Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
Not a member yet
    499 research outputs found

    Pengaruh pelatihan menggosok gigi dengan pendekatan Program Pembelajaran Individual (PPI) terhadap peningkatan status kebersihan gigi dan mulut pada anak disabilitas intelektual sedang

    No full text
    Effect of training on tooth brushing using Individual Educational Programme (IEP) approach to increase of oral hygiene status in children of moderate intellectual disability (ID). Children with Intellectual Disability (ID) have limited abilities (social, adaptive and practical) and limited intellect. Teaching these children to brush their teeth using the Individualized Educational Programme (IEP) approach is a strategy which focuses on the condition and motivation of each student. The purpose of this research was to understand how tuition in the techniques of tooth- brushing by IEP influences oral hygiene in medium level ID students. This research method is to master the experiment by single subject design. The respondents in this research were 3 people (R1, R2, R3) taken according to the pre- determined criteria. Data collection method used was by observation. Oral hygiene was measured using the PHP-M (Patient Hygiene Performance-Modified) index from Martens and Meskin (1972). The data analysis used descriptive analysis. The result of the study showed there was after training on tooth brushing for 6 month is decrease plaque score. Oral hygiene status for 3 repondent is R1 and R2 in medium category, R3 in bad category. Training on method of tooth brushing using IEP approach affected increase of oral hygiene status. ABSTRAKAnak dengan disabilitas intelektual (DI) merupakan kelompok anak yang memiliki keterbatasan intelektual, kemampuan adaptif, kemampuan sosial dan kemampuan beraktifitas (praktis). Pelatihan menggosok gigi dengan pendekatan Program Pembelajaran Individual (PPI) merupakan salah satu strategi yang menitik beratkan kondisi dan motivasi masing-masing siswa didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan cara menggosok gigi melalui pendekatan Program Pembelajaran Individual (PPI) terhadap status kebersihan gigi dan mulut. Metode penelitian ini yaitu kuasi eksperimental dengan desain subyek tunggal (single subyek design). Responden dalam penelitian ini yaitu 3 orang (R1, R2, R3) diambil sesuai kriteria yang sudah ditentukan. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi. Status kebersihan gigi dan mulut diukur menggunakan indeks PHP-M (Patient Hygiene Performance-Modified) dari Martens dan Meskin (1972). Analisis datanya menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan setelah dilakukan pelatihan menggosok gigi selama 6 minggu didapatkan adanya penurunan skor plak yang rendah. Status kebersihan gigi dan mulut ke-3 responden didapatkan R1 dan R2 pada kategori sedang, sedangkan R3 pada kategori buruk. Pelatihan cara menggosok gigi menggunakan pendekatan Program Pembelajaran Individual (PPI) berpengaruh terhadap peningkatan status kebersihan gigi dan mulut

    Perawatan Ortodontik Kaninus Kiri Maksil Impaksi di Daerah Palatal dengan Alat Cekat Teknik Begg

