Rona Teknik Pertanian
Not a member yet
207 research outputs found
Sort by
Kajian Dampak Lingkungan Terhadap Kegiatan Rekonstruksi Sarana dan Prasarana Pasar Tugu Kota Depok
Abstrak. Dinas Perumahan dan Permukiman, Kota Depok berencana melakukan rekonstruksi bangunan Pasar Tugu untuk meningkatkan sarana dan prasarana dibidang perekonomian. Kegiatan tersebut akan memiliki dampak lingkungan dan sosial bagi masyarakat sehingga diperlukan kajian dampak lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi lingkungan rona awal di lokasi penelitian dan untuk mendapatkan hasil analisis kajian dampak lingkungan dan cara penanggulangan dalam meminimalisasi dampak yang terjadi pada saat tahap pra konstruksi, tahap konstruksi, dan tahap operasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Hasil dari penelitian ini adalah kondisi rona awal lingkungan pada lokasi penelitian menunjukkan bahwa kualitas lingkungan di lokasi penelitian dalam kategori baik, baik dari segi komponen kualitas udara ambien dan kebisingan maupun komponen kualitas air tanah dan pada setiap kegiatan mulai dari tahap pra konstruksi, konstruksi, hingga tahap operasi, masing-masing tahap memiliki dampak positif dan dampak negatif terhadap lingkungan. Dampak negatif yang terjadi dapat diminimalkan dengan melakukan pengelolaan lingkungan yang baik pada setiap tahapan kegiatan dimulai dari tahap pra konstruksi hingga tahap operasi agar terciptanya suatu konstruksi yang ramah lingkungan.Environmental Impact Assessment on the Reconstruction of Facilities and Infrastructure for Pasar Tugu, Depok CityAbstract. Department of Housing and Settlements, Depok City plans to reconstruct the Pasar Tugu building, Depok City to improve facilities and infrastructure in the economic sector. These activities will have environmental and social impacts on the community so an environmental impact study is needed. The purpose of this study is to know the environmental baseline conditions at the research location and to obtain the results of environmental impact analysis and countermeasures in minimizing the impacts that occur during the pre-construction, construction, and operation stages. The method used in this research is a survey method. The results of this study are the environmental baseline conditions at the research location indicate that the environmental quality at the research location is in a good category in terms of the ambient air quality and noise components and groundwater quality components and in every activity starting from the pre-construction stage, construction, to the operation stage, each stage has a positive impact and a negative impact on the environment. The negative impacts that occur can reduce good environmental management at every stage of the activity starting from the construction stage to the operation stage in order to make an environmentally friendly construction
Pemanfaatan Daun Biduri (Calotropis Gigantea) Sebagai Perekat Pada Pembuatan Briket Serbuk Gergaji Kayu Bayur (Pterospermum Javanicum)
Abstrak. Kayu bayur banyak digunakan untuk pembuatan bahan baku furnitur yang menghasilkan limbah serbuk gergaji. Kayu bayur memiliki nilai kalor sebesar 4.452,01 kal/gr, kadar abu 1,04% dan kadar air 19,29%. Serbuk gergaji kayu bayur ini sangat berpotensi digunakan sebagai bahan pembuatan briket dengan penambahan perekat. Bahan yang bisa digunakan sebagai pengganti perekat tepung tapioka adalah daun tanaman biduri. Tanaman biduri memiliki kandungan kimia seperti selulosa, pentosan sebagai hemiselulosa, lignin, abu, tanin 9,1mg/g dan pektin 55%. Pembuatan briket dengan perekat daun biduri bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh berbagai variasi perekat, dan bagaimana karakteristik briket yang dihasilkan. Penelitian yang telah dilakukan mendapatkan hasil bahwa dari variasi kadar perekat 35%, 40%, dan 45% pada briket terbaik yaitu pada variasi ke BB3 diaman 55% (30 g) arang serbuk gergaji kayu bayur dengan 45% (24,5 g) perekat daun biduri