dan kabut. Pada tahun 2020 menghasilkan kualitas citra yang lebih baik. Hasil klasifikasi yang dilakukan menggunakan metode Maximum Likelihood menunjukkan bahwa pada tahun 2015 nilai Overall sebesar 87.81% dan Kappa 85.79%. Pada tahun 2020 menghasilkan nilai Overall sebesar 91.88% dan Kappa sebesar 90.56%. Perbandingan tutupan lahan periode tahun 2015 dan 2020 menunjukkan hasil peningkatan terbesar terjadi pada kelas tutupan tegalan/ladang. Sedangkan penurunan terbesar terjadi pada kelas tutupan kebun.Comparative Analysis of Land Cover in the Malang Regional Area Using Sentinel ImageryAbstract.The Greater Malang region is experiencing the swiftest population growth in East Java. In addition to substantial population expansion, the Malang area possesses tourism potential and serves as an educational hub in East Java. This growth significantly influeces the region's development. Comprehensive information about land coverage is essential, including determining the availability of open land for agricultural use. Remote sensing technology facilitates obtaining land coverage data. This study compares land coverage in the Malang region during 2015 and 2020, utilizing Sentinel Satellite Imagery and the Maximum Likelihood Classification (MLC) method. The analysis produced thematic maps of land coverage for the Greater Malang Region in 2015 and 2020. The 2015 thematic maps suffered from poor image quality due to cloud cover and fog, which improved in 2020. The Maximum Likelihood classification results indicated an overall accuracy of 87.81% and a Kappa value of 85.79% for 2015, improving to 91.88% and 90.56% in 2020, respectively. A comparison of land cover for the 2015 and 2020 periods shows that the most significant increase occurred in wasteland/heterogeneous agricultural field areas, while the most significant decrease ensued in plantation areas
Rancang Bangun dan Uji Kinerja Alat Separator Minyak Atsiri Skala Laboratorium Kapasitas 25 Literrs
Abstrak. Separator merupakan alat pemisah minyak atsiri dari air destilat pada proses penyulingan minyak atsiri. Perancangan separator disesuaikan dengan berat jenis minyak atsiri yang akan diproses. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan desain dan uji kinerja alat separator minyak atsiri skala laboratorium kapasitas 25 liter secara gravitasi dengan laju destilat sebesar 4.0 4.5 L/jam. Hasil uji fungsional menunjukkan komponen separator berfungsi secara baik sesuai dengan fungsinya baik secara individu maupun dalam rakitan mesin. Proses pemisahan dilakukan dengan cara mengalirkan campuran minyak dan air ke dalam separator dengan debit 4.0 4.5 L/jam menggunakan pompa aquarium.Hasil rendemen diperoleh nilai berkisar antara 0.82 0.88% pada volume minyak yang ditambahkan mulai dari 100 150 mL. Artinya diperoleh volume minyak yang masih tertinggal diseparator berkisar antara 18 20 mL. Bila waktu pemisahan diperpanjang hingga 12 jam maka akan diperoleh minyak yang tertinggal berkisar 2-5 mL.Manufacture and Performance Test of Laboratory Scale Essential Oil Separator Equipment with a Capacity of 25 LitersAbstract. The separator is a means of separating essential oils from distilled water in the essential oil refining process. The design of the separator is adjusted to the specific gravity of the essential oil to be processed. The purpose of this study was to test the performance of a laboratory scale essential oil separator with a capacity of 25 liters by gravity with a distillate rate of 4.0 4.5 L/hour. The results of the functional test show that the separator components function properly according to their functions, both individually and in machine assembly. The separation process is carried out by flowing a mixture of oil and water into the separator with a discharge of 4.0 4.5 L/hour using an aquarium pump. The yield results obtained values ranging from 0.82 to 0.88% in the volume of oil added from 100 to 150 mL. This means that the volume of oil that is still left in the separator ranges from 18 to 20 mL. If the separation time is extended to 12 hours, the remaining oil will be in the range of 2-5 mL
Pengaruh Jenis Kemasan Dan Lama Penyimpanan Terhadap Karakteristik Mutu Bunga Telang (Cloria Ternatea) Kering
