Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
Not a member yet
    499 research outputs found

    Peran Bahan Disinfeksi pada Perawatan Saluran Akar

    No full text
    Latar Belakang: Ada bermacam sebab kegagalan perawatan saluran akar, antara lain preparasi saluran akar yang kurang, obturasi saluran akar yang tidak adekuat dan mikoorganisme. Di antara faktor-faktor tersbeut, mikroorganisme baik yang tersisa setelah perawatan saluran akar atau yang timbul setelah obturasi saluran akar merupakan faktor utama penyebab kegagalan perawatan saluran akar. Tujuan utama perawatan saluran akar adalah mendisinfeksi saluran akar, peran dan mencegah terjadinya reinfeksi. Tujuan penulisan ini adalah untuk membahas bermacam-macam bahan disinfeksi saluran akar, peran dan manajemennya pada prosedur perawatan saluran akar. Ringkasan Pembahasan: Bahan irigasi yang ideal adalah bahan yang mempunyai sifat antimikroba, mampu melarutkan jaringan lunak atau organik, mampu melarutkan smear-layer, tegangan permukaan rendah, toksisitasnya rendah. Kesimpulan: Pemilihan dan penggunaan bahan disinfektan yang tepat mempengaruhi keberhasilan perawatan saluran akar. Sodium hipoklorit merupakan bahan disinfektan saluran akar yang utama dan tidak dapat digantikan bahan lain. Untuk mendapatkan hasil terbaik dalam perawatan saluran akar kita memerlukan empat jenis bahan disinfeksi yaitu sodium hipoklorit, EDTA, Ca(OH)2 dan chlorhexidine. Background: many factors causes root cana treatment failure, such as the lack of root canal preparation, in adequate root canal obturation and miccroorganism. Of these factors, microorganism, either remaining in the root canal space after treatment or recoloring in the obturated canal system, are arguably the main cause of root canal treatment failure. The primary goals of root canal treatment are root canal disinfection and re-infectuion prevention. Purpose: The aim of this study was to discuss the various, the role and the management of root canal disinfectans on root canal treatmnet procedure. Summary of Discussion: The ideal irrigation are materials that have anti microbial properties, capable of dissolving the soft tissue or organic, capable of dissabling the smear-layer, low surface tentio, and low toxicity. Conclusion: The proper disifectant will influence the succesfull of root canal treatment. Sodium hypochlorite is the main root canal disinfectants that cannot replace with others. For the best result on root canal treatment we use four kinds of root canal disinfectans namely sodium hypochlorite, EDTA, Ca(OH)2 and chlorhexidine