    No full text
    Latar Belakang: ketidakharmonisan ukuran rahang dengan gigi merupakan salah satu bentuk etiologi maloklusi yang diturunkan dan akan mempengaruhi susunan dan posisi gigi di dalam rahang. Impaksi gigi seperti molar ketiga atau gigi kaninus sering kita temui akibat tidak adanya ruang untuk gigi tersebut erupsi dan menyusun diri di dalam lengkung yang baik. Gigi kaninus memiliki peran penting di dalam mulut, selain untuk mastikasi, gigi ini juga memiliki peran menentukan dalam estetika susunan gigi. Senyum yang menarik tidak akan didapatkan tanpa adanya gigi kaninus di dalam lengkung. Kasus impaksi kaninus dapat dirawat menggunakan teknik Begg dengan proses windowing yang dilakukan oleh ahli bedah mulut. Tujuan: membantu erupsi gigi kaninus dengan bantuan alat orto cekat teknik Begg. Kasus: laki-laki 19 tahun mengeluhkan gigi depan rahang atas protusif langit-langit tergigit oleh gigi depan rahang bawah. Diagnosis: maloklusi Angle kelas II dengan hubungan skeletal kelas I disertai kondisi berjejal di daerah anterior dan gigitan dalam. Perawatan: menggunakan alat cekat teknik Begg dan windowing dengan pencabutan dua premolar pertama rahang atas serta prosedur windo. Kesimpulan: hasil menunjukkan gigi kaninus kiri rahang atas dapat erupsi dengan baik dan bisa diposisikan ke dalam lengkung dalam 5 bulan. Background: Discrepancy in size between jaw and teeth is one of the etiology factor of malocclusion that genetically inherited and will affect teeth allignment and position within the jaw. Third molar and canine impaction frequently found because there is not enough space for theme to erupt and align themselfes in a good alignment. Canine have an important role in mastication as it is in facial aesthetic. Canine impaction can be treated with Begg technique and windowing process performed by oral surgeon. Purpose: to help impacted canine to erupt using fixed Begg appliance technique and windowing process. Case: 19 years old man complained of crowded front teeth. Diagnosis: malocclusion Angle class II, skeletal class I with crowding and deepbite on anterior segment. Treatment: using the Begg fixed appliance and windowing techniques with the extraction of two maxillary first premolars. Conclusion: the result showed that maxillary right canine erupted and can be adjusted within the line of occlusion in 5 months

    Preparasi Minimal pada Pembuatan Gigi Tiruan Cekat dengan Fiber Reinforced Composite (FRC)

    No full text
    Dalam praktek sering kali dokter gigi dihadapkan pada pasien yang kehilangan gigi anterior dan ingin segera dibuatkan gigi tiruan karena alasan estetik. Gigi tiruan yang dibuat bisa berupa gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) atau gigi tiruan cekat (GTC). Pada GTSL, adanya plat pada palatum menyebabkan rasa tidak nyaman, selain itu pasien setiap kali harus buka pasang gigi tiruan kembali sehingga cukup merepotkan. Oleh karena itu pada umumnya pasien ingin dibuatkan GTC dan hal ini memang sesuai dengan indikasi GTC. Hal yang menjadi pertimbangan pada pembuatan GTC adalah pengasahan permukaan gigi secara keseluruhan bila akan dibuat desain full crown. Pada perkembangan desain GTC ada desain yang disebut resin bonded bridge atau adhesive bridge yaitu GTC yang dibuat pada gigi abutment yang dipreparasi minimal pada bagian palatal saja dan dilekatkan secara mikromekanikal antara retainer sayap logam dan gigi yang telah dipreparasi. Pasien wan ita usia 22 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM Prof Soedomo UGM karena kehilangan gigi insisif sentral kiri atas. Pada kasus ini dilakukan pembuatan GTC dengan bahan fiber reinforced composite (FRC). Pembuatan bridge dengan bahan FRC dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pada makalah ini akan dibahas pembuatan bridge FRC secara tidak langsung yaitu dengan menggunakan gigi artlfisial komposit. Hasil menunjukkan estetis yang baik, kontrol setelah 2 bulan tidak ada perubahan warna dan pasien merasa puas dengan penampilannya, jaringan gingiva di sekitarnya normal

    Penggunaan MTA (Mineral Trioxideaggregate) sebagai Bahan Pengisi Saluran Akar pada Gigi Insisivus Lateral Kiri Maksila dengan Perforasi Saluran Akar