dan karakteristiknya mencapai nilai SNI briket No.1/6235/2000. Pada perlakuan ini nilai yang diperoleh yaitu untuk kadar air 1,8%, kadar abu 7,42%, densitas 0,4235 g/cm3, nilai kalor 5.069,589 kal/g, dan uji tekan 4,0538 kg/cm2.The Use of Leaves Biduri (Calotropis Gigantea) as Adhesives to Making Briquettes Sawdust Wood Bayur (Pterospermum Javanicum)Abstract. Bayur wood is widely used for manufacturing furniture raw materials that produce sawdust waste. Bayur wood has a calorific value of 4,452.01 cal/g, ash content of 1.04% and a moisture content of 19.29%. This bayur wood sawdust is very potential to be used as a briquette making material by adding adhesive to the briquetting process. Material that can be used as a substitute for tapioca flour adhesive is the leaves of the biduri plant. Betell plants have chemical properties like cellulose, pentatosan as hemicellulose, lignin, as, tannin 9.1 mg/g and pectin 55%. The making of briquettes with biduri leaf adhesive aims to find out how the influence of various variation of the adhesive, and how the characteristics of the briquettes produced. The research that has been carried out shows that the variation of 35%, 40%, and 45% adhesive content in the best briquettes is in the variation to BB3 where 55% (30 g) chacrcoal of sawdust with 45% (24.5 g) of adhesive biduri leaves and their characteristics reach to SNI briquettes No.1/6235/2000. In this treatment the values obtained are for water content of 1.8%, ash content of 7.42%, density 0.4235 g/cm3, calorific value of 5,069.589 cal/g, and pressure test of 4.0538 kg/cm2
Kajian Perubahan Garis Pantai Muara Gembong, Bekasi
Abstrak. Secara geografis, wilayah Pesisir Muara Gembong berbatasan secara langsung dengan Laut Jawa sehingga sangat rentan tehadap bencana abrasi yang serius dan perlu untuk dilakukan pemantauan secara kontinu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui luasan abrasi yang terjadi dan mendapatkan alternatif penanggulangan abrasi di lokasi penelitian. Penelitian ini menggunakan metode tumpang tindih (overlay) citra satelit Landsat tahun 2012 dan tahun 2020 dengan menggunakan program ER Mapper untuk memperbaiki kualitas citra sebelum diolah selanjutnya dan program ArcGIS untuk tumpang tindih (overlay) citra serta prediksi perubahan garis pantai untuk tahun 2030 menggunakan program GENESIS. Penelitian dilakukan pada bulan Februari Juli tahun 2020 di Pantai Muara Gembong, Bekasi. Hasil tumpang tindih Citra Landsat tahun 2012 dan tahun 2020 menunjukkan bahwa luasan abrasi di Muara Gembong adalah 252.071,71 m2. Tinggi muka air laut rata-rata adalah 0,60 m dengan surut terendah 0,49 m dan pasang tertinggi 0,62 m. Berdasarkan hasil analisis pasang surut maka dapat diketahui tinggi rencana bangunan pantai yang akan dibangun yaitu 2,87 m. Berdasarkan hasil simulasi yang dilakukan maka bangunan pantai yang tepat untuk mengatasi persoalan abrasi yang terjadi di lokasi penelitian adalah breakwater.Coastline Change Study in Muara Gembong, BekasiAbstract. Geographically, the Muara Gembong Coastal area is directly bordering to the Java Sea, so it is very vulnerable to serious abrasion disasters and it is necessary to carry out monitoring continuously. The aim of this research is to determine the extent of abrasion that occurs and to find alternatives to abrasion control at the research location. This research using the overlay method of Landsat imagery in 2012 and 2020 using the ER Mapper program to improve image quality before further processing and the ArcGIS program to overlay images and predict changes in coastlines for 2030 using the GENESIS program. The research was conducted in February - July 2020 at Muara Gembong Beach, Bekasi. The overlay results of Landsat imagery in 2012 and 2020 show that the area of abrasion in Muara Gembong is 252,071.71 m2. The mean sea level is 0.60 m with the lowest tide is 0.49 m and the highest tide is 0.62 m. Based on the results of the tidal analysis, it can be seen that the planned height of the coastal buildings to be built is 2.87 m. Based on the results of the simulations carried out, the beach protection building suitable for abrasion problems at the study location is the breakwater