    Profil lesi oral pada penderita penyakit autoimun

    No full text
    Oral lesion’s profi le in autoimmune disease. Oral lesions are commonly found in patients with autoimmune diseases as manifestations of the disease or a side effect of the treatment. Oral lesions must be handled properly to prevent secondary infection, relieve pain and improve the patient’s quality of life. The aim of this study is to describe oral lesions profile in patients with autoimmune diseases, including clinical characteristics and location of oral lesions as well as the distribution of age and sex of the patient. The methods were retrospective observation by describing the secondary data from patients with autoimmune handled by Oral Medicine Specialist, Faculty of Dentistry, University of Padjadjaran in dr. Hasan Sadikin Hospital Dental Clinic. Patient files from August 2010 untill August 2014 (n = 66) were used, with the most often diagnosis were Systemic Lupus erythematosus (SLE), Oral lichen planus (OLP) and Pemphigus vulgaris (PV). It is revealed that, the age of patients varied between 9 to 68 years old and there was predominance of female patients. Patients diagnosed with SLE were 26 (39.4%), 12 patients with OLP (18.2%) and 28 patients with PV (42.4%). Based on the clinical feature, the most commonly found type of oral lesion was erosion (n=52/78,8%), while the most commonly predilection was in the buccal mucosa (n = 46/69,7%). In conclusion, intra-oral examination should be used as a routine procedure in the comprehensive management of patients with autoimmune diseases. Dentist have a professional role in the diagnosis of oral lesions and provide appropriate therapy in order to improve the quality of life of patients with autoimmune diseases.ABSTRAKLesi oral biasa ditemukan pada penderita penyakit autoimun sebagai manifestasi penyakit atau efek samping pengobatan kortikosteroid jangka panjang. Lesi oral harus ditangani dengan baik untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, mengatasi rasa sakit dan meningkatkan kualitas hidup penderita. Pengumpulan data gambaran profil lesi oral penderita penyakit autoimun, meliputi karakteristik klinis dan lokasi lesi oral serta distribusi usia dan jenis kelamin penderita belum pernah dilakukan. Metode yang digunakan adalah non eksperimen, retrospektif dan deskripsi data sekunder penderita autoimun yang ditangani oleh bagian Ilmu Penyakit Mulut FKG Universitas Padjadjaran di SMF Gigi dan Mulut RS dr. Hasan Sadikin Bandung. Data pasien yang dipergunakan antara bulan Agustus 2010 sampai Agustus 2014 (n=66), dengan diagnosis penyakit autoimun yang paling sering adalah Sistemic Lupus Erythematous (SLE), Oral Lichen Planus  (OLP) dan Pemphigus Vulgaris (PV). Semua pasien memberikan persetujuan pada saat dilakukan pemeriksaan dan  pengumpulan data melalui informed consent. Hasil penelitian ini menunjukkan usia penderita bervariasi antara 9 hingga 68 tahun dan jumlah penderita wanita lebih banyak daripada pria. Penderita yang didiagnosis SLE 26 orang (39,4%), OLP 12 orang (18,2%) dan PV 28 orang (42,4%). Berdasarkan gambaran klinisnya jenis lesi oral yang banyak ditemukan adalah erosi (n = 52/ 78,8%) dan berdasarkan lokasi lesi oral banyak ditemukan pada mukosa bukal (n = 46/69,7% penderita). Kesimpulannya, pemeriksaan intra oral disarankan menjadi prosedur rutin dalam tatalaksana komprehensif penderita penyakit autoimun. Dokter gigi diharapkan dapat berperan dalam mendiagnosis lesi oral dan memberikan terapi yang tepat sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup penderita penyakit autoimun.

    Penatalaksanaan Ameloblastik Karsinoma pada Mandibula dengan Reseksi Segmental dan Pemasangan Mandible Reconstructive Plate

    No full text
    Ameloblastik Karsinoma merupakan tumor odontogenik yang jarang ditemukan, dan bersifat agresif. Pada awalnya tumor ini menunjukkan gambaran histologis seperti ameloblastoma, tapi kemudian kehilangan diferensiasi dan menjadi malignan, walaupun klinisnya adalah ameloblastoma biasa, dan bermetastase ke kelenjar limfe atau melalui kelenjar limfe. Perawatannya sama dengan lesi karsinoma intraoseus lainnya, tapi bila telah mengalami metastase maka prognosanya buruk. Tujuan penulisan ini adalah untuk melaporkan keberhasilan operasi reseksi segmental dan pemasangan mandible reconstructive plate (MRP) pada seorang pasien ameloblastik karsinoma. Laporan kasus pasien perempuan berusia 47 tahun datang ke poliklinik Bedah Mulut RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dengan keluhan utama benjolan pada rahang bawah depan sebelah bukal regio 3.3 - 4.7, tidak terasa sakit, konsistensi keras, warna sesuai dengan jaringan sekitar, ukuran 7x4x2 em, muneul kurang lebih 3 tahun yang lalu, mula-mula keeil kemudian membesar. Penatalaksanaan kasus ini adalah operasi reseksi segmental dan pemasangan MRP di bawah anestesi umum. Prognosis dubia ad bonam. Kesimpulan pada kasus ini pemasangan MRP mampu menjaga kontinuitas mandibula kanan-kiri, dan sebagai tempat perlekatan otot-otot mylohiod agar lidah tidak jatuh ke laring, serta untuk mempertahankan estetik dan fungsinya

    Efek Radiasi Ionisasi terhadap Ekspresi mRNA Aquaporin-5 Kelenjar Submandibularis dan mRNA Aquaporin-3 Gingiva hal 15-20

