Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
Not a member yet
499 research outputs found
Sort by
Perbandingan Tinggi Tulang Maksila dan Mandibula di Regio Interisisivi Sentral antara Pra dan Pasca Perawatan Ortodontik dengan Pencabutan ke Empat Gigi Premolar Pertama (Kajian pada Foto Panoramik)
Latar belakang. Perawatan ortodontik pada kasus-kasus gigi berjejal dan protusif sering membutuhkan pencabutan gigi premolar untuk penyediaan ruang agar gigi berjejal dapat dirapikan dan gigi depan yang protusif dapat diundurkan. Gigi insisivus sentral merupakan salah satu gigi yang paling banyak mengalami pergerakan selama proses retrusi. Pergerakan gigi insisivus mengakibatkan terjadinya perubahan pada puncak tulang alveolar selama perawatan yang mungkin akan mempengaruhi tinggi tulang maksila dan mandibula pasca perawatan. Tujuan penelitian. Membandingkan tinggi tulang maksila dan mandibula di daerah interdental gigi insisivi sentral pada foto panoramic antara pra dan pasca perawatan maloklusi dengan pencabutan ke empat gigi premolar pertama. Metode penelitian. Digunakan 30 pasang foto panoramic pra dan pasca perawatan yang dipilih sesuai dengan kriteria penelitian dari pasien-pasien peneliti yang telah selesai mendapat perawatan aktif dengan teknik edgewise. Analisis Kolmogorov-Smirnov dan Shaviro-Wilk digunakan untuk uji normalitas dan Student t-test data berpasangan digunakan untuk menguji perbedaan tinggi tulang maksila dan mandibula antara pra dan pasca perawatan. Hasil Penelitian. Tidak didapatkan perbedaan (p>0,05) tinggi tulang maksila dan amndibula antara pra dan pasca perawatan ortodontik dengan pencabutan keempat gigi premolar pertama. Background. In orthodontic treatment, premolar extractions are often needed in crowding and prostrusive cases to provide space for the teeth can be aligned and retracted to their desire position. Central incisor teeth are the teeth that mostly undergone more movement during retrusion. The change of the alveolar bone crest in this incisors might affect the maxillary and mandibular bone height post-treatment. Research objectives. The present study aimed to compare the bone height in the interdental maxillary and mandibular central incisors regions before and after orthodontic treatment with four first premolars extractions on panaromic radiograph. Research Methods. Thirty pairs of panoramic radiograph of pre and post treatment were selected according to the criteria of the study f the patients who have completed their active treatment with edgewise technique. The results were analyzed by the Kolmogorov-Smirnov and Shaviro-Wilk for testing the data normality and the Student paired t-test for testing the significancy of maxillary and mandibula bone heights differences between pre and post treatment. Results. There were no differences (p>0,05) between the maxillary and mandibular bone height were shown in pre and post orthodontic treatment with four first premolars extractions
Hemimandibulektomi dengan Rekonstruksi Mandibula dan Fiksasi Intermaksila sebagai Penatalaksanaan Ameloblastoma Mandibula Sinistra
Latar belakang. Ameloblastoma adalah tumor odontogenik yang jarang terjadi. Walaupun jinak tetapi bersifat merusak dan mempunyai tingkat kekambuhan yang tinggi. Hemimandibulektomy adalah salah satu tindakan yang dipilih jika lesi patologis telah melibatkan processus coronoideus dan condyle walaupun efek dari tindakan tersebut adalah terjadinya defek wajah dan deviasi mandibula. Tujuan. Melaporkan tindakan hemimandibulektomy dengan rekonstruksi bridging plate dan traksi intermaksila pada ameloblastoma mandibula sebelah kiri yang dilakukan untuk mengurangi deviasi dan defek wajah. Kasus dan perawatan. Laki-laki umur 46 tahun datang ke klinik bedah mulut dan maksilofacial RS Dr Sardjito Yogyakarta dengan keluhan utama adanya pembengkakan pada sisi kiri rahang bawah di area pipi. Keadaan tersebut dirasakan sejak 4 tahun yang lalu, tidak sakit, keras, warna sesuai dengan jaringan sekitar. Diagnosa yang ditegakkan Ameloblastoma mandibula. Perawatan dari kasus ini adalah hemimandibulektomy dengan rekonstruksi bridging plate dengan anestesi umum. Enam minggu dengan kawat dan 3 bulan dengan traksi elastic digunakan untuk mengurangi deviasi mandibula setelah tulang rahang direseksi. Kesimpulan. Hemimandibulektomi dilakukan untuk mengambil