Journal of Biota
Not a member yet
606 research outputs found
Sort by
Potensi Trichoderma asperellum TKD dalam Menghambat Phytophthora spp. pada Benih Kakao Selama Masa Penyimpanan
Benih berkualitas sangat diperlukan dalam perbanyakan tanaman kakao. Adanya infeksi Phytophthora spp. menjadikan kualitas benih kakao menurun yang berdampak pada kemampuan tumbuh tanaman. Cendawan T. asperellum TKD dapat menghambat pertumbuhan patogen. Tujuan penelitian ini yaitu menguji kemampuan T. asperellum TKD dalam menghambat Phytophthora spp. secara in vitro dan in vivo, menentukan konsentrasi spora T. asperellum TKD yang optimum dan uji viabilitas benih. Perlakuan in vitro dilakukan dengan kultur ganda, dan perlakuan in vivo dilakukan pada benih kakao. Parameter yang diamati meliputi persentase daya hambat dengan kultur ganda, daya kecambah, indeks kecepatan perkecambahan dan penurunan populasi Phytophtora spp. Hasil penelitian menunjukan T. asperellum TKD menghambat Phytophthora spp. secara in vitro dan in vivo (P≤0,05). Rerata daya hambat in vitro adalah 58,74±4,58%. Konsentrasi spora T. asperellum TKD hingga 104 efektif menurunkan populasi Phytophthora spp secara in vivo. Konsentrasi spora T. asperellum TKD yang dapat menghambat pertumbuhan Phytophthora spp. yang optimum adalah konsentrasi T1,70x106. Mekanisme penghambat T. asperellum TKD adalah kompetisi dimana terjadi interaksi dengan mekanisme mikoparasit dan antibiosis. Pemberian T. asperellum TKD menyebabkan benih memiliki daya perkecambahan lebih dari 80% dengan diikuti indeks kecepatan kecambah yang tinggi. Pemberian T. asperellum TKD mampu menghambat pertumbuhan Phytophthora spp. secara in vitro dan in vivo dan benih kakao dapat berkecambah optimal hingga hari ke-7 penyimpanan setelah pemberian T. asperellum TKD.
Komposisi Vegetasi dalam Mendukung Potensi Wisata Alam di Desa Bongkasa Pertiwi, Kabupaten Badung, Bali
Bali memiliki banyak daerah yang berpotensi sebagai daerah tujuan wisata alam, salah satunya dengan memanfaatkan kawasan di sekitar Sungai Ayung. Sungai merupakan ekosistem terbuka, sehingga berkaitan erat dengan vegetasi riparian. Desa Bongkasa Pertiwi, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali merupakan salah satu desa yang berada di tepi Sungai Ayung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi vegetasi riparian di sekitar Sungai Ayung di Desa Bongkasa Pertiwi. Penentuan komposisi vegetasi riparian menggunakan metode plot, kemudian dianalisis untuk memperoleh parameter vegetasi dan lingkungan. Untuk mengetahui potensi wisata alam digunakan metode observasi dengan mengamati jenis tumbuhan yang memiliki interaksi khas dengan fauna setempat. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa vegetasi riparian yang terletak ke arah daratan memiliki struktur vegetasi yang lebih stabil dengan regenerasi jenis yang lebih baik dibandingkan dengan vegetasi riparian yang terletak ke arah Sungai Ayung. Secara umum, komposisi vegetasi riparian menunjukkan eksistensi dari pohon khas riparian, seperti bayur (Pterospermum javanicum). Bayur menjadi salah satu pohon penting yang berperan dalam mendukung wisata alam di Desa Bongkasa Pertiwi karena memiliki i interaksi dengan fauna lokal seperti burung alap-alap kawah (Falco peregrinus), burung pelatuk besi (Dinopium javanense), burung kadalan birah (Phaenicophaeus curvirostris), dan burung cucak kuning (Pycnonotus melanicterus)