    No full text
    Latar Belakang. Aquaporin-5 (AQP5) di kelenjar submandibularis adalah salah satu anggota protein transmembran/ aquaporins (AQPs) yang memfasilitasi gerakan saliva sehingga mampu melewati membran sel. Di gingiva juga terekspresi aquaporin-3 (AQP3) yang diperkirakan juga berperan penting untuk memfasilitasi cairan sulkus gingiva sehingga dapat melewati jaringan ini. Sampai saat ini masih sedikit sekali informasi tentang dampak penggunaan radiasi ionisasi terhadap ekspresi aquaporins (AQPs), yang mendasari terjadinya xerostomia. Melalui pendekatan patologi molekuler, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek radiasi ionisasi terhadap ekspresi mRNA AQP5 pada kelenjar submandibula dan mRNA AQP3 gingiva. Metodologi. Penelitian dilakukan pada 20 Rattus novergicus keturunan kedua, sehat, jantan, usia 3-4 bulan, berat badan ± 200 gr kemudian dibagi 2 kelompok, tanpa radiasi dan dengan radiasi C060dosis 10 gray pada ventral tikus. Pengambilan kelenjar submandibularis, dan gingiva dengan pembedahan. Seluruh sampel yang terkumpul dilakukan isolasi RNA dan dilanjutkan dengan pemeriksaan RT-PCR. Hasil. Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan gambaran ketebalan band/pita ketika dibatasi oleh primer untuk identifikasi ekspresi mRNA AQP-5 kelenjar submandibularis tikus serta ekspresi mRNA AQP3 gingiva tikus akibat radiasi ionisasi 10 Gy. Kesimpulan. Terdapat penurunan ekspresi mRNA AQP5 kelenjar submandibula dan mRNA AQP3 gingiva akibat radiasi ionisasi ekspresi mRNA AQP5 pada kelenjar submandibula dan mRNA AQP3 gingiva

    Pengaruh lama aplikasi bahan remineralisasi casein phosphopeptide amorphous calcium phosphate fluoride (CPP-ACPF) terhadap kekerasan email

    No full text
    The effect of application time of CPP-ACPF on enamel hardness. Remineralization process can increase the hardness of enamel due to demineralization process. CPP-ACPF is a material used for enhancing remineralization. However, the application time of CPP-ACPF remain controversial among previous studies. This study was aimed to investigate the effect of various application times of CPP-ACPF on enamel hardness. Thirty premolar teeth were mounted on self cure acrylic resin, and were divided into 5 groups. Demineralization process was performed, and enamel hardness (pre-est) was measured by Vickers Hardness Tester. Remineralization was performed using CPP-ACPF in various application times: 3, 15, 30, 60 minutes, and the control group was only immersed in artificial saliva for 60 minutes, then enamel hardness was measured (posttest). Data were analyzed using paired t-test, one-way ANOVA, and post-hoc Bonferroni. The result of paired t-test showed that all the groups, except the control group, have an increasing enamel hardness that was statistically significant. One-way ANOVA results showed no statistically significant difference among the groups at pretest, but one-way ANOVA results showed statistically significant difference at posttest. Post hoc Bonferroni showed that the significantly difference at posttest occurred between all the treatment groups against the control group, but there were no significant differences between the 3 minutes group to 15 minutes group, between 15 minutes group to 30 minutes group, and between 30 minutes group to 60 minutes group. It was concluded that various application times of CPP-ACPF had an effect on increasing enamel hardness. ABSTRAKProses remineralisasi dapat meningkatkan kekerasan email yang menurun akibat demineralisasi. Bahan remineralisasi yang ideal adalah CPP-ACPF. Terdapat perbedaan lama aplikasi CPP-ACPF dalam berbagai penelitian, selain itu total lama aplikasi yang dibutuhkan CPP-ACPF dalam mekanisme remineralisasi belum diketahui. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh lama aplikasi CPP-ACPF terhadap kekerasan email. Tiga puluh mahkota gigi premolar yang ditanam dalam resin akrilik self cure dibagi menjadi lima kelompok, kemudian dilakukan proses demineralisasi. Kekerasan email kemudian diukur menggunakan alat Vickers Hardness Tester. Proses remineralisasi menggunakan CPP-ACPF dilakukan pada masing-masing kelompok dalam berbagai lama aplikasi yaitu 3 menit, 15 menit, 30 menit, 60 menit, serta perendaman dalam saliva buatan selama 60 menit (kontrol). Kekerasan email kemudian diukur kembali (posttest). Data diuji secara statistik menggunakan t-test berpasangan, one-way ANOVA dan post hoc Bonferroni. Hasil paired t-test menunjukkan bahwa seluruh kelompok, kecuali kelompok kontrol, mengalami peningkatan rata-rata kekerasan email secara signifikan. Hasil uji one-way ANOVA pada pretest menunjukkan tidak ada perbedaan kekerasan email yang signifikan. Hasil uji one-way ANOVA pada posttest menunjukkan terdapat perbedaan kekerasan email yang signifikan. Hasil uji post Hoc Bonferroni menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kekerasan email yang signifikan pada seluruh kelompok perlakuan terhadap kelompok kontrol, tetapi perbedaan kekerasan email antara kelompok lama aplikasi 3 menit dengan 15 menit, antara lama aplikasi 15 menit dengan 30 menit, serta antara lama aplikasi 30 menit dengan 60 menit tidak menunjukkan perbedaan kekerasan email yang signikan. Kesimpulan penelitian ini adalah berbagai lama aplikasi CPP-ACPF berpengaruh terhadap peningkatan kekerasan email

