SELONDING
Not a member yet
140 research outputs found
Sort by
FUNGSI MUSIK ONDEL-ONDEL GRUP WIBAWA SAKTI DI DESA KEBON KOPI KABUPATEN BEKASI JAWA BARAT
Musik Ondel-ondel adalah sebuah kesenian tradisional masyarakat Betawi yang digunakan untuk mengiringi Ondel-ondel dalam kegiatan berkesenian khususnya di masyarakat Betawi. Seiring dengan perkembangan zaman saat ini keberadaannya tersebar di wilayah DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Instrumen yang digunakan biasanya menggunakan mp3 dan Instrumen tradisional seperti Tehyan, Kendang Tepak, Gong, Kempul dan satu buah gerobak kayu yang digunakan untuk menyimpan alat pengeras suara. Tetapi Grup kesenian Ondel-ondel Wibawa Sakti yang bermarkas di jalan Kyai Haji Fudholih, Desa Kebon Kopi, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. tetap mempertahankan instrumen Betawi. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif pendekatan etnomusikologi dan sosiologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa musik Grup Wibawa Sakti masih mempertahankan karakteristik tradisional ditengah masyarakat yang sudah ketergantungan dengan moderenisasi. Melalui Grup Wibawa Sakti kesenian Ondel-ondel menjadi media yang berfungsi sebagai perekonomian dan membuktikan bahwa fungsi Ondel-ondel sudah tidak lagi sebatas ritual saja tetapi sudah masuk ke wilayah ekonomi. Bentuk penyajian musik Ondel-ondel Grup Wibawa Sakti menggunakan instrumen tradisional tradisi
TILO MANURUNG: REPRESENTASI CERITA MASYARAKAT SUKU BUOL SULAWESI TENGAH PADA KOMPOSISI MUSIK ETNIS SIRITANO SINDA
Komposisi Siritano Sinda merupakan bentuk representasi dari sebuah mitos yang ada di Sulawesi Tengah. Siritano Sinda diartikan sebagai cerita tentang cinta dalam pejalanan hidup Lilimbuta dan Lilimbuto yang disebut Tilo Manurung dari proses lahirnya melalui bambu kuning sebagai perantaranya, mendapatkan tindak rasis dari masyarakat hingga mereka malarikan diri dan berikrar cinta. Berdasarkan pengamatan pengkarya, kisah tentang Tilo Manurung sangat penting untuk dipublikasikan sebagai pengetahuan budaya, serta menjadi contoh kepada khalayak betapa pentingnya untuk mempertahankan identitas dari sebuah budaya yang sangat minim diketahui oleh para generasi penerus. Dalam hal ini, gagasan utama dalam karya musik etnis yang berjudul Siritano Sinda adalah bagaimana mewujudkan ide atau gagasan yang mengacu pada kisah perjalanan cinta Lilimbuta dan Lilimbuto ke dalam bentuk musik etnis. Metode yang digunakan dalam proses penciptaan musik etnis yang berjudul Siritano Sinda mengacu pada teori Alma M. Hawkins. Teori ini berisi tentang proses penciptaan yaitu Eksplorasi, Improvisasi, dan Pembentukan. Penyajian komposisi Siritano Sinda merupakan perpaduan dariinstrumen etnis Nusantara, instrumen barat dan vokal yang terinspirasi dari sebuah grup musik yang bernama wagakki. Gambus Jepengmerupakan pola permainan utama dari karya ini. Selain itu, pola permainan yang khas dari suku Buol adalah pendukung terciptanya komposisi musik etnis yang berjudul Siritano Sinda. Secara garis besar nuansa dalam karya ini merupakan representasi dari peristiwa yang terjadi pada Lilimbuta dan Lilimbuto yang terdiri dari tiga bagian yaitu, kelahiran, kehidupan, dan pertemuan
DINAMIKA PERKEMBANGAN MUSIK GAMBANG KROMONG BETAWI
Musik gambang kromong yang berkembang dalam masyarakat etnis Betawi di Jakarta mengalami suatu perkembangan dengan menyesuaikan dari dinamika masyarakatnya. Hal itu disesuaikan dengan keinginan masyarakatnya dalam mengapresiasi musik tersebut dalam siklus kehidupan yang dijalaninya. Perkembangan tersebut menimbulkan dua penyebutan dalam musik Gambang Kromong yaitu musik Gambang Kromong Asli dan Musik Gambang Kromong Kompinasi. Melihat dari perubahan yang terjadi tersebut maka pembahasan permasalahan tersebut dikacidari sisi sejarahnya dengan secara sinkronik yang mengambil dari vase sebelum Indonesia merdeka sampai setelah merdeka. Hasil dari pengamatan yang didapat adalah adanya sebuah perkembangan yang cukup siknifikan dalam ensambel Gambang Kromong baik dari musikologis maupun instrumentasinya