    No full text
    Laporan kasus ini bertujuan untuk menginformasikan hasil pengisian saluran akar dengan menggunakan bahan MTA (Mineral Trioxide Aggregate) pada gigi insisivus lateralis kiri maksila dengan perforasi di daerah saluran akar bagian tengah. MTA (Mineral trioxide Aggregate) merupakan bubuk halus yang dengan pencampuran air akan membentuk koloid gel dan mengeras dalam tiga jam. Indikasi penggunaan MTA untuk menutup perforasi saluran akar, terutama saluran akar bagian apikal yang terbukalebar. Pasien datang dengan keluhan gigi insisivus lateralis kiri maksila berubah warna dan ingin diputihkan. Pada daerah setengah koronal saluran terdapat bahan tumpatan. Pada saat pengambilan bahan tumpatan tersebut, terjadi perforasi akar (iatrogenik) di daerah saluran akar bagian tengah. Diagnosis gigi insisivus lateralis kiri maksila adalah nekrosis pulpa disertai dengan perubahan warna gigi dan lesi periradikular. Perawatan diawali dengan pembukaan kamar pulpa dan preparasi saluran akar. Saluran akar di obturasi dengan MTA untuk menutup perforasi akar. Evaluasi hasil perawatan dilakukan satu bulan pasca perawatan. Hasil evaluasi menunjukkan gigi dapat berfungsi dengan baik, tidak ada keluhan rasa sakit, gambaran radiograf terlihat pengisian yang padat dan tidak ada kelainaan periapikal

    Pengaruh Lama Perendaman terhadap Absorpsi Tetrasiklin pada Adsorben Limbah Sisik Ikan Gurami (Osphronemus Gouramy)

    No full text
    Influence of Immersion Length on Tetracycline Absorption on Gourami (Osphronemus Gouramy) Scales as Adsorbent. Gourami (Osphronemus Gouramy) scales are one of the natural sources of collagen. This fish scale’s collagen has functional properties, such as bio-degradable (easily decomposed), bio-compatible (compatible with surrounding tissue), and potential as bio-adsorbent. The absorbent properties of collagen are currently used as a transport material in local drug delivery for periodontal disease treatment, which is known as tetracycline chip. However, this chip is made of synthetic collagen so it is not absorbable by the body’s system. The price is also expensive. This study’s aim is to prove the potency of Gourami scales as a source of collagen in medical treatment, especially as a transport material of tetracycline for periodontal disease treatment. The gourami scale was obtained from seafood restaurant in Jember, Jawa Timur. About 500 mg of gourami scales was immersed into 20 ml tetracycline solution in beaker glass. About 200 μl solution from the beaker glass was taken with micropipette after 1-hour, 2-hour, 4-hour, 12-hour and 24-hour after immersed. After that, the solution was collected into an eppendorf for each time. The absorbance was measured with spectrophotometer at 450 nm wave length. This procedure was repeated five times. The lowest absorbance occured at 1-hour time (160,6 μg/μl). The result from light and inverted microscope examination shows a bond between collagen from gourami scales with tetracycline. Gourami scale has the ability to absorb the highest rate of tetracycline at 1-hour immersed time by forming a bond between collagen and tetracycline

    Apeksifikasi dengan mineral trioxide aggregate dan perawatan intracoronal bleaching pada gigi insisivus sentralis kiri maksila non vital diskolorasi