    Standar Normatif Analisis Sefalograf Postero-Anterior Sub Ras Jawa Indonesia

    No full text
    Latar Belakang. Pasien dengan kelainan asimetri wajah termasuk diantarnya adalah pasien dengan celah bibir dan lelangit memerlukan analisis cefalometri postero-anterior. Tujuan Penelitian. Penelitian pendahuluan ini dilakukan untuk memperoleh standar normal analisis dimensi transversal wajah pada sefalograf postero-anterior orang Jawa serta mengetahui apakah terdapat perbedaan intra dan inter gender. Cara Penelitian. Sampel terdiri dari 30 orang terdiri dari 24 perempuan dan 6 laki-laki yang beretnis Jawa. Subyek adalah individu dengan estesis dan oklusi wajah yang baik, usia 18-30. Hubungan molar klas I dalam variasinya. Setiap subyek di ambil sefalograf postero anterior untuk diukur lebar dimensi transversal landmark dari Broadbent. Penelitian telah mendapatkan ethical approval. Hasil Penelitian. Setelah dilakukan pengujian statistic Wilcoxon, hanya Bi-Zygomatic(Bi-Zyg) yang berbeda bermakna (p<0,05), kanan 66,33 dan kiri 65,28 pada wanita dan Bi-Maxillary(Bi-Mx) kiri 36,31, kanan 34,27 pada laki-laki. Lebar rata-rata pada satu sisi wajah, berturut-turut laki-laki dan perempuan dalam mm adalah Bi-Latero orbitale (Bi-Lo): 45,99 dan 49,51; Bi-Maxillary (Bi-Mx): 33,04 dan 35,29; Bi-Lateronasal (Bi-Ln): 16,6 dan 18,07; Bi-Condylar (Bi-Cond): 50,66 dan 56,08; dan Bi-Gonial (Bi-Go): 44,27 dan 47,59. Uji beda antar gender, Mann Whitney U, dijumpai laki-laki lebih besar bermakna daripada perempuan kecuali lebar Bi-Zyg (p<0,05). Kesimpulan. Lebar Bi-Zyg perempuan dan Bi-M laki-laki pada sisi kiri lebih besar bermakna (p<0,05) daripada sisi kanan. Lebar semua variabel kecuali Bi-Zyg lebih besar bermakna dibandingkan perempuan (p<0,05). Background. Patient with skeletal disorders such as cleft lip and palate patients need a normal standard anteroposterior cephalometric analysis. Aim. The preliminary research was conducted to obtain a normal standard dimensional analysis of Javanese postero-anterior transverse facial cephalography and determined whether there were differences in intra-and inter-gender. Method. The sample consisted of 30 Javanese people, consisting of 24 females and 6 males. Subjects are individuals with good facial aesthetics and occlusion, aged 18-30. The molar relationship were in Class I and its variation. Each subject was taken their postero anterior sefalograph to measure the width of the transverse dimension base on the Broadbent landmarks and has esthically approved. Result. The width of the left side tend to be larger than the right (mm) but only Bi-zygomatic (Bi-Zyg) were significantly different (p<0.05), 66.33 and 65.28 for female and Bi-maxillary (Bi-Mx) 36.31 and 34.27 for males after Wilcoxon statistical test. Average width of the left side of the face, males and females in mm respectively are Bi-Latero orbitale (Bi-Lo): 45.99 and 49.51; Bi-maxillary (Bi-Mx): 33.04 and 35.29; Bi-Lateronasal (Bi-Ln): 16.6 dan 18.07; Bi-Condylar (Bi-Cond): 50.66 and 56.08; and Bi-Gonial (Bi-Go): 44.27 and 47.59. Mann-Whitney U, found that males are significantly greater than females except the width of the Bi-Zyg (p<0.05). Conclusion. Bi Zyg- Bi-Mx width in woman and men on the left side are significantly greater (p<0.05) than the rght side. The width of all variables except Bi-Zyg are significantly larger than females (p<0.05)