Epifauna pada Ekosistem Mangrove di Kawasan Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Bali
Epifauna merupakan makrozoobentos yang hidup di permukaan sedimen perairan atau menempel pada berbagai substrat perairan maupun pada organisme lain. Salah satu kawasan perairan yang sering dijadikan habitat oleh epifauna adalah ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kelimpahan epifauna, jenis dan kerapatan mangrove, serta kondisi lingkungan (air dan substrat) pada ekosistem mangrove di Tahura Ngurah Rai, Bali. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode Purposive Random Sampling dengan transek berpetak. Jenis epifauna yang ditemukan di Tahura Ngurah Rai, Bali terdiri dari 15 jenis (Terebralia sulcata, Nerita planospira, Cerithidea quoyii, Telescopium tellescopium, Littoraria lutea, Littoraria scabra, Littoraria carinifera, Littoraria pallescens, Pila ampullaceal, Nerita melanotragus, Cassidula nucleus, Austruca triangularis, Littorina undulate, Chricoreus capucinus, dan Pirenella alata) dengan kelimpahan berkisar antara 0,06-14,10 ind/m2 dan kelimpahan relatif berkisar antara 0% – 53%. Terdapat tujuh jenis mangrove yang ditemukan yaitu Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, Xylocarpus moluccensis, Xylocarpus granatum, dan Lumnitzera racemose dengan kerapatan berkisar 200 – 3267 tegakan/ha. Lingkungan pada daerah penelitian menunjukan kondisi normal dan mendukung bagi pertumbuhan epifauna dan mangrove di Tahura Ngurah Rai Rai, Bali.
Potensi Bacillus spp. Sebagai Penghasil Biosurfaktan untuk Pengolahan Limbah Minyak Pelumas
Biosurfaktan adalah makromolekul ekstraseluler yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang memiliki sifat ramah lingkungan serta memiliki berbagai fungsi salah satunya untuk emulsifikasi limbah minyak. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi isolat Bacillus spp. dalam menghasilkan senyawa biosurfaktan untuk pengolahan limbah minyak pelumas. Metode yang digunakan adalah penetapan indeks emulsifikasi dan analisis aktivitas emulsifikasi (drop collapse test, oil spreading technique, uji tegangan muka) dari supernatan kultur Bacillus spp., serta karakterisasi biosurfaktan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Supernatan dari ketiga isolat Bacillus spp. menunjukkan hasil positif dengan uji drop collapse test dan oil spreading technique dengan diameter zona bening tertinggi diperoleh dari Bacillus sp 48 sebesar 10,2 mm, serta nilai indeks emulsifikasi (E24) sebesar 99,5%. Berdasarkan hasil KLT diketahui bahwa biosurfaktan yang dihasilkan oleh ketiga isolat bakteri Bacillus spp. adalah golongan lipopeptida. Bacillus spp. yang dapat menurunkan tegangan permukaan dari minyak pelumas adalah Bacillus sp 48 yaitu sebesar 19,7 dyne/cm, Bacillus sp 34 sebesar 17,9 dyne/cm dan Bacillus sp 84 sebesar 15,7 dyne/cm. Biosurfaktan dari ketiga isolat Bacillus spp. berpotensi dikembangkan dalam berbagai bidang industri.
