Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
Not a member yet
    499 research outputs found

    Korelasi antara dimensi vertikal oklusi dengan panjang jari kelingking pada sub-ras Deutro Melayu

    No full text
    Correlation between VDO with length of little finger in Malay Deutro sub race. The correct determination of vertical dimension of occlusion (VDO) is an important step to to concern for dentist in clinical procedures of dental treatment. VDO is defined as the distance between two selected anatomic points, one point on maxilla and the other on mandibule in centric occlusion. There are various measurements of VDO methods suggested. Recently, many researchers have been studied antropometric method to determine the VDO. One of the antropometric methods is the length of little finger measurement. VDO and length of little finger are influenced by human race and each race has different specific characteristic. This study choose Malay Deutro sub race as one of sub-races in Indonesia. The purpose of this study is to determine the correlation between measurement of DVO and length of little finger of Malay Deutro sub race in Padang. This study use observational analysis with cross sectional approach. The samples consist of 56 males and 56 females, 112 respondents in total. The respondents are Malay Deutro sub race that domicile in Padang and are eligible. The data were analyzed by Pearson correlation test. VDO and length of little finger of Mal ay Deutro sub race was significantly correlated (r value= 0,768) and the result of VDO was almost equal with length of little fi nger (p value= 0,000) that means statistically significant. The Antropometric parameter measurement of the length of little finger can be used in determination of VDO. ABSTRAKPenentuan dimensi vertikal oklusi (DVO) yang tepat merupakan salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dokter gigi dalam prosedur klinis perawatan gigi. DVO adalah jarak antara dua titik anatomi yang dipilih, yaitu satu titik pada maksila dan satu titik pada mandibula ketika posisi oklusi sentrik. Beberapa metode dianjurkan dalam pengukuran DVO. Salah satu metode penentuan DVO yang dikembangkan oleh para ahli yaitu metode antropometri. Metode ini dilakukan dengan cara pengukuran panjang jari kelingking. DVO dan panjang jari kelingking berbeda pada setiap ras manusia karena masing-masing ras memiliki ciri-ciri spesifik yang berbeda antara satu dengan yang lain. Sub ras Deutro Melayu merupakan salah satu sub ras di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara hasil pengukuran DVO dan panjang jari kelingking pada sub ras Deutro Melayu di Kota Padang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 112 warga Kota Padang yang merupakan sub ras Deutro Melayu dan memenuhi kriteria, terdiri dari 56 orang laki-laki dan 56 orang perempuan. Data diuji secara statistik dengan analisis Pearson correlation. Terdapat korelasi yang bermakna antara hasil pengukuran DVO dengan panjang jari kelingking dengan nilai r=0,768 dan hasil kedua pengukuran ini menunjukkan nilai yang hampir sama dengan nilai p=0,000, sehingga signifikan secara statistik (p<0,05). Pengukuran antropometri panjang jari kelingking merupakan metode yang dapat digunakan untuk menentukan DVO.

    Kandidiasis Pseudomembran pada Lidah Akibat Pemakaian Obat Kumur Heksetidin serta Penatalaksanaannya

    No full text
    Latar Belakang: Candida albicans merupakan flora normal mulut yang paling sering menyebabkan penyakit infeksi. Jika flora normal rongga mulut terganggu keseimbangannya, misalnya karena terapi antibiotik, penyakit yang menyebabkan penurunan daya tahan tubuh (misalnya AIDS), kondisi lokal yang jelek, akan menyebabkan mikroorganisme oportunis bermultiplikasi dan menyebabkan terjadinya suatu infeksi. Tujuan: Melaporkan kasus kandidiasis pseudomembran pada lidah akibat pemakaian obat kumur serta penatalaksanaannya. Kasus dan penatalaksanaannya: Kasus kandidiasis pada lidah sebagai akibat pemakaian obat kumur yang mengandung heksetidin 0,1% dalam jangka waktu lama yaitu sekitar satu bulan. Penatalaksanaan dengan pemberian suspensi nistatin 100.000 UI topikal selama satu minggu cukup efektif mengatasi infeksi, medikasi diteruskan sampai dua minggu setelah gejala hilang. Kesimpulan: Pemakaian obat kumur dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan infeksi oportunistik yaitu kandidiasis pseudomembran. Medikasi dengan nistatin topikasl cukup efektif untuk mengatasi infeksi ini. Background: Candida albicans is the most infectious oral normal flora. If oral normal flora disturbed such as excessive antibiotic therapy, immunodeficiency disease (AIDS), bad local condition will cause opportunistic microorganism proliferation leading to infectious condition. Objective: to report lingual pseudomembraneous candidosis case caused by mouth rinse and its management. Case and Management: lingual pseudomembraneous candidosis case caused by 0,1% hexitidine mouth rinse used for a long period about one month, was managed effectively by topical nystatin 100.000 IU for one week, and medication must be continued for two week after clinical improvement. Conclusion: Long term usage of mouth rinse causes oppotunistic infection of pseudomembaneous candidosis. Medication with topical nystatin effectively treat this infection