MANUHARA PERSPEKTIP STRUKTUR, GARAP, DAN FUNGSI
Gending Manuhara Laras Pelog Patet Lima merupakan salah satu gending yang tergolong gending baru, karena gending ini selesai dicipta tanggal 19 September 2013. Adapun pencipta gending Manuhara adalah K.R.R.A. Saptodiningrat. Gending Manuhara berbentuk gending ageng yaitu gending kethuk 2 awis minggah 8, terdiri dari buka, merong, umpak inggah dan inggah. Keistimewaan gending Manuhara adalah pada bagian merong terdiri atas lima kenongan, dan satu-satunya gending laras pelog patet lima yang digarap menggunakan kendang ciblon dan menggunakan sekaran menthokan. Sampai saat sekarang ini tidak ada gending ageng pelog lima yang bisa digarap ciblon. Gending Manuhara dicipta khusus sebagai gending klenengan dan gending ini tercipta dari lagu suluk pelog lma ageng
KREATIVITAS GRUP EGA ROBOT DI BANDUNG JAWA BARAT
Kreativitas Ega Robot Ethnic Percussion merupakan perkembangan kesenian tradisi sebagai pijakan untuk berkreativitas, dalam kreativitas yang dilakukan oleh Ega Robot Ethnic Percussion pada lagu Mojang Priangan ini berbeda dengan kelompok-kelompok musik lainnya dikarenakan hasil arransemen Ega Robot Ethnic Percussion merupakan campuran dua elemen musik yang berbeda, yaitu memadukan gamelan salendro dengan instrumen barat sebagai iringan tari jaipongan Mojang Priangan. Metode penilitian yang digunakan untuk membedah krativitas grup Ega Robo Ethnic Percussion menggunakan metode deskripsi analisis dengan pendekatan etnomusikologis. Hasil yang didapat dalam penelitian tersebut yaitu struktur pola lagu Mojang Priangan yang secara keseluruhan merupakan bentuk aransemen dan transformasi dari ragam pola tepak dan iringan dari berbagai kesenian tradisional di Jawa Barat, dengan menambahkan beberapa ragam tepak, perpaduan instrumen barat dan tradisi dengan karya Ega yang akhirnya menimbulkan suatu ciri khas akan grup Ega Robot Ethnic Percussion yang dapat menghasilkan ruang berkreativitas untuk seniman-seniman muda di kota Bandung dalam mengembangkan musik tradisional Sunda
POLOPALO: TINJAUAN ETNO ORGANOLOGI AKUSTIK
Polopalo merupakan instrumen musik yang mempunyai kemiripan dengan bentuk mulut buaya berbahan dasar bambu talilo huido, dimana polopalo pentatonis terbagi menjadi 4 jenisberdasarkan bunyinya yaitu moelenggengo, mobulongo, moduludo dan motoliyongo. Membicarakan polopalo dan perkembangannya, realita menunjukkan bahwa saat ini mengalami penurunan kualitas fungsi yang disebabkan oleh kekeliruan intepretasi, selain itu keunikan organologi-akustik dan masih kurangnya informasi menjadi sebuah permasalah yang menarik untuk di telaah lebih dalam berdasarkan konteks budaya dan perkembangan sains. Metode penelitian menggunakan campuran sekuensial, penguraian konteks budaya dilakukan dengan wawancara kualitatif sedangkan perkembangan sains dilakukan dengan survey dan pengukuran terhadap instrumen itu sendiri untukmengetahui faktor intra musikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa polopalo pentatonis mempunyai relasi aspek perkembangan sains dengan konteks yang bukan hanya terletak pada bentuk dan akustik, tetapi juga nilai guna dan dampak yang diakibatkan dalam aktivitas masyarakat
MUSIK TURUNANI SEBAGAI SUMBER INSPIRASI PENCIPTAAN MUSIK ETNIS DENGAN JUDUL MO’ELA
