Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
Not a member yet
499 research outputs found
Sort by
Pengaruh Jumlah Gigi Posterior Rahang Bawah Dua Sisi yang Telah Dicabut dan Pemakaian Gigi Tiruan Sebagian terhadap Bunyi Sendi
Latar Belakang: sendi temporomandibular didalam fungsinya sangat rumit dan ketika terjadi kelainan memerlukan perawatan yang sangat kompleks. Salah satu dari kelainan sendi tersebut adalah terjadinya bunyi sendi. Bunyi sendi terjadi akibat adanya perubahan pada komponen sendi. Salah satu perubahan ini dapat terjadi akibat adanya perubahan pola oklusi. Gigi yang telah dicabut khususnya gigi posterior dapat memicu perubahan pola oklusi dan berakibat terjadi kelainan pada sendi. Tujuan. Pengukuran pada pasien dengan kasus kehilangan satu gigi atau dua gigi posterior yaitu molar satu atau molar satu dan molar dua, dua sisi rahang bawah, sebelum dan sesudah pemakaian gigi tiruan sebagian (GTS) diukur bunyi sendinya yang terdiri dari amplitude (dB) dan frekuensi (Hz) dengan alat ultra sonography yang telah dimodifikasi. Hasil yang didapat dianalisis dengan uji Avana dan LSD. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa terdapat bunyi sendi yang terdiri amplitudo dan frekuensi pada sendi temporomandibular dari pasien kasus kehilangan gigi posterior rahang bawah dua sisi sebelum dan sesudah pemakaian GTS. Kesimpulan: bunyi sendi dalam hal ini amplitudo dan frekuensi berbeda pada kasus kehilangan gigi posterior rahang bawah. Kehilangan dua molar bunyi sendi akan lebih tinggi dibandingkan dengan kehilangan satu gigi molar. Pemakaian gigi tiruan sebagian untuk mengembalikan oklusi, dapat menurunkan bunyi sendi. Background: The temporomandibular joint is very complicated in its function and requires complex treatment when an anomaly accurs. An example of the joints anomaly is clicking sound. Clicking resulted due to the changes at the joints component. One of the changes can be caused by an alteration of occlusal pattern. Extracted tooth especially posterior tooth can trigger the alteration of occlusion pattern which affects the joints anomaly. Purpose: the amplitude and frequency of the clicking sound of the patientwith missing one or two posterior tooth such as the first molar of the first and second molar, on both sides of the mandible, prior to or after wearing removable partial dentures is measured using a modified ultrasonographydevide and were analyzed by Anova and LSD test. The result: shows that the clicking sound on temporomandibular joint which consists of the amplitude and frequency, ha,ppens to patients who lose their posterior molar teeth before and after the use of removable partial denture. Conclusion: the clicking sound temporomandibular joints is defferent from the one on patient with missing posterior tooth. Losing two molar teeth will cause stronger clicking sound than one molar tooth will. The use of partial removable denture to regain the occlusion willreduce the clicking sound.
Perbedaan Kadar Calprotectin Sebelum Dan Sesudah Radioterapi Pada Pasien Karsinoma Nasofaring Akibat Infeksi Epstein-Barr Virus
Latar belakang: Epstein-Barr Virus (EBV) adalah anggota herpes virus berkaitan dengan etiologi karsinoma nasofaring (KNF). Pada pasien KNF jumlah monosit dalam sel darah tepi mengalami penurunan dan kebanyakan masih dalam bentuk immature sehingga menurunkan respon imun pasien serta meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit periodontal. Radioterapi merupakan salah satu metode terapi yang banyak digunakan untuk kasus KNF. Calprotectin diproduksi dalam sitoplasma sel monosit dan levelnya meningkat pada beberapa penyakit inflamasi, termasuk inflamasi jaringan periodontal, ditandai dengan peningkatan kadar calprotectin pada cairan sulkus gingiva (CSG). Tujuan: mengkaji perbedaan kadar calprotectin pada pasien KNF sebelum dan setelah dilakukan radioterapi, pada sel monosit, serum dan CSG. Metode Penelitian: sepuluh pasien KNF akibat infeksi EBV digunakan sebagai subjek dalam penelitian ini. Lima orang sebagai sampel kelompok sebelum radioterapi