Analisis Kriteria Kesesuaian Lahan terhadap Mutu Fisik Kakao di Kabupaten Aceh Besar
Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelas kesesuaian lahan kakao pada lokasi pengembangan kakao di Kabupaten Aceh Besar, mengetahui faktor-faktor penentu tinggi rendahnya produktifitas dan kualitas biji kakao, serta untuk mengetahui hubungan antara karakteristik lahan dengan produktifitas dan kualitas biji kakao pada lokasi pengembangan kakao di Kabupaten Aceh Besar. Metode survei dengan analisis deskriptif digunakan untuk memperoleh karakteristik lahan, penampilan tanaman kakao dan tingkat pengelolaan, kemudian contoh tanah dianalisis dilaboratorium yang diperoleh dari masing-masing tapak pengamatan. Tapak pengamatan dibuat berdasarkan ketinggian tempat dan kemirigan lereng. Setelah karakteristik lahan diperoleh dari masing-masing tapak pengamatan maka dilakukan proses pencocokan dengan persyaratan tumbuh tanaman kakao metode klasifikasi kesesuaian lahan yang disusun oleh PPKKI. Karakteristik lahan yang berkorelasi nyata dengan komponen produksi dan kualitas biji kakao diperoleh dari hasil analisis korelasi antara karakteristik lahan dan karakteristik produksi serta kualitas biji kakao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelas kesesuaian lahan yang sejalan dengan produksi dan mutu fisik biji kakao di Kabupaten Aceh Besar sangat sesuai (S1) untuk tapak pengamatan E1S1, E1S2, dan E1S3, kelas S2t pada tapak pengamatan E2S3, dan sesuai marginal (S3) pada tapak pengamatan E2S1, E2S2, E3S1, E3S2, dan E3S3 dengan faktor pembatas tekstur dan ketinggian tempat.Analysis of Land Suitability Criteria for Physical Quality of Cocoa in Aceh Besar RegencyAbstract. The purpose of the research was to determine the suitability of cocoa land at the location of cocoa development in Aceh Besar Regency, determine the determinants of high and low productivity and quality of cocoa beans, and to determine the relationship between land characteristics with the productivity and quality of cocoa beans at cocoa development locations in Aceh Besar Regency. The survey method with descriptive analysis was used to obtain the characteristics of the land, the appearance of the cocoa plant and the level of management, then soil samples were analyzed in the laboratory obtained from each observation site. The site of observation is based on the height of the place and the slope of the slope. After the land characteristics are obtained from each observation site, a matching process is carried out with the requirements for growing cocoa plants, the land suitability classification method compiled by PPKKI. Land characteristics that correlated significantly with the components of production and quality of cocoa beans are obtained from the results of correlation analysis between land characteristics and production characteristics and quality of cocoa beans. The results showed that the land suitability class that was in line with the production and physical quality of cocoa beans in Aceh Besar Regency was very suitable (S1) for the observation sites E1S1, E1S2, and E1S3, S2t class in the E2S3 observation site, and according to marginal (S3) on the site observations of E2S1, E2S2, E3S1, E3S2, and E3S3 with texture limiting factors and altitude
Unjuk Kerja Pengering Tenaga Surya Tipe Efek Rumah Kaca Untuk Pengeringan Cabai Dengan Perlakuan Low Temperature Long Time Blanching