Komposisi Mo’ela merupakan suatu bentuk karya musik etnis yang lahir dari tradisi lisan dan pola ritme rebana masyarakat Gorontalo. Kisah hidup Nabi Ayyub AS oleh masyarakat Gorontalo diterjemahkan ke dalam pola-pola ritmis rebana yang sampai sekarang masih dipakai khususnya dalam kesenian Turunani. Kisah Nabi Ayyub AS dengan pola-pola ritme rebana tesebut kemudian ditransformasikan ke dalam sebuah karya musik etnis. Penciptaan sebuah karya komposisi musik tentu memerlukan metode sabagai landasan guna mewujudkan sebuah bentuk karya seni yang ideal. Pada kesempatan ini metode yang digunakan mengacu pada teori Alma M. Hawkins. Teori ini sering digunakan dalam komposisi karya-karya seni sebelumnya, yang menjadi kitab suci di Jurusan Seni Tari. Namun demikian teori ini bisa diaplikasikan dalam penciptaan musik etnis. Adapun teori penciptaan ini meliputi ekplorasi, improvisasi dan pembantukan atau komposisi. Penyajian komposisi Mo’ela merupakan sebuah campuran antara instrumen etnis, barat dan olahan vokal. Selain itu juga diadopsi beberapa pola atau motif tabuhan dari rebana Gorontalo yang kemudian dikembangkan dengan teknik-teknik penggarapan musik. Bentuk penyajian yang ada dalam karya komposisi musik etnis Mo’ela mengacu pada kisah hidup Nabi Ayyub AS dan pola ritme rebana Gorontalo, secara garis besar terdapat tiga bagian suasana peristiwa dalam karyaKomposisi Mo’ela merupakan suatu bentuk karya musik etnis yang lahir dari tradisi lisan dan pola ritme rebana masyarakat Gorontalo. Kisah hidup Nabi Ayyub AS oleh masyarakat Gorontalo diterjemahkan ke dalam pola-pola ritmis rebana yang sampai sekarang masih dipakai khususnya dalam kesenian Turunani. Kisah Nabi Ayyub AS dengan pola-pola ritme rebana tesebut kemudian ditransformasikan ke dalam sebuah karya musik etnis. Penciptaan sebuah karya komposisi musik tentu memerlukan metode sabagai landasan guna mewujudkan sebuah bentuk karya seni yang ideal. Pada kesempatan ini metode yang digunakan mengacu pada teori Alma M. Hawkins. Teori ini sering digunakan dalam komposisi karya-karya seni sebelumnya, yang menjadi kitab suci di Jurusan Seni Tari. Namun demikian teori ini bisa diaplikasikan dalam penciptaan musik etnis. Adapun teori penciptaan ini meliputi ekplorasi, improvisasi dan pembantukan atau komposisi. Penyajian komposisi Mo’ela merupakan sebuah campuran antara instrumen etnis, barat dan olahan vokal. Selain itu juga diadopsi beberapa pola atau motif tabuhan dari rebana Gorontalo yang kemudian dikembangkan dengan teknik-teknik penggarapan musik. Bentuk penyajian yang ada dalam karya komposisi musik etnis Mo’ela mengacu pada kisah hidup Nabi Ayyub AS dan pola ritme rebana Gorontalo, secara garis besar terdapat tiga bagian suasana peristiwa dalam karya
Kreativitas Barnawi dalam Musik Bundengan di Masyarakat Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah
Bundengan adalah sebuah alat musik dari Kabupaten Wonosobo berbahan dasar dari bambu. Alat musik bundengan lahir dari kreatifitas seniman karawitan saat sedang beristirahat menggembalakan bebek yang memodifikasi kowangan atau tudung miliknya menjadi sebuah alat musik, dia adalah Barnawi. Bagian dalam Bundengan terdapat 4 buah senar, jika dibunyikan akan menghasilkan suara seperti instrumen kethuk, kenong, kempul dan gong dalam gamelan Jawa.Alat musik ini dimainkan oleh satu orang. Jika dimainkan oleh dua orang, maka satu orang yang lain sebagai wiraswara. Memiliki banyak peminat dari berbagai kalangan bundengan pun mengalami perkembangan yang pesat, meskipun sempat mati suri karena meninggalnya Barnawi, alat musik bundengan bangkit kembali bersama Munir yaitu adik dari Barnawi yang berkerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Budayawan, maupun orang-orang yang menginginkan bundengan tetap lestari. Fungsi musiknya adalah sebagai pengungkapan emosional, hiburan, pengiring tarian dan kesinambungan budaya