dan 5 orang sebagai sampel kelompok sesudah radioterapi. Dari masing-masing pasien diambil sel monosit dan serum darah tepi serta CSG. Kadar calprotectin diukur menggunakan metode ELISA. Hasil: kadar calprotectin pada kelompok sampel sebelum radioterapi lebih rendah dibandingkan kelompok sam pel sesudah radioterapi dilihat melalui sel monosit dan serum darah tepi. Sementara dari CSG, kadar calprotectin kelompok sampel sebelum radioterapi nampak lebih tinggi dibanding kelompok sesudah radioterapi. Hasil analisis statistik Anova menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05). Kesimpulan: terdapat perbedaan kadar calprotectin pada sel monosit, serum darah tepi dan CSG pasien KNF antara sebelum dan sesudah radioterapi. Pada sel monosit dan serum darah tepi, terjadi penurunan kadar calprotectin, sementara pada CSG terjadi peningkatan kadar calprotectin antara sebelum dan sesudah radioterapi
Efek Antimikroba Pasta Gigi Kandungan Ekstrak Daun Teh 2% (Camellia sinensis) terhadap A. Actinomycetemcomitans
Latar Belakang: Kandungan polifenol (catechin) dalam daun teh diketahui memiliki efek antimikroba terhadap beberapa bakteri. Derajat fermentasi terhadap daun teh akan mempengaruhi daya antimikrobanya. Pasta gigi dengan kandungan ekstrak daun teh segar 2% (Camellia sinensis) diharapkan memiliki efek antimikroba. Tujuan: pengetahuan ini bertujuan untuk mengetahui daya antimikroba pasta gigi kandungan ekstrak teh segar 2% terhadap bekteri A. actinomycetemcomitans. Metode Penelitian: bakteri A. actinomycetemcomitans diperololeh dari laboratorium MikrobiologiFakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pengenceran pasta gigi dengan kandungan teh 2% diencerkan menjadi 0,875%; 1,75%; 2,5%; 5%; 10%; dan 100% (kontrol positif). Metode difusi dilakukan pada 15 petri dengan cara masing-masing konsentrasi diambil 100 ul lalu diteteskan dalam setiap sumuran pada media BHI agar yang telah mengandung A. Actinomycetemcomitans kemudian petri dieramkan dalam inkubator selama 24 jam pada suhu 370 C. Pengukuran diameter zone hambatan disekitar sumuran menggunakan jangka sorong, dibantu dngan mikroskop, selanjutnya data dianalisis menggunakan AVANA dan LSD. Hasil menunjukkan daya anti bakteri pasta gigi kandungan ekstrak teh 2% terhadap bakteri A. Actinomycetemcomitans dimulai pada konsentrasi 5% dan terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,01) pengaruh konsentrasi terhadap zone hambatan yang dihasilkan. Disimpulkan peningkatan konsentrasi pasta gigikandungan ekstrak teh akan meningkatkan daya antimikroba terhadap bakteri A. Actinomycetemcomitans. Background: Polyphenols (catechins) in tea leaves are known to have antimicrobial effects against some bacteria. Degree of fermentation tea leaves will affect the antimicrobial. Toothpaste containing 2% tea leaves ectract (Camellia sinensis) is expected to have antimicrobial effects. Aim: this study was aimed to determine the antimicrobial effect of tootthpastes contain 2% tea extract on the bacteria A. Actinomycetemcomitans. Method: Aggregatibacter actinomycetemcomitans bacteria from Microbiology Laboratory, Faculty of Veterinary Medicine, Gadjah Mada University Yogyakarta. Tea extract-containing dentrifice was dilluted into 0,875%; 1,75%; 2,5%; 5%; 10%; dan 100% (as positive control). Diffusion method was used on 15 disks. Every concentration of tea extract-containing dentrifice was placed in bottomless cylinder in BHI agar disks that have been heavily seeded with A. Actinomycetemcomitans , then incubated for 24 hours at 370. The diameter of the clear zone of inhibition was measured using sliding caliper and microscope then data were analyzed using AVANA and LSD. The result showed that the antimicrobial effect of tea extract-containing dentrifice was started at 5% and there were significantly difference (p<0,01) effect concentration of tea extract-containing dentrifice on zone of inhibition. In conclusion, increasing concentration of tea extract-containing dentrifice could increase the antimicrobial effect against A. Actinomycetemcomitans.