lesi patologi secara radikal untuk mencegah rekurensi. Bridging plate digunakan sebagai tindakan rekontruksi mandibula. Traksi intermaksila merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengurangi deviasi mandibula setelah hemimandibulektomy. Background. Ameloblastoma is an odontogenic tumor which rarely happened. Although it is benign, it can be destructive and has a high recurrency rate. Hemimandibulectomy is one kind of treatments which can be choosed if pathologic fracture has involved coronoid processus and condyle, eventhough its effect can cause mandible deviation and facial defect. Purpose. Reported a hemimandibulectomy with bridging plate reconstruction and intermaxillary function on the left mandible ameloblastoma intended to reduced the deviation of the mandible. Case and threatment. Fourty-six years old man came to the oral and maxillofacial surgery clinic at Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta, with a main sign of swelling at the left side of lower jaw on buccal region, it was emerged approximately 4 years ago, painless, hard on palpation, colour as normal. Treatment of this case was hemimandibulectomy and reconstruction with bridging plate under general anaesthesia. Six weeks wiring and 3 months elastic traction was used to decrease mandible deviation as an intermaxillary fixation. Partial removable denture used to complete the treatment. Conclusion. Treatment at this case is aimed to eliminate all tumor with hemimandibulectomy and bridging plate is placed to reconstruct the mandible. The use of the intermaxillary elastic traction as an intermaxillary fixation until get the normal occlusion could be one alternative treatment to reduced mandible deviation after hemimandibulectomy
Pembuatan Protesa Maksilofasial Hidung dengan Retensi Magnet
Latar belakang masalah. Restorasi dari cacat masalah. Restorasi dari cacat yang disebabkan tumor di daerah fasial sangat menantang bagi dokter bedah dan ahli prostodonti. Maxillofacial prosthetics adalah cabang kedokteran gigi yang berhubungan dengan cacat baik kongenital maupun yang didapat pada kepala dan leher. Cacat yang didapatkan dibagi menjadi cacat intraoral dan ekstraoral. Cacat intraoral meliputi mandibula, lidah, palatum, keras, sedangkan cacat ekstraoral meliputi daerah lainnya pada kepala dan leher. Tujuan. Laporan kasus ini adalah untuk rehabilitasi daerah wajah pasien dengan memperbaiki fungsi dan estetik dengan membuat protesa maksilofasial hidung sehingga pasien tidak merasa malu. Laporan kasus. Pasien laki-laki, 74 tahun datang atas kemauan sendiri, dan rujukan dari THT ingin dibuatkan hidung dan langit-langit atas buatan karena hidung sudah diamputasi. Dibuatkan prothesa maksilofasial hidung dari bahan silikon karena mempunyai tekstur yang hampir sama dengan kulit, kemudian dipasang kaitan magnet yang dilekatkan dengan obturator sehingga retensi bertambah baik. Protesa dipasang pada kacamata agar mudah cara menggunakan. Kesimpulan. Pasien merasa lebih nyaman ketika bernafas dan berbicara setelah memakai protesa maksilofasial hidung dengan retensi magnet ini. Protesa maksilofasial dapat membantu pasien baik dari sisi estetik maupun fungsional. Background. Restoration of facial defects resulting from ablation of facial neoplasm or anyother reasons is a challenge for the head and neck surgeon, plastic surgeon and prosthontist. Maxillofacial prosthetics is a branch of dentistry that deals with congenital and acquired defects of the head and neck. Acquired defects can be divided into intraoral and extraoral. Intraoral defects may involve the mandible, tongue, soft palate, or hard palate, while extraoral defects may involve any other area of the head or neck. The aim. Of making maxillofacial prosthetics is to make better aesthetics and functional so the patients will not be ashamed with their appearance. Case report. A man age 74 years old came to the prosthodontics clinic of RSGMP Prof. Soedomo, bringing reference letter from ear nose and throat specialist (ENT). She wants to make a nose prostheses because her nose was amputated. Nose prostheses with magnetic attachmet has been made for this patient using silicon material which have almost the same texture as the original one. This prostheses was attached on eye glasses so the patient can use and remove it easily. The result of using nose prostheses is the patient has better aesthetic. Beside that the function of speech and breathing can also be aided. So the conclusion is that the usage of maxillofacial prosthetic on post amputated nose patient can aid both aesthetic and functional