    Efek Ketebalan Semen Ionomer Kaca dan Resin Komposit terhadap Kekuatan Tekan Tumpatan Sandwich

    No full text
    Tuntutan masyarakat terhadap tumpatan sewarna gigi semakin tinggi. Pada kasus-kasus tertentu teknik restorasi dengan menggunakan dua bahan restorasi yang berbeda (teknik tumpatan sandwich) diperlukan untuk mendapatkan restorasi yang dapat melekat kuat dan mempunyai estetika yang bagus. Teknik tumpatan sandwich yang sering dilakukan adalah menggunakan semen ionomer kaca dan resin komposit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek perbedaan ketebalan semen ionomer kaca dan resin komposit terhadap kekuatan tekan tumpatan sandwich secara in vitro. Pada penelitian ini digunakan 40 subjek penelitian berupa tumpatan sandwich yang dibuat pada cetakan fiber dengan kavitas berbentuk sHinder dengan diameter 5 mm dan tinggi 5 mm. Semua kavitas ditumpat dengan semen ionomer kaca dan resin komposit dengan teknik sandwich, dengan perbandingan ketebalan yang berbeda. Kelompok I dilakukan penumpatan semen ionomer kaca tipe II dan resin komposit packable dengan perbandingan 1:4, kelompok II dengan perbandingan 2:3, kelompok III dengan perbandingan 3:2, kelompok IV dengan perbandingan 4:1. Selanjutnya seluruh subjek penelitian direndam dalam saliva tiruan pH 6,7 dan disimpan pada suhu 370C selama 24 jam dalam inkubator, kemudian diukur kekuatan tekan menggunakan alat uji tekan Universal Testing Machine. Hasil analisis dengan Anava satu jalur menunjukkan perbedaan ketebalan semen ionomer kaca dan resin komposit mempunyai efek yang bermakna terhadap kekuatan tekan tumpatan sandwich (p < 0,05). Hasil uji LSD rerata kekuatan tekan antar kelompok 1,11,III dan IV berbeda bermakna (p < 0,05), dapat disimpulkan bahwa perbedaan ketebalan semen ionomer kaca dan resin komposit berpengaruh terhadap kekuatan tekan tumpatan sandwich

    Hubungan antara Lebar dan Panjang Lengkung Gigi terhadap Tinggi Palatum pada Suku Jawa dengan Metode-Pont dan Korkhaus

    No full text
    Latar Belakang. Setiap ras memiliki ciri-ciri khusus untuk suatu ras tertentu sehingga tidak dapat digunakan sebagai standar untuk ras yang lainnya. Pont dan Korkhaus menggunakan indeks yang didapatkan dari ras Kaukasoid sehingga perlu dilakukan penelitian pada suku Jawa yang tergolong dalam ras Mongoloid. Sering dijumpai pasien dengan palatum tinggi mempunyai lengkung gigi yang panjang dan sempit. Hal itu menandakan adanya hubungan antara tulang kepala, maksila, dan palatum. Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai indeks lebar lengkung gigi, panjang lengkung gigi, dan tinggi palatum berdasarkan analisis Pont dan Korkhaus dan hubungan lebar dan panjang lengkung gigi terhadap tinggi palatum pada suku Jawa. Metode Penelitian. Penelitian bersifat deskriptif dan analitik. Sebanyak 31 subjek (8 laki-Iaki dan 23 perempuan) diambil dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada angkatan tahun 2006-2009 dengan metode selectedsampling. Data diperoleh dari pengukuran pada model studi rahang atas meliputi lebar mesiodistal keempat insisivus, lebar interpremolar, lebar intermolar, panjang lengkung gigi, dan tinggi palatum sesuai dengan parameter yang digunakan oleh Pont dan Korkhaus. Analisis statistik deskriptif, uji t tidak berpasangan, dan uji regresi digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh. Hasil Penelltian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suku Jawa mempunyai indeks premolar Pont 82,62 ± 4,41; indeks molar Pont 65,96 ± 4,42; indeks panjang lengkung gigi Korkhaus 163,49 ± 8,02; dan indeks tinggi palatum Korkhaus 36,29 ± 4,42. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara lebar dan panjang lengkung gigi terhadap tinggi palatum (p>O,05). Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara lebar dan panjang lengkung gigi terhadap tinggi palatum berdasarkan metode Pont dan Korkhaus pada suku Jawa