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menguji unjuk kerja pengering tenaga surya tipe efek rumah kaca pada pengeringan cabai dengan perlakuan low temperature long time (LTLT) blanching. Selain itu, pada penelitian ini juga dilakukan kajian mengenai karakteristik pengeringan cabai yang dipengaruhi oleh perlakuan LTLT blanching, terutama pada kadar air, laju pengeringan, kecepatan pengeringan, dan kualitas warna. Pengujian dilakukan dengan cara mengeringkan cabai merah dengan pretreatment LTLT blanching yang dikombinasikan dengan perlakuan merotasikan rak pengering (R) dan tanpa merotasikan rak pengering (TR). Sebagai kontrol adalah cabai yang dikeringkan tanpa blanching dan tanpa merotasikan rak pengering (K). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan LTLT blanching yang dikombinasikan dengan merotasikan rak pengering (R) merupakan perlakuan yang terbaik, dengan kadar air akhir cabai kering sebesar 9,82% dan sesuai dengan standar SNI. Waktu pengeringan yang dibutuhkan adalah selama 5 hari. Warna cabai kering yang dihasilkan adalah yang terbaik dari dua perlakuan lainnya, dengan nilai L*, a*, dan b* untuk setelah proses LTLT blanching (sebelum proses pengeringan) dan setelah pengeringan berakhir (cabai kering) berturut-turut adalah 36,02, 38,22, 13,62, dan 32,44, 33,89, dan 10,19. Energi yang terpakai untuk pengeringan cabai adalah sebesar 596181 kJ. Perlakuan R ini juga menghasilkan efisiensi pengeringan terbaik, yaitu sebesar 34,01%.Performance of Green House Effect Type Solar Dryer in the Chillies Drying with Low Temperature Long Time Blanching TreatmentAbstract. This study aims to examine the performance of the greenhouse effect type solar dryer on drying chillies with low temperature long time (LTLT) blanching treatment. In addition, a study was also conducted on the characteristics of drying chillies and the final product affected by LTLT blanching treatment, especially in terms of moisture content, drying rate, drying speed, and color. Testing was performed by drying red chilli with LTLT blanching treatment, which was combined with the treatment of rotating dryer rack (R) and without rotating dryer rack (TR). As a control, chillies were dried without blanching treatment and without rotating dryer rack (K). The results show that the LTLT blanching treatment combined with rotating the drying rack (R) is the best treatment, with a final moisture content of 9.82% which is in accordance with SNI standards. The drying time needed is 5 days. The dried chilli color produced is the best of the other treatments, with values of L*, a*, and b* for after the LTLT blanching process and after drying ended, respectively 36.02, 38.22, 13.62, and 32.44, 33.89, 10.19. The energy used for drying chillies is 596181 kJ. This R treatment also produces the best drying efficiency, which is 34.01%
Studi Perbandingan Perilaku Dalam Reaktor Kolom Gelembung Secara Non-Katalitik Dengan Simulasi CFD Terhadap Kadar ME Biodiesel
Abstrak. Biodiesel dihasilkan melalui reaksi transesterifikasi atau reaksi esterifikasi asam lemak bebas dan tergantung dari kualitas minyak nabati yang digunakan sebagai bahan baku. Teknologi produksi biodiesel memiliki 2 metode yaitu metode katalis dan non katalis. Salah satu metoda produksi biodiesel tanpa katalis adalah metoda superheated methanol vapor (SMV). Namun metode inimenghasilkan kadar biodiesel yang rendah dari SNI. Salah satu cara untuk meningkatkan kadar biodiesel dengan meningkatkan luas kontak permukaan antara gelembung metanol dengan minyak. Hal ini dilakukan dengan memberikan perforated plate (obstacle) di dalam kolom reaktor. Perancangan desain obstacle sangat mempengaruhi luas kontak permukaan antara metanol uap dan minyak. Beberapa jenis obstacle yang dirancang di simulasikan dengan metode Computational Fluid Dynamics (CFD), karena CFD dapat menggambarkan distribusi gelembung di dalam kolom reaktor, sehingga pembuatan obstacle dapat lebih tepat dan memudahkan menganalisa perilaku gelembung di dalam kolom reaktor. Hasil simulasi di-dapatkan luas kontak permukaan yang tertinggi menunjukkan desain obstacle A-4 dengan nilai sebesar 0.013635 m2/det. Namun kadar metil ester pada obstacle tersebut masih rendah dibandingkan dengan SNI yaitu sebesar 67.73% (w/w). Untuk kadar metil ester yang mendekati SNI adalah obstacle D-4 yaitu 94.55 % (w/w).Comparative Study Of Behavior In Non-Catalytic Bullet Column Reactors With CFD Simulation on Content me biodieselAbstract. Biodiesel is produced through transesterification reaction triglycerides or esterification of free fatty acids depending on the FFA content of the feedstock. The reaction normally requires a catalyst, even though the non-catalytic reaction has attracted significant attention recently. One of the non-catalytic method by using superheated methanol vapor (SMV). However, this method still has a low reaction rate and thereby needs to be improved by increasing the surface contact area between methanol vapor and oil. In this study, the utilization of a perforated plate (obstacle) in the reactor column was studied using computational fluid dynamics (CFD). Several types of obstacles were designed and their influence on the reaction rate was evaluated through CFD simulation. The result shows that obstacle design A4 gave the highest contact surface (0.013635 m2/s), even though methyl ester concentration in the reaction product is still low (67.73 %w/w). For methyl esters which are close to SNI is design obstacle D-4, which is 94.55 %(w/w)
Uji kinerja Alat Pengering Ikan Tipe Green-House Effect (GHE) Vent Dryer
Abstrak. Diantara permasalahan yang dihadapi oleh sektor usaha perikanan ialah belum efisiennya teknis pengelolaan dan tidak stabilnya kontinuitas produksi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya sarana prasarana untuk mengolah ikan serta sistem pemasaran ikan segar yang masih konvensional, sehingga cepat membusuk apabila tidak diolah lebih lanjut. Penanganan dan pengolahan yang cepat dan tepat diperlukan untuk mengurangi resiko pembusukan dan dapat meningkatkan nilai jual hingga sampai kepada konsumen. Salah satu teknologi untuk meningkatkan masa simpan ikan ialah dengan cara proses pengeringan. Sebuah alat pengering ikan Green-House Effect (GHE) telah dikembangkan. Pengujian dan analisis alat pengering untuk ikan tersebut disajikan dalam makalah ini. Pengering surya ini menambahkan ventilator berupa exhaust fan guna memaksimalkan proses sirkulasi udara di dalam ruang pengeringan. Parameter yang diukur dalam pengujian ini adalah distribusi suhu, kelembaban relatif, iradiasi dan pengukuran kecepatan udara. Hasil penelitian menunjukan bahwa temperatur di dalam ruang pengering terlihat lebih tinggi yaitu 67C dibandingkan dengan temperatur di lingkungan karena sifat absorber yang mampu menyerap panas. Sementara itu kelembaban relatif di dalam ruang pengering lebih rendah jika dibandingkan dengan kelembaban di lingkungan yaitu sebesar 30,1%. Nilai iradiasi surya yang diperoleh sangat berfluktuasi dengan nilai tertinggi adalah sebesar 180,6 W/m2. Kecepatan udara di dalam ruang pengering surya lebih stabil dibandingkan dengan kecepatan udara lingkungan karena adanya penambahan ventilator berupa exhaust fan. Hal inilah yang menyebabkan proses pengeringan menjadi lebih cepat.Performance of Green House Effect (GHE) Vent Dryer for Fish DryingAbstract. The problems that occur in the fishery business sector are inefficient and unstable continuity of production. The reasons for this include the lack of infrastructure for processing fish and also the very limited marketing of fresh fish due to its fast-rotting nature if not further processed. Fast and precise handling and processing are needed to reduce the risk of spoilage. One of the technologies to increase the shelf life of fish is the drying process. A greenhouse effect vent dryer type fish dryer has been developed. The testing and analysis of the dryer for these fish are presented in this paper. This solar dryer adds a ventilator in the form of an exhaust fan to maximize air circulation in the drying chamber. The parameters measured in this test are temperature distribution, relative humidity distribution, solar irradiation, and air velocity measurement. The results show that the temperature in the drying chamber is 67 C higher than the temperature in the environment due to the nature of the absorber which can absorb heat. Meanwhile, the relative humidity in the drying chamber was lower than the humidity in the environment, which was 30.1%. The value of solar irradiation obtained fluctuates where the highest irradiation is 180.6 W / m2. The air velocity in the solar dryer is more stable than the ambient airspeed due to the addition of a ventilator in the form of an exhaust fan. This causes the drying process to take place faster