    Perbandingan Inklinasi dan Ukuran Rahang antara Orang Jawa Buta dan Normal

    No full text
    Latar Belakang. Penglihatan merupakan salah satu faktor yang diperlukan untuk mengontrol postur kepala. Postur kepala berhubungan dengan kompleks kraniofasial. Maksila dan mandibula merupakan bagian dari kompleks kraniofasial. Pada orang buta terjadi penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan daerah orbita karena tidak adanya rangsang. Tujuan Penelitian adalah untuk mempelajari perbandingan inklinasi dan ukuran rahang berdasarkan jenis kelamin antara orang Jawa buta dan normal. Metode Penelitian. Penelitian ini dilakukan terhadap 53 subjek, terdiri dari 25 orang buta ( 12 orang laki-laki dan 13 orang perempuan) dan 28 orang normal (14 orang laki-laki dan 14 orang perempuan). Setiap subjek penelitian dilakukan pengambilan sefalogram lateral pada posisi alamiah kepala, kemudian dilakukan penapakan pada kertas kalkir di atas iluminator. Pengukuran sembilan parameter inklinasi dan ukuran maksila dan mandibula dilakukan pada hasil penapakan. Data dianalisis dengan uji Anava dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p<0,05). Panjang mandibula dan panjang basis mandibula laki-laki normal lebih besar daripada perempuan normal dan kelompok buta, serta perempuan normal lebih besar daripada perempuan buta (p<0,05). Kesimpulan Ukuran maksila laki-laki buta lebih besar daripada perempuan normal. Panjang mandibula dan panjang basis mandibula laki-laki normal lebih besar daripada perempuan normal lebih besar daripada perempuan normal, laki-laki buta, dan perempuan buta, serta perempuan normal lebih besar daripada perempuan buta. Background Vision is one of the factors involved in the control of head posture. The posture of the head is related to craniofacial complex. Maxilla and mandible are part of craniofacial complex. In the blind there are deviations of growth and development of the orbital region in the absence of stimuli. The purpose of this study was to compare the inclinations and sizes of maxilla and mandible of the blind and normal Javanese subjects. Methods the research was conducted on 53 subjects, consisting of 25 blind subjects (12 men and 13 women) and 28 normal subjects (14 men and 14 women). Each subject of the research conductes on the lateral sefalogram in natural head position, then trace on tracing paper over the illuminator. In the nine-parameter measurements performed tracing inclination and size of the maxilla and mandible. Data were analyzed with two way ANOVA. The results showed that there were no significant differences (p<0.05) on the inclination of the maxillary, mandibular inclination, maxillary base length, and shape of the mandible between the blind and normal Java as well as between the sexes. The size of the blind males maxilla larger than normal females (p<0.05). the length of the mandible and the mandibular base length of the normal males larger than normal and the blind females, as wella as normal females is greater than the blind females (p<0.05). The conclusion The size of the maxilla of the blind males larger than normal females. The length of the mandible and the mandibular base length of the normal males larger than normal females, the blind males, and the blind females, as well as normal females is greater than the blind females