Penentuan konsentrasi stainless steel 316L dan kobalt kromium remanium GM-800 pada uji GPMT
Concentration determination of stainless steel 316L and cobalt chromium remanium GM - 800 on GPMT test. Dentistry had used metals such as cobalt chromium and stainless steel in maxillofacial surgery, cardiovascular, and as a dental material. 316L stainless steel is austenistic stainless steel which has low carbon composition to improve the corrosion resistance as well as the content of molybdenum in the material. Cobalt chromium (CoCr) is a cobaltbased alloy with a mixture of chromium. Density of a metal cobalt chromium alloy is about 8-9 g/cm3 that caused metal interference relatively mild. Remanium GM-800 is one type of a cobalt chromium alloy with the advantages of having high resistance to fracture and high modulus of elasticity. This study aims to determine the exact concentration used in 316L stainless steel and cobalt chromium GM-800 as the GPMT test material. Subjects were cobalt chromium Remanium GM-800 and 316L stainless steel concentration of 5%, 10%, 20%, 40% and 80%. Patch containing stainless steel or cobalt chromium paste was af xed for 24 hours each on three experimental animals, then the erythema and edema were observed using the Magnusson and Kligman scale. In the study, concentration of 5% is the concentration recommended for stainless steel 316L and cobalt chromium GM-800 as material in challenge phase GPMT test, while the concentration of 40% is the concentration recommended for stainless steel 316L and cobalt chromium GM-800 in the induction phase.ABSTRAKDunia kedokteran gigi banyak menggunakan logam pada pembedahan maxillofacial, cardiovascular, dan sebagai material dental. Logam yang banyak digunakan antara lain adalah kobalt kromium dan stainless steel. Stainless steel 316L merupakan austenistic stainless steel yang memiliki komposisi karbon rendah sehingga dapat meningkatkan ketahanan terhadap korosi sama halnya dengan kandungan molybdenum pada material tersebut. Kobalt kromium (CoCr) adalah cobalt-based alloy dengan campuran chromium. Kepadatan (density) dari logam campur kobalt kromium adalah sekitar 8-9 gram/cm3 menyebabkan logam campur ini relatif sangat ringan. Remanium GM-800 merupakan salah satu jenis alloy kobalt kromium dengan kelebihan memiliki resistensi terhadap fraktur yang tinggi serta modulus elastisitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi tepat yang digunakan pada stainless steel 316L dan kobalt kromium GM-800 sebagai bahan uji GPMT. Subjek penelitian adalah kobalt kromium Remanium GM800 dan stainless steel 316L konsentrasi 5%, 10%, 20%, 40%, dan 80%. Patch berisi pasta stainless steel atau kobalt kromium ditempelkan selama 24 jam masing-masing pada 3 hewan coba, selanjutnya dilakukan observasi eritema dan edema dengan menggunakan skala Magnusson dan Kligman. Pada penelitian, konsentrasi 5% merupakan konsentrasi yang direkomendasikan untuk stainless steel 316L dan kobalt kromium GM-800 sebagai konsentrasi tahap challenge uji GPMT, sedangkan konsentrasi 40% merupakan konsentrasi yang direkomendasikan untuk logam stainless steel 316L dan kobalt kromium GM-800 tahap induksi
Ekspresi Gen CYP19 Aromatase, Estrogen, Androgen pada penderita Periodontitis Agresif
Kepadatan tulang tubuh ditentukan oleh gen CYP19 aromatase, hormon estrogen dan androgen. Pada periodontitis agresif terjadi perkembangan cepat kerusakan tulang alveolar, dan kerusakan tulang alveoler tersebut tidak diimbangioleh regenerasi tulang. Tujuan penelitian ini adalah menunjukkan ekspresi gen CYP19 aromatase, estrogen, androgen pada penderita periodontitis agresif agar dapat untuk menjadi pertimbangan pada saat melakukan perawatan periodontal. Metode penelitian, pemeriksaan ekspresi gen aromatse CYP19 berasal dari spesimen tulang alveolar menggunakan imunohistokimia, pengukuran hormon estrogen dan androgen dari serum menggunakan Vidas: Elfa. Hasil penelitian ekspresi gene CYP19 aromatase pada periodontitis agresif menunjukkan gambaran lebih rendah densitasnya dibandingkan pada nonperiodontitis. Estrogen dan androgen pad aperiodontitis agresif ada kecenderungan lebih rendah dibandingkan pada nonperiodontitis. Kesimpulan regenerasi tulang alveoler pad a periodontitis agresif terhambat karena sedikitnya gen CYP19 aromatase dan hormon estrogen dan androgen yang berperan pada pembentukan tulang alveoler kurang memadai
