Rona Teknik Pertanian
Not a member yet
207 research outputs found
Sort by
Potensi Pengembangan Sistem Irigasi Pompa Tenaga Surya untuk Sawah Tadah Hujan di Pulau Simeulue
Abstrak. Teknologi sistem irigasi pompa tenaga surya memiliki prospek yang sangat baik untuk masa depan bidang pertanian khususnya sektor pangan. Teknologi ini sangat murah untuk jangka panjang dan juga sederhana sehingga mudah dibuat dan dimodifikasi oleh siapa saja. Irigasi pompa tenaga surya tidak memerlukan operator untuk mengoperasikannya, hanya diperlukan sekali-kali pengecekan dan pengontrolan. Manfaat utama yang akan didapatkan dari pengembangan teknologi irigasi pompa tenaga surya ini adalah menjaga kelestarian lingkungan hidup karena tidak menghasilkan polusi udara sehingga dapat menekan peningkatan global warming. Teknologi ini termasuk dalam jenis teknologi green energy. Berepara indikator yang perlu diperhatikan dalam pengembangan sistem irigasi tenaga surya, diantaranya: (i) kemiringan yang sesuai untuk sistem irigasi tenaga surya; (ii) radiasi matahari yang sesuai untuk irigasi tenaga surya; (iii) potensi air tanah. Lokasi penelitian ini terletak di Desa Situbok Kecamatan Tepah tengah Kabupaten Simeulue. Hasil pengamatan dan pengukuran menunjukkan bahwa tingkat penyinaran matahari di Desa Situbok rata-rata sebesar 43,75 %.. Disamping itu terdapat pula potensi air tanah dangkal di daerah Situbok dengan kedalaman antara 5 10 meter. Data ini menunjukkan bahwa daerah ini layak untuk pengembangan sistem irigasi tenaga surya
Analisis Sebaran Kadar Air Jagung Selama Proses Pengeringan dalam In-Store Dryer (ISD)
Abstrak. In-Store Dryer (ISD) umumnya digunakan pada proses pengeringan biji-bijian tahap kedua. Sistem pengeringan dan penyimpanan pada ISD memanfaatkan suhu udara lingkungan. Suhu, Aliran udara dan RH merupakan parameter kunci selama proses pengeringan menggunakan ISD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis Sebaran kadar air di dalam ISD selama proses pengeringan. Proses pengeringan tumpukan digunakan untuk menganalisis sebaran kadar air. Kapasitas ISD yang digunakan dalam penelitian ini adalah 7500 kg jagung, dengan dimensi tinggi 3,5 m dan diameter 2,5 m. ISD memiliki 13 pipa aerasi aliran udara, terdiri dari 9 pipa input dan 4 pipa output. Keseluruhan dinding ISD diasumsikan dalam kondisi adiabatik. Validasi kadar air antara simulasi dan pengukuran dilakukan pada kapasitas ISD 1500 kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Simulasi pengeringan tumpukan pada lapisan 10 dan 40 memiliki koefisien korelasi 0,90 dan 0,35 di musim hujan, 0,88 dan 0,84 pada musim kemarau.Analysis of Corn Water Content Distribution during Drying Process inside In-Store Dryer (ISD)Abstract. In-Store Dryer (ISD) is commonly used as second step in drying process of grains. ISD is usually utilized ambient temperature and consist of dryer and storage system. Temperature, air flow and RH are key parameters during drying process using ISD. The objective of this study were to analyze the distribution of water content inside ISD during drying process. Deep bed drying process was used to analyze the distribution of water content. The capacity of ISD used in this study was 7500 kg of corn, with dimensions of 3.5 m in high and 2.5 m in diameter. ISD have 13 aeration pipes of air flow, consist of 9 input pipes and 4 output pipes. All walls of ISD were assumed to be in condition of adiabatic. Validation of water content that simulation with the measurement has been done at capacity of ISD were 1500 kg. The result showed that Deep bed drying simulation of water content at Layer 10 and 40 have coefficient of correlation of 0.90 and 0.35 in rainy season, 0.88 and 0.84 in dry season
Pola Perubahan Penggunaan Lahan Sub Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikujang
Abstrak. Sub Sub DAS Cikujang merupakan salah satu bagian dari Sub DAS Cimanuk hulu yang dapat menyumbang sedimen ke waduk Jatigede yang berasal dari erosi sebagai akibat perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kondisi fisik lahan. Hasil kajian memperlihatkan pola perubahan penggunaan lahan di Sub Sub DAS Cikujang periode 1994-2009, terjadi perubahan penggunaan lahan dari kawasan lindung menjadi kawasan budidaya seluas 742,20 ha. Kawasan lindung pada tahun 1994 seluas 3.213,03 ha menurun menjadi 2.470,83 ha pada tahun 2009 dan kawasan budidaya pada tahun 1994 seluas 9.532,41 ha meningkat menjadi 10.274,61 ha pada tahun 2009 dengan laju perubahan 185,55 ha/tahun. Laju penurunan luasan hutan primer mencapai 54,45 ha/tahun, dan pada tahun 2009 tidak terdapat lagi lahan dengan fungsi sebagai hutan primer. Laju penurunan luasan hutan sekunder mencapai 135,90 ha/tahun dari 2.995,25 ha pada tahun 1994 menjadi 2.451,65 ha pada tahun 2009. Pola perubahan penggunaan lahan di Sub Sub DAS Cikujang sebagian besar dipengaruhi dengan pola perubahan hutan primer dan hutan sekunder pada kawasan lindung. Sedangkan pola perubahan penggunaan lahan pada kawasan budidaya dipengaruhi pola perubahan lahan kebun campuran, tegalan/ladang, perkebunan, dan sawahLand-Use Change Pattern in Cikujang Catchment AreaAbstract. Cikujang catchment area is one part of the subzone Cimanuk that can contribute sediment upstream reservoirs to Jatigede derived from erosion as a result of changes in land use that is not in accordance with the physical condition of the land. Based on analysis result of land-use change pattern in Cikujang catchment area in 1994 2009 period, land-use had changed 742,20ha from protected areas to cultivated areas, where protected area had decreased from 3.213,03ha in 1994 to 2.470,83ha in 2009 and cultivated area had increased from 10.274,61 ha in 1994 to10.274,61 ha in 2009 with changing rate ha/year. The rate of decreasing primary forest area was 54.45ha/year, as a result there was no land function as primary forest in 2009. The rate of decreasing secondary forest area was 135,90ha/year ranging from 2.995,25ha in 1994 to 2.451,65ha in 2009. Land-use change pattern in Cikujang catchment area dominantly was influenced by changing pattern of protected forest and secondary forest in protected area, but in cultivated area land-use change pattern was influenced by changing pattern of farm, grassland, and rice field
Pendugaan Umur Simpan Tepung Biji Durian (Durio Zibethinus) Dengan Menggunakan Persamaan Arrhenius
Abstrak. Suhu merupakan faktor yang berpengaruh terhadap perubahan mutu tepung biji durian. Oleh karena itu dalam menduga kecepatan penurunan mutu selama penyimpanan faktor suhu harus selalu diperhitungkan. Keadaan suhu penyimpanan tetap dari waktu ke waktu maka penurunan mutu cukup dengan menggunakan persamaan arrhenius. Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui pengaruh larutan natrium metabisulfit (Na2S2O5) dan pengukusan terhadap warna tepung biji durian yang dihasilkan, dan menduga umur simpan tepung biji durian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa umur simpan tepung biji durian pada suhu 30 0C tanpa perlakuan =55,70 hari, perlakuan natrium = 61,05 hari, perlakuan pengukusan 10 menit = 53,21, perlakuan pengukusan 20menit = 61,32 hari dan perlakuan pengukusan 30 menit = 44,07 hari. Pada suhu 35 0C tanpa perlakuan =51,82 hari, natrium perlakuan = 53,83 hari, perlakuan pengukusan 10 menit = 48,96 hari, perlakuan pengukusan 20 menit = 63,18 hari dan perlakuan pengukusan 30 menit = 42,59 hari. Pada suhu 40 0C tanpa perlakuan = 50.50 hari, perlakuan natrium = 46.23 hari, perlakuan pengukusan 10 menit = 65,80 hari, perlakuan pengukusan 20 menit = 54,86 hari, dan perlakuan pengukusan 30 menit = 39,40 hari. Suhu 55 0C tanpa perlakuan = 19,83 hari, perlakuan natrium = 22,78 hari, perlakuan pengukusan 10 menit = 18,65 hari, perlakuan pengukusan 20 menit = 26,73 hari, dan perlakuan pengukusan 30 menit = 27,14 hari. Dari penelitian ini didapat lima model yaitu K = 291339554,8 e-6443(1/T),K = 114691,3 e-4025(1/T), K = 35596,4 e-3676(1/T), K = 23155,7 e-3570(1/T), K = 211,6 e-2016(1/T).Estimation Save Life Flour Seeds Durian (Durio zibethinus) Using Arrhenius EquationAbstract. Temperature