    Pengaruh Level HBA1C Terhadap Fungsi Fagositosis Neutrofil (PMN) pada Penderita Periodontitis Diabetika

    No full text
    Latar belakang. Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit sistemik yang sangat terkait dengan meningkatnya keparahan penyakit periodontal. Pada penderita DM diduga kuat bahwa keparahan periodontitis disebabkan oleh gangguan fungsi leukosit. Sel neutrofil (PMN) diketahui berperan besar di dalam system pertahanan jaringan periodontal. Kontrol glikemik pada penderita DM dapat diketahui dengan pemeriksaan level HbA1c. Tujuan. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh level HbA1c pada penderita periodontitis diabetika terhadap fungsi fagositosis sel PMN. Bahan dan Cara. Sel PMN dari darah tepi 15 pasien periodontitis terdiri 5 periodontitis tana DM, 5 periodontitis diabetika terkontrol (HbA1c7) diuji aktivitas fagositosinya dengan partikel lateks. Fungsi fagositosis dihitung dengan rumus indeks fagositosis (IF). Hasil. Terdapat perbedaan significant IF sel PMN subyek periodontitis diabetika tidak terkontrol (HbA1c>7) dengan periodontitis non DM. IF tertinggi pada subyek periodontitis non DM dan tertinggi pada periodontitis diabetika tidak terkontrol (HbA1c>7). Kesimpulan. Level HbA1c berpengaruh terhadap fungsi fagositosis sel PMN yang dilihat dari indeks fagositosis (IF).  Background. Diabetes mellitus is a systemic condition that has long been associated with an increased and severity of periodontal disease. The severity of periodontitis in diabetic patients was thought caused by decreation of leukocytes function. Polymorphonuclear leukocytes (PMN) play a key role in the maintenance of gingival (HbA1c) level. Aims. The objective of this study was to analyse the influence of HbA1C level to fagositosis index on diabetic periodontitis patients. Material and Methods. PMN were taken from peripheral blood of 15 periodontitis patients consisted of 5 subject with uncontrolled DM (HbA1c>7), 5 subject with controlled DM (HbA1c7 and periodontitis non diabetic subjects. The higest PI was on diabetic periodontitis with HbA1c level >7 and the lowest PI was on non diabetic subjects. Conclusion. Level of HbA1c on diabetic periodontitis patient influence to phagocytosis function of PMN

    Perbandingan kekerasan mikro dentin mahkota setelah aplikasi berbagai bahan bleaching intrakoronal

    No full text
    Comparing microhardness of dentine crown after application of various intracoronal bleaching agents. The aim of this study is to compare microhardness of dentine crown after treatment with intracoronal bleaching agents. The method of this study was an experimental laboratory. Thirty two extracted human mandibular first premolars without caries, sectioned at 2 mm below Cemento-Enamel Junction were divided into four groups and bleaching agents were sealed into the pulp chambers as follows: group A – 45% carbamide peroxide, group B – 35% hydrogen peroxide, group C – sodium perborate mixed aquadest and group D – aquadest. Access cavities were sealed and then stored in aquadest at 37 °C. Bleaching procedures were performed on days 0, 7, 14 and 21. After 28 days, the teeth were sectioned longitudinally, and planted on acrylyc. Microhardness of dentine crown was measured by vickers microhardness tester. One Way ANOVA and LSD were used to evaluate the effect of intracoronal bleaching agents on microhardness of dentine crown. The results showed that average values of microhardness of dentine crown on group A was 45,04 VHN, group B was 45,42 VHN, group C was 55,22 VHN and group D was 55,63 VHN. In clonclusion, there was si gnificantly different microhardness of dentine crown between group 45% carbamide peroxide and 35% hidrogen peroxide with sodium perborate mixed aquadest, but between group 45% carbamide peroxide with 35% hidrogen peroxide there was no significant difference.ABSTRAKTujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan kekerasan mikro dentin mahkota setelah aplikasi berbagai bahan bleaching intrakoronal. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Sebanyak 32 gigi premolar pertama mandibula tanpa karies, telah diekstraksi, dipotong 2 mm di bawah cemento-enamel junction dibagi dalam 4 kelompok dan bahan bleaching dimasukkan ke dalam kamar pulpa, yaitu kelompok A – 45% karbamid peroksida, kelompok B -35% hidrogen peroksida, kelompok C - sodium perborat dikombinasikan dengan aquadest, dan kelompok D – aquadest. Akses kavitas ditutup kemudian disimpan di dalam aquadest dengan suhu 37 °C. Prosedur bleaching dilakukan pada hari ke-0, 7, 14 dan 21. Setelah 28 hari, mahkota gigi dipotong secara longitudinal dan salah satu bagian ditanam di akrilik. Nilai kekerasan mikro dentin mahkota diuji menggunakan Vickers microhardnes tester. One way ANOVA dan uji LSD digunakan untuk mengevaluasi pengaruh berbagai bahan bleaching intrakoronal terhadap kekerasan mikro dentin. Hasil penelitian menunjukkan nilai kekerasan mikro dentin mahkota pada kelompok A sebesar 45,04 VHN, kelompok B sebesar 45,42 VHN, kelompok C sebesar 55,22 VHN dan kelompok D sebesar 55,63 VHN. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat perbedaan kekerasan mikro dentin mahkota yang signifikan antara kelompok 45% karbamid peroksida dan 35% hidrogen peroksida dengan sodium perborat dikombinasikan dengan aquadest, sedangkan antara kelompok 45% karbamid peroksida dengan 35% hidrogen peroksida tidak terdapat perbedaan yang signifikan