Isolasi dan Karakterisasi Lactobacillus Species dari Susu Kambing Peternakan Lokal
Mikrobiota susu kambing dapat mencakup bakteri asam laktat (BAL), khususnya Lactobacillus spp., yang berpotensi sebagai kandidat probiotik dan dapat dipergunakan dalam berbagai produk fermentasi. Pada penelitian ini, dilakukan isolasi dan karakterisasi BAL, khususnya Lactobacillus spp., dari susu kambing yang berasal dari peternakan lokal. Pada awalnya, didapatkan 25 isolat BAL dari susu kambing lokal. Semua isolat dikarakterisasi sesuai Bergey’s Manual of Systematics Archaea and Bacteria, yang dimulai dengan pewarnaan Gram, endospora dan ketahanan asam. Selanjutnya dilakukan uji aktivitas biokimia (uji aktivitas katalase, uji aktivitas hemolitik, serta uji fermentasi karbohidrat) dan uji ketahanan isolat terhadap berbagai konsentrasi NaCl, pH dan suhu. Berdasarkan hasil yang diperoleh, isolat B4 dan B6 dipilih untuk diidentifikasi lebih lanjut. Kedua isolat menunjukkan kemiripan karakteristik dengan Lactobacillus spp., yaitu berbentuk basil atau kokobasil, Gram positif, tidak membentuk spora, tidak tahan asam, katalase negatif, tidak memfermentasi manitol, sensitif terhadap konsentrasi NaCl tinggi, serta tumbuh optimum pada pH 5.5-6.2 dan pada suhu 37-45°C. Identifikasi kedua isolat berdasarkan sekuens 16S rRNA menunjukkan bahwa isolat B4 adalah Lacticaseibacillus paracasei dan isolat B6 adalah Limosilactobacillus fermentum. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa susu kambing peternakan lokal dapat menjadi sumber alternatif untuk mendapatkan isolat Lactobacillus spp
Identifikasi dan Analisis Keanekaragaman Insekta di Gunung Galunggung Tasikmalaya
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies dan mengukur tingkat keanekaragaman insekta yang terdapat di kawasan Gunung Galunggung Tasikmalaya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2019 dengan menggunakan pendekatan analisis deskriptif. Pengumpulan insekta dilakukan dengan menggunakan metode pitfall trap yang ditempatkan pada tiga lokasi dengan ketinggian yang berbeda. Insekta yang terjebak kemudian diidentifikasi nama spesiesnya dan dihitung jumlahnya. Setelah itu dilakukan perhitungan untuk analisis indeks keanekaragaman dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insekta yang terperangkap dalam pitfall trap terdapat 5 bangsa yang terdiri dari 8 Suku dengan jumlah spesies sebanyak 12 dan total jumlah individu 142. Spesies dan jumlah individu terbanyak yang ditemukan yaitu suku Formicidae. Tiap lokasi penelitian mendapatkan indeks keanekaragaman yang berbeda, yaitu 2,26 (pada lokasi I), 1,63 (pada lokasi II), dan 1,82 (pada lokasi III). Indeks dominansi masing-masing lokasi, yaitu 0,12 (lokasi I), 0,30 (lokasi II), dan 0,21 (lokasi III). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indeks keanekaragaman setiap lokasi penyimpanan perangkap termasuk kategori sedang dengan indeks dominansi termasuk kategori rendah. Hal tersebut menandakan kondisi ekositem gunung Galunggung masih tergolong baik dan belum mencapai ekosistem klimaks.
Variasi Konsentrasi Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Rendaman Akar Bambu Menghambat Pertumbuhan Jamur Fusarium oxysporum Secara In Vitro
Salah satu agen hayati yang berpotensi sebagai biopestisida adalah plant growth promoting rhizobacteria (PGPR). PGPR memiliki kemampuan dalam menekan pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum melalui mekanisme secara langsung dan secara tidak langsung. PGPR diketahui ada pada akar bambu yang memiliki kemampuan meningkatkan pertumbuhan tanaman bambu dan menekan aktivitas fitopatogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat serta konsentrasi optimum dari PGPR rendaman akar bambu dalam menghambat pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum. Metode pengujian digunakan adalah metode uji antagonis pada media PDA, dan media campuran PDA dan NA. Variasi konsentrasi PGPR rendaman akar bambu yang digunakan adalah 2,5, 5, 7,5 dan 10%. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif dan statistik. Analisis statistik menggunakan uji One Way Anova dan dilanjutkan dengan uji Tukey HSD pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan daya hambat PGPR rendaman akar bambu berbagai konsentrasi terhadap pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum pada media uji PDA dan media campuran. Konsentrasi PGPR rendaman akar bambu yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum adalah 10%
Ekstraksi dan Identifikasi Kandungan Senyawa Bioaktif Daun Saga Rambat (Abrus precatorius)
Daun saga rambat telah banyak digunakan oleh masyarakat untuk mengobati beragam jenis penyakit. Bioaktivitas ini berkaitan dengan kandungan senyawa metabolit. Selama ini, aktivitas farmakologis daun saga rambat di masyarakat masih berdasarkan bukti empiris. Selain itu, informasi terkait kandungan senyawa bioaktif di daun saga rambut masih terbatas. Pada penelitian ini senyawa metabolit yang terkandung di dalam daun saga rambat diekstrak dan diidentifikasi. Senyawa metabolit diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan tiga jenis pelarut, yaitu etanol, metanol dan air. Senyawa pada ketiga ekstrak diidentifikasi dengan gas chromatography – mass spectroscopy (GC-MS). Hasil analisis menunjukkan terdapat 23 senyawa di ekstrak etanol, 9 senyawa di ekstrak metanol, dan 9 senyawa di ekstrak air. Diantara seluruh senyawa pada ketiga ekstrak tersebut, senyawa yang memiliki konsentrasi tinggi adalah (1) octadecenyl aldehyde; (2) n-octadecanoic acid; (3) methyl 6,7-methylene octadecanoate (from trans); dan (4) pentadecanoic acid, 14-methyl-, methyl ester. Dari hasil penelusuran pustaka, keempat senyawa tersebut memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, antivirus dan antiinflamasi. Oleh karena itu, daun saga rambat memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai obat herbal dalam pengatasan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri, radikal bebas, virus, dan inflamasi.