Peran Dokter Gigi dalam Tumbuh Kembang Anak Berkebutuhan Khusus
Latar belakang. Keberadaan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) semakin lama semakin meningkat. Menurut DepKes RI 2010 8,3 juta. Ditinjau dari sudut pandang kebutuhan akan pelayanan kesehatan, khususnya kesehatan gigi dan mulut, maka kelompok ABK ini lebih membutuhkan dibanding dengan anak-anak pada umumnya. Anak-anak berkebutuhan khusus, karena berbagai keterbatasan yang ada pada mereka, kurang mampu untuk membersihkan sendiri rongga mulutnya, sehingga hal ini meningkatkan faktor risiko kerusakan gigi-gigi dan jaringan lunak sekitarnya. Tujuan Penulisan. Untuk mengkaji peran dokter gigi pada tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus. Tinjauan Pustaka. Nutrisi termasuk faktor lingkungan yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Proses tumbuh kembang anak memerlukan pemenuhan kebutuhan makanan yang baik dan adekuta. Kesehatan gigi dan mulut penting dalam upaya mendapatkan asupan makanan yang cukup mengingat bahwa dalam rongga mulut terdapat alat-alat perncernakan. Alat berkebutuhan khusus, terutama yang mengalami gangguan syaraf motorik mempunyai risiko maltunitrisi. Abnormalitas neurologis menyebabkan perubahan aktivitas fisik, pola motorik halus, dan pola oromotor, seringkali mempengaruhi asupan makanan yang diperlukan. Konsisi ini akan diperparah dengan kesehatan rongga mulut yang buruk sehingga kehilangan sebagian gigi desidui maupun gigi permanen sering dialami anak-anak ini, disisi lain penggunaan protesa pada anak-anak ini banyak yang merupakan kontra indikasi. Upaya pencegahan penyakit gigi dan mulut bagi anak-anak berkebutuhan khusus merupakan tanggung jawab dokter gigi. Kesimpulan. Anak berkebutuhan khusus lebih membutuhkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut dibanding anak-anak lainnya. Peran serta dokter gigi dalam upaya pelayanan gigi dan mulut bagi mereka sangat diperlukan. Peningkatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut lebih diharpakan oleh kelompok anak-anak tersebut, terutama upaya pencegahan penyakit gigi dan mulut. Background. The existence of Children with Special Needs progressively increased. Although the phenomenon of their existance seems like an iceberg. In everyday life we often encounter these kids around us although the numbers according to the Central Bureau of Statistics is increasingly rising. Seen from the point of view of the need for health services, especially dental and oral health, then the group of children with special needs is move need than children in general. Children with special needs, because of the limitations that exist on their own are less able to clear the oral cavity, so this factor increases the risk of damage teeth and surrounding soft tissue. Purpose. To examine the role of the dentist in the growth and development of children with special needs. Literature Review. Nutrition including environmental factors that affect the growth and development of children. The process of child development requires meeting the needs good nutrition and adequate. Oral health is important in order to get the nutrition that adequately considering the oral cavity, including digestion. Children with Special Needs, especially with impaired motor neurons are at risk of malnutrition. Neurologic abnormalities cause changes in physical activity, fine motor pattern, and the pattern of oromotor, often affecting food intake is necessary. This condition will be exacerbated by poor oral health that lost some teeth decidouos and permanent teeth are often experienced by these children, on the other hand the use of prostheses in children some time are contra indicated. Efforts to prevent oral disease for children with special needs are the responsibility of the dentist. Conclusion. Children with special needs are more need of oral helath care than other children. The role of the dentist in order to care for their teeth and mouth are very necessary especially the preventation of oral diseases. Improved oral helath services more expected by the group of children.