AbstractThe increasing variety of benefits of the butterfly pea flower requires the availability of dried butterfly pea flowers to replace fresh butterfly pea flowers. A study has been carried out on "The Influence of Packaging Type and Storage Time on the Quality Characteristics of Dried Butterfly Pea Flower (clitoria ternatea). The aim of the study was to determine the effect of the type of packaging and storage time on the quality characteristics of dried butterfly pea flowers. The study was conducted using an experimental method with a Completely Randomized Factorial Design (RALF). Treatment of packaging types: K1 = PolyPropylene (PP) Plastic Packaging and K2 = Aluminum Foil (AF) Packaging. Storage time: L0= 0 days; L1= 7 days; L2= 14 days; L3=21 days. The research was conducted with 3 replications. Data were analyzed using SPSS software version 20. Significantly different effects were tested by Duncan's test at the level of p=0.05. The results showed that the water content of the butterfly pea flower was 10.1% in the PP packaging and 9.7% in the AF packaging. Dried butterfly pea flowers contained a total phenol of 9.74 mg/g in PP packaging and 11.5 mg/g in aluminum foil packaging. IC50 values in PP and AF packaging were 242.7 and 224.4 ppm, respectively. The water content of the butterfly pea flowers increased significantly from 8.7% at 0 days of storage to 11.1% at 21 days of storage. Anthocyanin and flavonoid bioactive compounds were detected by positive tests up to 21 days of storage. The total phenol of the butterfly pea flower decreased significantly from 14.95 mg/g at 0 days of storage to 6.19 mg/g at 21 days of storage. IC50 value (antioxidant activity) increased from 140.1 ppm to 293.1 ppm during storage.Keywords: Butterfly pea flower, PolyPropylene and aluminium foil packaging, anthocyanin and phenolAbstrakMeningkatnya ragam manfaat bunga telang menuntut tersedia bunga telang kering untuk menggantikan bunga telang segar. Telah dilakukan penelitian Pengaruh Jenis Kemasan dan Lama Penyimpanan Terhadap Karakteristik Mutu Bunga Telang (clitoria ternatea) Kering. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jenis kemasan dan lama penyimpanan terhadap karakteristik mutu bunga telang kering. Penelitian dilakukan dengan metode ekperimental dengan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF). Perlakuan jenis kemasan : K1 = Kemasan Plastik PolyPropilen (PP) dan K2 = Kemasan Aluminium Foil (AF). Lama penyimpanan : L0= 0 hari ; L1= 7 hari; L2= 14 hari ; L3=21 hari. Penelitian dilakukan dengan 3 ulangan. Data dianalisis menggunakan software SPSS versi 20. Pengaruh yang berbeda nyata diuji dengan uji Duncan pada taraf p=0.05. Hasil penelitian menujukkan kadar air bunga telang 10,1% pada kemasan PP dan 9,7% pada kemasan AF. Bunga telang kering mengandung total fenol 9,74 mg/g pada kemasan PP dan 11,5 mg/g pada kemasan aluminium foil. Nilai IC50 dalam kemasan PP dan AF masing-masing 242,7 dan 224,4 ppm. Kadar air bunga telang meningkat secara nyata dari 8,7%pada penyimpanan 0 hari menjadi 11,1% pada penyimpanan 21 hari. Senyawa bioaktif antosianin dan flavonoid terdeteksi uji positif sampai pada penyimpanan 21 hari. Total fenol bunga telang menurun secara nyata dari 14,95 mg/g pada penyimpanan 0 hari menjadi 6,19 mg/g pada penyimpanan 21 hari. Nilai IC50 (aktivitas antioksidan) meningkat dari 140,1ppm sampai 293,1ppm selama penyimpanan
Pendugaan Umur Simpan Gula Kelapa Kristal dalam Kemasan Vakum menggunakan Metode Accelerated Shelf Life Test (ASLT) Model Arrhenius
AbstractCrystal coconut sugar contains reducing sugar in crystal coconut sugar which can cause crystal coconut sugar to be hygroscopic and make crystal coconut sugar easily absorb water. Efforts to slow down the rate of deterioration of crystal coconut sugar products can be done by packaging. Storage of crystal coconut sugar by vacuum packaging is an effort to inhibit the absorption of moisture from the environment so as to extend its shelf life. The aims of this study were 1) to examine the effect of storage and packaging temperature on several quality parameters of crystalline coconut sugar in vacuum packaging and 2) to develop the Arhenius Model Accelerated Shelf Life Test (ASLT) method to predict the shelf life of crystalline coconut sugar in vacuum packaging. This study used dried crystalline coconut sugar which was packaged