Perilaku Afiliatif Pasangan Owa Jawa (Hylobates moloch) di Pusat Rehabilitasi Primata Jawa, Ciwidey, Jawa Barat
Owa jawa merupakan primata endemik Pulau Jawa dengan status konservasi genting (endangered). Perilaku afiliatif merupakan perilaku sosial yang bersifat positif berupa bersentuhan, duduk berdekatan, saling menelisik, berpelukan, dan perilaku seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku afiliatif serta kecenderungan perilaku kawin yang dilakukan pasangan owa Jawa dewasa di Pusat Rehabilitasi Primata Jawa (PRPJ) Patuha, Ciwidey, Jawa Barat. Data perilaku afiliatif diambil dengan menggunakan metode focal-animal sampling selama 104 jam. Perilaku afiliatif yang teramati pada pasangan owa jawa Acoy (♀) – Iwan (♂) dan Kimba (♀) – Douglas (♂), yaitu mendekati, duduk berdekatan, bergelantungan berdekatan, dan saling menelisik. Perilaku duduk berdekatan paling banyak dilakukan oleh kedua pasangan, sedangkan perilaku saling menelisik hanya dilakukan oleh pasangan Kimba (♀) – Douglas (♂). Perilaku duduk berdekatan dilakukan dalam durasi yang paling tinggi dibandingkan perilaku afiliatif lainnya. Kedua pasangan tidak memiliki kecenderungan melakukan perilaku kawin selama pengamatan dilakukan
Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Pupuk Fe Terhadap Pertumbuhan Tomat ‘Red Beefsteak’
Tanaman tomat beef merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomis tinggi namun rentan terhadap penyakit. Selain itu diperlukan modal yang besar untuk menghasilkan buah dengan kuantitas dan kualitas yang baik. Penggunaan tomat beef varietas Red Beefsteak dan pemupukan dengan pupuk Fe mampu menghasilkan buah tomat beef yang berkualitas namun dengan modal yang terjangkau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan jenis dan konsentrasi pupuk Fe yang menghasilkan pertumbuhan tanaman tomat Red Beefsteak yang maksimal. Jenis pupuk yang digunakan dalam penelitian ini adalah FeSO4, Fe-EDDHA, Fe-EDTA sedangkan konsentrasi masing-masing pupuk adalah 50 mg/L, 100 mg/L dan 150 mg/L. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari 9 perlakuan dan kontrol, masing-masing 3 ulangan. Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, umur berbunga, umur panen, jumlah bunga, jumlah buah dan persentase fruit set dan indeks klorofil daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga jenis pupuk Fe dan beberapa konsentrasinya mempengaruhi beberapa parameter pertumbuhan tanaman. Pupuk FeSO4 dengan konsentrasi 50 mg/L memberikan pengaruh terbaik terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah bunga dan jumlah buah, sehingga dapat diaplikasikan untuk peningkatan produksi tomat.