is a factor affecting the change in the quality of durian seed flour. Therefore the suspect speed deterioration during storage temperature factors should be taken into account. State storage temperature fixed from time to time, the degradation simply by using the Arrhenius equation. The purpose of this study was to determine the effect of sodium metabisulfite (Na2S2O5) and steaming towards color durian seed flour produced, and suspect the shelf life of durian seed flour. The results of this study indicate that the shelf life of durian seed flour at 30 0C without treatment = 55.70 days, sodium treatment = 61.05 days, treatment steaming 10 minutes =53.21, steaming treatment 20 minutes = 61.32 days and steaming treatment 30 minutes = 44.07 days. At a temperature of 35 0C without treatment = 51.82 days, sodium treatment = 53.83 days, treatment steaming 10minutes = 48.96 days, treatment steaming 20 minutes = 63.18 days and steaming treatment 30 minutes =42.59 days. At a temperature of 40 0C = 50,50 days without treatment, treatment of sodium = 46.23 days, treatment steaming 10 minutes = 65,80 days, treatment steaming 20 minutes = 54.86 days, and treatment of steaming 30 minutes = 39.40 days. Temperature 55 0C without treatment = 19.83 days, the treatment of sodium = 22.78 days, treatment steaming 10 minutes = 18.65 days, treatment steaming 20 minutes = 26.73 days, and treatment of steaming 30 minutes = 27.14 days. From this study, obtained five models, namely K =291339554,8 e-6443(1/T), K = 114691.3 e-4025(1/T), K = 35596.4 e-3676(1/T), K = 23155.7 e-3570(1/T), K = 211.6 e-2016(1/T)
Rancang Bangun Pengering Surya Tipe Bak Untuk Biji Kopi
Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah mendesain dan membuat pengering tipe bak dengan sumber panas berasal dari tungku sekam kopi dan kolektor surya untuk pengeringan biji kopi, menguji kinerja dan menghitung konsumsi energi pengeringan alat yang telah dihasilkan dan menghitung biaya pokok pengeringan biji kopi dengan menggunakan alat yang telah dihasilkan. Penelitian ini terdiri dari 3 (lima) tahapan meliputi; (1) rancangan struktural dan fungsional pengering tipe bak, tungku dan kolektor surya, (2) konstruksi alat hasil rancangan, (3)Uji fungsional. Hasil penelitian ini adalah pengering surya tipe bak yang telah berhasil dirancang bangun. Selama 10 hari pengujian, dapat diketahui bahwa pengering dan kolektor surya sudah berfungsi dengan baik. Pengering ini masih banyak dipengaruhi oleh cuaca sehingga penggunaan tungku biomassa sebagai suplemen energi sangat diperlukan. Suhu udara rata-rata pengering atau bak yang dihasilkan berkisar antara 36,2 C sampai 48,6 C, sedangkan kelembaban relatif (RH) berkisar 43,6%-72,6%.Design of Hybrid Dryer With Batch Type for Coffee BeansAbstract. The main aim of this study was to design and develop hybrid dryer in which heat sources are coming from coffee husks furnace and solar collectors used for coffee beans drying. We also tested its performance and calculated the energy consumption produced and total costs required to perform coffee beans drying. The study consisted of three stages; (1) structural and functional design of drying chamber, furnace and solar collector, (2)dryer construction and development, (3) functional test. The overall results of this study showed that solar collector was effectively working properly during the ten days drying. Yet, this developed dryer is still heavily influenced by the weather, and thus the use of biomass as an energy supplement is needed. The average air temperature produced by the dryer ranges between 36.2 oC to 48.6 oC, while the relative humidity (RH) ranging from 43.6% -72.6%
G0 Seed Potential of The Aeroponics Potatoes Seed In The Lowlands With A Root Zone Cooling Into G1 In The Highlands