    Perawatan Ameloblastoma Rekuren dengan Metode Dredging

    No full text
    Latar belakang. Ameloblastoma dapat menyebabkan kerusakan pada tulang wajah baik pada maksila maupun mandibula. Tumor ini dapat mengalami rekurensi apabila perawatan tidak sempurna. Reseksi pada tulang yang terkena adalah tindakan yang biasa dilakukan untuk perawatan tumor ini. Tindakan ini dapat menyebabkan gangguan maloklusi, gangguan pertumbuhan dan perkembangan gigi dan tulang rahang bila dilakukan pada anak-anak dan remaja, gangguan estetika, dan berdampak psikologis. Oleh karena itu tindakan alternatif dalam perawatan ameloblastoma adalah dengan metode dredging. Tujuan laporan kasus ini menjelaskan perawatan metode dredging pada rekuren ameloblastoma pada penderita laki-laki usia dua puluh tujuh tahun sehingga dapat menghilangkan dampak psikologis dari penderita. Kasus. Penderita laki-laki usia dua puluh tujuah tahun dengan keluhan benjolan dalam mulut, tidak terasa sakit, dan merasa bertambah besar. Terdapat asimetri wajah di sebelah kanan, tidak ada perubahan warna kulit. Penderita mengaku pernah dioperasi tujuh tahun yang lalu. Pada pemeriksaan intra oral didapatkan benjolan pada mandibula di daerah bukal dari daerah gigi 42 sampai 46. Pada palpasi terasa ada fluktuasi, rasa sakit ringan dan warna mukosa normal. Pada gambaran foto panoramic terlihat area radiolusen dengan batas jelas dari daerah 42 sampai 46 dengan melibatkan aspek dari gigi 42 dan 43. Dari hasil biopsi dan pemeriksaan patologi anatomi dinyatakan sebagai ameloblastoma unikistik tipe folikuler. Penatalaksanaan. Dredging dikerjakan dengan melakukan defleksi pada lesi enukleasi dan kuretase. Pada bulan kedua perawatan tindakan tersebut diulangi dan dilakukan pemeriksaan histopatologis. Tindakan tersebut diulang pada bulan kelima dan diulang kembali setiap tiga bulan sampai dinyatakan terbebas dari sel tumor. Kesimpulan. Telah dilakukan dredging pada penderita rekuren ameloblastoma dengan hasil cukup memuaskan dan dilakukan pengamatan yang berlanjut. Background. Ameloblastoma can destruct the facial bones both the maxilla and mandible. The appearance of recurrent tumor is occured if the tumor is not totally removed. The resection of the affected bone is the common treatment of the tumor. These treatment lead complications such as malocclusion, abnormaldental and jaws development especially in children and adolescents, aesthetic problems, and psychological depressions. Therefore, the alternative treatment of it tumor is dredging method. Objection. This case report describe that dredging method treatment on recurrent ameloblastoma on male patient aged twenty seven years old, can eliminate patients’s psychological depressions. Case. Male patient aged twenty seven years old has a lump problem in mouth, painless, and has progressive enlargement, asymmetry on the right face, no change in skin color. Patients admitted to surgery seven years ago. On intra oral examination found a lump in the mandible in buccal area of the tooth 42 to 46. On palpation examination, there were fluctuations, mild pain and normal color mucosa. The panoramic photograph was found radiolucent area with clear boundaries of the region 42 to 46 by engaging aspect of teeth 42 and 43. The results of hispathology examination assessed a unicystic amelobastoma follicular type. Treatment. Dredging method was done by performing enucleation and consecutive curettage. Second month after the first treatment, the enucleation and the curettage was repeated then need histopathological examination. The treatment was repeated again in fifth month after the first treatment repeated every three months until histopathological examination declared free of tumor cells. Conclusion. Dredging has been performed on two patients with ameloblastoma with satisfactory results and continued observation

    Pengambilan Gigi Kaninus dan Gigi Supernumerary yang Terpendam pada Maksila

    No full text
    Latar belakang: suatu kasus impaksi gigi dapat menyebabkan maloklusi, dan kelainan oklusi akan semakin bertambah dengan bertambahnya usia. Impaksi gigi kaninus merupakan gigi kedua setelah gigi molar ketiga yang berfrekuensi tinggi untuk mengalami impaksi, persentasenya sekitar 12%-15% dari populasi. Gigi supernumerary adalah gigi tambahan/berlebih, sehingga jumlah gigi yang terbentuk dalam rahang lebih banyak dari jumlah normal. Terjadinya impaksi gigi kaninus dan supernumerary secara bersamaan jarang terjadi. Tujuan: Menambah wawasan du bidang bedah mulut minor, terutama dalam menangani suatu kasus impaksi gigi kaninus dan supernumerary untuk perawatan orthodonti. Kasus dan Penanganan: Dilaporkan seorang apsien, wanita, berusia 38 tahun yang baru menyadari kelainan maloklusinya dengan keluhan gigi depannya bertambah maju akibat adanya impaksi gigi kaninus dan impaksi gigi supernumerary. Pasien dikonsulkan dari Bagian Orthodonti ke Bagian Bedah Mulut untuk penanganan impaksi gigi kaninus dan supernumerary dengan kemungkinan untuk mempertahankan gigi kaninus memulai pembedahan. Dengan berbagai pertimbangan, penderita pada akhirnya menjalani operasi pengambilan gigi kaninus dan gigi supernumerary di Bagian Bedah Mulut RSGM Prof. Soedomo. Langkah-langkah diagnosis, operasi dan berbagai kemungkinan komplikasi juga turut disertakan di dalam pembahasan. Kesimpulan: Pengambilan gigi kaninus dan gigi supernumerary yang terpendam merupakan pilihan perawatan jika tidak memungkinkan untuk dilakukan exposure pada impaksi gigi kaninus pada maksila. Background: Impacted canines is the second most impacted tooth after third molar impaction, approximately 12%-15% of the population present with impacted canines. A supernumerary tooth is one that is additional to the normal series and can be found in almost any region of the dental arch. The incidence of an impacted canines as a sequent with a supernumerary tooth is very rare. Purpose: The aim of this case report is to add more information about a minor surgery due to canine and supernumerary tooth impaction for orthodontic treatment. Case and Management: We reported a case of a woman, 38 years old who have noticed a malocclution through the forwardness movement of her anterior teeth, due to the present of impacted canine and supernumerary. The patient consulted from orthodontic department to oral and maxillofacial department for further assessment, treatment and also the probability for surgical exposure of impacted canine. We have decided to do odontectomy for the impacted canine and supernumerary tooth as well at Oral and Maxillofacial department, Prof. Soedomo Hospital. The diagnosis process, exposure of impacted canine considerations are also discussed. Conclusion: the odontectomy for impacted canine and supernumerary teeth had performed as last options if there is impossible to do an exposure of an impacted canine.