Pengaruh Etsa Kimia dengan Akua Regia terhadap Kekuatan Tarik Perlekatan Bahan Resin Akrilik pada Gigi Tiruan Kerangka Logam
Latar belakang. Bahan yang dipakai untuk pembuatan Gigi Tiruan Sebagian (GTS), antara lain: resin akrilik, kerangka logam, kombinasi kerangka logam dengan resin akrilik. Resin akrilik adalah bahan plat gigi tiruan yang memliki warna dan translusensi baik tetapi sifat mekanismenya tidak ideal, tidak tahan terhadap abrasi, dan dapat terjadi perubahan dimensi. GTS kerangka logam cukup kuat, tetapi estetis kurang memuaskan sehingga perlu kombinasi kerangka logam dan resin akrilik. Peningkatan daya lekat antara kedua bahan tersebut memerlukan retensi, teknik etsa kimia dengan akua regia dapat membuat retensi mikro pada logam. Tujuan penelitian untuk mengetahui etsa kimia dengan akua regia terhadap kekuatan tarik perlekatan bahan resin akrilik pada gigi tiruan kerangka logam. Metode penelitian. Penelitian dilakukan pada 20 subyek penelitian berupa plat kobalt kromium dengan mesh dilekati resin akrilik (10x10x2) mm yeng dilekati mesh ukuran (10x8x1) mm. Subyek penelitian dibagi 2 kelompok: 10 subyek plat kobalt kromium dengan mesh dilekati resin akrilik (20x10x2) mm dan 10 subyek penelitian plat kobalt kromium dengan mesh dietsa dengan akua regia 65% selama 5 menit, kemudian dilekati dengan resin akrilik (20x10x2) mm. dilakukan uji kekuatan tarik menggunakan Torsee’s universal testing Machine dengan ukuran kg/mm2, kemudian hasil analisa dengan t-test. Hasil Penelitian menunjukkan rata-rata kekuatan tarik perlekatan bahan resin akrilik dengan kerangka logam yang tidak dietsa lebih kecil daripada yang dietsa kimia dengan akua regia. Terdapat perbedaan yang bermakna kekuatan tarik perlekatan resin akrilik dengan kerangka logam yang tidak dietsa dengan yang dietsa secara kimia dengan akua regia (p<0,05). Kesimpulan. Etsa kimia dengan akua regia pada kerangka logam, meningkatan perlekatan bahan resin akrilik pada gigi tiruan kerangka logam. Background. Materials used in making removable partial denture (RPD) can be acrylic resins, metal plate, combination between metal plate and acrylic resins. Acrylic resins is plate denture material have good colour and translucent but the mechanical characteristic is not ideal, unstable to the abrasion, and can be occurred change in dimension. The frame removable partial denture is strong enough but estethically unsatisfaying, therefore need the acrylic resins and metal plate combination RPD. The purpose of this study was to know the influence of chemical etching with akua regia towardbond strength of acrylic resins in frame denture. Methods. The study was conducted in 20 subject of chromium cobalt plate (10x10x2) mm that was attached with a mesh measurement (10x8x1) mm. The sample were devided into two groups. The first group consisted of 10 samples of chromium cobalt plate (10x8x2) mm with a mesh was attached with acrylic resins (20x10x2) mm. The second group consisted of 10 samples of chromium cobalt plate (10x10x2) mm with a mesh etched with 65% akua regia for 5 minutes, than attached with acrylic resins (20x10x2) mm. the bond strength test was carried out using Torsee’s Universal Testing Machine in kg/mm2, than was statistically analyzed using t-test. The result of this study demonstrated that mean of bond strength of acrylic resins combined with nonetched metal plate was smaller than that with etched metal plate. There was a significant difference of the bond strength of acrylic resins combined with metal plate etched and that with metal plate non-etched (p<0,05). Conclusion. The chemical with akua regia in the metal frame increases the attachment of the acrylic resin in the frame denture
Keberhasilan Restorasi Komposit untuk Perbaikan Titik Kontak pada Terapi Periodontal