Profil lesi mulut pada kelompok lanjut usia di Panti Sosial Tresna Wreda Senjarawi Bandung
Oral lesions profile in elderly group at Panti Sosial Tresna Wreda Senjarawi Bandung. The aim of the paper is to determine the profile of oral lesions in elderly. The study was conducted on Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW) Senjarawi in Bandung, with a cross-sectional method. Samples were selected according the inclusion criteria include physically healthy, be able to communicate well, at least 60 years of age, and independent. The examination of 20 samples showed oral lesions such as coated tongue, fissured tongue, ulcerated lesions, geographic tongue, fordyce granules, and traumatic lesions. Dental examination showed that among 18 samples (90%) had lost several teeth. Coated tongue was found associated with dental conditions, eating habits, physiological factors, and systemic conditions, whereas some other oral lesions occur in accordance with the ages. Ulcerated lesions were found similar to lesions of recurrent aphthous stomatitis (RAS), but in the elderly oral ulceration more often influenced by systemic condition and treatment so that the diagnosis of ulcers is more as a RAS-like. Coated tongue is the most oral lesion found which influenced by the degenerative processes, oral hygiene status, diet, and residence. The oral health of elderly is a necessary part to get attention, including from the dentist in order to achieve a good quality of life.ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil lesi mulut pada kelompok lanjut usia di panti sosial tresna wreda Senjarawi Bandung. Penelitian dilakukan pada Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW) Senjarawi di kota Bandung, dengan metode cross-sectional. Sampel penelitian dipilih sesuai kriteria inklusi meliputi sehat fisik dan mampu berkomunikasi dengan baik, usia minimal 60 tahun, dan mandiri. Hasil pemeriksaan pada 20 sampel menunjukkan adanya lesi mulut seperti coated tongue, fissured tongue, lesi ulserasi, geographic tongue, fordyce granule, dan lesi traumatik. Jumlah terbanyak yaitu 11 orang (55%) mengalami coated tongue. Hasil pemeriksaan gigi ditemukan sebanyak 18 sampel (90%) mengalami kehilangan beberapa gigi. Coated tongue banyak ditemukan terkait dengan kondisi gigi yang dialami, kebiasaan makan, faktor fisiologis, dan kondisi sistemik, sedangkan beberapa lesi mulut lainnya terjadi sesuai dengan penambahan usia. Lesi ulserasi yang ditemukan mirip dengan lesi recurrent aphthous stomatitis (RAS), tetapi pada usia lanjut ulserasi mulut lebih sering dipengaruhi oleh kondisi sistemik dan pengobatannya sehingga diagnosis ulser lebih sebagai suatu RAS-like. Coated tongue sebagai lesi mulut yang paling banyak ditemukan karena dipengaruhi oleh proses degeneratif, status kebersihan mulut, pola makan, dan tempat tinggal. Kesehatan gigi dan mulut lansia merupakan hal yang perlu mendapat perhatian termasuk dari dokter gigi sehingga diharapkan dapat tercapai kualitas hidup lansia yang baik
Incision Below The Clamp sebagai Modifikasi Teknik Insisi pada Frenektomi untuk Minimalisasi Perdarahan
Latar Belakang. Perlekatan frenulum tinggi berdampak merugikan bagi jaringan periodontal maupun fungsi estetik. Perlekatan tinggi yang terjadi pada labialis superior, menimbulkan gingivitis dan sentral diastema yang menjadikan indikasi untuk dilakukan frenektomi. Frenektomi dengan teknik melakukan insisi di atas dan di bawah clamp berakibat lebarnya luka karena tarikan otot bibir, yang berdampak terjadi banyak perdarahan. Tujuan. Melakukan evaluasi terhadap modifikasi teknik insisi yang diharapkan dapat mengurangi perdarahan. Kasus dan Penanganan. Laporan kasus ini memaparkan penanganan kasus pada perlekatan frenulum tinggi yang diikuti adanya sentral diastema. Pasien dengan diagnosa frenulum tinggi dan indikasi frenektomi dilakukan tindakan