using three different types of packaging, namely polyethylene (PE), vacuum packaging, and aluminum foil and then stored using different temperatures, namely 30C and 15C. then stored for 5 weeks and observed every 7 days. The results of calculations using the Arrhenius equation for the shelf life of crystalline coconut sugar with 2 storage temperatures and 3 different packages respectively, namely, PE packaging with a temperature of 30C 1160 days and a temperature of 15C 1697 days, vacuum packaging a temperature of 30C 1504 days, temperature 15C 2155 days, aluminum foil packaging temperature 30C 7685 days and temperature 15C 7690 days.Keyword : Shelf life, crystal coconut sugar, vacuum packaging, ASLT, arrheniusAbstrakGula kelapa kristal memiliki kandungan gula pereduksi yang dapat menyebabkan produk bersifat higroskopis dan mudah menyerap air. Upaya untuk memperlambat laju kerusakan produk gula kelapa kristal dapat dilakukan dengan pengemasan. Penyimpanan gula kelapa kristal dengan pengemasan vakum merupakan upaya untuk menghambat penyerapan uap air dari lingkungan sehingga dapat memperpanjang umur simpannya. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengkaji pengaruh suhu penyimpanan dan kemasan terhadap beberapa parameter mutu gula kelapa kristal dalam kemasan vakum dan 2) mengembangkan Metode Accelerated Shelf Life Test (ASLT) Model Arhenius untuk menduga umur simpan gula kelapa kristal dalam kemasan vakum. Penelitian ini menggunakan gula kelapa kristal yang sudah dikeringkan kemudian dikemas dengan menggunakan tiga jenis kemasan yang berberda yaitu, kemasan polietilen (PE), kemasan vakum, dan alumunium foil kemudian disimpan dengan menggunakan suhu yang berbeda yaitu suhu 30C dan 15C, disimpan selama 5 minggu dan dilakukan pengamatan setiap 7 hari sekali. Hasil perhitungan menggunakan persamaan Arrhenius umur simpan gula kelapa kristal dengan 2 suhu penyimpanan dan 3 kemasan yang berbeda berturut-turut yaitu, kemasan PE dengan suhu 30C 1160 hari dan suhu 15C 1697 hari, kemasan vakum suhu 30C 1504 hari, suhu 15C 2155 hari, kemasan alumunium foil suhu 30C 7685 hari dan suhu 15C 7690 hari
The study of shelf-life of soymilk treated by pasteurization methods by using organoleptic test
AbstractSoymilk is generally processed by a pasteurization process. Pasteurization itself is a method that is widely known in the processing industry as a method to kill microorganisms using high temperatures or commonly referred to as thermal methods that result in damage to physical and chemical components. Therefore, a non-thermal pasteurization process such as high pulsed electric field (HPEF) is needed to maintain product quality attributes. The purpose of this study is to determine the shelf life of soymilk treated by using organoleptic test. About 20 panellists evaluated the quality of soymilk based on color and flavour. Results showed that the HPEF treatment did not change the color and aroma of soybean juice products for 11 hours. It can extend the shelf life of soybean juice for 1 hour compared to the thermal pasteurization process.AbstrakSusu kedelai pada umumnya diolah dengan proses pasteurisasi. Pasteurisasi sendiri merupakan sebuah metode yang banyak dikenal dalam industri pengolahan sebagai metode untuk membunuh mikroorganisme menggunakan suhu tinggi atau biasa disebut dengan metode termal yang mengakibatkan kerusakan komponen fisik serta kimiawi. Oleh karena itu, dibutuhkan proses pasteurisasi non-termal seperti high pulsed electric field (HPEF) yang dapat menjaga atribut mutu produk. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji umur simpan susu kedelai yang diberi perlakuan metode pasteurisasi dengan uji organoleptik. Sebanyak 20 orang panelis memberikan penilaian terhadap sampel susu secara deskriptif berdasarkan kriteria warna dan aroma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan HPEF tidak merubah warna dan aroma dari susu kedelai sampai 11 jam. Hal ini menunjukkan bahwa metode HPEF dapat memperpanjang umur simpan susu kedelai selama 1 jam dibandingan metode pasteurisasi termal
Analisis Tingkat Bahaya Erosi dan Kekritisan Lahan Gambut Kabupaten Nagan Raya Menggunakan Sistem Informasi Geografis