Analisis Regresi Untuk Evaluasi Mutu Jeruk Selama Penyimpanan Berdasarkan Fitur Citra Digital
Abstrak. Buah jeruk mudah mengalami penurunan mutu selama penyimpanan. Pengetahuan tentang perubahan mutu jeruk perlu diketahui karena menjadi faktor yang mempengaruhi proses penanganan selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan karakteristik fisik, mekanik, kimia dan optik buah jeruk selama penyimpanan pada suhu ruang serta mengetahui korelasi kualitas buah jeruk dengan fitur citranya menggunakan analisis regresi. Sebanyak 135 sampel jeruk disimpan pada suhu ruang (25-27 oC) selama 40 hari. Buah jeruk ditangkap citranya menggunakan webcam kemudian diukur karakteristik fisik (bobot dan diameter), mekanik (kekerasan dan koefisien gesek), dan kimia (total padatan terlarut). Fitur citra yang dianalisis adalah area citra biner, warna RGB, warna HSV, warna CIE-Lab, warna abu-abu dan fitur tekstur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa area citra biner memiliki korelasi yang kuat terhadap bobot dan diameter buah jeruk dengan koefisien determinasi (R2) masing-masing sebesar 0,8285 dan 0,8282. Kekerasan dan koefisien gesek statis buah jeruk mempunyai korelasi yang rendah terhadap fitur citra abu-abu. Total padatan terlarut jeruk yang disimpan pada suhu ruang mempunyai korelasi yang cukup kuat dengan rata-rata nilai Hue dengan R2= 0,7473 dan rata-rata nilai kroma a* dengan R2= 0,7029. Analisis warna dengan teknik pengolahan citra dapat diaplikasikan untuk menduga beberapa karakteristik mutu buah jeruk.Regression Analysis for Orange Quality Evaluation during Storage Based on Image Color FeaturesAbstract. Orange fruits can easily deteriorate during storage. Information about quality changes of orange fruits is essential to figure out since it can be a key factor that will affect further fruit handlings. This research aimed to identify the changes of physical, mechanical, chemical and optical properties of orange during storage at room temperature as well as to discover the correlation between orange quality and image features by means of regression analysis. A sample size of 135 oranges was stored in a room temperature (25-27 oC) for 40 days. Each orange was captured its image using a webcam and was subsequently measured its physical, mechanical and chemical characteristics, i.e. weight, diameter, hardness, static friction coefficient, and total soluble solids (TSS). Several image features, i.e. binary area, RGB color, HSV color, CIE-Lab color, gray value, and texture features, were then measured. The results showed that there was a high correlation between fruit weight and diameter and binary area with R2 = 0.8285 and R2 = 0.8282, respectively. On the other hand, color values had low correlation with fruit hardness and static friction coefficient. Likewise the physical properties, the chemical properties of orange fruit had a relatively strong correlation with image color. Based on the experiments, the R2 values of the correlation between hue value of HSV color model and a* component of CIE-Lab color and orange TSS were 0.7473 and 0.7029, respectively. Color analysis with image processing technique can be applied to estimate several orange properties
Analisis Neraca Air dan Kebutuhan Air Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Berdasarkan Fase Pertumbuhan Di Kota Tarakan