    No full text
    Affecification with mineral trioxide aggregate and care of intracoronal bleaching on the non vital discoloration maxillary left central incisor. Maxillary anterior teeth in children and adults often experience trauma. This later makes the dental pulp roots that are not completely formed face the necrosis and apical closure stop later causing the apex wide and open. The opened apex can be coped with the care of affecification. Mineral Trioxide Aggregate (MTA) is the best material of affecification used for the formation of apical barrier. The purpose of this case report was to report the achievement of the apical sealing using MTA in the non-vital permanent maxillary left central incisor with the opened apical due to the trauma. The complaints of male patients aged 20 years was about the broken and discoloured left upper front teeth and becomes a traumatic event since the age of 10 years due to a fall and hit the cement floor. A clinical examination of non-vital teeth used the fracture Ellis IV class with wide open apex and discoloration. The radiographic image showed a widely opened apex with large root canal and there was a periapical radiolucency. The treatment given was affecification with MTA followed obturation with gutta-percha and sealer AH 26. In the following week it was continued with intracoronal bleaching with the application of sodium perborate and 30% hydrogen peroxide. Before treatment, the teeth were brownish (C4) and after treatment it turned into yellowish white (B2). A week after the bleaching treatment was completed and the installation of fibre post was done, followed by giving the composite resin restorations class IV cavity. The 2-week control later showed no abnormalities. In conclusion, the affecification treatment with MTA can accelerate treatment with the formation of apical barrier that stimulates the healing and may be followed by obturation with guttap percha followed by doing intracoronal bleaching and final restoration. ABSTRAKGigi anterior rahang atas pada anak-anak maupun dewasa sering mengalami trauma. Akibatnya pulpa gigi yang akarnya belum terbentuk sempurna akan mengalami nekrosis, dan penutupan apeks terhenti yang menyebabkan apeks lebar dan terbuka. Apeks yang terbuka dapat diatasi dengan perawatan apeksifikasi. Mineral Trioxide Aggregate (MTA) adalah bahan pilihan terbaik yang dipakai sebagai bahan apeksifikasi untuk pembentukan apical barrier. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk melaporkan keberhasilan penutupan apikal dengan menggunakan MTA pada gigi permanen insisivus sentralis kiri maksila non vital dengan apikal yang terbuka karena trauma. Pasien laki-laki usia 20 tahun dengan keluhan gigi depan atas kiri patah dan berubah warna. Kejadian trauma sejak usia 10 tahun karena jatuh dan terbentur lantai. Pemeriksaan klinis gigi non vital dengan fraktur Ellis kelas IV disertai apeks terbuka lebar dan diskolorasi. Pada gambaran radiografis menunjukkan apeks yang terbuka lebar dengan saluran akar besar serta terdapat radiolusensi periapikal. Perawatan yang dilakukan adalah apeksifikasi dengan MTA dilanjutkan obturasi dengan gutta percha dan sealer AH 26. Setelah seminggu kemudian dilakukan intracoronal bleaching dengan aplikasi sodium perborat dan hidrogen peroksida 30%. Sebelum perawatan, gigi berwarna kecoklatan (C4) setelah dilakukan perawatan menjadi warna putih kekuningan (B2). Seminggu setelah perawatan bleaching selesai kemudian dilakukan pemasangan pasak fiber, dilanjutkan dengan restorasi resin komposit kavitas kelas IV. Kontrol 2 minggu kemudian tidak menunjukkan adanya kelainan. Kesimpulan hasil perawatan apeksifikasi dengan MTA dapat mempercepat waktu perawatan dengan terbentuknya barier apikal yang merangsang penyembuhan dan dapat dilanjutkan dengan obturasi dengan gutta percha, kemudian dilakukan bleaching intracoronal bleaching dilanjutkan dengan restorasi akhir.

    Perbandingan tingkat kebocoran mikro resin komposit bulk-filldengan teknik penumpatan oblique incremental dan bulk