Latar Belakang: Pada kondisi fisiologis, gigi geligi berada pada posisi stabil dalam lengkung rahang, mempunyai kontak oklusal dengan gigi lawan, dan kontak proksimal dengan gigi disebelahnya. Adanya sedikit pembukaan kontak proksimal akan menyebabbkan terjadinya impaksi makanan, yang merupakan etiologi kelainan periodontal. Pembuatan restorasi permanen dengan menggunakan bahan komposit yang memperhatikan kontak proksimal, kontur permukaan oklusal, kontur fasial dan lingual dapat melindungi jaringan periodontal. Tujuan: menunjukkan bahwa restorasi komposit untuk perbaikan titik kontak dapat menunjang kesehatan jaringan periodontal. Laporan kusus: pada kasusu pertama ditemukan gigi 2.4 dan 3.5 terdapat karies di sisi distal, dan pada kasus kedua gigi 2.8 terdapat karies di sisi mesial sehingga kehilangan titik kontak yang mengakibatkan terjadi poket periodontal. Penanganan: terapi awal yang dilakukan berupa skeling dan penghalusan akar, serta kuretase. Pembuatan restorasi komposit untuk memperbaiki titi kontak dengan menggunakan matriks dan baji di area proksimal. Maladaptasi pita matriks atau baji menyebabkan kegagalan klinis seperti batas restorasi mengemper, kontur didnding proksimal serta titik kontak yang tidak baik. Pemilihan baji yang benar, harus mempertimbangkan : sudut konvergensi dasar, lebar mesiodistal dasar baji, ketinggian gingivooklusa dari arah transversal, dan kecembungan dinding baji. Kesimpulan: secara klinis terjadi penurunan kedalaman poket setelah perbaikan restorasi, namun gambaran radiografis belum memperlihatkan hasil signifikan dalam waktu tiga bulan. Blackground: under physiological conditions, teeth are stabilized in the dental arch by making occlusal contacts with opposing teeth and proximal contacts with adjacent teeth. A weak or slightly open proximal tooth contact would permit food impaction, one of the etiology of periodontal disease. The common therapy is to make a permanent restoration using composite restoratioan having regard to proximal contacts, occlusal contour, and facial and lingual contaour to protect periodontal tissues. Objective: to show that it is important to restore contacts points in maintaining periodontal tissues using composite restoration. Case: on the first case, we found caries on the distal site of 2.4 and 3.5 and mesial site of 2.8 on the second case, and open contacts, resulting a periodontal pocket. Therapy: the initial treatment are scaling and root planning and curretage. Composite restoration to restore proximal contact points using matrix band and wedge. Maladaptation of either the matrix band or the wedge result in clinical failure such as overhanging margins, faulty contouring of the proximal wall and inadequate contact points. To select a correct wedge, four variables should lie considered the convergence angle of the base, the mesiodistal width of the base, the gingivo-occlusal height of the transverse section and the concavity of the side walls. Conclusion: Clinically, there are reduction in pocket depth after the restoration, but radiograpgically, there are no significant result in three months.
Perawatan Maloklusi Kelas 1 Angle dengan Agenese Gigi 12, 14, 34, 44 dan Gangguan Sendi Temporomandibular dengan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Disertai Pemakaian Trainer For Braces
Background: TMJ disorder is define as a condition of acute or chronic inflammation of TMJ in association with mandibular, myofunctional condition, teeth malposition and or malocclusion. TMJ disorder could lead to significant pain and anatomical damage. There are signs and symptoms of TMJ disorder, such as devition of jaw movement, clicking when openingor close the jaw, mastication disorder and decreasing interincisal distance. Purpose: To describe the result of orthodontic treatment with begg technique and trainer for braces on angle’s class I malocclusion with agenese involving 12, 14, 34, and 44 along with TMJ disorder and bad habit which is one side mastication. Case: 19 years old female complaining limited mouth opening, pain on the right side of TMJ when opening the mouth and when chewing hard food and also complaining of multiple diastema on upper and lower teeth. Diagnose : Angle’s class I with bidental protrusive, 3mm midline midline shifting to the left side, agenese involving 12,13,34,44, and one side mastication. Treatment : Patient treated witg begg technique and braces which is wear 1 hour at day time distance, and feel comfort when chewing hard foord and after 24 months of treatment with fixed begg appliance, malposition and interdigitation are corrected
Restorasi Resin Komposit dengan Pasak Fiber Reinforced Composite untuk Perbaikan Gigi Insisivus Sentralis Maksila Pasca Trauma