Abstrak. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menilai tingkat bahaya erosi dan kekritisan lahan gambut di Kabupaten Nagan Raya. Metode penelitian menggunakan Metode Universal Soil Loss Equation (USLE) dalam mengukur nilai erosi. Kajian nilai tingkat bahaya erosi dan lahan kritis menggunakan ketentuan Peraturan Menteri Kehutanan tentang tata cara penyusunan rencana teknik rehabilitasi hutan dan lahan daerah aliran sungai. Hasil analisis curah hujan menggunakan data rerata tahunan dalam rentang waktu tahun 2013 - 2022. Curah hujan rerata tertinggi terjadi di bulan Oktober (454,72 mm/bulan) dan November (455,88 mm/bulan). Berdasarkan analisis Sistem Informasi Geografis, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar kelas tingkat bahaya erosi (TBE) adalah kelas ringan, mencakup luas area seluas 13.835,74 ha (85,9%). TBE dengan tingkat sangat ringan mencakup 826,27 ha (5,1%), sementara TBE dengan tingkat berat mencakup 730,92 ha (4,5%), dan TBE dengan tingkat sedang mencakup luas 339,13 ha (2,1%). Sementara itu, hasil analisis tingkat keritisan lahan mengungkapkan bahwa mayoritas lahan dikategorikan sebagai tidak kritis, dengan total luas area mencapai 14.202,19 ha (88,2%). Lahan yang agak kritis mencakup 933,99 ha (5,8%), sedangkan lahan dengan potensial kritis mencakup 535,25 ha (3,3%), dan lahan yang dikategorikan sebagai kritis mencakup 60,64 ha (0,4%).Analysis of Erosion Hazard Level and Peatland Criticality in Nagan Raya District Using Geographic Information SystemAbstract. The objective of this study was to assess the erosion hazard and peatland criticality in Nagan Raya District. The research method used the Universal Soil Loss Equation (USLE) method in measuring erosion values. The assessment of the value of erosion hazard and critical land uses the provisions of the Minister of Forestry Regulation on Procedures for Preparing a Technical Plan for Forest and Land Rehabilitation in Watersheds. The results of the rainfall analysis used annual average data in the span of 2013 - 2022. The highest average rainfall occurs in October (454.72 mm/month) and November (455.88 mm/month). Based on Geographic Information System analysis, it can be concluded that most of the erosion hazard level (TBE) classes are light, covering an area of 13,835.74 ha (85.9%). Very light TBE covers 826.27 ha (5.1%), while heavy TBE covers 730.92 ha (4.5%), and moderate TBE covers 339.13 ha (2.1%). Meanwhile, the results of the land criticality analysis revealed that the majority of land was categorized as non-critical, with a total area of 14,202.19 ha (88.2%). Moderately critical land covers 933.99 ha (5.8%), while potentially critical land covers 535.25 ha (3.3%), and land categorized as critical covers 60.64 ha (0.4%)
Phytochemicals - Bioactivity of Avicennia marina Leaves Extract, and Its Application in Food Products: A Brief Literature Review
Abstract. Avicennia marina (A. marina) is a tropical and non-tropical biodiversity that grows along the coast worldwide, including Indonesia. A. marina, known as the "gray mangrove" tree, is a mangrove plant of the Avicenniaceae family. A widely used plant part is A. marina leaves, which are further processed into A. marina leaves extracts. Various studies on A. marina leaves, extract, and their application to food products have been extensively researched and communicated in various scientific papers. So, this study aims to provide an overview of the current knowledge on A. marina leaves extract, focusing on its phytochemical-bioactivity and application in food products. Various studies have reported that A. marina leaves extract contains polyphenols, flavonoids, steroids, terpenoids, alkaloids, cardiac glycosides, saponins, tannins, anthraquinones, and other phytochemical compounds based on phytochemical screening. Several recent studies also reported that A. marina leaves extracts to have many benefits due to their biological activities, including antioxidant, anti-bacterial, anti-fungal, anti-cancer activities, and so on. The application of A. marina leaves in the food product is reported to be able to increase the specific nutritional value, such as chocolate bars and noodles. In addition, the water extract of A. marina leaves can maintain the quality of fishery products, especially fresh fish, and acts as a natural bio-formalin or bio-preservation. In future research, the application and