Journal of Biota
Not a member yet
606 research outputs found
Sort by
Keanekaragaman Jenis Capung Famili Libellulidae di Bukit Cogong Kabupaten Musi Rawas
Spesies capung di Bukit Cogong Kabupaten Musi Rawas banyak ditemukan, namun belum terdata dengan baik sehingga perlu dilakukan pendataan jenis capung dan kajian mengenai keanekaragaman. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji keanekaragaman capung famili Libellulidae di Bukit Cogong Kabupaten Musi Rawas. Penelitian ini menggunakan teknik menjelajah transek dengan menentukan 3 stasiun pengamatan. Setiap stasiun terdiri dari 5 buah transek dengan luas transek 100x100 m. Penangkapan famili libellulidae di Bukit Cogong Kabupaten Musi Rawas menggunakan jaring net, pengidentifikasian dengan melakukan pengamatan ciri-ciri morfologi capung famili Libellulidae. Terdapat 5 spesies capung dari famili Libellulidae yang ditemukan, yaitu: Orthetrum sabina, Neurothemis fluctuans, Bracythemis contaminata, Rhodothemis rufa, dan Onycothemis culminicola. Komposisi jenis yang paling tinggi yaitu Orthetrum sabina sebesar 46,34%, sedangkan yang paling rendah yaitu Onycothemis culminicola sebesar 6,09%. Indeks keseragaman termasuk kategori tinggi, komunitas stabil, indeks dominansi (C) termasuk kategori rendah dan indeks keanekaragaman termasuk kategori rendah dengan nilai sebesar 1,61
Respons Pembentukan Kalus Daun Pegagan (Centella asiatica (L.) Urb.) dengan Penambahan Naphtalene Acetic Acid dan Benzyl Amino Purin Secara In Vitro
Gotu kola (Centella asiatica (L.) Urb.) is a medicinal plant that contains chemical compounds as triterpenoids and saponins. The chemical compounds can be produced quickly using in vitro callus induction. The callus is a very important source of planting material in regenerating new plants. Therefore, by inducing callus the need for seedling in large quantities achievable in a short time. This study aimed to determine the effect of the BAP single and combination of BAP and NAA, and determine the effective concentration of a BAP single and combination of BAP and NAA on callus induction of gotu kola leaf explant using in vitro method. This study used Complete Randomized Design (CRD) which consisted of nine treatments (control, 1 mg/l BAP, 2 mg/l BAP, 1 mg/l BAP + 0,1 mg/l NAA, 2 mg/l BAP + 0,1 mg/l NAA, 1 mg/l BAP + 0,3 mg/l NAA, 2 mg/l BAP + 0,3 mg/l NAA, 1 mg/l BAP + 0,5 mg/l NAA, 2 mg/l BAP + 0,5 mg/l NAA) with five replication for each treatment. Data obtained from observation were analyzed descriptively. The results of this research showed that a single BAP and combine of BAP and NAA were able provide a response in the form of colour, swelling and callus formation. The best concentration that from the most optimal callus and the highest callus growth (+++) is the treatment of P5 ( 1 mg/l BAP + 0,3 mg/l NAA) which is equal to 100% with the caracteristics of green callus and callus covering the entire surface of explants. All the callus produced was textured compact, while the colour of the callus was green and brown.
Keywords: Gotu Kola (Centella asiatica (L.) Urb.), Callus, BAP, NAA
Abstrak
Pegagan (Centella asiatica (L.) Urb.) merupakan tanaman berkhasiat obat yang mengandung berbagai bahan aktif seperti triterpenoid dan saponin. Bahan aktif tersebut dapat diproduksi dengan cepat menggunakan teknik induksi kalus secara in vitro. Kalus merupakan sumber bahan tanam yang sangat penting dalam meregenerasi tanaman baru. Oleh karena itu, dengan menginduksi kalus kebutuhan bibit dalam jumlah banyak dapat dicapai dengan waktu singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan BAP tunggal dan kombinasi BAP dan NAA, dan menentukan konsentrasi terbaik dari penambahan BAP tunggal dan kombinasi BAP dan NAA terhadap pembentukan kalus dari eksplan daun pegagan secara in vitro. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 9 (sembilan) perlakuan (kontrol, 1 mg/l BAP, 2 mg/l BAP, 1 mg/l BAP + 0,1 mg/l NAA, 2 mg/l BAP + 0,1 mg/l NAA, 1 mg/l BAP + 0,3 mg/l NAA, 2 mg/l BAP + 0,3 mg/l NAA, 1 mg/l BAP + 0,5 mg/l NAA, 2 mg/l BAP + 0,5 mg/l NAA) dan masing-masing diulang sebanyak 5 (lima) ulangan. Data hasil pengamatan yang diperoleh dibahas secara deskriptif karena tidak semua ulangan menghasilkan kalus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan BAP tunggal dan kombinasi penambahan BAP dan NAA mampu memberikan respons pada eksplan daun pegagan berupa perubahan warna, pembengkakan dan terbentuknya kalus. Konsentrasi terbaik yang mampu membentuk kalus paling optimal dan pertumbuhan kalus paling tinggi (+++) yaitu perlakuan P5 ( 1 mg/l BAP + 0,3 mg/l NAA) yakni sebesar 100% dengan ciri-ciri kalus berwarna hijau dan kalus menutupi seluruh permukaan eksplan. Semua kalus yang dihasilkan bertekstur kompak, sedangkan warna kalus yang dihasilkan hijau dan coklat.