Abstract. In tropical country likes in Indonesia, potato seeds that originated from temperate zone can only be produced in low temperature of highland. Besides this way has many limitation of productivity, it often causes soil erosion. To minimize environment destroying risk tuber seed production in lowland is a challenge. This research was done to trace that modified root zone cooling method of aerophonic system can be applied to produce high quality of tuber seeds in lowland. The First Generations (G0) of var. Atlantic and var. Granola were used as plant materials, and randomized block design (RBD) with four replications was applied in this research. Data regarding with vegetative as well as tuber production parameters were analyzed using Coefficient of variance (ANOVA) and continued with the least significant difference test (LSD; p = 5%). The results showed that aerophonic generated seeds (G0) had vigorous growth and could produce the normal G1. In term of tuber yield component and number of leaves var. Atlantic showed higher than var. Granola did. The comparison of seed weight between G0 and G1 was about 10 grams and 54 g on average, respectively. Since the size and weight of such G1 could be categorized as Large (L) in term of commercial seed market, Its implied that the lowland modified aerophonic system could be nominated as a prospective method for producing G0 tuber seed in the future.Potensi Bibit G0 Dari Bibit Kentang Aeroponik Di Dataran Rendah Dengan Akar Zona Pendingin Menjadi G1 Di Dataran TinggiAbstrak. Di negara tropis seperti di Indonesia, bibit kentang yang berasal dari zona sedang hanya dapat diproduksi pada suhu rendah di dataran tinggi. Selain itu cara ini memiliki banyak keterbatasan produktivitas dan sering menyebabkan erosi tanah. Meminimalkan resiko dampak kerusakan lingkungan akibat produksi benih umbi di dataran rendah adalah sebuah tantangan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bahwa metode zona akar pendingin sistem aeroponik dapat diterapkan untuk menghasilkan benih umbi kentang kualitas tinggi di dataran rendah. Generasi Pertama (G0) dari var. Atlantik dan var. Granola digunakan sebagai bahan penelitian, dan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan digunakan dalam penelitian ini. Data mengenai vegetatif serta parameter produksi umbi dianalisis menggunakan Koefisien varians (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji BNT (LSD; p = 5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aeroponik biji yang dihasilkan (G0) memiliki pertumbuhan yang kuat dan bisa menghasilkan G1 yang normal. Dari segi produktivitas dan jumlah daun, var. Atlantic menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi serta jumlah daun yang lebih banyak dibandingkan var. Granola. Perbandingan berat biji antara G0 dan G1 adalah rata-rata sekitar 10 gram dan 54 g untuk masing-masing generasi. Ukuran dan berat dari G1 tersebut dapat dikategorikan sebagai ukuran besar dan berpotensi komersial untuk dipasarkan. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sistem aeroponik dataran rendah termodifikasi bisa diterapkan sebagai metode prospektif untuk memproduksi benih umbi kentang G0 di masa depan
Aplikasi Kontrol PI (Proportional Integral) pada Katup Ekspansi Mesin Pendingin
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan proses perancangan dan pembuatan kontrol katup ekspansi otomatis dengan menggunakan sistem kontrol PI, untuk melakukan proses pengontrolan temperatur ruang evaporator agar didapatkan hasil pembekuan yang lebih optimal. Sensor temperatur LM35 digunakan dalam penelitian ini untuk melakukan pembacaan temperatur pada ruang evaporator, yang mana dari hasil pembacaan sensor tersebut digunakan sebagai sinyal masukan untuk sistem kontrol PI. Berdasarkan hasil pengujian sensor LM35 mempunyai sensitivitas pembacaan sebesar 0,009335 V/oC. Unjuk kerja sistem kontrol PI pada penelitian ini didapatkan respon yang baik pada nilai Kp = 20 dan Ki = 10, dimana dengan nilai berikut untuk mencapai temperatur set point waktu yang dibutuhkan selama 251 detik dengan nilai maximum overshoot lebih rendah yaitu -2,4 oC. Hasil pendinginan yang didapatkan pada penelitian ini dengan menggunakan sistem kontrol katup ekspansi otomatis didapat proses pendinginan yang lebih cepat dan energi