supplementation of water extract of A. marina leave in other food products need to be studied further. In addition, other food process engineering must be applied and evaluated to produce extract ofA. marina leaves with maintained bioactive compounds and their bioactivityFitokimia - Bioaktivitas Ekstrak Daun Avicennia marina dan Aplikasinya pada Produk Pangan: Tinjauan Literatur SingkatAbstrak.Avicennia marina (A. marina) merupakan keanekaragaman hayati tropis dan non-tropis yang tumbuh di sepanjang pantai di seluruh dunia, termasuk Indonesia. A. marina, yang juga dikenal sebagai pohon "bakau abu-abu", adalah tanaman bakau dari keluarga Avicenniaaceae. Bagian tanaman yang banyak dimanfaatkan adalah daun A. marina, yang selanjutnya diolah menjadi ekstrak daun A. marina. Berbagai penelitian mengenai daun A. marina, ekstrak, dan aplikasinya pada produk pangan telah banyak diteliti dan dikomunikasikan dalam berbagai karya ilmiah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum tentang pengetahuan terkini tentang ekstrak daun A. marina, dengan fokus pada fitokimia-bioaktivitas dan aplikasinya pada produk pangan. Berbagai penelitian telah melaporkan bahwa ekstrak daun A. marina mengandung polifenol, flavonoid, steroid, terpenoid, alkaloid, cardiac glycosides, saponin, tanin, antrakuinon, dan senyawa fitokimia lain berdasarkan skrining fitokimia. Beberapa penelitian terbaru juga melaporkan bahwa ekstrak daun A. marina memiliki banyak manfaat karena aktivitas biologisnya, seperti aktivitas antioksidan, anti-bakteri, anti-jamur, dan anti-kanker. Aplikasi daun A. marina pada produk makanan, seperti pada chocolate bars dan mie, dilaporkan dapat meningkatkan nilai gizinya secara spesifik. Selain itu, ekstrak air daun A. marina dapat menjaga kualitas produk perikanan, terutama ikan segar, dan berperan sebagai bio-formalin atau pengawet alami. Pada penelitian selanjutnya, aplikasi dan suplementasi ekstrak air daun A. marina pada produk pangan lain perlu dikaji lebih lanjut. Selain itu, rekayasa proses pangan lain perlu diterapkan dan dievaluasi untuk menghasilkan ekstrak daun A. marina dengan senyawa bioaktif dan bioaktivitas yang terjaga
Daya Dukung Lahan Sawah Sebagai Kemandirian Pangan Di Kecamatan Tinangkung Selatan
Abstrak. Peningkatan kebutuhan pangan saat ini sejalan dengan pertumbuhan penduduk, yang secara otomatis menuntut pencapaian ketahanan pangan harus terpenuhi sebagai wujud dari kemandirian pangan di setiap wilayah. sehingga tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui daya dukung lahan padi sawah dalam melaksanakan swasembada pangan untuk kehidupan masyarakat yang layak di Kecamatan Tinangkung Selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai November 2022, dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer dilakukan untuk menentukan kesesuaian lahan sawah dengan metode perbandingan (matching) dan data sekunder digunakan untuk menentukan daya dukung lahan sawah di Kecamatan Tinangkung Selatan. Adapun hasil analisis kesesuaian lahan padi sawah aktual diperoleh kriteria marginal (S3), dengan faktor pembatas kandungan KB tanah dan C-organik yang tergolong rendah, serta yakni kandungan P2O5 dan N-total yang tergolong rendah hingga sangat rendah. Namun, setelah dilakukan upaya perbaikan pada lahan sawah di Kecamatan Tinangkung Selatan diperoleh kesesuaian lahan padi sawah potensial yakni kriteria sangat sesuai (S1). Selanjutnya penetuan daya dukung wilayah pertanian untuk tanaman padi sawah di Kecamatan Tinangkung Selatan diperoleh hasil ( 1), wilayah tersebut tidak mampu melaksanakan swasembada pangan. Artinya, padi sawah belum memenuhi kebutuhan masyarakat sebagai kemandirian pangan di Kecamatan Tinangkung Selatan di Kabupaten Banggai Kepulauan.Carrying Capacity of Paddy Fields as Food Independence in South Tinangkung DistrictAbstract. The current increase in food needs is in line with population growth, which automatically demands that the achievement of food security must be met as a form of food independence in each region. so, the purpose of this study was to determine the carrying capacity of paddy fields in carrying out food self-sufficiency for the decent life of the community in South Tinangkung District. This research was conducted from July to November 2022, using primary data and secondary