140 research outputs found

    INSTRUMEN TIUP PUIK-PUIK DALAM PERSPEKTIF EKOMUSIKOLOGIS: PEDAGOGIS, ALAM DAN BUDAYA

    Full text link
    Instrumen tiup Puik-puik merupakan instrumen tiup kayu dari Sulawesi Selatan suku Bugis-Makassar yang biasanya digunakan dalam ansambel gandrang makassar pada acara tunrung rinci dan juga upacara tradisional. Melalui objek materi ini instrumen pui-puik sangat jarang sekalai dijadikann bahan pembelajaran pedagogik untuk di pelajari dari segi organologi maupun akustika musik. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk melakukan penerapan intrumen tiup puik-puik dalam pembelajaran akademis melalui pendekatan ekomusikologis dan juga etnomusikologis. Hasil dari analisis tulisan ini yaitu, ekomusikologi sebagai alat yang dapat digunakan banyak orang dan dapat bermanfaat, menawarkan kepada kita cara untuk menjembatani antara alam dan budaya khususnya dalam bidang musik. Musik berasal juga dari soundscape (bunyi-bunyian dari alam) tentu juga menghubungkan dengan masalah pedagogis yang sebagai wadah lebih besar memahami peran studi lingkungan dan musik dalam konteks pendididikan musik formal. Sarana pembelajaran ini mengajarkan untuk berpikir kritis yang kreatif, karena perlu diingat bahwa krisis lingkungan bukan hanya  krisis sains tetapi juga krisis budaya, sehingga perlu kumpulkan semua sumber daya humanistik dan ilmiah untuk membayangkan, memahami dan menghadapinya. Lingkungan akademis merupakan tempat untuk diskursus dan sebagai tempat memikirkan hal-hal preventif terkait lingkungan kedepan nya melalui musik.Kata kunci: Puik-Puik, Ekomusikologis, Pedagogi

    IMPLEMENTASI MELODI MANTRA NYANGAHATN MELALUI SISTEM INVERSI DALAM KARYA MUSIK NYANGAHATN

    Full text link
    Setiap karya merupakan suatu akumulasi dari pengalaman, pendapat, dan pertimbangan kreatif. Nyangahatn dipilih sebagai judul dalam komposisi ini berdasarkan pengalaman empiris penulis ketika mengikuti upacara atau ritual adat Dayak Kanayatn. Mantra yang diucapkan oleh seorang pamaliatn atau dukun dalam sebuah upacara atau ritual dijadikan sebagai ide musikal. Pendekatan pustaka digunakan penulis dengan menggunakan beberapa sumber buku yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam proses komposisi. Komposisi ini terdiri unsur-unsur mengenai kontur melodi ; kesadaran akan Hook ; forerground and background ; flow vs break, continuity vs surprise ; articulation and degree of punctuation ; rate of presentation of information ; stability vs instability ; progression ; momentum ; balance ; balance and length. Penulis menggunakan medium pencon dengan idiom musik Dayak Kanayatn yang diolah dalam komposisi. Pengolahan dan penerapan unsur-unsur musik dalam komposisi musik ini merupakan representasi dari nyangahatn

    KESENIAN GLIPANG RHODAT DI DESA NGUTER KECAMATAN PASIRIAN LUMAJANG JAWA TIMUR DALAM PERSPEKTIF ETNOMUSIKOLOGIS

    Full text link
    Glipang Rodhat merupakan jenis pertunjukan kesenian tradisional. Dalam kesenian tersebut terlihat unik, sehingga peneliti ingin memahaminya lebih dalam, yakni bagaimana struktur penyajian musik Glipang Rodhat serta bagaimana penggabungan antara kesenian Glipang dengan kesenian Tari Rodhat.Untuk memahami kesenian tersebut, peneliti menggunakan pendekatanEtnomusikologi. Konsep teks seni pertunjukan dari Marco DeMarinisdigunakan untuk mengupas aspek tekstual, sedang aspek kontekstual menggunakan teori hybrid dari Homi K. Bhabha. Pemaparan secara deskriptif analitik dipakai dalam penelitian kualitatif ini.Hasil yang ditemukan, kesenian Glipang Rodhat merupakan perpaduan kesenian lokal Jawa, Madura dengan kesenian dari Turki. Kesenian lokal sebagai bentuk perlawanan yang berwujud mimicry sekaligus mockery. Sedangkan kesenian dari Turki bernuansa religi yang tampak khususnya dalam simbol-simbol instrumen musik yang digunakan serta lantunan tembang dan parikan yang dimainkan sarat dengan nilai-nilai keislaman

    PERUBAHAN GENRANG PALILI’ DALAM RITUAL ADAT MAPPALILI’ DI KELURAHAN BONTOMATE’NE KECAMATAN SEGERI KABUPATEN PANGKAJE’NE DAN KEPULAUAN SULAWESI SELATAN