Katakunci: Pegagan (Centella asiatica (L.) Urb.), Kalus, BAP, NA
Pengetahuan dan Sikap Masyarakat di Kecamatan Seram Utara Barat, Provinsi Maluku, Terhadap Keberadaan Burung Gosong
Kemampuan burung gosong sebagai satwa yang mampu menghasilkan telur dengan ukuran diatas rata-rata dan ditetaskan oleh alam telah menjadi pemicu adanya eksploitasi tidak terkendali oleh manusia. Keadaan tersebut disebabkan adanya perbedaan cara pandang di tengah masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap masyarakat di Kecamatan Seram Utara Barat terhadap keberadaan burung gosong. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap, yaitu Juli 2017 dan Agustus 2018 di dua desa utama (Labuan dan Pasanea) dan disertai observasi lokasi bertelur di beberapa gugusan pulau setempat (Pulau Tujuh). Hasil penelitian menunjukkan para pengumpul telur memiliki pengetahuan yang lebih lengkap tentang karateristik burung gosong dibandingkan masyarakat biasa. Pengetahuan tersebut kemudian dimanifestasikan dalam beberapa sikap konservasi untuk melindungi habitat dan populasi burung gosong, yaitu penggalian telur secara manual, rekonstruksi sarang bertelur, pelepasan anak burung, evaluasi kondisi telur, dan reinkubasi telur bertunas. Sikap tersebut belum mampu mengendalikan tingkat eksploitasi diantara masyarakat sehingga penting untuk dirumuskan program konservasi dan aturan hukum setempat yang sifatnya mengikat
Variasi Morfologi Empat Spesies Jati ( Tectona Sp) di Asia Tenggara: Potensi Pemuliaan Pohon dan Bioteknologinya
Jati (Tectona grandis Linn.f) dikembangkan secara intensif di Indonesia terutama di Pulau Jawa dengan luas pengelolaan hutan tanaman ± 1 juta Ha. Di Asia Tenggara jenis ini ditanam pula oleh negara Philipina, Thailand, Malaysia, Laos, Vietnam bagian Selatan dan Myanmar dengan luas bervariasi. Namun demikian pengetahauan mengenai variasi morfologi dan pemanfaatan untuk kegiatan bioteknologi dan pemuliaan masih berkisar pada satu spesies saja yaitu Tectona grandis. Sedangkan spesies lain seperti Tectona abludens, Tectona hamiltoniana dan Tectona philiphinensis belum banyak diketahui.Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel daun di 3 pengembangan jati di Pulau Jawa yaitu Cepu dan Randublatung Jawa Tengah, Nglambangan Bojonegoro Jawa Timur dan Ciamis Jawa Barat. Untuk Spesies Tectona abludens sampel daun diambil di daerah Dlingo, Bantul DIY dan Selang, Gunungkidul. Sedangkan untuk jenis Tectona philiphinensis lebih dalam dipelajari berdasarkan informasi yang diperoleh dari Kementrian Kehutanan Philipina dan untuk jenis Tectona hamiltoniana dilengkapi dengan data dan informasi dari Kementrian Kehutanan Myanmar. Sampel daun dari tiap jenis diambil 2 daun (daun muda dan daun tua) masing-masing 5 ulangan. Pengamatan terhadap bentuk duduk daun, jumlah tulang daun primer dan sekunder serta pola tulang daun didiskripsikan dan dibandingkan antara keempat spesies tersebut. Morfologi bunga, kulit batang, kayu, biji dan bentuk percabangan digunakan juga untuk melengkapi variasi morfologi masing-masing spesies. Variasi morfologi yang ada dipergunakan untuk mengetahui variasi empat spesies Tectona sp tersebut sehingga diketahui karakter-karakter tiap jenis yang berpeluang untuk dimanfaatkan dalam kegiatan pemuliaan pohon baik melalui pemuliaan konvensional atau bioteknologi.Tectona grandis memiliki morfologi yang lebih dekat dengan Tectona abludens, sedangkan Tectona hamiltoniana dan Tectona phillipinensis memiliki morfologi khas yang berbeda dengan lainnya. Beberapa karakter morfologi diantara keempat spesies tersebut berpeluang diamanfaatkan untuk kegiatan pemuliaan jati antara lain kelurusan batang, kemampuan adaptasi di lahan kering dan ketahanan terhadap penyakit
Pengaruh Variasi Persentase Ragi dan Jenis Bungkus pada Tapai Ubi Jalar Putih terhadap Uji Kesukaan Panelis