preoperasi. Tindakan operasi dilakukan dengan menggunakan pisau bedah, modifikasi insisi (Insision below the Clamp) dilakukan dengan cara menempatkan clamp frenulum pada posisi yang berdekatan dan sejajar dengan bibir, tindakan insisi dilakukan di bawah clamp, disusul dengan penjahitan pada area mucolabial fold. Selama operasi dilakukan terlihat luka tidak melebar, tidak banyak darah yang keluar, pasien dan dokter merasa nyaman. Kesimpulan. Insision below the Clamp merupakan modifikasi teknik insisi pada frenektomi yang bisa dilakukan oleh para praktisi untuk meminimalisir perdarahan yang terjadi selama proses pengambilan frenulum dengan menggunakan pisau bedah. Background. Attachment of high frenulum has negative impact on periodontal tissues as well as an aesthetic function. High attachment of frenulum that occurs in labialis superior, causing gingivitis and central diastema that are indications to do Frenectomy. Conventional techniques of Frenectomy performed with insisions above and below the clamp resulted in wide injury due to muscle contraction, which affects a lot of bleeding. Objective. To evaluate modification insision technique which hopefully can minimize the bleeding. Case and Treatment. This case report describes the handling of cases at high frenulum attachment that followed the central diastema. Patients with a diagnosis of high frenulum attachment and frenectomy indications be taken preoperatively, Surgery performed by using a scalpel, modification insision (Insision below the Clamp/IBC) is done by placing the clamp frenulum in a position adjacent and parallel to the lip, the insision carried out under the clamp, followed by suturing at the mucolabial fold. During the operation carried no visible wound widened, little of bleeding, patients and physicians are comfortable. Conclusion. IBC is a modification on frenectomy insision technique that can be done by general practitioners to minimize bleeding that occurs during frenectomy by using a scalpel.
Perawatan Maloklusi Klas II Divisi 2 menggunakan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg
Latar belakang: Maloklusi Angle Klas II divisi 2 sering disertai coverbite dan merupakan kasus yang sulit dirawat dan mudah relaps. Keberhasilan perawatan kasus maloklusi Angle klas II divisi 2 bergantung pada variasi yang menyertai baik pada jaringan keras atau jaringan lunak. Bila variasi ringan, keberhasilan perawatn baik, tetapi bila terdapat kelainan skeletal parah, keberhasilan perawatan akan sulit dicapai. Tujuan: Tujuan dari artikel ini adalah untuk menyajikan hasil perawatan ortodontik teknik Begg pada kasus maloklusi Angle klas II divisi 2 yang disertai coverbite. Laporan Kasus: pasien wanita dengan usia 19 tahun mengeluhkan gigi depan atas masuk dan tidak rapi. Diagnosis: maloklusi Angle klas II divisi 2 dengan retrognatik mandibula disertai coverbite, palatal bite, cup to cup bite dan pergeseran garis tengah rahang bawah. Penanganan: Pasien dirawat menggunakan alat cekat teknik Begg. Sebelum perawtan dilakukan pencabutan premolar dua kiri atas, dan molar pertama dan kedua kiri bawah yang nonvital untuk mengatasi crowding. Kesimpulan: Setelah 2 tahun perawatan, tampak sudut interinsisal berkurang, overbite berkurang, overjet bertambah, dan cup to cup bite di regio posterior terkoreksi. Background: Class II division 2 malocclusion often accompanied with coverbite and have been considered difficult to treat and prone to relapse. The successful treatment of this malocclusion depends to the variation of the hard and soft tissue. In mild variation the chances of succesful treatment remain good, while if skeletal discrepancies appear the fully succesfull treatment is hard to achieve. Objectives: The aim of this article is to presnet the treatment of class II division 2 malocclusion accompanied with coverbite using Begg tehnique. Case: 19 years old female patient complained her anterior upper teeth which palatally tipping and crowded. Diagnose: Class II division 2 malocclusion, accompanied with retrognatic mandible, deepbite, palatal bite, cup to cup bite in posterior region, and lower dental centerline shift. Treatment: Patient was treated with orthodontic appliance using Begg technique. Before the treatment left upper second premolar was extracted, while mandibular crowding corrected by extracting lower first and second left molar which were non fital. Conclusion: After 2 years treatment,decreasing of interincisal angle and overbite was achieved, as well as increasing overjet and correction of posterior cup to cup bite