    No full text
    Micoleakage comparison of bulk-fillcomposite beetwen oblique incremental and bulk placement techniques. Resin composite bulk-fill was a new type of resin composite that speed up application process of composite. The concept of bulk-fill composite allows composite to fill at a depth of 4 mm and minimizes polymerization shrinkage. This study aims to determine the comparison of placement techniques (oblique incremental/bulk) of bulk-fill composite on microleakage in class I preparations. Thirty two human maxillary premolar were stored in distilled water, then Class I preparations were made with the depth of the cavity which was 4 mm (3 x 3 x 4). The teeth were randomly divided into two groups, group 1 uses oblique incremental placement technique and group 2 with bulk placement technique. Samples were stored in an incubator at a temperature of 37 °C for 24 hours, then it was thermocycled manually, 100 cycles at temperature between 5 °C and 55 °C. Microleakage was measured using a digital microscope with a 100 X magnification in millimeters using a microscope micrometer calibration ruler with 0,1 mm level of accuracy after immersion in 0,3% methylene blue and sectioned using separating disc. The result of this study revealed that in group 1 microleakage range was 1.0 mm - 2.7 mm with an average 1.625 mm, and in group 2 microleakage range was 3.6 mm - 4.0 mm with an average of 3.763 mm. The data were analyzed using T-test. The analysis showed a significant difference between two groups (p <0.05). The conclusion of this study was bulk-fill composite in class I cavities with oblique incremental placement technique produces less microleakage than bulk placement technique. ABSTRAKResin komposit bulk-fill adalah resin komposit yang dirancang untuk mempercepat proses aplikasi resin komposit. Konsep bulk-fill memungkinkan resin komposit ditumpat sekaligus 4 mm dan mengalami pengerutan polimerisasi minimal. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek teknik penumpatan (oblique incremental/bulk) pada tingkat kebocoran mikro resin komposit bulk-fill. Sampel berjumlah 32 gigi premolar rahang atas disimpan di dalam aquades, dipreparasi kavitas kelas I berbentuk persegi, kedalaman kavitas 4 mm (3 x 3 x 4). Sampel dibagi dalam dua kelompok, kelompok 1 restorasi teknik oblique incremental dan kelompok 2 teknik bulk. Sampel kemudian disimpan di dalam inkubator pada suhu 37 °C selama 24 jam, kemudian dilakukan prosedur thermocycling manual 100 putaran pada suhu 5 °C dan 55 °C. Kebocoran mikro diukur menggunakan digital microscope pembesaran 100 x dalam satuan milimeter menggunakan penggaris mikrometer mikroskop dengan ketelitian 0,1 mm setelah sampel direndam dalam larutan methylene blue 0,3% selama 24 jam dan dipotong pada pertengahan restorasi menggunakan separating disc. Hasil pengukuran tingkat kebocoran mikro menunjukkan pada kelompok 1 nilai kebocoran mikro yang terjadi berkisar 1,0 mm – 2,7 mm dengan rata-rata 1,625 mm, pada kelompok 2 kebocoran mikro yang terjadi berkisar 3,6 mm – 4,0 mm dengan rata-rata 3,763 mm. Data di analisis menggunakan uji T-test. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (p < 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah restorasi resin komposit bulk-fill pada kavitas kelas I dengan teknik oblique incremental menghasilkan tingkat kebocoran mikro yang lebih kecil dibandingkan dengan teknik bulk

    Pemakain Lip Bumper pada Anak Cerebral Palsi dengan Kasus Drooling, Inkompetensi Bibir dan Kebiasaan Menggigit-gigit Bibir Bawah

    No full text
    Latar Belakang. Anak yang menderita cerebral palsi pada umumnya mempunyai keluhan ketidakmampuan dalam pengontrolan saliva dalam rongga mulutnya. Pada kondisi tersebut penderita mengalami ketidaknormalan dalam koordinasi neuromuscular pada lidah, bibir dan pipinya, sehingga hal tersebut dapat menyebabkan drooling. Kebiasaan buruk menggigit-gigit bibir bawah yang terjadi pada anak ini menimbulkan problem inkompetensi bibir. Pendekatan perawatan myofungsional dapat meningkatkan torus otot bibir dan lidah, dan sebisa mungkin menahan posisi lidah tetap di dalam mulut dengan suatu hal yang dinamakan lip bumper. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk melaporkan bahwa pemakaian alat lip bumper dapat mengurangi drooling, inkompetensi bibir dan kebiasaan menggigit-gigit bibir bawah pada anak cerebral palsi. Kasus. Seorang anak laki-laki siswa SLB 1 Bantul dengan kelainan cerebral palsi dilakukan pemeriksaan rutin kesehatan gigi. Tampak gigi protusif dengan bibir inkompetensi. Setelah wawancara dengan pengasuh, anak tersebut mempunyai drooling yang berlebihan dan sering menggigit-gigit bibir bawah. Perawatan yang dipilih adalah menggunakan alat removabel lip bumper. Lip bumper dipakai pada siang hari selama 2 jam dan malam hari pada waktu tidur. Kesimpulan. Setelah 3 bulan terjadi pengurangan drooling, kebiasaan menggigit-gigit bibirnya hilang dan inkompetensi bibir berkurang. Background. Children with cerebral palsy generally have a complaint inability to control saliva in the oral cavity. In these conditions the patient has an abnormality in neuromuscular coordination of the tongue, lips and cheeks, where it can cause drooling. Myofungsional treatment approaches can improve muscle tone lips and tongue, and as much as possible to hold the position of the tongue remains in the mouth with a tool called a lip bumper. Purpose. The purpose of this case report is to report that the use of lip bumper can reduce drooling, incompetency lips and biting his lower lip in child’s cerebral palsy. Case. A young male student SLB 1 Bantul with abnormalities of cerebral palsy do routine dental examination. He has lip incompetence and protusif. After the interview with the caregiver, the child has excessive drooling and often lower lip biting. The selected treatment is to use a lip bumper. Lip bumper used during the day for 2 hours and at night at bedtime. Conclusion. After 3 months of a reduction of drooling, lip biting missing and reduce of incompetency lips