KONTRUKSI IDENTITAS BUDAYA SUNDA MASYARAKAT JAWA BARAT DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Kontruksi suatu budaya masyarakat pada sebuah wilayah, secara fungsional dapat diamati dari sejarah perkembangan nilai guna pada masa lalu, sekarang dan yang akan datang, seperti seni pertunjukan Sunda masyarakat Jawa Barat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Eksistensi seni pertunjukan sunda menjadi sebuah fenomena yang menarik, karena mampu memposisikan diri ditengah-tengah kemapanan budaya lokal.Perpindahan penduduk Jawa Barat ke Yogyakarta, menyebabkan hadirnya seni pertunjukan Sunda di Yogyakarta sehingga memberi dampak positif terhadap segi kehidupan masyarakat Jawa Barat. Orang Jawa Barat banyak saling mengenal karena sering bertemu dalam acara seni, misalnya dalam latihan membuat karya atau pementasan yang dilaksanakan secara kelompok baik di asrama kabupaten, instansi pemerintahan, Perguruan Tinggi, atau di sanggar-sanggar kesenian. Metode deskriptif analisis dengan pendekatan emik digunakan untuk melihat fenomena kebudayan yang ada di masyarakat berdasarkan pemilik budayanya. Penelitian menunjukkan bahwa kontruksi identitas budaya masyarakat Sunda melalui seni pertunjukan Sunda digunakan diawali dari fungsi sebagai sarana pendidikan, presentasi estetis, serta sebagai sarana komunikasi untuk mempererat hubungan antar sesama warga Jawa Barat. Seni pertunjukan Sunda di Yogyakata lebih berfungsi sebagai alat komunikasi, alat pemersatu etnis Sunda untuk mempererat tali silaturahim di antara warga Jawa BaratKontruksi suatu budaya masyarakat pada sebuah wilayah, secara fungsional dapat diamati dari sejarah perkembangan nilai guna pada masa lalu, sekarang dan yang akan datang, seperti seni pertunjukan Sunda masyarakat Jawa Barat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Eksistensi seni pertunjukan sunda menjadi sebuah fenomena yang menarik, karena mampu memposisikan diri ditengah-tengah kemapanan budaya lokal. Perpindahan penduduk Jawa Barat ke Yogyakarta, menyebabkan hadirnya seni pertunjukan Sunda di Yogyakarta sehingga memberi dampak positif terhadap segi kehidupan masyarakat Jawa Barat. Orang Jawa Barat banyak saling mengenal karena sering bertemu dalam acara seni, misalnya dalam latihan membuat karya atau pementasanyang dilaksanakan secara kelompok baik di asrama kabupaten, instansi pemerintahan, Perguruan Tinggi, atau di sanggar-sanggar kesenian. Metode deskriptif analisis dengan pendekatan emik digunakan untuk melihat fenomena kebudayan yang ada di masyarakat berdasarkan pemilik budayanya. Penelitian menunjukkan bahwa kontruksi identitas budaya masyarakat Sunda melalui seni pertunjukan Sunda digunakan diawali dari fungsi sebagai sarana pendidikan, presentasi estetis, serta sebagai sarana komunikasi untuk mempererat hubungan antar sesama warga Jawa Barat. Seni pertunjukan Sunda di Yogyakata lebih berfungsi sebagai alat komunikasi, alat pemersatu etnis Sunda untuk mempererat tali silaturahim di antara warga Jawa Bara
SEPLENANGAN DALAM UPACARA KABUMI DI DESA WATUAJI KECAMATAN KELING KABUPATEN JEPARA
Upacara kabumi merupakan upacara sejenis bersih desa yang digunakan untuk mrngungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang dilimpahkan kepada masyarakat. Pada upacara kabumi di Desa Watuaji, terdapat prosesi seplenangan yang dilaksanakan pada hari Senin Legi pukul 12.00 WIB. Prosesi seplenangan adalah prosesi berupa mengarak makanan untuk dipersembahkan kepada petinggi dan perangkat desa lainnya. Prosesi seplenangan dipimpin oleh cucuk lampah dan diiringi dengan Gending Seplenangan. Dilihat dari bentuk penyajiannya, gending ini dibunyikan secara terus menerus sampai prosesi seplenangan selesai. Gending yang dimainkan secara berulang-ulang tersebut mengandung makna. Makna Gending Seplenangan dibedah menggunakan teori semiosis karya Charles Sanders Peirce dengan metode penelitian kualitatif dan pendekatan etnomusikologis. Teori semiosis karya Peirce berupa relasi triadik yang terdiri dari representamen, objek, dan interpretan. Berdasarkan relasi triadik Peirce, terdapat tiga makna yang dihasilkan dari Gending Seplenangan. Makna tersebut antara lain makna ikonik, makna indeksikal, dan makna simbolik