Ekspresi Gen CYP19 dalam Kultur Sel Osteoblas dari Periodontitis Tulang Alveolar Agresif Distimulasi dengan Vitamin D dan atau Deksametason
Latar Belakang. Estrogen mengatur homeostasis tulang dan disekresikan oleh gonad dan ekstragonad. Selain itu,androgen diubah menjadiestrogen oleh enzim aromatase P450 yang dihasilkan oleh sitokrom P450 aromatase. Ini diproduksi oleh gen sitokrom CYP19. Vitamin D berperan dalam mengatur homeostasis kalsium dan ekspresi gen aromatase langsung. Deksametason bertindak sebagai anti inflamasi, menghentikan peradangan dan meningkatkan kecepatan penyem6uhan. Kerusakan parah tulang alveolar di periodontitis agresif dapat terjadi di usia muda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji ekspresi gen CYP19daiam kultur sel osteoblas periodontitis agresif tulang alveolar pasien dengan stimulasi vitamin D dan atau deksametason. Metode. Fragmen tulang alveolar dari pasien periodontitis agresif dikultur dalam dimodifikasi F-12 medium dilengkapi dengan serum janin sapi (FBS) 20%, antibiotik (penisilin streptomisin) 5%, dan fungizone 2%. Sel-sel osteoblas yang tumbuh dalam kultur dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok 1: kultur diperlakukan non, kelompok 2: diperlakukan dengan vitamin D 10-6 moVL,kelompok 3: diperlakukan dengan deksametason 10.7mol/L, dan kelompok 4: diperlakukan dengan kombinasi vitamin D den deksametason pada dosis yang sarna. Setelah 24 jam perlakuan dihentikan, semua kelompok kultur yang diamati dengan teknik imunositokimia dan menghitung persentase CYP19 ekspresi gen dan sel oeteoblas dalam kultur. Hasilnya menunjukkan bahwa persentase rata-rata CYP19 ekspresi gen untuk kelompok 1, 2, 3, dan 4 adalah 44.18, 38.66,35.26 dan 31.13%, masing-masing, dan perbedaan yang signifikan antara perlakuan dengan p<0.05. Disimpulkan bahwa perlakuan terbaik untuk meningkatkan jumlah sel osteoblas, adalh kombinasi vitamin D dan deksametason, walaupun persentase ekspresi gen CYP19 adalah nilai terendah di antara kelompok
Pemasangan Implan Endodontik sebagai Stabilisator Pasca Apikoektomi Gigi Premolar Dua Kanan Bawah
Latar Belakang: Gigi yang tidak didukung akar yang cukup panjang akan kesulitan menahan beban kunyah dan akan terjadi kegoyahan. Implan endodontik dapat digunakan sebagai alternatif stabilisator pada gigi dengan panjang akar yang tidak memadai. Tujuan: untuk memberikan informasi mengenai perawatan gigi premolar kedua bawah kanan yang mengalami perforasi eksternal dan harus menjalani perawatan apikoektomi dengan menggunakan MOl sebagai stabilisator endodontik. Kasus: seorang wanita, 23 tahun, datang dalam keadaan gigi sakit sebelah belakang kanan bawah. Beberapa tahun yang lalu pasien menjalani operasi pengambilan gigi supernumerary pada area tersebut. Beberapa bulan setelah operasi pasien mengeluhkan adanya rasa nyeri. Gambaran radiograf tampak ada area radiolusen bagian mesial gigi 46 dan di bagian distal gigi 45. Hal ini diperkirakan karena tindakan iatrogenik operasi pengambilan gigi supernumerary. Gigi 45 dirawat dengan prosedur apikoektomi dilanjutkan dengan bedah pemasangan implan endodontik sebagai stabilisator. Manajemen kasus: dilakukan bedah apikoektomi, bersamaan dengan bedah apikoektomi dilakukan pemasangan implan endodontik. Material implan yang digunakan adalah Mini Oental lmplant berukuran 1,8 mm panjang 15 mm. Bagian akar yang berbatasan dengan implan ditutup dengan MTA sebagai penutup tepi. Kesimpulan: pemasangan implan endodontik pada gigi 45 telah di evaluasi selama 45 hari sejak prosedur bedah dilakukan menunjukkan pasien tidak mengalami keluhan dan secara klinis tidak ada kelainan pada gigi 45 tersebut. Gigi siap direstorasi dengan mahkota jembatan porselen fusi metal