    Kandidiasis di Mulut akibat Khemoterapi dan Penatalaksanaannya

    No full text
    Latar belakang: kandidiasis (kandidosis) adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh spesies Candida biasanya Candida albicans. Faktor predisposisi yang memicu kandidiasis adalah terganggunya ekologi mulut karena antara lain pemakaian antibiotika, kortikosteroid, penyakit kronis dan keganasan, beberapa gangguan darah; terapi radiasi di leher dan kepala; khemoterapi; leukimia, obat sitotoksik, juga kebersihan mulut yang buruk. Tujuan: melaporkan kasus kandidiasis di mulut karena khemoterapi dan penatalaksanaannya. Kasus dan penatalaksanaannya: seorang anak laki-laki umur 3 tahun 11 bulan penderita Leukimia Limfoblastik Akut (LLA) sedang dalam perawatan khemoterapi menderita kandidiasis di mulut sehingga mengalami disfoni dan disfagia. Makanan dimasukkan lewat hidung. Klinis pasien terlihat lemah infus lewat tangan. Dalam mulut terlihat patch putih tebal menutupi permukaan dorsal dan ventral lidah, palatum durum dan ventral lidah, palatum durum dan molle, mukosa pipi kanan kiri dan gingiva rahang atas dan bawah. Pasien disedasi untuk dilakukan pengerokan lapisan kandida di mulut; pemberian Nystatin solution dan ketokonazol dilanjutkan. Pengerokan psedomembran kandidiasis telah memberikan hasil yang memuaskan, satu minggu kemudian rongga mulut pasien sudah terlihat bersih, pasien sudah dapat makan minum melalui mulut, juga sudah dapat berbicara lagi/tidak serah. Kesimpulan: Pembersihan jamur dengan pengerokan telah dilakukan, kandidiasis pseudomembran dapat diangkat dan mulut pasien sudah bersih, pasien dapat makan dan berbicara lagi. Background: Candidiasis (candidosis) is an fungal infection caused by Candida species usually Candida albicans. Predisposing factors which trigger candidiasis are the ecological disruption caused by use of oral antibiotics, corticosteroids, malignancy and chronic disease; some blood disorders; head and neck radiation; chemotherapy; leukimia, cytotoxic drugs, as well as poor oral hygiene. Aim: To report a case of Candidiasis in the mouth due to chemotherapy and its management. Case and Management: A boy with acute lymphoblastic leukimia (ALL) aged 3 years and 11 months has being treatment of chemotherapy suffer from Candidiasis in the mouth so he can not eat, talk. Food is inserted through the nose. Clinical finding, patient seen through the hand of week infusion. In the mouth looks thick white patch covering the dorsal tongue, ventral tongue, hard palate and soft palate, cheek mucosa and gingival right, left upper and lower jaws. Under sedation the layer of pseodomembranous Candidiasis was scrabed to eliminated Candida coloni. Conclusion: The scrabing of psedomembranous candidiasis have been done, so he can speek and eat

    0

    full texts

    499

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