Latar belakang. Trauma pada gigi dapat menyebabkan injuri pulpa dengan atau tanpa kerusakan mahkota atau akar. Pulpektomi menjadi pilihan perawatan pada fraktur mahkota yang membutuhkan restorasi kompleks. Gigi pasca perawatan saluran akar biasanya telah kehilangan struktur jaringan keras yang cukup banyak sehingga membutuhkan retensi intrakanal berupa pasak untuk mendukung restorasi akhir. Pasak Fiber Reinforced Composite (FRG) memiliki flexure dan fatigue strength yang lebih besar, modulus elastisitas yang mendekati dentin, kemampuan untuk membentuk monoblok (kompleks akar-pasak) dalam saluran akar, dan meningkatkan estetik jika dibandingkan dengan pasak logam. Resin komposit memiliki warna dan translusensi yang menyerupai dentin dan email sehingga mampu menghasilkan estetik yang baik pada gigi anterior. Tujuan. Melaporkan restorasi resin komposit dengan pasak FRG untuk memperbaiki gigi insisivus sentralis maksila yang mengalami fraktur mahkota kompleks pasca trauma. Kasus dan penanganan. Perempuan 20 tahun, gigi insisivus sentralis kanan dan kiri maksila mengalami Fraktur Ellis klas III akibat kecelakaan. Gigi 11 pulpitis ireversibel dan gigi 21 nekrosis pulpa. Kedua gigi malposisi. Dilakukan pulpektomi atau perawatan saluran akar multi kunjungan. Resin komposit dengan pasak FRG customized digunakan sebagai restorasi akhir. Kesimpulan. Restorasi resin komposit dengan pasak FRG customized memberikan hasil yang memuaskan secara estetik dan fungsional untuk merestorasi gigi insisivus sentralis pasca trauma dan perawatan saluran akar
Protesa Maksilofasial dengan Hollow Bulb untuk Rehabilitasi Pasca Hemimaxillectomy Klas IV Aramany
Latar belakang. Tindakan operasi pembedahan pada daerah wajah akan mengakibatkan cacat wajah, gangguan fungsi bicara, penelanan, pengunyahan, estetik serta kejiwaan penderita dan dapat menimbulkan masalah pada rehabilitasinya. Tujuan. Penulisan laporan ini untuk menginformasikan bahwa defect atau cacat pada daerah wajah dapat direhabilitasi dengan pembuatan protesa maksilofasial dengan hollow bulb untuk mengembalikan fungsi. Kasus. Pasien laki-Iaki berusia 30 tahun datang ke RSGM atas rujukan dari RS. Dr. Sardjito. Saat datang pasien merasa terganggu dengan adanya defect didalam mulutnya. Operasi hemimaxillectomy telah dilakukan oleh dokter THT R.S Hasan Sadikin setahun yang lalu. Penanganan. Dilakukan pemeriksaan subyektif, obyektif, radiografi dan hasil diagnose terdapat defect klas IV Aramany. Rehabilitasi dapat dilakukan dengan pembuatan protesa maksilofasial dengan hollow bulb klas IV Aramany untuk mengembalikan fungsi dan menghindari akibat dari pasca operasi hemimaxillectomy lebih lanjut. Pemeriksaan retensi, stabilisasi, oklusi, estetik dan pengucapan dilakukan pada waktu insersi, begitu pula pada saat kontrol 1 minggu dan 1 bulan setelah pemakaian tidak ada keluhan. Kesimpulan. Pemakaian protesa maksilofasial dengan hollow bulb ini dapat berguna sebagai alat rehabilitasi yang dapat mengembalikan fungsi bicara dan mengunyah, estetik dan membantu proses penyembuhan jaringan dan psikologi penderita
Perawatan Saluran Akar Multi Kunjungan Protaper Rotary Files Single Cone pada Nekrosis Pulpa Disertai Asses Dentoalveolar Akut (terhadap Gigi Molar Pertama Kiri Mandibula)
Latar belakang. Perawatan saluran akar multi kunjungan merupakan perawatan endodonlik yang diperuntukan untuk kasus-kasus yang memerlukan proses penyembuhan antar kunjungan dan di peruntukan untuk lesi-Iesi akut dan merupakan kotra indikasi perawatan saluran akar satu kunjungan. Tujuan. Kasus ini adalah untuk untuk menginformasikan hasil evaluasi perawatan saluran akar multi kunjungan pada gigi molar pertama kiri mandibula yang nekrosis pulpa dengan abses dentoalveolar akut. Kasus. Pasien perempuan berusia 20 tahun datang ke klinik Konservasi Gigi RSGM FKG UGM ingin merawat gigi bawah kiri yang mengalami rasa sa kit aku!. Berdasarkan pemeriksaan subyektif, obyektif dan radiografis diperoleh diagnosis gigi molar pertama kiri mandibula nekrosis pulpa dengan abses dentoalviolar akut. Penanganan. Perawatan yang dilakukan perawatan saluran akar multi kunjungan protaper rotary files, kunjungan sebanyak 3 kali kunjungan dan diobturasi dengan metode single cone dan kemudian dilanjutkan dengan perawatan crown lengthening pemasangan pasak radix anchor, pembuatan inti dan pembuatan jaket full crown fused to metal. Hasil. Evaluasi klinis pad a waktu kontrol gigi menunjukkan perkusi, palpasi sudah tidak terasa sakit pemeriksaan radiografi menunjukkan sudah tidak ada kelainan gambaran radiolusen