Abstrak. Salah satu upaya peningkatan produktivitas tanaman jagung adalah penyediaan air yang cukup untuk pertumbuhan tanaman. Tanaman jagung sangat membutuhkan air dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Ketepatan pemberian air sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman jagung sangat berpengaruh terhadap produksi. Kelebihan dan kekurangan air akan mengakibatkan tanaman jagung mengalami penurunan dalam proses pertumbuhan dan produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis neraca air dan kebutuhan air pada tanaman jagung berdasarkan fase pertumbuhan di wilayah Kota Tarakan. Penelitian ini dibagi dalam beberapa tahapan yaitu pengumpulan data iklim bulanan periode 2008-2017, analisis neraca air dengan metode Thornthwaite-Mather, dan analisis kebutuhan air tanaman jagung berdasarkan fase pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Wilayah Kota Tarakan memiliki curah hujan andalan 3497,68 mm/tahun. (2) Total surplus 2997,84 mm/tahun, limpasan 1630,31 mm/tahun, dan pengisian air tanah 1367,53 mm/tahun. (3) Selama satu periode penanaman tanaman jagung rata-rata membutuhkan air sebesar 256,55 mm. (4) Total evapotranspirasi tanaman jagung selama 4 periode penanaman sebesar 1026.18 mm/tahun dan memiliki ketersediaan air yang sangat cukup serta setiap bulannya memiliki nilai surplus sepanjang tahun.Analysis of Water Balance and Crop Water Requirements of Corn (Zea mays L.) Based on Growth Phases in Tarakan CityAbstract. The effort to increase the productivity of corn plants is the provision of sufficient water for plant growth. Corn is a plant that needs water for the process of growth and development. The accuracy of the water supply following the growth phase of corn plants is very influential in production. Excess and deficiency of water will cause corn plants to decrease in the process of growth and production. This study aims to analyze the water balance and crop water requirements in corn-based on the growth phase in the City of Tarakan. This research was divided into several stages, namely the collection of monthly climate data for the period 2008-2017, analysis of water balance by using Thornthwaite-Mather method, and analysis of corn crop water requirements based on the growth phase. The results showed that (1) the Tarakan City area had a rainfall of 3497.68 mm/year. (2) The rainfall surplus is 2997.84 mm/year, runoff 1630.31 mm/year, and groundwater recharge 1367.53 mm/year. (3) During the one planting period, corn plants require an average of 256.55 mm of water. (4) The consumptive use (ETc) of corn plants during the 4 planting periods is 1026.18 mm/year and has a very adequate water supply and every month has more value throughout the year
Pengaruh Pemberian Bahan Organik Dan Kapur Terhadap Kapasitas Kerja Dan Efisiensi Traktor Pada Lahan Kering
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bahan organik dan kapur berbagai dosis terhadap kapasitas kerja dan efisiensi traktor pada lahan kering. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari 2 (dua) faktor yaitu bahan organik pada taraf 0, 6, dan 12 ton/ha sedangkan kapur pada taraf 0, 0,8 dan 1,6 ton/ha dengan 3 (tiga) kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan bahan organik 12 ton/ha menghasilkan kapasitas lapang, efisiensi lebih tinggi serta slip roda dan kebisingan traktor yang lebih rendah dibandingkan dengan tanpa pemberian bahan organik.The Influence Of Organic And Lime Materials On Working Capacity And Efficiency Of Tractors In Dry Land Abstract. This study aims to determine the effect of giving organic material and various doses of lime on the working capacity and efficiency of tractors on dry land. This study used a factorial randomized block design (RCBD) consisting of 2 (two) factors, namely organic matter at levels 0, 6, and 12 tons/ha while lime at levels 0, 0.8 and 1.6 tons/ha with 3 (three) repetitions. The results showed that the treatment of 12 tons/ha of organic material resulted in roomy capacity, higher efficiency and lower wheel slip and tractor noise compared to without the provision of organic material