    Perawatan Kandidiasis Pseuodomembran Akut dan Mukositis Oral pada Penderita Kanker Nasofaring yang Menerima Khemoterapi dan Radioterapi

    No full text
    Latar belakang: Terapi radiasi merupakan metode primer perawatan pasien kanker leher dan kepala. Perubahan funsional dan kerusakan jaringan oral menyebabkan timbulnya mukositia oral yang diikuti dengan kandidiasis oral. Tujuan: Melaporkan efek samping perawatan khemoterapi dan radioterapi pada pasien kanker nasofaring yang terjadi di rongga mulut berupa kandidiasis pseudomembran akut dan mukositis oral serta penatalaksanaannya. Kasus: Seorang laki-laki, 69 tahun, datang ke Bagian Gigi dan Mulut RSUP Dr. Sardjito, atas rujukan dari instalasi Penyakit Dalam., RSUP Dr. Sardjito, dengan keluhan sakit untuk menelan makanan dan mulutnya banyak bercak-bercak putih. Keluhan dirasakan satu minggu setelah dilakukan khemoterapi ke-3 dan radioterapi ke-9. Pasien didiagnosa kanker nasofaring (NPC) dengan klasifikasi T2N3M0. Pemeriksaan klinik menunjukkan adanya lapisan putih pada mukosa lidah, pipi, palatum, dan mukosa bibir. Seluruh mukosa mulut berwarna merah tua dan terdapat anguler cheilitis di kedua sudut bibir. Pasien diklasifikasikan menderita mukositis oral derajat 1. Penatalaksanaan: Menghilangkan jaringan nekrotik dan debris dengan berkumur larutan perhidrol 3% dan pemberian medikasi termasuk tablet nistatin 500.000 IU, betadin kumur, dan larutan perhidrol 3% selama 1 minggu. Saat reevaluasi, pasien sudah dapat menelan dan makan yang sedikit keras tanpa ada rasa sakit lagi. Pemeriksaan klinis didapatkan bercak putih di lidah, palatum, pipi dan bibir sudah tidak ada. Warna mukosa oral telah normal, OHI dan kondisi umum baik dalam 1 minggu pasca perawatan. Kesimpulan: Perawatan kandidiasis dan mukositis oral akibat kemoradioterapi pada pasien kanker nasofaring telah berhasil dan kondisi oral membaik. Pasien dapat mengunyah dan menelan makanan tanpa ada rasa sakit, dan hasil pengobatan yang diberikan pada pasien sesuai dengan harapan operator. Background: Radiation therapy remains the primary method of treatment for patients with head and neck cancer. The tissue destruction and functional alterations in the oral cavity lead to the development of oral mucositis followed by oral candidiasis. Purpose: The aim of study was to report the side effect of chemotherapy and radiotherapy treatment of nasopharyng cancer patient included acute pseudomembran candidiasis and oral mucositis, and its treatment. Case: 69 year old man, came to dental clinic, Sardjito hospital, as refered from Internal Medicine department, Sardjito hospital, with complained painful for food swallowing and found white spots at oral cavity. Chief complaint was detected one week after third chemotherapy and nine radiotherapy treatments. Nasopharyng cancer was diagnosed with T2N3M0 clasifiacation. Clinical examination showed white spots at tongue, buccal, palatal and lip mucosa. All of oral mucosa coloured bright-red and anguler cheilitis appeared at both lip angle. Patient was clasified (by WHO) to have oral mucositis with level 1. Management: removal of necrotic tissue and debris using perhidrol 3% solution, and also medication by nistatin tablet 500.000 IU, betadin gargle, and perhidrol 3% solution for 1 week. In control, patient feeled comfortable while food swallowing and could eat a slightly hard food without pain. Clinical examination revealed that white spot at tongue, buccal, palatal and lip mucosa was disappeared. Normal colour was found at all of oral mucosa. Also, oral hygiene and general condition were good in 1 week post treatment. Conclusion: Treatment of acute pseudomembran candidiasis and oral mucositis caused by chemotherapy and radiotherapy of nasopharyng cancer patient was recovered. Patient could chew and swallow of food without painful, and results of treatment to this pastient gave us a satisfied