    Efek perendaman rebusan Daun Sirih Merah (Piper crocatum) terhadap kekerasan permukaan resin komposit

    No full text
    The effect of immersion of decoction water of Red Betel Leaf (Piper crocatum) on the surface hardness of composite resin. The purpose of this study was to determine the effect of immersion of decoction water of red betel leaf on the surface hardness of composite resin compared to alcoholic mouth rinse. It was a pure experimental study with post-test only with control group design. The total samples were 27 samples divided into 2 treatment groups and 1 control group, each of which consisted of 9 samples. The treatment groups were immersed in the decoction water of red betel leaf and alcoholic mouth rinse. The control group was immersed in aquadest. After the immersion, the samples were measured using Vickers Micro hardness Tester. Analysis with one way anova and post hoc Bonferroni showed a significant difference (p<0.05) on the surface hardness of composite resin after being immersed in decoction water of red betel leaf(79,81±3,76) kg/mm2 and alcoholic mouth rinse (67,11±2,51) kg/mm2. Based on this research, it can be concluded that there was an effect of immersion of decoction water of red betel leaf if compared with alcoholic mouth rinse. The value of surface hardness of composite resin immersed in alcoholic mouth rinse was lower than the decoction water of red betel leaf.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek perendaman dalam rebusan daun sirih merah terhadap kekerasan permukaan resin komposit bila dibandingkan dengan obat kumur beralkohol. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan post-test only with control group design. Jumlah sampel sebanyak 27 yang dibagi dalam 2 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol dengan masing-masing kelompok sebanyak 9 sampel. Kelompok perlakuan direndam dengan air rebusan daun sirih merah dan obat kumur beralkohol. Kelompok kontrol direndam dengan akuades steril. Setelah itu dilakukan pengukuran menggunakan Vickers Microhardness Tester. Hasil uji One Way Anova dan Post Hoc Bonferroni menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna nilai kekerasan permukaan resin komposit yang direndam dengan air rebusan daun sirih merah (79,81±3,76) kg/mm2 dan obat kumur beralkohol (67,11±2,51) kg/mm2 dengan nilai kemaknaan (p<0,05). Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat efek lebih rendah pada perendaman dalam rebusan daun sirih merah terhadap kekerasan permukaan resin komposit bila dibandingkan dengan obat kumur beralkohol. Nilai kekerasan permukaan resin komposit yang direndam obat kumur beralkohol lebih rendah dibandingkan air rebusan daun sirih merah