yang dibutuhkan jauh lebih hemat yaitu sebesar 0,265 kWh.The Application of A Control PI (Proportional Integral) on Expansion Valves Refrigeration MachineAbstract. This research aim to do design process and making control valve expansion automatic by using control system PI, which then applied on refrigerator plates touch to perform the process of control freezing temperatures. Censor temperature LM35 used in this research to do reading the temperature at evaporator room, of results reading sensors is used as input signal to control system PI. Based on the test result of testing censor LM35 have the sensitivity reading of almost accordance with the datav sheet is as much as 0,009335 V/oC. Were control sistem works PI the research this obtained response good to value center Kp = 20 and Ki =10. In which value, to reach set temperature point , the time it takes 251 seconds by value maximum overshoot point lower then -2.4C. The result of this research shows that using, control system valve expansion automatic obtained the process of cooling faster and the energy needed is more efficient, is a much as 0.265 kWh
Paddy Field Conversion in Malaysia : Issues and Challenges
Abstract. The diminishing of paddy field due to land use conversion to non-agricultural or non-paddy agricultural purpose is a serious threat to national food security prospect. This present study intends to explain the phenomena of diminishing paddy field range in Malaysia. This is a descriptive correlation study. The result of the study found that the size of paddy field in Peninsular Malaysia either according to the state or the granary area was diminished. According to the state, the size of paddy field has reduced by 88,321 ha (22.17%) in the last 15 years or equivalent to 1.49% per year. Whereas, according to granary area, the size of the paddy field has reduced by 10,790 ha (5.10%) or equivalent to 0.34% per year. The diminishing of the size of the paddy field indicates a significant correlation to the national paddy production. In the meantime, the population growth is expected to increase whilst productivity expands slowly. The government needs to emphassion this matter to attain the goal of food security.Konversi Lahan Sawah di Malaysia : Isu dan TantanganAbstrak. Berkurangnya lahan sawah karena konversi penggunaan tanah ke non-pertanian atau tujuan lain yang bukan lahan padi merupakan ancaman serius bagi prospek ketahanan pangan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena berkurangnya lahan sawah di Malaysia. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ukuran sawah di Peninsular Malaysia juga daerah lainnya atau lokasi pusat padi/lumbung juga berkurang. Berdasarkan data nasional penurunan luas lahan sebesar 88,321 ha (22,17 %) untuk 15 tahun terakhir atau setara dengan 1,49 % per tahun. Sedangkan pada daerah lumbung, luas sawah telah mengalami pengurangan sebesar 10,790 ha (5.10 %) atau setara dengan 0,34 % per tahun. Berkurangnya lahan sawah ini terindikasi adanya korelasi yang signifikan untuk kondisi produksi padi secara nasional. Sementara itu , pertumbuhan penduduk diperkirakan terus meningkat pada saat produktivitas padi mengalami pertumbuhan dengan lambat. Pemerintah perlu mengendalikan hal ini untuk mencapai tujuan ketahanan pangan nasionalnya
Pemanfaatan Limbah Daun Kelapa Sawit sebagai Bahan Baku Pupuk Kompos
Abstrak. Limbah padat pada perkebunan kelapa sawit telah diketahui potensial sebagai bahan baku pupuk organik padat melalui proses pengomposan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan teknik dan mengkarakterisasi proses pengomposan limbah daun kelapa sawit sebagai bahan dasar pupuk organik potensial. Proses pengomposan dilakukan dengan dua faktor perlakuan, meliputi komposisi bahan katalisator kompos (Bokashi, Vermikompos dan Natural) dan ukuran cacahan daun sawit (2 cm, 4 cm 6 cm). Parameter yang diamati meliputi persentase penyusutan massa dan fluktuasi perubahan suhu selama proses pengomposan, serta pengukuran zat hara Nitrogen, Phospor, Kalium (NPK) dan rasio