    Full text link
    ABSTRAKGenrang palili’ merupakan ansambel musik yang memiliki peran penting dalam ritual adat Mappalili’ di Kelurahan Bontomate’ne, Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkaje’ne dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Ritual ini menyangkut keselamatan dan kemakmuran masyarakat Bontomate’ne, terutama agar terhindar dari penyakit, bencana, serta gangguan hama dari segi pertanian. Mappalili’ merupakan ritual adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Bontomate’ne, dengan tujuan mengarak alat kerajaan berkeliling kampung, dalam hal ini ialah rakkala (alat bajak). Seiring berjalannya waktu, terdapat perubahan-perubahan yang terjadi di dalam Mappalili’, baik itu perubahan secara musikal, maupun non musikal. Perubahan tersebut dibagi menjadi faktor eksternal, yaitu perubahan yang terjadi akibat masuknya teknologi dan globalisasi ke dalam masyarakat, dan faktor internal, yaitu perubahan karena pemilik kebudayaan itu sendiri

    Antinomi Sampah melalui Sublimasi Timbre dalam karya musik Copy Waste

    Full text link
    Perilaku membuang sampah sembarangan merupakan kebiasaan yang memberikan dampak terhadap permasalahan ekosistem, baik biotik ataupun abiotik. Sampah sebagai bagian dari aktifitas masyarakat sebenarnya dapat dijadikan nilai guna bagi kepentingan lain, tetapi faktanya memang memerlukan penyadaran emosi, jiwa bagi pelaku. Wujud penyadaran yang paling menarik untuk kritik sosial permasalahan perilaku membuang sampah sembarangan adalah melalui musik, karena bunyi sebagai esensinya mempunyai nilai-nilai personifikasi. berdasarkan hal tersebut maka fokus penelitian penciptaan adalah mengkontruksi bunyi sebagai musik yang bernilai antinomi terhadap perilaku. Metode yang digunakan adalah Praktik Led Rsearch, dimana penciptaan karya musik didahului dengan penelitian terhadap fenomena membuang sampah sembarangan. teknik pengumpulan data mempergunakan observasi, wawancara sedangkan analisis data, interaksi menjadi pilihan. data-data yang sudah dianalisis terkontruksi melalui makna sehingga timbal baliknya memberikan input pada komposisi musik dengan metode sublimasi timbre. Hasil penelitian penciptaan memberikan sebuah pemahaman bahwa musik mampu digunakan sebagai salah satu media kritis untuk perilaku membuang sampah sembarangan melalui optimalisasi perilaku.

    Ekologi Polopalo dalam Lihuta lo Polopalo di Bone Bolango

    Full text link
    Polopalo merupakan instrumen musik endemik dari Gorontalo yang saat ini keberadaannya dapat ditemukan dalam Lihuta lo Polopalo. Sebagai salah satu alat musik endemik, perkembangan fungsional Polopalo memberikan dampak terhadap ekologi seni dalam aktifitas masyarakat seperti dalam lihuta lo polopalo mempunyai peranan yang sangat penting berhubungan dengan kontinuitas, transmisi ekonomi budaya, contoh adanya wujud nyata simbiosis polopalo pada komponen ekologi yang ada disekitarnya mulai dari infrastruktur lingkungan, tingkat pendapatan sampai transfer ilmu pengetahuan lintas generasi. Besarnya impact yang dihasilkan Polopalo dalam lihuta lo Polopalo terhadap sistem ekologi merupakan sebuah refleksi sistem kemandirian fenomena yang menarik sehingga fokus penelitian adalah mengenai ekologi polopalo dalam lihuta lo polopalo. Upaya memberikan refleksi gambaran mengenai Polopalo dalam lihuta LoPolopalo maka metode penelitian yang digunakan adalah narasi, dimanapengumpulan data dilakukan melalui wawancara, yang didalamnya terdapat observasi lanjutan sedangkan analisis data mempergunakan interaksi budaya sehingga mampu memberikan gambaran mengenai sebuah sistem Hasil penelitian menunjukan bahwa kemunculan Polopalo dalam lihuta lo polopalo merupakan alternatif dalam upaya pelestarian yang ternyata memberikan kemandirian terhadap sistem ekologi yang ada seperti pertumbuhan infrastruktur, kemandirian ekonomi masyarakat dan kesinambungan budaya

    KANA PERANAK DALAM PERAYAAN GAWAI PADI SUKU DAYAK MUALANG DI KALIMANTAN BARAT

    Full text link
    Kana Peranak merupakan nyayian resitatif Suku Dayak Mualang yang disajikan pada saat Perayaan Gawai Padi. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui fungsi dan kajian tekstual Kana Peranak. Untuk membedah objek ini, maka digunakan metode kualitatif dengan pendekatan Etnomusikologis. Hasil analisis dalam tulisan ini menunjukkan bahwa Kana Peranak memiliki delapan dari sepuluh fungsi musik menurut Allan P. Meriam. Fungsi-fungsi tersebut antara lain Fungsi Hiburan, Fungsi Kenikmatan Estetis, Fungsi Ekspresi Emosional, Fungsi Komunikasi, Fungsi Penyelenggaraan Kesesuaian Dengan Norma-Norma Sosial, Fungsi Penopang Keseninambungan dan Stabilitas Kebudayaan, Fungsi Penopang Integrasi Sosial dan Fungsi Penggambaran Simbolik. Pada kajian tekstual, mengambil sampel Kana Peranak yang berjudul ”Limak Penyawak Sak Lempak Mrawai Awak”, terdapat tiga bagian pada bagian analisis musikal yaitu transkrip notasi, analisis motif nyayian serta analisis makna dan lirik. Adapun elemen pendukung musik meliputi pelaku, tempat, waktu, kostum dan suasana