    Perawatan Kaninus Maksila Ektopik dengan L Loop pada Alat Cekat Teknik Begg

    No full text
    Gigi kaninus berperan penting dalam kestabilan serta perkembangan bentuk lengkung gigi, fungsi oklusi dan kesimetrisan profil wajah. Kaninus maksila walaupun ektopik dalam perencanaan perawatan ortodontik biasanya keberadaannya tetap dipertahankan, sehingga perlu dikoreksi. Koreksi kaninus maksila ektopik membutuhkan gaya untuk mengekstrusi sekaligus distalisasi gigi tersebut. Tekukan L loop pada   wire dapat memberikan gaya ke arah vertikal - horisontal pada gigi secara bersamaan. Perawatan ortodontik dengan alat cekat teknik Begg dapat mengkoreksi malposisi gigi dengan gaya yang ringan  tanpa membutuhkan waktu lama pada tahap I. Tujuan. memaparkan hasil perawatan kaninus maksila ektopik dengan L loop pada alat cekat teknik Begg. Perempuan 28 th mengeluhkan gigi-giginya berjejal dan gingsul  sehingga mengganggu penampilan dan mengurangi rasa percaya diri. Diagnosis: Maloklusi Angle Klas I tipe skeletal klas II dengan retrognatik bimaksiler, bidental protrusif, shalow bite  dan midline mandibula bergeser ke kanan 1 mm disertai crossbite, openbite serta malposisi gigi. Penanganan dilakukan menggunakan alat cekat teknik Begg dengan pencabutan 4 gigi premolar pertama. L loop pada wire dibuat untuk koreksi kaninus maksila ektopik pada tahap I perawatan Kesimpulan dari hasil perawatan menunjukkan perbaikan malrelasi, gigi berjejal, overjet dan overbite. L loop pada alat cekat teknik Begg dapat digunakan untuk mengkoreksi kaninus maksila ektopik dengan gaya yang ringan. Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 208-216

    Efek Aplikasi Patch Gingiva Mukoadesif β-Carotene Akibat Paparan Radiografi Panoramik

    No full text
    Effect of β-carotene Gingival Mucoadhesive Patch Application at Panoramic Radiography Exposure. According to previous research, β-carotene gingival mucoadhesive patch has a radiation protection effect on New Zealand Rabbits. The increase in micronucleus after panoramic radiography exposure is avoided because of β-carotene gingival mucoadhesive patch application. In order to continue that research, we try the application of β-carotene gingival mucoadhesive patch into human. Twenty subjects who requested to take panoramic radiography were divided into two groups randomly. Group I was without β-carotene gingival mucoadhesive patch application and Group II was given the application before radiography exposure. Each of the subjects was swabbed on anterior maxillary gingiva before radiography exposure and the 10th day after the exposure. The swab was stained using modified Feulgen Rossenbeck method. The adhesive time and the effect of radiograph were also observed. The result shows that there was a decrease in micronucleus number after β-carotene gingival mucoadhesive patch application but there was no significant difference (p>0,05) between Grup I and II. The adhesive time was more than 10 hours and there was uncomfortable taste in the first time application. Gray scale analysis shows no significant difference (P>0,05) between panoramic radiography application and without application. The conclusion is that β-carotene gingival mucoadhesive patch application reduces micronucleus number although not significantly

    Perawatan Maloklusi Angle Kelas II Divisi 2 dengan Impaksi Kaninus Mandibula menggunakan Alat Cekat Begg

    No full text
    Gigi kaninus sangat penting untuk estetika dan fungsi mastikasi seseorang.  Impaksi gigi adalah gagalnya gigi untuk muncul ke dalam lengkung gigi yang dapat disebabkan karena kekurangan ruang, adanya sesuatu yang menghalangi jalur erupsi gigi atau karena faktor keturunan. Prevalensi impaks gigi kaninus maksila adalah 0,9-2,2%, sedangkan impaksi gigi kaninus mandibula lebih jarang terjadi. Alternatif perawatan gigi impaksi kaninus mandibula adalah operasi exposure dan diikuti dengan kekuatan erupsi alat cekat ortodontik. Tujuan dari perawatan adalah untuk koreksi malrelasi dan malposisi gigi geligi, khususnya koreksi gigi kaninus impaksi menggunakan teknik Begg. Pasien perempuan, 17 tahun, gigi sangat berjejal, gigi kaninus kanan rahang bawah impaksi, kelas II divisi 2 Angle, deep overbite, pergeseran midline gigi  rahang atas dan bawah ke arah kanan, overjet 2,49 mm dan overbite 5,45 mm. Perawatan dilakukan dengan menggunakan alat cekat Begg dengan pencabutan keempat gigi premolar pertama. Operasi exposure dilakukan untuk membuka gigi kaninus kanan bawah yang impaksi yang diikuti perekatan braket ortodontik. Kawat busur multiloop, anchorage bend dan elastik intermaksiler klas II digunakan pada tahap leveling dan unraveling. General alignment dicapai dalam waktu 13 bulan, pergeseran midline terkoreksi, gigi kaninus kanan rahang bawah erupsi sempurna, relasi kaninus kelas I Angle, overjet 2,00 mm, overbite 2,68 mm. Saat ini perawatan masih berlangsung pada tahap koreksi kesejajaran akar gigi. Kesimpulan perawatan maloklusi angle klas II divisi 2 dengan berjejal parah dan impaksi kaninus mandibula dalam kasus ini membutuhkan operasi exposure gigi kaninus impaksi diikuti alat cekat teknik Begg. Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 199-207

    0

    full texts

    499

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