C/N yang terkandung pada hasil pengomposan yang diukur setelah 10 dan 14 minggu proses pengomposan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengomposan dengan bokashi memberikan penyusutan massa terbesar jika dibandingkan dua metode lainnya pada semua ukuran cacahan yaitu sebesar 32%. Cacahan daun sawit yang berukuran kecil cenderung memberikan proses pengomposan yang lebih cepat dan memberikan produk kompos yang lebih baik. Hasil pengukuran setelah proses pengomposan menunjukkan bahwa interaksi dua faktor perlakuan yang diberikan hanya berpengaruh signifikan pada rasio C/N dan tidak signifikan pada zat hara NPK.Utilization of Waste Palm Leaves as Raw Material Palm CompostAbstract. The use of oil palm plantation solid waste, particularly oil palm leaf as organic compost raw material are now receiving greater attention by researchers, but have not been fully utilized on large scale, either agriculturally or industrially. The aim of present study was to characterize composting process with oil palm leaf as raw material. The research of composting conducted with two combination of composting factor, namely: composting starter composition (i.e. Bokashi, vermi-compost and natural composting) and piece of frond dimension (2 cm, 4 cm, 6 cm). The percentage of mass reduction and temperature fluctuation during composting process were measured. The NPK compound and C/N ratio measurement were conducted after composting process which are 10 and 14 weeks. The result indicates that Bokashi starter composition gives higher percentage of mass reduction on all variant of piece of frond dimension. Results also showed that smaller piece of frond enable the composting process quicker and had better result. Statistical analysis reveals that combination of composting factors have significant effect on C/N ratio but insignificant on NPK
Dampak Perubahan Iklim Terhadap Debit Andalan Sungai Krueng Aceh
Abstrak. Perubahan iklim yang menyebabkan perubahan karakteristik curah hujan berdampak pada aliran sungai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dampak perubahan iklim terhadap debit andalan. Data-data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data klimatologi dan hidrologi yang semuanya dikumpulkan dari stasiun-stasiun yang ada dalam wilayah penelitian yaitu DAS Krueng Aceh. Model kesetimbangan air variable infiltration capacity digunakan dalam penelitian ini untuk menghitung debit sungai harian berdasarkan data curah hujan dan evapotranspirasi harian. Hasil analisa menunjukkan bahwa suhu udara tahunan rata-rata DAS Krueng Aceh telah mengalami peningkatan yang drastis sebesar 0,6C sejak tahun 2001. Perubahan tersebut juga diikuti dengan adanya tren peningkatan curah hujan (22%) pada bulan-bulan basah (November-Januari) serta penurunan curah hujan (26%) pada bulan-bulan kering (Mei-Agustus). Dampak dari perubahan iklim tersebut adalah terjadinya penurunan debit sungai Krueng Aceh yang ditandai semakin meningkatnya kemungkinan debit aliran lebih kecil dari 18,77 m3/s dan menurunkan debit andalan terutama pada periode April-Desember sebesar 23,5%.Impact of Climate Change on Dependable Discharge in the Krueng Aceh RiverAbstract. Climate changes altering precipitation characteristic bring impact on streamflow. This research aims to analyze impact of climate changes on dependable discharge. Climatological and hydrological data were collected from stations within Krueng Aceh Watershed. Variable infiltration capacity water balance model was applied to calculate daily streamflow base on daily precipitation and evapotranspiration. The results suggested that annual air temperature of Krueng Aceh Watershed has been squally increasing 0.6C since 2001. The changes were also detected on monthly precipitation i.e. a 22% increase in wet period (November-January) and a 26% decrease in dry period (Mei-August). The changes have impacted the Krueng Aceh River flow by increasing possibility of flow lower than 18.77m3/s and decreasing dependable discharge by 23.5% for period of April-December