    Sentangih dalam Upacara Adat Kematian suku Dayak Tunjung Rentenukng di Kampung Linggang Melapeh Kutai Barat

    Full text link
    Sentangih adalah prosesi yang wajib dalam upacara adat kematian suku Dayak Tunjung Rentenukng. Sentangih pada upacara kematian bertujuan untuk mengantarkan arwah (Kelelungaan dan Pedaraaq) orang yang sudah meninggal menuju surga (Lumut). Sentangih menurut masyarakat Dayak Tunjung Rentenukng adalah vokal sambungan dari mantra dan doa yang dibacakan oleh Penyentangih dalam upacara kematian yang ditugaskan kepada Perajiiq. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui aspek tekstual dan fungsi Sentangih dalam upacara adat kematian. metode kualitatif dengan pendekatan Etnomusikologis, Adapun unsur yang mengacu pada aspek tekstual Sentangih dalam upacara adat kematian suku Dayak Tunjung Rentenukng yaitu: asal-usul Sentangih, upacara adat kematian, tekstual Sentangih dalam upacara adat kematian, analisis Sentangih dalam upacara adat kematian, dan fungsi Sentangih dalam upacara adat kematian. Fungsi pada Sentangih dibagi menjadi fungsi primer dan fungsi sekunder. Pada fungsi primer yaitu Sentangih sebagai sarana ritual, dan Pada fungsi sekunder yaitu Sentangih sebagai pembangkit solidaritas bangsa

    Dendang Ratok dalam Acara Baralek di Nagari Guguak Malalo Sumatera Barat

    Full text link
    Ratok dalam Bahasa Indonesia berarti “Ratap, Ratapan, Meratap” yaitu, tangisan yang disertai dengan ucapan yang menyedihkan. Dendang ratok merupakan jenis dendang yang disuguhkan dalam kesenian bansi malalo, ditampilkan sebagai hiburan dalam acara baralek (perkawinan) yang notabene identik dengan pesta suka cita. Sehingga, muncul rumusan masalah mengenai bagaimana bentuk penyajian dan apa fungsi dendang ratok dalam acara baralek di Nagari Guguak Malalo Sumatera Barat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, melalui pendekatan Etnomusikologis, dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Hasil dari analisis teks musik menunjukkan, dendang ratok memiliki karakteristik dan ciri khas yang dapat dilihat dari vokal bergaya melismatik dan irreguler (tidak terikat) tempo dan pola ritme, teks dendang berupa pantun bertema kontekstual fenomena-fenomena kehidupan masyarakat Nagari Guguak Malalo. Dendang ratok merupakan manifestasi atau perwujudan dari masyarakat Nagari Guguak Malalo yang digambarkan dalam bentuk dendang. Dapat dilihat dalam bentuk penyajian dendang ratok dalam acara baralek yang ditampilkan sebagai ungkapan emosional, sebagai hiburan, sebagai komunikasi, sebagai sarana pendidikan,yang diminati dan dikehendaki oleh masyarakat pemiliknya sebagai suatu produk budaya

    “ALONE” REINTERPRETASI FENOMENA DEPRESI DALAM KOMPOSISI MUSIK

    Full text link
    Depresi adalah satu di antara keadaan emosi dimana kondisi psikologis, ditandai dengan banyak rasa kehilangan dan kekecewaan yang terjadi selama masa hidup normal. Fenomena depresi ini yang menjadi riset komposisi musik melalui suatu pemikiran, sehingga karya yang diberikan sesuai dengan sumber sebagai acuan utama dan keinginan pengkarya dalam memperkenalkan karya melalui dua media karya musik sebagai estetika dan wahana artikulasi dalam karya seni. Reinterpretasi pengkarya atas fenomena depresi menghasilkan karya berbentuk instrumen artifisial yang diberi nama Qalaba dan karya pertunjukan musik dengan judul Alone. Penciptaan dan penyusunan karya Alone dilakukan dengan tahapan observasi pembuatan instrumen dan observasi aspek musikal yang berikutnya dipraktekan dengan metode psikologis. Dalam penyusunan karya musik Alone, pengkarya menerjemahkan fenomena depresi ke dalam musik, menjadikan karya “Alone” sebagai cara alternatif dalam penyusunan instrumen dan elemen musik. Pengkarya menerjemahkan fenomena depresi ini ke dalam improvisasi bebas dan terkonsep, dengan mengeksplorasi nada instrumen menggunakan teknik modifikasi

    129

    full texts

    140

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SELONDING
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