    Pengaruh Lama Paparan Gelombang Ultrasonik Frekuensi Terapi terhadap Jumlah Koloni Bakteri Streptococcus mutans

    No full text
    Latar Belakang. Gelombang Untrasonik telah digunakan untuk terapi dan diagnosis, di klinik kedokteran gigi popular digunakan untuk ultrasonik skaler. Efek termal dan nontermal gelombang ultrasonik dapat mempengaruhi lingkungan tumbuh bakteri, merusak enzim bakteri, dan struktur bakteri. Streptococcus mutans merupakan bakteri penyebab karies gigi. Tujuan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama paparan gelombang ultrasonik frekuensi terapi 3,5 MHz terhadap jumlah koloni bakteri Streptococcus mutans. Cara penelitian. Penelitian ini dilakukan pada 20 buah cawan petri yang berisi koloni bakteri streptococcus mutans dengan media agar darah. Dua puluh buah petri dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol (A) dan kelompok perlakuan (B, C, D). kelompok perlakuan diaplikasi gelombang ultrasonik frekuensi 3,5MHz  selama 5, 10, dan 15 menit, sedangkan kelompok kontrol tidak diberi perlakuan apapun. Perhitungan jumlah koloni bakteri dilakukan dengan pengamatan menggunakan colony counter dengan standart plate count (SPC) method. Hasil penelitian jumlah koloni bakteri Streptococcus mutans dianalisis menggunakan ANAVA satu jalur menunjukkan ada perbedaan yang signifikan (p<0,05) berarti terdapat pengaruh lama paparan gelombang ultrasonik frekuensi terapi 3,5 MHz terhadap jumlah koloni bakteri Streptococcus mutans. Hasil analisis post hoc (LSD) terhadap jumlah koloni bakteri Streptococcus mutans juga menunjukkan ada perbedaan rerata antar kelompok perlawanan yang signifikan (p<0,05). Kesimpulan. Kesimpulan penelitian ini adalah lama paparan gelombang ultrasonik frekuensi terapi 3,5 MHz berpengaruh terhadap jumlah koloni bakteri Streptococcus mutans.  Introduction. Ultrasonic waves have been used for therapy and diagnosis, in dental clinic ultrasonic waves are used popular for ultrasonic scaler. Thermal and non thermal effects from ultrasonic wave influence the environment of bacteria disturb bacteria enzyme and the bacteria structure. Streptococcus mutans is a bacterium that cause caries in teeth. The aim of this study was to observe the effect of duration of ultrasound in therapy frequency 3,5 MHz exposure towards Streptococcus mutans cell colony. Methods. This study was 20 petri dish with blood agar media containing the Streptococcus mutans cell colony. Twenty plates blood agar, were divided into 4 groups. Control group A was unexposed and treated group received ultrasound exposure at frecuency 3,5 MHz which for 5 minutes exposure (B), 10 minutes exposure (C) and 15 minutes exposure (D). Streptococcus mutans cell colony was countusing colony counter with standard plate count methos. Results. The results of one way ANOVA at 95o/o significance showed that duration ultrasonic therapy frecuency 3,5 MHz exposure influenced the amount of Streptococcus mutans cells colony (p<0,0,5). The post hoc test (LSD) showed the significantly mean difference (p,0,05) between groups. Conclusions. The conclusions, of this study is duration exposure ultrasonic therapy frecuency at 3,5 MHz influences on the amount of Streptococcus mutans cells colony.

    0

    full texts

    499

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