data. Primary data was carried out to determine the suitability of paddy fields using the matching method and secondary data was used to determine the carrying capacity of paddy fields in South Tinangkung District. The results of the analysis of the suitability of actual paddy rice fields obtained marginal criteria (S3), with limiting factors for soil KB and C-organic content which are relatively low, and namely the content of P2O5 and N-total which are classified as low to very low. However, after carrying out efforts to improve paddy fields in South Tinangkung District, the suitability of potential paddy rice fields was obtained, namely the very appropriate criteria (S1). Furthermore, the determination of the carrying capacity of the agricultural area for paddy rice crops in South Tinangkung District obtained results ( 1), but the area was unable to carry out food self-sufficiency. This means that paddy rice has not met the needs of the community as food independence in South Tinangkung District in Banggai Islands Regency
PEMANFAATAN DATA SATELIT MODIS UNTUK MENENTUKAN FASE TUMBUH TANAMAN PADI DI KECAMATAN HARAU
AbstractObservation of the growth phase of rice plants generally takes a long time and cannot cover a large area. With remote sensing, the speed and accuracy of information in agricultural management is easier. The use of MODIS satellite image data in remote sensing technology plays a role in determining the growth phase of rice plants by utilizing the vegetation index value of rice plants. The aim of the study was to determine the regression equation and the range of NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) values to predict the growth phase of rice plants in Harau District, Lima Puluh Kota District. Research in the field was carried out based on work maps obtained from the results of the imaging process in ArcGis. The location used as a sample of field observations is Grid 45% which is occupied by rice fields. Regression analysis was carried out to obtain a regression equation between plant age and NDVI values, then a range of values was made based on the rice growing phase. The regression equation used to predict the growth phase of rice plants in Harau District based on the NDVI value is y = -0.0000838932x + 0.0123160507x + 0.2966130658 where x is the age of the plant (days after planting) and y is the NDVI value. The correlation coefficient (r) of the regression equation is 0.966. The range of NDVI values based on the growth phase for Harau District is the Water Phase 0.4722, the Vegetative Phase (1) 0.4722-0.6945; Vegetative phase (2) 0.6945-0.7412; Generative phase (1) 0.7412-0.6363; Generative phase (2) 0.6363-0.5665; Bera 0.5665-0.4799.Keywords:: growth phase; vegetation index; MODIS; NDVIAbstrakPengamatan fase pertumbuhan tanaman padi pada umumnya membutuhkan waktu yang lama dan tidak bisa menjangkau area yang luas. Dengan penginderaan jauh, maka kecepatan dan ketepatan informasi dalam pengelolaan pertanian lebih mudah. Penggunaan data citra satelit MODIS pada teknologi penginderaan jauh berperan dalam menentukan fase tumbuh tanaman padi dengan memnafaatkan nilai indeks vegetasi dari tanaman padi. Tujuan penelitian adalah menentukan persamaan regresi dan rentang nilai NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) untuk memprediksi fase tumbuh tanaman padi di Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Kota. Penelitian di lapangan dilakukan berdasarkan peta kerja yang diperoleh dari hasil proses pencitraan pada ArcGis. Lokasi yang dijadikan sampel observasi lapangan adalah Grid 45% yang ditempati oleh sawah. Analisis regresi dilakukan untuk mendapatkan persamaan regresi antara umur tanaman dan nilai NDVI, kemudian dibuat rentang nilai berdasarkan fase tumbuh padi. Persamaan regresi yang digunakan untuk memprediksi fase tumbuh tanaman padi di Kecamatan Harau adalah y = -0,0000838932x + 0,0123160507x + 0,2966130658 dengan x sebagai umur tanaman (hari setelah tanam) dan y sebagai nilai NDVI. Koefisien korelasi (r) dari persamaan regresi adalah 0,966. Rentang nilai NDVI berdasarkan fase tumbuh untuk Kecamatan Harau adalah Fase Air 0,4722, Fase Vegetatif (1) 0,4722-0,6945; Fase vegetatif (2) 0,6945-0,7412; Fase generatif (1) 0,7412-0,6363; Fase generatif (2) 0,6363-0,5665; Bera 0,5665-0,4799