Tapai merupakan salah satu makanan tradisional yang yang mengandung karbohidrat tinggi, umumnya adalah beras ketan, singkong, umbi-umbian, dan kacang-kacangan. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah umbi jalar putih yang mengandung pati di dalamnya. Kualitas tapai dipengaruhi oleh banyaknya ragi yang ditaburkan untuk fermentasi. Selain itu, penggunaan pembungkus tapai berbahan plastik cukup banyak ditemukan karena dinilai lebih praktis dan minimnya daun pisang. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesukaan panelis pada tapai ubi jalar putih dengan perbedaan persentase ragi dan jenis pembungkus. Penelitian ini menggunakan desain rancangan acak kelompok dengan 2 faktorial dan 3 kali ulangan. Parameter diujikan adalah tekstur, aroma, rasa, dan kesukaan panelis. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan membandingkan masing-masing perlakuan. Berdasarkan data yang diperoleh semakin tinggi ragi yang diberikan tingkat kelembekan dan keasaman semakin meningkat serta menghasilkan aroma alkhohol yang sangat tajam. Selain itu menurut kebanyakan panelis pembungkus plastik menghasilkan kualitas baik dari segi aroma, yaitu aromanya murni seperti tapai sedangkan pada bungkus daun pisang aromanya terkesan aneh. Berdasarkan analisis kesukaan panelis, tapai dengan ragi 0,25 % yang dibungkus plastik mendapatkan persentase 66,7% dari panelis, lalu 20% menyukai tape dengan ragi 0,25% yang dibungkus daun, dan 13,3% menyukai tapai dengan ragi 0,5% yang dibungkus plastik
Identifikasi dan Uji Aktivitas Antimikrobia Bakteri Asam Laktat dari Fermentasi Singkong (Gatot) terhadap Bacillus cereus dan Aspergillus flavus
Gatot is a traditional food from fermented cassava. Lactic acid bacteria (LAB) can be found in fermented cassava food, gatot. Lactic acid bacteria can produce an antimicrobial compound for inhibiting pathogen microorganism. The aim of this research were isolation and identification LAB from gatot and antimicrobial activity test against Bacillus cereus and Aspergillus flavus. Three isolates from raw gatot and three isolates from cooked gatot used in this research. Isolation of LAB was conducted using pour plate method, purification is conducted by streak plate method, the antimicrobial test was conducted by agar well diffusion and molecular identification was conducted by PCR colony method using LABFw and R16RDNA-1492bac primer. Lactic acid bacteria from cooked gatot identified as Enterococcus sp. FTBUAJY04, Enterococcus sp. FTBUAJY05, Enterococcus sp. FTBUAJY06, while LAB from raw gatot identified as Lactococcus lactis strain FTBUAJY01, Lactococcus lactis strain FTBUAJY02 dan Lactococcus lactis strain FTBUAJY03. The results obtained from the inhibition zone test showed that all isolates were able to inhibit the growth of B. cereus and A. flavus. The greatest inhibition zone against B. cereus was shown by LAB Gt5 supernatant or L. lactis supernatant strain FTBUAJY02 of 1.87 ± 0.67 cm2, while the results of the greatest inhibition zone against A. flavus was LAB Gt6 supernatant or L. lactis supernatant strain FTBUAJY03 of 3.83 ± 0.73 cm2
Potensi Antibakteri Ekstrak Tanaman Suku Rubiaceae dan Aplikasinya dalam Sediaan Hand Sanitizer
Tanaman suku Rubiaceae merupakan tanaman yang banyak digunakan sebagai obat tradisional. Kandungan senyawa aktif yang ada dalam tanaman suku Rubiaceae meliputi alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, fenol, dan minyak atsiri (antrakuinon) yang berpotensi sebagai senyawa antibakteri. Kandungan alkohol dalam hand sanitizer yang beredar di pasaran memberi rasa iritasi dan terbakar pada kulit jika digunakan secara terus menerus sehingga inovasi hand sanitizer dari tanaman suku Rubiaceae dapat dijadikan alternatif untuk membersihkan tangan. Hasil literature review ini menunjukkan bahwa ekstrak dan sediaan hand sanitizer tanaman suku Rubiaceae yang diuji aktivitas antimikrobianya dengan metode difusi agar dan broth dilution mempunyai daya antibakteri terhadap S. aureus dan E.coli. Sediaan hand sanitizer tanaman suku Rubiaceae juga memiliki kualitas karakteristik fisik seperti bentuk, warna, dan bau serta stabilitas seperti pH, viskositas, homogenitas, daya lekat dan daya sebar yang baik. Kategori kualitas baik ini didasarkan pada kesesuaian SNI terkait kestabilan gel antiseptik
Efek Induksi Rhizoctonia pada Ketebalan Daun Anggrek yang diinfeksi Odontoglossum ringspot virus (ORSV)
Anggrek memiliki nilai ekonomis yang tinggi sehingga sangat potensial untuk dibudidayakan. Jenis yang paling banyak diminati masyarakat adalah Dendrobium dan Phalaenopsis. Namun terdapat kendala utama yang dapat memengaruhi pertumbuhan anggrek yaitu infeksi virus. Jenis virus yang dilaporkan paling banyak menginfeksi adalah Odontoglossum ringspot virus (ORSV). Infeksi virus ini dapat menghambat pertumbuhan dan ketahanan tanaman, menurunkan kualitas bunga dan nilai estetika serta daya jual. Didapati pula gejala infeksi virus berupa mosaik, klorotik, streak, dan nekrosis. Salah satu upaya untuk mengatasi infeksi virus adalah dengan memanfaatkan mikoriza. Mikoriza yang dapat digunakan yaitu Rhizoctonia sp. Asosiasi mikoriza pada tumbuhan anggrek dapat memberikan pengaruh positif pada penyerapan nutrisi dan pertumbuhan inangnya, sehingga diharapkan dapat melindungi anggrek dari infeksi virus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek induksi Rhizoctonia pada karakter anatomi daun Phalaenopsis amabilis dan Dendrobium discolor yang diinfeksi ORSV dan mengetahui apakah terdapat perbedaan anatomi diantara kedua anggrek tersebut. Penelitian dilakukan di Laboratorium Botani Biologi FMIPA Unila dengan menggunakan Rancangan Acak lengkap Faktorial. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan ketebalan daun antara daun yang diinokulasi virus dan daun dengan perlakuan mikoriza. Daun anggrek dengan perlakuan mikoriza memiliki ketebalan tertinggi sedangkan yang terinfeksi virus memiliki ketebalan terendah
Perbandingan Metode Isolasi DNA sebagai Templat PCR untuk Identifikasi Jenis Kelamin Cerek Jawa (Charadriius javanicus) secara Molekuler Menggunakan Primer 2550F/2718R
Dalam studi molekuler, ekstraksi dapat memakan waktu dan biaya saat diterapkan dalam penelitian skala besar, sehingga beberapa studi mengkaji tingkat keberhasilan amplifikasi menggunakan metode isolasi DNA alternatif (tanpa ekstraksi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode isolasi DNA paling efektif untuk molecular sexing Cerek Jawa. Penelitian ini menggunakan 5 sampel darah kertas saring, dan 8 sampel darah EDTA yang diisolasi dengan metode ekstraksi kit, alkalin lisis dan PCR langsung. Molecular sexing dilakukan dengan primer 2550F/2718R. Hasil penelitian menunjukan bahwa DNA pada sampel darah kertas saring dan EDTA, baik metode ektraksi kit, alkalin lisis dan PCR langsung, berhasil diamplifikasi dengan primer 2550F/2718R yang menghasilkan pita CHD1-Z dengan ukuran 621 bp dan pita CHD1-W dengan ukuran 459 bp. Penelitian ini menunjukan bahwa ekstraksi DNA dengan kit menghasilkan DNA template yang paling efektif untuk molecular sexing Cerek Jawa
Aktivitas Antifungi Ekstrak Etanol 96% Rimpang Lempuyang Wangi (Zingiber aromaticum Val.) terhadap Cendawan Pythium sp. secara In Vitro
Pythium sp. menyebabkan penyakit rebah kecambah pada berbagai macam tumbuhan. Semangka, mentimun, dan pisang adalah beberapa contoh tanaman yang sering terkena penyakit rebah kecambah yang disebabkan oleh cendawan tersebut. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val.) merupakan bahan alami yang bisa dijadikan sebagai biofungisida karena mengandung zat aktif, yaitu zerumbon, flavonoid, alkaloid, saponin, kurkumin dan lain-lain, sehingga perlu dilakukan kajian mengenai pemanfaatannya sebagai antifungi pada tanaman. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan konsentrasi optimum ekstrak rimpang lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val.) dalam menghambat pertumbuhan cendawan Pythium sp. dan menentukan persentase aktivitas antifungi optimum dari ekstrak lempuyang wangi (Z. aromaticum Val.). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi optimum dari ekstrak lempuyang wangi dalam menghambat pertumbuhan cendawan Pythium sp. adalah 50%. Persentase aktivitas antifungi optimum dari ekstrak lempuyang wangi sebesar 51,9725%